CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
episode 09~ kesempatan emas


__ADS_3

 


MONA terlihat berjalan gontai keluar dari kapsul lift dengan raut wajahnya berubah derastis pucat pasi,seperti hantu yang bergentanyangan di siang bolong.


Entah apa yang harus dirasakan saat ini,bahagiakah?atau sedihkah? dengan apa yang diperintahkan sang bos itu yang memintanya dia agar menemaninya di acara meeting nanti.


Kenapa pak Banny tidak mengajak Stela saja,yang sudah jelas ia sering di ajak oleh pak Hendra untuk menemaninya dalam acara meeting atau acara pertemuan yang lainnya,kenapa pak Banny malah meminta dirinya untuk menggatikan sementara posisi Manda.


Ah rasanya kepalanya berdenyut keras memikirkan hal itu,karena moment ini merupakan pengalaman pertama dirinya menemani sang bos meeting,Perasaannya pun menjadi bercampur aduk menjadi satu rasa di dalam hatinya.


" Ada apa Mon ?" Tanya Amelia dengan tak sabar menanti Mona di ujung meja kerjanya.


" Gue di suruh nemenin Pak Banny untuk meeting sore ini.." Jawab Mona dengan tak berselera. 


" WOW !!! serius lo..,?? "Seru Amelia dengan histeris.


" Bagus donk,Ini adalah kesempatan emas lo..."Sela Tamara ikut menimpali.


"Kesempatan gue ???"Tanya Mona dengan menatap heran ke arah Tamara dan Amelia


" Kesempatan lo buat geser si Manda." Tambah lagi Tamara dengan raut wajah penuh kemenangan.


" Aihh Tamara sekarang konek ya?kalau masalah ginian langsung nyambung dia."Sela Amel dengan tersenyum menyeringah ke arah Tamara.


Tamara tak menjawab ia hanya mengangguk dengan penuh semangat.


 


" Dan sekarang giliran lo yang gak konek.."Sela Amel melirik Mona yang masih terlihat linglung.


" Bener tu !" Sela Tamara dengan penuh keyakinan.


" Iya Mon..,Kapan lagi lo dapat kesempatan emas ini,bisa nemenin pak Banny meeting ya kalau kerja lo bagus siapa tau Pak Banny gak pake lagi si ratu nyamuk itu." Ucap Amel dengan begitu antusias.


" Apaan sih kalian jangan halu gitu deh !gue gantiin Manda cuman buat kali ini saja,tau sendiri kan kalau si Manda kecelakaan,kalau si manda udah sembuh yaa gue gak di pake lagi."Ucap Mona dengan raut wajah resah.


"Justru itu mumpung ini ada kesempatan emas buat lo, lo harus gunakan kesempatan ini sebaik mungkin Mona.."Jelas Amel mulai kesal ia berbicara dengan penuh penekanan kepada Mona setelah melihat sikap Mona yang mulai pesimis.


" Hmmm iya juga sih."Akhirnya Mona mengiyakan ucapan sahabatnya itu.


" Terus Kenapa lo tadi pasang muka sedih pas keluar dari ruangan Bos?" Tanya Amel pelan.


" Gue cuman takut ngecewain pak Banny saja,karena gue rasa tugas ini terlalu berat buat gue, soalnya baru kali ini Pak Banny minta gue untuk nemenin dia meeting gue belum ada pengalaman nemenin dia meetting." Ucap Monda kembali ragu.


" Yaa makanya di coba sekarang Monalita,kalau lo gak mau biar gue aja deh yang gantiin !."Ucap Amel dengan cepat


" Jangan dong !!ok lah gue coba aja."Sela Mona dengan tersenyum tipis kearah Amel.


" Gitu dong!kesempatan tidak datang dua kali."Sela Tamara dengan ikut meyakinkan.


" Iyaa sih" tambah Mona dengan tersenyum simpul.


" Gue pasti akan ngedukung lo terus,tenang saja."Ucap Amel dengan merangkul pundak Mona. 


" Makasih ya !! Kalian benar-benar sahabat gue yang paling the best."Puji Mona seraya memeluk kedua sahabatnya itu.


Amel dan Tamarapun membalas pelukan Mona dengan hangat.


 ***********


 


MONA berusaha duduk dengan santai meski perasaanya di liputi rasa gerogi tapi Ia berusaha menyimak dengan baik apa yang sedang di bicarakan oleh sang Bosnya itu dengan seksama,Mona menyimak setiap ulasan yang di bicarakan oleh Banny dalam meeting tersebut.


