CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 176


__ADS_3

BANNY memandangi tubuh Mona yang masih terdiam tak bergeming membelakangi tanpa ingin menatapnya.Banny menatap setiap inci garis pundak mungilnya yang terlihat begitu sangat ringkih.


" Ku harap kamu tidak pergi untuk meniggalkanku Mona !!" Ucap pria tampan itu terdengar begitu berat di setiap penekanan kalimatnya.


Mona masih berdiam diri dengan perasaan yang kian tertekan.


Banny menatap lekat punggung gadis itu yang sedari tadi tetap membelakangi dan mengabaikan dirinya.


Mona masih menahan keinginannya untuk pergi, bersuaha menelan air liurnya dengan sekuat tenaga.Ingin rasanya ia berlari dan memeluk erat tubuh pria tampan itu namun......


Entahlah, kenapa menjadi ini akan perasaannya terhadap pria itu,seperti mati rasa atas segala sikap yang telah di lakukan pria tampan itu terhadap dirinya.


Yaa.....


Dia yang telah membuat mati rasa ini.


Perlahan Mona membalikan badanya lalu menghadap dan menatap lepas pria itu.Ada sorot mata yang tak biasa ia dapati dari pancaran mata pria tampan itu.


Yaa...


dia dapat merasakan hal itu,kesunggugan yang tak pernah ia temui sebelumnya kini terasa begitu nyata.


namun......


Tiba-tiba merasa sesak di dada dan berujung pada mata yang berkaca-kaca.Mona menepis dan berusaha menyingkirkan perasaanya yang begitu dalam terhadap pria itu,namun kini ia tidak ingin terikat kembali dengan perasaan yang membelegu ruang hatinya.


Dia merindukan kata-kata ajaib itu dan faktanya Banny adalah sosok laki-laki yang begitu dalam tersimpan cintanya di hati.Ada rasa penyesalan yang dalam jika mengingat hal itu.Tapi semua ini sudah terlambat.


yaa terlambat !!


satu kata itu adalah satu kata yang paling mewakili perasaan Mona saat ini.Pria tampan itu menatapnya dengan sebuah tuntutan,tak lama pria itu pun mulai berjalan ke arahnya dengan tatapan yang penuh makna.


Dulu pria itu pernah menjadi pusat dunianya,tapi sekarang,hanya sekedar menatapnya saja,rasanya Mona sudah tidak punya tenanga.Remuk segala perasaan ini.


Berhenti berharap dan berhenti mencintai mungkin saat ini dia berada di fase seperti itu.


" Ter terlambat mas !" Ucapnya lirih.


Sontak Banny menghentikan langkahnya lalu menatap nanar gadis itu.


Apa ??


Apa artinya semua ini ??


Terlambat apa ???


Benarkah dirinya sudah terlambat.Batin pria itu berusaha paham akan semua ini.


" Apa maksud kamu? "


Banny menatap kosong gadis itu.Sebelum Banny sempat mendekatinya Mona terlebih dahulu membalikan badannya lagi lalu berniat ingin segera melangkah tanpa harus menjelaskan apapun tentang perasaanya tersebut.Sekalipun Banny mengejar langkahnya.


Tak kuasa rasanya Mona harus merasakan sepahit ini akan perasaanya terhadap pria itu.Mona menyeka air matanya seraya melanjutkan langkahnya seolah tidak ada yang mengajaknya bicara,mengabaikan pangilan Banny yang menahannya pergi.


Tak ingin terlambat Banny buru-buru mengejar Mona,saat gadis itu hampir membuka pintu apartemennya,Banny segera mencekal tangan Mona lalu membalik tubuh Mona hingga tak sabar Banny ingin menatap wajah istri sandiwaranya tersebut.


" Tunggu !! kamu belum menjelaskan apa maksud dari ucapan kamu itu ??" Kata Banny tegas.


Tanpa membalas perkataan Banny ataupun membalas tatapan pria itu,Mona menepis tangan Banny dari tangannya.Tapi baru sedetik dirinya berhasil membebaskan tangannya dari Banny.pria itu justru kembali mencekal tangannya tak lama kemudian.


