CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 177


__ADS_3

MONA masih terdiam dengan masih menitikan air mata.Matanya menatap jauh ke langit sana,menyaksikan langit cerah dengan banyak hiasan bintang .Bulan seakan tersenyum dan tengah menertawakan dirinya yang tengah di selimuti oleh peraaan duka,dan rasa sakitnya itu pun mulai menjalar keseluruh tubuhnya.


Embusan angin membuat Mona mengeratkan dekapan tubuhnya. Sudah tidak ada lagi ke inginannya untuk mengingat kembali perasaanya terhadap pria tampan itu.Nyatanya pria itu hanya bisa mempermainkan perasaanya dengan segala keegoisannya tersebut.Dan menumpahkah luka di hatinya.


" Malam ini rasanya aku ingin melepaskan seluruh perasaanku ini terhadap mu mas,dan melupakan semua perasaan ku ini. Sekedar hanya mengingatmu saja aku benar-benar tak mampu." Guman gadis itu di tengah isakan lembutnya.


Mona memejamkan matanya pelan membuat air matanya semakin deras mengalir di pipi mulusnya.


Sesak rasanya dada ini membuatnya kesulitan untuk bernapas.


" Malam ini.Dan hanya malam ini aku terakhir menangisi perasaan ku ini." Lanjut Mona dengan rasa sesal yang mendalam.


Mona mendongkak menatap kembali langit sana.


Astaga, TUHAN !! apa untuk bahagia saja aku harus semenderita ini ?? batin Mona semakin luruh.


Mona menundukan kepalanya,lalu akhirnya dia menundudukan tubuhnya dengan lemah.Air matanya sudah berjatuhan banyak hingga membasahi permukaan bajunya.


Malam ini seisi langit sana menjadi saksi kepedihan yang tengah Mona alami.


Raut wajahnya terlihat meringis menahan kesakitan yang luar biasa di kepalanya.


Entah kenapa tiba tiba saja pandangannya sektika memblur di sertai kepalanya terasa berdenyut hebat.


____________


DUA mata Mona terbuka sedikit demi sedikit,sesekali ia menyipitkan netranya untuk menyesuaikan cahaya lampu sebuah kamar yang terang benderang.Setelah mengerjapkan matanya berkali-kali,kedua matanya terbuka dengan sempurna.Ia mengamati setiap sudut di ruangan yang kini tengah di tempatinya.


Ia sangat tahu betul akan ruangan ini,dan ini adalah kamar apartemen miliknya Banny,Mona terperanjat lalu merubah posisinya menjadi terduduk,namun sesaat ia meringis merasakan kepalanya perlahan berdenyut.


Di tengah rasa sakitnya yang mendera gadis itu pun berusaha mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu sebelum ia sampai di tempat ini.Perlahan ingatanya mulai pulih,dan mengingat sepenuhnya atas kejadian beberapa waktu yang lalu.


Ia mengingat kembali,ketika dia hendak meninggalkan taman di tepi jalan itu untuk kembali pulang,namun entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut keras bak di hantam oleh benda keras hingga menimbulkan sakit yang luar biasa di rasakannya,setelah itu pun dia tidak mengingatnya sama sekali.


Untuk mengingat hal itu saja, rasanya kepalanya berdenyut kembali,berpikir keras membuat sakitnya bereaksi kembali.


Salah satu tanganya terulur menyentuh belakang kepalanya yang terasa kian berdenyut.


Perlahan Mona menarik napas suasana kamar begitu sepi.


Kenapa dia ada disini ??


Siapa yang mebawanya kesini ??


Batin Mona menatap sekelilingnya.


Perlahan Mona merebahkan tubuhnya di sandaran tempat tidur tersebut dengan matanya masih menatap kesekelilingnya mencoba menemukan keberadaan pria tampan itu.


Tak berapa lama pintu kamar itu terbuka dan menampilkan seorang pria berdiri di ambang pintu tersebut.


Mona menatap lurus ke arah pria itu yang mulai berjalan menuju ke arahnya dengan membawa sebuah nampan kecil yang berisikan segelas air putih.


Bola mata Mona membulat di tengah rasa sakit yang menderanya ia berusaha menahan rintihannya tersebut.


Pria itu mengulas senyuman lembut dengan ekspresi wajah yang begitu semeringah ketika melihat gadis itu telah sadarkan diri.


Mona menatap tak percaya.


" Syukurlah kamu sudah siuman !" Ucap pria itu pelan,lalu menyimpan nampan tersebut di atas nakas.


