CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 216


__ADS_3

MONA terdiam menatap kosong ke arah jalanan,ada banyak pikiran yang tengah merorong-rong perasaany,terutama pikirannya masih tertaut kepada sosok Banny yang diam-diam datang menemuinya di waktu pagi tadi,lima belas menit yang berlalu ia telah di pertemukan kembali dengan sosok pria yang selama ini tengah menjadi pergunjingan hatinya.


Keinginan nya yang begitu menggebu-gebu ingin segera berpisah dengan sosok pria itu, kini justru berubah haluan perasaan itu kini menguap entah kemana,setidaknya penjelasan Banny tadi sedikitnya mempengaruhi keputusannya,dan kini apa yang telah di perjelaskan oleh Banny tentang kesalah pahamannya di sebabkan oleh seoran Arnetta berhasil menjadi buah pikiran di kepalanya.


Lalu adakah peluang dirinya untuk memaafkan Banny dan kembali memaafkan ??


Jelas ini adalah murni kesalah pahaman atas jebakan seseorang yaitu Arnetta.


Arnetta lah di balik semua kekacauan ini,ia yang telah membuat hubungannya dengan Banny menjadi berantakan.


Lalu.....,apa yang harus dia lakukan ?


Mona menatap hampa,pikirannya kian di penuh dengan perasaan ragu sekaligus dilema yang begitu berkepanjangan.


" Kamu masih memikirkan Banny ? " tanya Angkasa menyelingi di tengah pikirannya yang begitu rumit.


Suara pria itu berhasil membuyarkan semua lamunannya.


Mona menoleh sejenak ke arah pria yang duduk mengemudo di sampingnya,namun ia kembali menatap jalanan dengan perasaan tak menentu.


" Aku tau perasaan kamu saat ini seperti apa ?? Maaf kan atas sikapku,mungkin aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadimu." ucap Angkasa seraya mengendarai kemudinya dengan sangat hati-hati.


" Tidak apa,aku tidak merasa keberatan." balas Mona lirih.


" Hmm,Mona maaf kan atas sikapku tadi,mungkin sikapku sedikit lancang terhadap suami kamu,tapi aku hanya sedikit memberi peringatan keras kepada suami kamu itu,agar dia lebih bisa menghargai kehadiran kamu di dalam kehidupan nya." terang Angkasa tersenyum bijak.


Mona tersenyum datar.


" Ku rasa aku sudah tidak tertarik lagi untuk menetap di hatinya." ucap Mona membuang jauh pandangannya.


Ekspresi wajah Angkasa terlihat bereaksi.


" Itu artinya ??? " Angkasa menatap bingung.


Mona menghela.


" Biarlah semua ini akan segera berlalu begitu saja,dan aku tetap dengan hatiku ini." balas Mona tersenyum pasi.Ada keraguan yang justru kini tengah menggelayuti pikirannya,ada perasaan yang kini tak selaras dengan keputusannya.


" Membiarkan masalah ini hingga berlarut-larut ?" tanya lagi Angkasa.


" Aku sudah memasrahkan semua nya kepada takdirku." balas Mona sedikit serak.


" Kamu yakin ??? " tanya kembali Angkasa memastikan.


" Mungkin sudah waktunya aku harus melupakan tentang semua ini,dan menata kembali hati yang sudah lama terasa begitu berantakan." ujar Mona tersenyum hampa.


Angkasa mengangguk-nganggukan kepalanya,ia memahami apa yang di maksud dari ucapan Mona.


" Selama itu ada kemauan,Tuhan pasti akan kasih jalan yang terbaik." Angkasa menimpali.


Mona menoleh ke arah pria berparas tampan itu dan ia pun hanya tersenyum dengan perasaan tak menentu.


Entah kenapa sikap pria tampan ini begitu terasa menenangkan perasaanya,kepeduliannya sedikit membuka harapan jika kebahagiaan itu tak selamanya menjauh darinya.


" Tuhan tidak pernah berkata Aku akan membuatmu selalu bahagia,tapi Tuhan selalu berkata jika DIA akan selalu memberikan jalan kebahagiaan kepada setiap hambanya,tergantung bagaimana cara hambanya menjemput kebahagian itu." ucap Angkasa tersenyum lembut.


