
LELEHAN air mata itu mengalir deras membasahi kedua pipi merah gadis tersebut,Mona menumpahkan semua perasaannya yang sedari tadi di tahan olehnya,mungkin dengan menangis setidaknya ia bisa melepaskan sedikitnya beban yang mengganjal di hatinya serta meluapkan segala amarahnya yang terbendung selama ini,yaa hanya dengan cara seperti inilah perasaanya sedikitnya bisa berkurang meski belum nyampai taraf kata PLONG.
Gadis berparas manis pun membiarkan dirinya larut dalam tangisan kepedihan-nya yang teramat dalam,lelehan bening itu perlahan terus menuruni dua tebing pipinya dengan alirasan yang sangat deras.
Tangisan ini bukanlah hal pertama kalinya ia rasakan setelah adanya hubungan perjodohan ini.
Mona acap sekali menangisi perasaanya setelah ia mengenal sosok seorang Banny.
Tapi ia sadar kesedihan ini bukanlah kesalahan Banny maupun sang Ayah nya Banny yang telah menjodohkan dirinya dengan putra tunggalnya tersebut.Justru ini adalah kesalahan dirinya yang terlalu dalam melibatkan perasaanya di dalam sandiwara tersebut.
Ini adalah tentang sebuah perasaan dan benar adanya pepatah jawa kuno tersebut TRISNO JALARAN SOKO KULINO.
Selama hampir 60 hari ini ia menjalani ikatan sandiwara tersebut,tak ayal ia mendapatkan perlakuan-perlakuan kecil yang di luar sekenarionya,bahkan pria yang menjadi lawannya dalam sandiwara itu tak ayal membuat sedikitnya merasa ada perasaan yang selalu membekas di hatinya.
Yaa...gadis itu mencintai dalam diam dan terpedaya oleh pesonannya pria dingin berwajah tampan tersebut.
Dari sejak awal seharusnya ia menyadari jika keterlibatan perasaanya itu akan mengakibatkan perasaan yang fatal,dan bisa menjadi perasaan patah hati sepihak,dan kenyaannya itu kini sedang teralami oleh dirinya.
Ah rasanya ini sudah terlalu dalam ia memendam perasaanya terhadap bosnya itu.Dia memang pernah mencintai seseorang tapi tidak sedalam ini dan pernah berharap lebih terhadap seorang pria yang tak lain Zeanu tapi tidak sekecewa ini ketika tau harapannya tak seindah keinginannya.
Gadis itu terdiam menatap sepi dengan buliran-buliran bening terus meniti ke pangkuannya.
Mona menghela mencoba mengumpulkan kembali perasaanya yang telah terlalu jauh jatuh cinta di hati seorang pria tampan berwajah dingin itu yang faktanya tak sama sekali menyimpan perasaan apapun terhadap dirinya.
BODOH !!!
Gadis itu merutuk dirinya dengan kecewa.
Mona menghela panjang lalu perlahan mengangkat kepalanya menatap jauh ke langit-langit ruangan kerjanya tersebut,berharap air matanya tidak akan keluar lagi dari pelupuk matanya.Namun sayang semakin ia merasa sakit akan perasaan sepihaknya semakin deras air mata itu bergenang di kolam matanya sehingga perlahan membuat blur pandangannya.
Gadis berparas manis itu menghela napas untuk kesekian kalinya,seolah-olah semua fakta yang terjadi 180 derajat bebanding tebalik dengan ekspetasinya.
Harapan besar untuk memiliki hati seorang Banny hanya seperti klise semata,meski memang dirinya memiliki restu dari Ayah pria taman tersebut, tapi ia tak mampu memiliki hati si pemilik wajah tampan tersebut.
Gadis itu semakin terdiam menahan sesak yang kian mengimpit rongga dadanya lalu wajahnya kembali menegadah ke atas langit ruangannya tersebut ia berharap air matanya tidak kembali turun membasahi pipinyan yang belum mengering,tapi faktanya hatinya terasa sangat rapuh bahkan lebih dari itu.
