CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
Episode 27~ Simalakama.


__ADS_3

 


MONA terlihat menyapu pandangannya keseluruh pelosok BANDARA.Ia membagikan seluruh pandangannya untuk mencari cari sosok Neneknya.Sementara Banny masih terdiam menunggu di dalam mobilnya.


Mona pun dengan cepat ia menelepon sang nenek untuk menanyakan posisi keberadaannya.


Dan tidak lama kemudian Mona terlihat memeluk seorang wanita separuh baya yang menghampirinya lalu memeluknya dengan penuh kerinduan,Berkali kali Mona memeluknya dan mencium dengan penuh haru.


Banny memperhatikanya dari dalam mobil ke arah Mona dengan perasaan gusar,Ia menatap jarum jam yang ada di tangannya sudah menunjukan jam Empat sore,Ia cemas akan janjinya menemani sang Papah untuk cek up kesehatannya.


Mona masih terlihat merangkul sang nenek dengan penuh rindu,Di gandengnya sang nenek menuju mobil Banny.


" Nenek kan bisa telpon dulu Mona untuk kasih kabar kalo mau ke JAKARTA.Kalo kaya gini kan jadinya dadakan banget,Untung Mona udah selesai kerjanya kalo tidak Mona cemas Nenek sendirian di BANDARA." Jelas Mona seraya menjingjing tas sang Nenek.


"Pokonya ini kejutan !" Ucap Sang Nenek ngeyel.


Mona hanya menggeleng seraya mengelus ngelus tangan sang nenek.


Banny mau tak mau ia pun keluar dari mobilnya untuk menyambut kedatangan sang Nenek Mona untuk sekedar menghormati kedatangan sang nenek sekertarisnya.


Banny tersenyum ke arah sang Nenek yang sedari tadi sudah memandanginya dengan penuh tanya.


" Siapa itu Mon ?" Tanya Sang Nenek menatap lekat Banny.


" Itu.....!" Ucapan Mona menggantung


" Supir mobil on line kamu ?." Potong sang Nenek dengan polos.


Mona terperangah seraya memekik cukup keras,Ia merasa ucapan sang Nenek merendahkan sang Bosnya.


Banny memerah seraya menggulung kembali senyumannya dengan kecut.


" Aduuhh !!Bukan Nek..." Pekik Mona menatap frustasi ke arah Banny yang sedari tadi menatapnya dengan sebal.


" Ohh atau jangan jangan ini pacar kamu yaa... ?" Tanya lagi sang Nenek dengan wajah tak berdosa.Sang nenek mencoba menerka nerka siapa Banny sebenarnya.


Mona semakin memucat tatkala sang Nenek menyebut Banny pacarnya.


Banny pun semakin terlihat mengerucutkan bibirnya seraya memandangi wajah Nenek Mona dengan tatapan tidak senang.


Mona benar benar di landa strees berat dengan situasi yang sedang di hadapinya dan hal ini merupakan hal tak pernah terbayangkan olehnya.Banny menatap dengan tidak suka ke arah Mona yang berada di hadapannya.Siap siap saja Mona akan kena ocehan tajam sang Bosnya dan bisa jadi ocehan itu berlaku tujuh hari tujuh malam yang melebihi dari acara hajatan organ tunggal.


Mona menatap tidak enak ke arah sang Bosnya setelah beberapa kali ucapan polos sang nenek membuat sang Bos membuat jengkel.


" Yaa saya pacarnya Mona !" Ucap Banny dengan singkat dan melirik Mona dengan ujung matanya.


Sontak Mona terlihat syok dibuatnya.Tiba tiba saja suaranya mendadak tertahan di dalam tenggorokannya rasa strees saja belum hilang sekarang perasaan syok menambah berat beban perasaanya Mona.


Mona menatap tidak percaya ke arah Banny setelah ia mengakui dirinya adalah pacarnya.


"Oalahhh ? Bener Mon ?" seru sang Nenek histeris


" Benaran kamu sudah punya pacar ?"Lagi lagi Sang nenek bertanya dengan penuh haru.

__ADS_1


" Iya Nek,Apa kabarnya Nek ?"Tanya Banny sembari menyalami sang nenek.


" Mon ! Apik tenan Mon,Piyee toh,Ko ndak kasih tau kalo kamu sudah punya pacar!Atau kamu mau kasih nenek kejutan juga yaa ?"Ucap Sang Nenek meledek Mona yang raut wajahnya semakin menegang seperti sedang maskeran.


Lehernya yang jengjang terlihat menahan ketidak nyamanan yang telah di buat oleh sang Bosnya dengan mengaku sebagai pacarnya.


"Yaa TUHAN sadiwara apa lagi ini,,Gila juga ni orang kok bisa bisanya see ngaku ngaku pacar guee,Alamat panjang urusannya ni."


Ucap Mona seraya berkomat kamit Mona benar benar bingung di atas kebingungannya.


 


" Nek ini Pak....,"kata kata Mona lagi lagi menggantung setelah sang nenek menerobos di samping Banny.


" Siapa namamu cah bagus ?" Ucap Sang nenek seraya mendekati Banny yang masih berdiri dengan gaya coolnya.


" Banny Nek.."


" Oalah.Nama yang bagus sama kaya orangnya " Puji sang Nenek tersenyum simpul ke arah Banny.


" Ayo nek kita pulang yaa sudah soree ni.." Ucap Banny seraya menengok jam di tangannya.


 


" Baiklah. Kalo begitu Nak Banny tolong angkat kopernya nenek ya sekalian simpan di bagasi." Ucap sang nenek sembari menggendeng tangan Mona menuju mobil Banny.