" Aku tau kamu kecewa atas sikapku ini,tapi aku yakin kamu merasakan hal sama dengan apa yang aku rasakan." Ucap Banny dengan cepat.


Mona masih terdiam dengan menahan rasa sakit cekalan pria itu yang kian erat.


" Aku tidak bermaksud akan mempermainkan perasaanmu dengan semua ini Mona,aku memang egois.tapi kenyataannya lain.Aku sangat mencintaimu Mona.Aku bisa apa ketika aku merasakan cemburu yang begitu luar biasanya saat tau Angkasa akan menjadi jodoh pilihan nenek mu.Aku cemburu,dan aku takut kehilanganmu." Jelas Banny dengan menatap sungguh-sungguh wajah gadis itu.


Mona memilih untuk diam,mendengarkan setiap perkataan pria itu yang kian menghujam perasaanya yang telah kecewa,yaa kecewa atas sikap ke angkuhannya tersebut.


Sekali lagi Mona menepis tangan pria ini.Kali ini Mona pun mendorong kuat Banny,sehingga pria itu tak sempat menyentuhnya lagi.


" Maafkan aku mas !" Ucapnya kembali dengan suara tertahan merasakan tangisannya akan segera pecah.


Banny terhuyung saat dorongan Mona cukup membuatnya mundur jauh kebelakang,dengan cepat Mona segera membuka pintu tersebut lalu menyeret kopernya dan ia pun segera berjalan keluar.


Teriakan keras langsung terdengar peka di telinga Mona.


" Mona !!,berhenti !" Panggil Banny setengah frustasi.


Mona mempercepat langkahnya berusaha untuk tidak mengabaikan Banny yang tetap berjalan mengejarnya.


" Berikan aku kesempatan sekali ini saja,aku benar benar tulus mencintaimu Mona !" Teriaknya lagi Banny dengan suara baritonnya.


Mona menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya ke arah Banny.


Banny menatapnya dengan perasaan resah,ada sorot mata yang penuh dengan kekhawatiran yang begitu dalam.


Mona menepis perasaan itu,rasanya ia tak ingin berlama lama ada dalam situasi yang cukup menguras energi dan pikirannya tersebut.Mona pun kembali berjalan dengan perasaan hancur sehancurnya.Tak ingin ia terlihat menangis oleh Banny ia pun segera berlari dan menutup mulutnya serta berusaha menangis tanpa suara,hatinya sakit bukan main.Dadanya luar biasa sesak,tapi Mona tak tahu bagaimana caranya menghentikan air matanya.Sakit di hatinya maupun sesak di dadanya.Sama sekali tidak tahu.


Mona tetap tidak bisa untuk tidak menangis, sekalipun Mona sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menangis,namun tetap saja air matanya keluar tanpa bisa di bendung.


" Mona !," panggil Banny dengan suara lebih pelan.


" Aku sungguh sungguh mencintaimu,tolong bertahan untukku. " Ucapnya lirih,namun Mona masih bisa mendengarnya,akan tetapi dia tetap terus berjalan di koridor afartemen tersebut.


Air mata Mona mengalir makin deras.Mungkin dia bodoh,mungkin dia naif,jika harus mempercayai kembali perkataan pria itu setelah perasaan nya di buatnya tak karuan oleh pria tampan itu.


" Mona !! kembalilah padaku,dan kita mulai dari awal.!" Teriak Banny setengah tak sadar,kini ucapannya pun kian meracau.


Mona berusaha mengabaikan teriak pria tampan itu sambil menyeka air matanya ia berusaha menenangkan dirinya dan tetap terus berjalan meninggalkan pria itu dengan raungannya yang kian melemah di telinganya.


Sesampainya di luar apartemennya Mona segera menyetop sebuah taxsi,lalu tak menunggu lama ia pun segera menaiki taxsi tersebut.


" Malam mbak !" Sapa sopir taxsi itu ramah.


" Malam pak !" Jawab Mona pelan.


" Kita pergi kemana nih mba ?" Tanya supir itu dengan begitu perhatian.


