CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 110


__ADS_3

GADIS bermata belo itu menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk dengan sikap pasrah,lalu ia pun menatap jauh ke langit kamarnya dengan berbagai perasaan.Seharian ia berkutat dengan pekerjaanya setidaknya membuat tenaga dan pikirannya terkuras habis.


Mona menghela lalu mengusap pelan kepalanya dengan perasaan gelisah.


Mona si gadis sederhana itu menatap lekat ke arah langit kamarnya seraya membayangkan kembali sikap sosok seorang pria tampan berwajah dingin tersebut bagaimana angkuhnya menunjukan sikap cemburunya dengan sangat elegan.


Meski tidak terucap sebuah kata cemburu dari mulutnya, namun bahasa tubuh serta tatapan matanya selalu menunjukan bahwa pria tersebut memang ada perasaan yang tak biasa terhadap dirinya.


Mona memahami jika pria tersebut memang cemburu jika dirinya berada dekat dengan salah satu teman pria nya,termasuk Angkasa sosok pria yang baru di kenalinya tadi malam.


Buktinya saja ketika Angkasa menatap heran ke arah dirinya dengan cepat Banny memperkenalkan dirinya kepada pria tersebut dengan sorot mata yang lain.


Yaa Banny memang tidak pernah mengatakan perasaan-nya terhadap dirinya,namun ia mampu merasakan sesuatu hal yang orang lain tak pernah tahu dengan apa yang di tunjukan bosnya tersebut kepada dirinya,meskipun secara langsung maupun tidak langsung.


Lalu Zeanu ??


yaa sosok pria tenang yang memiliki sikap hangat tersebut memang selalu membuatnya nyaman jika berada di dekatnya,dan Banny pun selalu bersikap ketus dan dingin,jika ia dekat dengan sosok pria itu.


Mona selalu melihat raut wajah bosnya tersebut menatap tidak suka jika pria yang menjadi sahabatnya itu dekat dengan dirinya.


Padahal sudah jelas jika pria hangat tersebut kini sudah menganggap dirinya sebagai seorang adik perempuannya.


Mona menghela lalu mengusap wajahnya dengan frustasi.


Kejadian sore tadi tak bisa luput dari ingatannya,ketika Zeanu secara terang-terangan meminta dirinya untuk pulang bersama sekalian menemui sang ibunya di hadapan Banny,dan pria tersebut jelas berpikiran lain akan hal itu.


serta merta itu membuat Banny berhasil semakin terlihat tidak suka kepada Zeanu.


Gadis itu pun larut dalam bayangan kejadian yang telah terjadi.


*flas bcak *


" Mon,gue antar lo pulang nanti ya !" Ucap Zeanu seusai acara pertemuan itu selesai.


Gadis tersebut terdiam lalu menatap ke arah Banny yang sedari tadi berada di sampingnya.


" Sekalian gue ada perlu juga sama lo !" Ucap Zeanu menambahkan lagi.


" Sebenarnya kalian ada apa sih? gue perhatikan dari kemarin kalian sibuk banget." Sela Banny menatap dingin ke duanya.


Zeanu menoleh ke arahnya dengan perasaan enggan.


" Kenapa ?kalian tidak mau cerita ?Privasi banget ?" Tanya pria tersebut semakin menatap kaku.


Zeanu menggeleng dan tersenyum di paksakan.


" Ini hanya masalah keluarga saja Ban." Balas Zeanu menoleh Mona yang mulai berjalan di sampingnya.


" Masalah keluarga ?" Tanya Banny mengernyitkan alisnya.Pikirannya mulai di liputi penasaran.


Wajah gadis tersebut menegang lalu dengan cepat ia menoleh pria tersebut berharap jika Zeanu tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Baru saja Zeanu membuka mulutnya,tepatnya hendak berbicara namun dengan cepat gadis tersebut segera menyela.


" Ok Zean,nanti gue pulang bareng lo ya." Ucap Mona mengangguk dengan melirik segan ke arah bosnya tersebut.


Banny menatap semakin tak mengerti ke arah mereka yang dirasanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


" Baiklah." Jawab Zeanu menyeringah bahagia.Sesaat Zeanu menoleh ke arah pria yang berada di sampingnya Mona dan reaksi pria tersebut hanya melengos membuang mukanya.


" Ok Ban,gue balik kantor dulu ya !nanti untuk proses pembuatan sketsa perusahan cabang kedua lo akan segera gue konfirmasikan.Soalnya kita tidak bisa langsung menggarap keduanya dalam satu project,jadi kita harus mengkaji ulang lagi akan anggarannya,takutnya nanti malah terjadi Difisit." Jelas Zeanu menatap dalam ke arah sahabat sekaligus fatner kerjanya tersebut.


