CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 166


__ADS_3

MONA terlihat memeluk hangat perempuan yang usianya hampir sudah memasuki usia senja.Perempuan yang sedari tadi merangkulnya itu terlihat mendekap gadis mungil itu dengan penuh rasa rindu.


Wajar saja selepas cucu nya menikah kumunikasi hanya lewat telepon saja mereka jarang bertemu secara langsung.Hal yang terbiasa jika mereka hanya mampu saling menahan rasa rindu yang kini di lepasnya ketika mereka bertemu.


Yaa perempuan itu tiada lain adalah sang nenek yang dengan sengaja meminta sang cucunya untuk datang menemuinya untuk melepas rasa rindu yang tak bisa di tahan lagi.


Mona tersenyum hangat sesaat perempuan separu baya itu melepaskan pelukannya tersebut.


" Nenek kangen sekali." Raungnya dengan lirih.


" Mona juga nek." Balas Mona tersenyum simpul.


" Kamu baik-baik saja sayang ?" Tanya perempuan tua itu tersenyum rapuh.


Meski tersenyum hangat namun sorot mata perempuan itu terlihat begitu menaui akan ke adaan cucunya tersebut.


" Mona baik-baik saja." Ucapnya lirih dan tersenyum manis.


" Lalu kabar suami kamu ? " Sang nenek bertanya dengan nada meragu.


Gadis itu tersenyum dengan energik walau perasaannya di liputi rasa was-was serta cemas.


" Mas Banny baik-baik saja !" Ungkap Mona terdengar biasa saja.Raut wajahnya terlihat mulai enggan untuk menjawab secara gamlang akan keadaan sosok pria tampan itu.


Dan sepertinya Mona merasa tidak terlalu antusias jika sang nenek bertanya perihal suami sandiwaranya tersebut.


" Mona !" Pangil perempuan tua itu dengan suara berat.


Perempuan separu baya itu terlihat sedang menahan sesuatu perasaan berat di hatinya seolah-olah dia ragu untuk mengatakannya.


" Ada apa nek ? " Tanya Mona dengan penasaran.


Sang nenek sejenak membenarkan posisi duduknya untuk lebih rileks.


" Ada hal yang menggangu pikiran nenek saat ini,dan ini adalah permasalahan pernikahan sandiwara kamu itu. " Ungkapnya dengan lembut.


Mona menghela,lalu tersenyum pudar.Ia yakin jika sang nenek menghkawatirkan akan ke adaan dirinya.


" Nenek tau.Kalian tidak akan lama lagi akan segera bercerai,tentunya ini adalah suatu hal yang mengharuskan kesiapan mental kamu dalam menyikapi setiap hujatan yang akan datang kepadamu nanti atas dampak dari perceraian kamu ini." Terang sang nenek kian terasa berat akan ucapannya.


Mona terdiam dengan tertunduk pasrah,rasanya ia merasa begitu berarti di mata perempuan yang kini keadaanya tak semuda itu lagi,namun kasih sayangnya tak pernah pudar justru dia terlihat ikut merasa resah atas kondisi perasaanya.


" Mona." Panggil sang nenek lembut membuat suasana seketika begitu terasa melankolis.


Mona menatap perlahan wajah perempuan terkasihnya itu.


" Nenek mau perjodohan antara nak Angkasa dengan kamu di lanjutkan kembali.Setelah usai perceraikan kalian nanti." Ungkap sang nenek dengan menjeda ucapannya.


Mona tercekat dengan perasaan yang sulit di artikan bagaimana bisa sang nenek berpikir sejauh itu untuk kebahagiaanya itu.


" Bagaimana ??" Ucap sang nenek menjeda kembali lalu menatap Mona dengan intens.


Namun sejurus kemudian perempuan separuh baya itu menghela napas panjang menatap dalam wajah sang cucu dengan perasaan sedih.


" Nenek tau ini sangat berat untuk kamu hadapi,tapi justru nenek tak ingin kamu larut dalam perasaan sedih kamu.Nak Angkasa adalah pria baik-baik yang akan menggantikan posisi Banny di kehidupan mu nanti." Ungkap sang nenek dengan tersenyum penuh harapan.


Sontak Mona terpana dengan apa yang menjadi keinginan sang neneknya yang masih menginginkan perjodohan itu kembali terjalin antara dirinya dengan Angkasa.Tentu saja hal ini akan membuatnya merasa dilema.


Mona tersenyum rapuh memandangi wajah perempuan yang raut wajahnya kian menua.


