CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 131


__ADS_3

MONA melangkah dengan pasti memasuki lobby perkantorannya dan berbaur dengan para staff yang baru datang silih berganti.


Tawa renyah itu menusuk gendang telinganya dan ia pun tidak perlu menggunakan indra ke enamnya untuk menebak siapa pemilik tawa renyah tersebut,sekali tolehan pun ia sudah memastikan jika suara tawa renyah itu berasal dari kedua sahabatnya itu yang baru tiba di ruang pekantorannya,dan seperti biasa mereka mengawali paginya dengan penuh canda dan tawa.


" Kalian baru dateng juga ?" Tanya Mona menatap kedua sahabatnya yang masih ha hi hi.


Amel dan Tamara segera memelankan gelak tawanya seterusnya mereka menjawab dengan anggukan kepala.


" Ada yang mau gue omongin sama lo berdua." Ucap Mona dengan setengah berbisik.


" Sekarang juga ?" Tanya Amel menatap serius.


Mona mengangguk,kedua sahabatnya saling bertatapan dan itu berhasil membuat mereka penasaran sekaligus gelisah.


" Ada apa sih ?pagi-pagi bikin jantung gue deg-degan aja." Ucap Amel seraya mendekat ke arah sahabatnya itu,begitu pun Tamara melakukan hal yang sama dengan tak lupa membenarkan poni pendeknya.


" Ke buru gak sih gue cerita ?" Tanya Mona seraya menoleh ke arah jam yang ada di tangannya itu.


" Intinya saja." Sela Amel cepat.


" Mmmm ok !.Kemaren gue makan siang bareng bos." Ucap Mona pelan.


" Terus ??? " Tanya Amel menatap tak sabar.


" Dan gue gak sengaja ketemu Angkasa." Jelas Mona.


" Hah ??Cowok si ganteng kalem itu ya ? " Tanya Tamara antusias.


" Sstt...,elo jangan kenceng-kenceng dehh." Sergah Mona menempelkan jari telunjuk di bibirnya Tamara.


" Terus,terus ?" Tanya Amel kian tak sabar.


" Gue heran sama bos gue,jika gue di deketin cowok lain ia suka bersikap aneh sama gue,dan kemaren dia udah bikin gue jadi gimana gitu,ketika pak Banny memberi tahu ke Angkasa jika gue tunangannya ,terus pak Banny juga ngundang Angkasa secara langsung di pernikahan nanti." Jelas Mona menatap gamang ke arah kedua sahabatnya.


Amel si gadis naluri kuat itu mengernyit dengan perasa antusias.


" Bagus dong,itu artinya bos lo udah mulai ada perasaan sama elo." Ucap Amel dengan menatap yakin.


" Itu bukan masalah ada perasaan atau enggak nya Mel." Sergah Tamara menyela.


" Lalu ??" Tanya Amel menoleh sahabatnya yang bertubuh jangkis itu.


" Itu namanya cemburu." Jawab Tamara dengan bersikap polos.


" Apa bedanya cemburu dengan punya perasaan ?" Tanya Amel protes.


" Beda lah ! " Tambah Tamara mulai mendengus.


" Coba terangkan bedanya dimana ?" Tanya Amel mulai terlihat gemas.


" Kalau cemburu kan,dia gak suka si Mona dekat-dekat dengan cowok lain." Jelas Tamara dengan pede.


" Nah,kalau gak suka liat Mona deket-deket sama cowok lain itu artinya apa ?" Tanya lagi Amel dengan sedikit nyolot.


" Artinya pak Banny emang gak suka,dan itu sirik !!!bilang aja Mona gak boleh lirik-lirik cowok lain,nanti kan bisa berabe kalau Mona sampe jatuh cinta sama cowok lain,bisa gagal kan sandiwaranya itu." Jelas Tamara dengan sikap polos serta sok tahu.


" Loh kok lo jadi nuduh pak Banny sirik,lo tahu apa tentang perasaan pak Banny,gue yakin jika pak Banny itu emang mulai ada perasaan sama si Mona Tam,dan gue dukung hal itu." jelas Amel dengan sikap pronya melakukan pembelaan atas nama bosnya.


