
" MAAFKAN saya pak,saya sudah membuat keributan,tapi semua ini saya lakukan untuk melindungi nama baiknya Mona,karena saya yakin Mona tidak serendah itu." ujar Amel menatap lurus atasanya tersebut.
Banny terdiam,ada banyak pertanyaan yang berseliweran di pikirannya mengenai kebenaran itu.
" Saya tegaskan lagi,tolong jaga sikap kamu,tidak bersikap semena-mena,kau harus ingat itu jika ingin masih bekerja disini,saya tidak suka melihat sikap arogansi kamu itu." ujar Banny pelan,namun ucapannya begitu mengena di hatinya Amel.
" Maafkan atas prilaku buruk saya ini pak,saya memang salah,tapi saya tidak bisa diam jika salah satu sahabat saya ada yang memfitnah pak." balas Amel dengan sikap tak gentar,ia mulai bersikap tidak terlalu respek atas sikap bosnya tersebut ,kali ini ia berani berbicara lebih lantang untuk menyuarakan sebuah kebenaran.
selama hampir enam tahun ia bekerja di perusahaanya Banny,maka kali ini lah ia memberanikan diri untuk bersikap lebih tegas.
Tamara tak mampu berbicara,nyalinya tak sehebat Amel ia memilih untuk diam hanya saja ekspresi wajahnya di liputi perasaan cemas hingga ia terlihat ketakutan melihat sikap beraninya sahabatnya tersebut.
Banny terdiam dengan lidah nyaris kelu,ia tak tahu harus berbicara apa lagi.
Sejenak suasana menjadi hening,Banny terlihat enggan untuk memberikan reaksi.
Amel dan Tamara saling menoleh satu sama lain melihat pria itu tak merespon ucapannya.
" Kalau begitu kami pamit izin pak,kami akan kembali bekerja." ucap Amel berniat meninggalkan ruangan mencekam tersebut,Banny masih terdiam terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu.
Amel serta Tamarapun beranjak namun..
" Tunggu !! "
sergah Banny dengan cepat,Amel dan Tamara terhenti lalu menahan tubuhnya di udara,tak lama mereka terduduk kembali dengan perasaan heran.
" Amel,kamu tahu apa tentang Mona ?" tanya Banny menatap lurus gadis tersebut.
Amel menarik napas,lalu menatap dalam sang Putra presdir tersebut,setadinya ia enggan untuk menjelaskan sesuatu mengenai sahabatnya tersebut,namun ini adalah kesempatan baik dirinya untuk membantu sahabatnya tersebut.
" Sebelumnya saya mohon minta maaf pak,jika saya ikut campur dalam permasalahan ini,tapi saya tahu percis akan semua permasalan yang tengah Mona hadapai saat ini,karena Mona sudah cerita semuanya tentang foto-foto yang kini tersebar luas di media sosial,Mona tidak menyangka jika insiden kecil yang di alaminya itu akan di abadikan seseorang untuk memperburuk nama baiknya." jelas Amel dengan tenang.
Tamara mengangguk membenarkan seluruh perkataan sahabatnya tersebut.Raut wajah dingin pria yang tampan itu terlihat semakin membeku ketika mendengar penyataanya Amel,antara percaya atau tidak namun di dalam hati kecilnya ia merasa penasaran dengan cerita yang sebenarnya,selama ini ia menutup hatinya untuk menerima kebenaran,terlampau hati dan perasaanya di kuasai oleh rasa amarah yang berlebihan.
Sosok Amel memang begitu mengagumkan ia memiliki nyali yang cukup di perhitungkan,ia berani berbuat sesuatu untuk melindungi nama baik sahabatnya.
Banny terdiam mencoba untuk mengusir rasa penasarannya yang semakin menguasai dirinya,ada ego yang tengah menguasainya,tapi kali ini ia harus mendengarkan penjelasan dari sahabat istrinya tersebut.
" Saya rasa kamu hanya sedang melindungi reputasi nama baik sahabatmu saja,tidak sedang menjelaskan sebuah kebenaran yang sesungguhnya." ujar Banny tetap dengan prasangka buruknya.
Amel menggeleng sebal,cukup tahu ia mengenal sosok seorang Banny,seorang pimpinan perusahaan yang keras kepala.
" Yaa saya sedang berusaha untuk melindungi reputasi sahabat saya,karena semua ini fitnah belaka," ujar Amel tersenyum datar mencoba mengendalikan perasaan marahnya yang mulai terpancing dengan perkataan bosnya tersebut.
