
SEBUAH mobil sport mewah memasuki kawasan restoran elit,yang siang itu Mona memenuhi permintaan bosnya untuk menemani makan siang.Gadis bermata belo itu di sepanjang perjalanan hingga tiba di tempat tujuan tak henti-hentinya berpikir keras atas maksud serta tujuan dari bosnya tersebut mengajak dirinya makan siang di luar kantornya.
Setelah memilih tempat duduk yang di rasa nyaman lantas Banny beserta gadis itu pun menempati sebuah meja yang tak jauh dari pintu utama restoran tersebut.
Kedatangan Banny ke restoran tersebut mencuri perhatian beberapa tamu restoran tak terkecuali para pelayan restoran tersebut yang notabenenya para perempuan, melirik ke arah kedatangan pria tampan itu dengan tatapan penuh pesona.
Terutama mobil sportnya milik Banny yang keluaran terbaru belum banyak orang yang memilikinya,dan hal itu menyita begitu banyak perhatian orang di sekitarnya.
Decapan kagum yang terlontar dari mulut orang-orang menatapnya nyaris tak terelakan dan tatapan mereka kian tak berkedip hingga salah satu pramusaji menjadi korban ketampanan seorang Banny pratama wiguna.
Pramusaji itu tersandung ketika melintas di hadapan Banny yang tengah serius memilih Menu pesanan tersebut.
" Aduh mba !!! lihat-lihat dong !!" Ujar salah seorang Tamu sedikit emosi setelah minuman yang di bawa seorang pramusaji itu nyaris tumpah ke arah dirinya.
" Ma maaf,saya tidak sengaja." Ucap pramusaji itu terbata seraya menoleh ke arah Banny yang ikut menoleh ke arah suara ribut tersebut.
Mona menggeleng,pikirannya sudah menebak jika pramusaji tersebut jatuh karena melihat pesona akan ketampanan bosnya tersebut.
" Lebay !!" Bisik hati Mona seraya mendecih.
Seorang pelayan yang tengah berdiri di antara kehadiran mereka menatap hal yang sama ke arah pria tampan itu,tak lama Banny pun menyodorkan menu yang sudah di pilihnya tersebut.
" Ini mbak." Ucap pria itu dengan penuh wibawa menyodorkan buku menu tersebut yang sudah di tandai olehnya.
" Ada lagi pak ?" Tanya pelayan muda itu dengan penuh hormat,bola matanya tertuju penuh pada wajah pria tampan tersebut.
Banny hanya mengangkat tangannya untuk menolak tawaran si pelayan tersebut.
" Baiklah,mbaknya mungkin ?" Tanya pelayan itu seraya menoleh ke arah Mona yang memperhatikannya dengan perasan bete.
Mona selalu merasa insercure jika harus duduk bersama pria tampan itu karena semua pandangan akan tertuju kepada sosok yang di sampingnya.
Mungkin jika mereka tahu bahwa dirinya adalah tunangannya maka mereka pastinya tidak akan ada yang percaya dan menuduh dirinya menyebarkan berita hoaks.
" Itu saja." Ucap Mona dengan tersenyum ringan.
" Baik,kalau begitu mohon menunggu ya." Ucap si pelayan itu dengan terus melirik Banny berkali-kali.
Sedangkan yang di lirik tetap fokus ke layar ponselnya.
Mona menatap lurus ke arah pria tersebut dengan berbagai perasaan.Harus berapa kali ia mengakui jika bosnya itu memang tampan mempesona,sekelas lee min ho saja bisa tersandingi,dan ini adalah versi lee min ho timur tengah.Bulu-bulu yang tumbuh halus membingkai pahatan wajahnya yang sempurna.
" OH TUHAN !!"
Pekikinya dalam hati terus mengagumi.
" Kenapa juga gue harus di jodohkan dengan pria setampan ini,gimana gue mau nolaknya jika perasaan gue udah terbelenggu dengan ketampanannya,tidak !! tidak Mona,elo harus sadar bos lo ini tidak akan pernah suka sama elo,elo ngaca jika elo bersanding elo percis kaya pembokatnya."
