CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 115


__ADS_3

SEBUAH pesta yang sangat sederhana namun terkesan istimewa,dan acara tersebut pun hanya di hadiri rekan-rekan kantor beserta kerabat terdekat.


Nampak seorang perempuan yang usianya sudah mencapai setengah abad terlihat mengenakan pakaian bernuansa warna putih tulang,ia berdiri dengan raut wajahnya terlihat resah.


Perempuan itu memperhatikan setiap tamu yang hadir di pesta Anniversary pernikahannya yang ke sepuluh tahunnya tersebut.


Perempuan yang usianya kini tak muda lagi itu menatap bergantian ke arah orang-orang yang hadir di acara pesta sederhana-nya tersebut.


Seorang pria muda berwajah tenang menghampirinya dengan raut wajah terlihat sendu,di tatapnya perempuan itu dengan berbagai perasaan di hatinya.


" Zean,gimana Mona akan datang ?" Tanya perempuan itu yang tak lain Mama nya Mona bertanya lirih.


Zeanu sesaat hanya menatap risau ke dalam wajah perempuan yang paling di kasihinya.


" Ada apa Zean ?" Tanya lagi perempuan itu semakin menatap cemas,setelah ia melihat ekspresi wajah anaknya tersebut seperti memendam sesuatu hal.


" Maaf kan Zean ma,Zean tidak bisa membawa Mona hadir di acara ini." Ucap Zeanu dengan perasaan berat.


Perempuan itu menghela panjang dengan di liputi perasaan kecewa.


" Mona masih membenci Mama." Sela perempuan bernama Fatma itu terlihat sedih.


" Tidak ma,Mona seperti nya sibuk, dia masih ada urusan penting di kantornya.Jadi ia tidak bisa meninggalkan urusannya tersebut." Jelas Zeanu berusaha untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Fatma terlihat mendunduk dengan perasaan kecewa,meski Zeanu berusaha memberi alasan yang lain,namun hati kecilnya berkata lain tentang putrinya tersebut.


Raut wajahnya mulai terlihat sembab menahan kesedihan yang sulit ia tutupi lagi.


" Fatma,acaranya akan segera di mulai,kamu masih menunggu siapa lagi ?" Suara berat menyela dari arah belakang mereka.


Zeanu dan sang ibu sambungnya itu menoleh kearah suara pria tersebut.


" Pah,Mama masih menunggu Mona,tapi sepertinya Mona tidak akan bisa hadir." Ucap Zeanu dengan suara berat.


Pria berpenampilan rapih itu menghela ikut merasa prihatin.


" Mungkin Mona masih ada pekerjaan lain,jadi ia tak bisa menghadiri acara kita ini." Jelas sang Ayah mencoba menenangkan hati sang istri.


Sang istri hanya mengangguk pelan dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di hatinya.


Perempuan itu paham jika putrinya tersebut belum bisa memaafkan akan kesalahan dirinya.


" Iya pah,mama rasa seperti itu juga." Ucap Fatma berusaha menyembunyikan perasaan yang terasa kalut.


" Ya sudah, kita ke depan saja yah,teman-teman papah sudah pada nunggu,lagian acaranya akan segera di mulai." Ucap sang Ayah mengajak istrinya dan anaknya tersebut untuk segera menemui para tamu yang sudah hadir.


" Pah Zean ganti baju dulu yahh,habis dari luar gak enak juga bau nya,bau keringat." Pinta Zeanu meminta izin untuk mengganti bajunya tersebut.


" Ok. Tapi kamu jangan lama-lama ya." Balas Pria berbadan bulat itu menatap hangat sang anak.


Zeanu mengangguk seraya membalas senyuman hangat sang Ayah.


Pak Zaima berjalan menuju pelataran rumahnya yang sudah di sulap dengan dekorasi yang cantik,meski pesta tersebut terlihat sederhana namun suasana begitu terasa istimewa.


Beberapa menit kemudian Zeanu sudah hadir di tengah-tengah acara tersebut dengan balutan busana yang tidak teralalu formal namun masih terlihat rapih.


Semua hening ketika seorang pria dengan perawakan tegap bertugas sebagai pemandu acara tersebut memulai acaranya,dengan menyapa hangat para tamu yang hadir beserta sang tuan rumah selaku yang punya hajat.


Tak lama kemudian seorang pemandu acara membacakan do'a bagi kelanggengan rumah tangga bagi pasangan suami tersebut.


