
MONA masih terdiam menikmati udara yang berhembus kencang di atas atap gedung tersebut,seraya mengedarkan pandangan keseluruh sudut kota yang terhampar bagunan-bangunan kecil berada di bawah sana yang menyerupai sebuah pazel berwarna warni.
Banny menghampiri gadis itu dengan di ikuti perempuan cantik mengandeng mesra tangannya.
Tatapan perempuan itu angkuh ke arah gadis yang tengah menatapnya,seolah-olah ia ingin menunjukan bahwa dirin nya akan menjadi pemenang atas kembalinya sang pujaan hati kepelukannya.
Mona membuang wajahnya untuk tidak berlama-lama memandang ke arah mereka.
Banny berjalan mendekati mobil mewahnya tersebut,lantas si perempuan itu pun membuka pintu sisi sebelah kiri meksi sang pria si pemilik mobil tersebut tidak mempersilahkan nya.
Setelah keduanya naik, Banny terheran melihat sikap sekertarisnya itu yang masih terdiam tidak ikut masuk ke dalam mobilnya.
Lalu dengan perasaan jengkel ia pun terpaksa keluar kembali dan mendekati ke arah gadis tersebut.
" Kenapa kamu tidak masuk ?apa kamu mengikuti kelakuan perempuan konyol itu ?" Tanya Banny seraya menoleh Kinaya yang sudah duduk di dalam mobilnya yang tengah memperharikan ke arah nya.
Mona menarik napas lalu merapatkan tangannya menahan angin yang berhembus cukup kencang.
" Saya pulang sendiri saja pak,saya rasa saya ingin istirahat." Jawab Mona acuh.
Mata elang Banny membulat lalu menatapnya tajam.
" Jangan bertingkah seperti anak kecil,selepas ini kita masih ada kerjaan." Terang Banny menatap lurus gadis yang ada di hadapan nya dengan berusaha menghindari tatapan dirinya.
" Saya hanya tidak ingin menganggu bapak dengan.....??" Ucapan Mona mengantung.
" Jangan pernah berpikiran macam-macam ! saya tidak akan ngapa-ngapain dengan perempuan itu.Ayo sekarang kamu cepat naik mobil." Titah Banny dengan menatap dingin.
" Tapi pak ?" Sela Mona mencoba meminta pengertiaanya agar bosnya itu bisa melepaskan nya untuk pulang sendiri.
" Jangan membuat saya tambah emosi,cukup hari ini saya di buat stres dengan perempuan konyol itu." Banny menatap kian tajam.
Mona menghela, tetap saja ia tidak bisa menolak ke inginan bos nya itu sekalipun ia tetap bersi keras dengan pendirianya.
Banny membalikan badanya lalu berjalan menuju ke mobilnya lagi.
Mona mengikuti nya dengan langkah gontai, dengan terpaksa ia harus satu mobil dengan perempuan yang pernah melabraknya dirinya itu.
Mona berjalan menuju pintu sisi penumpang tepatnya di belakang kursi sang bos karena di kursi depan Kinaya sudah duduk manis dengan rona wajah penuh kemenangan.
Dengan setengah di banting Mona menutup pintu mobil bosnya itu dengan kasar seolah ia ingin memberi tahu secara tidak langsung akan kemarahannya.
Banny sempat memperhatikan bahasa tubuh gadis itu dari arah kaca spion nya yang sengaja oleh dia di arahkan kepada sekertarisnya itu.
Mona duduk dengan memalingkan wajahnya ke luar seolah -olah ia tidak ingin melihat ke arah mereka berdua,yang pastinya akan memancing kecemburuannya.
Perlahan Banny pun berjalan meninggalkan atap gedung tersebut.
Banny sesekali menatap wajah sekertarisnya itu melalui kaca spionya yang sedari tadi gadis itu hanya terdiam dengan wajah tidak enak di pandang.
Banny terus memperhatikan wajah gadis manis itu,dan
Tapp......
Gadis itu dengan tak sengaja mengalihkan pandanganya ke arah kaca spion dan tatapan itu pun bertemu.
Namun dengan cepat Mona kembali membuang tatapan nya dengan ekspresi dingin.