Banny tersenyum penuh arti dengan sorot mata yang begitu sinis.
" Tapi jika kebenarannya Mona tidak melakukan apa-apa dengan pria lain maka apa yang akan bapak pertaruhkan dalam permasalahan ini ??" tanya balik Amel begitu lantang.
Banny mengernyit lalu menatap stafnya tersebut dengan menyeringai sinis,ia membatin jika nyali gadis tersebut benar-benar luar biasa menantang dirinya untuk mempertaruhkan sesuatu dalam sebuah kebenaran yang ia tolak.
Banny tersenyum remeh dengan sedikit menggelengkan kepalanya,sikapnya menggambarkan jika dirinya adalah sosok seorang yang begitu angkuh,Tamara yang hanya menyimak dengan terlihat memasang wajah begitu tegang dengan jantung berdebar tak karuan,ia takut juka Amel akan bersikap berlebihan terhadap atasannya tersebut.
" Kamu terlalu berani dalam mempertaruhkan nama baik sahabat kamu itu." desis Banny tersenyum ironis.
" Maaf pak,saya hanya ingin membuktikan jika Mona adalah korban dari jebakan seseorang." jelas Amel kembali.
Banny kian tersenyum lebar melihat sikap aneh sahabat istrinya tersebut.
" Di jebak ??? Siapa orang yang gak memiliki pekerjaan hingga menjebak Mona heh ?" desisnya tertawa penuh cemooh.
Amel menghela napas,sikap pria itu benar-benar membuatnya terpancing kembali emosinya,namun ia sadar jika orang yang di hadapinya sekarang ini adalah orang yang berperan penting dalam perusahaannya tempat ia bekerja.
" Heu,Amel kamu bertanya apa ? tentu saja saya tidak akan mempertaruhkan apapun dengan kebenaran ini,aku memiliki opini sendiri atas permasalahan ini." ucap Banny tandas.
__ADS_1
Kembali Amel menghela dengan perasaan semakin muak atas sikap angkuhnya seorang Banny.
" Jika Mona terbukti salah maka saya akan mempertaruhkan pekerjaan saya.Dan saya akan mengundutkan diri dari perusahaan bapak ini." jelasnya dengan begitu lantang,sorot matanya begitu tajam menatap pria yang tengah tersenyum penuh cemooh kepadanya.
Alangkah terpananya Banny menatap dengan sejuta pandangan atas ucapan staffnya tersebut yang begitu beranidalam membela nama baik sahabatnya tersebut.
Kepala pria itu terangkat tinggi dengan menatap rendah ke arah gadis tersebut.
" Tapi jika saya terbukti benar dan Mona tidak melakukan hal buruk seperti apa yang di tuduhkan bapak terhadap Mona,maka saya akan meminta bapak untuk mempertaruhkan sesuatu hal." ujar Amel dengan nada bicara penuh di setiap kalimatnya.
Tamara menelan slavinanya,urusan kian rumit berhadapan dengan Amel memang tak segampang membalikan telapak tangan,sikapnya yang kritis mampu membuat tak berkutik lawan bicaranya,sekelas bos pun ia berani hadapi jika ia memiliki sebuah keyakinan yang benar.
Sontak bola mata pria itu membulat,menatap penuh ancaman.
" Jadi kamu berani menantang saya ? " tanya Banny dengan tetap tersenyum sinis.
" Maaf pak,demi sebuah kebenaran saya berani mempertaruhkan segalanya.Termasuk pekerjaan saya." jawabnya kian mantap.
Tamara terlihat panik melihat sikap sahabatnya tersebut yang kian lantan menyuarakan kebenaran.
Banny menggeleng dengan tersenyum-senyum penuh kepalsuan.
" Amel,amel,kamu hanya buang-buang waktu saja untuk membuktikan kebenaran tentang sahabatmu itu,semua sudah jelas jika sahabat kamu itu telah menyalahi kepercayaan saya." ungkap Banny tersenyum penuh misteri.
" Justru bapak yang buang-buang waktu untuk mengungkap kebenaran ini,bapak menelan bulat-bulat kesalahan yang belum pasti,dan tentunya bapak telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengar semua penjelasan dari Mona,saya begitu yakin jika Mona bukan tife perempuan yang mudah jatuh cinta,apalagi sampai melakukan hal yang di tuduhkan bapak terhadapnya,saya mengenal Mona tidak dengan waktu yang sebentar." ungkap Amel kian mantap serta penuh keyakinan jika dirinya berada di posisi yang benar.