Guman Mona dengan terus membatin,menyuarakan isi suara hatinya walau hanya bisa dia dengar sendiri.Mona menggeleng dengan perasaan gundah gulana.
" Oya,hari sabtu besok kita akan fitting baju buat pernikahan." Ucap Banny seraya menaruh ponselnya di atas meja dan menatap lurus gadis manis itu yang tengah menatapnya sedari tadi.
Mona menggerecep setelah tatapan itu mengejutkan atensinya.
Banny menggeleng setelah melihat ekpresi kagetnya sang sekertarisnya itu,dan ia hanya bisa memakluminya.
" Kenapa sih kamu ?kalau saya berbicara kamu selalu saja kaget,sepertinya hidup kamu terlalu banyak beban pikiran ?" Ucap pria itu menatap dingin.
Mona membuang jauh pandangannya seraya menggeleng pelan,pernyataan pria yang ada di hadapannya cukup menohok perasaanya.
" Tidak apa-apa,saya kurang fokus saja." Balas Mona dengan berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
" Saya harap setelah menikah nanti tak ada perjanjian apa pun di antara kita." Jelas Banny menatap kian tajam.
Mona melengos dengan raut wajah terlihat bete.
" Kan sudah saya katakan sejak dari awal,jika saya tidak akan menuntut apapun dari sandiwara ini." Ucap Mona dengan penuh penekanan mata bulatnya melirik kesal.
" Ok,dan untuk sementara ini setelah menikah nanti kita akan tinggal di afartemen." Jelas Banny seraya melipatkan kedua tangannya di atas dadanya.Mona terdiam hanya menyimak tanpa berminat untuk menimpali atau pun antusias menanggapinya.
" Kamu mau kan tinggal sementara di afartemen saya ?" Tanya Banny menatap lurus perempuan itu.
Gadis itu melipat bibir bawahnya dengan ekpresi sulit di artikan,perasaanya benar-benar kian terintimidasi oleh sosok pria di hadapannya itu,dan dia hanya bisa memanut tanpa mampu menolaknya.
" Ok." Jawabnya singkat tak kurang dan tak lebih.
Seorang pramusaji datang membawakan makanan yang telah di pesan oleh Mona dan Banny,lalu meletakannya satu persatu dengan hati-hati ke atas meja tersebut.
Banny sesaat mengedarkan tatapannya ke sekelilingnya tepat saat pramusaji itu sedang memindahkan makananya dari sebuah nampan.
Banny tersenyum miring saat menyadari tatap-tatapan takjub dari para tamu yang sedang menikmati makan siang mengarah kepada dirinya dengan takjub.
Ada bisikan memuja datang dari sebuah meja para gadis-gadis muda yang tak jauh dari tempat duduknya.Tak terkecuali pramusaji yang sedang meletakan pesananya terlihat tangangnya bergemetar memegang sebuah piring.
Banny mendongkak menatap lurus ke arah wajah pemilik tangan yang bergetar tersebut.Pramusaji itu tersenyum pias saat dirinya di lihat secara langsung oleh pria tampan itu.
Mona melengos di rasanya pramusaji ini bersikap lebay,seperti tak pernah melihat pria tampan sekelas Banny saja.
" Si silahkan pak." Ucap pramusaji itu dengan gugup.
Banny hanya tersenyum kaku dan menatap dingin pramusaji tersebut.
" Thank's." Ucap Banny singkat.
Baru saja pramusaji itu selesai bicara nampan yang hendak di bawanya menyenggol gelas berisi air dan....
Byurrr......
Gelas berisi air itu tumpah tepat mengenai celana pria tampan itu.
Mona terhenyak dan bola matanya langsung melotot menyaksikan kejadian yang sedang berlangsung.
Banny tercekat saat minuman itu membasahi sebagian celananya.
" Ma ma maaf pak. !" Pekik pramusaji itu dengan wajah panik,raut wajahnya seketika memucat.
Banny menggeleng dengan perasaan jengkel,rasanya ia ingin memaki kasar pelayan itu sepuasnya.