Mona menggeleng melihat sikap sahabatnya itu yang selalu bersikap beda pendapat.


" Kenapa sih kok kalian jadi pro kontra gini ?" Tanya Mona heran setelah melihat sikap kedua sahabatnya itu memperlihatkan sudut pandang yang berbeda dalam permasalahnya.


" Bukan gitu Mon,gue rasa bos kita itu emang udah ada rasa sama elo,buktinya dia bilang sama Angkasa pernikahan elo sama dia,itu kan setidanya udah menunjukan jika bos gue itu mulai JTC sama elo." Jelas Amel dengan penuh penekanan.


" Apa itu JTC ?" Tanya Mona menatap Amel penuh selidik.


" JATUH CINTA Mona." Jawab Amel mendelik sebal.


" JTC mangga dua ya ?" Sela Tamara seraya terkekeh.


" Terserah elo !!" Sahut Amel yang mulai naik tensiannya.


" Kalau kaya gini gue suka pengen nyari balok deh." Ucap Amel melirik Tamara dengan penuh ancaman.


Tamara tersenyum geli dengan reaksi wajah terlihat sangat lugu.


" Gue,yakin bos kita emang udah jatuh cinta sama elo Mon." Jelas lagi Amel menyakinkan.


" Alah,itu mah hanya formalitas doang, lagian pernikahan ini juga cuman sandiwara aja,kenapa pula lo harus terpaku di perasaan itu,gak ada salahnya jika elo membuka peluang perasaan lo untuk yang lain,dan Angkasa siapa tau adalah cowok masa depan lo." Ucap Tamara dengan sangat enteng.


Mona menatap gadis jangkis itu penuh arti dan diam-diam ia membenarkan apa yang di ucapakan sahabatnya itu.


" Benar juga sih." Ucap Mona menambahkan.


" Nih orang mulutnya gak pernah kena ulekan cabe kali yah,ini hati Tam,bukan beca,buka peluang,buka peluang aja,lo gak tahu si Mona mewek-mewek nahan perasaan nya sama boskul,gimana mau membuka peluang yang baru ? dan itu sama saja si Mona cari penyakit,ini aja belum kelar udah nambah daya." Semprot Amel dengan kesal.


" Kan gak ada salahnya kita punya cadangan." Sela lagi Tamara tak mau kalah.


" Lo pikir ini sedang main bola pake cadangan segala,bener-bener punya sahabat kaya elo Tam,ujian banget dah." Guman Amel mendilak jengkel ke arah Tamara yang masih cengengesan.


" Udah sih,udah !! kebiasaan kalian kalau udah ribut gak pada tau diri,udah jam kantor nih." Ucap Mona seraya mebalikan badannya berniat akan berjalan kembali untuk menuju ke arah lift.


Namun tepat dengan bersamaan pandangan nya terbentur ke sebuah pintu kaca lobby perkantoran dan ia pun tak sengaja melihat dengan jelas kedatangan bosnya tersebut dengan seorang perempuan cantik dan itu adalah Arnetta.Mereka keluar dari mobil yang sama,sontak saja itu membuat gadis bermata belo itu merasa terkejut atas pemandangan yang sedang ia lihat.


Mona terdiam lalu menatap dengan berbagai perasaan ke arah bosnya tersebut,Amel dan Tamara yang hendak melangkah terlebih dahulu menoleh ke arah Mona yang masih terpaku menatap ke luar loby perkantorannya.


" Ayo Mon !" Seru Amel sejenak.

__ADS_1


Namun Mona tidak menggubris panggilan sahabatanya tersebut dan sesaat gadis bertubuh sintal itu dengan penasaran mengikuti arah pandangannya Mona,mata bulat Amel melotot sempurna ketika melihat bosnya tersebut berjalan bersamaan dengan Arnetta,begitupun Tamara melakukan hal yang sama.


" Itu yang di namakan punya perasaan ? " Tanya Tamara menoleh Amel dengan menahan tawa.