Banny tersenyum sinis ke arah ekspresi sekrtarisnya tersebut,entah kenapa ia merasa senang melihat kecemburuan yang nyaris tak di lihatkan oleh gadis itu,namun ia mampu merasakan nya.
Sementara Kinaya masih terdiam sesekali mencuri pandangan ke arah pria yang duduk di sampingnya tersebut.
Mobil sport berwarna metalic itu berhenti di lobyy afartemen dan Banny menoleh ke arah Kinaya yang masih duduk dengan santai di sampingnya.
" Aku masih ada urusan yang lain,jadi kamu turun di sini saja.Maaf aku tidak bisa antar kamu sampai ke dalam afartemen kamu." Ujar Banny menyuruh Kinaya untuk turun dari mobilnya.
" Kamu mau kemana ?" Tanya Kinaya dengan lembut.
" Kinaya.Besok acara lamaran ku dengan Mona,jadi masih banyak keperluan yang belum di urus untuk acara nya besok." Jelas Banny dengan menatap kaku.
" Jadi kamu akan tetap melaksanakan acara itu ?" Tanya Kinaya dengan wajah memelas.
" Demi papahku." Balas Banny singkat.
Mona membuang jauh pandanganya dan berpura-pura tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
" Baiklah,kali ini aku akan menahan amarahku agar tidak cemburu melihat kalian,tapi ingat Banny setelah selesai sandiwara ini,aku akan menunggu janji kamu." Jelas Kinaya menatap lembut ke arah pria dingin itu.
Banny terdiam ia tidak mengiyakan sama sekali apa yang di ucapan perempuan tersebut.
Kinaya menoleh ke arah Mona yang masih menatap nya arah keluar jendela,sepertinya ia enggan untuk sekedar menggeserkan bolan matanya tersebut ke arah Kinaya.
Kinaya masih menunggu Mona menatap dirinya,Mona dengan perasaan jengah melirik ke arah perempuan tersebut,benar saja perempuan berparas cantik namun hatinya busuk itu tersenyum sinis ke arahnya dengan perasaan merasa di atas angin.
Mona melengos dengan perasaan sebal,rasanya ia ingin melumuri wajah mulus itu dengan air cabe.
" Banny !makasih banyak ya,kamu sudah mau peduli dengan ke adanku ini." Ucap Kinaya lirih, nada suara terasa di lembut-lembutkan oleh nya.
__ADS_1
Mona melirik kan bola matanya dengan perasaan enek.
Banny hanya mengangguk ketika Kinaya mengelus lembut tangannya tersebut.
Tak lama Kinaya pun segera turun dan berjalan ke arah pintu lobby apartemen nya tersebut dan melangkah masuk.
Setelah tubuh Kinaya tertelan dengan sebuah pintu kaca, Banny pun bersiap akan menjalankan kembali kendaraanya tersebut.
Namun entah kenapa ia penasaran akan keberadaan sekertarisnya itu yang sedari tadi hanya terdiam tak berbicara.
" Mona,kamu bukan penumpang saya,jadi tolong kamu pindah ke depan!" Ujar Banny menatapnya lewat kaca spion tersebut.
Mona mengalihkan pandanganya ke arah kaca spion itu dan seprtinya kaca spion ini telah berubah pungsi menjadi alat komunikasi mereka.
" Saya di sini saja pak." Tolak Mona singkat.
" Saya bukan sopir kamu !" Sela Banny dengan nada mulai meninggi.
Mona melirikan bola matanya ke atas pertanda ia mulai jengkel dengan sikap aneh bin ajaib sang bos nya tersebut.
Dengan terpaksa ia pun kembali menuruti kemauan bosnya tersebut.
Mona duduk di kursi depan,di smping pria dingin berwajah tampan itu dengan perasaan gondok.
Untung saja pria ini berwajah tampan coba kalau tidak tampan, sudah di tinggalnya sedari tadi,pikir Mona seraya mengerucutkan bibir mungilnya itu.
Tak lama Banny perlahan menjalankan laju kendaraanya meninggalkan kawasan afartemen elite tersebut.
Selama dalam perjalanan Mona hanya terdiam tak tertarik untuk mengajak bicara sang bosnya itu,sehingga ia pun berharap bosnya yang super jutek itu tidak mengajaknya bicara.