" Kamu benar,ada kebahagiaan yang perlu di kejar,namun sebaliknya justru ada kebahagiaan tengah menanti kita untuk hadir bersamanya." ucap Mona dengan tersenyum,ia berusaha untuk mengusir semua perasaan ragu yang hinggap di hatinya.


" Mona !! "


panggil Angkasa lirih.

__ADS_1


Mona menoleh,menatap dengan perasaan berdebar ketika suara pria itu terasa begitu berbeda di rungunya.


Angkasa melambatkan laju kendaraanya lalu menepi di tepi jalan yang begitu sepi,ia menatap lurus ke arah depan sana wajahnya terlihat begitu tegas dari samping.


Mona menanti dengan harapan yang penuh misteri,entah kenapa nalurinya berkata lain akan sosok pria tampan tersebut.


Sejenak hening


Membiarkan suara kendaraan yang sesekali melewatinya,Mona menanti ucapan pria itu dengan debaran-debaran tak menentu.


" Berikan aku peluang untuk hadir dalam kehidupanmu !" ucap Pria itu menoleh ke arah Mona yang duduk percis di sampingnya.


Dek.....


Ada perasaan tak biasa hadir di relung hatinya,Mona tersentak namun ia berusaha untuk tetap tenang.


Ucapan pria itu terasa bak seperti busur panah yang menancap hebat di dalam hatinya,Mona terpana menatap tak percaya.


Dia sedang patah hati,namun di satu sisi lain Tuhan tengah mengutus seorang mahluk yang begitu istimewa untuk meletakan hatinya di pecahan-pecahan rasa hancurnya,Mona tertegun.


" Maaf secepat ini aku mengatakan isi hatiku,namun jujur saja aku bukan tife laki-laki yang pandai mencari-cari moment atau kesempatan yang baik dalam mengungkapkan isi hati ini,justru aku sengaja katakan perasaan ini di rasa ini adalah waktu yang tepat,sebelum semuanya terlambat." ujar Angkasa menatap dalam wajah Mona.


Mona menatap ragu,dengan perasaan heran ia berguman.


" Terlambat ??" lirihnya dengan penuh tanya.


" Yaa,sebelum kau menutup hati kamu untuk orang lain,tak terkecuali aku,aku ingin kamu tahu jika aku masih menyimpan harapan itu hingga saat ini,aku tidak peduli sesakit apa hati kamu saat ini,sehancur apa perasaan kamu saat ini karena cinta lama kamu itu,tapi kamu harus tau,jika aku bersedia menjadi obat penawar hati kamu,dan aku berharap aku bisa membuat kembali hati kamu utuh walau tak sesempurna itu." ungkap Angkasa dengan begitu lembut.


Mona terdiam,ia terbius dengan kata-kata yang di ucapkan pria tampan tersebut,sikapnya yang sederhana namun begitu istimewa dalam memperlakukan dirinya,Mona menatap linglung namun ia berusaha untuk tetap tenang menjaga perasaanya.


Mona sedikit gugup,ia berusaha membasahi bibirnya yang terasa kering,efek dari rasa keterkejutannya.


Entah harus bersikap apa dia saat ini,bahagiakah atau sebaliknya atas sikap pria tampan itu yang kini tatapannya begitu lekat hingga membuat lemah imannya, menghipnotis akan perasaanya.Yang pasti momen ini membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.


" Aku tidak sedang menawarkan sebuah omong kosong tentang sebuah kebahagiaan,tapi aku hanya ingin mengajakmu untuk bisa bahagia bersama dalam menikmati hari-hari yang panjang yang kita lalui bersama,aku pun tidak bisa menjanjikan sesuatu hal yang begitu istimewa,tapi aku akan memberikan sebuah perasaan yang begitu tulus yang orang lain atau pun Banny tidak memilikinya." ungkap Angkasa dengan suara bergetar.


Angkasa merasa jika Momen ini begitu mengharukan perasaanya.


Mona terdiam,namun ada lelehan bening memenuhi kolam matanya.


" Mona !! " panggil kembali Angkasa terasa syahdu.


" Terlalu cepat kau ucapkan itu semua." pekik Mona tertahan.