Pak Zaima beserta sang istri mengikuti dengan syahdu dalam setiap untayan do'a yang di panjatkan si pemandu acara tersebut,lalu mereka pun mengamininya segala bentuk do'a yang di panjatkan oleh pemandu acara tersebut.


Nampak dari sudut mata perempuan itu ada lelahan bening menuruni di kedua pipinya.


Di sela do'an nya dirinya menyelipkan sebuah harapan agar buah hatinya yang hingga saat ini belum bisa memaafkan segala kesalahannya dan berharap ia bisa menerima kembali kehadirannya.


Perempuan itu bermunajat agar hati sang putri terkasih itu bisa luluh dan memaafkan segala kesalahannya.


Perempuan itu perlahan membuka matanya setelah acara do'a tersebut selesai ia berharap besar jika ada ke ajaiban sang putrinya memberikan kejutan kepada dirinya dengan tiba-tiba saja hadir di acara pesta nya tersebut.


Dengan raut wajah terlihat sembab pandangannya menyapu keseluruh tamu yang hadir di pesta tersebut,ia berharap hati putrinya akan tergerak dengan do'a yang telah ia panjatkan dengan setulus hatinya.


Pak Zaima merangkul pundak sang istri dengan penuh kasih sayang lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan ia merasakan apa yang sedang di rasakan oleh istrinya tersebut.


Fatma menatap dalam ke arah pria berwajah oriental belasteran jepang tersebut,pria itu begitu penuh kasih sayang memperlakukan dirinya, maka perpisahan dirinya dengan sang mantan suaminya bukan tanpa alasan.


Kenapa dirinya berpaling dari suami terdahulunya dan bersedia berpisah dengan Ayahnya Mona?karena sebuah perlakuan yang tidak bisa menghargai perasaan dirinya.


Yaa...,Fatma meninggalkan anak beserta suaminya hanya ingin terlepas dari perasaan yang membelenggunya,hingga takdir mempertemukan dia dengan pria yang benar-benar memperlakukan dirinya dengan penuh kasih sayang,dan ia adalah Zaima teman satu sekolahnya terdahulu yang di pertemukan kembali oleh takdir cinta.


Zaima adalah sosok pria yang hangat dalam memperlakukan seorang perempuan tak beda jauh dengan putranya Zeanu,sehingga gadis bermata belo pun merasa nyaman bila di dekatnya.


Fatma masih menatap lekat sang suami,ia mengingat kembali pertemuan nya sepuluh tahun yang lalu,setelah ia melewati perjalanan seorang diri dalam mengarumi kehidupan yang pahit.

__ADS_1


Namun kehidupan-nya kini telah berubah semenjak dirinya menjadi istri seorang pengusaha,dan Zaima adalah Ayah dari seorang Zeanu.


Sikapnya yang penuh pengertian dan penuh kasih sayang sehingga memperlakukan dirinya begitu sangat istimewa.Walau memang hati kecilnya selalu tertuju kepada putri semata wayanganya yang sekian lama ia tinggalkan begitu saja.


Fatma menarik napas lalu menatap dalam ke arah wajah suaminya yang selalu menguatkan dirinya.Pria bermata sipit itu hanya tersenyum simpul dengan begitu hangat.


Zeanu,pria berparas tampan itu menatapnya dengan penuh rasa haru kepada orang tuanya,ia dapat melihat ke harmonisan yang di ciptakan oleh sang Ayah beserta sang ibu sambungnya tersebut.Ia pun bahagia bisa melihat kembali senyuman bahagia sang Ayah dengan perempuan pilihannya.


" Ma,Mama !" Panggil seseorang dengan suara lembut nyaris tertahan memecah kesyahduan acara tersebut.


Dengan bersamaan Zeanu beserta kedua orang tua nya pun menengok ke arah asal suara tersebut dan Fatma adalah orang yang pertama terkejut setelah melihat orang yang memanggil dirinya.


Ia menatap shok sekaligus campur bahagia setelah tahu yang memanggil dirinya adalah putri terkasihnya.


Begitupun Zeanu ia menatap tak percaya ke arah gadis yang berdiri tepat di belakangnya.


Dengan spontan perempuan itu pun tercekat dan langsung berlari menghampiri ke arah gadis tersebut.


Gadis itu tersenyum dengan linangan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


" Ma,maafkan Mona." Pekik gadis tersebut lirih.


