CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 179


__ADS_3

BANNY berjalan di koridor perkatoran dengan ekspresi wajah tak bersahabat.Mengabaikan segala bentuk macam sapaan dari para staf yang tidak sengaja bertemu dengannya.Dia melangkah cepat menuju ruangannya.


Mendaratkan pantantanya dengan kasar di kursi kebesarannya.Lagi-lagi hanya helaan napas lelah yang keluar dari hidungnya.


Satu masalah terselesaikan,ia berhasil mencabut gugatan cerainya terhadap Mona dan kini otaknya tengah tepusat perihal permasalahan terhadap sosok Angkasa.Ya, orang yang baru saja menjalin kerja sama dengannya,kini justru menuntut dirinya dengan nilai denda yang sangat fantastis atas pembatalan kontrak kerjanya tersebut.Hal ini setidaknya akan menyita perhatiannya.


Semua di luar perencanaan.Pekerjaanya kini gagal berantakan di karena imbas dari permasalahan pribadinya.Tentu saja hal ini tidak bisa di biarkan begitu saja.


Banny tidak ingin Mona mengetahui hal ini,dan ia berharap masalah ini tidak akan menjadi polemik yang tak bekesudahan.


Tentu saja Banny tidak ingin hubungan yang baru saja di jalani dengan begitu harmonis akan kembali renggang hanya dengan permasalahan ini.


Ia tak ingin kehilangan kembali cintanya Mona, gadis yang kini telah menjadi istri sesungguhnya.


Bertepan dengan pikiran pangjangnya suara ketutkan pintu terdengar keras,mengalihkan antesinya yang tengah fokus dengan pikirannya tersebut.


" Masuk !" Sahut Banny seraya mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.


Seorang gadis berwajah oval dengan kukit putih menyembul dari balik pintu,tersenyum hangat kepada dirinya.


" Mas !,ini ada beberapa laporan yang belum mas cek ulang kembali." Ucap sekertaris itu dengan menyodorkan sebuah map ke hadapan Banny.


" Simpan saja di atas meja !" Balas Banny acuh.


Gadis cantik itu tersenyum kecewa lalu ia pun menyimpan map tersebut di atas meja.


" Tadi pak Hendra ada menemui mas,tapi sepertinya mas sedang keluar." Ucap Arnetta menatap ragu.


" Ada apa ? " Tanya Banny dengan enggan menatap gadis cantik itu.


" Mas tidak ingat jika sekarang akan ada meeting ?" Jelas Arnetta mengingatkan dengan tersenyum lembut.


" Oh shitt !!,aku melupakan hal itu." Ucap Banny terperangah seraya menegakan tubuhnya.Kenapa dia menjadi sepikun ini,melupakan pekerjaan sepenting ini.


" Tolong kamu undur meetting nya beberapa menit lagi ,sepertinya aku perlu menyiapkan Dokumen lengkap." Ucapnya menarik napas.


" Sudah aku konfirmasikan ke pak Hendra mas,untuk menunda meeting ini." Ucap Arnetta tampak berusaha tenang,ia mengantipasi diri dari perintah Banny yang secara tiba-tiba.


" Ok.Good !! thak's Ane." Jawabnya singkat.


Banny beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju tempat arsip-arsip serta Dokumen berada.


" Oya mas,tadi aku juga sempat beberapa kali ke ruangan mas,tapi sepertinya mas tidak ada terus.Apakah mas tadi pergi keluar ada hal penting ?"Tanya Arneta ragu sekaligus penasaran dengan keberadaa bosnya tadi.


Banny menoleh gadis itu lalu tersenyum secara di paksakan,seolah-olah ia tidak suka sekertarisnya itu bertanya akan ke adaanya.


" Ya ! tadi aku pergi keluar sebentar." Jawabnya dingin.


" Tapi aku cukup lama menunggu mas ? sepertinya ada urusan yang begitu penting." Ucap kembali Arnetta dengan berusaha mencairkan suasana.


Banny menghentikan kegiayan nya mencari Dokumen lalu kembali menoleh Arnetta.