Namun ia harus bisa menjaga atitude nya di depan umum serta berusaha menahan amarahnya agar tidak menjadi pusat perhatian yang lain,dengan tersenyum kaku pria itu menatap lurus pramusaji tersebut namun sorot matanya terlihat mengerikan.
Mona menghela dengan perasaan ikut panik,cemas bercampur iba menatap ke arah si pelayan itu yang akan kena murka pria tampan tersebut.
" Akan saya bersihkan pak. !" Ujar pelayan itu dengan bermaksud untuk mengelap celana pria itu namun dengan cepat Banny menolaknya.
" Tidak usah !" Ucap pria itu dengan ketus.
" Kamu sudah merusak selera makan siang saya." Ucap Banny dengan menatap tajam ke arah pelayan itu,wajah pelayan itu semakin menggigil ketakutan dan dia pun hanya mampu terdiam dengan menatap penuh sesal.
" Pak biar saya yang bersihkan." Usul Mona dengan segera mendekati pria itu dan berharap bosnya itu mau melepaskan pelayan itu dari kekesalannya.
__ADS_1
Banny terdiam tidak mengiyakan permintaan sang sekertarisnya itu,hanya saja dengan gerak cepat Mona segera meraih serbet yang ada di meja itu lalu di lapnya dengan pelan celana bosnya tersebut.
" Permisi pak !" Ucap pelayan itu berpamitan dan terpogoh-pogoh meninggalkan meja Banny dengan perasaan yang sulit di artikan.
Pria itu terdiam,membisu menatap lurus ke arah Mona yang sedang menyeka celananya dengan telaten supaya tidak terlalu basah.
" Nanti bapak bisa ganti celananya setelah sampai di kantor." Ucap Mona dengan perasaan canggung.
" Ceroboh sekali pelayan itu,dia harus mempetanggung jawabkan kecerobohannya ini." Guman Banny dengan nada terdengar jengkel sekali.
Mona terdiam merasa ikut cemas akan nasib pelayan restoran tersebut.
" Sebaiknya bapak jangan adukan ini ke pihak menejer restoran ini, nanti pelayan itu kena sangsi pak,kasian." Ucap Mona menyela dengan perasaan iba.
" Tapi dia ceroboh." Sergah Banny terdengar tidak suka ketika sekertarisnya itu membela pelayan tersebut.
" Tidak ada salahnya pak, kita memaafkan kesalahan orang lain sekecil apa pun itu pak. " Ucap Mona mencoba memberi pengertian.
Banny terdiam menatap dalam gadis itu,entah kenapa perasaanya melemah jika perempuan ini berbicara lembut kepadanya.
" Kita tidak pernah tau tanggungan apa yang sedang di hadapi oleh pelayan itu jika dia sampai di keluarkan dari pekerjaan nya ini." Ucap Mona pelan,tangannya masih mengelap bersih celana bosnya itu.
Tiba-tiba tangan pria itu meraih tangan mungil gadis tersebut dan mengangkatnya.
" Kamu terlalu di bawa perasaan,ini hanya sebuah pelajaran saja bagi orang-orang yang tidak becus dalam bekerja,agar lebih berhati-hati dalam melayani seorang custumer." Ujar pria itu seraya menjauhkan tangan gadis itu dari pahanya.
Mona terdiam lalu sesaat menatap penuh sesal ke arah pria tersebut.
Berbicara dengan seorang Banny memang hanya menguras kesabarannya saja dan itu hanya buang-buang perasaannya saja.
" Hmmm,bapak tidak pernah merasakan menjadi seorang pegawai itu seperti apa ?" Ucap kembali Mona dengan menegakan tubuhnya dan kembali duduk di tempat duduknya.
Rasanya ia ingin berlari meninggalkan pria nyebelin ini tanpa memperdulikannya lagi.
" Sabar Mona,sabar !!"
Rutuk nya seraya mengelus-ngelus dadanya.
