CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode156


__ADS_3

BANNY melangkah bejalan menuju lobby perkantorannya dengan perasaan yang menggebu-gebu ingin segera bertemu dengan Mona,entah kenapa perasaanya begitu bersemangat ketika tahu Mona berada di kantornya.Dan selama di perjalan tadi pun pikiran pria itu gelisah tak karuan,ada perasaan bimbang menyelimuti perasaanya setelah Mona mengetahui dirinya makan siang bersama sekertaris barunya tersebut.Ia was-was jika Mona berpikiran buruk akan hal itu dan ke inginannya untuk menggugat dirinya cerainya semakin kuat.


Banny menepis perasaanya dengan berusaha membenarkan penampilannya untuk mengusir rasa gugupnya tersebut,entahlah rasanya ia seperti akan bertemu seseorang yang begitu sangat spesial dalan hidupnya.


Pria tampan dengan stelan jas navi dengan gaya rambut klimis bergaya slicked back undercat,sangat cocok di wajah ovalnya dengan rahang berjambang tipis terlihat begitu tegas,di tambah alis yang tebal semakin menegaskan jika pria tampan itu memiliki garis wajah yang sangat tegas dan terkesan berwibawa,mahal akan sebuah senyuman,sorot matanya yang tajam jika sedang membidik lawan bicaranya hingga tertuju pas di sasaran yang di lihatnya.Visual pria itu nyaris mendekati kata sempurna,meski terkesan dingin namun pesonanya tak akan pudar begitu saja.


Sekalinya pria dingin itu tersenyum manis maka senyuman nya itu akan terasa terpatri bagi mereka yang melihatnya.


Tak heran ketampananya itu selalu menghiponis banyak pasangan mata,terutama para staff wanita selalu berdecap kagum jika berpapasan atau bertemu dengan pimpinan Direktur perusahaanya tersebut,mereka selalu menatap dengan penuh damba,dari para tatapannya dapat tersirat penuh mendambakan akan sosoknya tersebut.


Tak ada yang bisa mengelak akan ketampanannya yang begitu sangat ketara jelas.Jika pria tampan itu tersenyum manis,maka senyumannya akan terpatri di hati orang yang melihatnya dan es batu saja bisa meleleh jika melihat senyumannya itu.


Banny menoleh sesaat ke arah suara berat yang memanggil dirinya,kakinya yang hendak melangkah memasuki lift tertahan.


" Pak Banny !" Panggil pria bertubuh tegap itu menghampirinya.


" iya pak Hendra, Ada apa ?" Tanya Banny menahan pintu lift tersebut dengan tangannya lalu ia pun melangkah memasuki kapsul lift tersebut.


" Papahnya anda sudah menunggu di ruangan kantor beserta istri bapak." Ungkap pak Hendra ikut memasuki kapsul lift dan berdiri di samping pimpinan perusahaanya tersebut.


" Iya pak,tadi saya sudah di hubugi langsung oleh istri saya,terimakasih atas infomasinya." Balas Banny dengan tersenyum tipis.


" Oya pak,jam tiga sore nanti akan ada pertemuan dengan pak Angkasa,ada hal yang ingin di sampaikan oleh pak Angkasa." Ucap pak Hendra dengan penuh hormat.


" Mengenai apa ya pak ?" Tanya Banny dengan mata menyipit.


" Mengenai investasi untuk cabang perusahannya bapak,nanti bapak bisa di tanyakan lansung kepada sekertaris bapak perihal ini. " Ungkap pak Hendra menekan tombol lift di angka tiga.


" Apakah pihak pak Angkasa sudah konfimasi sebelumnya terhadap sekertaris saya ?" Tanya Banny dengan nada heran.


" Saya kurang tahu pak,namun tadi pak Angkasa sempat menghubugi saya untuk menyampaikan hal ini." Terang pak Hendra sedikit ragu.


Sejenak Banny terdiam,mencoba mengingat kembali gadis cantik itu terakhir memberi laporan catatan kecil tentang info perusahaannya,dan spertinya Arnetta memang sangat berbeda dengan Mona yang begitu cepat dalam menginformasi kan segala bentuk laporan apa pun itu tentang seputar pekerjaanya.


Apa mungkin Arnetta belum paham akan pekerjaan-nya sebagai seorang sekertaris ??


dan apakah karena dia masih baru ?


Tapi memang perbedaan itu sangat menojol kontras antara dirinya dengan sosok Mona,dari awal Mona memang sangat kompeten serta totalitas.