Beberapa staff penting di bagian perusahan itu turut hadir ikut menyimak dengan bahasa tubuh penuh hormat.


Mona masih menatap lekat ke arah wajah tampan sang Bosnya itu,ada perasaan yang mengganggu pikirannya ketika ia larut dalam tatapannya yang mengagumi akan ketampanan dan karismatik yang dimiliki oleh sang Bosnya itu.


Wajahnya yang sangat terlihat dingin dan sorot mata yang tajam menggambarkan sosok wajah seorang lelaki yang tegas.


Bentuk tubuh yang terlihat kekar serta dada yang begitu bidang menambahkan keseksian seorang lelaki sejati yang mampu menggetarkan setiap hati para wanita yang menatapnya.


Ada rasa yang tak biasa di rasakan oleh seorang Mona tatkala melihat Banny sang bos besar sekaligus Direktur utama di perusahaanya itu berdiri tegak sedang menjelaskan beberapa hal penting mengenai sistim kinerja perusahaannya itu.


Tiba-tiba saja jatungnya berdebar-sebar tidak karuan saat tatapan Banny mendarat di wajahnya.Untuk yang pertama kalinya Ia harus merasakan debaran-debaran tak wajar yang sedang di rasakannyabsaat ini.

__ADS_1


Dan inilah pengalaman pertama kalinya Mona merasakan ada desiran halus didalam hatinya terhadap seorang lelaki,sebelumnya hal ini nyaris tidak pernah teralami oleh dirinya.


Akan tetapi untuk saat ini Mona menyadari betul jika dirinya sedang mengagumi sosok pria dingin berwajah tampan yang tak lain adalah Bosnya sendiri.Dengan cepat Ia menepis perasaan itu,Mona sangat paham dan menyadari perasaan dia hanya kekaguman sesaat saja.


Mona sadar bahwa Banny adalah sosok pria yang jauh berbeda akan keadaanya dengan dirinya.


Mona tertunduk dengan meraskan egonya yang sedang berperang melawan perasaannya sendiri.Lalu Mona mengalihkan pandangannya ke pangkuannya sendiri dan mencoba meratapi nasibnya yang tak mungkin jika dia harus bermimpi bisa mendapatkan simpati sang bosnya itu.


Lalu dia pun sibuk dengan pikirannya kenapa bisa perasaan dia menjadi tak karuan saat melihat secara langsung sosok Banny yang ada di hadapannya itu.


Padahal dia paham akan perasaannya yang tak mudah kagum terhadap seseorang,apa lagi sampai jatuh hati terhadap seorang lelaki itu,tapi.....,entah kenapa kali ini ia merasa geer dan berharap perasaannya tidak sekedar angan-angan saja.


perlahan-lahan Mona tersenyum sendiri dengan tersipu sipu malu.


Mona mengangkat kepalanya dan menatap kembali ke arah sang Bosnya.Namun ia tersadar saat Sang bosnya terdiam tidak melanjutkan pembicaraannya dan malah menatapnya dengan sorot mata yang tajam ke arahnya yang sedari tadi terlihat asyik sendiri.


" Mona apa yang sedang kamu pikirkan ?"Tiba-tiba Banny bertanya dengan menatap tajam ke arah Mona.


Sontak tatapan itu langsung menusuk jantung hatinya seketika Monapun langsung terperangah.


" Oh maaf pak !"Ucap Mona dengan kelihatan gugup, Banny melengos lalu kembali meneruskan pembahasannya sembari membagikan pandangannya beberapa staff penting yang hadir di meetingnya itu.


Mona menarik napas lega saat tahu sang bosnya tidak mempermasalahkannya,lalu Ia pun kembali diam-diam mencuri pandangan ke arah Bosnya dengan ragu.


" Jadi saya meminta kinerjanya untuk bisa bekerja sama dalam mengelola perusahann ini dengan penuh tanggung jawab,Dan saya juga berharap kalian semua dari kepala bagian hingga para staff selalu sigap dalam mengelola pengiriman barang-barang kita dengan cepat,aman dan tepat waktu.


Dan perlu saya ingatkan lagi,kita harus tatap memperhatikan kenyamanan dan ke amanan kualitas barang yang akan di kirim,dan kita juga harus cepat memproses dalam setiap permintaan barang untuk di kirim agar menghindari komplenan hany berlebihan dari beberapa Custumer perusahaan atau perniagaan lainya atas barang yang telah di pesannya.Jangan sampe dalam keadaan ruksak atau barang tidak layak di pakai."Jelas Banny dengan membagikan pandangannya keseluruh staf yang hadir di ruangan itu dengan tegas dan lugas.