Entah kenapa selera makannya pun menjadi hilang,terlebih-lebih ia harus melihat beberapa cewek seusianya yang duduk tak jauh darinya ikut memperhatikan ke arah dirinya dengan berbagai opini di kepalanya masing-masing.
Rasanya ia ingin menyemprot langsung dan memaki-maki mereka agar meghentikan tatapanya itu yang di rasa sangat konyol terhadapnya meski dia sendiri tak tahu apa yang ada dalam benak mereka.
" Kamu masih mau makan ?" Tanya Banny menatap lurus wajah gadis itu yang terlihat bete.
" Sepertinya selera makan saya hilang." Ucap Mona dengan acuh.
Banny mengernyit lalu menyimak dalam ke arah wajah itu.
" Ok,kita pulang !" Ucap pria tampan itu pendek.
Hah,pulang ?yang benar saja pesanan ini siapa yang akan makan,masa iya di bungkus ?restoran seelit ini emang bisa di bungkus makananya ?
sayang menu se enak ini di abaikan begitu saja,makan saja jika di abaikan akan mubazir gimana dengan perasaan gue ???
Huh,jauh jauh makan ke restoran elit seperti ini cuman di abaikan doang,aneh !!pria ini benar-benar aneh !!!
Mona menggeleng frustasi pikirannya sibuk ikut mengutuk pria tampan itu.
Banny bangkit dengan perasaan marah akan celananya yang mulai terasa basah di kulitnya dan hal itu mulai membuatnya tak nyaman.
Banny mengeluarkan beberapa uang lembaran lalu di simpannya di atas nampan kecil tersebut dan seterusnya ia pun memanggil seorang pelayan.
Mona terheran-heran dengan sikap bosnya itu yang benar-benar sulit di terka akan cara pola pikirannya seperti apa, lalu sesaat kemudian pria tampan itu beranjak dari duduknya dan perlahan berjalan,Mona yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik sang bosnya itu hanya bisa pasrah mengikutinya dari belakang.
Mona menarik napas berkali-kali mencoba menetralkan perasaanya yang merasa risih akan pandangan orang-orang tersebut yang mengarah kepadanya.Sudah dapat di pastikan jika anggapan mereka kepada dirinya sangat buruk,dan pikiran mereka mengira bahwa dirinya adalah seorang Asisten pria tampan itu yang tugasnya hanya membawakan koper kecil milik bosnya kemana-mana.
Cupu memang terdengarnya, tapi yaa sudahlah......
Meski Mona berpenampilan layaknya seorang sekertaris namun tetap saja jika ia bersanding dengan pria tampan itu tidak akan ada yang mengira bahwa dirinya sekertaris pria tampan tersebut.
Peduli amat gue harus menanggapi pikiran negatif mereka,yang pasti mereka tidak akan seberuntung gue yang bisa selalu dekat dengan pria tampan ini meski memang sikap pria ini sering membuat jengkel dan naik darah.
Umpat gadis itu tersenyum tipis dengan terus berjalan di belakang pria tampan tersebut.
Tepat saat pria tampan itu hendak menuju mobil mewahnya tersebut sebuah mobil portuner putih menghampirinya dan memberi klakson ke arahnya ,mobil itu perlahan terparkir tepat di samping mobil mewahnya tersebut.
Sejenak Banny membiarkan mobil portuner itu terparkir dengan tertib,dengan penasaran heran Banny mencoba menunggu si pemilik mobil itu keluar dari mobilnya tersebut.Dan tak berapa lama seorang pria berbadan tegap keluar dari mobil itu dengan mengenakan sebuah kaca mata hitam.
Banny menoleh ke arah pria yang baru keluar dari mobil portuner tersebut dan memastikan apakah dirinya mengenali akan si pemilik mobil itu dan benar saja pria itu tersenyum ramah kepadanya seraya membuka kacamatanya.
" Pak Angkasa ??" Pekiknya pelan.
Angkasa pun berjalan menghampiri dan menyapanya dengan sangat ramah.
" Selamat siang pak Banny !apa kabar ?senang bisa bertemu kembali." Ucap pria berwajah karismatik itu menyapa Banny dengan basa-basi.
