
NADA dering sebuah panggilan berbunyi nyaring yang menyela di tengah suasana keheningan antara Mona dengan kedua sahabatnya yang sedang terpaku dengan pikirannya masing-masing,Mona yang saat itu tengah berusaha menahan tangisnya sejenak menengok ke arah ponselnya tersebut,dan ia pun melihat jelas jika di layar notifikasinya ponselnya muncul sebuah panggilan untuk dirinya.
Pak Bos is calling......
Hal yang sama di lakukan oleh kedua sahabatnya yang antensinya ikut tersita ke arah ponselnya Mona yang berdering nyaring,dan mereka pun ikut menengok ke arah layar ponsel tersebut.Sementara Mona,ia masih terdiam dan membiarkan ponselnya terus berdering.
" Mon,suami elo manggil !" Celetuk Amel dengan raut wajah datar.
Tamara melirik sinis ke Amel yang berkata demikian dan itu berhasil membuatnya tersenyum kecut.
" Heuh suami !! bos kali itu !!" Tamara menyela dengan mendecih sinis.
Amel cengengesan dengan ekpresi yang enggak banget di lihatnya,Mona yang sedari tadi sudah terlihat murung perlahan meraih ponselnya tersebut,lalu di pandanginya ponselnya itu dengan perasaan enggan.
" Angkat dong !" Ucap Amel kembali menyela dengan tak sabar.
" Paling juga gue di suruh balik !" Balas Mona dengan acuh.
Amel dan Tamara saling melempar pandangan melihat sikap Mona yang terlihat tertekan.
" Cie ada yang di suruh pulang,kangen !bilang bos !" Goda Amel tersenyum penuh arti.
" Formalitas !!" Guman Tamara menatap sebal.
" By the way elo sekarang tinggal dimana ? " Tanya Amel menatap lurus wajah Mona.
" Baru hari ini rencananya gue akan tinggal di afartemen bareng pak Banny." Jawab Mona singkat.
" APA ???" Seru kedua sahabatnya dengan kompak.
" Di afartemen ?hanya berdua ?" pekik gadis bertubuh sintal itu menatap shok.
" Ya !!" Mona mengangguk pelan.
Dengan bersamaan deringan panggilan pun terdiam,Mona yang sengaja tidak menjawab panggilan bosnya tersebut menatap tak berselera.
" Gila lo yah ! ini kan cuman sandiwara ajah Mon,elo ngapain tinggal berdua di afartemen?nanti tiba-tiba saja boskul hilap bagaimana ? " Tanya Tamara dengan gusar.
" Hilap gimana maksud elo ? " Tanya Mona menatap lurus Tamara.
" Yaa secara kalian berdua sudah nikah kan,yaa meski pernikahan kalian itu hanya bersipat sandiwara, tapi elo berdua itu sudah mengucap sebuah ikrar,Dan di mata hukum pernikahan kalian itu sah,jadi itu artinya boskul mau ngapa-ngapain elo itu udah sah alias halal dan gue rasa itu di perbolehkan juga jika pak Banny tiba-tiba melakukan hal sebagaimana layakanya pasangan suami istri !" Jelas Tamara dengan nada bicaranya penuh penekanan.
" Tumben lempeng nih bocah !" Guman Amel menatap seksama sahabatnya itu yang sedari tadi gak ada bosannya membenarkan poni pendeknya walau keadaan poni tersebut rapih.
" No !! tidak ada kontak fisik selama sandiwara gue berlangsung." Sergah Mona dengan ketus,bibir mungilnya terlihat maju beberapa centi.
" Gak mungkin,gak mungkin.Itu gak mungkin dan gue gak bisa jamin kalian akan lempeng-lempeng aja,secara elo berdua satu kamar,dan hal yang tak pernah elo inginkan bisa saja terjadi Mon." Sergah Tamara dengan kekeh menyangkal.
" Gue rasa ucapan si Tamara kali ini benar." Amel menyela dengan membenarkan posisi duduknya.
Tamara menoleh cepat ke arah sahabatnya yang satu ini dengan ekpresi sembelit.