Suaranya terdengar samar-samar.


Tanpa menunggu lama perempuan itu pun merangkul erat tubuh gadis mungil tersebut,betapa bahagianya ia bisa kembali memeluk tubuh sang putri kecilnya yang sekian lama ia tinggalkan dan kini gadis itu telah dewasa.


Gadis itu terisak pelan saat sang ibu memeluknya dengan penuh rasa rindu yang dalam.Pelukan inilah yang selalu ia rindukan di kala ia sedang rapuh,dan pelukan hangat inilah yang selalu di nantinya di saat ia ada dalam kegundahan.


Deraian air mata bahagia mengalir deras membasahi kedua pipinya membuat seluruh para tamu ikut terharu dengan adegan yang sedang berlangsung ini.


Perempuan itu tak bisa lagi berkata apapun selain hanya meluapkan rasa bahagia nya itu dengan deraian air mata.


Zeanu menatap dengan perasaan haru,bibirnya tersenyum namun matanya terlihat basah ikut merasakan keharuan yang di rasakan oleh sang ibu sambungnya tersebut.


" Mona,maaf kan Mama." Ucap perempuan itu melepaskan pelukannya lalu kedua tangan nya memberi permohonan maaf kepada sang putrinya dengan mengiba.


Gadis itu dengan cepat memeluk tangan tersebut,meski kesalahan orang tuanya pernah membuatnya menderita,tapi pengorbanan nya lebih jauh berharga dari kesalahan nya itu, ia di lahirkan ke dunia fana ini oleh sosok perempuan itu dengan nyawa taruhannya.


Mona tidak bisa membayangkan jika dirinya masih bersi keras untuk tidak memaafkan kesalahan perempuan itu,maka bersiaplah dirinya akan menyesal seumur hidup jika perempuan ini sudah tiada.


" Kamu memaafkan semua kesalahan Mama nak ?" Tanya perempuan itu seraya berderaii,tatapan nya di penuhi dengan sorot mata bahagia.


Gadis itu mengangguk dan mencoba tersenyum di tengah-tengah kegetiran isak tangisnya.


Perempuan itu kembali memeluk erat,perasaannya benar-benar bahagia setelah kembalinya sang putri kesayangannya dalam pelukan nya itu.


*Beberapa hari kemudian*


PRIA tampan berwajah dingin itu menatap kosong ke arah jendela luar perkantorannya dengan di tanganya secangkir kopi panas, ia menikmati aroma yang begitu semerbak dari minuman tersebut hingga aroma wanginya memenuhi seantereo ruangan kerjanya tersebut.


Sesekali ia menyeruput kopi panas itu dengan begitu nikmatnya namun pandangannya masih terpaku ke arah luaran sana,banyak pikiran yang sedang menganjal di benaknya terutama masalah seorang gadis yang kini sosoknya memenuhi isi ruangan hatinya.


Semakin hari-semakin lekat bayangan gadis itu di pikirannya nyaris tak bisa ia jauhkan dari bayang-bayangnya,ada rasa rindu bila tak jumpa,bahkan kehadirannya selalu di nanti walau pun dirinya masih belum berani untuk mengatakan perasaannya yang selama ini terpendam.


" Selamat siang Ban !" Sapa seorang perempuan tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


Pria itu menoleh dengan perasaan kaget setelah merasa dirinya terganggu dengan sapaan perempuan tersebut.


Wajah tampan itu melengos saat tahu yang menyapa dirinya adalah perempuan yang selalu di hindarinya.


" Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu ?" Tanya Banny dengan wajah datar.


" Aku bukan staf atau sekertaris mu yang harus ketuk pintu dulu jika mau bertemu dengan kamu,jadi aku tak mesti harus seperti itu kan?" Ucap perempuan itu menatap angkuh.


" Tapi setidaknya kamu harus memiliki attitude yang baik,masuk ke ruangan orang harus ada tatak ramanya." Ucap pria tersebut bernadakan sebuah kekesalan.


Wajah cantik perempuan itu memerah lalu menatap pria tersebut dengan perasaan yang sulit di artikan.


" Oh,jadi sekarang aku harus seperti sekertaris kamu itu?jika aku ingin ketemu sama kamu aku ketuk pintu atau buat janji dulu, gitu ?" Tanya perempuan itu dengan menatap sebal ke arah Banny.


Banny terdiam lalu menatap perempuan itu dengan sorot mata beku.