Cukup rasanya ia harus mengeluarkan air matanya untuk seorang pria yang tak pernah mencintai dirinya.
Yaa....
TIDAK MENCINTAI.....
Dua kata itu di perjelas olehnya dan di garis bawahi agar dirinya sadar jika ia telah berharap kepada pria yang salah.
Gadis itu perlahan menyeka air matanya dan berusaha menenangkan kegalauan hatinya.
Mona menekan dadanya berusaha menghilangkan sesak di hatinya.
Tak pernah di pungkiri olehnya jika ia bahagia bisa di jodohkan dengan seorang Banny,meski hatinya tak bisa ia miliki.
Tapi sejak hari ini juga gadis manis itu berhenti berharap dan bertekad untuk melupakan sosok pria tersebut yang pernah menjadi sumber kebahagiaanya walau hanya sesaat.
Melupakan perasaanya yang hanya sepihak meski ia tahu ini tak mudah baginya,tapi ia harus bisa berusaha dan berharap bisa mengubur dalam perasaan sepihaknya tersebut.
Kalau hal itu tak bisa ia lakukan maka bersiaplah setiap harinya ia akan makan hati dengan perasaan sepihak itu.
Mona tertunduk kian dalam meski air matanya sudah mengering namun perasaannya masih di terpa rasa gelisah,betapa tidak.Sandiwaranya masih ada sekitar 30 hari lagi dan itu artinya ia masih bisa berkesempatan merebut hati si pemilik wajah tampan tersebut.
Tapi.......
Gadis berparas manis itu sesaat mengulang dan mengingat kembali perjalanan sandiwaranya tersebut hingga sampai di titik sekarang ini sudah berapa banyak kegelisahan dan kegalauan yang sudah Banny torehkan di hatinya.Ketika memutuskan untuk menerima pertunangan-nya saja ia rela menghambiskan banyak air mata untuk menangisi perasaanya tersebut.
Lalu bagaimana nanti di saat ia harus bersandiwara kembali di saat menjadi istri dari pria dingin itu ?tak bisa di bayangkan olehnya ia harus mempertaruhkan kembali perasaanya untuk cinta sepihaknya.
Tidak......
Mona menggeleng pelan tak pernah terbayangkan jika ia harus satu atap dengan pria yang tak pernah mencintainya pasti ia akan pesta air mata,dan air matanya akan mengalir deras dengan cuma-cuma.
NO BAPER MONA !!!
Kembali gadis itu merutuk dalam hatinya dengan sangat frustasi.
" Gue gak bisa seperti ini,dan gue pasti bisa mempertahankan perasaan ini untuk tidak ikut campur dalam urusan sandiwara ini." Gumannya dengan menyeka air matanya yang mulai berlinang kembali.
Namun sesaat perasaanya menguap kembali ketika bayangan wajah pria itu melintas kembali di orbit otak besarnya dan itu mau tidak mau bayangan wajah tampan itu melemahkan kembali pertahanan tekadnya.
" Pyuuhhhhhh !!!"Gadis itu menghempaskan napasnya dengan kasar.
Tak semudah itu ternyata.....
Tak semudah itu Ferguso !!!!
Hati kecilnya berkata lain jika ia harus melenyapkan sosok Banny di pikirannya.
Terlalu banyak jejak-jejak indah yang pernah di torehkan oleh pria itu terhadap dirinya.
Dan dosa terindah nya masih terasa lekat di bibirnya,Mona memejamkan matanya,ia berharap semua pikirannya yang di penuhi hantu tampan itu bisa enyah dari peredaran otak besarnya tersebut.
Tapi sekuat apa pun tekadnya untuk melenyapkan bayangan wajah pria tersebut semakin hebat ******* itu muncul di permukaan benaknya,bagaimana lembutnya pria tampan itu mengukirkan sebuah ciuman indah di bibirnya.
" Shitttt !!! " Gadis itu terhenyak lalu membuka matanya dengan cepat.
" Bodoh !!" Rutuknya dengan bernada emosi.