" Woi,emang selama ini ucapan gue salah terus apa ?enak bener ye lo kalau komen." Ucapnya dengan merengut.
" Elo kan biasanya kesambet apa dulu gitu,baru bisa lempeng omongannya. " Amel kembali menimpali dengan tersenyum cemooh ke arah Tamara.Gadis bertubuh jangkis itu hanya melengos menatap sebal.
" Untuk hal ini gue yes." Tambah lagi Amel dan mengabaikan Tamara yang mulai menatapnya dengan jengah.
" Dan gue rasa timeingnya pas untuk lo membuat pak Banny jatuh cinta sama elo." Ujar kembali Amel menatap penuh arti.
" Maksud elo ?" Mona melirik Amel yang duduk tak jauh darinya.
" Balik lagi ke topik yang tadi,gimana caranya elo mengambil hati seorang pak Banny ?yaa ini,ini adalah kesempatan terbaik elo buat memikat hati tuh boskul,gimana Tam,lo setuju ama omongan gue ?" Tanya Amel dengan mengerlingkan matanya.
Tamara lagi-lagi hanya melengos dengan mimik muka semakin sebal.
" Ngebet banget sih elo jodohin boskul sama si Mona !!" Tambah Tamara dengan menyeringai sinis.
" Mereka udah nikah Tam,ngapain gue jodohin mereka,lowbet yahh otak lo,kumat lagi." Gerutu Amel mulai emosi.
Ponsel Mona kembali berdering menengarahi perdebatan antara kedua sahabatnya tersebut,sesaat Mona meraih kembali ponselnya tersebut yang tergeletak di atas meja.
Kedua sahabatnya saling berpandangan lalu mengangkat bahunya satu sama lain dengan acuh.
" Angkat aja kali Mon !" Ucap Amel penasaran.
Dengan perasaan malas akhirnya Mona pun menerima panggilan tersebut sebelum akhirnya ia mengisyaratkan kepada kedua sahabatnya untuk diam sesaat saat dirinya sedang berbicara dengan bosnya itu.
" Hallo !!" Sapa Mona dengan suara pelan.
( " Mona !kenapa kamu tidak mengangkat telpon saya ?" ) Terdengar suara berat dengan nada dingin dari sebrang telepon bertanya ketus.
" Maaf pak,ponselnya saya di silent,jadi tidak tahu jika ada panggilan dari bapak." Balas Mona dengan wajah penuh ekting.
(" Kok bisa ponselnya di silent ?memangnya kamu di sana dengan siapa ?" ) Tanyanya dengan penuh curiga.
Mona yang sengaja me-loadspeaker obrolan nya itu tercekat kaget setelah sang bosnya mencurigai keberadaan seseorang dengan dirinya.
Sontak kedua sahabatnya pun saling berpandangan dan sejurus kemudian mereka terlihat saling menahan tawanya setelah tahu bosnya mereka mencurigai Mona bersama seorang pria.
" Cemburu boskul Mon." Ucap Tamara dengan suara setengah berbisik.
Mona dengan cepat mengisyaratkan jari telunjuknya di mulutnya hingga mulutnya mengerucut.
" Tidak pak,saya sedang bersama Amel dan Tamara." Jawab Mona dengan wajah tanpa ekspresi.
(" Aku berharap kamu tidak telat pulang,aku jemput di tempat yang tadi." ) Ujar pria tampan itu dengan nada6 dingin.
Wajah gadis itu kian melongo mendengar pernyataan bosnya tersebut.
" Sebaiknya bapak tidak usah menjemput saya karena....." Sergah Mona dengan cepat,namun belum juga tuntas ia berbicara,dengan cepat pria tampan itu memotong kalimat gadis itu.
(" Kenapa ?" ) Balas Banny dengan suara semakin dingin.
" Saya akan pulang di antar Amel dan Tamara." Ucap Mona menolak permintaan bosnya tersebut.
(" Yakin kamu di antar oleh kedua sahabatmu itu?pokonya aku tidak mau tau aku tunggu di tempat tadi aku menurunkan mu !!" Ucap pria itu dengan ketus.
