CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 49


__ADS_3

HENING.......


DUA-duanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing masing,Mona masih merasa sebal dengan sikap sang bosnya yang sering membuat dia kesal.


Banny sesekali menoleh ke arah Mona yang masih menekuk wajahnya dengan keki.


" Apa rencana kamu tentang lamaran ini." Tanya Banny memecahkan kesunyian.


Mona menoleh ke arah Banny dengan terpaksa.


" Kenapa kamu diam saja ?" Tanya Banny dengan terus fokus ke laju kendaraannya.


" Saya sendiri juga bingung." Jawab Mona singkat.


Sejenak Hening.


Dan kembali hening mereka saling diam menahan segala pemikirannya masing masing.


" Kita tidak mungkin terus begini pak." Ucap Mona menoleh Banny yang ikut terlihat bingung.


" Lalu ??"


" Kita harus secepatnya mengatakan yang sebenarnya pak,Saya akan jujur sama nenek saya dan Bapak juga harus jujur kepada Papah anda.Kita tidak mungkin terus terusan begini pak Karena .......," Ucapan Mona menggantung


" Karena apa ??" Tanya Banny dengan cepat lalu melirik Mona dengan tajam.


" Karena kita cuman berpura pura saja pak.Dan lagian Bapak juga tidak mungkin bisa bersatu dengan saya." Jelas Mona dengan tertunduk.


" Kenapa tidak mungkin bersatu ?" Tanya lagi Banny semakin penasaran.


Mona terdiam ia mencoba mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca mobil Banny.


Banny masih menunggu jawaban dari Mona dengan terus melaju.


" Karena kita tidak saling menyukai." Ucap Mona lirih ia pun tertunduk semakin dalam.


Banny terdiam ia hanya tersenyum sinis tanpa berbicara.


Banny perlahan-lahan menepikan Mobilnya lalu berhenti dan teridam menatap lurus ke arah luar.


" Kok berhenti pak ?Kita sudah sampai ??" Tanya Mona dengan menatap ke sekelilingnya.


" Loh ini mah bukan kantor kita pak,Kita dimana ne ?" Tanya Mona mulai cemas sesaat setelah di lihatnya Banny menepikan mobilnya di tepi taman.


" Kita perlu bicara." Ucap Banny seraya membuka seat beltnya lalu ia pun turun dari mobilnya.


Mona mengernyitkan kedua alisnya dan mulai bingung dengan sikap sang bosnya yang selalu sulit di tebak akan ke inginannya.


Banny duduk di sebuah kursi besi berwarna putih ia menyandarkan punggungny dengan penuh beban wajahnya yang biasa tersirat ketegasan berubah muram dan tatapnya menerawang jauh ke langit biru di senja hari.


Perlahan-lahan Mona menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu akan arahnya.


Banny masih menatap jauh ke langit sana,Jambangnya yang baru numbuh itu terlihat membayang di bagian rahannya yang bersih.Bulu alis yang tebal itu terlihat memanjang membentuk bulat sabit serta hidung yang mancung itu menunjuk lurus ke arah langit sana.


Mona memperhatikan garis wajah itu dengan seksama mungkin saja dalam hati kecilnya ia sedang merasakan hal yang sama dengan apa yang rasakan oleh Banny saat ini


Banny dan Mona sama sama mulai saling menyukai dan sepertinya perasaan itu mulai hadir di hati mereka namun entah darimana mereka harus memulai rasa itu yang pasti perasaan mereka tumbuh seiring sandiwara cintanya di jalani.


" Saya akan melamar kamu." Ucap Banny singkat lalu ia mengalihkan pandangannya ke dalam wajah Mona yang terlihat syok mendengar akan ucapannya.


" APA PAK ???" Tanya Mona dengan penuh penekanan.


" Demi papah saya." Ucap Banny dengan pelan


" Tapi gimana dengan perasaan kita pak ?"Tanya Mona menatap nanar ke arah Banny.


" Kamu boleh berkata jujur terhadap nenek kamu dan bilang juga sama nenek kamu jika semua ini saya yang meminta untuk bersandiwara,Tapi tidak dengan papah saya.Jadi saya minta kamu bersandiwara untuk papah saya." Jelas Banny menatap serius ke wajah Mona yang masih tak percaya.


