
PRIA tampan berwajah dingin itu menatap bayangan wajah dirinya di pantulan cermin washtapel toilet,Banny dengan sengaja menghindar sejenak dari acara makan malamnya hanya untuk mendinginkan otaknya yang terasa membara setelah melihat perhatian istimewa dari seorang pria yang bernama Angkasa terhadap sekertarisnya tersebut.
Jika Angkasa bisa menyimpulkan Mona adalah seorang gadis yang penuh talenta dalam waktu yang sesingkat itu,lalu menilai seperti apa dirinya terhadap gadis seukuran Mona yang setiap harinya berkecimpung dalam urusan pekerjaan bersamanya.
Kenapa ia tidak serespek Angkasa terhadap gadis tersebut?
Lalu selama ini ia menganggap apa gadis smart itu yang setidaknya ikut andil dalam membesarkan nama perusahaanya tersebut.
Banny menghela dengan terus menatap bayangan dirinya di cermin tersebut.
Rasanya terlalu naif bagi dirinya yang tak bisa melihat kelebihan dari seorang Mona yang hanya melihat dari sebuah fisik saja.
Yaa Mona memang tak secantik Kinaya,dia pun tak sesempurna itu.
Tapi justru sosok Mona lah yang terasa menyempurnakan kehidupannya.
Banny tercenung menelesuri jalan pikirannya, sosok pria bernama Angkasa itu seperti sebuah ancaman bagi kehidupanya,ia menyadari sepenuhnya jika Angkasa adalah sosok pria yang memiliki karismatik tinggi,serta memiliki kepribadian yang humble,ia yakin jika akan banyak wanita yang jatuh hati dengan kekarismatiknya tersebut, dan hal itu bisa terjadi kepada perasaan sang sekertarisnya.
Sekilas Angkasa memang tife pria yang pandai mengambil hati seorang wanita,tidak seperti dirinya yang kaku dan terskesan memilih.Yaa perbandingan sikap antara pria itu dengan dirinya memang sangat jauh.Sosok pria itu mempunyai kelebihan yang tak di miliki oleh dirinya dan itu bisa jadi akan mengalihkan perhatian sang sekertarisnya tersebut.
Sesaat Banny mengingat kembali saat pertemuan sekertarisnya itu dengan pria berwajah karismatik,dan pertemuan mereka tersebut sepertinya penuh kesan,hingga akhirnya mereka di pertemukan kembali di perusahaannya tersebut.
Kecurigaanya menguat jika Mona sudah terlebih dahulu mengenal Angkasa dan itu artinya Mona memiliki peluang besar untuk bisa lebih dekat dengan pria tersebut.
Banny menggeleng kian frustasi,perasaanya entah kenapa di liputi perasaan takut,takut jika ia akan kehilangan sosok Mona dari kehidupannya.
Banny menghela napas panjang lalu mengeluarkanya dengan kuat.
GILLA !!! Kenapa dirinya jadi sepanik ini?
Sosok gadis itu kini kian meracuni seluruh isi otaknya.Dilipatnya bibir tipisnya itu dalam-dalam dengan sorot mata terlihat galak.Ia sedang berpikir keras untuk menjauhkan pria itu dari sekertarisnya tersebut,dan ia memilih jalan satu-satunya untuk menjauhkan Mona dari Angkasa ia harus mengakui jika sekertarisnya itu adalah tunangannya.
Yaa....,ia harus mengatakan hal itu kepada Angkasa,maka tak ada peluang bagi pria itu untuk mendekati sekertarisnya tersebut.
Sorot matanya telihat licik menatap ke arah bayangan wajahnya di cermin,lalu perlahan ia pun menyunggingkan senyuman khasnya yang terilhat begitu sangat angkuh.
Banny bergegas keluar dari toilet hotel tersebut lalu berjalan menuju koridor yang mengarah ke Ballroom tempat acara makan malam tersebut,baru saja langkah kakinya berjalan menjauh dari toilet pandangannya terbentur ke sebuah sudut ruangan yang terdapat satu meja dengan empat orang tamu di antaranya satu pria dan tiga perempuan dengan berpenampilan sedikit syur dan gelamor tengah bercengkrama begitu akrab dengan salah seorang pria.
Banny melambatkan langkahnya lalu mencoba menegaskan pandangan-nya kehadapan sosok pria yang tengah di kerumunin tiga perempuan itu.
Dahi Banny berkerut dengan memicingkan kedua matanya.
Banny terhenyak sesaat melihat dengan jelas wajah pria tersebut.
Ya !dia sangat yakin jika dirinya mengenali sosok pria tersebut.