Tampak ke dua alisnya terangkat tinggi dengan menatap penuh ekspresi ke arah Arneta atas rasa keingin tahuan gadis tersebut.


" Apa kamu penasaran atas apa urusaku ini ? " Tanya Banny sarkatik.


Raut wajah Arnetta berubah merah merasakan hawa tak enak.


" Tentu saja tidak mas,hanya saja jika itu adalah urusan pekerjaan di kantor mungkin aku bisa membantunya mas." Ucap Arnetta menawarkan bantuann dengan berbagai perasaan.


" Ini bukan masalah pekerjaan." Ujarnya pelan.


Arnetta menatap pria itu dengan seksama,mencoba memastikan apa yang akan menjadi pernyataan bosnya tersebut.


Mona menatapnya dengan penuh harap.


" Aku mencabut gugatan cerai ku." Imbuh Banny dengan suara penuh intonasi.


" Apa ???" Desisnya.


Arnetta memekik nyaris terdengar jelas oleh Banny,sehingga mampu membuat Banny sedikit terheran-heran.


" Kenapa ?sepertinya kamu terkejut ? " Tanya Banny menatap penuh.


Arnetta membisu menatap pria itu dengan kaku.


Banny masih menunggu respon gadis cantik itu.


" Arnetta kamu baik-baik saja ?" Tanya Banny heran setelah melihat perubahan yang begitu dratis dari sikap gadis itu dan berhasil mencuri rasa penasarannya.


Arnetta mengalihkan pandangannya dengan perasaan sedih,ia tak mampu lagi menyembunyikan perasaan kecewanya.


Yaa,kecewa atas keputusan Banny yang mencabut gugatan cerai terhadap Mona.Tentu saja keputusannya itu memupus kesempatannya untuk mendapatkan kembali hati seorang Banny benar-benar kandas.


" Jadi...., " Ucap Arnetta nyaris tertahan.


Entah kenapa kini perasaannya di penuhi rasa sesak yang sulit sekali ia kendalikan.


Arnetta menarik napas panjang berusaha menetralkan perasaanya.


" Mas ! jadi mas sudah memutuskan hal itu ?" Tanya gadis itu lirih.Suaranya ampir tak terdengar.Namun Banny memiliki pendengaran yang cukup tajam membuat dirinya menoleh ke arah Arnetta yang terlihat sedang menguasai dirinya.


" Apa maksud kamu ?" Tanyanya penuh selidik.


" Aku hanya ingin bilang sesuatu mas." Ucap gadis itu menjeda ucapannya dengan sorot mata yang begitu dalam.


Banny berjalan dan mendekat ke arah gadis itu.


" Kamu mau berbicara apa ?" Tanyanya pelan hingga membuat gadis itu terlihat salah tingkah.


Arneta meremas ujung bajunya berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaan yang selama ini membelenggunya.


Arnetta menarik napas lalu mengangkat kepalanya menatap pria itu yang tak lagi jauh darinya.


" Lalu bagaimana dengan perasaan aku selama ini mas ??,selama ini aku berusaha menunggu waktu yang tepat untuk mempertanyakan kembali perasaan itu mas." Ucap Arnetta sedikit parau.


Merasakan kekeringan yang melanda tenggorokannya.


Banny menatap Arnetta yang nampak kesulitan untuk menahan sesuatu yang memaksanya keluar dari hatinya.


dan hal itu mampu membuatnya tercekat mendengar pernyataan sekertarisnya tersebut.


Rupanya selama ini Arnetta masih mengharapkan perasaanya tersebut,menyimpan utuh perasaan terdalamnya.


" Arnetta." Panggil Banny dengan suara lirih.


Arnetta menatapnya dengan ujung mata yang mulai basah tergenang air mata.


" Aku sudah lama melupakan perasaan itu." Ucapnya jelas,membuat gadis itu menatap tak berdaya.


Setega itu kah Banny melupakan akan perasaanya itu.Lalu selama ini ia menganggap apa dirinya ??


Lalu.....


Kenapa dia mau menerima kehadirannya sebagai bagian dari perusahaanya tersebut ?jika tidak memiliki perasaan yang sama ?


