
MONA perlahan membuka kedua matanya lalu di lihatnya wajah tampan itu masih terlelap dalam tidurnya.
Sejenak Mona memandangi wajah pria tersebut,wajah yang pernah membuatnya menangis,wajah yang pernah membuatnya patah hati,wajah yang selalu ada di relung hatinya.
Mona tidak memungkirinya jika sosok pria ini lah yang sanggup membuatnya kembali menaruh kepercayaan atas perasaanya terhadap seorang lelaki,menghapus semua statmen buruk tentang seorang lelaki,tidak semua laki-laki itu buruk seperti apa yang di lakukan oleh ayahnya sendiri.
Mona tersenyum lalu menelusupkan kepalanya tepat di dada pria tersebut dan membenamkan wajahnya di antara selimut yang membalut tubuhnya,hal yang tak pernah ia rasakan,begitu besar rasa cinta itu hingga kini ia tak ingin kehilangan sosoknya.
Tangan pria itu menggapainya lalu memeluk tubuh mungilnya dengan begitu hangat dan rasanya tak ingin momen ini segera berakhir.
Bingkai raut wajah gadis itu terlihat begitu bahagia menikmati setiap inci belayan tangan pria tersebut.
Mona terlihat sibuk menata piring di atas meja,ia menyiapkan sarapan untuk Banny dengan perasaan yang begitu riang.
" Pagi sayang !" Banny menyapanya dengan tersenyum lembut,lalu ia segera mengambil duduk di tempat yang sudah di siapkan oleh Mona.
" Pagi Mas," Mona membalasnya dengan semeringah.
" Kamu buatkan aku nasi goreng ?" tanya Banny seraya mengamati makanan yang terhidang.
Mona mengangguk tersenyum.
" Oya mas,aku izin ya hari ini aku pulang terlambat,soalnya ada acara di kantorku mas." ujar Mona seraya menyodorkan segelas air putih kehadapan Banny.
" Acara apa ? " tanya Banny seraya menyuapkan nasi goreng kemulutnya.
" Anak buahku ulang tahun,jadi dia sedikit mengadakan acara." balas Mona seraya ikut menyantap nasi goreng tersebut.
" Kamu ikut serta ?" tanya Banny menatap.
" Kenapa tidak ?sebagai atasan yang baik tidak ada salahnya jika aku ikut serta dalam perayaanya." jawab Mona kembali.
" Jam berapa kamu pulang ? "
" Hmmm belum tau," balas Mona tak bisa menentukan.
" Jangan terlalu lama." sergah Banny cepat.
Mona mengernyit lalu menatap seksama ke arah Banny.
" Kenapa ?? " tanya heran.
" Aku tak mau sendiri di rumah." jawabnya begitu asal.
Mona tersenyum aneh mendengar ucapan suaminya tersenyum
" Heu biasanya kamu paling seneng sendirian di rumah." balas Mona dengan tersenyum menyeringai.
" Jika tak ada seseorang yang menemaniku,kurasa itu buatku terasa tak nyaman,kesendirian bukan pilihan yang menyenangkan." ujar Banny menatap bucin ke arah Mona.
Mona tersenyum lembut,kali ini sosok pria ini begitu terlihat seperti seorang budak cinta.
" Iya,iya nanti aku kabarin jika aku pulang ya." ujar Mona singkat.
" Aku jemput ya !" ucap Banny seraya menyuapkan suapan terakhir nasi goreng kemulutnya.
Mona menjeda kegiayatan makananya lalu menatap pria itu dengan seksama,dan memainkan kedua alisnya naik turun.
" Kenapa ??,kamu keberatan jika aku menjemputmu " tanya Banny heran setelah melihat reaksi lain dari raut wajahnya Mona.
" Kurasa tidak !!nanti aku kabarin jika sudah selesai acaranya !" balas Mona tersenyum penuh rasa yang tak biasa di dadanya.
" Mas,gimana nasi gorengnya ?" tanya Mona menatap cemerlang.
