
MONA masih bersiap-siap untuk ikut makan malam bersama mertua serta suaminya,kali ini penampilannya terlihat santai dengan menggunakan dress hitam selutut, dan rambutnya di biarkan kembali tergerai indah.
" Papah sudah menunggu kita di bawah !" Ucap Banny menghampiri gadis itu yang tengah merapihkan rambutnya.
Mona menoleh lalu hanya mengangguk seraya bangkit dari duduknya lalu mengambil langkah mengikuti langkah bosnya dari belakang.
" Kamu ketika berpakaian seperti ini seperti anak kecil." Ucap pria tampan itu menoleh ke arah dirinya.
Mona tak menjawab ia hanya tersenyum tipis ke arah bosnya tersebut yang masih memandangnya dengan tatapan sedikit aneh.Lalu Banny pun berjalan kembali dengan tak menghiraukan Mona yang masih menatapnya dengan keki ke arah dirinya.
Setibanya di ruang makan yang megah,pak Wiguna sudah menantinya dengan tersenyum hangat menyambut kedatangan putra serta menantunya tersebut,ini adalah moment pertama kalinya mereka makan malam bersama setelah menjadi pasangan suami istri.
" Malam pah !" Sapa Banny dengan tersenyum lembut, duduk tepat di hadapan sang Ayah.
" Malam ban." Ucap pak Wiguna seraya menerima sebuah piring berisi makanan yang di sodorkan oleh pembantunya tersebut,ya bi Yayah merupakan asisten rumah tangganya yang paling dekat dengan dirinya,tak hanya bersikap baik,bi Yayah adalah Asisten rumah tangganya yang paling telaten dalam menjaga kesahatan sang majikannya.
" Ayo bi,kita makan bersama !" Ucap pak Wiguna mengajak pembantunya itu untuk makan malam bersama.
" Terimaksih bapak Tuan,tapi saya nanti makannya bersama Lilis serta Riska,kasian mereka sudah menunggu saya sedari tadi." Jawab perempuan itu dengan penuh hormat.
" Oh ya sudah,nanti jika bibi sudah selesai makannya bibi tolong kembali kesini lagi." Titahnya dengan menoleh lembut sang pembatunya tersebut.
" Baik bapak tuan !" Ucap perempuan itu mengangguk dengan penuh hormat lalu sang pembantu itu pun berjalan meninggalkan ruang makan tersebut.
Mona mengambilkan sebuah piring untuk Banny lalu menyimpannya di hadapan pria itu,Banny hanya melongo menyaksikan aksi gadis itu yang sigap mengambilkan dirinya piring beserta makanan untuk dirinya,Banny berharap jika sekertarisnya tersebut tidak akan lebay dalam menjalankan sandiwaranya kali ini.
Sementara pak Wiguna sesekali memperhatikan sikap mereka dengan tersenyum-senyum penuh arti.
Banny mulai mencicipi hidangan makan malam tersebut dan perlahan namun pasti pria itu menikmatinya.
" Banny,papah senang jika moment ini bisa terus berlangsung setiap saat,karena papah merasa kebahagiaan yang paling sempurna papah saat ini melihat kamu bahagia bersama Mona." Pak Wiguna memulai obrolannya di tengah-tengah santapan makan malamnya.
Glek....
Banny menghentikan kunyaahannya lalu menatap lurus sang Ayah yang begitu santai menikmati sepotong danging di mulutnya.
Perasaannya berubah resah saat pernyataan Ayahnya tersebut mengusik kenikmatannya indra kecapnya.Banny menatap lekat ke arah wajah renta sang Ayah yang kini usianya semakin senja,rona bahagianya semakin terpancar seusai dirinya melepas masa lajangnya bersama Mona,perempuan yang menjadi pilihannya tersebut.
" Papah begitu bahagia dengan ke adaan aku yang sekarang ini,tapi maaf kan aku pah jika pada akhirnya aku akan mengecewakan mu."