" Sultan !!" Gumannya dengan suara tertahan.
Batapa tidak,ia mengenali betul sosok pria itu yang telah merampas cintanya seorang Kinaya dari hatinya.
Ya pria itu yang terkenal akan ketajirannya dan mampu mengalihkan cintanya seorang Kinaya perempuan cantik yang menjadi cinta pertama dirinya.
Amarahnya terasa bergejolak kembali ketika ia harus mengingat dengan gamlang akan sikap pencundangnya seorang Sultan yang telah berani merebut seorang perempuan darinya dengan menggunakan ke kuasaanya tersebut.
Pantas saja perempuan yang pernah ia cintai itu kini mengemis-ngemis kepada dirinya untuk kembali,jika kelakuan pria tersebut sangat memalukan.
Banny mendencih lalu melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang cukup terganggu atas kehadiran pria itu yang telah lama hilang dari ingatannya.
Tepat hanya beberapa langkah lagi menuju ke arah tempat duduknya,Banny kembali di buat jengah ketika pandangannya harus melihat sekertarisnya sedang tertawa lepas bersama pria itu,entah apa yang sedang mereka tertawakan, sehingga dirinya dapat melihat keiklasan serta kebahagiaan yang tulus terpancar dari wajah gadis tersebut.
Banny terdiam menunda langkahnya dan untuk kesekian kalinya ia harus menahan kembali perasaanya yang sedang bergemuruh di dadanya.
perasaanya tertahan dengan apa yang sedang ia lihat,sosok pria itu mampu membuat gadis itu tersenyum bahagia dengan kehadirannya,lalu dirinya ???
Banny menatapi dirinya yang tak mampu memberi rasa itu terhadap gadis itu, setidaknya ia mengakui perasaannya secara gentleman.
Gadis itu tertawa lebar dengan memperlihatkan barisan giginya yang rapih,menikmati sebuah candaan dari sosok pria berwajah karismatik tersebut yang mampu membuatnya tertawa lucu,jika sebelumnya di beberapa jam yang lalu ia sempat menangis mengeluarkan air matanya dengan cuma-cuma untuk menangisi sosok pria tampan berwajah dingin.
Tapi TUHAN selalu ada rencana lain untuk setiap hambanya yang sabar,dan selalu ada cara untuk menghapus air mata seseorang serta mencabut kesedihanya menjadi sebuah tawa bahagia.
Senyuman lebarnya terhenti seketika sesaat ia melihat pria tampan itu tengah menatap dirinya dengan perasaan yang tak bisa ia pahami.
Mona segera menjaga sikapnya dengan menarik kembali senyuman lebarnya itu,agar tidak terlihat konyol di hadapan pria berkarismatik itu.Ada hati yang harus di jaga saat ia bersama pria lain.
" Hei pak Ban,sudah selesai ?" Tanya Angkasa menghentikan tawanya dan menatap lurus ke arah dirinya yang perlahan menghampirinya.
" Su sudah." Jawab Banny singkat lalu duduk di samping gadis itu dengan acuh.
Entah ruangan-nya tak ber-ac entah itu perasaanya yang sedang panas sehingga dirinya merasa kegerahan sendiri.
Banny menatap ke atas lagit-langit ruangan ballroom nan megah itu seraya membenarkan jasnya yang sedikit kurang nyaman membalut tubuhnya.
" Ada masalah pak Banny ?" Tanya Angkasa menoleh ke arah Banny yang sedang merasa tidak nyaman dengan keadaanya tersebut.
__ADS_1
" Oh tidak pak,saya baik-baik saja,cuman agak sedikit kepanasan saja." Ucap Banny dengan mengipas-ngipaskan tangannya ke udara seraya melirik gadis itu dengan penuh arti.
Mona terdiam menatap peka ke arah bosnya tersebut.
" Pak Banny kepanasan ?" Tanya Angkasa dengan sangat heran,dirinya merasa Banny sedang keliru dengan perasaanya tersebut.
Mona menoleh dengan penuh tanda tanya ke arah bosnya tersebut,meski bosnya tidak bicara secara langsung akan perasaanya,tapi perasaanya mampu menangkap sikap ketidak nyamanan yang di rasakan bosnya tersebut kala ia melihat dirinya akrab dengan koleganya tersebut.
" Kalau begitu tunggu sebentar pak,saya akan komplen dulu sebentar ke pihak maintance hotel ini,agar dapat menambah suhu ruangan ini pak Banny." Ucap Angkasa menatap penuh pria tampan itu.
" Tidak.Tidak usah pak Angkasa,mungkin badan saya-nya saja yang kurang vit,jadi suhu badan saya kurang stabil." Ujar Banny dengan wajah datar.