" Enak !!,seperti yang biasa kamu buat,tidak ada rasa yang berubah." ujar Banny menatapnya penuh cinta.
" Beneran tidak ada yang berubah?" tanya Mona memastikan dengan nada penuh candaan.
" Tidak ada,rasa itu tidak akan pernah berubah,justru rasanya kian semakin luar biasa." ucap Banny tersenyum penuh sanjungan,hingga berhasil membuat Mona memerah kedua pipinya.
" Mas membuat merah pipiku." ucap Mona tersipu malu,rasanya ia kesulitan untuk menelan semua makanannya.
" Aku membuat merah pipimu bukan karena tanganku,melainkan dengan perasaan sayangku." ujar Banny kembali semakin di perbudak cinta.
Hati Mona semakin meleleh merasakan hatinya kian bergelombang bak ombak di lautan.
Mona tersenyum tak karuan ia merasakan semakin salah tingkah di buatnya,Banny kini menjelma bak pangeran berkuda yang menyanjungnya dengan penuh cinta hingga ia merasakan hatinya berbunga-bunga.
Pagi yang begitu berkesan di dalam hidupnya,ia tak ingin lagi membahas masalah apapun yang bisa merubah suasana keharmonisanya,ia tak ingin melewatkan momen ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang mampu mengusik keharmonisann ini,ia percayakan sepenuhnya jika Banny tidak akan kembali membuatnya kecewa.
Sederhana itu bahagia,saling mengerti dan saling menahan ego masing-masing,tak akan terlihat hebat meski menang dalam perdebatan, justru egolah yang akan merubah suasana keharmonisan ini.
Nada dering ponsel Mona berdering keras hingga mengalihkan pusat perhatian keduanya,Mona menoleh ke arah ponselnya yang tersimpan di atas' meja,begitupun Banny ia ikut menoleh ke arah yang 'sama.
" Siapa yang menelpon kamu sepagi ini ?" tanya Banny seraya meraih segelas air putih lalu meminumnya.
__ADS_1
" Entahlah !!" balas Mona seraya beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan untuk mengambil ponsel tersebut.
Di lihatnya di layar notifikasi ponselnya salah satu sahabatnya Amel memanggil.
Mona memicingkan matanya tanda heran.
" Hallo Mel !!" sapa Mona setelah menerima panggilannya tersebut.
" Ada apa ??" tanya Mona sedikit penasaran.
Tak biasanya sahabatnya itu menelponya sepagi itu.
" Mon,kita berangkat bareng ya,ada hal yang mau gue omongin !" ujar Amel terdengan begitu penting dari sebrang telpon.
" Ada apa ?? " dahi gadis cantik itu terlihat berkerut.
" Nanti saja,kita bareng ya berangkat ke kantornya," ujar amel.
" Tapi...." Mona menggantung.
" Gak usah ada tapi tapi an deh.. Ini info penting Mon." sergah Amel dengan cepat.
Mona menoleh ke arah Banny yang diam-diam tengah memperhatikannya.
" Baiklah !!" jawabnya pelan.
Tak lama sambungan telpon pun berakhir,Mona menarik napas panjang.
" Ada apa ? " tanya Banny penasaran.
" Amel memintaku untuk berangkat ke kantor bersama." ujar Mona kembali ke meja makannya.
" Untuk apa ? " tanya Banny kian penasaran.
" Ada hal yang ingin dia bicarakan ? " jawab Mona santai.
" Mengenai apa ? " tanya lagi Banny rasa ingin tahunya besar.
" Aku tidak begitu tahu mas." balas Mona terlihat merapihkan piring bekas dia makan.
Banny terlihat berpikir mencoba menerka-nerka.
" Mas,aku berangkat bersama Amel ya," pinta Mona seraya merapihkan handbagnya.
" Memangnya tidak bisa di bicarakan di jam istirahat." usul Banny terlihat keberatan.