Ujarnya membatin.
Banny terdiam dengan berbagai bisikan di dalam hatinya,hal yang sama sedang di rasakan oleh gadis itu,obrolan pembukaan itu terasa ingin menyudahi acara makan malamnya tersebut,rasanya acara ritual ini terasa membosankan sekaligus membuatnya semakin kian bersalah atas dosa yang sedang di lakukannya tersebut.
Banny menanggapi perkataan Ayahnya dengan senyuman tipis lalu menoleh Mona dengan perasaan resah.
" Oya Banny.Papah sudah pesan kan tiket buat kalian berlibur ke Bali,selama lima hari kedepan." Ucap pak Wiguna menatap putranya dengan seksama.
" Uhukkkk !!!"
Sontak pria tampan itu langsung keselek dan tak terelakan lagi sehingga nyaris semua makanan yang ada di mulutnya tersebut berebut minta keluar.Hal yang sama di rasakan oleh Mona,namun hanya saja gadis manis itu pandai dalam menguasai dirinya sehingga dirinya terlihat begitu santai dalam merespon ucapan mertuanya tersebut,padahal di dalam hatinya ia pun terkejut bukan main.
Yang benar saja kita di suruh bulan madu ke Bali,padahal sudah jelas pria di sampingnya ini tidak pernah menyukainya.Rutuk Mona dalam hatinya seraya menoleh Banny yang sedang terbatuk-batuk usai mendengar ucapannya sang Ayah.
" Sayang pelan-pelan !" Ucap Mona seraya sigap mengambilkan segelas air putih untuk bosnya tersebut.
Banny masih terlihat kesulitan antara mengeluarkan atau menelan kembali makanannya tersebut,jelas saja baginya ucapan Ayahnya tersebut serasa menghambat makanannya yang ada di tenggorokannya itu.
" Makasih sayang." Ucap Banny dengan menatap ragu ke arah wajah gadis itu yang sedang tersenyum lembut ke arah dirinya.
" Banny,are you ok ??" Tanya sang Ayah menatap cemas ke arah putranya yang langsung begitu terganggu kegiayatan makannya setelah mendengar perkataanya.
Banny masih terbatuk-batuk mencoba menetralkan perasaannya,lalu pria tampan itu mendehem dengan berusaha untuk menguasai dirinya.
" Papah,pliss !! lusa Banny akan ada pertemuan dengan salah satu mitra perusahaan dan rasanya tidak mungkin jika Banny harus mengcansel pertemuan tersebut." Ucap Banny seraya menyeka mulutnya dengan tisu.
" Apa gunanya menejer perusahan jika kalau tidak bisa menghendle pekerjaan kamu,papah rasa pak Hendra bisa mengambil alih pekerjaan mu itu dan itulah pentingnya seorang menejer." Sergah pak Wiguna tetap pada pendiriannya.
Banny kembali menoleh Mona dengan berbagai perasaan dan gadis yang di tolehnya terlihat sedari tadi hanya minum terus,sehingga menghabiskan dua gelas air putih berupaya menenangkan perasaan yang terasa kacau.Dirasa gadis itu perutnya terasa kenyang dengan di isi banyak air.
" Ini quality time kalian,jadi sayang jika harus melewatkan moment seperti ini,secara kalian pasangan baru menikah tak ada salahnya kalian berbulan madu ke Bali." Ujar pria bijaksana itu berusaha untuk menegaskan putranya untuk pergi berbulan madu.
" Tapi pah ?" Ucapan Banny terhenti,saat Ayahnya memotong cepat kalimatnya tersebut.
" Tak ada alasan lagi buat kamu untuk menolak permintaan papah." Ucap pak Wiguna dengan suapan terakhirnya.
Banny dan Mona saling menoleh bertatapan satu sama lain,entah apa yang ada di benak mereka sehingga raut wajah mereka terlihat menegang.