Mona menatap kian tak mengerti,kenapa bisa dirinya berada di kamar apartemen pria angkuh itu.Bukannya dia sudah jauh pergi meninggalkan tempat ini,lalu kenapa dia justru kembali lagi ke sini?


Mona melongo dengan tak percaya.


Diam-diam Mona meraba kedua pipinya lalu di remasnya perlahan untuk membuktikan jika dirinya sedang tidak bermimpi.


Pria itu mendekatinya dan duduk tepat di atas kasur seraya menghadap lurus ke arah gadis tersebut.


Mona masih menatapnya tak percaya dengan atas apa yang sedang menimpa dirinya saat ini.


" Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Ucap Banny menghela napas pelan matanya menatap dalam ke arah gadis itu.


" Seingat aku,aku tadi berada di tempat lain mas,namun lepas tuh aku pun tidak ingat apa-apa lagi.Tiba-tiba kepalaku terasa berat." Ucap Mona lirih.


" Dan Kenapa sekarang aku berada di kamar ini ? " Tanya Mona dengan suara lembutnya yang alami tanpa di buat-buat.


Sebelum menjawab,pria si pemilik wajah tampan itu tesenyum lembut,hingga kesan wajah dingin itu lenyap seketika dari garis wajahnya tersebut.


Mona hanya melongo mendapati perubahan tak biasa dari raut wajah pria itu.


" Kamu pingsan." Ucap Banny singkat.


Pingsan ??


Mona sesaat berpikir.

__ADS_1


" Lalu siapa yang membawaku kemari ?" Tanya Mona lagi,netranya fokus ke arah wajah pria itu.Entah apa yang telah menimpanya tersebut,hingga membuatnya tak mengerti.


" Aku yang membawa kamu pulang kesini." Ucap Banny.


Mona semakin tidak memahami dengan apa yang di katakan pria tampan tersebut hingga menampilkan kerutan cantik di dahinya.


Bagaimana bisa pria ini mengetahui keberadaanya ?


Mengejarpun tidak ketika dia pergi dari apartemennya.


" Mona," Panggil Banny menatap ragu.


Mata gadis itu masih melirik dengan hati hati lalu menatapnya dengan berbagai tuntutan.


" Maafkan aku Monan,tadi aku mengikuti kamu,bahkan aku pun melihat kehadiran Angkasa di tempat tadi." Jelasnya pelan.


Mona terhenyak dengan menatap shok,namun sesaat kemudian ia terlihat meringis kembali seraya memegangi kepalanya.


Mona menggeleng wajahnya terlihat resah.


Namun sepertinya ia enggan untuk menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan Angkasa.Ke inginan untuk menjelaskan hal itu hilang dari perasaanya,baginya itu hanya buang buang energi saja untuk menjelaskannya,tentunya Banny memiliki persefsi sendiri akan hal itu.


Mona mendesah dan dia pun hanya bisa pasrah atas apa yang menjadi ketentuan sang maha pemilik rencana hidupnya.


Biarlah,itu akan tetap menjadi prasangka Banny terhadap dirinya,rasanya dia susah tidak tertarik untuk menjelaskannya.


" Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu Mona, tolong maafkan aku dan segala bentuk prasangkaku selama ini kepadamu." Ucap Banny.


Perlahan pria itu meraih tangan gadis itu.


Dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan Mona terpana dengan apa yang di ucapkan pria itu kepada dirinya.


Hey....


Apa yang sedang menimpa otak pria ini ?


kenapa dia berubah 180° ??


Mona menatap penuh selidik ke arah pria itu.


Apakah pria ini ada kepentok tiang listrik?


Gadis itu sibuk bertanya tanya di dalam hatinya akan perubahan sikap si pria itu.


" Aku tak ingin kehilangan kamu Mona." Ucap Banny menatap penuh arti.


Tak tau harus berbuat apa Mona hanya mampu meringis menahan perasaan yang sulit di artikan.


Apakah ia sedang bermimpi ?


Sesaat Mona membiarkan dirinya larut dalam ketidak berdayaannya.Sejauh mungkin dirinya pergi menjauh dari mahluk ini,tapi entah kenapa TUHAN mengirimnya kembali ke hadapannya.


Mona memejamkan matanya,kekuatannya untuk pergi dari kehidupan Banny menguap entah kemana membuat perasaanya luluh seketika.


Perasaanya tergerak kembali setelah mendengar pernyataan pria tampan itu.