Ekspresi wajah pria itu terlihat berbeda nampaknya Banny merasa keberatan untuk mengizinkan Mona berangkat bersama sahabatnya tersebut.
Gimana mas ?" tanya Mona menanti jawaban dari Banny.
" Ok !" jawab Banny singkat,ia tersenyum datar.
" Thank's mas,baiklah aku berangkat duluan ya mas." pamit Mona seraya menyambar tasnya.
Banny hanya tersenyum terpaksa ketika melihat Mona melenggang meninggalkannya.
Amel terlihat fokus ke arah laju kendaraanya,di sampingnya Mona duduk dengan tak begitu tenang,menunggu sahabatnya tersebut bercerita.
" Tumben lo jemput gue sepagi ini!" ucap Mona menatap datar arah jalanan.
Amel masih terdiam dengan terus fokus ke arah kemudinya.
Mona merasa aneh melihat kedua sahabatnya yang tetap membisu dengan raut wajah mencurigakan.
" Sebenarnya ada apa sih ?" tanya Mona menoleh kembali Amel,lagi-lagi Amel hanya tersenyum kaku.
" Elo ada apa sih Mel ?" tanya Mona kembali tak sabar.
Mona menoleh ke arah Tamara yang duduk tepat di belakang sang kemudi.
Amel terlihat masih ragu untuk mengatakan sesuatu hal yang di anggapnya berat.
Tamara yang duduk di belakang keduanya tak banyak bicara,namun raut wajahnya terlihat begitu tak bersemangat.
" Kalian ada apasih kok pada diam-diaman begini ??kalian berdua berselisih ?" tanya Mona menoleh ke arah Tamara yang sedari tadi memilih diam.
" Tam,lo baik-baik aja ?" tanya Mona kian cemas.
Tamara menggeleng dengan perasaan berat.
" Mon,sorry gue harus balik kampung!" akhirnya Amel berbicara dengan nada terdengar resah.
Sorot mata Mona meredup lalu menatap penuh keterkejutan ke arah Amel.
" Maksud lo ? " Tanyanya menggantung.
__ADS_1
" Amel di suruh kembali ke Medan ama orang tuanya,dia akan di jodohkan di Medan sana Mon." sela Tamara akhirnya ikut menyela dengan nada tak kalah sedih.
Mona terkejut menatap tak percaya,secepat ini kah sahabatanya itu akan meninggalkan dirinya.
" Tapi,tapi elo balik lagi ke sini kan ?? " tanya Mona berharap ada jawaban yang membuatnya lega.
Amel menggeleng,perlahan dia menepikan mobilnya di area sebuah parkiran tepi jalan.
Mona menatap dengan cemas,jujur saja kabar ini mengubah mood nya di pagi hari.
" Mendadak seperti ini ? " tanyanya dengan nada sedih.
" Sorry Mon,gue tidak bisa menolak ke inginan opung gue,dan gue gak bisa menolak perjodohan ini." ujar Amel menoleh kedua sahabatnya dengan perasaan berat.
Tamara terlebih dahulu sudah mengisak menahan perasaanya yang campur aduk,tentu saja ini akan menjadi hal terberat bagi persahabatan mereka yang begitu solid.
" Elo serius mau ninggalin gua ??,lalu gue ?" tanya Mona kian menatap sedih.
Amel melipat bibirnya dengan ekspresi menahan kesedihan.
" Gue tidak bisa menolak apa yang menjadi keinginan orang tua gue dan opung gue Mon,gue sadar gue tidak bisa berharap dengan usia gue yang semakin jauh ini,sedangkan jauh di luaran sana,seusiaan gue udah memiliki pasangan plus anak,sedangkan gue ???"
" Tapi elo gak sendiri !" sela Tamara dengan terisak.
" Sampai kapan ?
" Kita pasti akan di beri jodoh,hanya saja kita terlambat." kembali Tamara menyela dengan polos.
" Jodoh gak ada yang tau !" sela Mona mencoba menghibur perasaan sahabatnya tersebut.