********
__ADS_1
Mona melepas dres nya lalu menggantinya dengan kemeja putih kebesaran dengan celana pendek berwarna denim,ia terlihat santai rambutnya yang masih basah tampak di biarkannya terurai dan seperti biasa ia membiarkan wajahnya polos tanpa ada sentuhan make up sedikit pun.
Mona mengambil tempat duduk tepat di sofa sebelah tempat tidurnya,ia terlihat menghela napas lega saat Banny memilih tidur di kamar pribadinya tersebut,meski terdengar aneh karena pasangan pengantin itu harus tidur terpisah, namun demi kenyamanan,Banny pun memilih tidur di kamar pribadinya.Agar seisi rumah tidak mengetahui jika dirinya tidur terpisah maka Banny pun memasuki kamarnya secara diam-diam.
Mona akhirnya dapat bernapas lega saat dirinya bisa tidur sendirian tanpa ada kehadiran bosnya yang membuat dirinya merasa was-was,sebelum ia merasa ngantuk ia pun duduk di atas sofa tersebut seraya mengecek beberapa pesan singkat yang masuk via nomor WA nya,dan benar saja di group persahabannya sudah rame menanyakan tentang keadaan dirinya,terutama kedua sahabatnya yang antusias meledek dirinya.
Mona tersenyum-senyum saat membaca salah satu pesan singkat kedua sahabatnya yang terasa menggelitik perasaanya.Mereka menanyakan kabar hatinya setelah pernikahan itu terjadi dan mereka pun akan bersiap-siap memanggil dirinya dengan sebutan janda kembang.
Mona tersenyum lebar saat ia membalas candaan kedua sahabatnya itu meski lewat pesan singkat namun tidak mengurangi perasaan kocaknya tersebut.
Kedua matanya menyipit saat sebuah nama muncul di pesan singkat tersebut dan itu dari Angkasa,pria berkarismatik itu menanyakan perihal keadaanya.
Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaan atas pesan tersebut,betapa masih peduli nya pria berkarismatik itu terhadap dirinya,dan ia pun masih ingat betul sebelum pernikahan ini terjadi pria tersebut telah menyatakan perasaan nya terhadap dirinya,dan hingga saat ini pun ia belum bisa memberikan kepastian yang pasti atas jawaban perasaan pria tersebut.
Mona dengan iseng mengzoom profil Wa pria tersebut dan ia pun dapat melihat garis wajah pria berkarismatik tinggi itu terpahat sempurna dengan senyuman seksinya.
Tak hanya memiliki wajah yang ganteng sosok Angkasa juga memiliki sikap yang membuat setiap lawan jenis yang berinteraksi dengannya akan merasa nyaman dan itu tak terkecuali dirinya,yaa ia mengakui jika sosok Angkasa adalah sosok pria yang humble.
Mona menghela merasakan gejolak hatinya kian respek terhadap pria tersebut.
ea...,tak ada salahnya jika perasaanya itu mulai berpaling ke hati yang lain,toh bukannya dia berhak bahagia atas kehidupannya bersama pria pilihan hatinya.
Dirasa ini bukan kesalahan jika dia mulai melirik cinta yang lain.
Lalu ia pun dengan perasaan gamang membalas pesan singkat pria tersebut.
Tepat setelah ia selesai membalas pesan singkat Angkasa tiba-tiba gagang pintu itu bergerak dan tak lama pintu itu pun terbuka secara perlahan,Mona terhenyak lalu membulatkan matanya sesaat pria tampan itu menyembul dari balik pintu kamarnya.
" Kenapa bapak tidak ketuk pintu dulu ?" Tanya Mona dengan nada kesal.
" Kenapa aku harus ketuk pintu ?Memangnya kamu terganggu dengan kedatanganku ?" Tanya Banny menatap tajam.
" Tapi setidaknya bapak bisa ketuk pintu dulu,sehingga saya bisa tukar pakaian dulu." Ucapnya dengan cepat meraih sebuah bantal sofa untuk menutupi bagian dadanya.