Betapa lemah perasaan dirinya yang tak mampu melenyapkan segala bentuk ke indahan yang pernah di torehkan oleh pria tersebut.
Entahlah ketololan macam apa ini yang mampu membutakan perasaanya sehingga ia tak mampu untuk menghidar dari sebuah perasaan CINTA.
************
Pukul 16:15 Menit gadis berparas manis itu nampak terlihat sibuk membereskan peralatan kerjanya,beberapa file di simpan rapih di samping komputernya,dan tak lama ia memasukan laptopnya ke handbagnya tersebut.
Matanya yang sebab memperlihatkan jika perasaan gadis itu sedang tidak stabil.
Mona menoleh ke arah pintu ruanganya saat Handle pintunya terlihat ada yang menarik dari luar,Mona mencoba memastikan siapa orang yang berada di balik pintu tersebut.
__ADS_1
Seorang pria perawakan tegap menyembul dari balik pintu itu dengan tanpa menunggu untuk di persilahkan,dan pria itu pun langsung masuk kedalam dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.
Mona terdiam dengan sorot mata dingin memandangi pria tersebut yang melangkah menghampirinya.
Mona menunduk mencoba mengalihkan tatapannya dari pria dingin itu.
" Kamu pulang bersama ku." Ucap pria itu dengan suara datar.
Mona berusaha tenang dan tidak memperlihatkan kegelisahannya tersebut.Perlahan Mona mengangkat wajahnya dan menantap dengan acuh.
Ada apa lagi pria ini menyuruhnya untuk pulang bersama?
Pikir Mona menatap lurus pria tersebut.
" Kita akan menghadiri undanganya pak Angkasa untuk makan malam,jadi tolong kamu siap-siap!." Ucap kembali pria itu berkata enteng kepada gadis tersebut yang tiada lain Banny bosnya sendiri.
" Baik pak." Jawab Mona dengan singkat.
Perasaanya membeku,ia hanya bisa pasrah seperti mayat hidup yang tidak mepunyai kemauan apapun.
Mona mengalihkan tatapannya dengan berusaha untuk menghidar dari tatapan bosnya tersebut.
" Kamu habis menangis ?" Tanya pria itu menyelidiki wajah Mona yang sembab.
Sebelum menjawab gadis itu tersenyum getir ke arahnya ia mencoba menampilkan raut wajah baik-baik saja.
" Tidak." Jawabnya datar tanpa ekspresi.
Pria tampan itu menghela merasakan perasaan nya kian canggung terhadap gadis itu seusai kejadian tadi siang.
" Saya tunggu di parkiran." Ucap pria itu singkat dan melangkah pergi meninggalkan gadis tersebut.
Mona terdiam seraya menatap langkah pria itu dengan perasaan tertekan.
" Dasar tidak peka,mata sebengkak ini masih nanya saja,dia pikir ini tersengat lebah apa ?" Gerutu Mona mengomel sendiri.
Lalu sebuah cermin kecil di arahkannya ke wajahnya itu dan benar saja wajah dia terlihat kuyu dan sembab.
Sejenak gadis itu berpikir,apakah dengan wajah seperti ini akan mengundang kecurigaan dari pak Angkasa jika sesuatu hal telah terjadi padanya.
Mona menggeleng lalu berpikir keras agar wajahnya setidaknya telihat sedikit fress.
Amel !! yaa Amel gadis sintal itu paling jago make over.
Ada sekitar beberapa menit lagi untuk melakukan hal itu,bukankah bosnya menyuruh dia untuk bersiap-siap?
" Ok gue harus menemui tuh bocah." Gumannya pelan.
Mona meraih tas yang ada di atas menja kerjanya lalu tangan kanannya menengteng handbag.
Perasaan gadis itu kembali gamang saat mengingat dirinya akan satu mobil dengan pria dingin itu,dan itu akan di pastikan jika pria tersebut akan bersikap dingin kepada dirinya layaknya sebongkah gunung es yang akan membekukan perasaanya.