Arnetta menatap kian nanar,perasaannya hancur sehancur hancurnya,seperti ada bom hirosima yang meluluhlantakan hatinya.

__ADS_1


" Maaf kan aku !" Ucap lagi Banny dengan perasaan penuh sesal.


Bagaimana pun tidak Arnetta pernah menjadi bagian dari perasaan terindahnya setelah hatinya hancur oleh penghianatan seorang Kinaya.Namun kini perasaan itu lenyap entah kemana, dan kini perasaanya tertuju sempurna kepada sosok seorang Mona.


Arnetta menutup mulutnya menahan perasaanya yang kian tak terelakan lagi.Amarah sekaligus rasa kecewanya berbaur menjadi satu menjadikan kesedihannya semakin sempurna.


Arnetta yang merasakan sakit menatap Banny tak bergeming.Merasakan air matanya siap mengalir.Dengan perlahan tapi pasti ia merasakan sakitnya akan patah hati, dan merasakan kekecewaan itu singgah di hatinya.


" Aku tau itu mas !" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.Dia benar-benar sulit mengekspresikan apa yang tengah di rasakannya saat ini.Sedih,kecewa dan menyesal menjadi satu dalam lingkup hatinya.


Banny menatap lekat Gadis itu.Meski tak sampai hati dia melukainya namun hanya itulah yang terbaik untuk gadis cantik itu.Ia tidak ingin memberi kesan jika dirinya masih menyimpan perasaan itu.


Hening....


Arnetta hanya bisa menatap lekat pria itu,pria yang selama ini menjadi harapan terbesarnya dalam hidupnya.Bahkan dia merasa jika cintanya masih terjaga rapih di hatinya untuk seorang Banny.


Nyatanya tidak !!Banny melupakan itu.


Banny membuang napas pelan dan menatap lekat gadis itu.


" Aku tidak tau apa yang telah terjadi kepadaku selama ini,awalnya aku masih ingin mempertahankan perasaan itu,tapi aku lemah,aku tidak bisa mempertahankan perasaan itu dalam jarak dan waktu yang sangat jauh.Dan kini aku memiliki perasaan itu terhadap Mona." Ucap Banny dengan suara datar.


Ia hanya mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.


Arnetta memejamkan matanya ketika mendengar hal tersebut.


Sakittt...


Namun nyatanya memang perasaan kamu memang bukan untuk ku mas,batin Arnetta berteriak.


" Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap kamu." Ucap Banny menatap serius.Mempertegas ucapannya.


Ada yang jatuh menimpa ruang hatinya yang hampa.


" Aku memang terlalu bodoh !" Rutuk Arnetta lemah.


Banny terkesiap lalu menatap kembali gadis itu dengan berbagai perasaan.


" Aku terlalu bodoh,menaruh harapan besar kepada orang yang selama ini aku anggap cinta nyata tidak.!" Ucapnya dengan tertekan.


Banny memejamkan mata dan menarik napas dalam.Semua itu dulu Arnetta.Tak akan sama dengan hari ini.Bantin Banny menatap tak beradaya.Pernah dia menginginkan gadis ini untuk menemaninya di sepanjang hidupnya.Tapi itu dulu.Yaa itu dulu.


Perlahan,dia menghebuskan kembali beriringan dengan matanya yang terbuka menatap Arnetta secara seksama.


" Lupakan perasaan itu." Ucapnya singkat.


Hancur !!!


Itulah yang Arnetta rasakan saat ini.


Sekejam itu pria tampan ini menyuruhnya untuk melupakan perasaanya dan membunuh cinta yang kini telah lama bersemi di hatinya.


Sebegini kejamnya dunia mematahkan hatinya karena cinta.Air mata yang sejak tadi di tahannya mulai tumpah.Pertahanan yang sejak tadi di pertahankan itu mulai luruh seketika.


Rasanya begitu sakit hingga ia berharap napasnya berhenti saat ini juga.


" Aku akan melupakan semua itu mas." Desis Arnetta melangkahkan kakinya.


Berlari keluar meninggalkan Banny yang masih tertegun.


