CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 48


__ADS_3

Lamaran...


SETELAH sampai di kediaman Banny Mona langsung di sambut oleh bi Yayah yang akan segera mengantarnya ke ruangan pak Wiguna.


Mona cukup terkejut melihat Pak Wiguna dalam ke adaan terbaring lemah serta di sampingnya Banny duduk dengan wajah terlihat muram.


" Permisi pak." Sapa Mona yang sudah berada di kamarnya menyapa pak Wiguna dengan penuh hormat Mona membagikan pandangannya keseluruh ruang kamar pak Wiguna yang nampak luas itu dengan terpogoh pogoh ia mulai berjalan pelan.


" Iya Mona.Kemarilah !" Pinta Pak Wiguna dengan sorot mata yang lemah meminta Mona untuk duduk berdiri di samping tempat tidurnya.


" Bapak baik baik saja ?"Tanya Mona dengan rasa penuh hormat lalu ia pun berdiri tepat di samping pak Wiguna dengan raut wajah cemas.


Mona mengambil posisi berdirinya tepat di sebrang Banny yang sedang duduk menatap sang papah dengan perasaan penuh kekhawatiran.


" Papah jatuh di toilet Mon." Ucap Banny dengan tertunduk.


" YAA ALLAH PAK !! Tapi Bapak tidak kenapa-kenapa kan ?" Tanya Mona dengan cemas dan raut wajahnya pun terlihat sangat syok.


Banny melihat langsung bagaimana ekpresinya Mona yang begitu sangat khawatir akan keadaan papahnya.


Banny menatap Mona dengan dalam setidaknya ia merasa simpati dengan sikap Mona dan entah kenapa ia merasa lega dengan sikap Mona yang di tunjukan kepada papahnya begitu peduli.


" Bapak sudah panggil dokter untuk mengecek kesehatan bapak."


" Sudah Mona.Tenang saja tidak usah khawatir Bapak baik baik saja." Balas pak Wiguna dengan tersenyum lembut.


" Syukurlah kalo bapak baik-baik saja saya lega mendengarnya." Ucap Mona seraya melirik Banny yang sedari tadi menatapnya dengan cepat Banny mengalihkan pandangannya.


" Mona !" panggil pak Wiguna dengan lembut.


" Iya pak." Jawab Mona dengan degdegan.


" Maaf yaa bapak sudah ganggu pekerjaanmu,Bapak sengaja yang meminta kamu kesini untuk membicarakan tentang lamaran."


Sontak membuat Mona terperanjat dengan setengah tak percaya Mona terlihat syok sekali di tatapnya dalam dalam Banny yang berada di hadapannya.Banny mengalihkan pandanganya ke lain tempat dengan raut wajah ikut terpukul.


" APA PAK ?? LA LAMARAN !!!" Pekik Mona nyaris tercekik urat lehernya.


" Kenapa ? Kok kamu malah terlihat terkejut begitu." Tanya Pak Wiguna dengan menatap dalam Mona.


" Saya tidak percaya mendengarnya pak,Soalnya....." Ucapan Mona menggantung lalu menatap Banny yang ada di sebrang tempat tidur pak Wiguna yang masih memalingkan wajahnya.


" Soalnya apa Mona ?" Tanya Pak Wiguna dengan suara parau.


" Soalnya Hmmmm.....;Banny tidak ada pembicaraan ke arah situ pak." Balas Mona dengan menunduk wajahnya berubah pucat pias sepertinya ia mulai kehabisan ide untuk berkata apa lagi karena dia takut akan salah berbicara.


Banny mengalihkan tatapannya ke arah Mona yang sedang menunduk dalam.


" Kenapa ini jadi runyam gini see.. lamaran !!! Massa iya gue harus lamaran sama bos gue yang jelas jelas dia gak suka gue,,Aduhh kenapa jadi makin rumyam gini see..??"

__ADS_1


Mona terlihat hanya bisa ngebatin dengan suara hatinya lalu ia pun mengangkat wajahnya dan menatap Bannykembali yang ternyata sedang menatapnya sedari tadi seolah olah ia sedang mendengarkan keluh kesahnya di dalam hati.


Mona tersenyum lebar berusaha untuk meredam perkataan dalam hatinya setelah tatapan Banny kian menajam ke arahnya.


" Dari itu bapak yang akan berbicara langsung sama Banny agar Banny secepatnya melamar kamu sebelum kesehatan bapak semakin memburuk." Jelas Pak Wiguna dengan sorot mata yang mulai melemah.


Sontak membuat Mona dan Banny merasakan kecemasan luar biasa setelah mendengar penuturannya.


" Papah !! Papah sebaiknya jangan terlalu menghawatirkan hubungan Banny sama Mona,Kita baik baik saja iya kan Sayang ??" Ucap Banny seraya berdiri lalu mendekati Mona.


Mona hanya mengangguk dengan sejuta perasaan yang mulai melinglungkan pikirannya.


" Tapi tidak ada salahnya jika papah meminta kalian untuk meminta mempercepat lamarannya.Karena papah tau watak kamu jika sudah bekerja lupa segalanya jangan sampe hubungan ini tiada ujungnya." Ucap Pak Wiguna dengan nada memelas.


Banny dan Mona saling bertatapan satu lain dengan jarak yang lumayan dekat.


Lagi-lagi Banny dan Mona di buat berdebar kembali dengan perasaanya masing masing.


Debaran yang terjadi saat semalam tadi saja belum sirna dari hati mereka sekarang sudah di tambah lagi dengan debaran debaran yang nyaris mebuat copot jatungnya mereka setelah permintaan sang papah untuk sebuah lamaran.