" Nenek,nenek selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Mona,dan nenek juga selalu berusaha membuat Mona bahagia.Makasih banyak ya nenek." Ungkapnya dengan sorot penuh bangga lalu di gengamnya tangan perempuan itu dengan sangat erat.


Namun senyumannya tertahan sesaat dirinya mengingat jika Banny memutuskan untuk tidak menceraikan dirinya.


Sang nenek membalas dengan senyuman penuh rasa haru.


" Tapi nek." Ucapan gadis itu menggantung wajahnya tertunduk kian dalam.


Sang nenek menilik wajah gadis itu dengan tak sabar menunggu penjelasan.


" Nek.Mona tidak jadi bercerai dengan mas Banny." Ucap Mona pelan namun sorot matanya terlihat begitu ragu untuk menyakini ucapannya tersebut.


Raut wajah sang nenek berubah drastis di kala pernyataan sang cucu terkasihnya itu mampu mengejutkan perasaanya.


" Apakah yang di katakan kamu itu benar Mona ? " Tanya sang nenek menatap bahagia sekaligus khawatir yang cukup mendalam.


Sejenak Mona terlihat gamang untuk mengatakan yang sesungguhnya,dirinya merasa belum bisa menyakini sepenuhnya jika pria tampan itu mulai mencintai dirinya.Ada hal yang membuat dirinya tak yakin atas perasaan pria itu.


" Nek ! tapi sebenarnya mas Banny hanya menunda perceraian saja dan....." Ucapannya menggantung, raut wajahnya terlihat murung.


" Tapi kenapa sayang ?ada apa lagi ?" Tanya sang nenek kian cemas.


" Dan sepertinya mas Banny mulai berubah atas perasaanya itu." Ungkap Mona menatap ragu.


Sang nenek terdiam menatap bingung namun sejurus kemudian perempuan setengah baya tersenyum seolah olah sedang menyimpulkan sesuatu.Dan raut wajahnya pun terlihat semeringah mengambar sesuatu hal yang begitu menyenangkan hatinya.


" Jadi apa sebenarnya alasan nak Banny menunda perceraian itu ?" Ungkapnya dengan tersenyum penuh arti.


Mona terdiam dengan perasaan yang tak menentu.


Lalu perlahan menghela napas panjang." Hmm....,Tapi Mona belum bisa meyakini sepenuhnya jika mas Banny memiliki perasaan yang sama.Karena sandiwara ini belumlah usai nek.Mona merasa,jika mas Banny melakukan hal itu atas ada kepentingan lain di balik rencana semua ini." Terangnya dengan sorot mata kian dalam.


" Sayang... berpikirlah positif jika nanti pada akhirnya nak Banny memang akan benar benar mencintaimu dengan segenap jiwanya.Dan siapa tahu ini adalah Trisno jalaran soko kulino sayang." Ujar sang nenek tersenyum penuh keyakinan.


Mona tersenyum hambar namun penuh makna akan menanggapi apa yang di katakan neneknya tersebut.


" Apa yang harus Mona lakukan ? " Tanya Mona gelisah.


" Apa alasan nak Banny menunda perceraian ini ? " Tanya nenek menatap dengan seksama.


" Pak Wiguna mempercayakan Mona untuk ikut mengelola perusahaan anak cabang nek." Jelas Mona pelan.


" Jadi ?? " Tanya sang nenek dengan tak sabar.


" Jadi mau tak mau mas Banny harus menunda perceraian ini dengan alasan pekerjaan." Ungkanpnya dengan nada penuh kecewa.


" Apa cucuk nenek ini telah mencintai pria itu ?" Tanya sang nenek dengan tersenyum penuh menggoda.


Mona menarik napas panjang pipi chabi nya menampilkan rona wajah yang memerah.Entah kenapa pertanyaan neneknya seolah-olah mendebarkan perasaanya.


" Jika kamu memang mencintainya.Ini adalah kesempatan terbaik kamu untuk bisa menyakinkan hati kamu dan hatinya nak Banny.supaya pernikahan ini tentunya tidak perlu kalian akhiri." Sang nenek menatap dengan seksama.


Mona menghela lalu ia pun tersenyum tanpa ekspresi.


Perempuan yang ada di dapannya kini sangat berharap jika dirinya memang harus bahagia dengan pria yang selalu menjadi do'a di setiap hentak napasnya tersebut.


" Baiklah,nenek tidak akan mengekang apa yang akan menjadi kebahagiaanmu nanti bersama pria yang akan mencintai mu hingga akhir hayatmu." Ungkap sang nenek bijak.