" Memangnya kamu mengenakan pakaian seksi?tentu tidak kan,aku rasa pakaian kamu masih wajar-wajar saja." Ucap Banny seraya memandangi gadis itu dengan tatapan lain.
Banny menatap lain untuk kali ini terhadap sekertarisnya itu,entah kenapa Mona malam ini terlihat sangat menggoda dengan pakaian kemeja berwarna putih yang cukup bebayang,lalu di lihatnya gadis itu mengikat tinggi rambutnya,meski ikatannya hanya sekedarnya dan terlihat berantakan namun entah kenapa di wajah gadis itu terlihat begitu manis.
Kakinya yang putih namun sedikit berbulu terlihat begitu eksotis membuat naluri kelaki-lakiannya muncul,wajar saja jika Banny membayangkan hal lain tentang gadis tersebut.Entahlah semenjak pernikahan itu terjadi,sosok gadis ini acap kali menggoda hasratnya.
Banny menggeleng lalu memalingkan pandangannya ke sisi yang lain,ia berusaha mengalihkan perasaanya yang mulai terasa erotis.Namun Banny tidak bisa untuk tidak meliriknya kembali,lagi-lagi ia melirik gadis itu yang masih menatapnya dengan bingung atas kedatangan nya ke kamar dirinya.
" Kita perlu bicara." Kata Banny tiba-tiba.
Mona menatap pria itu dengan perasaan jengkel,ia merasa jika bosnya ini seperti tak ada waktu saja untuk membicarakan hal lain yang di rasanya tak begitu penting.
" Ada masalah apa ?" Tanya Mona menatap dingin.
Mata mereka bertemu,dan Banny baru menyadari jika bola mata gadis itu terlihat indah menatapnya.Dan entah kenapa tatapannya itu berhasil menggoda dirinya.
Banny menggeleng menepis godaan setan yang mulai bergentayangan di jiwanya untuk membujuk otak nakalnya tersebut.
Bisa di bayangkan jika ia tak merasa so gensi,mungkin ini adalah malam pertama baginya untuk saling mengungkapkan segala hasratnya.
Namun sayang bukanlah seorang Banny jika ia harus merendahkan dirinya dalam menyatakan cinta kepada gadis tersebut.
" Mona !" Panggil pria itu dengan suara berat.
Mona menatap kian lekat ke arah wajah pria itu,perasaanya cukup penasaran dengan apa yang akan di sampaikan bosnya tersebut.Ia pun menatap tak sabar ke arah wajah pria tersebut dan ia pun lupa jika dirinya sedang bersandiwara dengan pria tampan itu,secara repleks ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke hadapan pria tampan itu.Dan sontak saja membuat Banny merasa kaget seketika melihat sikap sekertarisnya tersebut,seolah-olah sedang memancing sesuatu hal yang menangtang bagi dirinya.
Banny terdiam mencoba menenangkan perasaannya yang tiba-tiba saja menjadi grogi atas sikap perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
" Aku bingung ?" Ucapnya lirih.
Gadis itu mengernyitkan alisnya lalu menatap kian penasaran.
" Bingung ?" Tanya nya dengan lembut.Sekilas ia menangkap raut wajah penuh ke gelisahan di dalam benak sang bosnya.
" Ini masalah pekerjaan kamu ?" Ucap Banny dengan suara lirih.
" Pekerjaan saya ?Kenapa ?" Tanya Mona dengan tak sabar.
" Yaa,papah meminta kamu untuk tidak lagi bekerja di perusahaan ku." Ucap pria itu pelan,namun bagaikan sebuah petir di pendengaran nya Mona.
" APA ??maksudnya ? " Tanya Mona tercengang.
" Dengarkan aku hingga selesai bicara nanti. !" Banny menyela dengan cepat.
Mona masih menatap bingung ke arah pria tampan itu dengan wajah semakin pias.