" Kurasa gue sudah memperhitungkannya dengan matang,sebab gue baru saja mendapatkan investor baru untuk pengembangan di perusahaan gue." Balas Banny dengan tatapan angkuh.


" Oya ? lo sudah mendapatkan dana investasinya ?" Tanya Zeanu menyeringah.


" Yap,ini kesempatan gue untuk mengembangkan lebih pesat lagi perusahan gue." Ucap Banny tersenyum bangga.


Zeanu tersenyum penuh arti ke arah sahabatnya tersebut,tepatnya ia merasa kagum akan tekad kuat yang di miliki oleh seorang Banny dalam membagun perusahaannya tersebut untuk semakin berperforma.


" Gue ikut bangga Ban,semoga lo semakin sukses." Ucap Zeanu dengan penepuk pelan pundak sahabatnya.


" Thank's bro,kita akan sukses bersama." Balas Banny dengan tersenyum cukup lebar.


Mona terdiam,ia hanya menatap dengan perasaan tak menentu ke arah kedua pria tersebut.Jika TUHAN tidak menakdirkan dirinya sebagai adik perempuan sambungnya seorang Zeanu,tentunya ia akan terus berharap jika suatu saat nanti ia bisa saja berpaling kepada sosok pria tersebut.Tepatnya jika sandiwaranya itu telah usai,karena satu alasan yang kuat,yakni ia merasa nyaman jika berada dekat dengan sosok pria hangat tersebut.


Tapi TUHAN berkehendak lain,dengan menakdirkan sosok pria tersebut menjadi sosok seorang kakak sambung dalam kehidupanya.Mona menggeleng pelan dengan perasaan sembilu.


" Ok,gue balik ya." Ucap lagi Zeanu berpamitan.Banny mengangguk dengan tersenyum tipis.


" Mon,gue nanti tunggu di sebrang posko ya." Ucap Zeanu menoleh ke arah Mona.


Gadis tersebut hanya mengangguk pelan.


Tak lama Zeanu pun melangkah meninggalkan Mona dan Banny yang masih berdiri di pintu ruangan tersebut.


Lalu gadis tersebut berniat akan segera berjalan keluar menuju ke arah lift.Namun suara berat itu menahan langkahnya.


" Tunggu !!" Pintanya cepat.


Dengan dada bergetar gadis tersebut menghentikan langkahnya dan terdiam.


" Saya ingin bicara sebentar dengan kamu." Ucap suara berat pria itu yang langsung membuat seketika gadis itu merinding.


Gadis tersebut menoleh dan tersenyum tak pasti ke arah bosnya yang kian menatapnya tajam.


" Ada apa pak ?" Tanya Mona mulai merasa risau.

__ADS_1


" Nanti pulang kamu ikut saya kerumah,ada hal yang ingin di bicarakan oleh papah saya kepada kamu." Ujar pria tersebut menatap penuh wajah gadis tersebut.


Gadis itu tercekat ketika bosnya meminta dirinya ikut ke rumahnya menemui sang Ayah,bukankah ia tahu jika dirinya telah berjanji untuk pulang bersama dengan Zeanu.


Otak besar Mona bekerja cepat,berusaha untuk menangkap cepat dari apa yang di maksud dengan ucapan bosnya tersebut yang mengajak dirinya pulang bersama.


Apa ini ada hubungannya dengan kepulangan-nya bersama Zeanu ?


Apakah bosnya itu sengaja berbuat demikian agar ia tidak jadi pulang bersama Zeanu ?


Akh di rasa itu hanya buruk sangka nya saja !


Mona mencoba untuk tidak berpikir yang aneh-aneh terhadap maksud dari permintaan bosnya tersebut.


" Tapi pak,saya sudah janji dengan pak Zeanu untuk pulang bersama,bapak dengar sendiri jika pulang nanti saya akan pulang bersama pak Zeanu.?" Sela Mona dengan menatap heran atas permintaan bosnya tersebut yang terkesan mendadak.


" Jadi kamu lebih memprioritaskan dia ketimbang bertemu dengan papah saya ?" Tanya pria tersebut dengan suara pelan namun bagi pendengaran gadis tersebut terdengar seperti emosi tertahan.


" Kok bapak berbicara seperti itu?jelas saja keduanya itu bukan prioritas saya." Balas Mona menatap dengan berbagai perasaan.


