
MONA berjalan menelusuri trotoar yang tampak lengang itu dengan fikiran yang berkecamuk. Wajahnya menengadah, menatap langit sore yang nampaknya mulai mendung, seolah menggambarkan suasana hatinya yang kini dirasa sendu.
Jujur saja, ada banyak hal yang mengganggu fikiran nya saat ini,setelah ia mendengar perencanaan yang dilontarkan oleh atasannya (atau mungkin calon suaminya) itu tentang syarat berapa lamanya mereka harus menjalani sandiwaranya setelah pernikahan.Tentu saja, setiap wanita siapapun itu pasti selalu bermimpi tentang sebuah pernikahan yang hanya terjadi satu kali saja dalam hidupnya, melabuhkan hatinya hanya pada satu pria hingga usianya senja nanti.
Tapi... 100 hari??
Pria dingin berwajah tampan itu hanya meminta dirinya menjadi istrinya hanya selama tiga bulan saja, setelah itu mereka akan bercerai dan kembali pada kehidupan normal mereka masing-masing, yang membedakan mungkin hanya status dirinya yang berubah menjadi seorang janda dari pengusaha kaya raya.
Mona menghela nafas berat, berusaha menenangkan hatinya yang mulai sesak. Kakinya berhenti di salah satu kursi panjang yang menghadap jalan yang mulai ramai lalu lalang kendaraan.
"Apa yang harus kulakukan?"
Ia menangkup wajah dengan frustasi.
Dinikahi oleh anak dari seorang Presdir mungkin adalah hal yang paling di inginkan
Sebagian orang, seperti cinderella yang dinikahi seorang pangeran. Tapi Mona sadar, dirinya bukan cinderella, dia tidak hidup di negeri dongeng.Dia hidup di kehidupan lebih kompleks daripada itu, karena menjadi janda dalam pernikahan yang hanya bertahan dalam waktu tiga bulan, bukan lah sesuatu yang patut untuk di banggakan meski menikah dengan seorang CEO sekalipun. Dia bisa menutup telinga dan mata jika semua orang mencibirnya tapi Bagaimana dengan tanggapan keluarganya? Atau perasaan neneknya? Dia pun akan merasa bersalah pada orang tua Banny jika tahu bahwa gadis yang ia pilihkan untuk dijodohkan dengan anaknya nyatanya tak cukup baik hingga akhirnya pernikahan nya hanya berakhir dalam hitungan bulan saja.
Bukankah dia sudah sangat keterlaluan??.
Bukankah jika ia terus nekat meneruskan rencananya dia hanya memberikan luka bukan saja untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang-orang yang disayanginya. Dia tidak hanya mempermainkan sebuah pernikahan tapi dia juga telah bermain dengan janji dihadapan TUHAN.
Ia tidak ingin pulang sebelum memastikan hati dan perasaanya tenang.
"Haruskah aku menolak nya?" Ucapnya lirih
Karena ia tahu bahwa boss nya yang keras kepala itu tidak bisa dibantah dan tidak akan mungkin merubah akan keputusannya.
Dan tanpa ia sadari, setetes air mulai menggenang di pelupuk matanya, rasa sesak dihatinya semakin menghimpit dan itu sangat menyesakkan. Ia tak menyangka bahwa laki-laki yang sudah sepenuhnya menggenggam hati nya itu juga telah menyumbang besar untuk sebuah luka yang menganga lebar.
" Mona..." Seruan itu nyatanya membuyarkan lamunan Mona. Atensi nya kini teralihkan dan ia bisa melihat dua wanita yang dikenalinya baru saja keluar dari taksi yang berhenti lalu berjalan menghampiri nya.
"Kok Lo ada disini sih? Bukannya tadi Lo pulang bareng sama si boss?" Wanita berambut ikal itu bertanya yang tiada lain Amel lalu di angguki oleh temanya yaitu Tamara.