__ADS_1
" Perusahan sudah membuat peraturan mengenai hubungan pribadi di luar pekerjaan,dan seluruh staff perusahan tidak di perbolehkan memiliki hubungan pribadi antar sesama staff perusahaan,apa pun itu bentuknya,jika pun hal itu terjadi maka perusahaan akan tegas memutasi staff tersebut." Jelas Banny berusaha menjelaskan secara seksama.
" Jadi ???" Ucapan Mona menggantung,raut wajahnya terlihat terpukul.
Ia seolah menyimpulkan sesuatu hal yang di pahami secara lansung olehnya.
" Aku tidak mungkin mengeluarkan kamu dari perusahaan ini Mona,karena aku masih membutukan potensi kamu di perusahaan ku ini,tapi aku lebih bingung lagi jika aku mengabaikan peraturan perusahaan ini, itu artinya aku memberi contoh yang tak patut untuk di ikuti oleh staff yang lainnya,jadi mereka bisa melanggar aturan tersebut dengan melakukan hal yang sama.Karena aku selaku Direktur perusaahan ini merasa abai dengan peraturan yang telah di buat oleh perusahaan ku ini,dan hal ini sudah menjadi SOP perusahan, tentunya tak boleh di langgar." Jelas pria tampan itu terlihat menatap resah ke arah wajah Mona yang mulai berubah murung.
Mona terdiam.Sudah di duga jika ia akan kehilangan segalanya.Ia baru sadar jika peraturan di perusahannya itu memang melarang staffnya memiliki hubungan pribadi dengan staff yang lain dan jika hal itu sampai terjadi maka bersiaplah mereka akan di mutasi dari perusahaan tersebut.
Mona menghela napas panjang merasakan kekecewaan yang kian mendera di hatinya,betapa tidak ia harus kehilangan pekerjaanya secara tidak langsung dampak dari sandiwara nya tersebut ,maka ia pun sepertinya harus berlapang dada dalam merelakan pekerjaannya tersebut.
" Tapi pak,kita hanya bersandiwara dan lagian bulan depan nanti kita akan bercerai,apakah saya harus kehilangan segalanya ?" Tanya Mona menatap nanar.
Banny terdiam menatap sorot mata gadis itu seakan-akan menuduh dirinya kejam dan tak punya hati.
" Aku tidak sekejam itu Mona." Banny menyela dengan menatap lembut.
Entah kenapa perasaanya kian melunak setelah sang Ayah menyuruhnya untuk memberhentikan gadis itu dari perusahaanya tersebut.Dan itu artinya ia akan kehilangan segalanya termasuk sekerataris andalan nya tersebut.
" Tapi jika itu adalah pelaturan nya,saya tidak bisa berbuat apa lagi." Ucap Mona dengan lirih suaranya begitu terdengar menyayat hati pria tampan itu.
Rasanya ia kian merasa bersalah atas sandiwara nya ini.
" Dan papah meminta kamu untuk fokus mengurus aku dan program kehamilanmu,papah benar-benar berharap lebih dari kita Mona." Ucapnya kembali menatap semakin lekat gadis itu.
Mona tertunduk merasakan pening di kepalanya,entahlah rasanya dunia ini seketika runtuh setelah mendengar pernyataan bosnya tersebut,di balik rasa balas budinya itu tersimpan pengorbanan yang sangat luar biasa,tak hanya hati dan perasaannya yang ia korbankan,kini pekerjaannya pun terancam hilang dari kehidupannya.Dan itu benar kata Amel sahabatnya,jika tak hanya perasaan nya saja yang hilang,pekerjaanya pun akan turut terancam dalam aksinya tersebut ,balas budi baik terhadap seorang Wiguna.
" Apa yang harus aku lakukan ?" Tanya pria itu menoleh Mona yang masih menatapnya kosong tanpa ekspresi.
Mona menggeleng membungkam perasannya.