Tak terasa di sudut mata gadis itu mulai tergenan oleh air mata.


" Mona sayang nenek." Rangkul Mona dengan begitu hangat.


Begitu sangat bahagianya ia bisa memiliki seorang perempuan yang begitu besar akan menyayangi dirinya dan mampu membuatnya merasa tenang.


lelehan bening itu perlahan menuruni tebing pipinya yang mulus hingga menganak sungai dan perlahan menitik jauh ke pangkuannya.


Mona tidak bisa membayangkan jika dirinya ditakdirkan tidak bersama sang nenek yang telah begitu tulus merawat dirinya sekaligus menggantikan kehadiran seorang ibu dalam menjalani kehidupannya untuk terus tetap bertahan.


Di tengah keharuan yang mendalam tetiba saja suara deru mesin terdengar begitu jelas memasuki pelataran rumah sang nenek.Perlahan Mona melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah luar sana.


Mona menyeka air matanya setelah melihat kendaraan milik Banny sudah berada di pelataran rumah sang nenek.


Sang nenek mengalihkan pandanganya ikut memandang ke arah sang cucu menatap.

__ADS_1


" Kamu ada bilang jika kamu kesini ?" Tanya sang nenek menatap penuh keresahan.


Mona mengangguk dengan menyeka air matanya.


" Mas Banny akhir-akhir ini mulai menunjukan perubahannya nek." Ungkapnya lirih.


" Syukurllah,itu artinya pertanda baik." Balas sang nenek tersenyum lega.


Tak lama kemudian suara bariton menyapa dari luar rumah mengucap salam.


Dengan cepat Mona beranjak dari tempat duduknya seraya merapihkan penampilannya.


Pintu terbuka Mona tersenyum kaku menatap pria tampan itu berdiri tegak di hadapannya.


" Mas !" Sapa Mona setibanya pria itu menatap lurus ke arahnya.


" Sudah bisa pulang ?" Tanya pria itu menatap dingin.


" Mas tidak masuk dulu sebentar untuk bertemu nenek ?" Tanya Mona yang sedang berusaha menetralkan perasaanya.


" Apa kabarnya nak Banny ? " Sang nenek menyembul dengan tersenyum manis.


" Alhamdulillah saya baik nek." Balas Banny dengan mengangguk pelan.


" Ayo masuk dulu ! nenek buatkan teh atau kopi ?" Tanya sang nenek dengan ramah.


" Makasih banyak nek !tidak perlu repot repot saya hanya ingin menjemput Mona saja." Balas Banny seraya menoleh Mona yang berdiri tak jauh darinya.


Sang nenek menoleh ke arah Mona lalu menatapnya dengan perasaan penuh arti.Begitu pun Mona membalas tatapan sang nenek dengan berbagai perasaan seolah-olah ia sedang menunjukan rasa kebagagiaan yang begitu dalam atas sikap Banny terhadap dirinya.


" Jadi....,tidak masuk dulu ? " Kembali sang nenek memastikan dengan penasaran.


" Tidak nek,terimakasih." Respon Banny terlihat kaku.


" Tumben mas,ini baru jam tiga loh,kok mas sudah pulang ? " Mona bertanya dengan cukup heran.


Banny terdiam dengan memberikan senyuman yang cukup terlihat semu.


" Mas kangen saja sama kamu." Imbuhnya pelan namun mampu membuat gadis itu terpana.


Sejak kapan pria angkuh ini merasa kangen kepadanya ?


Apakah ini adalah bagian ektingnya untuk membuat sang nenek percaya atas perubahan sikapnya.


Tidak,kurasa dia sedang bersandiwara.


Mona menggeleng dengan perasaan antah berantah.


Entah kenapa pernyataan pria tampan itu mampu menghipnotis seluruh perasaanya.Betapa tidak kata-kata yang tak pernah terucap dari mulut pria itu kini dengan begitu sangat ajaib terucap begitu mudahnya.


Nyaris saja gadis bermata belo itu tersengat aliran listrik yang maha daya.Seluruh energinya tercarger penuh ke seleruh pernadiannya.


Mona mengulum senyumannya berusaha untuk menyembunyikan perasaanya yang sesungguhnya.Jika saja dia mampu mengekspresikan akan kebahagiaan dalam hatinya maka dia akan sepenuhnya menari-nari ala bollywood dengan segala kebucinannnya.


Mona melipat bibirnya ia merasakan lubang hidungnya mengembang lebih merekah.