" Aku sudah tidak ingin peduli lagi akan semuanya,aku hanya ingin memperjuangkan apa yang telah menjadi milikku." Ucap Banny menatap dengan syahdu.


Mona membuka kembali matanya lalu menarik napas pelan, rasa haru di dada itu kian terasa penuh mengisi ruang hatiya.entah kenapa kedua matanya terasa basah,namun bukan karena menangisi kepedihannya justru ia kini sedang menangisi kebahagiaannya.


Mona menunduk,tak kuasa menatap sorot mata dari pemilik wajah tampan itu,yang menatapnya dengan penuh arti.


Banny menarik dagu Mona sampai wajah mereka mendekat.Sangat dekat.Napas gadis itu menerpa wajahnya dan Banny bisa merasakan bulu roma di sekujurnya tubuhnya berdiri.


" Aku mau kamu Mona !" Bisik pria itu lembut.


Mona membisu.Dia hanya menatap Banny dengan napas masih memburu.Mereka beradu tatap cukup lama.Seolah olah saling menyakinkan perasaanya satu sama lain.


Banny candu akan menatap lama manik coklat Mona.Dia seakan tenggelam di sana,wajah putih bersih dan hidungnya yang tidak terlalu mancung serta alis yang tebal itu mampu menambah kesan wajah yang tidak bosan untuk di pandang.


Keputusan gila baru saja melintas dalam benaknya.


Betapa tidak selama dia menikah dengan gadis itu ada sesuatu hal yang belum pernah dia jamah.


Mona menunduk dengan perasaan malu,malu di tatap panjang pria tampan tersebut.Tak biasanya Banny menatapnya se intens itu,seperti mengingisyaratkan sesuatu.


Rasa sakit di kepalanya sedikit mereda, entah kenapa ucapan cinta pria itu mampu menterafi rasa sakit di kepalanya.


" Aku ingin kita melupakan semuanya,dan kita mulai dari awal." Bisik Banny semakin mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.


Air mata kebahagiaan itu semakin menggenangi di bola mata indah gadis tersebut.Selama ini dia selalu menunggu moment seperti ini,moment dimana pria tampan itu mengutarakan isi hatinya.Sejatinya ia tak bisa lagi menolak akan perasaan itu.


Malam ini benar-benar malam yang begitu sangat berarti baginya.


" Aku ingin malam ini menjadi awal yang sangat berarti untuk kita sebagai pasangan suami istri,layaknya pasangan suami istri lainnya." Tangan Banny refleks terulur untuk mengusap air mata Mona yang mulai meleleh di pipinya.

__ADS_1


Namun sorot mata itu masih terlihat ragu menatap ke arahnya.Setidaknya Banny sudah melakukan hal yang tepat mengutarakan isi hatinya tentang bagaimana kelanjutan perkawinannya itu.


Banny menangkup wajah gadis itu lalu mengangakatnya, mensejajarkan dengan posisi wajahnya.


Jantung Mona kian berdebar lebih cepat menatap sorot mata yang seperti mengingkan sesuatu hal darinya.


Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya lalu tak lama bibir mereka pun saling berpagut melepaskan perasaan yang selama ini mereka pendam.


__________


Banny memperhatikan wajah Mona yang masih terlelap.Rasa cinta yang membuncah pada wanita di hadapannya tak lagi terbendung.Ingin sekali dia segera mengakhiri hubungan sandiwara ini dan memulai menjalani sebuah ikatan sakral yang tak akan lagi dia permainkan.


Pria tiga puluh tahun itu mengelus pipi Mona yang lembut.Hatinya bergetar kala kulit mereka saling bersentuhan.Tangan kekarnya itu terhenti tatkala wanita yang di hadapannya menggeliat karena sentuhan lembut yang di berinya,bahkan terdengar gumanan halus keluar dari mulut gadis itu.


Tak lepas Banny menatap wajah gadis manis tersebut.


Setelah di amatinya secara detail amatlah sempurna wajah gadis tersebut, dagu yang bulat dengan lesung membelah dagu,dia dapat mengingat jelas dua lesung pipi yang begitu indah ketika gadis itu tersenyum manis kepadanya.


Masih jelas dalam ingatan Banny pertama kalinya melihat gadis ini begitu acuh terhadap dirinya,berbeda halnya dengan wanita - wanita lainnya yang berambisi ingin mendekatinya termasuk Manda mantan sekertaris cantiknya itu.Banny memberi kesempatan kepada Mona untuk di jadikan sekertarisnya menggantikan Manda.


