
MONA berusaha senyaman mungkin berada dalam satu ruangan dengan bosnya itu,ia duduk dengan perasaan yang canggung hingga ia terlihat salah tingkah. Mona mencoba mengatur napasnya agar terlihat lebih tenang untuk menutupi perasaanya yang semakin tak menentu,dan nyatanya telapak tangannya mulai berasa basah karena keringat dingin.
Meski ragu serta nervouse akhirnya ia ikut mengecek beberapa data barang-barang yang diminta oleh sang Bosnya itu.
" Ini datanya tidak ada!,datanya mana,ini tidak ada laporan data barang masuk maupun keluar." Ucap Banny memecah kesunyian,lalu ia mengarahkan penanya ke layar laptopnya.Mona menoleh lalu menyimaknya dengan seksama,alisnya yang berbentuk bulan sabit itu terlihat mengkerut.
" Inikan datanya sudah saya serahkan beberapa hari yang lalu pak,ke Ibu Manda." Terang Mona spontan.
" Kok kamu bisa tau ?apa kamu yang input semua datanya ?" Tanya Banny dengan sorot mata yang begitu tajam bak mata burung elang yang akan siap menerkam mangsanya.
Wajah Mona berubah memucat, spontan saja ia menjawab dari pertanyaan bosnya itu.
Mona menutup mulutnya denga shok.
" Ma maaf Pak.Bu Manda yang menyuruh saya untuk menginfut ulang semua data-data itu." Hanya itu kata-kata yang bisa Mona ucapkan.
Mona tertunduk tak berani menatap bosnga itu kini ia habya merasakan debaran jantungnya yang semakin cepat memacu adrenalinya.
Ia mengutuk keras mulutnya yang tak bisa mengendalikan ucapannya itu,ia hanya pasrah dan menatap kepalan tanganya dengan penuh sesal,akhirnya dengan adanya hal itu ia telah mengatakan apa yang selama ini menjadi rahasianya bersama Manda secara tidak langsung kepada bosnya itu.
Banny menarik napas panjang dan menatap tegas ke arah Mona yang masih ketakutan.
" Jadi kamu sering di suruh Manda ?"Tanya lagi Banny dengan menatapnya tajam.
" Hmm..." Mona terlihat ragu untuk menjawabnya dan tiba-tiba saja ada rasa takut menyelinap dalam hatinya.
" Kenapa kamu diam ?Kamu takut Manda akan marah sama kamu jika kamu jujur. Disini saya yang berhak mengatur seluruh staff perusahaan ini bukan Manda ataupun yang lainya." Terang Banny menatap marah ke arah Mona yang badannya terlihat gemetar.
" Maaf pak,kejadian ini sudah lama terjadi namun saya tidak mempersalahkannya,jadi setiap tugas laporan yang di berikan ke bapak itu semua saya yang mengerjakannya." Jelas Mona dengan nada berat seolah-olah Ia takut akan kemarahan terhadap dirinya.
Banny mengangguk pelan,tanpa harus menjelaskan sedetail mungkin ia telah memahami sepenuhnya, Ia menatap tajam ke arah Mona dengan sorot mata sedang menahan kemarahannya,namun kemarahan yang di tunjukan seorang Banny masih terlihat elegan,ia rupanya pandai menyembunyikan kemarahanya.Ia paham betul,bahwa ia tidak perlu berkata kata kasar untuk menegor kesalahan bawahannya itu.
" Kenapa kamu mau mengerjakannya ?"Tanyanya kembali dengan sorot mata yang semakin tajam.Raut wajah Mona terlihat semakin memias tak hanya itu pandanganya berubah terlihat gelap ia bingung atas jawaban apa yang akan di beri,Mona hanya bisa mengigit kecil ujung bibirnya dengan resah,sekilas Banny menangkap rasa takut yang cukup dalam dari raut wajahnya.
" Saya hanya mengerjakan perintah bu Manda saja pak.." Jawab Mona dengan tertunduk pasrah.
