
MONA menatapi bayangan wajahnya yang basah di cermin wastafel toilet,ia menatapi sekaligus membayangkan kembali adegan dia bersama pria tampan berwajah es balok tersebut.
Betapa pun tidak perlakuan pria tersebut selalu membuatnya pasrah dan sulit untuk menghindarinya.Tapi entah kenapa selalu saja tak ada kepastiann jika pria tersebut akan menyatakan perasaanya itu.Tapi kenapa perlakuan pria tersebut seolah-olah dirinya adalah tunangan yang sebenarnya.
Pria macam apa itu ?
Mona mendecih sebal jika teringat akan ke egoisan bosnya itu.
Sudah jelas jika pria itu merasa cemburu bila dirinya dekat dengan pria lain,tapi pria itu selalu mengelak dari perasaanya,justru ia seperti gengsi untuk mengakuinya.
Mona menatap resah ke arah bayangan wajahnya di cermin itu.
Untuk yang kedua kalinya pria tersebut menorehkan jejak yang indah sehingga dirinya tidak bisa melupakan begitu saja kejadian itu.
" Pyuhh....." Gadis itu mendesah pelan.
Cukup rasanya ia di permainkan oleh perasaan nya sendiri hingga tak jelas seperti ini,bukan kah ia juga berhak untuk menolak perasaan itu,gadis itu dilema dengan setengah mati.
Tatapannya samakin nanar,rasa resah membuncah di dalam sanubarinya,ia mengakui jika dirinya semakin tak bisa melepaskan sosok pria tersebut dari ingatan nya.Jika ia sudah menggenggam sesuatu maka tak mudah baginya untuk melepaskan.
Matanya memerah merasakan perih dalam hatinya yang terus menyeruak.
Bagaimanapun pria itu pernah menc**m lembut bibirnya meski mulut dan otaknya menolak,tapi saat kejadian itu ia merespons lain.Gadis tersebut menikmati ketika tangan kokoh pria tersebut menguasai pergerakan tubuhnya.
Ahh.....rasanya Mona ingin menangis sekuat mungkin jika ingat hal itu,Banny lah sosok pria yang telah berani melakukan hal itu,dan bodohnya ia tidak bisa menolaknya.
Mona menyeka air matanya yang mengalir deras di pipinya,lalu menyentuh lembut ujung bibirnya dengan berbagai perasaan.
Nada dering ponsel Mona berbunyi nyaring membuyarkan lamunan nya.Dan ponselnya itu bergetar kuat di dalam saku belezernya tersebut.Mona terdiam lalu sesaat mengabaikan nada panggilan itu,pikirannya tertuju kepada sosok pria berwajah dingin yang sedang menelepon dirinya kini, dengan lagu lama pastinya pria itu menelpon nya hanya untuk meminta maaf atas sikapnya itu.
Ahh... itu modus !!
desis gadis itu dengan acuh lalu ia pun kembali membasuh wajahnya dengan air.
Sesaat nada dering itu terdiam,namun tak berapa lama ponselnya kembali berdering lagi dalam saku blezeernya.
Dengan perasaan malas akhirnya Mona pun memutuskan untuk mejawab panggilan tersebut.
Mona segera merogoh ponselnya di tatapnya penuh layar ponsel tersebut.
Muncul nomor yang tidak di kenal memanggilnya,Mona menatap heran ke arah nomor baru tersebut.
Dengan perasaan ragu Mona pun menggeser lencana hijau di layar ponselnya.
Lalu mendekatkan benda pipih buatan negeri oppa-oppah tampan tersebut ke telinganya.
" Ha hallo...." Sapanya dengan ragu-ragu.
" Halo !Assalamulaikum."Sapa suara seorang laki-laki menyapanya cukup lantang dari arah sebrang telepon.
" Wa wa alaikumslaam,maaf ini siapa ya ?" Tanya Mona dengan mengernyitkan kedua alisnya.
" Hallo Mona ini aku,Angkasa." Jelasnya dengan suara riang.
" Angkasa ???" Pekiknya dengan suara tertahan.
Gadis tersebut membeliakan matanya menatap tak percaya.
Ada apa ia menghubungi dirinya ?Mona menatap cermin dengan raut wajah bertanya-tanya.