" Selamat siang juga pak Angkasa ! kabar saya Alhamdulillah sehat." Jawab Banny tersenyum tipis.
Angkasa menoleh ke arah Mona yang sedari tadi menatapnya dengan tersenyum dengan penuh arti.
" Hallo Mon ! " Sapa Angkasa tersenyum.
" Hallo pak." Jawab Mona dengan mengangguk penuh hormat.
" Kalian habis ada acara kantor ?" Tanya Angkasa membagikan tatapannya.
" Tidak,kita habis makan siang saja, kita sengaja ingin makan siang di luar kantor." Jelas Banny menoleh sesaat Mona lalu menatap kembali Angkasa.
" Oya,gimana kalau saya mengajak kalian makan siang kembali,yaa sekedar ngopi saja bisalah ? " Usul Angkasa menawari mereka makan siang kembali.
Mona beserta Banny saling pandangan satu sama lain atas ajakan pria berkarismatik tersebut.
" Oh tidak terimakasih,saya sudah kenyang." Jawab Banny segera menyela seraya menoleh Mona yang masih menatap pria berkarismatik itu dengan ragu.
" Yahh,sayang padahal baru saja aku mau mengajak kalian untuk makan siang bersama nih,kalau makan siang bersama pasti seru." Ucap Angkasa dengan hangat lalu melirik kembali ke arah Mona,dan lirikan itu sangat penuh arti.Dan hal itu sempat tertangkap oleh penglihatan nya Banny.
" Tapi sorry banget pak Angkasa,sepertinya saya sudah kenyang dan bentar lagi juga kita mau balik kantor." Ucap Banny tersenyum kaku.
" Yahh,kok buru-buru amat nih pak ?ini masih ada beberapa menit untuk ngobrol santai sejenak." Ucap pria itu tak henti-hentinya mengulas senyuman.
" Maunya sih seperti itu,tapi saya rasa saya harus cepat kembali ke kantor ada hal yang harus saya kerjakan." Ucap Banny menolak dengan halus.
" Saya rasa,saya salut terhadap pak Banny ini,karena anda begitu sangat di siplin serta totalitas dalam hal pekerjaan." Ucap pria itu menyanjung tinggi.
" Ah,,tidak juga.Saya hanya tidak suka membuang waktu dengan percuma." Tandas pria tampan itu tanpa kompromi.
Angkasa mengangguk-ngangguk seraya tersenyum simpul pria berkarismatik tersebut mencoba menyelami karakteristik dari seorang Banny.sesaat pria tersebutpun dapat menyimpulkan jika Banny sosok tegas dan disiplin dalam memenej waktu.
Angkasa menoleh ke arah Mona dengan raut wajahnya terlihat berbinar-binar.
__ADS_1
" Oya Mon,gimana hari sabtu besok kamu bisa ?" Tanya Angkasa mengalihkan pembicaraan.
Mona terhenyak atas pertanyaan pria itu yang secara langsung di tunjukan kepada dirinya, kenapa bisa Angkasa mempertanyakan hal itu di hadapan bosnya tersebut,tentu ini akan menimbulkan spekulasi yang berbeda dari bosnya tersebut.
Dengan bersamaan itu Banny yang dari awal kurang berkenan dengan kehadiran pria berkarismatik itu langsung penasaran dengan pertanyaan pria tersebut.
Mona terdiam menatap ragu ke arah bosnya yang berdiri di sampingnya.
" Kalian ada acara di hari sabtu ??" Tanya Banny menoleh ke arah Mona yang mulai terlihat resah.
" Saya mau ngajak sekertaris pak Banny untuk ikut ke sebuah acara bazar buku." Jelas pria itu dengan wajah semeringah dan tanpa basa-basi lagi.
Entah kenapa perasaan pria tampan itu serasa terbakar sesaat dirinya mendengar pernyataan dari pria tersebut,dan perasaanya mulai di dominasi oleh perasaan penasaran,ada apa pria ini ingin mengajak sekertaris sekaligus calon istrinya mengajak pergi ke sebuah bazar buku?