Akh sudahlah rasanya ia tak ingin mempersoalkan hal itu,yang jelas ia ingin segera menemui gadis itu yang kini gambaran wajahnya terus menari-nari di pelupuk matanya.


Ting.....


Pintu lift terbuka dan menampilkan seorang gadis tengah berdiri di samping seorang pria yang usianya tak lagi muda.


Banny mengenali akan sosok itu,dengan cepat ia keluar dari kapsul lift tersebut dan menyambut pria yang berdiri di samping gadis itu dengan hangat.


" Loh kok papah disini ?Papah mau kemana ?" Tanya Banny dengan cemas.


" Papah pikir kamu kembalinya lama,maka papah sama Mona memutuskan untuk pulang saja.


" Banny sudah meminta Mona untuk menunggunya pah." Ucap Banny seraya melirik Mona yang tak jauh berdiri di samping papahnya tersebut.


Jantungnya berdebar hebat ketika melihat penampilan gadis itu yang semakin menarik di matanya.Dengan mengenakan atasan kemeja berwarna pich yang di padukan dengan rok prisket di bawah lutut menampilkan gadis itu terlihat lebih imut,Banny melihatnya seprti anak remaja yang baru beranjak dewasa,polesan make up yang ringan membuat gadis itu terkesan lebih natural.


Pandangan pria itu nyaris tak bisa untuk menolaknya.


Entahlah Mona kali ini mampu membuat jantungnya berdebar dua kali lipat lebih cepat.


" Siang pak Wiguna !" Sapa pak Hendra membungkukan badannya dengan penuh hormat.


" Siang pak Hendra !" Balas pria stelan jas hitam itu membalas dengan penuh wibawa.

__ADS_1


" Sebaiknya kita kembali ke ruangan ku lagi pah !" Ajak Banny merangkul tangan sang Ayahnya.


" Baiklah,kalau begitu saya permisi dulu pak Banny,ada hal yang harus saya kerjakan." Pamit pak Hendra menatap penuh rasa hormat kepada Banny.


" Baik pak Hendra,nanti hubungi saya jika ada informasi dari pak Angkasa mengenai pertuan nanti.


" Baik pak." Balas pak Hendra singkat.


" Permisi pak Wiguna,saya kembali ke ruangan saya.


" Silahkan !" Ucap pak Wiguna membalasnya dengan tersenyum hangat.


*******


Banny dan sang Ayah beserta Mona kini sudah berada di ruangan kantor,mereka terlihat sudah duduk di atas sofa,sebelum membicarakan sesuatu Banny menekan tombol merah di bawah meja kecil di sampingnya,hingga tak lama kemudian seorang gadis dengan perawakan tinggi kurus dengan mengenakan seragam biru muda terlihat masuk ke ruanganya tersebut dengan penuh rasa hormat.


Mona tersenyum ke arah gadis itu yang tak lain lisa sang Ob yang lumayan akrab dengan dirinya.


Lisa mengangguk saat pandangannya tertuju ke arah sang pemilik perusahaan beserta menantunya.


" Bu Mona !" panggil Ob itu dengan penuh hormat.


" Hai Lisa,apa kabar ?" Tanyanya dengan tersenyum manis.


" Saya baik-baik saja." Balas gadis itu dengan ramah.


" Buatkan teh panas dengan gula sedikit untuk papah saya Lisa." Perintah Banny menatap dingin gadis ob tersebut.


" Baik pak." Balas gadis ob itu mengangguk pelan.


" Dan kamu Mona ??" Tanya Banny menoleh ke arah Mona.


" Aku teh manis biasa saja." Sela Mona sebelum ia di pesankan minuman oleh mantan bosnya tersebut.


" Baik !" Balas Lisa dengan membungkuk penuh hormat.Gadis itu pun segera keluar dari ruangan Direktur utama tersebut dengan terpogoh-pogoh.


" Mana sekertaris kamu,kenapa Ob yang membuatkan minuman buat papah ?" Tanya pak Wiguna menoleh ke arah pintu ruangan tersebut.


" Arnetta masih makan siang,karena ini masih jam istirahat pah." Ucap Banny menjelaskan.


" Jadi Arnetta yang menjadi sekertaris kamu sekarang ?" Tanya pak Wiguna menatap lurus wajah anak lelakinya tersebut.


" Ya pah." Ucap Banny sedikit meragu,ia pun tak lupa melirik ke arah gadis yang duduk di samping Ayahnya tersebut dengan ekspresi yang tak biasa.