" Jalan saja dulu pak !" Jawab Mona dengan perasaan tertekan.


Sang supir hanya melongo namum tak mampu untuk protes,dan dia pun segera menjalankan kembali mesin kendaraanya dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


Mobil taxsi tersebut pun melaju membelah jalanan menyusuri sepinya malam.


Mona menghela merasakan dadanya sakit bukan main,menahan segala amarah yang tertahan,hatinya menahan rasa sakit yang begitu dalam.Ingin rasanya dia untuk tidak menangis sehebat itu.Namun pertahanan kekuatan hatinya yang di pertahankan sedari tadi mulai luruh seketika.

__ADS_1


sehingga tak terasa lelehan air matanya mengalir deras menyusuri lembah pipinya.


Sesakit ini kah dia harus mengubur dalam cintanya,rasanya begitu sesak sehingga ia berharap napasnya berhenti saat ini juga.Mona menggeleng mencoba mengusir perasaan putus asanya tersebut.


Sang sopir diam-diam memperhatikan Mona dari balik spion,Pundak mungil gadis itu terguncang pelan,lalu sang gadis itu menututp mulutnya untuk tidak menangis lepas.Dia tidak ingin sang sopir taxsi itu terganggu dengan aksinya tersebut.


Banyangan wajah pria tampan itu tiba-tiba terbesit di benaknya,betapa pun tidak pria itu setidaknya pernah mengalihkan dunianya dan pria tampan itu pun mampu membuat hidupnya terasa begitu bergairah atas kehadirannya setelah sekian lama ia terpenjara dengan sebuah kata trauma.


Mona semakin tak kuat untuk menahan sesak itu dan ia pun benar benar menangis dengan bersimbah air mata,ia tak peduli lagi dengan antensinya sang sopir taxsi itu yang kini tengah fokus memperhatikan terhadap dirinya.


Hikss.......


Mona sejadi jadi menangis melepaskan semua perasaanya yang kian tertumpu di dadanya.


Rasa benci,marah dan sayang berbaur menjadi satu,menjadikan rasa yang begitu sulit ia rasakan.


Mona menghela napas,semenjak ia mendatangani surat gugatan perceraiannya itu,ia sudah membulatkan tekadnya untuk tidak lagi berharap apapun dari seorang Banny,dan baginya itu semua telah berakhir.


Untuk apa menangisi kembali pria angkuh itu?baginya sudah cukup mengeluarkan air mata untuk sosok seorang Banny.


Sungguh saat ini ia ingin membuang jauh banyangan wajah pria tampan itu hingga kedasar lautan sana.Bersama terumbu karang dan berharap ada predator memakan bayangan wajah pria tampan itu.


Mona menggeleng dengan perasaan frustasi,sejauh itu ia membuang bayangan wajah pria itu,sejauh itu pula wajah pria itu lekat di benaknya.


" Oh my GOD " Rintihnya pelan.


" Maaf mba,kita sudah berjalan cukup jauh,mbaknya hendak pergi kemana ??" Tanya supir taxsi itu akhirnya memberanikan bertanya setelah merasa jauh akan perjalanan nya tersebut.


Supir taxsi itu menatap ragu.


Mona segera menyeka air matanya setelah suara supir taxsi itu menyadarkan dia dari lamunan panjangnya.


Mona menarik napas panjang menghempaskannya hingga beberapa kali.


" Terserah bapak saja mau bawa saya kemana pak." Jawab Mona pasrah.


Sontak sang sopir taxsi itu hanya melongo menatap heran atas sikap gadis itu.


" Waduh mba,saya bingung mau bawa mbak kemana ?" Jawab si supir taxsi itu polos.


Selama belasan tahun profesi dia menjadi seorang supir taxsi,baru kali ini ia mendapati penumpang yang tak tau arah tujuan akan pergi kemana.Sang supir itu menggeleng menatap Mona dari arah kaca spionnya dengan perasaan frustasi.


Mona menghela napas panjang setelah menyadari sikap sang supir taxsi itu kebingungan atas ulahnya tersebut.