"Iya, tadi pas di taksi gue fikir bukan elo tapi karena penasaran kita samperin deh,eh malah beneran elo" Tamara menambahkan.
Mereka lalu mendudukkan diri di masing-masing kanan kiri Mona, dan mengapit gadis itu.
" Kok kalian ada disini sih?" Tanya balik Mona dengan berusaha menghapus jejak air matanya di pipi.
" Nih anak di tanya malah balik nanya, yang ada elo yang ngapain duduk disini?elo diturunin sama si boss ya?"Tanya Amel dengan menatap Mona penuh selidik.
" Tega!,tega kalau hal itu terjadi." Tamara kembali menyela dengan raut wajah polosnya itu.
Mona menggeleng cepat, meski banny sangat menyebalkan tapi Mona tak ingin kedua sahabatnya berfikir bahwa pria dingin itu tega meninggalkan dirinya seorang diri di pinggir jalan.
" Enggak kok."
" Terus kalau enggak, kenapa Lo bisa berakhir duduk sendirian disini?" Tanya lagi Amel penuh selidik.
Mona menggigit bibir bawahnya yang menggetar berusaha menahan tangis yang entah kenapa malah mendesaknya untuk keluar.
"Gue... Gue...." Lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu. Berusaha mencari jawaban yang cocok agar keduanya tak menaruh curiga kepadanya. Amel menyipitkan matanya curiga bahwa gadis di sampingnya itu mungkin sedang berada dalam suasana hati yang buruk.
__ADS_1
"Jujur sama gue Lo kenapa?" Amel menyentuh pundak sempit Mona lalu menatapnya dengan intens.
"Iya Mon, elo baik baik aja kan?" Tamara menyentuh tangan kiri Mona lalu digenggamnya. Mereka sudah seperti saudara, Tamara seperti merasa bahwa Mona mungkin memiliki sesuatu yang disembunyikan dan belum dibaginya.Karena meski sekilas Tamara bisa melihat ada bekas jejak air mata yang tersisa di pipi putih milik Mona.
Dan melihat bagaimana kedua sahabatnya begitu peduli padanya entah kenapa justru membuat Mona merasa terharu sekaligus merasa bersalah. Terharu karena nyatanya ia memiliki dua orang yang sangat menyayangi nya dan merasa bersalah karena entah disadari atau tidak selama ini ia sudah menyembunyikan perihal bagaimana hubungan nya yang sebenarnya dengan banny pada mereka. Dan Mona benar benar ingin menangis saat ini. Oh tidak justru gadis itu sudah mulai menangis.
" Eh kok Lo malah nangis sih Mon?" Tamara lalu cepat- cepat mencari tissue dalam tasnya dan menyerahkannya pada Mona.
Amel membisu, ia berusaha memberikan ruang pada Mona untuk menumpahkan kesedihannya, ia tak ingin mendesak gadis itu bercerita meski ia sudah penasaran semenjak ia melihat mona terduduk sendirian saat ia masih berada dalam taksi.
Amel dan Tamara beradu pandang tak mengerti tapi keduanya tahu bahwa saat ini yang dibutuhkan oleh Mona bukanlah sebuah solusi, melainkan seseorang yang bisa ia dengarkan.
" Nangis aja gak usah elo tahan,Lepasin semuanya biar Lo lega" Amel lalu menarik gadis di sampingnya untuk masuk ke dalam pelukannya, Tamara yang melihat mona semakin lama semakin terisak menyentuh lembut punggung sempitnya itu lalu mengelus nya perlahan.
" Gak apa-apa kalau elo belom siap cerita" Dan perkataan itu justru membuat Mona berubah fikiran.
Karena sejujurnya bukan karena ia enggan membagi, ia hanya bingung darimana ia harus mulai bercerita.
Dengan sisa isakannya Mona melepaskan diri dari pelukan Amel lalu mulai bercerita, tanpa menyadari bahwa sebenarnya aksi berpelukan mereka tadi sudah banyak menarik perhatian banyak orang.
