
" SAYA terima nikah dan kawinnya Monalitta binti Atama wicaksana dengan maskawin tersebut di bayar Tunai !"
lantang dan tegas dalam satu tarikan napas,Banny melafalkan ijab kabulnya.
" Bagaimana saksi,apakah sah ?" Tanya sang pengulu menoleh ke arah para saksi.
" Sah !" Jawab para saksi singkat.
" Bagaimana apakah sah ?" kembali sang penghulu itu mengulang pertanyaanya tersebut.
" Sah !!" Akhirnya dengan serentak orang yang menyaksikan prosesi ijab kabul tersebut menjawab kompak mengatakan satu kata " SAH " atas pernikahan Banny dan Mona, tak terkeculai pria berwajah tenang itu ikut mengatakan hal yang sama.Zeanu hanya bisa menarik napas panjang menatap lekat dengan perasaan berat ke arah pasangan pengantin tersebut,dia yang duduk percis di belakang Banny akhirnya harus merelakan sahabatnya itu menikahi perempuan yang pernah ia munajatkan di setiap helak napasnya dan kini ia hanya mampu berupaya mendukung penuh atas pernikahan nya meski di dalam hati kecilnya pria itu berharap jika sahabatnya itu akan mencintai Mona dengan sepenuh hatinya tanpa harus bersandiwara lagi.
Hal yang sama di rasakan oleh seorang pria berkarismatik tinggi yang duduk tak jauh dari tempat mereka melangsungkan prosesi ijab kabul,menatap dengan perasaan antah berantah.Tak ada lagi cara yang sanggup menghentikan pernikahan itu selain menunggu hingga pada waktunya nanti jika kesempatan itu ada untuknya.
Ya ia berharap jika pernikahan ini akan segera berakhir dan pria berkarismatik itu menyakini jika suatu saat nanti dia lah yang akan duduk di samping gadis itu mengikrarkan janji suci dengan gadis itu.
Dialah Angkasa yang turut hadir menyaksikan prosesi pernikahannya Mona, mendengar setiap kata yang di lafalkan oleh pria tampan itu dalam sebuah ijab kabul,terdengar sakit memang,tapi itu akan terbalaskan jika pernikahan sandiwara meraka telah usai.
Gadis yang sedari tadi menundukan kepalanya selama prosesi ijab kabul itu kini terlihat menghela napas berat dengan memandangi dirinya yang kini sudah resmi menjadi istri seorang Banny pratama wiguna,meski sesungguhnya ia hanya tinggal menanti hitungan hari saja atas sebuah keputusan yang akan mengubah namanya dengan menyandang status seorang janda pengusaha muda kaya raya.Terdengar getir memang tapi ia harus melakukan itu semua hanya untuk membalas ke baikan seseorang.
Mona terdiam merasakan sesuatu hal yang mulai meliputi perasaanya.
Entahlah seharusnya ini adalah momen yang paling membahagiankan dalam sejarah hidupnya,namun justru ini adalah momen yang paling menakutkan di sepanjang hidupnya.
" Barakallah !!" Terdengar sayup-sayup suara sang penghulu mendoakan atas kelangsungan pernikahannya tersebut.
" Semoga kalian menjadi pasangan yang Sakinnah Mawadah Warrahmah." Imbuh sang penghulu itu mendoakan pasangan pengantin baru itu dengan tersenyum tulus.
Banny hanya mengangguk pelan dengan tersenyum tipis sesaat ia pun menoleh ke arah Mona yang belum berani mengangkat kepalanya.Gadis itu kini telah resmi menjadi istrinya.