" Haduh,mohon maaf atas ketidak nyamanan pak Banny." Ucap Angkasa menatap tidak enak hati.
" It's ok pak,what ever." Ucap Banny dengan tersenyum kaku.
" Oya pak Angkasa,maaf saya mau bertanya sesuatu,boleh ?" Tanya Banny menatap penuh ke arah wajah Angkasa.
Mona menoleh ragu ke arah maksud bosnya tersebut yang terlihat menatap serius ke arah pria itu.
" Iya pak Ban,tentu saja boleh,anda akan bertanya perihal apa ?" Tanya balik Angkasa dengan ramah.
" Pak Angkasa kenal dengan pria yang sedang duduk di sudut ruangan itu?" Tanya Banny seraya menunjuk ke arah sudut ruangan yang tak jauh dari tempat duduknya tersebut.
Angkasa menoleh ke arah yang di tunjukan oleh Banny dan ia pun memicingkan matanya menyimak jelas ke arah sudut ruangan itu yang terdapat seorang pria dengan tiga perempuan yang menemaninya.Sesaat mulut pria itu membentuk hurup o.
" Oh, itu pak Sultan namanya,tentu saja saya sangat mengenalinya,dia adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan saya." Jelas Angkasa menjelaskan sosok seorang Sultan.
Banny terkesiap menatap penuh keterkejutan,pantas saja pria tengil itu di gandrungi banyak perempuan jika ia tak setajir itu.
" Dan hotel ini merupakan salah satu investasinya pak Sultan yang di kelola oleh salah satu perusahaan cukup ternama di ibu kota ini." Jelas Angkasa mendetail.
Banny terdiam menatap dengan berbagai perasaan.
" Memangnya kenapa pak Ban?pak Banny mengenali pak Sultan juga ? " Tanya Angkasa menatap penuh curiga.
" Hmmm,tidak terlalu.Saya sempat melihat dia di sebuah pemberitaan media,terkait kasus isu perceraianya yang terkuak ke media masa." Jelas Banny.
" Jelas lah pak Ban,orang sekelas pak Sultan media masa akan selalu menyoroti sisi pribadinya, dan itu akan menjadi sebuah pembicaraan trending topik di mata perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungan erat dengan perusahaan beliau.Karena pak Sultan termasuk seorang pengusaha muda yang terkaya di seantereo negri ini." Jelas Angkasa menatap takjub.
Mona menoleh ke arah Banny yang raut wajahnya berbeda,tidak biasanya bosnya itu antusias mendengarkan cerita orang lain,setahu dia Banny adalah tipe orang yang tidak suka mendengar kehebatan orang lain.Namun sekilas justru ia malah menangkap raut wajah ketidak nyamanan dari raut wajah pria tampan itu ketika Angkasa menjelaskan sosok seorang Sultan.
" Tapi sayang yah,kehidupan rumah tangganya tak secermelang karirnya,jika pada akhirnya ia bercerai juga dengan istrinya dengan alasan perselingkuhan." Ucap Angkasa.
" Itu bukti jika kekuasaan tidak bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan." Sela Mona seraya melirik bosnya tersebut dengan penuh arti.
Banny terhenyak saat gadis itu berkata pelan namun terasa keras menampar perasaanya,pria itu menoleh ke arah sekertarisnya dan pandangan mereka bertemu.Wajah tampan itu seketika menatap dingin.
Angkasa menyeringah dengan menatap takjub ke arah gadis tersebut.
" Aku setuju dengan apa yang kamu katakan ,segala sesuatu tidak bisa di ukur dengan apa yang kita lihat secara kasat mata.Karena kebahagiaan itu terletak pada kenyamanan hati seseorang,saya rasa jika kita mecintai seseorang hanya dengan mengandalkan indra penglihatan justru kita akan lebih sering tertipu dengan keindahannya,berbeda halnya dengan sebuah kenyamanan,pastinya perasaan cinta itu akan timbul dengan sendirinya dan rasa nyaman akan mendominasinya." Jelas pria itu seraya meluruskan padangannya terhadap wajah gadis tersebut.
Banny kian terdiam,ucapan Mona dan pria itu membungkam perasaanya,rasanya pernyataan mereka memanglah sebuah realita yang tak bisa terbantahkan lagi.
Hati Banny menciut saat obrolan kedua orang itu kian nyambung.
" Pak Angksa mengenali mantan istrinya pak Sultan?" Ucap Banny bertanya sekaligus mengalihkan pembicraannya.Sebelum menjawab Angkasa menggeleng terlebih dahulu.