" O ow !!" Pekik Tamara dengan membulatkan bibirnya nyaris sempurna.
Mona dengan repleks membekam mulut sahabatanya itu dan memberi isyarat agar sahabatnya itu tidak mengeluarkan suara apa pun,mata bulat Tamara membelalak kaget.Namun sepertinya Mona kali ini sulit untuk mengendalikan kelakuan kedua sahabatnya itu yang memang super barbar dan susah di ajak berkompromi.Ketika ia sedang membekam mulut Tamara,Amel kali ini yang berulah.
" Eheemm !!" Gadis itu mendehem dengan keras.
" Stttt !!" Mona mendelik ke arah Amel yang mulai terlihat bersikap konyol.
" Mon,pertemuannya gimana, jadi kan ?" Tiba-tiba Tamara nyeletuk dengan santai dan itu tanpa di duga sebelumnya,alhasil celotehannya itu terdengar langsung di indra pendengarannya Banny.
__ADS_1
(" Kamu akan mengadakan pertemuan dengan siapa ?") Tanya Banny bernada curiga dari sebrang telepon.
" Hmmm." Mona melirik ke arah kedua sahabatnya lalu menatap penuh ekspresi.
Dengan sigap kedua sahabatnya itu memberi sinyal yang kompak tanpa menunggu aba-aba lagi.
" Hanya dengan teman-teman lama saja,karena sudah lama juga kita tidak bertemu jadi sore ini kita akan mengadakan pertemuan dulu,jadi sebaiknya bapak tidak usah jemput saya pulang." Ucap Mona dengan tersenyum penuh arti ke arah kedua sahabatnya itu.
Amel dengan sigap mengangkat jempolnya ke atas di sertai ekspresi luar biasa.
Sepertinya mereka paham jika Mona sedang memanasi suaminya tersebut.
( " Aku jemput sekarang !" ) Ucap Banny singkat dan......
nut....nut.... !!!
Panggilan itu berakhir !!
Mona tersentak namun tak lama kemudian ia terkekeh lucu, bersamaan dengan itu kedua sahabatnya pun ikut melakukan hal yang sama,tersenyum lebar setelah mendengar ucapan singkat yang di lontarkan bosnya tersebut.
" Gue gak percaya jika pak Banny punya rasa cemburu terhadap elo." Seru Amel dengan antusias.
" Gimana ceritanya ia bisa mencurigai elo dengan seseorang ?" Tanya Tamara heran.
Mona tersenyum geli sebelum akhirnya ia menjawab.
" Kalian tau siapa pria yang membuat pak Banny cemburu sama gue ?" Tanya Mona membagikan pandangannya.
Kedua sahabat Mona menggeleng lalu selnjutnya saling berpandangan.
" Angkasa !!" Ucap Mona singkat.
" Hah ?kok bisa Angkasa yang ia curigai?" Tanya Amel menatap tak percaya.Tamara pun tak kalah shok mendengarnya.
" Jadi pas kita chatan di group,Angksa ada Wa gue dan nanyain kabar tentang gue,gue sengaja tak balas agar doi nelpon gue,dan tak lama eh dia benar-benar nelpon gue,tapi karena berhubungan di dekat gue ada pak Banny jadinya gue abaikan saja,so jual mahal gitu deh dan kalian tahu apa yang terjadi ?" Tanya Mona sesaat lalu mengulas senyuman penuh arti.
Amel dan Tamara menggeleng dan kembali saling pandangan dengan ekpresi wajah tak sabar atas cerita sahabatnya itu.
" Pak Banny cemburu !!" Balas Mona menatap pasti.
Kedua sahabatnya hanya melongo,sepertinya merek kurang yakin dengan apa yang di ucapkan sahabatnya itu.
" Dan gue bilang juga jika Angkasa adalah seorang pria yang akan di jodohkan dengan gue." Jelasnya dengan tandas.
Hal itu berhasil membuat kedua sahabatnya kembali sok sekaligus ternganga-nganga mendengar pernyataan gadis itu.
" APA Mon ??" Pekik Amel menatap tak percaya.