Ah ia rasa pria yang menjadi fatner dalam bisnisnya ini mulai ada some thing spesial terhadap sekertarisnya itu,dan ia pun mengetahui jika ini adalah proses pendekatan pria itu terhadap sekertarisnya tersebut.Banny tersenyum sinis saat ia mulai mencium aroma yang kurang menyenangkan dari pria yang tak kalah tampan darinya tersebut.
Meski pria ini berkulit lebih gelap darinya,tapi dia tidak memungkiri akan karismatiknya yang di miliki oleh pria tersebut,dan hal itu dapat menarik perhatian sang sekertarisnya.
Angkasa memang mempesona,warna kulit yang eksotik dengan hidung tegak berdiri,mata kecoklatan serta balutan alis tebal yang hampir menyatu dan pahatan wajah yang sangat begitu tegas,mengambarkan karismatik yang begitu sangat kental pada face pria tersebut,badannya sixpack sangat ideal untuk ukuran seorang pria yang macho.
Yaa Banny dapat membandingkan dirinya dengan pria tersebut dan faktanya jika pria itu memang lebih kekar darinya.Yaa sama-sama saling memiliki kelebihan masing-masing dalam dirinya.
" Tapi sorry pak Angkasa sepertinya sekertaris saya hari sabtu tidak bisa ikut bersama anda." Ujar pria tampan itu menatap dingin Angkasa.
Senyuman hangat yang di tampilkan pria berkarismatik tersebut perlahan menyurut begitu mendengar ucapan pria tersebut.
Mona sendiri menatap tidak enak ke arah Angkasa saat bosnya turut bicara.
" Ada acara ?" Tanya Angkasa menatap ragu ke arah Banny beserta Mona.
" Hmm,kita mau ada acara fitting baju." Jelas banny singkat.
Sontak Mona terkejut mendengar ucapan Banny yang di rasa terlalu to the point akan penolakan terhadap Angkasa dan itu berhasil membuat wajah Angkasa sedikit berubah.
" Fitting baju ?" Tanya kembali Angkasa semakin penasaran bercampur heran.
" Oh ya ,saya lupa memberi tahu pak Angaksa." Ujar pria tampan itu menempelkan telapak tangan di jidatnya seolah-olah ia merasa lupa.
Angkasa mengernyitkan kedua alisnya dan pernyataan Banny mampu memicu rasa penasarannya.
" Saya lupa memberi tahu pak Angkasa jika Sekertaris saya ini adalah tunangan saya." Jelas Banny seraya menoleh ke arah Mona dan tersenyum ringan.
Mona kembali di buatnya terhenyak dengan ucapan bosnya tersebut,sungguh bosnya ini sulit sekali di tebak akan alur pikirannya tersebut dan sikapnya kali ini jelas-jelas membuyarkan perasaannya.
Kenapa bosnya berbicara seperti itu terhadap Angkasa ?
Pasti bosnya melakukan semua ini ada unsur tertentu,
Mona menatap kian tak percaya ke arah bosnya tersebut.
Angkasa menoleh ke arah Mona menuntut sebuah penjelasan,ada sorot lain di sepasang bola mata nya yang coklat itu ketika mendengar gadis itu adalah tunangan Banny fatner dalam bisnisnya.
Meski pria itu menyembunyikan keterkejutannya namun Mona mampu melihat ekspresi kecewa dari raut wajah pria berkarismatik tersebut.
" Jadi kalian akan segera menikah ?" Tanya Angkasa dengan nada suara sedikit di seret.
" Ya,jadi sekalian saya memberi tahu sekaligus mengundang pak Angkasa untuk hadir di acara pernikahan kami dua minggu mendatang,nanti saya akan wa tanggal dan hari pernikahan saya,sebuah kehormatan jika pak Angkasa ikut hadir dalam hari bahagia kami." Jelas Banny seraya kembali melirik Mona dengan perasaan penuh arti.
Mona tersenyum dengan menatap berbagai perasaan ke arah wajah pria yang senyumannya mulai memudar.