Mona berjalan ke arah pintu ruangannya sebelum ia keluar dari ruanganya tersebut,terlebih dahulu ia menekan pelan saklar yang ada di dekat pintu tersebut, ruangan itu pun seketika menjadi gelap,dan tak lama kemudian ia mengunci rapih pintu ruanganya tersebut.
Mona berjalan dengan perasaan hampa menuju lift.
Ting......
Dengan cepat ia pun segera masuk kedalam kapsul lift tersebut,dua orang perempuan tersenyum penuh hormat ke arah dirinya dan sesaat saling terdiam,hening tak ada pembicaraan.
Mona menekan tombol hurup G itu artinya ia hendak menuju lantai dasar,ia tahu jika Amel sahabatnya itu belum pulang dan pada jam ini masih di ruangannya Tamara.
Mona menyenderkan tubuhnya di dinding lift sebelah kiri,pikirannya mengingat kembali perasanya yang kian terlunta-lunta tak karuan.
" Besok sepertinya akan ada meeting kembali deh,untuk pemberitahuan staff baru yang akan menggantikan pak Tora." Ucap salah satu perempuan itu membuka obrolan dengan suara nyaris tak terdengar.
" Iya sepertinya begitu,tapi kira-kira siapa yah yang akan menggantikan staf admin tersebut ?" Tanya salah satu perempuan itu bertanya kepada temannya.
Mona melirik ke arah dua perempuan itu,lalu dengan terlihat acuh ia berpura-pura mengambil gawainya di dalam tasnya tersebut dan mulai mengotak-atik gawainya dengan tanpa tujuan.
" Pak Hendra belum memberikan informasi secara jelas siapa-siapa-nya yang akan menggantikan pak Tora." Balas salah satu perempuan itu dengan memelankan suaranya.
" Oya,kemaren elo ada liat cewek gak ?yang bareng pak Banny ? " Bisik perempuan berambut pirang kearah telinga temannya itu dengan suara cukup pelan namun cukup jelas Mona tangkap dengan indra pendengarannya tersebut.
Telinga Mona melebar namun ia tetap terus berpura-pura sibuk dengan gawainya,agar dua perempuan itu tidak mengira jika dirinya sedang mendengarkan pembicraanya tersebut.
" Lihat sih,tapi cuman selintasan saja,pas pak Banny bawa cewek itu ke ruangan pak Hendra ." Balas perempuan tinggi itu seraya menoleh ke arah Mona dengan perasaan tak enak.
Mona masih terdiam menatap fokus ke gawainya tersebut,ia berusaha untuk mengalihkan perhatiann kedua perempuan itu,supaya ke dua perempuan itu yakin jika dirinya tidak menyimak obrolan mereka.
Mona menyeringah saat mendengar kedua perempuan itu mengatakan jika Arnetta ke ruangan pak Hendra,ada persoalan apa ?
Apa jangan-jangan gadis itu akan menggantikan posisi Tora ?
Pertanyaan baru muncul di benaknya.
Berarti jika gadis itu menggantikan posisi Tora,ada peluang besar gadis tersebut semakin dekat dengan bosnya tersebut.Mona melirik kecil ke arah kedua perempuan tersebut.
" Kira-kira itu siapanya pak Banny ya ?" Tanya perempuan itu setengah berbisik.
" Yaa yang pasti itu bukan selingkuhannya lah,kan tunanganya ada satu kantor dengan pak Banny." Sela gadis berambut pirang menoleh ke arah Mona dengan ragu.
Gadis yang tengah menguping itu cuek menatap acuh ke layar ponselnya tersebut.
" Gue beranggapan juga gitu,masa ia pak Banny semapia itu,qii..qiii..." " Ucap perempuan berambut pirang kembali berbisik dan terkekeh.
Mona terdiam menahan mulutnya yang gatel ingin ikut nimbrung dalam celotehan dua perempuan itu,jiwa ngocehnya meronta-ronta,namun ia harus jaga wibawa agar terlihat elegan.