" Gue harap elo sedang berhalusinasi dengan ucapannya elo itu,dan bisa saja elo lagi stress gitu karena tekanan dari pak Banny sehingga elo berpikir pria yang nenek lo jodohin sama elo adalah pak Angkasa." Ujar Amel kembali menatap sahabatnya itu dengan tatapan shok.
" Kalian berdua gak percaya kan ?apa lagi gue Mel,Tam,lo berdua bisa bayangin gue akan di jodohkan dengan laki-laki sekelas Angkasa,yaa pasti gue gak bakalan nolak lah." Ucap Mona tersenyum culas.
Amel melengos dengan mendengus kecil.
" Kenapa waktu itu lo tolak perjodohan nya ?setidaknya hal ini tidak akan terjadi di kehidupan elo." Imbuh Tamara menatap tak berdaya.
" Ini lah takdir,jika Mona nerima perjodohan neneknya,ceritanya gak akan serumit ini jadi TUHAN itu tidak akan menciptakan masalah jika gak ada hikmahnya." Gadis bertubuh sintal itu menjelaskan dengan perasaan yang begitu mantap.
" Hikmah apa Mel?sudah jelas Mona terpedaya dengan pesona laki-laki yang tidak pernah mencintainya itu,hikmahnya dari kejadian ini jangan berharap lebih terhadap pria yang punya gensi segaban." Jelas Tamara mendilak dengan perasaan kesal.
" Kita tidak pernah tahu rencana TUHAN selanjutnya akan gimana,yaah jika takdir berkata lain dan Mona berjodoh dengan pak Angkasa nanti akan ada jalan nya untuk kisah mereka Tam,apa salahnya Mona menjalani pernikahan sandiwara ini,kan hati seseorang itu tak ada yang bisa menebak,termasuk hati nya pak Banny." Jelas lagi Amel dengan bijak.
" Jadi elo sekarang ceritanya bersebrangan dengan gue ?" Tanya Amel melirik Tamara dengan sinis.
" Untuk kali ini,ya !!" Balas Tamara dengan antusias.
Amel menggeleng melihat antusias Tamara yang begitu respek terhadap sosok Angkasa agar bisa bersatu dengan sahabatnya itu.
" Kok Kalian jadi kampanye gini sih?beda pilihan bukan berarti kalian harus berselisih." Mona membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya itu.
" Gue yakin jika bos gue itu memang sudah mulai ada perasaan terhadap elo Mon." Kembali Amel menyimpulkan.
Mona mengernyitkan alisnya lalu menatap enteng sahabatnya itu.
" Gue udah gak mau geer,karena geer itu menyakitkan." Ucap Mona dengan raut wajah datar.
" Gue setuju ucapan elo." Tamara menimpali dengan sigap.
Amel menoleh Tamara dengan ekspresi wajah teramat sebal,sepertinya perasaan dia memang bertolak belakang dengan sahabatnya itu.
" Udah deh Mel,elo ga usah buat Mona berharap kembali dengan harapan elo yang semu itu !" Tamara mendelik seeaya mendengus kecil.Amel menghela melihat sikap Tamara yang benar-benar kontra dengan ke inginanya itu.
" Up to you deh Tamara." Ucap Amel menyerah.
" Mon !Gimana jika elo ngelamar kerja aja di tempat Angkasa,jika elo benar-benar di mutasi oleh pak Bos. ?" Usul Tamara mengedipkan matanya dengan manja.
Amel menarik lebar kedua sudut bibirnya dengan menatap penuh rasa jengkel yang tak terhingga ke arah sahabatnya itu.
" Gue tau arah tujuan elo kemana ?." Ucap Amel dengan sewot.
" Wkwkwkwk,,kan dari kemaren gue lebih respek terhadap cowok berparas karismatik itu,yang mukanya gak beda jauh lah sebelas dua belas sama Adipati dolken." Ucap gadis jangkis itu tersenyum penuh arti.
Wajah Amel kian merengut dengan menatap sebal ke arah sahabatnya itu.
" Gue udah di jemput Mel." Ucap Mona seraya menunjukan pesan singkat yang masuk melalui WhatApp_nya tersebut.