Banny menarik napas panjang.Seharusnya ia tak memberi luka sedalam ini terhadap gadis itu.


__________


Metting baru saja di mulai.Banny duduk menatap ke arah sekelilingnya,mata elangnya membagikan ke seluruh staff penting yang sudah hadir di tempat tersebut.


Netranya mendarat di kursi kosong yang tepat berada di sampingnya.


kemana dia ??


Sekertarisnya itu tak terlihat hadir di ruang meeting tersebut.


Banny menatap heran.


" Sepertinya Meeting siang ini belum bisa saya mulai." Ucapnya seraya merubah posisi duduknya lebih tegap.


Beberapa staf penting yang hadir di sana saling bertatapan satu sama lain menatap dengan berbagai pertanyaan.


" Maaf pak Banny,sepertinya meeting ini sudah meleset dari waktu yang sudah di tentukan.Apa bapak menunggu seseorang ?" Tanya pak Hendra menatap sang atasannya.


" Sekertaris saya belum hadir." Jawab Banny kaku.


Para staff saling pandangan kembali bertanya-tanya akan kehadirannya sekertaris sang melewatkan meetting tersebut.


" Bu Arnetta tadi saya lihat ada keluar pak,kalau tidak salah ia keluar dengan ada membawa tas.sepertinya dia pulang." Turur Amel yang duduk tak jauh dari staf yang lainnya.


Keluar ??


Banny menatap resah salah satu stafnya yang memberi tahu ke adaan sekertarisnya itu.


" Apakah dia ada meninggalkan pesan kepada Resepsionis ?" Tanya Banny penasaran.


Amel menggeleng dengan penuh homat.


Untuk sesaat para staf lainya terlihat ikut bingung.


" Baiklah kita mulai saja metting hari ini." Ucap Banny dengan suara datar.


Lalu ia pun mulai membuka Dokumennya dan membuka pembahasan masalah kinerja perusahaan nya yang akhir akhirnya ini sedikit ada penurunan dalam ferporma perusahaanya tersebut.


Setelah melakukan pembahasan panjang kali lebar Banny pun menekankan ke seluruh staf perusahaan penting lainnya untuk tetap bekerja dengan fropesional serta kompeten dalam melaksanakan pelayanan di bagian ekpsedisi ini.


" Jadi saya tekankan kembali untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan terhadap......" Ucapannya terjeda, tiba-tiba saja terhenti sesaat dengan bunyi ponselnya yang berdering nyaring di atas meja.


Sontak itu membuat antesi para staf lainnya teralihkan.


" Maaf !!" Ucap Banny seraya meraih ponsel tersebut.


Sebuah nomor yang tak di kenalnya muncul di layarnponselnya tersebut.


Banny menatap lekat ke arah ponselnya lalu dengan ragu ia pun mengkat panggilan tersebut.


" Hallo !" Sapanya dengan suara tegas.


Seseorang membalasnya di ujung telepon sana.


Dengan bersamaan beberapa detik kemudian raut wajah pria tampan itu berubah cemas hingga berakhir terkejut.


Para staf yang hadir menatap penuh tanda tanya ke arah Banny yang masih berbicara di telepon.


" Baik pak,tolong bapak kasih tau alamat rumah sakitnya pak.!" Ucapnya dengan wajah terlihat shok.


Amel dan beberapa staff yang hadir di sana terlihat penasaran atas reaksi wajah pimpinannya itu seusai menerima menerima telepon.


" Maaf pak Banny,kalau saya boleh tau ada apa ? " Tanya pak Hendra turut serta.


" Sekertaris saya mengalami kecelakaan." Jawabnya pendek.

__ADS_1


" Yaa TUHAN !" pekik Amel terkejut.


" Apa !!" Sontak para staff lainnya ikut berseru kompak.


" Untuk meeting hari ini saya akhiri sampai disini saja.Maaf sepertinya saya harus segera kerumah sakit karena sekertaris saya mengalami kecelakaan." Jelas Banny segera bergas merapihkan beberapa Dokumen penting miliknya.