" Tapi Pak ??" Tanya Mona dengan ragu ia menatap jauh ke wajah Banny yang terlihat menyimpan banyak beban.


" Tapi sampai kapan kita bersandiwara seperti ini pak kita tidak mungkin membohongi papah anda dengan terus seperti ini dan nantinya juga pasti kebohongan ini akan berakhir." Jelas Mona dengan menatap dalam Banny.

__ADS_1


" Saya tidak ingin melihat papah saya sedih lagi,Karena setelah dia tahu akan hubungam kita semangat papah timbul kembali dan saya tidak mau melihat papah saya patah semangat lagi." Jelas Banny seraya menarik napas panjang dan tertunduk untuk yang pertama kalinya Mona melihat kesedihan yang amat dalam tergurat dari wajah Banny sosok yang selalu bersikap tegas dan dingin.


Mona terdiam bingung dengan semuanya kenapa hal ini harus terjadi kepadanya lalu ia pun kembali teringat akan budi jasanya Pak Wiguna kepadanya yang sangat amat banyak.


Tidak mungkin juga dia harus mengecewakan orang yang sudah banyak brrbuat baik kepadanya.


Masih segar di ingatannya ketika Pak Wiguna begitu tulus ketika menolong ida di saat Mona tidak bisa melunasi admin kelulusan kuliahnya sehingga dengan ke luasan hatinya pak Wiguna menggeratiskan tanpa sayarat apapun.


Sungguh kebaikan yang tak pernah dia bisa balas dengan Apapun.


" Baiklah...,!!" Ucap Mona dengan terunduk.Banny menoleh dan menatapnya dengan penuh haru.


" Jadi kamu bersedia menolong saya ?" Tanya Banny dengan terharu.


" Yaa sebagai tanda balas budi saya terhadap papah Anda,Karena selama ini papah anda sudah banyak menolong di kehidupan saya." Jelas Mona mengingat kembali kebaikan sang Papah Bosnya.


Banny sudah tau akan hal itu karena sang papah selalu menceritakan seorang gadis yang sering di bantu oleh papahnya ketika sang papah masih jadi seorang Rektor.Dan itu ternyata Mona.


" Tapi bagai mana nanti jika Papah anda menyuruh kita untuk menikah ?" Tanya Mona menatap sembilu ke arah Banny.


Lalu Banny terdiam dan dia kembali melempar tatapannya ke langi senja.


" Akan saya pikirkan lagi jika sudah mengarah ke situ." Ucap Banny seraya kembali menatap wajah Mona yang ikut gamang menatap ke arahnya.


" ......." Mona terdiam tanpa ekspresi ia hanya memikirkan bagaimana nanti perasaannya,Jika dia harus membalas budi maka ia pun rela perasaanya harus di jadikan korban perasaan saja karena dia menyadari apa yang sedang ia rasakan saat ini karena cinta yang timbul seiring waktu atas sandiwaranya cinta mereka.


Hening mereka tidak berbicara lagi mereka hanya menatap jauh ke langit sana dengan perasaan yang tak menentu di hatinya masing masing.


**********


Keesokannya......


MONA terlihat sedang merapihkan beberapa arsip yang hendak ia serahkan kepada Banny.


Tiba-tiba pintunya ada yang mengetuk kencang Mona pun tanpa pikir panjang mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk tanpa menghiraukan siapa-siapanya.


" Masuk !!"


Mona mendongkak menatap ke arah suara perempuan yang betdiri di hadapannya dengan nada suara agak lantang.


Di lihatnya Kinaya berdiri tegak di hadapannya Mona cukup terkejut melihatnya.


" KAMU ??.Kamu tunangannya Banny kan ?" Tanya Kinaya menatap tajam ke arah Mona.


" Mba Kinaya ??" Sela Mona dengan terbata bata.


" Hmmm..., Jadi kamu sekertarisnya Banny ?" Tanya Kinaya dengan memasang wajah sinis.