Wajah kedua sahabatnya itu berubah ekspresi saat mendengar perkataan Mona yang menyebutkan jika bosnya itu sudah menunggu Mona untuk pulang.
" Tam,lo bisa lihat kan jika ada sedikit perubahan dari seorang pak Banny yang telah bersedia menjemput si Mona, itu artinya tuh bos udah mulai ada perasaan terhadap lo Mon." Kembali Amel mencoba meyakinkan kedua sahabatnya itu.
" Terserah elo !!" Ucap Tamara melengos.
" Udah yah,sorry gue pulang duluan." Ucap Mona seraya bangkit lalu meraih tasnya.
Amel menatap sahabatnya itu dengan perasaan semeringah,ada harapan jika bosnya itu memang suka terhadap sekertarisnya itu.
" Dah beb !" Pamit Mona seraya berjalan dan melambaikan tangannya ke arah kedua sahabatnya.
" Daah juga beb." Balas Amel tersenyum penuh arti.
" Mon elo kapan masuk kantor lagi ?" Teriak Tamara menatap resah.
" Nanti gue kabarin !!" Ucapnya seraya berlalu.
Tamara menghela lalu menyesap abis sisa jusnya.
" Gue berharap jika pak Banny merubah niatnya untuk menceraikan Mona." Ucap Amel melirik Tamara dengan menatapnya penuh arti.
__ADS_1
" Elo berharap Mona bisa menjadi pasangann sesunnguhnya pak Banny ? " Tamara memperjelas pertanyaan nya Amel.
Dengan sigap gadis bertubuh sintal itu mengangguk.
" Karena dia layak bahagia Tam,gue yakin jika mereka berdua akan saling mencintai." Imbuhnya dengan penuh percaya diri.
" Tapi gue lebih suka Mona berpasangan dengan Angkasa." Sela Tamara memberikan usul.
" Takdir Tam,ini takdir." Ucap Amel tersenyum penuh kemenangan.
Tamara membuang wajahnya dan tersenyum kecut raut wajahnya terlihat sangat asam.
" Haii,Soree semua !!" Tiba-tiba suara renyah menyapa di tengah-tengah mereka.
Dengan bersamaan Amel dan Tamara menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Mata bulat Amel beserta Tamara membelalak lebar saat ia mengetahui sipemilik suara itu yang tiada lain adalah Angkasa,baru saja mereka membahas pria yang memiliki karismatik tinggi,kini pria itu berdiri di hadapan mereka dengan tersenyum hangat.Sesaat mereka pun hanya melongo dengan perasaan terkejut sekaligus bercampur heran atas kehadiran pria tersebut secara tiba-tiba.
" Kok kalian hanya berdua saja ? mana Mona ?" Tanya pria itu menatap gantian ke arah Tamara dan Amel yang masih terheran-heran atas kehadirannya.
" Mo Mona baru saja pergi,di jemput sama suaminya." Ucap Amel terbata.
" Di jemput ??" Tanya Angkasa sedikit menyeringah heran.
Senyumannya yang hanya seulas namun cukup membuat kedua gadis itu menelan air liurnya dengan repleks.
" Yaah,di jemput !! secara kan status Mona sekarang udah berbeda dengan kita jadi gak bisa kumpul bareng dalam waktu yang lama." Jelas Amel tersenyum pasi.
Sementara Tamara ia larut dalam senyum hangat pria itu yang di rasa cukup membuatnya terlena.
" Aku boleh duduk ?" Tanya Angkasa menatap dua gadis tersebut meminta izin untuk duduk di antara mereka.
" Tentu saja !silahkan !" Sela Tamara dengan antusias mempersilahkan pria tampan itu duduk di hadapannya.
Amel menggeleng dengan tersenyum sinis ke arah sahabatnya itu.
" Thank's !!" Balas Angkasa seraya duduk di tengah-tengah mereka(Amel dan Tamara ).
" Oya pak Angkasa lagi ngopi juga di sini ?" Tanya Amel memberanikan diri untuk bertanya.