Amel tersenyum sinis lalu melengos dengan perasaan kecewa,apa yang di rasakan Amel belum lah seberapa dengan apa yang di rasakan oleh Mona,gadis itu menatap langkah mereka yang melewatinya untuk menuju lift dengan begitu sangat akrab.


Yaa semenjak kehadiran Arnetta di perusahan itu setidaknya senyuman pria dingin berwajah tampan itu mulai terukir,dan raut wajahnya selalu terlihat hangat ketika berada di dekat perempuan tersebut.


Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaan.


" Tuh calon baper ini mah,bisa kepikiran tujuh hari tujuh malam. !!" Ucap Tamara dengan melangkah duluan.


" Yaa,itu kebetulan aja kali Tam mereka berangkat bersama ?" Sergah Amel menyela.


" Kebetulan satu mobil ?,gue rasa itu bukan kebetulan tapi di betulin !!" Ucap Tamara dengan membenarkan poni pendeknya.


Apa yang di ucapkan Tamara setidaknya sedikit mempengaruhi hati kecilnya Mona,pikiran gadis itu bertanya-tanya mencari jawaban.Jika mereka berangkat dengan satu mobil,itu artinya ada kemungkinan jika bosnya tersebut memang menjemput perempuan itu kerumahnya atau semacam janjian gitu ???


Mona terdiam menatap dalam ke arah mereka yang sudah memasuki lift tanpa mengetahui keberadaanya.


" Udah Mon,lo gak usah baper,lo positif thingking aja,ok !!" Ucap Amel memberi semangat,menepis semua keresahan yang ada di benak sahabatnya itu.


" Positif thingking gimana udah jelas mereka berangkat bareng." Tamara kembali menyela selanjutnya ia pun terlihat terkekeh dengan ekpsresi wajah yang enggak banget dan hal itu mampu membuat Amel mendelik kesal ke arahnya dengan ekpsersi wajah seperti akan menelan bulat tubuh gadis itu.


*************


SUARA ketukan di pintu mengalihkan antensinya Mona yang sedang fokus ke pekerjaanya,lalu dengan sedikit terhenyak ia pun menoleh ke arah pintu tersebut.Pintu itu perlahan terbuka tanpa menunggu komando darinya.


Zeanu menyembul dari balik pintu itu dengan tersenyum lembut ke arahnya.


Mona menarik napas panjang entah kenapa perasaanya kembali cemas jika Zeanu mendatangi kantornya.


" Siang Mon !" Sapa Zeanu dengan duduk di hadapan meja kerjanya.


" Siang Zean !" Balas gadis itu dengan perasaan resah.


Sejenak Zeanu menatap dalam ke arah wajah gadis itu yang terlihat meresah atas kehadirannya.


" Tenang,gue kesini gak bakalan buat onar,gue hanya mau minta maaf sama bos lo." Ucap pria itu seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tersebut.


" Tapi sebaiknya elo langsung ke ruangannya saja Zean,daripada nanti bos gue berpikiran macam-macam tentang diri lo." Jelas Mona dengan nada cemas.


" Kita ini sodaraan Mon,macam-macam gimana,bilang aja bos lo gak suka jika elo dekat-dekat dengan pria lain." Jelas Zeanu dengan enteng.


Mona terdiam,ucapan Zeanu dengan apa yang di katakan Amel gak berbeda jauh,jika bosnya memang tidak suka jika dia dekat-dekat dengan pria lain,lalu alesannya kenapa ?


Otaknya terasa buntu jika harus berpikir keras dalam mencari jawaban itu.


" Meski begitu pak Banny gak akan percaya jika kita sudah menjadi sodara." Sela Mona dengan ragu.


Mona mengernyit lalu menatap dengan perasaan campur aduk di benaknya.Lagi-lagi ia hanya bisa menghela lalu menatap kembali wajah pria itu dengan berbagai perasaan,cemas bercampur takut jika ia harus melihat kedua pria berkualitas ini harus bersi tegang kembali.


" Lo gak usah panik gitu lah,gue yakin gue gak akan macam-macamin lo kok." Ucap Zeanu menenanggkan perasaan Mona yang semakin galau.