" Makanya gue menerima perjodohan ini,jodoh gak ada yang tau kan Mon." balas Amel tersenyum hampa.
Tamara menyeka air matanya,bukan hal yang mudah ia harus kehilangan sahabatnya yang begitu care kepadanya meski sikap mereka selalu bertolak belakang namun mereka tetap kompak.
Mona menoleh ke arah Tamara yang semakin kian acap menyeka air matanya.
" Gue minta maaf,jika keputusan gue ini membuat kalian sedih.
" Gak cuman sedih Mel,tapi kami mewekk,hiksss." lirih Tamara dengen terisak-isak.
Mona manih tertegun harus apa yang di lakukannya untuk menahan hati Amel agar tetap bersamanya,tapi ia sadar jika Amel berhak untuk menentukan kehidupannya.
" Gue tidak bisa berbuat banyak untuk menahan lo pergi,gue tau elo berhak untuk bahagia atas kehidupan lo." ujar Mona dengan perasaan dalam.
Tamara tak bisa lagi menahan isakannya,sejadi-jadi ia menangis dengan berderai air matanya.
Amel tersenyum getir melihat kenyataan yang membuatnya semakin berat meninggalkan kedua sahabatnya.
" Mon elo gak bisakah mencegah Amel pergi ??" ucap Tamara di tengah isakannya.
" Tam,jika gue melarang Amel pergi,itu artinya gue menghalangi kebahagian dia,gue yakin kita pasti bisa kumpul lagi,meksi dengan suasana berbeda." ujar Mona tersenyum bijak.
Tamara menggeleng dengan menahan tangisannya.
" Ada pertemuan pasti ada perpisahan Tam." ujar Amel tersenyum getir.
" Tapi gue rasa Momennya gak pas,lo pergi di saat gue jomlo,lalu tar siapa yang akan nemenin gue makan siang,ngantar gue pulang,nemening gue shoping,nyalon,kuliner...." raung Tamara kian menjadi.
Amel menggeleng dengan perasaan lucu melihat sikap sahabatnya itu yang memiliki sikap completed.
" Gue ini sebenernya sahahat lo apa pembokat lo,bisa sempurna itu nemenin hari-hari lo." ejek Amel tertawa.
Tamara semakin keras suara tangisannya,jujur saja ini adalah pertanyaan yang membuatnya semakin kehilangan.
" Elo bisa kontek gue." Mona menyela.
" Elo mana bisa,laki lo super ribett." ujar Tamara yang masih terisak bak anak kecil yang kehilangan mainannya.
" Udah deh Tam,elo gak usah kaya anak bocah,ini bukan perpisahan selamanya,gua akan luangkan waktu buat nemuin kalian.Jadi kalian bisa atur waktu bila kangen gue." ujar Amel tersenyum riang.Ia tak ingin melihat kedua sahabatnya larut dalam kesedihannya.
" Gua harap gue gak kangen elo !" ujar Tamara dengan merengut.
" Loh kenapa ???" tanya Amel heran.
" Menahan rindu tuh sakit." ujar Tamara dengan eksprsi engga banget.
" Alahh ,lebayy loh,sempat-sempatnya lo kaya anak alay. So bucin." ujar Amel seraya mentoyorkan pundaknya Tamara.
Tamara mendilak dengan keki seraya menyeka air matanya.
" Gue pasti akan merindukan momen ini Mel." ujar Mona dengan mata berkaca-kaca.
" Dimana gue melihat kegilaan lo berdua." ucap kembali Mona dengan tersenyum getir.
Tamara kian terisak melihat sikap Mona yang mulai merasa akan kehilangan sahabatanya tersebut.
__ADS_1
Betapa tidak,sosok Amel di mata kedua sahabatnya begitu istimewa,sikapnya yang dewasa dan begitu humble membuat dirinya di jadikan sandaran oleh kedua sahabatnya tersebut,terkadang sikap Arogannya sering membuat mereka khawatir namun dengan sikapnya yang seperti itu justru mereka merasa terlindungi.