" Kenapa ?? " tanya Angkasa pelan.Mona menggeleng mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain,menutupi sedikit wajahnya dengan telapak tangannya.


" Aku tidak bisa menunda perasaan ini,jika memang kamu merasa pantas untuk bahagia bersamaku saat ini,maka kau perlu bergegas untuk menyambut kebahagiaan itu,tapi jika.." ucapan Angkasa menggantung.


" Aku perlu waktu untuk menatata kembali perasaan ini,aku tau aku perlu bahagia,tapi tidak secepat ini.Aku tidak ingin jatuh untuk kedua kalinya,aku perlu waktu untuk memulihkan akan semua perasaan ini." Mona menyela dengan cepat.


" Sampai kapan perasaan itu akan pulih,hingga waktu yang tak bisa di tentukan ??" tanya Angkasa resah.


Mona tertunduk,kini pusat perhatiaan nya kesepuluh jarinya.


" Aku tidak bisa menentukan kapan hati ini akan pulih,aku hanya perlu waktu untuk diam seorang diri." ujarnya lirih.


Angkasa menggeleng.


" Kamu tidak bisa berkomitmen dengan dirimu sendiri,terlalu mengikuti perasaan yang membuat kamu berlarut-larut dalam kesedihan." ucapnya dengan tersenyum ironis.


" Karena aku bukanlah manusia sempurna." balas Mona membela diri.

__ADS_1


" Kamu berhak untuk bahagia,walau bukan manusia sempurna." Angkasa terus mendebatnya.


" Tapi bukan berarti menyembukan luka ini dengan perasaan yang baru,tidak secepat itu,ini adalah hati buka sebuah buku,yang tercoret dan dengan mudahnya buku itu di sobek lalu di buang,tapi ini adalah luka yang tidak tau percis kapan akan hilangnya dengan waktu yang tidak bisa kita tentukan." ucap Mona berdalih.


" Jika kamu menggenggam sebuah benda terlalu kuat,maka itu bisa membuat mu terluka,tapi sebaiknya sebelum kau memeganggam benda itu dengan kuat, pastikan jika tangannmu dalam ke adaan baik-baik saja,kamu harus siap mengetahui sebuah resiko dari sebab akibat,tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk kamu menunda kebahagiaan." ucap Angkasa begitu lugas.


Mona terdiam,entah kenapa perkataan pria ini begitu menyentuh hatinya,apa yang telah membuat hatinya hancur,itu semua karena perasaanya lah sendiri,ia sadar jika dia memang terlalu besar mengharapkan perasaan yang lebih dari sosok seorang Banny.


Bukannkah perasaan itu berawal dari sebuah sandiwara yang berujung dengan drama percintaan,tentunya ia paham akan konsekwensi dari sandiwaranya tersebut.


Lalu salahkah jika ia sekarang harus bergegas melepaskan perasaan itu dan bangun dari mimpi indahnya yang tak bertepi.


Mona menarik napas panjang,sepertinya perkataan Angkasa mampu memberikan energi baik kepada dirinya,dan secara tidak langsung pria itu mengingatkan dirinya untuk lekas bangkit dan tidak berlarut-larut dalam sebuah perasaan yang semu.


 


" SHiiiitttt !!!! "


Umpat Banny melampiaskan kekesalanya dengan melempar baju jasnya ke atas sopa secara kasar.


Betapa tidak amarahnya begitu meluap-luap hingga tak terkendali,perasaanya menjadi geram ketika ingat akan kejadian beberapa jam yang lalu dengan jelas ia melihat sebuah sikap kemenangan yang begitu nyata dari sosok Angkasa.


Banny tidak menduga jika dirinya akan di pertemukan kembali dengan exs patner perusahaanya dulu,dan yang lebih mengejutkan dirinya,pria itu hadir di tengah kericuhan rumah tangganya bersama Mona.


Banny berniat ingin menjemput kembali Mona,dan menyusun kembali harapan baru bersamanya,ia tak ingin menunda lagi perasaanya untuk bisa memperbaiki segala semua kesalahannya. Namun entah apa yang terjadi hingga kenyataan berbeda jauh dari ekspetasinya,sebuah kenyataan pahit yang begitu terasa kelat di pangkal hatinya ia harus terima,mungkinkan Mona telah berpaling darinya ??