Ponsel Mona berdering nyaring dengan tiba-tiba,dan Suara nada deringnya cukup mengganggu konsentrasi. Sontak hal itu membuat semua orang yang hadir di ruangan itu terkejut bukan main,lalu perhatiannya terpusat ke arah Ponsel Mona yang berada di atas meja.


Mereka menatap lurus ke arah Mona dengan tatapan datar,tidak terkecuali Banny.ia pun ikut menatap dengan perasaan kesal ke arah Mona.


Banny menggelengkan kepalanya dengan menatap geram.


" Ma maaf !!" Ujar mona dengan panik,lalu ia pun dengan repleks segera mematikan ponselnya dan menatap ke seluruh orang yang hadir dengan tersenyum malu dan kembali menundukan kepalanya.


" Maaf,maaf." Ucapnya melirih.


Banny melengos membuang wajahnya keluar jendela ruangan itu lalu kembali menatap Mona dengan tidak suka.


Beberapa staf yang hadir nampak menatap lucu kearah Mona yang sibuk menyembunyikan raut wajahnya yang merasa malu setengah mati.


" Oke !!Meeting sore ini cukup sekian dan terimaksih."Ucap Banny menutup acara meetingnya.


" Baik Pak !!" Jawab beberapa staff menimpalinya.


Beberapa menit kemudian para staf dan kepala bagian satu persatu meninggalkan ruangan meeting Mona pun dengan sigap merapihkan beberapa dokumen-dokumen penting yang telah di gunakan oleh Banny di meetingnya tadi dengan sikapnya yang masih terlihat gugup.


Mona berniat ingin segera keluar dari ruangan itu dengan secepatnya dan ia pun berniat ingin keluar ruangan itu sebelum Banny menegurnya atas permasalahan sepele di waktu meeting tadi.


  " Mona, lain kali handpone kamu matikan ketika sedang meeting.." Ucap Banny dengan nada kesal. 


" Mohon maaf pak,Saya lupa mematikan Handphonenya." Ucap Mona dengan penuh sesal, Banny membuka kancing jasnya lalu merapihkan beberapa lembaran Dokumen lalu di masukannya ke handbag miliknya.


Handpone Mona kembali berbunyi dan wajah Mona kembali menegang dan menatap kaku ke arah Banny. 


" Angkatlah !Meeting sudah selesai.."Ucap Banny dengan bersikap Acuh. 


" Ba baik pak."Ucap Mona masih grogi dan serba salah.Sungguh kondisi ini telah membuatnya seperti bukan dirinya sendiri.


Andai saja ada Doraemon di hadapannya Ia akan meminjam kantong ajaibnya sebentar lalu menghilang dari hadapan sang Bosnya itu yang sikapnya membuat dia mati kutu.


 


" Hallo...!!" Sapa mona seraya mencuri pandang kearah Banny yang sibuk mengotak atik ponselnya.


" Hallo Mona !!,Apa kabar sayang?" Terdengar suara lembut menyapanya dengan ramah dari sebrang telpon. 


" Hallo nenek,Alhamdulillah Mona baik baik saja !Dan Nenek gimana kabarnya ?.."Sambung Mona tersenyum semeringah.


  " Nenek alhamdulillah sehat.kok tadi handphonenya di matinn ?"


" Maaf nek,Mona masih kerja."


" Kamu di mana Mon ?"

__ADS_1


" Mona masih di kantor nek baru selesai meeting..?"


" Oalah nenek kangen sama kamu Mon.."Ucap sang Nenek penuh bahagia.


" Mona juga Nek.. "Sela Mona terdengar pelan dan menatap ragu ke arah sang Bosnya lagi.


" Oya nenek ingin bicara sesuatu sama kamu Mon."


" Ada apa Nek ?" Tanya Mona dengan menatap Banny yang masih sibuk sendiri tanpa menghiraukannya.


" Ini masalahan perjodohan.."Ucap Nenek singkat.


" Apa perjodohan.."Pekik Mona cukup keras,Dia hampir saja terlonjak dari tempat duduknya.


Sontak Banny yang tak sengaja mendengar pekikan Mona Spontan menoleh ka arah Mona perhatiannya cukup tersita dengan seruan Mona barusan.Banny memandangi Mona yang masih terlihat syok.


Mona menutup mulutnya dengan satu tangan seraya menahan malu tatkala Banny di dapatinya sedang memandnginya sedari tadi.