" Ok !! hal ini saya tidak mau terulang lagi."Ucap Banny sembari kembali menatap layar laptopnya, Mona hanya diam membisu dengan memandangi komputernya dengan frustasi,apa yang selama ini di sembunyikan terkuak juga dengan sendirinya.
" Karena tidak menutup kemungkinan jika ada kesalahan dalam penginfutan tentunya kamu yang akan menjadi sumber permasalahannya." Jelasnya lagi Banny dengan dingin.
" Tolong kami input kembali semua data-datanya.Saya mau cek ulang semua datanya." Banny memerintah dengan terdengar ketus nada bicaranya.
" Baik Pak.." Ucapnya lirih.
Rasanya saat ini Mona ingin menghilang dengan sekejap dari hadapan pria berwajah dinging itu,dalam hatinya Ia terus-terusan menggerutui akan kecerobohan dirinya yang bisa-bisanya masuk kerja di salah hari, dan hal itu mengakibatkan terungkapnya perlakuan Manda terhadapnya selama ini.
" Mona.Tolong kamu ke ruangan Tora dan kamu ambilkan beberapa berkas-berkas tentang stok oknam seluruh barang."
" Sekarang pak.?"Tanya Mona dengan wajah panik.
" ..........!!" Banny tidak menjawab Ia menatap Mona dengan tatapan semakin galak.
" Ba baiik pak.." Jawab Mona menunduk,sontak wajahnya berubah memucat melihat ekspresi wajah Banny yang berubah menjadi sangar di matanya.
Ingin rasanya Ia menjerit sekeras mungkin atas sikap judesnya pria dingin berwajah tampan itu.
Jujur saja sikap seperti ini sangat mengganggu perasaan dan pikirannya,Lelaki yang sangat dingin ini yang tak lain adalah bosnya sendiri yang kewibawanya tiada bandingannya.
Mona terlihat ragu untuk melangkah Menuju lift,ia baru saja teringat akan ruangan lantai dua itu dalam keadaan kosong tidak ada staf dikarena hari libur,pikiran horornya berseliweran di kepalanya.
" Duhh gue takut juga sendirian ke lantai bawah." Guman Mona ngebatin di dalam hatinya sembari masih ragu untuk melangkah.
" kenapa ? Kamu takut ?"Tiba-tiba Banny bisa membaca akan isi hatinya Mona.
" Oh tidak pak. "Sergah Mona seraya bergegas melangkah dengan cemas.
Mona menggeleng pelan,ia salut atas insting kuatnya sang bos yang bisa mengetahui isi hatinya yang merasa ketakutan.
" Gilaa...,udah kaya paranormal aja dia bisa nebak hati gue." Gerutu Mona dalam hatinya dengan ekspresi wajah sebal.
Akhirnya mau tak mau Ia pun memberanikan diri untuk turun ke lantai dua.Dengan bergerak cepat Mona segera memasuki ruangan Tora dengan di liputi perasaan yang menakutkan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Ia pun akhirnya menemukan dokumen yang di maksud oleh sang Bosnya itu.Mona tersenyum lega setelah mendapatkan dokumen itu lalu ia pun segera bergegas meninggalkan ruangan Tora dengan wajah semakin tegang.
TINNGGG ......
Suara dentingan lift pun memecah kesunyian,lalu pintu lift pun terbuka lebar,Mona menatap kaku kedalam kapsul lift itu yang kosong walau ragu Mona perlahan memasuki kapsul Lift itu dengan perasaan was was.
Namun Mona mencoba mengusir rasa takutnya yang sedang mengintai perasaannya.
Namun tiba-tiba pintu kapsul lift itu tertahan,lalu terbuka kembali seperti ada seseorang yang sedang menahanya dan itu membuat Mona tercengang,pikirannya mulai berhalusinasi jik yang menahan pintu lift itu setan kuntilanak.
Mona merinding dengan wajah kian memucat.
" Haiii !!"
Tiba-tiba Zeanu berdiri di ambang pintu lift dan menatap hangat Mona.