" Kamu tidak perlu seperti sekertarisku,karena kamu dengan dia jelas berbeda." Ucapnya tandas.


Sontak mata perempuan itu mendilak.


" Sudahlah Ban,kenapa kamu tidak akhiri saja sandiwara kamu ini,dan kamu tidak perlu lagi berpura-pura dalam perasaan kamu itu,awal atau akhir kamu akan tahu seperti apa sekertaris kamu itu." Ucap Kinaya menatap lurus Banny.


" Maksud kamu ?" Tanya pria itu heran,kedua matanya menyipit.


" Yah,Kemarin aku bertemu dengan sekertaris kamu itu di mall" Jelas Kinaya mendekat ke arah pria tersebut.


Pria itu memalingkan wajahnya berusaha untuk tidak terlalu tertarik dengan pembicaraanya Kinaya,bahkan pria itu hanya tersenyum sinis dan berusaha membayangkan hal baik bahwa mungkin saja Kinaya memang kebetulan bertemu dengan seketarisnya tersebut di mall dalam keperluan belanja.

__ADS_1


" Tapi......." Sela Kinaya menggantung ,ia sengaja membuat penasaran pria yang ada di hadapanya tersebut.


Pria itu mengarah kembali ke arah dirinya,sepertinya perempuan ini telah berhasil membuat dirinya penasaran dan tertarik akan ucapan Kinaya yang mengantung.


Banny mengernyitkan alisnya dengan sinis menatap tajam ke arah perempuan tersebut.


" Tapi aku melihat sekertaris kamu itu bersama dengan sahabat terbaik kamu.Zeanu." Ucap Kinaya singkat.


Sontak Banny cukup tersentak mendengar penuturan kinaya,namun ia berusaha untuk santai dan tidak terlalu peduli.Walau kenyataanya entah kenapa jantungnya langsung berdetak dua kali lebih kencang saat mendengar Mona bersama Zeanu.


Banny menyimpan cangkir kopi tersebut sedikit kasar di atas meja.


" Peduli aku apa ?" Tanya nya dengan menatap dingin.


" Apa kamu tidak merasa cemburu ?" Tanya Kinaya berusaha memancing.


Sungguh pertanyaan yang akan menjebak dirinya,jika ia mengatakan jujur apa yang di rasakan-nya saat ini tentu Kinaya akan beranggapan remeh kepada dirinya jika ia benar-benar ada perasaan terhadap sekertarisnya itu,tapi jika ia mengatakan tidak merasa cemburu itu artinya ia akan memberi peluang besar kepada mantan kekasihnya itu secara tidak langsug untuk dekat dengan dirinya.


Banny terdiam menatap panjang wajah perempuan tersebut.


" Mungkin mereka bertemu dengan tidak sengaja di sana." Balas Banny enggan menatap perempuan tersebut.


Perempuan itu tersenyum sinis namun penuh ironi. seakan-akan dia bisa menebak isi hati pria tampan tersebut.


" Dan menurut kamu mereka tak sengaja bertemu di mall lalu sekertaris kamu malah ikut belanja bersama sahabat kamu itu,apa kah itu suatu kebetulan ?aku rasa mereka tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan bertemu,kamu paham kan apa maksud aku ?" Jelas perempuan cantik itu berusaha terus memancing perasaan mantan pacarnya tersebut.


Banny melepaskan tatapan tidak suka ke arah perempuan itu,yang di rasanya ia terlalu ikut campur dalam perasaannya.


" Kenapa kamu membahas hal itu ?" Tanya pria itu menyeringai semakin sinis.


" Yaa secara,dia adalah tunangan kamu kan?dan aku rasa jika sekertaris kamu itu memang ada hubungan spesial dengan sahabat kamu,Zeanu." Imbuhnya kembali mencoba memanasi perasaan Banny.


Banny menarik napas kasar baginya ini benar-benar simalakama,dan entah kenapa perasaanya mulai di liputi rasa sakit yang entah kapan rasa itu hadir dalam hatinya,semakin kuat prasangka dia terhadap sekertaris beserta sahabatnya tersebut.


Kinaya menatap puas,jebakan nya di rasa ampuh dan membuah kan hasil, ia sangat yakin jika mantan kekasihnya itu benar-benar telah bermain perasaan dengan sekertarisnya tersebut.


" Kuharap kamu tidak perlu ikut campur dalam hubunganku dengan sekertarisku." Sela pria itu dengan datar.