" Kok tumben see Banny turun level yaa ?Suka sama seorang sekertaris ?" Ucap Kinaya dengan angkuh sontak membuat Mona merasa tersinggung lalu Mona membalas tatapan Kinaya tak kalah tajam.


" Maaf Mba kinaya anda mau bertemu dengan pak Banny ?" Tanya balik Mona yang malas meladeni ejekannya Kinaya terhadap dirinya.


" Yaap ! Apa aku harus minta izin terlebih dulu sama kamu ya ?Ya secara kamu Tunangannya plus sekertarisnya." Ucap Kinaya dengan sinis dan menatap tidak suka Mona.


" Tidak perlu.Anda silahkan masuk ke ruangannya pak Banny,Beliau ada di ruangannya." Jawab Mona dengan nada datar.Entah kenapa perasaannya mendadak sebal terhadap Kinaya yang ternyata sombongnya minta ampun.


" Tapi saya ingin anda yang mengantarkannya keruangan Pak Banny bolehkan" Ucap Kinaya dengan bersikap nyebelin.Mona menghela kenapa perempuan inj harus datang ke kantornya di saat timeingnya tidak tepat.


" Silahkan " Ucap Mona dengan menatap kesal Kinaya


" Terimakasih." Balas Kinaya tersenyum sinis dan melangkah mendahului Mona.


Mona pun segera menuju ruangan Banny dengan perasaan termat kesal setelah melihat kecemburuan Kinaya terhadapnya. Lalu Mona mengetuk pintu Banny cukup keras.


" Masuk !" Jawab Banny dari dalam ruangan dengan singkat.


Mona mendorong perlahan-lahan pintu ruangan Banny dan Banny terlihat sibuk dengan beberapa lembar kertas-kertas Dokumennya di hadapannya.


" Permisi pak.Ada yang mau bertemu dengan bapak." Ucap Mona seraya berdiri di hadapan Banny.


" Siapa ??" Tanya Banny seraya mendongkak,Belum selesai Banny bertanya Kinaya sudah menyela duluan.

__ADS_1


" Haii Banny !!" Sapa Kinaya yang langsung menyembul dari balik badannya Mona dan segera menghampiri Banny yang tengah menatap heran atas kedatangannya.


" Kinaya ??" Pekik Banny seraya menatap aneh Kinaya yang tiba-tiba saja datang ke kantornya.


" Aku ganggu waktumu tidak ?" Tanya kinaya seraya duduk walau tanpa di persilahkan.


" Permisi pak." Pamit Mona langsung memutar balik badannya dan segera keluar dari ruangan Banny tanpa berbicara apapun lagi.


Banny sempat melihat raut wajah Mona yang nampak tidak suka melihat kehadiran Kinaya yang datang secara tiba-tiba dan bukan itu saja Mona juga sepertinya tidak menyukai sikap Kinaya yang terlalu lancang masuk ke ruangannya Banny.


" Ada apa Kin ??" Tanya Banny menatap tajam ke arah Kinaya yang berada di hadapannya.


" Tidak ada apa apa,Aku hanya ingin bertemu sama kamu saja Tidak boleh ya ?"


" Untuk apa ?" Tanya Banny dengan wajah kaku.


" Untuk memastikan bahwa kamu tidak lagi berpura-pura dalam mencintai seseorang ?"


" Maksud kamu ?" Tanya Banny dengan menatap Mona semakin tajam.


" Hmmm itu sekertaris kamu kan yang barusan itu ?Dan kamu yakin itu adalah tunanganmu ??" Tanya Kinaya dengan terlihat penuh curiga.


" Sepertinya itu bukan urusan kamu." Ucap Banny dengan wajah mulai terlihat gusar.


" Banny." Panggil Kinaya menatap lembut.


" ...........???" Banny membalas tatapan Kinaya dengan kaku serta datar.


" Aku kesini ingin meminta maaf atas kejadian beberapa tahun yang lalu atas sikapkuil ini kepadamu." Ucap Kinaya dengan wajah memelas.


Banny terdiam ia menatap dalam ke wajah Kinaya yang mengiba.


" Aku sudah melupakannya." Balas Banny dengan singkat.