" Sorry,aku ganggu gak ? " Tanya suara itu renyah.
" Hmmm,,tidak pak,eh...." Ucap Mona dengan perasaan gerogi.
" Aduh kamu masih kaku saja sih,panggil aja aku Akas." Jelas Angkasa terdengar ramah dari ujung telepon.
" Sorry,aku tidak enak saja manggil orang sekelas pak Angkasa dengan panggilan nama saja." Imbuh Mona dengan perasaan tidak enak hati.
" Santai aja lagi,aku udah biasa kok,lagian aku belum tua-tua amat kok di panggil bapak.Hee... hee.." Ucap Angkasa terkekeh.
Mona hanya tersenyum pasi dengan mengigit ujung bibirnya.
" Ok.Oya ada yang bisa aku bantu Kas ? " Tanya Mona dengan pelan.
" Engga ada apa-apa kok,aku cuma iseng saja nelepon nomor kamu ini,aku pikir nomor nya sudah gak aktif lagi, ternyata masih aktif nih.Aku save ya ! siapa tahu nanti aku ada perlu sesuatu sama kamu." Jelas Angkasa dengan suara yang terdengar begitu ramah.
" Perlu ??? " Tanya Mona mengernyit.
__ADS_1
" Yaa siapa tahu hubungan kerja ini akan berlanjut kedepan nya.jadi apa salahnya aku menyimpan nomor sekertaris pemilik dari perusahaan ini." Jelas Angkasa dengan nada penuh menggoda.
" Kamu bisa saja." Sela Mona dengan tersenyum datar.
" Sorry ya aku ganggu nih,aku cuman ngecek nomor saja kok." Ucap Angkasa terdengar ramah.Meski hanya lewat telepon namun Mona bisa memastikan jika faras wajah pria tersebut memiliki sikap ramah.
" Gak apa-apa,tenang saja aku lagi santai juga kok." Ucap Mona dengan tak kalah ramah.
" Ok,makasih ya Mon." Ucap Angkasa mengakhiri pembicaraanya.
" Sama-sama Kas." Balas Mona dengan pelan.
" Assalamualaikum !" Ucapnya menutup pembicaraanya.
" Waalaikumsalam." Jawab gadis tersebut dengan pelan
Dan tut......
Panggilan berakhir Mona menatap dalam ke layar ponselnya tersebut,berusaha untuk tidak merasa geer atau pun berangan-angan tinggi kepada pria yang baru saja menghubunginya nya secara tiba-tiba.
Tenang Mona,lo gak usah berpikiran yang aneh tentang pria sekelas Angkasa.Cukup lo merasa tak berdaya di butakan cinta oleh pria yang mempunyai kepribadian ganda itu.Pikiran gadis tersebut meracau atas pria yang baru di kenalinya menghubungi dirinya.
Tapi......
Pria yang bernama Angkasa itu memang tidak terlalu tampan,di banding paras sang bosnya itu,ia memang jauh berbeda,tapi sosok pria tersebut berkarisma tinggi.
Mona tersenyum sendiri,sejenak ia melupakan sosok pria yang selalu menyebalkan bagi dirinya.
**********
Banny masih tertegun menatap jauh ke arah jendela luar kaca gedung kantornya,ia membagikan pandangannya keseluruh pelosok tempat yang ada di bawah gedung perkantorannya tersebut.
Waktu sudah semakin sore pria tampan berwajah dingin tersebut belum berkeinginan untuk pulang meninggalkan ruang kantornya.
Dengan posisi kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya pikiran pria tersebut tertuju kembali ke kejadian tadi siang bersama sekertarisnya itu.
Bayangan sosok gadis itu muncul kembali hadir dalam pelupuk matanya seolah-olah sulit untuk di lenyapkan.
Permainan macam apa ini ?sehingga perasaanya harus terlibat di dalamnya.Banny tau percis ini adalah sekedar sandiwara yang di ciptakan dirinya hanya untuk membuat sang Ayah bahagia.
Yaaa....Ia tak mau lagi kehilangan orang yang tekasih pergi selamanya dari kehidupan-nya setelah ia pernah merasakan betapa sakitnya harus kehilangan sosok perempuan-perempuan yang selalu mengasihinya itu. Yaitu sang ibu beserta sang nenek yang kini telah tenang di alam sana.