" Gue takut jika kalian akan berantem kembali." Imbuhnya dengan suara melemah.


" Tenang aja,gue akan tahan emosi ini jika tuh orang mancing-mancing emosi kembali." Ujar pria itu pelan.


" Seharusnya ini tak terjadi Zean,kalian kan sudah berteman lama,gak seharusnya masalah ini menghancurkan perasahabatan kalian." Terang gadis itu menatap penuh sesal.


" Banny memang tak pernah bisa berubah,sikapnya tetap seperti itu angkuh dan penuh gensi." Jelas Zeanu menatap sisi lain.


" Sebaiknya elo terus negrtiin dia ." Ucap Mona menatap dengan perasaan cemas.


" Mon,elo tidak akan paham seperti apa itu Banny?dan gue sangat berharap jika dia itu sedikit saja bisa menghargai persaaan elo,dan kenapa gue marah terhadap dia,karena sikap dia yang tidak sama sekali menghargai perasaan elo padahal gue yakin jika dia itu sebenarnya suka sama elo." Ujar Zeanu menatap dengan perasaan yakin.


Mona hanya terdiam mendengar penuturan sang kakak sambungnya itu,dari awal Zeanu memang mengetahui jika sahabatnya itu memang ada perasaan terhadap dirinya.


" Zean,elo gak usah so tahu deh dan satu hal lagi jangan suka bikin gue geer." Ucap Mona dengan menunduk dalam menahan perasaan yang bergemuruh di dadanya.


" Gue sangat mengenal siapa Banny Mon,dan gue kenal Banny tidak setahun dua tahun Mon,hampir dua belas tahun gue mengenalnya." Ucap Zeanu dengan tersenyum tipis.Mona terdiam dengan perasaan datar meski ia tak selama itu mengenal akan sosok Banny,tapi dia mampu menyimpulkan jika bosnya itu punya kepribadian yang cukup menantang bagi dirinya.


" Oya,Banny ada di ruangannya kan ? " Tanya Zeanu pelan.


" Ada,sebaiknya elo langsung ke ruangannya saja dan tak perlu gue temenin,nantinya pak Banny akan salah paham lagi." Imbuh Mona seraya menoleh ke arah ruangan bosnya tersebut.


Tepat Mona sedang menoleh ke arah ruangan sang bos itu dengan bersamaan seseorang menyapanya dari pintu ruangannya yang sedikit terbuka.


" Permisi !!" Seorang peremuan dengan menjulurkan kepalanya menyapa ke arah Mona.


Mona mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.


Perempuan cantik tersenyum hangat ke arahnya.


" Boleh masuk ?" Tanya perempuan itu dengan ramah,sekilas perempuan itu menggeser bola matanya melirik ke arah pria yang sedang duduk menatapnya.


" Silahkan Ane !" Ucap Mona mempersilahkan Arnetta untuk masuk ke ruangannya.


" Makasih." Ucap perempuan itu seraya melenggang menghampiri meja kerja Mona.


Zeanu menatap panjang ke arah Arnetta yang kini tengah berdiri di sampingnya,lalu ia pun mencoba menyimak wajah perempuan itu dengan seksama.


" Ini adalah hasil laporan ke uangan yang baru saja aku rekap." Ucap Arnetta seraya menyodorkan sebuah map kehadapan Mona.


" Oh ya,makasih ya Ane,nanti saya serahin laporan ini kepada pak Banny." Ucap Mona dengan wajah datar.


" Ok sama-sama bu Mona. !" Ucap Arnetta seraya melirik ke arah Zeanu dengan lirikan penuh tanda tanya akan kehadirannya di ruangan Mona.

__ADS_1


" Hmm kalau begitu aku balik ke ruanganku dulu ya !" Ucap Arnetta berpamitan.


" Ok !" Balas Mona pendek.


Sejenak sebelum memutuskan untuk keluar perempuan cantik itu melirik kembali ke arah Zeanu yang kebetulan sedang memandanginya,lalu perempuan cantik itu mengangguk dengan tersenyum sekedarnya.