Banny tertegun mendapati keyakinan yang begitu nyata terpancar dari raut wajah staffnya tersebut,entah kenapa perasaanya kini mulai terasa bereaksi jika selama ini ia terlalu egois dalam bersikap.
Tok..tok...tok....
Belum sempat berbicara,Banny serta kedua staffnya di kejutkan oleh suara pintu di ketuk cukup keras,lalu ketiganya menoleh ke arah pintu tersebut secara bersamaan.
" Masuk !" titah Banny datar.
Dengan bersikap sedikit masa bodoh Arnetta melewati kedua staff tersebut dengan bersikap tak ingin melihatnya,menganggap mereka seperti tak ada.
Menanggapi sikap sekertaris bosnya tersebut Amel dan Tamara saling berpandangan dengan penuh isyarat, kedatangan sekertaris cantik tersebut membuat opini baru di pikiran nya mereka.
" Ada apa Ane ?" tanya Banny segera bertanya atas kedatangan sekertarisnya tersebut.
" Maaf mas,saya perlu tanda tangannya mas saat ini juga." ujar Arnetta seraya berjalan mendekat ke arah meja atasannya tersebut.
Amel melirik kecil ke arah sekertaris cantik tersebut,selintas sikap sekertaris itu terlihat sedikit berbeda ketika berbicara kepada bosnya tersebut.
" Ok.nanti akan saya tanda tangani." ujar Banny acuh.
" Tapi mas, saya membutuhkan cepat tanda tangannya mas,ada beberapa pekerjaan harus segera terselesaikan." ujar Sekertaris cantik itu berkilah,ujung matanya melirik ke arah Amel dan Tamara,ia berharap jika kedua staff tersebut segera pergi dari ruangannya Banny.
Amel dan Tamara saling berpandangan,entah kenapa feeling Amel kali ini bekerja begitu cepat,sehingga ia berasumsi jika sekertaris bosnya ini tengah mengusirnya secara tidak langsung.
" Tunggu beberapa menit,saya sedang berbicara penting dengan mereka." ujar Banny seraya menunjuk ke arah staffnya tersebut dengan pandangannya.
Arnetta mengalihkan pandangannya ke arah Amel dan Tamara,namun dengan cepat ia segera berpaling.
" Hmm,tapi mas,sepertinya ini urgen,sebaiknya mas tunda dulu pembicaraanya,dan nanti mas bisa sambung kembali, pendatanganan ini menyangkut proyek baru perusahsan kita mas,dan saya harus bergerak cepat dalam menyelesaikan pekerjaan ini." ujar sekertaris cantik itu seraya mendilak manja ke arah dua staff tersebut.
Amel dan Tamara hanya saling menoleh satu sama lain,namu tak lama mereka saling melengos,membuang wajahnya dengan sedikit kesal melihat sikap sekertaris bosnya itu yang mulai bersikap tak wajar.
Banny mencoba mempertimbangkan dengan menatap kedua staffnya tersebut.
" Baiklah !! Kalian boleh kembali bekerja,nanti kita bicarakan lagi hal ini." ujar Banny setelah mempertimbangkan keputusannya.
Amel tak menjawab ia hanya mengangguk,lalu beranjak di ikuti Tamara yang berjalan menyusulnya meninggalkan ruangan yang begitu terasa pengap bagi mereka.
__ADS_1
Arnetta tersenyum penuh arti melihat kedua sahabat Mona pergi meninggalkan ruangan bosnya.
Banny segera mengambil sebuah Amplop berwarna coklat yang di sodorkan Arnetta kepada dirinya,lalu membuka isi amplop tersebut beberapa detik kemudian ia terlihat menyimak isi Amplop tersebut,dengan sigap ia pun mendatangani surat tersebut tanpa memperdulikan Arnetta yang sedari tadi menatapnya dengan penuh arti.
Selesai mendatangani surat tersebut Banny menyerahkan kembali ke pada Arnetta.
" Beberapa pekerjaan sudah menunggu kita mas,kita akan survey langsung ke beberapa tempat untuk proyek baru kita." ucap Arnetta dengan gemulai ia merapihkan amplop tersebut,raut wajahnya begitu ceria.
" Tolong kamu atur saja semua skejulnya." ujar Banny seraya memasukan bolpoinnya ke dalam saku tukedo berwarna silver.
" Tentu saja mas,aku akan atur semua pekerjaan ini dengan baik." balas Arnetta tersenyum cemerlang.
Banny hanya mengangguk tanpa bereaksi lebih.
" Mas," panggil Arnetta seraya mendekap Amplop berwarna coklat tersebut.