Mona yang menggunakan gaun pengantin berlengan panjang dengan bahan dasar brukat terlihat sangat simplen namun tidak mengurangi ke anggunannya.Gaun pengantin berwarna putih tulang itu tetlihat begitu cantik dengan aksen mutiara-mutiara cantik bertaburan di bagian dadanya serta lengan bajunya yang sedikit transfaran membuat gaun itu terlihat sangat mewah,tak hanya di bagian gaun yang terlihat simple ,di bagian tataan rambut pun Mona lebih memilih sanggul yang dimodifikasi sanggul tradisional yang di tambahi dengan mahkota kecil ala princes,dan itu berhasil membuatnya semakin mempesona.meski memang penampilannya tak segelamor itu tapi entah kenapa gadis itu terlihat memukau dengan riasan tersebut,dengan riasaan seperti itu memperlihatkan sisi cantik kenaturalnya gadis tersebut dan entah kenapa hal itu membuat pria tampan itu lebih menyukainya.
Sebelum prosesi ini berlangsung terlebih dahulu pria tampan ini di buat terpesona oleh penampilan gadis yang telah di persuntinganya itu,pertama kali ia melihat gadis itu keluar dari ruangan rias,berjalan dengan di apit oleh kedua sahabatnya itu melangkah dengan anggun,tubuhnya yang mungil berbalutkan gaun brukat yang menjuntai hingga ke lantai menambah sisi feminin nya.
Wajahnya yang cantik itu hanya bisa tertunduk menyembunyikan raut wajah yang terlihat malu-malu untuk menatap ke sekitarnya.
Yaa pria tampan itu terpesona dengan penampilan nya Mona yang hari ini memang terlihat sangat berbeda.
Hatinya kian berdebar hebat saat gadis itu duduk tepat di sampingnya.
Pria tampan itu pun larut dalam keterpesonaanya memandang gadis itu dengan penuh pesona sebelum akhirnya ijab itu terucap.
Mona melirik ke arah pria tampan itu yang sedari terus menatapnya seusai prosesi ijab kabul,lalu dengan cepat pria itu menatap sisi lain saat gadis itu mempergoki dirinya sedang memandang lekat wajahnya.
__ADS_1
Ada perasaan yang tak biasa jika pria itu memandangi dirinya,yaa seperti ada kebahagiaan tersendiri saat pria dingin berwajah tampan itu memandang dirinya dengan penuh arti,namun perasaan itu dengan cepat di tepisnya karena itu hanya membuatnya berharap kembali.
Dan usai ijab kabul itu terucap menjadi sebuah titik dimana semuanya tak lagi sama,semuanya akan berubah sangat drastis begitu pun kehidupan keduanya.Tak ada pancaran kebahagian dari keduanya,hanya ada pancaran kekegelisahan yang mulai melanda satu sama lain.
Terutama dia,gadis yang tak akan lama lagi menyandang mantan istri seorang pengusaha muda itu tampak menatapi dirinya dengan perasaan kelam,yaa rasanya ini adalah keterpaksaan yang membelenggunya hingga semuanya akan berubah drastis seusai ini.
Semua mata tertuju kepada sosok gadis itu dan menatap takjub ke arah pasangan yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri tersebut,di benak mereka hanya ada tatapan bahagia serta decap kagum akan pasangan tersebut,tatapan mereka seolah-olah iri terhadap gadis itu yang kini menjadi seorang istri pria tampan tersebut.
Meski pernikahan itu di gelar tak semewah yang mereka bayangkan namun pernikahan ini cukup berkesan.
Meskipun mereka mencoba untuk terlihat bahagia akan tetapi pancaran itu nyaris membuat sebagian orang yang melihat bertanya-tanya akan ekspresi pasangan pengantin tersebut.Dan hal itu di rasakan pula oleh kedua sahabatnya yang sedari tadi menyaksikan dengan berbagai perasaan,karena mereka mengetahui jika moment ini adalah moment klise,dan hati kecil mereka berharap jika pernikahan ini akan berujung sebuah kebahagiaan bukan perceraian sebagai mana yang telah di rencanakan pria itu terhadap sahabatnya.