Sontak Banny menatap kesal ke arah Mona namun sekuat tenaga ia menahan kekesalannya dengan mencoba tersenyum ramah.


 


 


Ingin rasanya ia tertawa lepas melihat raut wajah sang Bosnya yang cukup kesulitan mengangkat koper sang neneknya.


Dengan raut wajah yang sulit sekali Mona gambarkan Banny menatap penuh ancaman kepada dirinya.


Mona menutup mulutnya dengan satu tangannya guna untuk menahan tawanya agar Banny tidak dapat melihatnya.


 


" Bapak kenapa ngaku ngaku pacar saya.Nanti urusannya akan makin panjang pak." Ucap Mona mengghampiri Banny yang masih merapihakn bawaan sang nenek di bagasi belakang mobilnya.


" Biar urusannya cepat kelar,Soalnya papah saya sudah menunggu.Saya tidak ada waktu lama buat ngobrol sama nenek kamu yang banyak tanya itu." Ucap Banny dengan wajah yang mulai berkeringat.


" Tapi seharusnya bapak tidak bilang pacar saya,Masalahnya akan lebih panjang lagi." Guman Mona terlihat semakin kesal dengan keras kepalanya sang bosnya itu.


" Gimana nanti saja "Balas Mona singkat.


" Katanya mau pulang.Kok kalian masih ngobrol aja ?Masih pada kangen ya ?" Tanya sang Nenek sudah berdiri di belakang Mona dan Banny.


AAHHH GUBRAGGG.....


 

__ADS_1


Mona serasa ingin pingsan dengan tingkah polosnya sang neneknya wajah tegas Banny berubah menjadi loyo dan tidak bersemangat sama sekali.mungkin hari ini hari sialnya Banny Harus mengahadapi seorang nenek bawahannya yang super bawel dan so tahu.


Banny pun menarik napas panjang seraya menyeka keringatnya yang mulai membasahi dahinya,Sementara Mona sudah terdiam sedari tadi dengan wajah pasrah.


***********


Di kediaman Banny.


 


PAK Wiguna sang papah dari seorang Banny masih tertegun di kursi rodanya,Wajahnya terlihat lelah menanti di lihatnya lagi jam yang tergantung di dinding sudah menunjukan jam lima sore,Padahal ia sudah janjian dengan Dokter pribadinya dari jam empat tadi akan Tetapi Banny sang putra tunggalnya masih belom terlihat akan kedatangannya.


"Maaf. Banny terlambat pah !" Ucap Banny seraya menghampiri pak Wiguna dengan wajah bersalah.


" Tidak apa apa.papah pikir mungking kamu masih sibuk kerja." Ucap pak Wiguna dengan tersenyum lembut dan penuh wibawa.


" Tadi Banny habis dari BANDARA."


" BANDARA ?,Ada apa Ban ?"


" Tadi Sekertaris Banny minta anter ke bandara jemput neneknya yaa karna searah jadi Banny mengantarnya dulu."Ucap Banny seraya duduk di hadapan sang Papah.Pak Wiguna tersenyum dengan menatap penuh arti.


 


" Kenapa papah tersenyum ?" Tanya Banny saat melihat Sang Papah hanya tersenyum senyum sendiri.


" Papah senang jika kamu sudah mulai membuka hati untuk dekat dengan seorang perempuan."


" Maksud papah ??"Tanya Banny menatap tidak paham apa yang di ucapkan sang Papahnya.


" Kok kamu tumben mau mengantar sekertaris kamu,Papah hapal karakter kamu seperti apa dan Kamu paling sulit dekat dengan siapa pun termasuk itu sekertarismu."Jelas Sang papah seraya tersenyum dengan menatap lembut Sontak membuat raut wajah Banny berubah kaku.


" Pah itu karena kebetulan se arah saja,Kalaupun tidak searah aku juga tidak mau." Jelas Banny dengan menyembunyikan raut wajahnya yang merasa tertebak dengan pikiran sang papah.


" Papah udah siap ?" Tanya Banny mengalihkan pembicaraan.Sang papah hanya menggannguk tatkala melihat raut wajah sang putranya memerah.


" Ya sudah Banny siap siap dulu pah,Sekalian mau bersihin badan dulu,Maaf Banny telat antar papah cek up."


" Tidak apa apa Ban." Ucap sang papah seraya tersenyum simpul ke arah Banny.


 


Pak Wiguna terlihat mengulas senyuman tatkala Banny mengatakan ia telah mengantar sang sekertarisnya ke BANDARA.


Pak Wiguna berharap Banny bisa bangkit dari keterpurukannya akan cinta masalalunya yang telah membuatnya enggan untuk menerima kembali akan kehadiran seorang Wanita lagi dalam kehidupannya.Dan itu cukup membuat Pak Wiguna merasa sedih dan senantiasa kepikiran terus dengan keadaan sangputranya.


Ingatannya kembali ke empat tahun yang lalu di saat Banny pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya namun sayang cintanya itu berbalaskan penghianatan sehingga trauma menerpanya dan sampai saat ini pun Banny masih belum bisa move on dari kisah cinta lamanya itu.


  "Pah...,Yukk nanti keburu terlalu sore !" Ucap Banny mengejutkan lamuan papahnya.


Pak Wiguna cukup terhenyak dan menatap Banny dengan tatapan berat.


" Papah kenapa Kok kaget gitu ?papah Baik baik saja kan ?" Ucap Banny menatap penuh selidik.

__ADS_1


" Papah baik baik saja." Ucap Pak Wiguna dengan menundukan wajahnya lalu bangkit dari kursi rodanya yang di sambut hangat oleh Banny untuk memapahnya menuju mobil.


__ADS_2