" Kenapa ?,kamu merasa gengsi untuk mengakui perasaan kamu sendiri yang kini mulai suka terhadap sekertaris kamu itu.Heuh aku rasa kamu keliru dalam memilih perempuan sekelas Mona." Ucap perempuan itu mendecih.


" Ini bukan urusan kamu." Jawab Banny ketus.


" Aku peduli Ban,karena aku masih mencintai kamu,harus berapa kali lagi aku mengatakan hal ini." Ucap Kinaya sedikit berseru.


" Tapi maaf !! aku sudah tidak mencintai kamu lagi Kinaya,sekarang atau pun nanti.Jadi tolong kamu jangan ikut campur lagi dalam urusan ku ini,dan aku terhadap kamu sudah tidak ada perasaan apapun lagi." Ucap Banny dengan penuh penekanan.Kinaya terdiam dengan perasaan hancur di hatinya.


Pria yang sangat di cintainya dengan jelas menyatakan sudah tidak mencintainya lagi.


" Dan perlu kamu ingat lagi,jangan pernah berharap sesuatu apa pun lagi dari aku selain kamu menjauh dari ku." Ucap Pria itu semakin tajam menatap perempuan itu.


Bibir bawah perempuan itu bergetar, hatinya terasa sakit teriris oleh benda tajam.


Perasaanya tersayat-sayat oleh ucapan pri itu yang mengena di hatinya.


" Jadi kamu sudah melupakan perasaan kamu itu?" Tanya Kinaya menatap nanar,lelehan bening mulai nampak dari bibir matanya.


" ya,sampai kapan pun aku tidak akan bisa menerima kamu lagi.PAHAM !! " Ucap pria itu tandas.


Akhirnya Banny bisa bersikap tegas terhadap mantan kekasihnya itu,walau memang bayang-bayang masa lalunya tak bisa begitu saja hilang dari memorynya,tapi tekadnya sudah bulat jika ia akan move on dari cintanya Kinaya.


" Kamu tega Ban!!,kamu selama ini hanya pemberi harapan palsu ke aku.Aku pikir setelah kamu selesai sandiwara itu kamu akan kembali sama aku,rupanya janji kamu itu tidak bisa di pertanggung jawabkan." Ucap perempuan itu mengarahkan jari telunjuknya ke hadapan wajah pria tersebut.


Sontak wajah pria itu memerah saat dirinya di tuding tidak bertanggung jawab dalam menepati sebuah janji,amarahnya tiba-tiba saja naik ke kepalanya.


" jangan pernah kamu sebut aku tidak bisa mempertanggung jawabkan sebuah janji,justru ini semua berawal dari diri kamu sendiri yang mengingkari sebuah janji."


Ucap Banny mencekal tangan perempuan itu dengan kasar.


Kinaya terkejut bukan main atas sikap marahnya Banny


" Dan satu hal,aku paling benci jari telunjukmu menujuk-nunjuk wajah ku." Ucap Banny dengan menatap bringas.


Kinaya meringis saat pria itu mencekal kuat tanganya.Ia melihat ada kemarahan yang tak bisa lagi di sembunyikan dari dalam raut wajah tampan itu.


Lalu di tepiskan nya tangan perempuan itu dengan kasar hingga membuat Kinaya meradang.


" Silahkan kamu keluar !dan jangan tunjukan lagi wajah kamu di hadapan ku." Ucap pria itu membelangi perempuan tersebut.


Kinaya sejadi-jadi menangis merasakan sakit yang luar biasa atas pengusiran dirinya.


" Kamu akan menyesal menyakitiku." Rutuk perempuan itu dengan suara terisak.Banny hanya terdiam dan tidak memperdulikan ucapan perempuan tersebut.


Brukkkk.

__ADS_1


Terdengar suara pintu di banting dengan kasar,menandakan jika Kinaya marah besar atas sikap yang di ambil olehnya.Lalu pria itu pun menarik napas panjang dan membalikan kembali tubuhnya menghadap ke arah pintu ruangannya tersebut.


Ada yang hilang sebuah perasaan yang menganjal di hatinya selama ini,dan dengan tegas ia dapat mengungkapkan semua unek-unek perasaanya terhadap perempuan yang kini telah menjadi mantan kekasihnya tersebut.Dan ia pun berharap perempuan itu tidak akan lagi mengganggu kehidupannya.


__ADS_2