Meski dia berada dalam situasi yang kacau balau seperti ini,tapi bukan berarti akal sehatnya tidak berpungsi dengan baik.


" Maafkan saya pak,saya lagi terbawa suasana." Ucap Mona pelan.


" Hehe...hehe.Tak apa mbak,saya memakluminya mbak.Mungkin mbaknya lagi patah hati hingga sesedih ini." Jawab sang sopir tersenyum tipis dengan tatapanya masih fokus ke arah laju kemudinya.


Mona tersenyum namun dia tetap tidak bisa menyembunyikan perasaanya yang sebenarnya.


" Wajar saja mbak kalau dalam hidup itu pasti akan ada pasang surutnya.kadang bahagia,kadang sedih maka dari itulah pentingnya kita memiliki hati yang luas dalam menghadapi permasalahan hidup." Jelas si sopir itu dengan santuy,dan dengan pedenya dia memberikan sebuah petuah untuk Mona.


Mona hanya terdiam membiarkan sopir itu berbicara.


" Saya juga dulu pernah muda mbak,persoalan datang silih berganti,tak ada habis-habisnya.Apa lagi masalah cinta mbak.Jika kita tidak memilik hati saling memaafkan,mungkin saya sudah tak berjodoh dengan istri saya." Ujar sopir taxsi itu tersenyum kecil.


Flashback kebeberapa tahun yang silam membuat sopir itu tenggelam di masa lalunya.


Saling memafkan.


yaa saling memafkan.


Mona tercenung entah kenapa hartinya tergerak begitu saja atas pernyataan sang sopir tersebut.


" Di sini saja pak !" Pinta Mona secara tiba-tiba meminta untuk berhenti di persimpangan jalan yang tidak begitu ramai di lalui orang.


Sang supir taxsi itu pun perlahan menepikan mobilnya tersebut lalu menoleh ke arah Mona yang sedang sibuk merapihkan barang bawaanya tersebut.


" Mbaknya baik-baik saja kan ?" Tanya sang supir itu khawatir.


" Saya baik-baik saja pak." Jawab Mona dengan tersenyum enteng.


" Ini pak uangnya !" Ucap Mona setelah melihat argo pada kendaraan tersebut.


Sang supir taxsi menganggukan kepalanya sebagai ucapan trimakasih.


" Makasih ya mbak." Jawabnya pelan.


" Sama sama pak ." Jawabnya lembut.


Mona keluar dari taxsi tersebut dengan mata terlihat begitu sembab,perasaanya sedikit plong setelah ia menangis di dalam taxsi tersebut dan menumpahkan segala rasa kesedihannya walaupun perasaan cukup risih akan ekspersi sang supir tadi.Namun hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaanya.


Mona membagikan pandangannya ke sekitar tempat itu,suasana malam yang tidak terlalu ramai,hanya ada beberapa orang yang masih berlalu lalang di tempat tersebut.


Mona menoleh jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukan jam 9 lewat 45 menit.


Mona menatap bingung ke arah sekelilingnya,ia tak tau harus melangkahkan kakinya kemana.


Haruskan dia memberi tahu kedua sahabatnya akan ke adaanya ini ?


Mona menghela lalu menarik pelan kopernya tersebut berjalan menuju sebuah taman yang tak jauh dari tepi jalan tersebut.


Pikirannya benar-benar rumit tak bisa berpikir secara rasional,jika dia kembali malam ini ke diaman neneknya,tentunya ini akan menjadi ke khawatiran sang begitu besar bagi sang nenek.


Wajah gadis itu menengadah ke langit pekat sana menatap dengan prasangka yang kian tak berkesudahan.


Keputusan nya kali ini benar-benar di luar akal sehatnya,kenapa bisa dia begitu berani ambil keputusan seperti ini,pergi dari apartemennya dalam ke adaan pikiran kacau.


Mona benar-benar sulit mengekspresikan apa yang tengah dia rasakan saat ini.Sedih,kecewa dan menyesal menjadi satu dalam lingkup hatinya.


Mona memejamkan kembali matanya sesaat ucapan pria tampan itu kembali terngiang di telinganya.


Betapa mencintainya pria itu terhadap dirinya.....