" Kita lagi bersandiwara Mona,tidak mungkin kita mengabaikan permintaan papah saya." Ucap lagi pria tersebut dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


" Tapi pak, tidak harus hari ini kan?Mungkin besok juga masih bisa,karena saya sudah janji sama pak Zeanu." Jelas Mona menyergah ucapannya bosnya dengan mimik wajah mulai kesal.


Wajah pria tersebut semakin membeku saat gadis tersebut mulai berani menolak ke inginan nya.


" Jadi kamu menolak perintah saya ?" Tanya pria tersebut dengan tatapan mulai menyeramkan.


Mona menghela dan menatap penuh rasa tegang ke arah wajah pria tersebut yang mulai terlihat geram atas penolakan dirinya.


" Ini bukan masalah penolakan perintahnya bapak,tapi kan saya sudah berjanji dengan pak Zeanu,dan saya tidak mungkin membatalkannya dengan begitu saja." Ucap Mona dengan terbata-bata.


Mencoba memberi pengertian bosnya dengan tanpa amarah.


" Lalu ? " Tanya pria itu menatap semakin tajam.


" Yaa...,kenapa bapak tidak bilang dari awal jika papah anda meminta saya untuk menemuinya,sebelum akhirnya saya mengiyakan ajakannya pak Zeanu." Terang gadis tersebut menatap risau.


" kamu tinggal mengcansel saja janji kamu sekarang,selesai kan ?" Tanya Pria tersebut menatap remeh.


Tatapan gadis tersebut membatin ke arah pria tampan itu.


Egois !!!


dan hanya itu yang bisa ia ucapkan dalam batinnya.Sesaat Mona hanya terdiam dengan tertunduk.Beradu argumen dengan seorang Banny hanya membuatnya semakin terpojok,dan menuruti kemauannya adalah cara satu-satunya menghentikan kemarahannya tersebut,cukup patuh kelar semuanya.


" Baik lah !" Jawab gadis tersebut singkat,nada suaranya terdengar tertekan.


Pria dingin itu tersenyum sinis lalu perlahan mendekati sekertarisnya dengan tatapan yang sulit di tebak.


Perasaan Mona mulai di liputi rasa was-was jika pria itu mulai mendekatinya.


Pria itu mendekat dan semakin mendekat,mata bulat mona menyipit menatap dengan berbagai perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.


Ah rasanya membuat sekujur tubuhnya semakin panas dingin tak karuan jika pria itu lebih dekat dengannya,seketika membuat perasaanya menegang bak tersengat alisran listrik yang berarus tinggi.


" Sebenarnya ada hal apa yang kalian sembunyikan ?" Tanya Pria tersebut menatap dengan sorot mata yang tajam.


Mona terdiam ia terlihat sedang menetralkan perasaan nya.


" Ti tidak ada apa-apa pak,kita hanya ada sedikit urusan saja." Ucap Mona berusaha untuk terlihat tenang.


" Yakin ?" Tanya pria tersebut menyoroti kian dalam wajah gadis tersebut.


Sorot matanya seolah-olah sedang mengintimidasinya dan hal itu membuat Mona merasa tidak nyaman.


" Maaf pak,saya harus pergi." Ucap Mona dengan segera menghindar dari tatapan pria tampan tersebut.


Tepat ketika gadia itu akan beranjak tangan kekar itu menyambar cepat meraih tangannya serta merta ia segera menahan langkah gadis tersebut.


" Tunggu !" Sergah pria tersebut menahan langkahnya.


Mona tersentak setelah tanganya di cekal erat oleh pria tersebut.


Gadis itu menahan pelan perasaanya yang semakin tak karuan.


" Aku tidak percaya jika kalian tidak ada sesuatu hal yang di sembunyikan dariku ." Ucap pria itu mempererat cekalannya.


Mona terhenyak ketika Banny menyebutkan dirinya dengan Aku,sejak kapan ia memangil dirinya dengan sebutan aku?kenapa suasana nya berubah sangat intim begini ?pikir gadis itu pikirannya mulai meracau.


" Pak,saya tegaskan bahwa saya dengan pak Zeanu tidak ada apa-apa ! kenapa bapak tidak percaya dengan perkataan saya ?" Sejurus Mona bertanya balik dengan perasaan jengkel atas sikap atasannya itu yang di rasa terlalu ingin tahu dengan urusan pribadinya tersebut.


Banny masih mencekal erat pergelangan tangan-nya tersebut,wajahnya perlahan terangkat dengan satu alisnya terlihat naik.


" Apa hak bapak mengetahui masalah pribadi saya? sepertinya bapak juga bukan siapa-siapa saya." Ujar gadis itu menatap lantang wajah pria berparas tampan itu.


Tatapan pria itu semakin angkuh menatapnya.