" Sebentar Nek.."Ucap Mona sembari menutup bagian speaker handphonenya.


"Pak Maaf boleh saya keluar sebentar !"Pamit Mona dengan menatap ragu ke arah Banny yang masih memperhatikannya,Banny tak menjawab Ia hanya mengangguk dengan raut wajah datar.


Mona dengan cepat keluar ruangan lalu Ia kembali meneruskan obrolannya dengan sang Nenek.


 


" Hallo Nek, !Maksudnya apa Mona gak paham ?"


" Iyaa,,Nenek sama Ommu sepakat akan menjodohkan kamu sama cucu dari temen Nenek,Ia punya cucu laki laki yang sudah mapan,Sepertinya di jodohkan sama kamu cocok.."Jelas sang Nenek dengan semangat.


" Aduh apa see Nek,Mona belom ada kepikiran untuk masalah perjodohan deh nek ! biarlah Mona cari sendiri Nek, gak usah di jodoh jodohkan kaya gitu lagian masih jaman apa di jodoh jodohkan.."Ucap Mona dengan nada mulai terdengar kesal.


 


" Kalau kamu tidak mau di jodohkan kamu segera cari jodohmu sendiri donk,Dari kemaren kamu ada aja alesannya."Jawab sang Nenek mulai terdengar meninggi suaranya.


" Tenang aja see Nek,Dunia belom runtuh... he..he.."Sela Mona dengan nada menggoda sang Nenek.


"Ngeyel kamu !Pokonya kalau kamu belom dapet juga jodoh bulan ini Nenek akan jemput kamu ke JAKARTA dan Nenek akan jodohkan kamu dengan pilihan Nenek .jika kamu gak punya pilihan sendiri."Ancam sang Nenek tegas.


" Yaa Ampun Nek,Nenek ini apa apaan see ?Mona kan belom perawan Tua nek.."Sela Mona dengan nada ucapan tertekan.


" Iya belom perawan tua,Tapi kamu akan jadi perawan Tua jika kaya gini terus caranya."Lagi lagi sang Nenek terdengar lebih sewot.


" yaa Ampunn amit amit deh Nek,, Nenek doain Mona seperti itu ?" ucap Mona dengan terdengar kesal


" pokonya itu keputusan Nenek,, Assalamualikum."


T UUTT.....TUUT.......


panggilan berakhir Mona terlihat terkejut dengan keputusan sang Nenek. dan Mona sadar Sang Nenek sepertinya sudah memberi peringatan yang cukup keras kepadanya tentang pasangan hidupnya.


Mona terdiam lalu menatapi layar handphonenya ucapan sang nenek membuatnya merasa tidak tenang.


dirinya mengkui sangat takut dengan namanya perjodohan apapun itu alasannya dirinya akan menolak keras perjodohan.


Mona merasakan sama sekali tidak setuju kalau diq harus di paksakan suka terhadap seseorang dan diapun tidak bisa membayangkan jika dia harus berada dalam kondisi seperti itu,Kondisia ketika perasaan dan hatinya harus mencintai seseorang yang tidak sama sekali ia cintai.


terkadang laki laki yang suka menggodajnya aja dia merasa sebal apa lagi harus di jodohkan, dia pun tidak bisa membayangkan jika harus hidup dengan laki laki yang tidak sama sekali di cintainya.


 


" Duhh enggak enggak..!!"Gumannya dengan menggeleng gelengkan kepalanya yang mendadak terasa migren,lalu Ia pun bergidik dengan ketakutan raut wajahnya langsung berubah deramatis.


 


Mona tersadar dari lamunannya ketika Banny sudah berdiri tegak di hadapannya sedari tadi menatapnya dengan aneh kepadanya.dengan spontan Mona tersenyum lebar dengn memperlihatkan barisan giginya yang rapih,Ia merasa was was dan takut jika Banny sedari tadi mempehatikan kelakuan anehnya.


Mona dengan cepat segera masuk ruangan meeting dengan tanpa permisi lalu ia mengambil dokumen dokumen penting yang tertinggal di meja.


Banny hanya menggelengkan kepalanya seraya melangkah Angkuh dengan tas koper di jingjingnya.


Mona menarik napas panjang dengan lega saat Banny meninggalkanya tanpa berkomentar apapun.Ia merasa cukup waras jika harus di pandangi lama oleh sang Bos tampannya itu. Entah kenapa tatapan Banny kali ini cukup mengusik perasaanya padahal sebelum sebelumnya dia tidak memperdulikan hal itu.


# bersambung #

__ADS_1


__ADS_2