Ahhh terdengar munfik memang jika dia menolak dari perasaan yang sebenarnya.


Mona mengambil duduk di tepi kursi taman membiarkan beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh tanya atas kehadirannya seorang diri di tempat tersebut dengan di temani sebuah koper.


Mungkin pikiran mereka sibuk dengan tuduhan-tuduhan yang beraneka ragam tentangnya.


Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna abu metalik berhenti tepat di sebrang taman tersebut,lalu seorang pria bertubuh tinggi keluar dari mobil tersebut.


Perlahan pria itu mendekat ke arah Mona lalu menatap penuh selidik ke arah wajah gadis itu.

__ADS_1


" Mona ." Panggilnya dengan lirih.


" Mona,apa yang sedang kamu lakukan disini ?" Tanya pria itu menatap dengan perasaan cemas.


Mona mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah sang pemilik suara tersebut.


Seoarng pria bertubuh tegap sedang berdiri menatapnya dengan berbagai pertanyaan.


" Angkasa !" Ucap Mona lirih.Namun sesaat raut wajahnya berubah resah.


Dengan cepat Mona segera menyeka air matanya,dan menghapus kedua pipinya yang terlihat masih basah.


Dia tidak mengira jika dirinya akan bertemu dengan Angkasa dalam kondisi seperti ini.


Mengingat dirinya pernah meminta untuk tidak bertemu lagi dengan pria berwajah karismatik tersebut, apapun itu alasaannya.


" Apa yang sedang terjadi ?" Tanya pria itu menuntut sebuah penjelasan.


Mona tersenyum tipis namun sorot matanya terlihat rapuh.


" Kamu baik baik saja ?" Tanya kembali Angkasa semakin khawatir


Wajah gadis itu semakin tak kuasa membendung kembali air matanya yang meminta keluar setelah pertanyaan pria itu mampu meluruhkan kembali pertahanan kesedihannya.


Angkasa bergegas mendekati gadis itu lalu duduk di sampingnya dan menatap wajah sembab Mona dengan begitu lekat.


" Kamu pergi dari afartemen kamu ?" Tanyanya setelah melihat sebuah koper menemani Mona.


Mona tak mampu berbicara hanya mengangguk pelan dan berusaha menetralkan perasannya.


" Ok,kamu ikut dengan ku ! Ini sudah malam,tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian di sini." Ucap Angkasa berusaha menenangkan suasana hati gadis itu.


" Tidak kas! Terimakasih ." Tolak Mona lembut.


" Setidaknya kamu ikut aku dan menenangkan perasaan kamu itu Mon." Ucap Angkasa.


Mona tersenyum rapuh sebelum akhirnya dia menjawab.


" Tidak Kas ! aku hanya perlu sendiri saja untuk menenangkan perasaanku ini." Jelas Mona dengan suara serak.


" Kamu bertengkar dengan Banny ?" Tanya Angkasa menyelidik.


" Tidak !,kita hanya perlu waktu saja untuk saling intropeksi diri." Ujar Mona menjelaskan.


Angakasa menggeleng,tak mungkin jika mereka tidak sedang bertengkar mana mungkin ! hingga Mona membawa koper segala.Pikir Angkasa membatin.


" Aku tau, kalian sedang tidak baik-baik saja." Ucap Angkasa lirih.


Mona menoleh pria itu dengan perasaan canggung.


Angkasa menarik napas pelan lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman tersebut.


" Aku tau,Banny begitu dalam mencintaimu ." Ucap Angkasa pelan.


Mona menoleh pria itu tanpa ekspresi.


" Aku tidak ingin sedang membahas itu." Jawab Mona nyaris tak bertenaga untuk mengucapkannya.


" Kamu harus tau,Banny membatalkan kontrak kerjanya hanya memperjuangkan kamu." Imbuh Angkasa dengan tersenyum penuh ironi.


Mona menelan saliva,kata-kata Angkasa mengejutkannya.


Bagaiamana bisa Angkasa mengetahui perasaan Banny yang begitu dalam kepadanya.