" Apa ini ada hubungannya dengan sandiwara konyol itu?" Amel bertanya dengan nada pelan yang dijawab dengan anggukan oleh Mona.
Amel tak tahu harus menyalahkan siapa dalam kasus ini, karena baginya Mona sendiri lah yang menjerumuskan diri dalam permainan sandiwara yang dibuat dengan boss nya itu sehingga membuat nya menemui jalan buntu seperti ini.
Sebelum Amel kembali berucap untuk menunjuk kan simpatinya, Mona telah lebih dulu memotong kalimat yang membuat Amel maupun Tamara melotot tak percaya
" Banny ingin nikahin gue !"
Amat sangat mengejutkan
Mona menghela napas mencoba mengumpulkan tenaga untuk mengatakannya.
" Tapi dia ingin nikahin gue hanya tiga bulan."
Sebenarnya Amel masih kesulitan mencerna kata-kata barusan. Karena demi TUHAN manusia kejam seperti Banny sempat-sempatnya memikirkan tentang sebuah pernikahan dan yang lebih mengejutkannya adalah pernikahan itu harus berakhir dalam tiga bulan?.
" Bukannya Lo bilang pak boss cuma minta Lo sama dia pura- pura pacaran dalam 100 hari aja? Kenapa sekarang sampe nikah segala?"
Tamara yang sejak tadi diam ikut menyumbang suara.
"100 hari itu udah sama nikah tam, kalau gue setuju lusa kita lamaran, bulan depannya nikah dan bulan selanjutnya bercerai." Terang Mona menatap keduanya.
Amel menganga tak percaya
"Lo udah gila ya Mon? Nikah? 100 hari? Apa Lo fikir pernikahan itu cuma main-main hah? Apa Lo fikir semua perkara akan selesai gitu aja setelah kalian nikah terus tiba-tiba cerai gitu aja?" Dengan tanpa sengaja Amel meninggikan suaranya.
"Gue gak punya pilihan lain Mel. Gue merasa memiliki tanggung jawab moril sebagai orang yang pernah berhutang Budi terhadap keluarga pak Banny. Pak Wiguna terlalu berjasa di kehidupan gue. Lo tahu kan bahkan beliau menanggung semua biaya kuliah gue? dan Lo juga paham kan Mel bahwa hidup gue banyak ditanggung oleh beliau?" Terang Mona dengan menatap nanar.
Amel sepenuhnya paham bagaimana garis hidup yang selama ini harus dijalani oleh sahabatnya ini, dia pun mengerti bagaimana berjasa nya pak Wiguna untuknya, tapi jika sampai mengorbankan masa depan hanya karena tak diberi pilihan rasanya itu terlalu tidak adil untuk Mona.
" Tapi bukan berarti lo harus nikah sama anaknya Mon, ada banyak kebaikan lain yang bisa Lo lakuin untuk membalas pak Wiguna tanpa harus mengorbankan kebahagiaan Lo sendiri"
Mona terisak dengan keras seakan ditampar oleh kalimat Amel tentang bagaimana gambaran masa depannya yang menyakitkan.
__ADS_1
Tamara yang memang sudah tak tega semenjak Amel meninggikan suara yang ditunjukkan pada Mona langsung mengelus punggung sahabat nya itu dengan lembut,lalu ia meraih satu botol air mineral dan memberikan nya pada Mona setelah membuka tutupnya.
" Minum dulu Mon !" Ucapnya pelan.
"Thanks." Yang disambut oleh gadis itu.
Amel dan Tamara saling menatap kaku ia memandangi Mona dengan berbagai perasaan,untuk yang pertama kalinya mereka melihat sosok yang selalu ceria itu hari ini seperti bukan sosok dirinya.
Mona masih terdiam lalu menyeka air matanya yang masih mengalir deras di pipinya.