Ini adalah babak baru dalam permasalahan hidupnya.
Mona semakin menyadari perjuangan hidupnya belum usai,tak hanya berjuang untuk mendapatkan cintanya seorang Banny,tapi ia pun harus berjuang dalam mempertahankan pekerjaan tersebut.
" Maaf kan aku Mona,semuanya menjadi runyam." Ucap Banny terlihat kian melemah.Rasanya dia tak sampai hati harus melihat gadis yang rela menikah dengannya demi kebahagiaan sang Ayah justru kini ia malah membuatnya menderita harus kehilangan pekerjaanya.
Mona masih tetap diam.
" Aku hanya ingin membuat papah ku bahagia,aku tak ingin sesuatu buruk terjadi padanya ketika aku menolak permintaan itu,karena pastinya penolakan ini bisa menyebabkan kondisi papah memburuk." Jelas Banny dengan suara berat.
Mona tetap diam,ia tidak tahu harus berkata apa.
" Sebaiknya kamu istirahat,ini sudah malam,aku kan coba berbicara lagi dengan papah agar kamu tidak...." Ucapan pria itu menggantung tepat ia sedang berbicara ponsel Mona berdering kencang dan berhasil mengalihkan antensinya pria tampan itu.
Banny menoleh ke arah ponsel yang tergeletak begitu saja di sampingnya itu.
Angkasa is Calling.....
Banny mengernyit menatap lurus ke arah layar notifikasi ponselnya mikiknya Mona.
Mona pun ikut menoleh ke arah yang sama dengan raut wajah datar menatap gamang ke layar ponselnya.
Perasaannya menguap entah kemana dan kini hanya tinggal perasaan bimbang yang kian menyelimuti hatinya.
Banny masih memandangi layar notifikasi tersebut,di benaknya timbul berbagai pertanyaan atas panggilan seorang pria yang tengah menjalin kerja sama dengan dirinya.
Kenapa Angkasa menelpon Mona ?ada apa pria itu tiba-tiba menelpon sekertarisnya tersebut ?
lancang !!! Rutuknya dengan sebal.
Al hasil pertanyaan demi pertanyaa mulai bermunculan di benaknya.
Selama ponselnya berdering selama itu juga Mona membiarkannya tanpa menjawab panggilan tersebut,ada banyak hal yang menjadi alasan dirinya yang menyebabkan tidak bisa menjawab panggilan tersebut.
" Kenapa Angkasa menelpon kamu,ada apa ?" Tanya Banny penuh selidik.
Mona menggeleng dengan tetap membisu.
Banny menghela merasakan hatinya mulai tak tenang sepeninggal Angkasa menghubungi sekertarisnya tersebut menyisakan pertanyaan yang sulit di alihkan.
" Baiklah,kamu istirahat masalah ini kita bicarakan kembali besok." Ucap pria itu seraya bangkit dari duduknya.
Gadis itu tetap terdiam dengan senyumannya terlihat di paksakan.
Banny melangkah keluar kamar meninggalkan Mona yang masih duduk diam tanpa bicara.
Mona merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan berbaring telentang menatap langit kamar yang mewah tersebut.Apa yang pernah di ucapkan kedua sahabatnya itu kembali terngiang di telinganya akan masa depannya.
__ADS_1
Mona ingin sekali menangis,tapi entah kenapa air matanya tak mau keluar seolah-olah mengerti rasanya terlalu mahal jika ia harus membayar pengorbanan ini dengan air matanya.
Rasanya terlalu berat beban yang kian menderanya,sebelum rasa ngantuk menyergapnya ia membayangkan kembali raut wajah pria dingin itu berubah lembut saat menyampaikan kabar pahit itu,seakan-akan pria dingin berwajah tampan itu mulai iba akan perasaanya.Perlahan matanya terasa berat setelah rasa kantuknya mulai menyergap di dalam kelelahan lahir dan batinya.