Pria itu mendesah dengan perasaan yang begitu terasa sesak,maka dari itu hanya dengan menuruti permintaan sang Ayah akan membuatnya merasa bahagia.
Tapi.....
Sepertinya ini tak hanya sekedar sandiwara saja karena kini perasaan itu ikut serta di dalamnya.
Padahal bukan kah dari awal ia tidak pernah menyukai akan gadis itu?
Tapi kenapa sekarang ia menjadi takut akan kehilangan sosok gadis yang telah mengisi relung hatinya.
Dan bukan kah ia mempunyai pilihan lain atas kriteria seorang gadis?
Ia sama sekali tak berharap jika sosok gadis tersebut akan menjelma menjadi sosok seorang istri dalam kehidupannya nanti,karena ia merasa gadis tersebut bukan perempuan yang ada dalam kriterianya.
Yaa....,setidaknya ia memiliki impian lain tentang sosok gadis yang akan menjadi idamannya, Keinginannya bisa mendapatkan gadis yang bisa melebihi seorang Kinaya.
Cantik,tinggi,serta berpenampilan menarik karena Kinaya memang seorang model yang cantik,sebagai seorang perempuan yang telah di anugrahi kecantikan yang sempurna meski memang dalam kehidupan ini tidak ada yang sempurna.
Kini perasaan-nya justru berubah 180 derajat,akan penilaian dirinya terhadap seorang perempuan yang tidak bisa di nilai dari luxsnya saja.
Justru ia kini menilai seorang perempuan dari rasa kenyamanan serta atitude nya.
Pria itu menilai jika gadis yang menjadi sekertaris sekaligus calon istri pilihan sang Ayahnya tersebut memang mempunyai ke pribadian yang menarik bahkan sesuatu hal yang tak pernah ia dapatkan dari seorang Kinaya ia dapatkan dari sosok gadis tersebut,rasa itu sangat kontras berbeda.
Yahh sosok gadis itu mampu menghangatkan jiwanya yang membeku.
Gadis yang hanya berpenampilan biasa saja itu perlahan menaungi jiwanya dan bertahta di dalam pikirannya,jauh dari kata sempurna akan keadaan gadis tersebut namun sikapnya yang sederhana mampu menyempurnakan perasaan nya yang sekian lama terluka akibat rasa trauma.
Sikapnya yang apa adanya memang terkesan lebih natural tanpa di buat-buat agar terlihat istimewa di matanya.
Pria itu menggeleng pelan saat senyuman manis seorang Mona sang sekertaris nya yang selalu berpenampilan sederhana itu hadir di dalam relung hatinya.
Lirikan matanya yang lugu, serta senyuman khasnya yang menampilkan dua lesung pipi yang manis terasa begitu istimewa di nalar pikirannya.
Entahlah rasa-rasanya ia ingin mengatakan bahwa dirinya telah mencintai sepenuh hati sosok gadis sederhana itu.
__ADS_1
Ada sikap yang tak di miliki oleh setiap gadis mana pun tersemasuk Kinaya mantan kekasihnya,dan sikap nyaman iyulah yang hanya ada di diri sosok gadis tersebut.
Entah kenapa ia merasa nyaman jika dirinya berada dekat denga perempuan itu.
Tapi kenapa dirinya masih merasa gengsi untuk mengatakan perasaanya tersebut ?
" Ah rasanya aku masih belum bisa untuk mengakui perasaan ini,jika aku memang sayang sama kamu Mona.Jujur saja untuk mengakui hal itu terasa berat."
Pria tampan itu membatin seraya menundukan kepalanya.
" Banny,Banny mau sampai kapan kamu bersembunyi di balik ke gensian kamu ini ,sudah jelas kamu itu menyukai Mona,kenapa masih saja mempertahankan kegengsian mu itu !" Rutuknya dengan sangat geram.
Ketidak selevelan terkadang masih membuat perasaan-nya tertahan.
Banny menggeleng,hatinya masih mengeras bak sebuah karang terhempas ombak di lautan.