Para staf penting yang hadir di sana cukup terkejut dengan kondisi sekertaris pimpinannya tersebut yang mengalami kecelakaan,tidak terkecuali Amel. Ia merasa penasaran dengan atas apa yang sedang menimpa sekertaris bosnya tersebut.


_______


Perlahan Arnetta membuka matanya,bias cahaya lampu menyipitkan sepasang mata sayunya.Tak lama Ia mendapati seseorang tertidur di samping kirinya dengan posisi duduk.Dan seseorang itu begitu sangat ia kenal.Dan itu adalah Banny pria yang telah memberinya luka.


Arnetta mengedarkan pandangannya ke seleluruh penjuru ruangan itu,lalu ia mengingatkan kembali kejadian hari ini hingga sampai di ruangan serba putih dengan aroma yang khas.Terakhir kalinya dia ingat,jika ia pergi meninggalkan kantor dalam ke adaan marah semarah marahnya dan hati penuh kecewa.


Arnetta menaiki sebuah taxsi,setelah itu dia masih ingat meminta turun dan berlari menuju trotoar namun entah datang dari mana sebuah kendaraan berroda dua berhasil menyambarnya hingga dia tersungkur jatuh.


Jidatnya yang terpasang perban masih terasa sakit hingga mengakibatkan pusing yang begitu hebat.Kedua kakinya terasa linu serta nyut-nyutan.


Ia merutuki kecerobohohannya yang meminta turun paksa di tepi jalan hanya karena amarahnya sedang menguasai dirinya.


Arneta menatap Banny yang bertumpu di ranjang.


" Mas !!" Panggilnya sangat lirih.


Merasa ada yang memanggil dirinya Banny terbangun,ia mendapati Arnetta telah siuman.


" Kamu sudah siuman ?" Banny menegakan tubuhnya lalu menatap gadis itu.


" Maaf mas,Aku merepotkanmu !" Arnetta bahagia melihat Banny masih perhatian kepadanya.


Padahal dia tahu beberapa jam yang lalu pria ini telah melukai segenap hatinya.


" Tidak apa-apa.Kenapa kamu bisa mengalami kecelakaan ?"Tanya Banny menatap dengan penuh isyarat.


Sebelum menjawab Arnetta meringis kecil,merasakan kepalanya berdenyut kembali.


" Ini salah aku mas,aku pergi dalam ke adaan diri ini di kuasai rasa amarah." Ucapnya pelan.


Banny menarik napas panjang.Entah kenapa perasaan bersalah itu muncul di benaknya.Dia yakin jika kepergian Arnetta dari kantornya itu ada hubungannya dengan perasaanya tadi.


" Aku yang salah !" Sela Banny menatap lembut.


Arnetta menatap dalam.


" Sikapku ini telah melukai perasaan mu." Ujarnya dengan perasaan resah.


Arnetta tersenyum getir,ia hanya bingung harus menanggapi secara apa atas sikap pria tampan ini.


Dia sudah tak ingin berharap banyak kembali atas sikap yang di tunjukan Banny terhadapnya.


" Kenapa mas menolong ku ?" Tanya menatap sendu.


Banny terdiam menatap gamang.


Sementara Arnetta menatapnya dengan penuh harapan.


" Karena aku masih peduli. " Jawabnya dingin.


" Sebagai.... ??" Cecar Arnetta tetap berusaha.


" Sebagai perasaan seorang teman." Tandasnya pelan namun mampu memhuat hati gadis itu kembali terluka.


Ah....!!kenapa aku tidak mati saja ketika tersambar kendaraan tadi.Rasanya aku tak mampu harus menerima kenyataan pahit ini jika pria ini benar benar telah melupakan perasaan nya itu.


Ratap Arnetta menatap syahdu langit kamar ruangan itu.


" Tapi maaf,aku tidak bisa lama-lama,aku meninggalkan meeting di kantor tadi.Setidaknya aku merasa tenang jika sudah tau akan kondisimu." Ucap Banny lirih.Hati kecilnya sungguh tidak sampai hati harus meninggalkan sekertarisnya itu dalam keadaan seperti ini.Namun dia telah terlanjur berjanji untuk menemui Mona makan siang bersama.