" Percayalah." Ucap Angkasa terbata dengan menatap nanar ke arah gadis itu.


Mona tertegun mendengar pernyataan pria berwajah karismatik tersebut.


" Aku pikir Banny bisa melepaskan kamu,tapi tidak.Justru dia mempertahankan kamu dengan caranya." Ucap Angkasa,suaranya terdengar semakin berat.


" Aku berharap bisa merebutmu dari dia,tapi kenyataanya kamu adalah wanita yang di perjuangkannya." Ucap Angkasa.


Mona kian membisu menatap ke arah kedua tangannya dengan berkaca-kaca.Tak perlu penjelasan baginya setelah dia paham akan maksud yang di sampaikan pria tampan tersebut.


Mona menunduduk,tak kuasa menahan perasaanya.


" Sebaiknya aku antar kamu pulang,dan kembali ke afartemen kamu!" Ucap Angkasa menyimak kembali wajah gadis itu.


Mona menggeleng pelan untuk saat ini dia belum mempunyai ke inginan untuk kembali ke afartemennya Banny.Dia perlu waktu untuk menata kembali hatinya.


" Tidak,aku bisa pulang sendiri."Tolak Mona dengan tetap pada pendiriannya.Dia tidak ingin semakin memperkeruh permasalahannya ini dengan kehadiran Angkasa di dekatnya.


" Tapi keadaan kamu sedang tidak memungkinkan untuk pulang sendirian Mon dan,aku menghkwatirkan ke adaan kamu,lagi pula aku tidak mungkin membiarkan kamu seperti ini." Ucap Angkasa terlihat resah.


" Tidak apa-apa,aku baik baik saja." Tolak gadis itu dengan tersenyum lembut mencoba meyakinkan perasaannya Angkasa.


" Tidak dalam kondisi sebaik itu Mona,ayolah sekali ini saja,biarkan aku menolong kamu." Ucap Angkasa tegas.


" Tidak Angkasa,percayalah aku baik-baik saja." Ucap Mona dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya,hingga membuat Angkasa menyadari akan sikap gadis itu.


Angkasa memandangi gadis itu dengan hampa.Dia sangat tahu akan kondisi hati Mona saat ini,dia tidak bisa abai,namun Mona memberi jarak akan hal itu.


" Ok,ok ! kalau begitu aku antar kamu kerumah sahabat kamu!" Pinta lagi Angkasa.


Mona terdiam menatap secara intens pria itu.Sorot matanya terlihat menatap dengan berbagai prasangka di benaknya.


" Jangan berpikir aku akan menuntut kembali perasaan itu Mona,aku tau hatimu bukan lah untuk ku !dan aku tidak akan bisa memaksakan hal itu." Ucap Angkasa dengan menatap penuh rasa kecewa.


Mona menghela napas panjang,ucapan pria ini semakin membuatnya tak berdaya.


" Jangan membuat perasaanku semakin rumit." Ujar Mona dengan suara nyaris tak terdengar.Dia merasa tidak begitu pandai untuk mengambarkan perasaanya seperti apa sekarang ini.Jujur saja berpura-pura dalam sandiwara itu sangatlah menyakitkan.


Angkasa terdiam merasakan bagaimana rumitnya dia di posisi gadis itu.


" Hmm,,aku antar kamu pulang!" ucap Angkasa kembali memaksanya.


" Aku hanya butuh sendirian." Ucap Mona sedikit ketus.namun mampu membuat pria itu terasa terusir secara halus.


" Baiklah !" Ucap Angkasa pelan.


Perlahan Angkasa melangkah menjauh meninggalkan gadis itu dan membiarkan dalam kesendiriannya.


Angkasa menoleh gadis itu dengan perasaan cemas,entah kenapa perasaannya begitu tak rela jika harus pergi dan membiarkan gadis itu tengah larut dalam kesedihannya,namun apalah daya dirinya tak mampu untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu.Angkasa menyadari jika dia tidak ingin menambah luka yang dalam bagi perasaan gadis itu.


Angkasa masih memperhatikan gadis itu dari kejauhan.Melupakannya adalah hal yang paling berat dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2