" Akan Banny usahakan pah." Balas Banny dengan melingkarkan tangannya di pinggang Mona dan sontak Mona pun terlihat salah tingkah dengan sikap Banny terhadapnya.


" Jangan hanya sekedar di usahakan tapi harus segera di laksanakan papah ingin melihat kalian cepat bersatu." Ucap pak Wiguna dengan membagi pandangannya ke arah Mona dan Banny secara gantian.


Sorot matanya penuh dengan kebahagiannya sehingga Banny tidak sanggup akan menolak permintaannya.


" Hmm....,Papah tenang saja nanti semua ini akan Banny bicarakan lagi sama Mona.Iya kan sayang." Ucap Banny seraya merapatkan rangkulannya untuk lebih dekat.


" Papah senang mendengarnya,Mudah mudahan dalam waktu dekat ini kamu kasih jawabannya Ban." Ucap Pak Wiguna terdengar sayup-sayup suaranya.


" Iya pah, Sekarang papah istirahat yaa.Banny antar pulang Mona dulu." Banny meminta sang papah untuk beristirahat.


Pak Wiguna hanya mengannguk seraya tersenyum lembut Banny dapat menangkap ekspresi kebahagiaan yang mendalam di wajah sang papah sehingga membuat dia semakin dilema.


" Saya pamit pulang dulu ya pak." Pamit Mona dengan penuh hormat.


" IYa Mona kamu hati hati yaa." Balas Pak Wiguna dengan sorot tatapan penuh kasih sayang terhadap Mona.


Hal itu dapat di rasakan oleh Banny akan begitu besarnya harapan sang papahnya melihat ia bisa bersatu dengan Mona.


" Bi Yayah !!" Panggil Banny lewat tombol yang ada di meja samping tempat tidur papahnya.


Tak lama kemudian Bi Yayah muncul dari balik pintu dengan terpogoh pogoh segera mengampiri Banny.


" Iya Den." Sahut Bi Yayah penuh hormat.


" Suruh Pak karim tunngu di depan kamar papah dan pastikan pak Karim jaga terus di sini.Takutnya papah perlu sesuatu."


" Mangga Den." Ucap si Bibi dengan hormat.

__ADS_1


" Makasih bi!" Ucap Banny dengan singkat.


" Sami sami Den." Balas si Bibi manggut.


Mona hanya bisa memperhatikan sikap Banny terhadap sang asisten rumah tangganya lumayan ramah dan tidak bersikap judes sebagaimana sikap dia kepada dirinya.


Dan ternyata Banny tidak sejutek yang dia pikirkan Banny masih baik memperlakukannya asisten ruamah tangganya dengan sopan.Monapun hanya tersenyum tipis saat Bi Yayah menolehnya dan tersenyum ramah kepadanya.


.............


Perjalanan pulang.


" Aku minta di jemput pak Burhan saja pak." Pinta Mona menoleh Banny yang berjalan beriringan dengannya yang akan menuju pelataran rumah Banny yang amat luas.


" Memangnya kenapa jika saya yang mengantarkan kamu pulang ?"


" Sepertinya saya akan kembali ke kantor lagi pak,Soalnya......" Ucap Mona tak lantas Banny dengan cepat memotong ucapannya.


" Soalnya urusan kamu sama Zeanu belum selesai." Ucap Banny singkat dan menolehkan kepalanya ke arah Mona yang ada di sampingnya.


Mona menghentikan langkahnya dan terdiam.Banny masih melangkah namun ia pun ikut berhenti dan kembali menoleh Mona dengan wajah juteknya lagi.


" Pak,Saya kembali ke kantor ada urusan saya belum selesai dengan pak Hendra dan saya harus menginfut barang yang baru tiba tadi siang ada kemungkinan bapak pasti meminta laporannya dengan akurat kan.Bukan urusan yang lain pak." Ucap Mona mulai terlihat jengkel dengan sikap buruk sangkanya Banny terhadap dirinya.


Entah kenapa Banny begitu sentimen ketika membahas masalah Zeanu seakan-akan ia meras cemburu namun gensi untuk mengakuinya.


Banny terdiam lalu membuang wajahnya jauh jauh ke luar halaman rumahnya.


" Saya akan meminta pak Burhan untuk menjemput saya kembali saja pak."Ucap Mona seraya melangkah berjalan namun.....


SREETT.....


Banny segera menyambar tangan Mona dan menahannya untuk berhenti.Sontak Mona kembali di buat terkejut lagi dengan sikap dan tindakan sang Bosnya itu. Banny mencekalnya lalu dengan kencang ia menarik Mona dan menatap Mona dengan sorot mata yang galak.


" Kamu pikir kamu siapa bisa menolak saya." Ucap Banny menatap tajam ke arah Mona yang napasnya mulai terlihat menderu.


Mona kembali harus mengalami hal yang menegangkan lagi dengan sang Bosnya jantungnya kembali berdetak lebih kencang saat melihat sorot mata Banny yang menatapnya dengan tajam sehingga tatapan itu terasa menembus ke jantungnya.


" YAA TUHAN...... Lama lama jantung gue copot beneran kalau kaya gini teruss,Bisa gak see nih orang bikin gue gak sawan terus."


Pekik Mona dalam hatinya yang berperang dengan suara batinnya.


Lagi-lagi Mona tidak bisa berkutik lagi ia hanya bisa pasrah selain menuruti apa yang jadi kemauann sang Bosnya itu.


" Sungguh Bos sang diktaktor !!"


Guman Mona dengan jengkel menatap sebal ke arah Banny yang terus menarik tangannya untuk mengikutinya.


" Tidak usah mengumpatku seperti itu." Ucap Banny dengan mempercepat langkahnya lalu

__ADS_1


Mona pun hanya bisa memutarkan bola matanya dengan sebal.


__ADS_2