Namun selintas dari ujung matanya ia dapat melihat samar-samar jika pria di sampingnya itu sedari tadi terus meliriknya.
Namun Mona lebih memilih mengabaikan nya dan tidak mau peduli.
" Kenapa kamu diam saja ?" Tanya Banny akhirnya memecah kesunyian.
" Tidak apa-apa ." Jawab Mona singkat.
" Apa kamu cemburu ?" Tanya Banny tiba-tiba berseloroh remeh.
Mona hanya melirik dengan ujung matanya.
Dirasanya pria yang di hadapan nya itu kelebihan minum obat sehingga ia merasa pede jika dirinya cemburu terhadapnya.
Tapi kenyataan nya sih memang seperti itu,Mona membatin jengkel.
" Lalu kenapa dari kamu hanya terdiam saja?" Tanya Banny dengan tetap fokus ke laju kendaraanya.
" Terus saya harus bernyanyi-nyanyi gitu pak?bersenandung ria tentang perasaan saya sendiri." Terang Mona dengan menatap keki ke pria yang sering membuatnya merasa hipertensi.
Banny menyeringah lalu tersenyum sinis,ia rasa sekertarisnya itu memang punya ke pandaian tertentu dalam hal menyembunyikan perasaanya,hingga pandai menyembunyikan perasaan nya.
Mona kembali menatap ke arah luar jendela mobil membiarkan bosnya mencuri pandangan ke arahnya.
Tepat jam 12 teng Mobil berwarna metalic itu memasuki area parkiran sebuah butik, lalu setelah menepikan mobilnya Banny pun segera keluar dari mobil tersebut dan yang tak lama di susul oleh sekertarisnya.
Seorang laki-laki dengan perawakan cukup sintal menyambutnya dengan riang setelah tahu pemilik suara mobil yang masuk ke area parkirannya.
" Hallo boskuh! ?" Sapa seorang pria dengan gaya tubuh melambai itu menyapanya dengan hangat.
" Hai Yon !gimana baju pesanan saya sudah selesai ?" Tanya Banny seraya menghempaskan tubuhnya ke sopa dengan tak canggung lagi.
" Sudah dong say,duduk dulu say,kalian mau di buatkan minum apa ?" Jawab pria luwes itu dengan hangat.
" Tidak usah Yon,aku kesini tak lama,cuman mau ambil pesanan saja." Terang Banny seraya mecegah Yoce untuk membuat minuman untuk dirinya beserta Mona.
" Beneran kalian tidak haus ?" Tanya Yonce dengan sikap gemulainya membagikan tatapan nya.
" Tidak,thank's Yon." Sahut lagi Banny dengan menyandar pasrah di sandaran sopa tersebut.
Sementara itu Mona hanya duduk menjauh dari bosny itu,ia memilih duduk di tepi sopa dengan pandanganya terpaut ke beberapa gaun cantik yang terpajang di patung butik itu.
" Sepertinya boskuh lagi banyak pikiran nih,kurang bergairah,apakah boskuh baik-baik saja?" Tanya Yonce seraya duduk di samping pria tersebut.
" Aku baik-baik saja,it's ok !" Balasnya singkat.
" Jadi ceritanya nih boskuh beneran mau melamar sekertaris boskuh itu ?" Tanya Yonce memastikan kembali.
Banny menoleh lalu menoleh tanpa ekspresi ke arah pria bertulang lunak tersebut.
" Lalu untuk apa aku pesan baju ini ?" Ujar Banny menatap dalam Yonce.
" Baiklah,aku berharap kalian lancar hingga hari H nya ya bebs,dan bisa memesan gaun pengantinya di akuh.Ok bebs?" Ucap Yonce melirik ke arah Mona dengan genit.
Mona hanya tersenyum kaku dengan raut wajah datar ,ada sebuah luka di balik kata pernikahan tersebut.
Semua orang perempuan pasti akan menunggu moment itu bersama seorang pria di cintainya,lalu dia ??