Sikapnya yang energik namun lugu itu mampu membuat seorang Banny tertarik padanya.Sikap loyalitas serta profesionalnya membuat semakin yakin jika Mona mampu mengimbanginya.


Bahkan Banny tersipu sendiri membayangkannya di suatu ketika gadis ini tertangkap basah tengah mencuri pandang wajah rupawannya tersebut.


Dengan menggeleng Banny mengingat-ngingat akan kejadian tersebut,dan ada hal yang paling berkesan di hatinya ketika dia meningat kembali sebuah adegan yang tak akan mungkin dia lupa seumur hidupnya.Dan itu adalah ciuman pertamanya setelah sekian lama dirinya tidak melakukan hal itu dengan seorang perempuan selain Kinaya mantan kekasihnya tersebut.


Ciuman itu mampu menggetarkan hatinya hingga membekas sampai saat ini.Ia pun larut dalam kenangan tersebut.


Hingga saat ini Banny masih menebak akan warna coklat manik bola mata gadis itu,bahkan warna bola mata itulah yang selalu membuatnya candu untuk menatap lebih lama.


Kini mata itu terbuka menatap sayu ke arahnya.


Mona menatap lekat wajah pria itu yang tengah asik menefekuri wajahnya,dan Banny tidak menyadari jika Mona sedang membalas tatapannya.


" Mas !" Panggilnya lembut.


Banny tidak peduli akan hal itu,ia tetap candu memandang wajah gadis itu.


" Sudah puas mas memandangku ?" Ucap Mona kembali,kali ini suaranya cukup terdengar lebih jelas.


Tubuh Banny bergetar mendengar suara gadis itu yang setengah mendesah ketika berbicara kepadanya.


Tidak sekalipun Banny akan bermimpi dapat mendengar suara serak bangun tidur seorang Mona hingga mampu menggetarkan hatinya.


Selama ini ia tak pernah sedetail itu memperhatikan akan ritual gadis itu di kala pagi hari.Apa lagi menyapanya ketika dia terbangun.


" Aku tak akan pernah puas." Jawab Banny tanpa malu.


Mona tersenyum lembut rasanya pagi ini adalah pagi yang begitu bersejarah dalam hidupnya,sosok seorang Banny yang selalu menampilan kesan wajah dingin dan tak ada senyuman hangat menyambutnya ketika pagi menjelma.


Namun kini garis bibir itu tak lagi datar,tersenyum membentuk bulan sabit yang indah.


" Jam berapa ini mas ?" Tanya Mona menggeliat dengan begitu elegan.


Banny melirik jam dia atas nakas tepat di samping Mona.


Ini adalah kedua kalinya mereka tidur dalam satu ranjang,jika sebelumnya Banny pernah tertidur bersama di karenakan Ac ruangan terlalu dingin.


Tapi kali ini tak ada perlawanan dari gadis itu membiarkannya dia tidur di sampingnya.


" Subuh jam lima." Jawab Banny merasa enggan. karena sebentar lagi matahari akan terbit dan tentunya mereka akan berpisah melewati harinya di kantornya masing masing.


Entah kenapa Banny merasa tak ingin berada jauh dengan gadis ini setelah pertingkaian itu terjadi.


Yaa....


Awalnya dia akan mengira jika dirinya tidak akan pernah sejatuh cinta ini kepada gadis ini,menikahinya hanya untuk membuat sang Ayah bahagia.Dan menceraikannya kembali adalah tujuan terakhirnya dia mengenal gadis itu.Ternyata dia salah kira,sekilo kapas tidak lah lebih ringan dari sekilo baja.Semakin hari di lewati bersamanya,semakin berat perasaan itu dia bawa.


Mona menyibakan selimutnya lalu terabangun.


" Aku akan bersiap-siap untuk buatkan mas sarapan dan......" Ucapan gadis itu menggantung.


" Masih ada satu jam lagi,dan itu jauh lebih cukup." Ucap Banny sambil menarik Mona dalam pelukan.


Mona tersenyum pasi ketika pria itu memeluknya dengan erat.


Hati kecilnya masih belum percaya dengan kenyataan yang kini sedang di alaminya tersebut.


Kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya jika akhirnya pria itu akan mencintainya.


" Mendekatlah dan jangan menjauh lagi " Bisik Banny lembut hinggi bibirnya nyaris menempel di telinga gadis itu.


Tak lama bibirnya mengecup lembut pundak gadis itu hingga membekas.


Tubuh Mona bergetar hebat,merasakan sesansi yang belum pernah di rasakan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2