" Lagi pula saya hanya tunangan sandiwaranya bapak saja,jadi tak seharusnya bapak ingin tahu banyak tentang pribadi saya." Imbuh gadis tersebut dengan menatap penuh ke arah wajah pria tersebut.


Rahang pria tampan itu menyembul tegas,bola matanya menatap sempurna ke wajah gadis tersebut.


" Jadi saya rasa,bapak tidak perlu ikut campur urusan pribadi saya." Ucap gadis tersebut dengan penuh penekanan.Sorot matanya menatap dengan intens.


Sontak wajah tampan itu memerah apa yang di katakan sang sekertaris itu benar-benar mengena di hatinya,bahwasaanya dirinya memang tidak ada hak untuk tak tahu akan permasalahan pribadi sekertarisnya tersebut,karena sekertarisnya itu memanglah bukan siapa-siapa dirinya.


Banny sadar jika dirinya meminang gadis tersebut atas kemauan sang Ayah bukan atas dasar keinginan dirinya.

__ADS_1


Cekalan yang tadinya erat itu seketika melonggar dan perlahan terlepas dari tangan gadis tersebut,rupanya kata-kata itu mampu menusuk dalam perasaanya.


Mona melihat jelas akan perubahan raut wajah bosnya tersebut dan pria yang ada di hadapannya itu merasa tersingung atas ucapan dirinya.


Banny melangkah mundur dengan menatap berbagai perasaan yang hampa,entah kenapa perkataan yang terlontar dari mulut sekertaris sekaligus tunangan palsunya itu terasa begitu mengena di hatinya.


Dirinya memang tak perlu tau akan urusan pribadi sekertarisnya tersebut karena memang pada kenyataannya ia hanya sebatas tunangan bayangan nya saja.


Pria itu menghela lalu berjalan meninggalkan Mona dengan begitu saja.


Dan gadis tersebut pun hanya bisa tercenung,mencoba merepleksi setiap kata demi kata yang telah terucap dari mulutnya terhadap pria tampan tersebut.


Adakah perkataan kasar yang terlontar dari mulutnya itu ?


dirasa perkataan itu tidak terlalu kasar dan wajar-wajar saja.


Ia hanya berbicara sesuai dengan kenyataan nya saja jika bosnya tersebut tidak perlu ikut campur dalam permasalahan pribadinya.


Mona meremas rambutnya dengan perasaan kesal lalu ia pun terbagun dari lamunan panjangnya atas kejadian siang tadi yang menimpanya,lalu ia pun meraup wajahnya dengan perasaan frustasi.


Entahlah kini justru perasaan nya mulai di hantui perasaan rasa bersalah karena terlalu berani mengeluarkan unek-uneknya terhadap si pria dingin itu,dan hal itu seoalah-olah telah memberikan kesan terganggu dengan rasa ke ingin tahuan bosnya tersebut.


Mona terbagun lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk,tepat di tepi ranjangnya dan perasaan nya kian tak menentu atas ucapannya tersebut.


Yaa TUHAN kenapa perasaan nya menjadi serumit ini ?"


Desahnya dengan berat.


Dan apa yang akan terjadi setelah kejadian itu ? ia pun,memutuskan memilih pulang sendiri membatalkan pulang bersama Zeanu,maupun Banny.Dirinya menolak ikut pulang bersama sang bosnya tersebut meski alasan pak Wiguna meminta untuk menemuinya.


Terlalu sulit memang pilihan yang harus di ambilnya saat itu.


Mona menatap frustasi ke arah bayangan dirinya di cermin.


Dan fix Banny adalah sosok pria yang kini mulai mengisi relung hatinya setelah sebelumnya perasaan nya terhadap Zeanu terhalang.


***********


Pria dingin berwajah tampan itu terbagun dari tidurnya di saat suara bunyi nada panggilan dari ponselnya berdering kencang,dengan perasaan masih tekantuk-kantuk pria tersebut menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas nakas, sehingga berhasil membangunkannya.


Pria itu melihat ke arah dirinya yang masih tengah mengenakan baju lengkap kerjanya.


Rupanya ia tertidur selepas pulang kerja beberapa menit yang lalu,Banny pun meraih ponsel tersebut dan di layar notifikasi ponsel tersebut terlihat ada tujuh panggilan masuk ke ponselnya.Pria tampan itu mengernyit lalu tampa menunggu lama ia segera mengecek nama panggilan tersebut dan itu dari sang Ayah yang meneleponnya hingga beberapa kali.


Dengan sigap Banny pun menelpon balik sang Ayah.