Arnetta hanya bisa pasrah menatap lepas pria itu yang kini tengah berdiri menatapnya.


" Aku sudah menghubungi Ayah kamu untuk segera ke rumah sakit." Ujar Banny tersenyum kaku.


" Terimakasih mas." Ucap Arnetta dengan suara parau.


Banny tersenyum hambar seraya mengangguk pelan.


Di balik pintu ruang rawatnya yang sedikit terbuka.Banny tidak menyadari ada sosok lain yang tengah memperhatikannya.


Mona sudah berdiri di luar sejak tadi ,ia mendengar separuh dari pembicaraan antara Banny dan Arnetta sang sekertaris suaminya tersebut.Dia juga mendengar jelas perkataan Banny yang mengatakan jika dia hanya menganggap gadis itu tak lebih hanya sebagai teman saja.dan ia pun melihat bagaimana kecewanya Arnetta mendengar apa yang telah di sampaikan Banny kepadanya.


Ada perasaan iba bercampur bahagia berbaur menjadi satu.Bahagianya seorang Banny telah menentukan perasaanya hanya untuk dia.Dan iba ??iba ia merasakan bagaimana ia pernah berada di posisinya Arnetta.


Sampai sampai dia mengabaikan dirinya yang terpaku di luar ruangan.Hingga ia sendiri merasa bingung harus apa yang di lakukannya.Dia ke rumah sakit hanya ingin memastikan jika Arnetta benar benar mengalami kecelakaan dan itu pun atas pemberitahuan Amel sahabatnya.


Hal yang memalukan dia menguping pembicaran mereka.


" Permisi mbak ! mohon maaf mbak,mbak mau menjenguk korban kecelakan tadi siang? " Tanya seorang perawat mengejutkannya.


Mona terhenyak sesaat perwaat itu menghampirinya dan mengejutkannya.


Banny yang sedang berbicara menoleh ke arah luar ketika mendengar samar suara seorang perawat.


" Oh tidak sus,saya hanya kebetulan lewat saja,permisi sus." Ucap Mona dengan segera berpamitan.


Sang suster hanya melongo menatap sikap Mona yang terlihat terganggu atas kehadirannya tersebut.


Sang perawat pun hanya menggeleng menatap heran ke arah kepergiannya Mona.


Tepat bersamaan Banny keluar dari ruangan itu dan di dapatinya sang perawat itu masih melongo menatap kepergian Mona.Sekilas Banny melihat seluit bayangan seorang wanita yang menghilang di balik dingding lorong rumah sakit tersebut.


" Suster anda berbicara dengan seseorang ?" Tanya Banny sedikit penasaran.


" Betul pak,barusan ada perempuan muda berdiri dsini." Jelas sang suster ramah.


" Apakah suster mengenalinya ?" Tanya Banny dengan sesekali menatap ke arah perginya wanita tadi.


" Tidak,saya tidak mengenalinya pak,saya hanya melihat wanita tadi memperhatikan terus ke ruangan ini." Ucap perawat itu lembut.


" Suster tidak bertanya,dia mencari siapa ? " Tanya Banny lagi lagi merasa penasaran.


" Sudah pak,tapi dia bilang hanya kebetulan lewat saja." Jawab perawat itu sejujurnya.


" Ok.kalau begitu terimaksih sus." Ucap Banny kaku.


" Sama sama pak,kalau begitu saya permisi pak." pamit sang perawat seraya berjalan meninggalkan Banny.


Banny terdiam menatap dengan berbagai pertanyaan di benaknya.Entah kenapa ia merasa mengenali perempuan tadi itu.


Sepertinya itu Mona !


Pikirnya pelan


Tapi.....


Manamungkin Mona mengetahui dirinya berada di rumah sakit ini dan mengetahui Arnetta kecelakaan?


Tapi....

__ADS_1


Bisa jadi dia tadi ke kantor dan.....???


Dengan cepat Banny berjalan mengejar perempuan yang di lihatnya pergi tadi,berusaha untuk mengejarnya.


__ADS_2