" Sejujurnya gue berat ngelihat Mona menikah dengan boskul,tapi tak ada pilihan selain hanya bisa mendoakan semoga aja ada ke ajaiban di hati pak Banny untuk merubah rencananya." Ucap Amel setengah berbisik menatap nanar sahabatnya.
" Elo masih berharap pak Banny akan mencintai Mona,bulshit Mel,tuh gak lihat mbak Arnetta yang cantik sedang menunggu di pojokan,pasti mau ngucapin selamat dan bilang,Mas aku akan menunggumu." Ucap Tamara dengan memperagakan gaya bicara perempuan cantik itu.
Amel melirik ke arah perempuan itu yang sedari tadi menatap dengan tatapan berbeda ke arah bosnya tersebut.
Gadis bertubuh sintal itu mendengus lalu membuang muka dengan jutek.
" Nyesek gue." Pekiknya dengan menekan kuat dadanya.
Pria bersetelan jas biru tua itu terlihat mendekap erat tubuh gadis mungil itu,berbagai perasaan di luapkannya dengan pelukan itu,pria hangat itu mengelus punggung sang menantunya dengan lembut,pancaran kebahagiaanya terlihat sangat tulus dari raut wajahnya ketika menyaksikan anak semata wayang nya itu melepas masa lajangnya dengan gadis pilihannya tersebut.
Pak Wiguna melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu dengan seksama.
" Terimakasih Mona,kamu telah bersedia menikah dengan putra Papah,dan mulai hari ini kamu adalah bagian dari keluarga besar Wiguna,yang akan menemani Banny hingga akhir hayat nanti,Papah do'akan semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan. " Ujar pak Wiguna menatap dalam gadis itu dengan penuh cinta.
Mona terdiam merasakan denyut nadinya terasa berhenti saat do'a itu menyapa perasaanya hingga serta merta membuatnya semakin bersalah atas semua ini.
Ini adalah pernikahan yang semu dan hanya menunggu waktu yang telah di tentukan untuk pernikahan ini berakhir.
Hal yang sama sedang di raskaan Banny,ia begitu terenyuh saat sang Ayah mendoakan atas pernikahan settingan-nya tersebut.
" Banny,Papah bahagia bisa menikahkan kamu dengan perempuan pilihan Papah,dan Papah yakin jika Mona adalah perempuan yang terbaik untuk menjadi bagian dalam hidupmu,percayalah dia adalah perempuan terbaik yang pernah Papah temui." Ucap sang Ayah seraya menepuk kecil pundak putranya dengan sorot mata bahagia.
Banny mengangguk dengan mengulas senyuman tipis,membiarkan sang Ayah bahagia,karena bahagianya adalah harapan terbesarnya.
" Mona !" Panggil seorang perempuan menghampirinya lalu memeluknya dengan tersenyum getir,betapa pun tidak perempuan itu meneteskan air mata saat melihat cucu terkasihnya terlihat tegar di hari pernikahannya itu, ia tahu betul jika perjuangan cucu terkasihnya itu belum lah usai dalam memperjuangkan perasaannya untuk seorang Banny.
" Selamat sayang !" Bisiknya dengan masih merangkul hangat tubuh cucunya tersebut.
Mona tersenyum pahit dengan mendekap erat perempuan yang selalu menguatkan dirinya tersebut.
__ADS_1
Tak ada kalimat yang sanggup terucap dari mulut perempuan separuh baya itu selain air mata yang mewakili perasaanya.
" Mona !" Panggil seseorang memanggilnya dengan lembut.
Mona menoleh di lihatnya sang ibu tersenyum penuh bahagia menatap dirinya yang begitu cantik dengan pakaian seorang pengantin.
" Ma mama." Ucap gadis tersenyum tegar.Berusaha menampilkan senyuman bahagianya.
" Selamat sayang,Mama do'akan pernikahan kamu langgeng hingga tua nanti." Ucap sang ibu menatap penuh haru kepada anak gadisnya yang kini telah sah menjadi seorang istri.