" Kamu sudah mempercayakannya, jika Arnetta mampu menjadi sekertaris kamu?kenapa kamu tidak menyuruh ke pihak HRD untuk mencari sekertaris baru yang lebih berpengalaman di bidangnya, sehingga sedikitnya tidak membebankan pekerjaan kamu,dan mengerti akan pekerjaan kamu itu!" Usul pria tua itu dengan tersenyum bijak.


" Banny berharap Arnetta bisa melakukannya,memberi kesempatan dia untuk memiliki pekerjaan yang cukup besar akan tanggung jawabnya." Balas Banny memberi penilaian atas usul Ayahnya tersebut.


" Tapi bagi Arnetta tidak terlalu cepat jika ia harus di angkat menjadi seorang sekertaris yang belum berpengalaman akan hal itu." Pak Wiguna terlihat keberatan atas keputusan putranya yang memperkejakan putri dari sahabatnya itu menjadi sekertaris di perusahaanya tersebut.


Selain itu juga pak Wiguna sangat menjaga perasaan menantunya tersebut,ia merasa tidak ingin sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi antara gadis itu dengan putra kesayanganya.


" Bukannya papah tidak mempercayai akan kemampuannya,tapi untuk pengalaman di bidang pekerjaan ini sepertinya ia belum bisa di andalkan, tidak seperti Mona,meski dia baru menjadi sekertaris tapi papah memiliki feel yang kuat akan kinerjanya." Ungkap pak wiguna menatap Mona dengan penuh bangga.


Mona tertunduk,meraskan pipinya memerah saat mertuanya itu begitu sangat mengelu-eluka dirinya.Banny mengalihkan pandangannya ke arah wajah gadis itu yang terlihat tersipu malu.


" Banny hanya memberi kesempatan saja pah,seandainya pun dia tak mampu Banny bisa menggeser kembali posisinya tersebut." Jelas Banny seraya tak lepas menatap ke arah Mona yang sedari tadi tidak ikut bicara hanya menyimak saja dengan seksama.


" Oya Ban,papah kesini ingin membicarakan masalah pekerjaan untuk Mona.anak cabang perusahaan kita sebentar lagi akan di resmikan dan itu artinya papah ingin Mona langsung ikut serta dalam pengelolaan anak cabang perusahaan tersebut." Ujar pak Wiguna menatap dalam putranya.


Mona menghela napas merasakan beban itu terasa kian berat untuk dirinya.


Banny yang masih menatap ke arah wajah gadis itu dengan seksama.

__ADS_1


Mona membalas tatapan pria itu lalu kemudian ia mengalihkan kembali tatapannya,ia tetap menjaga pandangannya terhadap pria tampan itu yang sedaru tadi memandangnya dengan tatapan berbeda.Tepat saat pria tampan itu ingin menanyakan sesuatu kepada Ayahnya,gadis Ob tadi mengetuk pintu lalu berjalan masuk dengan membawa nampan berisikan dua cangkir teh panas di atasnya.


Gadis itu pun menaruh cangkir-cangkir itu di atas meja,lalu membungkuk untuk berpamitan.


Setah pintu itu benar-benar tertutup dengan sempurna,Banny menghela napasnya perlahan-lahan,dan memberanikan diri untuk bertanya kembali kepada Ayahnya.


" Pah,jadi anak cabang perusahaan itu Mona yang akan mengelolanya ?" Tanyanya menatap serius.


" Yaa,tentunya ada campur tangan kamu juga,jadi papah percayakan sepenuhnya seluruh perusahan ini termasuk anak cabang perusahaan ini,untuk kalian kelola." Jawab pria bijaksana itu tersenyum dengan tulus di raut wajah tuanya.


Mona mengalihkan tatapanya tepat di wajah pria tampan itu yang secara bersamaan sedang menatap dirinya.


Dua tatapan itu saling bertemu,namun kali ini sorot mata gadis itu terasa dingin di netranya sang pria tampan itu.


Mona segera menarik arah tatapannya dan mengalihkannya ke sisi lain dengan ekspresi membeku.


Banny terdiam melihat perubahan sikap gadis itu yang sedikit mengganggu perasaanya.


" Jadi Banny akan bekerja sama dengan Mona ? " Tanya lagi Banny menegaskan.


Sang Ayah yang sedang menyesap teh panasnya segera menaruh kembali cangkir tersebut di atas meja,lalu posisi duduknya di ubah sehingga menatap lurus putra kesayangannya itu.


" Ya Banny,hanya kamu dan Mona yang bisa meneruskan perusahaan papah ini,papah sudah tidak mungkin ikut terlibat lagi dalam pengembangan perusahaan ini,jadi papah percayakan sepenuhnya perusahan ini kepada kalian." Sahut pak Wiguna dengan menatap pasti.