" Ya,hanya nemenin ngopi saja.Tadi ada sedikit pekerjaan dengan salah satu rekan satu perusahan jadi kita mampir kesini sejenak untuk sekedar ngopi dan ngobrol-ngobrol,begitu mau pulang saya liat kalian dan saya pikir jika ada kalian Mona pasti ada Mona,tapi ternyata Mona sudah pulang ya ?" Ucap pria berwajah karismatik itu menatap dengan perasaan kecewa.
" Ya,tadi kita lumayan cukup lama lah ngobrol sama dia,ya gak Tam.Tapi sayang pak Banny tiba-tiba menjemputnya,padahal kita juga masih kangen ingin ngobrol-ngobrol hal lain sama dia." Ujar Amel melirik Tamara yang masih memandang dalam wajah pria itu dan menikmati pesona ketampan yang di miliki oleh pria yang berwajah karismatik yang sedari tadi tak lepas menyuguhkan senyuman nya yang begitu seksi.
" Oya,aku mau tanya sesuatu sama kalian boleh ? " Tanya Angkasa dengan mengeserkan bola matanya dan membagi pandangan ke setiap wajah dua gadis itu.
Sesaat Amel dan Tamara saling melemparkan pandangan nya dan menatap satu sama lain dengan perasaan resah.
" Hal apa ya ?" Jawab Amel menyela dan menatap lurus pria yang sedari tadi sorot matanya terlihat tajam menatap ke arah dirinya dan Tamara.
" Ini tentang pernikahan Mona dengan Pak Banny !" Ucapnya pelan namun cukup membuat kedua sahabat Mona itu tercekat mendengarnya.
" Waduhh !" Pekik Tamara dengan ekpresi wajah tertekan dan sontak saja wajahnya terlihat shok,namun tak berapa lama gadia berponi pendek itu terlihat tersenyum manis.Seakan-akan dia paham dengan apa yang akan di pertanyakan pria tersebut.
" Ada apa ya pak ? " Jawab Amel dengan datar.
" Kalian kan sebagai sahabat dekat Mona tentunya pasti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahannnya Mona? " Ujar pria berkarismatik itu dengan tenang,sorot matanya terlihat begitu menghanyutkan begitu sampai di netra kedua gadis itu.
Kembali kadua sahabat Mona,Amel dan Tamara saling bertatapan dengan perasaan kian meresah.
Dan Amel dapat merasakan jika pria terssebut meragukan akan kebenaran pernikahan sahabatnya itu.
" Maksud pak Angkasa apa ya ?" Amel berpura-pura untuk tidak terlalu paham dengan pernyataan pria berkarismatik tersebut.
" Apakah benar pernikahan Mona dan pak Banny hanya sandiwara belaka? " Imbuhnya langsung ke inti permasalahan.
Deekkkk....
Jantung kedua gadis itu berdekup kencang saat mendengar pertanyaaan dari pria itu,mereka yakin jika pria berwajah berkarismatik itu mengetahui pernikahan sahabatnya itu hanya sandiwara belaka.
Amel menghela lalu menatap dalam ke arah Tamara yang ikut berubah air mukanya saat di tanya perihal pernikahan sahabatnya itu.
Tentu saja ini adalah kenyataan yang berat jika mereka harus mengatakan sejujurnya kepada pria Asing tersebut,bagi dirinya dan Tamara Angkasa adalah sosok lelaki asing yang baru saja hadir di kehidupannya Mona,namun sesungguhnya jika pria berwajah karismatik ini adalah sosok pria yang sudah lama di canang-canangkan oleh neneknya Mona untuk di jodohkan dengan sahabatnya itu.
Amel terdiam menatap tak bergeming perasaanya bercampur aduk seolah-olah dirinya merasa keberatan jika pria ini harus mengetahui pernikahan sahabatnya yang sesungguhnya,dan itu artinya pria ini berpeluang besar bisa mendapatkan hati seorang Mona.
Tamara menatap hal yang sama ke arah dirinya,namun dengan ekspresi yang berbeda,dan itu dapat terlihat dari raut wajahnya yang ingin mengatakan jika pernikahann sahabatnya itu memang sandiwara.