__ADS_1
Mona menghela napas,dan menatap lega ke arah Zeanu.
" Pyuhhh !!! kirain gue bakal ketemu setan, parno gue..." Guman Mona seraya mengelus dadanya.
" Lo Zean bikin gue jantungan !!"Jawab Mona dengan wajah masih ketakutan.
" Kok ketakutan gitu sih Mon." Ucap Zeanu pelan.
Mona hanya merengut kesal.
" Kok hari minggu lo masih kerja aja sih?." Tanya Zeanu menatap Mona yang sedang memandangi nomor lantai tujuan.
" Iya ini ada sedikit kerjaan." Jawab Mona tersenyum
" Tapi ada bos lo kan ?" Tanya Zeanu berdiri dan menoleh Mona.
" Ada di ruangannya,dan ini gue baru ambil beberapa dokumen buat dia."
" Lo rajin ya hari Minggu aja masih kerja.."Ucap tersenyum simpul ke arah Mona.
" he..he..." Mona hanya tertawa tipis mendengar pujian itu.
Pintu Lift terbuka Zeanu dan Mona melangkah secara bersamaan sehingga mereka bersenggolan di pintu lift.Zeanu dan Mona menoleh secara bersamaan dan pada saat itu juga Zeanu pun menatap lekat ke dalam wajah Mona yang dekat jaraknya dengan wajah dirinya.
Zeanu dapat menatap jelas wajah mona yang sangat natural itu,ia dapat melihat bentuk bola mata Mona yang begitu sangat indah,bulu mata yang letik begitu sangat mempesona, di tambah warna kulit wajah yang bersih walau tanpa tersentuh Make up di wajahnya.
Kecantikannya memang begitu Natural hanya dengan sentuhan lipstik tipis yang berwarna nude kian menambah kecantikan yang begitu sederhana.
" Sorry !! Lo duluan saja..."Ucap Zeanu mundur selangkah lalu mempersilahkan Mona untuk terlebih dulu keluar.
" Thanks.."Jawab Mona singkat Ia pun segera mengalihkan pandangannya ketempat lain,lalu sejenak merekapun berjalan dengan saling membisu.
TOKK TOKK ......
Mona mengetuk pintu sang Direktur lalu terdengar Banny menyahut dari dalam ruangannya.
" Masuk !!"Jawab Banny dengan tidak menghiraukan siapa yang datang.
" Ini pak Dokumennya.."Ucap Mona menyodorkan beberapa Dokumen kehadapan Banny.
Banny tidak menjawab ia hanya melirik acuh.
" Hai Ban !"Sapa Zeanu sambil duduk di hadapanya.
" Heii Zean gue pikir lo gak ke kantor gue.."
" Gue cuman ngecek beberapa dokumen saja dan ternyata ada banyak laporannya yang tidak singkron.."
" Kok bisa ?" Tanya Zeanu sedikit tercengang.
" Makanya itu gue cek ulang.."Ucap Banny sembari menoleh Mona yang kembali pokus ke komputernya.
" Lo ko bisa datang barengengan sama staf gue ?"
" Gak sengaja ketemu di lift ."Balas Zeanu dengan melirik ke arah Mona.
Selintas Banny menangkap sorot mata yang tak biasa dari tatapan Zeanu ke pada Mona.
Banny menarik napas lalu dengan sejenak mencoba memperhatikan bahasa gerak tubuh Zeanu yang masih memandangi Mona dengan tersenyum senyum.
" Gimana lo udah liat kiriman gue ?"Tanya Banny membuyarkan pandangan Zeanu ke arah Mona.
" Oh udah Ban, Bsok gue mulai bikin sketsanya.Ngomong ngomong itu proyek siapa yang lo kirim semalam ?"
" Oh itu punya perusahan Om gue,Dia mau bikin pembangunan apartemen,Makanya gue tawarin ke elo,Siapa tau cocok dan lu dapet tender.."