Wajah pria itu menengadah tinggi menatap lantang langit ruangan sana,dada nya di liputi rasa sesak serta amarah yang memenuhi seisi ruangan jiwanya.


Sungguh perasaan ini telah menyiksanya secara perlahan.


Otak besarnya seakan di paksa untuk berpikir keras tentang jalinan antara Mona dan pria itu,jelas saja ini membuatnya marah sekaligus cemburu,pikiran negatifnya berhasil menguasai 95% akal sehatnya,dan seperkian persen sisanya ia berusaha untuk berpikiran fositif di tengah himpitan emosi yang menguasainya.


Gilaa !!!


Emosi pria dingin berparas tampan itu mulai naik ke ubun-ubunnya,tak terima jika Mona benar-benar telah berpaling darinya,


Rasanya ia ingin meledakan seluruh amarahnya tanpa ada pengekangan,melampiaskan seluruh kekecewaanya secara meledak-ledak.


Tangan kekar itu bergetar hebat, berusaha untuk menahan bara yang mulai memercikan api di seluruh tubuhnya,sekuat mungkin Banny menahan amara itu sehingga terlihat tulang rahang kedua pipinya menyembul kuat.


" Aahhhhh.......!!"


Braakkkkkk.......


Akhirnya amarah itu tak terbengung lagi,Banny meyapu semua benda-benda yang berada di atas meja kerjanya hingga benda-benda tersebut terjatuh dan tercecer di lantai hingga berserakan.


Banny menarik napas panjang melepaskan semua amarahnya secara leluasa,ia tak mampu lagi berpikir rasional tentang apa yang di lihat dan di dengarnya,Mona sudah tidak lagi memaafkan dirinya dan ia memilih laki-laki lain untuk menggantikannya.


Semua terlihat buruk di matanya,Banny menyugar kasar rambutnya hingga rambut rapihnya menjadi berantakan,rasa kesal sekaligus cemburu berhasil mendominasi pikirannya.


Napasnya tersengal-senggal,dengan lelehan emosi yang kian terasa panas lalu ia tersungkur dengan letupan amarah yang begitu membuncah,seketika ia merasakan rasa sedih hingga membuatnya terasa frustasi.


Banny menangkup wajahnya dengan Kedua tangannya,menangis secara seutuhnya ia sadar ia bukanlah sosok pria yang hebat yang mampu menahan tangisan hanya demi seorang wanita,tapi ini bukan sekedar kata pengecut melainkan rasa penyesalan yang terlahir dari hatinya yang paling dalam,ia menerima kekecewaan ini dengan lapang dada,tak banyak yang harus ia perbuat selain merelakan takdirnya,bersi keras mempertahankan perasaan ini hanya akan membuatnya semakin terluka,ada kalanya ia harus mengakui kekalahan ini dengan rasa kecewa yang begitu dalam.


Pundak yang kekar itu sedikit berguncang,mengikuti alur hati yang semakin ringkih,sejuta penyesalan tak bermakna di hatinya,semua terhempas jauh oleh waktu.


Banny menangisi perasaanya,sungguh ini adalah patah hati yang teramat sakit yang ia alami dalam seumur hidupnya.Ini bukan lah drama yang tengah ia perankan melainkan kenyaataan yang begitu pahit ia rasakan.Mona menolaknya untuk rujuk kembali,dan memilih bercerai dengannya,seakan-akan runtuh dunianya kini.


Banny sadar apa yang di rasakannya sama percis dengan apa yang pernah ia lakukan terhadap Mona,ketika ia mengusirnya dengan kejam bahkan menalaknya tanpa kompromi.


Banny menangis sakit,sungguh ini sebuah karma yang tengah ia rasakan,mungkin rasa sakit ini lah yang dulu Mona rasakan darinya.Banny menggeleng dengan rasa sakit yang begitu luar biasa.Hatinya melunak seperti bongkahan kapas di lautan,begitu tak mampunya ia menahan rasa sakit ini hingga hatinya selunak ini,dimana ketegasannya ketika menyakiti perempuan itu hilang seketika.

__ADS_1


Banny terpekur dengan rasa sakit yang begitu dalam,dunianya seakan-akan berakhir dengan begitu saja.


__ADS_2