Ting.......
Pintu lift tersebut terbuka di hurup G dengan tanpa menghiraukan dua perempuan itu Mona langsung melesat menerobos pintu lift yang sedang terbuka,kedua perempuan itu saling menatap resah satu sama lain,mereka beranggapan jika Mona mendengarkan semua obrolannya.
Tentu saja Mona mendengar dengan jelas obrolan mereka meski mereka sudah memelankan suaranya.
Mona berjalan dengan sikap abai,tepat ia hendak menuju lorong ruangan pandangannya terbentur ke arah luar loby perkatorannya.
__ADS_1
Dan di situ ia melihat jelas Banny sedang mengantarkan gadis cantik itu menuju sebuah Taxsi.
Banny terlihat menupuk-nepuk hangat pundak gadis tersebut,dan tangan si gadis itu melingkar di pinggang pria tinggi tersebut.
Dada gadis itu seketika bergemuruh menatap pemandangan yang di rasa cukup menghangatkan perasaanya tersebut,entah kenapa keyakinannya semakin bertambah jika gadis tersebuat adalah some one-nya pak Banny.
Pria tampan itu melambaikan tangannya ketika gadis itu menjulurkan kepalanya di antara kaca pintu mobil yang terbuka.
Lalu perlahan taxsi tersebut pun berjalan meninggalkan loby perkatoran tersebut.
Mona dengan bergerak cepat ia segera berjalan menuju lorong ruangan,ia tak mau jika bosnya tersebut melihat keberadannya yang tengah memperhatikannya itu.
Mona berjalan dengan perasaan yang tak bisa di kondisikan lagi,amarahnya muncul sesaat ia menginggat kembali hal yang baru saja ia lihat.
Pria tampan berwajah dingin itu begitu hangat serta ramah memperlakukan gadis tersebut berbeda halnya ketika sedang memperlakukan dirinya yang selalu bersikap dingin.
" Mon !" Panggil Suara cempreng memanggil dirinya ketika berpapasan di lorong ruangan tersebut.
Mona yang sedari tadi berjalan dengan pandangan kosong terkesiap ketika panggilan tersebut terasa begitu dekat dengan telinganya.
" Kebiasaan ya,lo kalau berjalan sambil bengong gitu." Guman Amel dengan wajah datar.
" Sorry gue lagi gak fokus." Balas Mona tersenyum hambar.
" Apa lagi sih yang di pikirin ?masih mikirin cewek bareng pak Banny itu ya ?" Tanya Tamara heran.
Mona menggeleng dengan tersenyum keki.
Amel menarik tubuh Mona dan menyimak secara detail wajah sahabatnya itu.
" Eh wajah elo kenapa ?,lo habis nangis ?" Tanya Amel menatap penuh selidik ke arah wajah Mona yang sembab.
Mona dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tersenyum bete.
" Gue tadi kelilipan,gue kucek matanya eh malah jadi bengkak gini." Ucapnya dengan mengucek-ngucek kembali matanya dengan penuh drama.
" Elo ngucek mata apa ngucek cucian?masa ampe kaya gitu tuh mata,lagian mana ada cuman gara-gara di kucek mata ampe sebab gitu,ngaco loh." Ucap Amel menatap tak percaya.
" Kelilipan gajah kali yah Mel kalau sebengakk gitu." Sela Tamara dengan membenarkan poni pendeknya.
Sesaat Mona berpikir,ia mencoba mencari alasan yang masuk akal biar kedua sahabatnya percaya dengan pernyataan yang dia buat.
" Sebenernya sih tadi gue beniat pengen pake softlens, tapi kayanya gue emang norak yaa,masa di pakein softlens aja mata gue perih,yaa gue copot lagi." Terangnya dengan santai.
" Serius ??" Tanya Amel menatap tak percaya.
" Serius,soalnya pak Angkasa malam ini mengundang gue sama pak Banny makan malam bersama yaa tadinya gue mau tampil beda pake benda itu,nyatanya gue norak." Imbuh Mona dengan ekspresi bahagia yang di buat-buat.