" Mona.nak Banny sudah jemput.Pulanglah !" Ujar sang nenek menyadarkan Mona yang tengah larut dalam buaian kata-kata yang di telah di ucapkan oleh Banny.


Mona hanya mengangguk dengan tersenyum lebar.Entahlah rasanya dia menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia ini hanya dengan mendengar seorang Banny mengatakan kangen kepada dirinya.


Tak berapa lama Mona pun berpamitan kepada sang neneknya untuk pulang setelah Banny dengan sengaja menjemputnya pulang.


Dengan sigap Banny membukan pintu mobil untuk dirinya.


Kulit dahi gadis itu terlihat berkerut cantik melihat sikap suami sandiwaranya tersebut dalam memperlakukan dirinya.


Rasanya hari ini begitu sangat spesial bagi dirinya.Namun merasa tak ingin terlena dalam perasaanya tersebut,ia pun segera bersikap biasa saja.Mona harus bisa menjaga perasaannya untuk tetap terlihat sok jual mahal.


Mona menoleh menatap wajah pria tampan itu dari samping.


Mona dapat menatap wajah pria tampan itu dengan jelas, pahatan wajah yang sempurna membuatnya selalu diam-diam mengaguminya.


Hidung mancung serta dagu lancip itu terlihat begitu menggoda.Mona menelan air liurnya dengan kuat.


Normal rasanya jika melihat wajah pria itu ia merasa tertarik secara naluri wanita dewasa.


TUHAN jika saja pria ini benar adanya mencintai gue dengan sepenuh hatinya,tentunya saat ini gue adalah wanita yang paling beruntung versi on the spot.


Mona tersenyum tipis dengan menatap penuh arti.


Tentunya ia takan akan pernah mau melepaskan pria tampan itu untuk siapa pun.Tak terkecuali sekertaris baru pria tampan tersebut.


" Aku akan pergi dengan Arnetta." Ucap Banny singkat.


Sesaat dengan bersamaan perasaan bahagia itu sirna entah kenapa setelah Banny menyebut nama gadis cantik itu.


Baru saja gadis melintas di pikirannya kini justru di sambut hangat oleh pernyataannya Banny.


Mona melengos sesaat pria tampan itu menyebut nama Arnetta berada dalam agenda kepergiannya ke luar kota.


Mona terdiam menatap ke arah jalanan dengan perasaan terganggu.


" Kenapa kamu tidak menjawab ?" Tanya Banny menoleh sesaat.


" Itu kan pekerjaan mas,tidak mungkin saya melarangnya. " Ucap Mona sedikit ketus.


Banny tersenyum sinis namun sekaligus senang melihat perubahan raut wajah gadis yang tengah berada di samping kemudinya.


" Kamu tidak ikut menemani ku ? " Goda Banny tersenyum remeh.


Mona merasa heran atas ajakan pria tampan tersebut kepada dirinya.Mona menoleh dan menatap tak mengerti.


" Aku pemilik perusahan.Jadi aku bebas mengajak siapun dalam pekerjaan ini,termasuk istriku." Ungkapnya dengan sedikit berbeda akan intonasi bicaranya.


Ada yang melayang tinggi namun bukan layangan,begitu terasa terbang jauh sesaat indra pendengarannya di buat terbuai oleh ucapan di akhir kalimat tersebut.


Istri ????


Sejak kapan pria ini menyebut dia istri ???


Oh no sesak rasanya dada ini atas sikap anehnya pria angkuh itu.


Mona kian tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan pria itu.nampaknya seluruh taman bunga pindah ke benaknya.


" Tapi mas,ini urusan pekerjaan tentunya Arnetta yang lebih di butuhkan di samping mas dalam pekerjaan ini." Mona berusaha untuk menolak secara tidak langsung.Hanya untuk memastikan saja jika ucapan Banny hanya untuk membuat bahagia saja.


" Jadi kamu tidak ingin menemaniku ? " Tanyanya datar.


" Ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan dengan tuntas mas dan...." Ucapan Mona tak lantas.


" Memangnga asisten kamu kemana ? " Potong Banny dengan jengkel.


" Mas,dalam urusan pekerjaan ini kita tidak perlu sepenuhnya mempercayakan pekerjaan ini terhadap mereka." Jelas Mona pelan.


" Jadi kamu mulai meragukan kinerjanya Arash ?" Tanya Banny justru mencurigai dirinya.


" Mas,sebisa mungkin saya akan melakukan pekerjaan saya dari apa yang telah di amanahkan oleh papah terhadap saya,jadi wajar saja jika aku bekerja dengan totalitas." Jelas Mona.