Banny menghela menatap semakin frustasi,merasa tak habis pikir dengan kenyataan hidupnya yang tak bisa menghilangkan sifat egonya di dalam hatinya tersebut.
Pandangan matanya kembali menatap ke arah luaran sana dan pandanganya terbentur kepada seorang pengendara motor yang berhenti tepat di ujung posko security kantornya.
Banny mencoba memperjelas pandangannya ke arah pengendara motor tersebut.
Pria itu menatap penuh telisik memperjelas akan penglihatan nya.Dan benar saja penglihatannya masih bisa melihat dengan jelas jika pria pengendara motor tersebut adalah Zeanu sahabatnya, yang sedang menunggu kepulangan Mona sekertarisnya itu.
Banny menyipitkan kedua matanya dengan menatap penuh amarah ke arah pria yang masih duduk di atas kendaraanya tersebut.
Tulang rahangnya menonjol kuat menahan seseuatu yang terusik di hatinya.Banny berdiri dengan tangan bersedekap menatap tidak suka ke arah pria di bawah sana.
" Jadi benar mereka akan pulang bersama ?
Sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua itu sehingga Zeanu begitu intens menemui Mona ? " Guman pria itu terus mengawasi pergerakan sahabatnya.
Pikiran pria tersebut di penuhi berbagai pertanyaan yang sudah meracau seluruh isi kepalanya.
Betapa pun tidak ia merasa ketidak sukaan nya semakin kuat jika ia melihat sekertarisnya itu berada dekat dengan sahabatnya.
Ahh.....,apa mungkin mereka sudah jadian tanpa sepengetahuan ku ?
Pria itu menggeleng pelan ia benar-benar di buatnya frustasi memikirkan akan hubungan Zeanu sahabatnya dengan sang sekertaris dirinya.
Tok,tok,tok........
Suara ketukan di pintu terdengar begitu nyaring sehingga mengalihkan fokusnya pria tersebut,Banny tercekat lalu menatap ke arah pintu tersebut.
" Masuk !" Ucap Banny seraya kembali mengawasi pria yang masih berada di atas kendaraan motor tersebut.
" Selamat sore pak." Sapa Bu silvi menyembul dari balik pintu dengan sikap penuh hormat.Sesaat Banny menoleh.
" Sore bu Sil." Balas Banny pelan.
" Maaf pak,ini laporan terakhir minggu ini,dan data-data laporannya sudah saya infut semuanya." Ucap perempuan yang usianya tak lagi muda itu menyodorkan beberapa lembar kertas.
" Ok,tolong bu Silvi simpan saja di atas meja,nanti saya cek kembali." Balas Banny menatap dingin.
" Baik pak." Balas bu Silvi mengangguk.
Lalu bu Silvi pun menaruh semua lembaran kertas tersebut di atas meja sang Direktur.
Banny masih berdiri tak jauh dari jendela kaca ruangan kantornya.Perempuan itu menoleh ke arah bosnyan yang masih asyik memantap keluaran sana.
" Bapak belum pulang ?" Tanya bu Silvi dengan ramah.
Pria itu menggeleng dengan ekspresi lain.Lalu perempuan berpenampilan rapih itu mengangguk-ngangguk pelan pertanda bahwa dirinya memahami jika bosnya tersebut sedang tidak moody terhadap dirinya.
" Baik pak,kalau begitu saya permisi sekalian pulang pak." Ucap Perempuan itu dengan depe-depe.
" Oya pak,apakah bapak perlu sesuatu yang lain,sebelum saya pulang ?" Tanya bu Silvi bertanya kembali.
" Tidak bu Silvi,terimkasih." Ucap pria itu pendek.
" Baik pak,permisi !" Ucap perempuan itu berpamitan undur diri dan meninggalkan ruangan bosnya tersebut.
Banny menghela panjang ia kembali mengalihkan pandanganya ke luaran sana dan benar saja ia melihat jika Mona sudah berada di belakang boncenganya Zeanu.
Banny menatap semakin tidak suka ke arah mereka,perasaanya mulai di penuhi perasaan cemburu yang terus menekan perasaanya.
Gadis itu mengabaikan permintaanya untuk ikut bersamanya dan memilih pulang bersama Zeanu sahabatnya,sungguh membuat ia merasa kecewa.
__ADS_1