Mona mengangguk tak mampu berkata apapun,rasanya mulutnya terkunci hebat saat perempuan yang mengasihinya itu turut serta mendo'akan kelanggengan atas pernikahannya yang sesungguhnya hanya pernikahan semu saja.
Rasanya tak kuasa juga ia harus melihat senyuman ini yang akan berubah menjadi tangis sesal setelah tahu pernikahannya akan beujung kecewa,andai jika sang ibu tahu akan sesungguhnya pernikahan ini mungkin tak akan serumit ini menjelaskannya nanti.
" Ma makasih Mah !" Balasnya dengan suara lirih.
" Banny,saya Mama nya Mona,semoga pernikahan kalian lageng,dan tolong jaga Mona,cintai Mona seperti kami mencintainya." Ujar perempuan itu menatap pria yang kini telah menjadi suami putrinya tersebut.
Untuk yang pertama kalinya sang Ibu memperkenalkan diri kepada pria tampan itu yang kini telah menjadi menantunya tersebut.Sang Ibu berpesan agar Banny mencintai anaknya itu dengan tulus hati.
Pria tampan itu terdiam dengan tersenyum ringan hanya bisa membalas permintaan perempuan itu dengan sebuah anggukan,namun jauh di dalam hatinya yang paling dalam jika hal ini sangat berat di rasan olehnya,tentunya hal ini tak sekedar kata-kata saja.namun sebuah ungkapan yang penuh dengan harapan yang besar jika dirinya bisa membahagiakan putrinya tersebut.
Yaa orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia.
Mona menoleh ke arah pria tampan itu dengan tatapan yang begitu sangat sulit di artikan sehingga mau tak mau membuat pria tampan itu terlihat meresah.
" Banny akan menjaga Mona sebaik mungkin." Balas pria tampan itu seraya merangkul pinggang gadis tersebut tanpa ragu.
Mona terdiam menatap kaku ke arah pria yang kini menjadi suaminya itu entah perasaan macam apa ini yang menjadikan dirinya semakin tak beradaya,ia sadar betul jika pria yang di sampingnya ini sekarang sudah menjadi suami sahnya,tapi bukan berarti dia harus seenaknya memperlakukan dirinya sebagai mana layaknya pasangan suami istri karena ia sadar ini hanyalah pernikahan sandiwara saja.
" Terimakasih Banny,Mama berharap kamu adalah laki-laki yang terbaik untuk Mona,karena Mama tidak ingin apa yang pernah orang tua Mona alami teralami oleh Mona." Ucap perempuan itu dengan penuh penekanan.
Mona terhenyak setelah sang ibu mengatakan hal itu dan ucapnya itu berhasil membuat matanya berkaca-kaca.
Meski sang ibu pernah mengabaikan nya tapi ia yakin jika dirinya tak mau melihat anaknya kecewa dalam pernikahannya.
Entahlah rasanya Mona ingin menghilang saat ini juga dan melupakan semua kejadian ini,apa yang di takutkan oleh sang ibunya justru akan menjadi sebuah kenyataan saat perceraian itu semakin nyata di penghujung pernikahannya.
Banny menoleh ke arah Mona dengan tatapan berbeda,ia sadar sepenuhnya kegagalan dari sebuah perkawinan ini akan melahirkan rasa duka yang ter amat dalam di hati perempuan ini.
Pria tampan berwajah dingin itu meraskaan ucapan perempuan itu kian meneror perasaanya,lalu haruskah ia mengubah ke inginanya untuk menceraikan Mona,Banny terdiam dia kian ragu untuk membalas apa yang telah di sampaikan orang tua Mona kepada dirinya.Sebuah pesan yang cukup membuat dia terbebani.
" Baik Ma mama." Jawab Banny sesingkat itu.
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum melukiskan kebahagiaan yang tiada tara.