Tak lama Arnetta pun melangkah keluar dari ruangan sekertaris bosnya tersebut.


" Siapa itu Mon ? " Tanya Zeanu dengan cepat.


" Staff admin baru." Jawab Mona seraya membuka map tersebut.


" Kayanya pernah gue lihat,tapi dimana ya ? " Ucap Zeanu seraya mencoba mengingat sesuatu akan perempuan tersebut.


" Namanya Arnetta,anak dari sahabat pak Wiguna,dosen di kampus pak Wiguna." Jelas Mona dengan acuh.


" Arnetta ?? " Tanya Zeanu mengulang nama tersebut.


" Iya Arnetta,elo kenal ?" Tanya Mona menoleh sesaat.


" Sepertinya gue pernah dengar nama itu,kalau gak salah waktu itu bos elo pernah dekat dengan cewek yang namanya Arnetta." Ucap Zeanu dengan mengelus-ngelus dagunya,Mona mengernyit merasa penasaran dengan pernyataan Zeanu.


" Beberapa tahun yang lalu sih,kalau gak salah tuh cewek masih kuliah deh pas waktu itu, jadi Banny tuh pernah bilang sama gue, jika tuh cewek udah lulus S1 maka dia akan memacarinya." Imbuh Zeanu menatap dalam wajah Mona.


Sontak raut wajah gadis itu terlihat tertekan mendengar pernyataan nya Zeanu akan sosok Arnetta.


Jadi apa yang selama ini di prasangkanya itu benar adanya,Mona terdiam merasakan seperti ada yang terluka namun tidak berdarah.


" Jadi maksud elo Arnetta pernah di taksir pak Banny ?" Tanya Mona memastikan dengan menatap penuh telisik.


" Dulu sih Banny pernah cerita tetang cewek itu,sepertinya tuh cewek di kenalin bokapnya Banny,secara Banny kan agak susah move tuh sehabis putus dari Kinaya dan itu berhasil membuat perasaan Banny suka terhadap Arnetta,tapi yaa karena berhubungan waktu itu cewek yang di taksir Banny masih kuliah jadi gue rasa Banny hanya bisa memendam perasaanya terhadap cewek tesebut,secara Banny kan orangnya memang gensian dalam menghadapi sebuah permasalahan hati, jadi kaya gitu lah." Jelas Zeanu dengan santai.


Mona terdiam,entah kenapa pikirannya mulai bercabang kemana-mana dengan sekelumit cerita tengtang Arnetta dari pria berwajah tenang itu.


Keyakinannya semakin kuat jika pria tampan itu setelah menikahi dirinya hingga menceraikannya dapat di pastikan jika pria tampan itu akan menjalin kasih dengan perempuan cantik itu.


Mona menggeleng pelan seperti ada sebuah ancaman besar sedang mengintai perasaan dirinya terhadap pria tampan tersebut,sejenak Mona berpikir.


Apa jangan-jangan selama ini mereka sudah menjalin hubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan nya ?


Entahlah perasaanya kian semerawut setelah ia tahu akan cerita sebenarnya perempuan itu.


Mona semakin yakin,alasan kenapa bosnya tersebut menggantikan Tora agar mereka bisa saling lebih dekat,buktinya saja tadi pagi mereka berangkat dengan satu mobil.


Ah rasanya vertigo itu kembali melanda.


" Mon elo baik-baik aja ?" Tanya Zeanu menatap ekpresi wajah Mona yang melongo menatap kosong dirinya.


" Kok elo malah bengog ?,apa jangan-jangan elo sedang memikirkan sesuatu tentang Banny?" Tanya Zeanu penuh selidik.


" Apaan sih Zean,elo gak usah mengada-ngada." Ucap Mona melengos.


" Tapi elo kenapa langsung diam setelah dengar cerita gue ini ?" Tanya Zeanu kian gencar menyelidiki perasaan gadis tersebut.


" Zean,gue rasa pak Banny melakukan pernikahan ini hanya untuk membuat orang tuanya bahagia saja,dan setelah itu dia akan berpacaran dengan Arnetta." Ucap Mona menyimpulkan opininya sendiri.