__ADS_1
apa kabar dengan hatinya ?
menikah hanya untuk menyenangkan hati seseorang,dan itu juga demi membalas sebuah kebaikan seseorang yang pernah ada dalam kehidupan nya,lalu ia pun harus merelakan masa depannya dengan sebuah ikatan sandiwara ini yang akan berujung dengan mengubah sttusnya menjadi seotang mantan istri pengusaha muda,
Mona tertunduk memejamkan kedua matanya dengan frutasi lalu meremas ke sepuluh jarinya dengan pasrah menahan sesak di dadanya yang kian menghimpit.
" Ok Mona,kamu cobain dulu deh bajunya,soalnya pinggang kamu kan agak lebar takutnya pas di bagian pinggul gak muat kan ga lucu nanti pas di pake bos kamu merasa tak nyaman dengan ukurannya,jadi kalau tidak cukup sore ini aku akan perbaiki.Jadi sebaiknya kamu coba dulu ya beb's." Jelas Yonce meminta Mona untuk menjajal gaun pesananya tersebut.
Mona hanya mengangguk pelan dengan raut wajah tak bergairah.
" Rena.Tolong ambil gaun pesananan nya boskuh yang sudah di siapkan di lemari samping patung itu." Seru yonce menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan gaun yang akan di kenakan Mona di acara lamaran nya besok.
Sebuah gaun berwarna silver dengan kombinasi broken white di bagian dadanya begitu terlihat sangat mewah.
Rena sang Asisten yonce itu pun segera melepas baju yang terpasang di patung tersebut lalu di bawanya ke hadapan Yonce.
" Ok sayang,kita jajal dulu yuk gaunnya." Ajak Yonce mengajak Mona utuk menjajalnya.
Dengan perasaan tak menentu Mona pun melangkah mengikuti Yonce menuju changing room yang tersedia di ruangan butik tersebut.
Banny mengusap kepalanya dengan perasan frustasi beban nya kini terasa kian berat dengan kehadiran Kinaya sang mantan dalam kehidupannya.
Sang mantan itu miminta nya ingin kembali di kehidupannya,berat memang jika dia harus berpaling dari rasa itu,meski ia mencoba untuk melepaskan bayang-bayang sosok Kinaya dari kehidupan nya namun tetap saja belum bisa sepenuhnya,hanya sepersekian persen ia masih menyimpan perasaan nya itu,karena biar mana pun tidak sosok Kinaya lah pertama kalinya yang menduduki ruang di hatinya tersebut,menghidupkan kisah cinta yang pernah terukir indah di hatinya,mungkin bisa di katakan Kinayalah cinta pertama baginya.
Namun,yang menjadi pertanyaan nya?apakah ia rela membiarkan orang yang pernah melukai hatinya,mengecewakan hatinya,dan menghancurkan persaan nya,hingga ia merasa trauma.Membiarkan masuk dengan begitu saja di kehidupan nya sekarang ?
Tentu tidak kan ?
Dirinya tak se idiot itu.
Sementara dirinya saja pernah merasa sulit untuk melepaskan bayang-bayang itu dan berusaha bangkit dari keterpurukan nya,lalu sekarang dengan tanpa sarat apa pun ia membiarkan perempuan itu kembali padanya.
Setolol itu kah perasaanya terhadap perempuan yang mencintai karena harta.
Banny menarik napas,sepertinya ia butuh berpikir ulang untuk menerima kembali hadirnya perempuan tersebut.
Karena dia yakin ia tak sebodoh itu mempertahankan perasaan yang sudah lama terluka.
Yonce mengejutkan Banny dari lamunan panjangnya dengan memboyong Mona yang sudah mengenakan sebuah gaun.
" Boskuh !" Panggilnya seraya berdiri di hadapan nya.
Banny menggerecep lalu mengusap wajahnya dengan tersentak.
" Bagai mana ?" Tanya Yonce seraya menggeser posisi tubuhnya untuk memperlihatkan Mona yang berada di belakangnya tersebut yang memakai gaun cantik.
Banny mendongkak lalu menatap lurus ke hadapan gadis itu.
Gaun yang di kenakan gadis itu memang sangat cantik dan pas di badan sekertarisnya tersebut.
Sejenak ia pun hanya menatap dengan penuh seksama, sedangkan Mona hanya berdiri menatap nya tanpa ekspresi.