Banny mendecih dengan tersenyum sinis.


" Lalu untuk apa papah ku memperkejakan kembali pria itu jika tak ada kerjanya." Guman Banny dengan nada ucapan yang nyaris terdengar penuh sindiran.


Mona menggeleng pelan melihat sikap ketidak sukanya Banny terhadap asistennya itu begitu besar.

__ADS_1


Perlahan Banny memutar pelan setirnya dan kendaraanya pun berbelok arah memasuki sebuah pelataran hotel.


Mona yang menyadari dirinya di bawa ke tempat lain cukup heran.


" Kita mau kemana mas ?" Tanya nya dengan penasaran.


" Angkasa mengajakku untuk bertemu." Jawabnya datar.


" Angkasa ?? " Mona mengernyit dengan penuh tanya.


" Yaa.Pria yang so tampan dan suka cari perhatiaan itu memintaku untuk menemuinya." Ucap Banny dengan ketus.


Mona menoleh ke arah Banny dengan heran.Apa yang di ucapkan Banny terasa begitu berbeda di telinganya.


" Mas kok berbicara seperti itu terhadap pak Angkasa ?" Tanya Mona cukup terganggu atas ucapan sinisnya Banny.


" Kenapa ? kamu keberatan ? " Banny mendengus lalu sekilas ia menoleh gadis itu dengan sinis .Wajah tampan itu berubah sedikit menakutkan.


" Bukannya aku keberatan mas,tapi tuduhan mas itu terlalu berlebihan." Mona menatap ragu.


" Faktanya pria itu ingin sekali menjalin kerja sama dengan anak cabang perusahanku.Anak cabang perusaahaan yang sedang kamu kelola itu." Imbuhnya dengan menatap lurus.


" Tapi mas,setidaknya ini adalah awal yang baik untuk meningkatkan ferporma perusahaan mas untuk lebih menjajikan lagi.Menjalin kerja sama dengan perusahaan sekelas pak Angkasa itu menurut saya kesempatan yang paling bagus." Jelas Mona dengan menatap intens.


Banny menoleh gadis itu dengan menatap dingin.


" Kesempatan terbaik pria itu untuk lebih dekat dengan kamu.Itu tujuannya." Ungkapnya dengan penuh penekanan.


Mona menatap shok.Sejauh itukah pikiran seorang Banny akan sikap Angkasa terjadap dirinya.


Mona tercengang sekaligus terpana dengan apa yang telah di katakan pria tampan itu atas penilaiannya terhadap Angkasa.


Mona terdiam ia mencoba untuk tidak mendebat kembali pria tampan itu.


Berdebat dengan nya hanya akan bisa membuatnya terasa terpojok.


" Masih banyak perusahaan yang lain yang akan berinvestasi di perusahan kita.Tak harus perusaan pria itu." Jelas Banny seraya membuka pintu mobilnya lalu melangkah keluar.


Mona tertegun menatap tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikrannya seorang Banny.


Perlahan Monapun keluar dari mobilnya dan berjalan melangkah mengikuti Banny di sampingnya.


Banny berjalan menuju salah satu meja yang sudah ada seseorang menantinya.


Banny berdiri tepat di hadapan pria berwajah karismatik yang sedang asyik mengutak-ngatik gawainya.


" Eheeumm !!" Bany mendehem cukup keras.


Pria yang sedari yang sibuk dengan gawainya mendongkak lalu menatap ke arah seseorang yang berdiri tetpat di hadapannya.


" Hallo pak Banny ! maaf saya tadi sedang fokus dengan ponsel saya.Silahkan duduk pak." Ucap pria itu yang tiada lain Angkasa yang sudah beberapa menit yang lalu menunggu kehadirann Banny.


" Hallo Mona ! apa kabar ?" Tanya Angkasa seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


" Saya rasa istri saya baik-baik saja." Balas Banny menyela dengan datar.Sorot matanya terlihat menunjukan ketidak sukaannya yang teramat dalam terhadap mitra kerja perusahaannya tersebut.


Mona menunduk merasakan ucapan pria tampan itu tersa menguliti perasaanya.


Tangan Angkasa masih tergantung di udara menanti uluran tangan gadis cantik itu.


Angkasa tersenyum kaku lalu menarik kembali tanganya dengan kecewa.


" Yaa aku sangat berharap kamu baik-baik saja Mon." Ucap Angkasa tersenyum lembut namun ekspresi kekesalannya tidak bisa di sembunyikan begitu saja.