Lagi-lagi Mona beserta Banny saling bertatapan dengan perasaan yang sulit mereka artikan.


" Kalian kan suami istri jadi sepatutnya kalian mempergunakan kesempatan kalian ini untuk mengelola perusahaan kita sebaik mungkin,hingga perusaah ini semakin meraih kesuksesan yang gemilang." Tutur pria bijak itu dengan membagikan pandangannya ke arah putra serta menantunya tersebut.


" Kalian berdua adalah pasangan yang serasi memiliki kinerja yang penuh tanggung jawab serta multitalenta." Imbuh pak Wiguna dengan menatap penuh bangga.


" Kenapa papah percayakan itu semua terhadap kita ? " Tanya lagi Banny dengan bingung.


" Kalian masih muda,dan papah tak cukup umur untuk mengelola kembali perusahaan ini,andai waktu papah tak lagi banyak yang tersisa maka papah ingin kalian tetap memperjuangkan perusahaan ini hingga untuk ke turunan kalian nanti." Imbuh pria tua itu dengan begitu besar menaruh harapan itu di keduanya.


Dekkk....


Hati pria tampan itu terenyuh ketika pria yang di panggilnya papah itu berharap besar akan ke utuhan pernikahannya dengan gadis pilihan Ayahnya tersebut,dan begitu besar pula harapan yang di sematkan sang Ayah dalam pernikahan dirinya bersama Mona untuk mendapatkan keturunan dari hasil pernikahann mereka.


Rasanya ia tak sabar ingin mengutarakan hal itu kepada Mona,jika dirinya tidak ingin bercerai dengan nya.


Hal yang sama di rasakan Mona,ia menatap dari ujung sudut matanya ke arah pria tampan itu,yang di rasanya sedang memperhatikan dirinya,namun sepertinya ia sudah tidak tertarik untuk menanggapi semua perasaan dirinya tatkala pernyataan mertuanya itu terasa mengiming-imingi dirinya.


Itu adalah harapan besar seorang Wiguna untuk putranya,tapi tidak dengan harapan putranya yang tentunya tak akan lama lagi akan menggugat cerai dirinya,waktu sandiwara ini tak lama lagi.Dan hal yang sedang ia pikirkan bagaimana caranya dia masih bisa bertahan bisa bekerja di perusahaan seorang Wiguna meski ia tak lagi menyandang istri dari seorang Banny pratama wiguna.


" Bagaiamana Mona,kamu bersedia atas tawaran papah ini ?" Suara berat pak Wiguna berhasil membuatnya tersentak dari lamunannya.


Dengan sikap kagetnya Mona hanya bisa tersenyum tipis dengan menganggukan kepalanya.


Banny yang sempat melihat reaksi gadis itu berhasil membuatnya bertanya-tanya apa yang ada dalam benak gadis itu yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


" Terimakasih banyak papah mau mepercayakan Mona untuk ikut andil dalam perusahaan ini.


" Karena papah bangga bisa melibatkan kamu dalam perusahaan ini,karena papah tahu pontensi yang di miliki kamu cukup bagus." Ujar pria bijaksana itu menatap dengan penuh seksama.


Diam-diam pria tampan itu mendukung penuh apa yang menjadi pertanyaan sang Ayahnya tersebut.Dan entah kenapa rasa itu kian bertambah besar terhadap gadis itu.


" Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan,jika itu hasilnya memuaskan maka itu ada campur tangan TUHAN yang selalu menyetertai segala bentuk perbuatan saya." Ujar Mona dengan tersenyum.


Pak Wiguna hanya mengangguk-anggukan kepalanya memahami apa yang di sampaikan gadis itu,bukti nyata jika sosok gadis ini memang memiliki pribadi yang bersahaja,rendah hati dan humble.


" Pokonya papah percayakan semua ini kepada kalian." Tegas pria tua itu dengan membagikan tatapannya ke arah putranya beserta menantunya tersebut.Banny terdiam mendengarkan perkataan ayahnya.


Sepertinya hal ini tidak perlu mejadi pertimbangan baginya,bisa bekerja sama dengan gadis ini merupakan kesempatan bagi dirinya untuk menyatakan ke inginannya atas perasaanya tersebut.Banny menghela napas lalu menatap dalam wajah Ayahnya.

__ADS_1


" Baiklah,Banny bersedia pah." Ujar Banny dengan yakin.


Lalu Banny melirik gadis itu,dan yang dilirikpun hanya tersenyum datar,menampilkan ekspresi yang sulit di artikan oleh pria tampan itu.


__ADS_2