Amel menoleh ke arah Tamara dengan perasaan sangsi.
" Cie,ceritanya elo mau tampil beda nih,ada acara pake softlens segala ." Canda Tamara tersenyum penuh cemooh.
Mona mengangguk dengan tersenyum tipis.
Bagi seorang Mona tersenyum adalah nafasnya.Karena dengan tersenyum ia mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
" Elo yakin,mata bengkak elo bukan karena nangis.?" Celetuk Amel menatap penuh selidik.
Mona menghela,lalu menatap penuh seksama ke arah salah satu sahabatnya yang mempunyai sikap frontal.
Amel adalah salah satu sahabat dirinya yang tak bisa di bohongi begitu saja.
Meski alasan kali ini cukup ampuh tapi ia memang seorang frontal gaming,yang bisa mempunyai kelebihan dalam sebuah insting.
" Serius !! makanya gue turun nemui elo,buat benerin make up gue,soalnya gue gak enak juga sama pak Banny, gue takut mempermalukan dia." Imbuh Mona dengan mengekspersikan senyuman bahagianya.
Amel dan Tamara saling bertatapan satu sama lain.
Amel menyeringah lalu menatap dengan sikap curiga,seolah-olah ia sedang mengukur dalam perasaan yang tengah Mona hadapi.
" Terus mana softlens lo ?" Tanya Amel dengan menatap tajam.
" Hmmm,gue udah buang,perih soalnya hiii hiii...," Ucap Mona tersenyum kaku.
Amel mengangguk dengan berbagai perasaan yang gamang.
" Gue percaya...." Ucap Amel mengangguk pelan.
" Kenapa sih,kok elo kaya gak percaya gitu deh sama gue ?" Tanya Mona menyeringah heran.
" Ya ya.,trust is everthing." Ucap Amel menambahkan.
Mona menatap dengan gak nyaman ke arah sahabatnya tersebut setelah Amel menyindir dirinya secara tak langsung.
" Gue tau,elo gak akan begitu bisa percaya dengan apa yang gue omongin,tapi kali ini maaf kan gue Mel,gue gak bisa cerita,karena elo pasti akan menyalahkan sepenuhnya sama gue,dan gue pasti akan nangis lagi jika gue cerita hal ini."
Guman Mona dalam hatinya menatap penuh arti ke arah sahabatnya itu yang sedang berusaha menelisik perasaanya.
" Elo bisa kan dandanin gue ?"Tanya Mona mengalihkan pembicaraan.
" Soalnya gak ada waktu lagi buat gue kesalon." Jelas Mona dengan menarik tangan Amel yang memasang wajah tanpa ekspresi.
" Gue gak yakin jika elo bisa dandanin si Mona,tar mukanya mirip boneka mampang gimana?." Celetuk Tamara menambahi.
"Mending boneka mampang,dari pada banci lenong." Sela Amel dengan ekpresi datar.
" Tega aja loh Mel,bikin gue kaya banci lenong." Ucap Mona merengut.
" Ya udah kita keruangan si Tamara aja ya,elo siap-siap disana aja." Ucap Amel seraya menoleh ke arah Mona yang tersenyum hambar.
" Guee tahu,apa yang sedang elo rasakan Mon,gue yakin jika perasaan elo sekarang sedang tertekan dan itu tak akan jauh dari perasaan elo terhadap pak Banny."
Batin Amel menatap dalam sahabatnya tesebut Meski Mona terlihat tersenyum,namun senyumannya itu tak seceria jiwa seorang Mona,ada luka yang sedang di balut oleh senyumannya itu,namun ia tak bisa memaksakan sahabatnya itu untuk segera bercerita kepadanya.
Suatu hari nanti kesedihannya yang sedang Mona rasakan akan di keluh kesahkan kepadanya.
__ADS_1
Amel tahu betul akan ke adaan sahabatnya itu dan kali ini pun ia membiarkan perasaan sahabatnya itu larut dalam kesedihannya.