" Hmmm,untuk hal itu saya kurang tahu,karena sebelum perceraian terjadi pak Sultan nyaris tidak pernah mengekspos tentang sosok istrinya tersebut,dan saya juga tidak terlalu akrab dengan beliau meski beliau pemilik saham terbesar di perusahaan orang tua saya,maklum beliau kelas atas." Ucap Angkasa seraya berkelakar.
Banny tersenyum canggung ia merasa lega jika Angkasa tidak mengenali sosok Kinaya yang merupakan mantan istri seorang Sultan.Sesaat Banny terdiam namun ingatannya tertumpu pada cerita yang pernah Angkasa ceritakan kepada dirinya,jika pria itu telah menolong Kinaya yang pingsan di sebuah taman kota beberapa minggu yang lalu.
Banny menatap bingung ke arah pria itu,entah kenapa perasaanya di landa kecemasan,bagaimana jadinya jika Angkasa di pertemukan kembali dengan Kinaya dan mengetahui jika Kinayalah mantan istri seorang Sultan sekaligus mantan kekasihnya dulu.
Banny menggeleng lalu menatap pria itu dengan berbagai perasaan.
" Apa pak Banny tahu siapa mantan istrinya pak Sultan ?" Tanya Angkasa menatap lurus ke arah dirinya.
Sontak Banny tercekat dengan pertanyaan yang cukup mengejutkan,pria itu bertanya balik tentang sosok mantan istrinya Sultan.
Tentulah ia sangat mengenalinya mantan istri pengusaha muda terkenal itu.Namun tidak mungkin juga ia menjelaskan siapa itu Kinaya di hadapan pria ini yang sedang bekerja sama dengannya dan ia juga tidak mau membuat perasaan sekertarisnya itu merasa terganggu dengan cerita yang sesungguhnya.Entah kenapa ia menjaga perasaan gadis tersebut.
" Soalnya saya penasaran juga dengan mantan istrinya pak Sultan itu,menurut kata orang sih mantan istrinya itu seorang Model cantik." Imbuh kembali Angkasa.
Air wajah pria tampan itu memias,Kinaya memang seorang model tapi semenjak menikah dengan seorang Sultan justru karirnya menjadi redup hingga sekarang Kinaya sepertinya sudah vakum dari dunia modelingnya.Banny terpaku dengan perasaanya yang kian menganggu pikirannya.
Mona menangkap gelagad aneh dari sikap bosnya tersebut,ia merasa ada yang berbeda dari sikap rasa ingin tahu bosnya akan sosok Mantan istri dari pria yang sedang di bahasnya kini.Ada apa dengan bosnya itu yang tertarik membahas soal kehidupan seorang Sultan yang jelas-jelas tidak sama sekali di kenalnya?
Mona menatapnya dengan berbagai perasaan,mencoba menyelami isi hatinya pria tersebut,apakah ini ada hubungannya dengan perempuan cantik itu ? yang tiada lain Kinaya mantan kekasih bosnya tesebut.
Bukan kah Kinaya mantan seorang model ?tapi masa iya perempuan itu melepaskan pria setajir Sultan dari kehidupannya dan mengejar kembali cinta bosnya tersebut ?
Mona menatap gamang mengarahkan pandangannya ke arah wajah pria tersebut.
__ADS_1
Dan gadis itu diam-diam ikut sibuk memikirkan hal itu.
*********
Mobil sport berwarna metalik itu melaju dengan kecepatan maksimal membelah kegelapnya malam yang sunyi.
Hanya ada suara deru mesin yang mengisi kesunyian malam.Dua insan itu saling terdiam dengan perasaannya yang saling tertahan.
Mona menatap kosong ke arah jalanan dengan pikiran yang masih terpaut ke hal yang tadi,sepertinya ia mulai merasa yakin jika obrolan tadi itu ada hubungannya dengan Kinaya mantan seorang pria yang kini duduk dekat sampingnya yang mengemudikan kendaraanya tanpa menghiraukan dirinya.
Mona memilih terdiam dan dia pun diam-diam memperhatikan gelagad dari sikap bosnya tersebut yang sedari tadi berhasil mengundang rasa kepenasarannya.Ia memang cukup paham jika ada sesuatu hal yang sedang di rasakan oleh pria tersebut,maka pria itu memilih bungkam.
" Apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya pria itu menoleh sesaat lalu fokus kembali kelaju kendaraanya.
" Tidak ada !" Jawab nya datar.
" Jangan suka berbohong,saya tidak suka dengan orang yang suka berbohong." Balas pria itu sedikit lembut.