" Haloo pah !!" Sapa pria tersebut begitu tersambung akan panggilan telepon tersebut.


" Kamu dimana Ban ?" Terdengar suara berat bertanya dari arah sebrang telepon.


" Banny lagi di afartemen pah." Jawabnya dengan menyandarakan tubuhnya di sandaran sopa dengan malas.


" Kamu tidak pulang ? " Tanya lagi suara itu dengan resah.


" Tadi Banny ada sedikit pekerjaan penting,jadi singgah ke afartemen saja pah, Banny gak pulang ke rumah malam ini." Ucap Banny dengan rasa ngantuk yang masih menderanya.


" Kenapa kamu tidak jadi bawa Mona ke rumah ? " Tanya sang Ayah pelan.


" Oh iyah pah ,Banny minta maaf.Soalnya tadi Banny sama Mona sama-sama sibuk,nanti jika ada waktu senggang Banny akan ajak kembali Mona menemui papah." Jelas Banny dengan suara lirih.


" Oh baiklah.Lalu bagaimana bisnis baru kamu?sudah berjalan lancar ?" Tanya sang Ayah mengalihkan pembicaraan.


" Alahamdulillah pah,baru saja tadi siang Banny mendapat investror yang akan berinvestasi di perusahan kita." Jelasnya dengan menguap sejenak.


" Syukurlah,papah percaya kok,kamu pasti bisa meneruskan perusahan kita ini." Ucap sang Ayah dengan perasaan bangga.


" Iya pah,makasih papah udah suport Banny." Sela Banny pelan.


" Sama-sama Ban,Oya besok kalau bisa ajak Mona ya ke rumah untuk membicarakan pernikahan kalian." Ucap sang Ayah dengan suara riang.


Banny menghela napas panjangan raut wajahnya terlihat semakin berat,perasaan ragu mulai mengisi relung hatinya.


Entah kenapa perasaanya menjadi tak berarah setelah ia mengingat kembali akan ucapan gadis tersebut bahwa dengan telak gadis itu mengatakan,jika dirinya tidak perlu tahu akan masalah pribadinya.


Apakah benar mereka (Mona dan Zenau ) sudah saling jadian atau.....,???pikirannya tiba-tiba tersita akan rasa kepenasarannya tentang sosok dua insan tersebut.


Sang Ayah masih berbicara dari ujung telepon,namun Banny masih terdiam dengan berbagai terkaan di benaknya.


" Banny,kamu baik-baik saja ?haloo !!" Tanya sang Ayah bertanya dengan suara cemas setelah sang putranya tersebut tidak merespon segala ucapannya tersebut.


" Oh,iyah pah.Maaf Banny habis bangun tidur sehingga belum konek nih." Balas Banny dengan tersenyum pasi.


" Baiklah kamu lanjut istirahat saja,jangan lupa besok kamu ajak Mona kerumah lagi yah." Titah sang Ayah dengan terdengar ramah.


" Baik pah." Balas Banny dengan pelan.Lalu sambungan telepon pun terputus,pria tersebut mengela merasakan sesak yang mulai menghimpit dadanya.


Banny menatap tirai jendela kamar afartemennya yang tersingkap angin,lalu perlahan dia beranjak dari sopanya dan menuju tirai jendela tersebut.


Pria tampan berwajah dingin itu menatap lepas ke luar balkon kamarnya,seisi kepalanya mulai di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mendadak frustasi memikirkannya.


Gadis sebaik Mona di pilih Ayahnya untuk di jodohkan dengan dirinya bukan karena tanpa alasan.Selain mempunyai jiwa yang kompeten gadis itu pun memiliki atitude yang sangat baik,tak salah jika sang Ayah begitu bersemangat menjodohkan dirinya dengan seorang gadis yang pernah menjadi mahiswi terbaik di salah satu Universitar yang pernah di naungi oleh Ayahnya tersebut.


Yaa....Sang Ayah tahu persis gimana sosok pribadi seorang Mona.Jika ia dulu pernah berpacaran dengan perempuan bernama Kinaya antusias sang Ayah dapat ia rasakan sangat berbeda akan perbandingannya.


Sang Ayah terkesan biasa-biasa saja dalam memberikan penilaian ataupun restu terhadap perempuan cantik itu,terlebih ketika dirinya di hianati oleh perempuan cantik tersebut maka sang Ayah lah orang yang pertama yang membenci sosok perempuan tersebut.


Bagi Orang tua,mereka tahu percis mana yang terbaik untuk kehidupan seorang anaknya.

__ADS_1


Pria itu menggeleng pelan,seprtinya dia pusing akan memikirkan hal itu.


__ADS_2