" Yaa yaa...,Tadi gue udah bikin rancangan skestanya,Mudah mudahan tar malam gue coba kerjain Disain yang lainnya juga.
" Ok !! Eh Lo laper ga ? makan yuk !!."Ajak Banny sambil menutup laptopnya dan melirik jam yang melingkar di tangan yang lebat dengan bulu.
" Lumayan gue lapar juga nee soalnya gue tadi pas bangun belom sempet sarapan dulu,Maklumlah gak ada yang ngedampingin.."Ucap Zeanu berdiri sembari melirik lagi Mona.
" Makanya buruan cari pendamping biar ada yang nyiapin sarapan.."Ucap Banny sambil menyambar jasnya yang berada di sandaran kursinya.
" Mona saya makan siang dulu.."Ucap Banny menoleh Mona yang masih serius menatap layar komputernya.
" Ajak aja dia ! Kasian sendirian di kantor. masa dia bengong di ruangan sendirian gak kasian anak orang loh itu.."Ucap Zeanu sedikit melempar banyolan.
Banny menatap dingin ke arah Mona.
" Tidak pak terimakasih saya sudah makan kok."Sergah Mona dengan cepat.
" Ayolah Mon !kapan lagi kita makan di traktir bos.."Ucap Zeanu dengan tersenyum genit.
" Hmm makasih Zean !Beneran gue gak lapar"Ucap Mona terlihat canggung.
" Ikutlah.."Ajak Banny singkat.
__ADS_1
Mona terdiam dirinya menatap kaku ke arah Banny.Di hatinya ada rasa kegamangan yang membuat ia ragu untuk ikut pergi.
" Kamu punya telinga ?"Tanya lagi Banny menatap Mona dengan sorot mata yang tajam. lagi lagi membuat Mona semakin tidak enak.
" Yaa..,yaaa Pak !!"Ucap Mona dengan sedikit gugup.
Banny melangkah duluan lalu tak lama Zeanu dan Mona mengikuti langkahnya.
Banny dan Mona serta Zeanu memasuki lestoran yang tak jauh dari kantornya.
" Pak maaf saya duduk di sini saja.."Pinta Mona seraya memilih tempat duduknya terpisah.
" Terserah kamu.."Jawab Banny acuh.
" Gabung aja kali Mon,Keliatan banget anak buahnya.." Ucap Zeanu tersenyum tipis,Mona hanya menggeleng seraya tersenyum pasi.
Di dalam hati Mona meronta kesal entah bermimpi apa Ia semalam,Sehingga dirinya harus seharian bersama orang yang seperti balok es akan sikapnya dan perlakuannya erhadap dirinya,Ia merasa benar-benar tidak nyaman berada di samping sang Bosnya.
Rasanya ingin berubah jadi naruto untuk bisa menghilang dengan sekejap.
Tiba tiba ponselnya berdering nyaring,Dengan cepat Mona menyambarnya lalu segera mengangkat panggilannya.
" Hallo Mel !!"Sapa Mona dengan suara kaku.
" Mon lo dimana ?Gue di depan rumah lo ni.."
" Gue di kantor.."Bisik Mona pelan.
" HAAH DIKANTOR !! lo lagi ngapain ?"Tanya Amel terkejut bukan main suara cemprengnya terdengar jelas.
" Duh panjang deh ceritanya.."
" Ada apa see ?" Tanya Amel kian penasaran.
" Tar gue balik dari kantor ke tempat lo,Ok !!"Ucap Mona dengan cepat memutus teleponya.
Lalu Mona menghela napas dengan mencuri pandangan ke arah Banny dan Zeanu yang sedang menyantap makanan siangnya sembari mengobrol.
Mona menatap begitu lekat ke arah sang Bosnya dan pandangannya tiba tiba sulit untuk di alihkan.
Ketika bersama Zeanu Banny terlihat lebih santai dan sedikit ramah tapi kenapa jika berahadapan dengan dirinya Banny seolah olah sedang menjaga wibawanya dan terkesan suka bersikap tegas.