Alis gadis itu terlihat naik satu,lalu menatap heran ke arah bosnya yang bersikap sedikit perhatian.
" Memangnya saya pernah berbohong sama bapak ?" Tanya balik Mona menatap ragu.
" Mana saya tahu.Kan kamu sering menyimpan perasaan kamu sendiri dan suka berbohong berpura baik-baik saja." Jawab pria itu dengan acuh.
" Sok tahu." Desis gadis itu menatap sebal ke arah jalanan.
" Bukan so tahu,itu kenyataanya." Ucap Banny dengan dingin.
Mona mengangkat bahunya dengan acuh dan mengabaikan komentar pria tersebut,ia rasa pria ini memang pantas di acuhkan.
" Menurut kamu Angkasa bagaimana ?" Tiba-tiba Banny bertanya perihal Angkasa.
Mona terkejut atas pertanyaan yang di lontarkan bosnya tersebut mengenai sosok Angkasa secara tiba-tiba.
Sesaat gadis itu mencoba menelaah arti dari pertanyaan bosnya tersebut.
Apakah ini jebakan untuk dirinya atau kah hanya memancing reaksinya saja agar ia mengatakan perasaan dirinya secara tidak langsung terhadap pria berwajah karismatik tesebut.
" Kok kamu diem " Tanya lagi Banny dengan suara pelan.
Menoleh dengan tidak sabar.
Mona kian bingung,entah ke sambet setan apa pria dingin berwajah tampan itu sehingga nada bicaranya terdengar melembut.
" Hmmm,bapak ada hal apa bertanya tentang pak Angkasa?" Tanya Mona dengan perasaan ragu.
Banny hanya tersenyum tanpa ekpresi dengan raut wajah sulit di artikan.
" Sumpah,ini orang membuat gue bingung dengan sikapnya yang selalu benar-benar tidak bisa di tebak."
Gadis itu membatin.
Mona menghela,namun otak nakalnya mulai menggodanya untuk memancing reaksi cemburunya pria tersebut.
" Pak Angkasa orangnya ramah dan tipe-tipe cowok yang hangat." Ucap Mona singkat.Setelah itu dia tersenyum penuh arti,sesaat Banny menoleh kembali ke arah gadis itu dengan ekspresi datar.
" Hangat ???" Tanya pria itu menyeringah kaku.
" Iya hangat,dia sosok pria yang humble dan tidak kaku." Ucap Mona dengan enteng.
Sesat dahi pria itu mengerut mendengar pernyataan dari gadis itu yang menyanjung tinggi seorang Angkasa.Dan pernyataan itu sekaligus membuat perasaanya mendadak mual ditambah lagi ia harus melihat eksperesi bahagia dari wajah gadis itu yang seakan-akan lebih dari sekedar sanjungan saja.
Banny terdiam lalu menatap ke arah laju kemudinya dengan perasaan sesal.Menyesal telah bertanya akan hal itu jika jawabannya membuat ia merasa tidak nyaman sendiri.
" Jujur saja saya lebih suka tife pria seperti itu,nyambung dan bisa buat nyaman jika berada disisinya." Ujar gadis itu dengan sengaja membuat pria itu semakin tidak nyaman mendengar pernyataanya tersebut.
" Meeting besok jam berapa ?" Tanya pria itu dengan cepat mengalihkan pembicaraanya.
Mona terhenyak lalu diam-diam ia menoleh ke arah wajah pria itu yang terlihat memerah seperti sedang menahan sesuatu yang menekan perasaanya.
" Yeess,doi cemburu...hehe heee..!!"
Guman hati gadis itu seraya tersenyum menawan.
" pukul 09:00." Jawab Mona singkat.Masih dengan tersenyum sendiri gadis itu semakin melebarkan senyumannya setelah di dapatinya wajah pria tampan itu menahan kecemburuan terhadap dirinya,dan itu artinya pria tampan tersebut mulai menaruh perhatian terhadap dirinya.
Gadis manis itu mengulas senyuman seraya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela kaca mobil tersebut dengan perasaan bahagia.
Dia yakin jika bosnya tersebut mulai merasa cemburu terhadap sosok pria yang selalu dekat dengan dirinya,sebagai mana dulu Banny pernah bersikap seperti itu terhadap Zeanu.
" Kenapa sih kok kamu senyum--senyum gitu ?ada yang lucu ?" Tanya pria itu dengan sedikit jengkel.
" Tidak." Jawab Mona singkat,namun senyuman gadis itu semakin mengembang hingga menggunang rasa penasaran dirinya.Dan jawaban singkat dari sekertarisnya itu justru menambah kian penasaran hati seorang Banny.
__ADS_1