" Kok kalian diam saja?apa kalian benar-benar mengetahui hal itu ?" Tanya Angkasa kian mencecar dua gadis itu dengan tatapan yang sulit mereka hindari.
" Kenapa pak Angkasa bertanya masalah ini ? " Sejurus kemudian gadis bertubuh sintal itu berbalik tanya.
" Ada sesuatu hal yang aku tunggu di balik pernikahan mereka,jika memang pernikahan ini hanyalah settingan maka aku berpeluang besar untuk mendapatkan Mona." Jelasnya dengan tersenyum penuh harapan.
yaa harapan besar jika ia bisa mendapatkan hati gadis sederhana itu.
" Maksud Bapak? bapak berharap lebih dari..... " Tanya Amel mengernyit,ucapannya menggantung lalu menoleh Tamara dengan tatapan ragu.
Sudah dapat di pastikan jika pria di hadapannya ini memang mencintai sahabatnya itu.
" Yaa saya mencintai sahabat kalian !!" Ungkap prìa itu tandas.Apa yang di ucapkan pria itu penuh kepastian jika ia benar-benar mencintai Mona sahabat mereka.
Sontak kedua sahabat Mona tercengang mendengar pernyataan pria yang menyatakan isi hatinya untuk sahabatnya itu,Amel menghela menatap panjang wajah pria berkarismatik itu.
Dan entah kenapa dirinya melihat sorot mata pria itu terlihat sangat terpancar dalam.
" Jadi pak Angkasa mencintai Mona,sahabat kami ?? " Tanya Amel terbata,Tamara terkatup-katup dengan bola mata kian berbinar-,binar seolah-olah ia mendukung penuh aksi pria tersebut.
" Yaa,dan aku mengetahui jika pernikahan Mona itu hanya seetingan belaka,jadi aku rasa aku tidak ada salahnya berharap masih bisa mendapatkam kesempatan itu." Jelasnya dengan penuh keyakinan.
" Tetapi ikrar mereka tidak settingan pak dan pernikahan mereka terikat kuat,hanya saja mereka belum bisa saling mencintai dan saya yakin jika Mona dan pak Banny suatu hari nanti akan saling mencintai." Terang gadis betubuh sintal itu menatap penuh arti ke arah Angkasa.
" Tapi itu belum tentu juga Mel,perasaan seseorang itu tidak akan berubah begitu saja,dan itu perlu waktu." Imbuh Tamara si gadis berponi pendek itu mematahkan asumsi sahabatnya sendiri,Amel mendilak dengan perasaan gusar saat melihat sikap polosnya Tamara yang justru menolak mentah pernyataanya tersebut.
"Jadi benar kan jika pernikahan itu hanya settingan?." Tanya kembali pria itu mentap secara gantian ke arah dua gadis tersebut.
" Ya !" Jawab Tamara singkat.
Sontak Amel tesentak dan replek ia membelalakan bola matanya dengan sempurna ke arah sahabatnya itu.
" Dan pernikahan itu hanya akan bertahan di tiga puluh hari saja." Ujar Tamara kembali secara blak-blakan.
Amel semakin bungkam melihat aksi sahabatnya itu yang kian berani mengatakan yang sebenarnya antara Mona dengan bosnya tersebut.
" Saya rasa Mona berhak untuk bahagia meski bukan dengan pak Banny." Ucap Tamara kian bersemangat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Amel kian menatap gusar ke arah sahabatnya itu,kenapa Tamara begitu antusias menghadirkan pria ini di kehidupan sahabatnya itu,Mona.
__ADS_1
" Aku rasa seperti itu." Balas Angkasa tersenyum enteng,mengaamiinkan perkataan gadis jangkis itu dan hal itu seperti angin segar bagi pernapasnya ketika salah satu sahabatnya Mona mendukung penuh dirinya.
Amel mengangkat tinggi bahunya dengan perasaan cuek,ia tidak ingin terlalu jauh melibatkan dirinya dalam perasaan sahabatnya itu,toh jika memang sahabatnya itu (Mona ) layak bahagia maka tangan TUHAN akan melibatkan kuasanya dengan rencana indah-NYA.