"A**hh..,mungkin karna gue cuma bawahan kali yaa jadi dia merasa tengsin dan jaga jarak,Tapi By The way Doi manis juga ya ternyata, apa lagi kalo lagi tertawa,,Dagunya yang brewok itu terlihat seksi sekali, dan jambang yang baru di cukur semakin menambah ke gantengannya. kulitnya yang putih terlihat seperti seorang aktor hollywood mata yang coklat sepadan dengan tekstur wajah dia yang lonjong,, memang ganteng banget dah bos gue... xii xii..."
Dalam hati mona sibuk memperhatikan wajah sang Bosnya dengan hujan pujian.
pikirannya di penuhi dengan perasaan kekaguman terhadap sang Bosnya.Dengan tak di sadari Mona tersenyum senyum sendiri.
AKHIRNYA waktu pulang tiba juga rasanya Mona ingin segera enyah dari ruangan sang Bosnya itu.Ia pikir menjadi seorang sekertarisnya sang Bosnya akan bahagia ternyata asumsi itu akhirnya terpatahkan oleh kenyaataan yang Ia alami saat ini,dan situasi seperti ini yang sangat di bencinya.
Zeanu masih asik ngobrol dengan Banny entah apa yang sedang di obrolkannya Mona sudah tidak mau peduli sama sekali,Ia hanya ingin segera cepat cepat enyah dari hadapan sang bosnya dan meregangkan otot otonya yang terasa kaku.
"Ini pak laporannya sudah saya selesaikan.."
ucap Mona menghampiri Kursi Banny.
Banny menerimanya dengan masih berbicara dengan Zeanu.
" Oyaa Pak boleh saya pulang duluan ?" Pinta Mona dengan berhati hati ia berbicara agar Banny mengijinkan dia pulang.
" Ya silahkan !!"Uca Banny singkat.
" Lo mau pulang Mon? Bareng sama gue ya!"Ucap Zeanu seraya berdiri dan menawari Mona untuk pulang bersama.
Sontak Banny menatap kaget ke arah Zeanu yang menawari Mona untuk pulang bersama.
Mona pun terlihat syok menatap Zeanu.
" Sekalian aja,Gue juga mau pulang bareng aja ya!" ucap lagi Zeanu masih menatap Mona.
Zeanu berharap Mona mau pulang bersamanya.
Pada saat itu pula Banny menatap tidak suka ke arah Zeanu entah kenapa Banny merasa terusik hatinya ketika Zeanu ingin pulang bersama dengn Mona.
Mona melirik, selintas Ia melihat ekpresi dari raut wajah Sang Bos yang agak kurang senang terhadap ajakan Zeanu yang mengajak pulang bersamanya.
" Tidak Usah Zean..,Gue pulang sendiri aja.."Sergah Mona pelan, Banny terdiam seraya menatapnya dengan raut wajah yang cukup ganjil bagi perasaan Mona.
" Ayolah !Sekali-Sekali boleh donk.."Ucap Zeanu agak memaksa.
Mona menoleh ke arah Banny dan Banny hanya terdiam dengan mengalihkan tatapannya ke tempat lain,Selintas niat nakal Mona tiba-tiba muncul dari hatinya entah kenapa ia penasaran dengan perubahan sikap sang bosnya yang dinilai cemburu olehnya.
" Baiklah.."Ucap Mona menyetujui ajakan Zeanu seraya menganngguk pelan.
" Ok !" balas Zeanu terlihat sumeringah.
" Ban !!Besok kita bahas lagi ya di pertemuan,Gua balik duluan ya.."Ucap Zeanu dengan semangat.
" Ok.." jawab Banny dengan singkat dan tidak berselera.
Sejenak Banny menoleh ke arah Mona yang berdiri di samping Zeanu.
" Saya duluan Pak.."Pamit Mona membungkuk. Banny tidak menjawab Ia hanya mengganggukan kepalanya dengan menatap cemburu ke arah Zeanu.
__ADS_1
# bersambhng #