" Tidak Mona,itu jelas mempermainkan pernikahan, mempermainkan janji suci di hadapan TUHAN dan ini gue jelas gak setuju." Ucap lagi Amel memperhatikan Mona.
" Jelas ini membuat gue dilema Mel,Tam." Imbuhnya lagi semakin gamang.
" Tapi lo gak bisa dengan cara seperti ini juga membalas kebaikan beliau,lalu mengorbankan persaan diri lo sendiri dan nasib lo.Elo pikir setelah lo bercerai dengan anaknya hidup lo akan enak,pikir itu Mon." Ucap Amel mulai meninggi lagi.
" Tenang dulu Mel,lo gak usah ngegas gitu,kasih waktu buat Mona untuk berpikir." Sela Tamara menenangkan Amel yang mulai tersulut emosi.
" Gimana gue gak emosi,demi kebahagian seseorang,dia berani mengorbankan perasaanya dan masa depannya,perceraian itu sangat menyakitkan.Perpisahan itu sangat mengecewakan,apa elo tidak berkaca dari kehidupan kedua orang tua lo dulu Mon." Ucap Amel terlepas begitu saja.
Mona terhenyak lalu menatap nanar ke arah sahabatnya itu yang telah menampar keras dengan ucapannya.
Tamara menatap kaku ke arah Amel yang telah melepaskan kata-kata yang setidaknya dapat mengusik kembali akan masalalunya Mona.
Mona masih menunduk kian dalam bibirnya bergetar hebat sekiranya ucapan Amel telah menggores luka lama yang tak ingin ia ingat lagi.
" Mel !" Pekik Tamara dengan wajah tak menentu.
" Sorry,gue bahas masa lalu lo,karena gue pengen lo mempertimbangkan lagi keputusan lo itu untuk tetap mempertahankan niat elo buat nerima keputusan bos kita." Ucap Amel menatap sesal Mona.
Mona hanya terdiam seraya mencoba menahan air matanya yang mulai menetas lagi.
" Aduh jangan tegang-tegang kaya gini dong,sumpah gue gak nyaman banget." Ucap Tamara mengiba.
Amel hanya terdiam lalu membuang pandangannya jauh ke sebrang jalan,suana berubah gelap.Suara Azan mulai menggema di seluruh penjuru kota itu mengingatkan kembali para insan sedunia untuk datang melaksanakan kewajibannya.
" Sebaiknya lo pulang ya Mon,elo istirahat dan yang pasti lo tenangin diri lagi,jika keputusan lo bertolak belakang dengan kita berdua,kita masih tetap mensuport elo ko,apa pun itu keputusannya itu yang terbaik buat lo." Ucap Tamara seraya mengelus kembali Mona yang masih terisak.
Sementara Amel sudah berdiri jauh dari samping mereka.
" Amel gak bermaksud jahat sama lo,justru dia gak mau hal buruk terjadi sama lo." Jelas Tamara menyakinkan.
Mona mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah wajah Tamara yang sedang memberi rasa aman di hatinya.
" Gue tau itu ." Jawab Amel singkat.ia paham sikap Amel seperti itu,jiwanya yang tegas memang sering membuat ia sering berkata pedas.
" Gue antar lo pulang ya!" Ucap Tamara dengan pelan.
Mona hanya mengangguk lalu mengusap air matanya yang masih membekas di pipinya.
" Elo jangan nangis lagi ia,tar nenek elo lihat gak enak nanti akan jadi pikiran buat dia." Lagi-lagi Tamara menenangkan hatinya Mona.
Mona pun pasrah mengikuti sarah sabahatnya itu,walaupun Tamara sering bersikap polos dan nyeleneh tapi ia bisa memperlakukannya dengan baik tidak seperti Amel yang selau tegas tanpa memikirkan perasaanya.
__ADS_1
" Thak's yah Tam." Ucapnya lirih.
Tamara hanya mengangguk pelan dan mentap getir Mona.