" Seandainya aku masih di beri kesempatan untuk..," Ucapan Kinaya menggantung dia menatap ragu ke arah Banny yang hanya menatap tanpa ekspresi dan Banny pun hanya bersikap dingin menanggapi dirinya.


" Kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku,Aku yakin kamu masih mencintaiku kan ?" Tanya Kinaya dengan sorot mata yang penuh harapan.


Banny menatap kian kaku ke arah Kinaya entah kenapa ia merasakan sesuatu yang hilang perasaan untuk Kinaya dari dalam dirinya saat rasa itu mulai hadir setelah mengenal sosok seorang Mona.


" Banny ? " Panggil Kinaya dengan wajah sendu menatapnya ia menanti jawaban yang pasti dari mulut seorang Banny.


" Tidak ada yang harus di perbaiki lagi karena kita sudah melangkah jauh Kin,Dan rasa itu sudah tidak ada lagi." Rupanya cukup tegas Banny menanggapi sikap Kinaya.


" Apa ?? Jadi kamu sudah melupakan rasa itu? Sedangkan aku masih menyimpan rasa itu." Ucap Kinaya dengan raut wajah sedih.


" Apapun itu permasalahannya kau adalah masa laluku,Dan perlakuanmu dulu aku yakin itu adalah pembuktian TUHAN untuk membuktikan bahwa kamu bukanlah yang terbaik untukku." Jawab lugas Banny dengan begitu menusuk perasaan Kinaya.Betapa tidak Kinaya telah menoreh luka hati yang cukup dalam bagi seorang Banny.


Dan hal itu cukup berat untuk Banny jalani selama ini sehingga butuh proses waktu yang lama untuk bisa memulihkan rasa itu,Dan kini rasa itu telah mulai pulih atas kehadiran seorang Mona walau rasa itu di mulai dengan ketidak sengajaannya ia bersandiwara dengan Mona.


" Jadi ???" Tanya Mona dan menatap kecewa ke arah Banny.


" Jadi aku tidak bisa meperbaiki kesalahanmu itu,Dan tentang rasa itu aku sudah melupakannya aku rasa semua itu sudah berakhir."


" Banny....!!" Pekik Kinaya dengan tertekan.Sorot matanya terlihat menahan kekecewaan yang teramat dalam.


" Soryy Kinaya aku sedang sibuk lain kali saja kita ngobrolnya ." Ucap Banny seraya mengalihkan pandangannya ke arah laptop.Penolakan yang cukup halus di rasakan oleh Kinaya.Dia sadar Banny yang kini bukanlah yang dulu.


Tinggalah penyesalan dalam hati Kinaya yang telah meninggalkan Banny begitu saja demi menikah dengan Sultan laki laki kaya raya.Namun ia harus menelan pil pahit yang amat dalam pernikahan dia tak semulus yang di bayangkan penyebab utama Kinaya bercerai karena faktor orang ketiga dalam hubungan pernikahannya.


Dan kini semua tinggalah penyesalan yang tak bisa lagi ia kembalikan dengan sebuah kebahagiaan.


Kinaya melipat bibirnya dalam dalam dengan penuh rasa kecewa ia mencoba menahan sesak di dalam dadanya apapun jawaban dari Banny itu adalah hasil dari semua perlakuannya dulu.


" Baiklahh..,Aku berharap kamu masih bisa membuka kesempatan aku untuk yang terakhir kalinya agar aku memperbaiki semuanya,Karena aku masih merasa sangat bersalah sama kamu Ban." Ucap Kinaya seraya berdiri dari tempat duduknya.


Banny tidak menjawab ia benar benar telah mengacuhkan apa yang di katakan oleh Kinaya kepadanya.


Banny menarik napas panjang lalu ia hanya tersenyum tipis kearah kinaya yang masih menatapnya dengan penuh harapan jika Banny bisa menerimanya kembali.


Kinaya tidak berbicara lagi dengan ragu ia pun hanya bisa mengulas senyuman getirnya lalu melangkah keluar dari ruangan Banny tanpa berbicara apa-apa lagi.

__ADS_1


Banny menarik napas panjang semudah itukah Kinaya ingin kembali kepadanya setelah dengan mudahnya Kinaya mencampakan dirinya.


__ADS_2