" Gimana Boskuh ?,menurut kamu ini sudah pas?" Tanya Yonce seraya membenarkan rambut Mona yang terurai lalu di kesampingkan lehernya sehingga leher jenjang Mona terlihat seksi,serta kulit pundak yang sedikit telanjang itu telihat sangat mulus.
Banny menatap tak percaya ke arah gadis manis itu yang kini berubah seperti wanita cantik di hadapannya,dengan pikiran nya mulai meracau.
Dengan seperti ini saja gadis sederhana berlesung pipit itu sudah nampak cantik dan menawan apa lagi nanti ketika wajahnya di poles make up,pasti akan membuat hatinya semakin jatuh cinta,dengan polos seperti ini saja gadis yang ada di hadapan nya itu terlihat sangat menggoda pandangannya.
" Boskuh ! kok diam saja?bagai mana,cocok ?" Tanya Yonce mencolek pundak Banny yang masih melongo menatap takjub ke arah Mona,hingga tatapan nya naik turun dari ujung kaki hingga kepala.
" Nanti bebs, kamu jang di tarik-tarik gaun nya ini ya,biarkan saja terlepas." Ucap Yonce dengan terus membetulkan rambut Mona yang kembali terurai mentup pundaknya yang telanjang.
" Cantik loh kamu bebs,belum nanti kamu di tambahin make up,uuuhh mis word aja lewat dehh." Terang Yonce dengan sedikit ngebayol.
Mona hanya tersenyum tipis memperlihatkan kedua lesung pipitnya yang semakin manis.
Mona pun perlahan berbalik menghadap sebuah kaca yang terpasang lebar di dinding ruangan tersebut sehingga pantulan sang bosnya yang ada di belakang pun jelas ia lihat.
Mona dengan ragu mencoba memantaskan diri di hadapan cermin itu lalu memiringkan wajahnya untuk mencoba menyimak lebih detail penampilannya.
Tak lama ia mengangkat tinggi helaian rambutnya itu hingga kedua tangannya terangkat tinggi.
Dengan jelas Banny dapat melihat bentuk pundak Mona yang kukitnya terlihat sangat mulus dengan helaian rambut masih menghiasi di beberapa bagian.
Adengan itu membuat napasnya terecekat,entah kenapa sosok gadis sederhana itu kini lebih menggoda nya di bading dengan perempuan yang pernah menjadi sosok sempurna dalam kehidupannya.
Mona masih membetulkan rambutnya itu dan di buatnya sebuah sanggul di kepalanya,ada beberapa helayan rambut masih berantakan tergerai ke bawah menghiasi pundaknya yang telanjang.Tapi entah kenapa semakin berantakan rambutnya semakin manis terlihatnya di mata pria tersebut.
Entah terbawa perasaan,entah hanya unsur kesengajaan Mona pun tersenyum penuh arti kebanyangan nya sendiri di cermin.
Yahh baju yang ia kenakan memang terasa pas di tubuh nya itu dengan model sedikit memerlihatkan pundaknya yang sempit terlihat begitu elegan dan entah kenapa itu membuatnya merasa seksi dan percaya diri.
Seperti ada sebuah energi yang terpancar dari dalam hatinya itu,jika ia harus membandingkan dengan sosok perempuan yang ia anggap sebagai perusak hubungannya dengan sang bos,pikirnya dengan terus menatapnya sebal.Ia pun menyeringah bangga jika ia tak kalah cantik dengan perempuan yang kini sedang mengejar cinta bosnya tersebut.
Dia juga bisa cantik kok,dan tampil lebih menawan dari perempuan itu,pikir nya dengan masih mengulas senyuman manisnya.
Hingga tak menyadari pria yang ada di belakangnya itu perlahan menggerakan bibirnya dan membentuk sebuah lengkungan manis yang membuat hati Mona berdebar,betapa tidak pria dingin berwajah tampan itu tersenyum penuh arti ke arah dirinya saat ia sedang asyik mematuti penampilannya di cermin.
__ADS_1
Mona mengulum senyumannya lalu raut wajahnya berubah datar saat pria yang menjadi bosnya itu masih tersenyum lembut ke arahnya.