Banny mendongkak lalu menatap ke arah sekertarisnya dengan penuh tanya.
" Hmm,kalau boleh tau,ada urusan apa sahabatnya istri mas datang ke ruang mas." tanya Arnetta ragu.
Banny terdiam namu terlihat gamang,Arnetta menunggu jawaban dengan begitu sabar.
" Mereka tadi sedikit bermasalah dengan beberapa staff yang lainnya." jawab Banny dengan kembali fokus ke layar laptopnya.
" Bermasalah ?? " tanya Arnetta penuh rasa penasaran.
" Ya,,mereka berselisih paham sehingga menimbulkan sedikit keributan." balas Banny masih terlihat acuh.
" Sepertinya mereka memang sedikit arogan mas," ujar Arnetta menambahi.
Banny menghela napas.
" Sepertinya kasus perselingkuhan Mona tersebar luas di dunia maya." ucap Banny pelan.
Arnetta terhenyak lalu menatap intens wajah pria tersebut.
" Sejauh itu kah permasalahan yang terjadi mas,hingga dunia luar mengetahui kasus perselingkuhannya istri mas tersebut." ujar Arnetta berkomentar.
" Entahlah !!" balas Banny terlihat bingung.
" Mas,media sosial itu memang kejam,tapi itu semua telah membuktikan jika istri mas benar-benar telah menghianati kepercayaan mas." Arnetta kian berkomentar dengang leluasa.
Banny terdiam sulit untuk menentukan sikap.
" Lalu mas hanya diam saja ketika istri mas berselingkuh? Apa yang di lakukan istri mas itu sudah mencoreng nama baik perusahaanya mas,semua foto-fotonya sudah tersebar luas di media sosial." ujar kembali Arnetta terkesan menghasut Banny dengan segala komentarnya.
Banny terdiam,sepertinya ia termakan akan hasutan sek sertarisnya tersebut.
" Mas,maafkan aku jika aku terlalu ikut campur dalam permasalahan ini,tapi sebaiknya mas harus segera mengambil sikap atas permasalahan ini,mas gak bisa diam saja,sebelum semuanya menjadi rumit,saya berharap permasalahan ini tidak berpengaruh dalam pekerjaan baru kita mas." ungkap Arnetta kembali.
Banny kian terdiam menatap sekertarisnya itu serbasalah,apa yang di katakan sekertarisnya itu sedikit membenarkan permasalahan yang tengah ia hadapi kini.
" Apa yang haru aku lakukan ? " tanyanya bimbang,ia merasa jika dirinya saat ini bukanlah seperti dirinya yang biasa,yang tegas dalam mengambil sebuah keputusan,justru dirinya kini di hadapi dengan perasaanya yang mulai berperang dengan egonya.
" Sebelum semuanya semakin rumit,mas secepatnya harus menceraikan istri mas itu,mas akan malu memiliki istri yang ternyata diam-diam berselingkuh,ini sungguh memalukan." ujar Arnetta berapi-api ia berusaha meracuni semua isi kepalanya pria berwajah dingin tersebut,Banny menatap dalam wajah cantik sekertarisnya itu,Arnetta tersenyum tipis,mengembangkan senyumannya yang begitu merekah,entah kenapa ia begitu berselera menghasut perasaannya Banny untuk membenci istrinya tersebut.
" Mas,sebelum semuanya terlambat,alangkah baiknya mas tidak usah mempertahankan lagi sesuatu hal yang sudah jelas menyalahi sebuah kepercayaan,aku cukup tau bagaimana perasaan ini begitu hancur ketika seseorang yang kita cintai menghianatinya." ujar Arnetta terlihat penuh drama.
Banny menatap penuh wajah sekertarisnya tersebut,bualan demi bualan mulai menghasut pikirannya,ucapan yang begitu lembut terucap dari bibir sekertarisnya tersebut sesungguhnya sedang membuatnya tersesat,namun sayang ia telah sepenuhnya mempercayainya.
Banny menghela,kini ucapan sekertarisnya itu bak sebuah energi bagi dirinya untuk tetap berpisah dengan Mona.
" Tanpa istri mas pun,mas akan baik-baik saja." ucap kembali Arnetta dengan penuh harapan jika Banny mampu terhasut olehnya.
__ADS_1
Selama ini Arnetta begitu gencar membuat Banny melupakan sosok Mona dengan caranya sendiri dan dengan seperti itu mempermudah dirinya untuk masuk dalam kehidupan seorany Banny sebagai seorang pahlawan.Tentunya ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.