Banny melengos menatap ke arah yang lain.


" Oya pak Banny anda mau minum apa?biar saya pesanin." Angkasa menawarkan sebuah minuman.


" Caffucino hanngat." Ujarnya pelan.


" Kamu Mon ? " Tanya Angkasa mengalihkan pandangannya.


" Samain saja ." Banny menyela kembali dengan singkat.


Tak sedikitpun dia membiarkan pria berwajah karismatik itu berinteraksi langsung dengan istrinya.


Entah kenapa Banny merasakan kali ini ia begitu posesif atas sikapnya terhadap Mona.


Dulu ia pernah cemburu terhadap Zeanu namun tak sedasyat ini.


Lagi-lagi Mona hanya mampu tersenyum hambar setiap kali Angkasa berbicara padanya dan Banny sedikitpun tidak memberi kesempatan untuk dirinya sekedar menjawab segala pertanyaan dari Angkasa.


" sejak kapan kamu menyukai caffucino ??" Tanya Angkasa mengernyit menatap ke arah Mona dengan pandangan yang berbeda.


Banny menyipitkan matanya lalu menatap posesif ke arah wajah pria itu.Sedetail itukah dia mengenal sosok Mona hingga mengetahui minuman yang tak biasa di minum gadis itu.


Mona melirik ke arah Banny yang saat itu pula secara bersamaan sedang menatapnya.


" Untuk kali ini saja." Jawab Mona singkat.


Perasaanya entah kenapa semakin tidak nyaman atas sikap pedulinya Angkasa terhadap dirinya.


" Oh mencoba sesutu hal yang baru !" Balas Angkasa tersenyum.


Tak lama di panggilnya seorang pelayan untuk memesan minuman.Angkasa tersenyum sekilas sesaat Mona mencuri pandangan ke arahnya.


Seorang pelayan menghampiri ke arah meja mereka,lalu Angkasa pun dengan sigap memesankan minuman yang di inginkan Banny dan mona.


Setelah memesan seorang pelayan meninggalkan meja mereka.


" Jadi begini pak Banny.Sebelumnya saya minta maaf sudah menggangu waktunya untuk sebentar saja menemui saya ini,dan saya sengaja mengundang pak Banny dalam pertemuan ini ingin menawarkan kembali peluang perusahaannya pak Banny untuk kembali menerima investasi dari saya." Ungkap Angkasa menatap dengan seksama.


Banny menatap pria berkarismaik datar tak ada reaksi yang dapat menjajikan dirinya bisa menerima tawaran tersebut.


Sebelum akhirnya pria tampan itu menjawab,Banny menoleh ke arah Mona yang duduk tak jauh darinya dengan tatapan sedikit penuh ancaman.


Rasanya perasaanya sedari tadi sudah tidak merasa nyaman dengan kehadiran pria berkarismatik itu.


Baginya pria yang kini sedang di hadapannya itu begitu munafik menjadikan hubungan kerjanya sebagai alat untuk mendapatkan perhatiannya Mona.


Angkasa masih menantinya dengan rasa tak sabar apa yang akan menjadi balasan daris seorang Banny.


" Gimana pak Banny ?" Tanya Angkasa gelisah.


Banny tersenyum angkuh seolah-olah ia sedang menahan perasaan jengahnya terhadap pria itu.


Pria tampan itu menegakan posisi duduknya dengan menatap tajam ke arah Angkasa.


" Sebelumnya saya minta maaf,jika saya menolak permintaan pak Angkasa ini dengan alasan saya belum tertarik kembali dengan tawaran anda itu." Ucap Banny singkat.


Angkasa meradang menatap dengan perasaan kecewa.


Tanpa harus di jelaskan secara detail Angkasa paham atas penolakan dari Banny yang begitu keras.


Angkasa mengangguk kecil seraya tersenyum penuh rasa kecewa.


" Sepertinya saya tidak perlu bertanya sedetail itu kenapa alasan anda menolak penawaran dari saya." Balas Angkasa tersenyum resah.


" Ya.Saya rasa anda tidak perlu mengkonfirmasikan apapun atas alasan saya kenapa menolak penawaran ini." Ungkap Banny menegaskan lagi.


Raut wajah berkarismatik itu terlihat kecewa dengan apa yang telah menjadi keputusan seorang Banny.


Mona terdiam hanya mampu menguping tanpa bisa ikut campur dalam obrolan yang cukup menegangkan antara pria yang sama-sama menginginkannya.

__ADS_1


__ADS_2