" Kenapa elo punya pikiran seperti itu ? " Tanya Zeanu menatap heran.


" Yaa,secara pak Banny pernah menyukai Arnetta,jadi wajar jika dia melakukan perintahnya orang tuanya terlebih dulu,dan setelah itu ia akan kembali dengan menikahi Arnetta." Jelas Mona dengan raut wajah mendalam.


Zeanu menatap lurus ke arah Mona,mencoba mengartikan sikap dan pernyataan yang di ucapkan gadis tersebut.


" Gue tau rasanya seperti apa jika ada di posisi elo,dan gue juga tahu jika perasaan elo mulai dalam terhadap Banny ?itu lah sebabnya gue merasa keberatan jika Banny melakukan hal yang se enaknya terhadap elo." Jelas Zeanu dengan lirih.


Mona terdiam entah kenapa apa yang di ucapkan pria berwajah tenang itu begitu dalam menyentuh hatinya,pria ini benar-benar sangat peduli terhadap perasaanya dan pria ini juga selalu menjaga akan perasaanya.


" Gue gak ingin lihat elo sedih,bahkan kecewa atas perlakuan nya Banny." Ucapnya kembali dengan perasaan yang sulit di artikan.


Mona kian terdiam merasakan air matanya mulai merembes di sela-sela ujung matanya.


" Sebaiknya gak usah ngebahas ini lagi,biarlah waktu yang menentukan perasaan pak Banny terhadap gue." Jelas Mona dengan menengadahkan wajahnya ke langit ruangannya berusaha menahan sesak yang kian menghimpit perasaanya.


" Melepaskan sesuatu yang menyakitkan itu sama halnya kita menggengam sekuntum bunga mawar cantik yang penuh duri,semakin di gengam kita,maka akan semakin terluka.Bukan kan seperti itu sebuah caption yang lo tulis di akun sosmed lo?." Ucap Zeanu menatap dengan perasaan enggan, sebenarnya ia tak ingin melihat wajah gadis itu terlihat sedih hanya karena sebuah perasaan yang sepihak terhadap laki-laki yang tak punya keberanian untuk menentukan sikap.


Seandainya dirinya tidak di takdirkan dalam hubungan persaudaraan,mungkin ia sudah menggagalkan sandiwara ini hanya untuk menyelamatkan hati seorang gadis yang sangat dia cintai.


Mona menatap nanar ke arah pria berwajah tenang itu setelah mengucapkan sebuah caption di akun instragram pribadinya tersebut dan seketika raut wajahnya memerah dengan perasaan bercampur malu akan perasaannya di ketahui oleh Zeanu.


Zeanu menghela lalu menatap gengaman jari-jemarinya yang saling bertautan di pangkuannya tersebut.


" Perlu waktu untuk seorang Banny dalam mengeliminasi perasaan gengsinya itu." Ucap Zeanu mengakhiri pembicaraanya dengan menatap teduh gadis tersebut.


Tak lama ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Mona.


Mona masih terdiam dengan perasaan yang luar biasanya menganggu pikirannya.


Perasaanya kian rumit setelah keyakinannya bertambah menjadi 100% akan sosok seorang Arnetta.


Yaa pantas saja bosnya itu terlalu dingin kepadanya dan tak hanya itu saja bosnya sering bersikap acuh terhadap dirinya jika hatinya memang bukan untuk dirinya karena ada sosok perempuan lain yang mampu membuat pria itu tersenyum dengan penuh arti.


Mona menggeleng perasaanya kian kacau,ingin rasanya ia memaki sang hati yang telah pasrah berharap banyak dari seorang Banny akan mencintai dirinya dengan setulus hati.


Jika kemarin bosnya bersikap di luar dugaannya terhadap Angkasa,anggap saja hal itu hanya untuk mengusir kehadiran Angkasa dari kehidupannya secara tidak langsung.


Jahat memang !!!


Gadis itu menatap frustasi ke arah layar laptopnya tersebut,entah kenapa ada rasa benci menyeruak dalam hatinya ketika mengingat akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2