Ah rasanya Mona merasa tak enak hati harus melihat ekpresi kecewa dari wajah pria itu.
Meski ia belum yakin pria itu akan menyukai dirinya namun melihat dari cara menatapnya pria berkarismatik itu ada perasaan lebih untuk dirinya.
Ini bukan masalah geer atau pedenya akan sebuah rasa namun ini adalah tepatnya ada sikap simpatik yang di tunjukan pria itu kepada dirinya.
" Jadi benar,kamu akan menikah Mon ?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibirnya.
Mona mengangguk dengan perasaan tak enak hati,kenapa bosnya itu harus mengumunkan pernikahannya kepada pria yang mulai ia sukai.
" Selamat ya pak Banny dan juga kamu Mon." Ucap Angkasa lirih,yaa lirih sekali suaranya sehingga perasaan gadis tersebut terasa tercubit dengan nada bicara pria tersebut.
Entahlah rasanya pria tampan itu mulai terang-terangan mengakui hal itu kepada dirinya bahwa ada perasaan yang tak bisa di jelaskan begitu saja dan jelas ini membuat Mona merasa tanda tanya.
" Yaa semoga saja saya bisa hadir dalam pernikahan kalian." Jawab Angkasa dengan sorot kekecewaan di matanya.
Mona perlahan menatap dalam wajah pria itu,pria yang selalu tersenyum ramah itu kini nampak terlihat rapuh membuat perasaan gadis tersebut di liputi rasa bersalah.
Entahlah pria itu terlihat sangat berbeda dari cara menatapnya kini,Banny tersenyum puas menatap Angkasa yang raut wajahnya kian berubah down.
" Ok sepertinya saya harus segera kembali ke kantor,dan jangan lupa tolong luangkan waktu untuk dua minggu kedepan,agar pak angkasa bisa hadir di pernikahan saya." Ucap Banny tandas.
Sebelum menjawab pria itu tersenyum simpul ke arah Mona dan itu cukup membuat perasaan gadis itu terasa getir.
" Oh tentu,akan saya usahakan untuk hadir di pesta pernikahan kalian." Balas pria itu tersenyum hambar.
Banny mengangguk dengan pasti lalu menarik tangan Mona dan menuntunya untuk memasuki mobil mewahnya tersebut.
Mona seperti kerbau yang di cocok hidungnya dan dia hanya bisa pasrah mengikuti langkah pria tampan tersebut.
Banny membukan pintu untuk Mona agar segera masuk kedalam mobil mewahnya itu,dengan perasaan linglung gadis itu pikirannya ikut melayang tak karuan setelah melihat Banny memperlakukan dirinya begitu sangat spesial di hadapan pria yang tengah mendekati dirinya tersebut.
Ah bilang saja ini hanya untuk membuat Angkasa cemburu dan mengurungkan niatnya untuk mendekati dirinya.
Jahatt !!
Kenapa prian nyebelin ini tidak bisa membiarkan dirinya dekat dengan pria lain,sementara oleh dirinya ia abaikan.
Gadis itu merutuk dalam hatinya dan mengumpat pria tampan itu dengan perasaan jengkel.
Banny berjalan setengah berlari memutari mobilnya lalu tak lama memasuki mobilnya di sebelah kanan dan duduk di depan kemudinya.
Perlahan kaca mobilnya di turunkan dan tangannya melambai ke arah Angkasa yang masih tercenung menatap ke arah dirinya.
Mobil mewah itu pun perlahan keluar dari barisan parkiran tersebut,Banny menekan klakson mobil tersebut untuk berpamitan dan pria berkarismatik tersebut membalasnya dengan mengangkat tinggi tangannya.
Mona menghela menatap Angkasa dari arah kaca spion mobilnya Banny dengan perasaan yang sulit di gambarkan,entah kenapa perasaannya di liputi perasaan bersalah dan menyesali ucapan bosnya tersebut.
Kesal bercampur gelisah mendominasi pikirannya kini.
Angkasa terdiam menatap mobil mewahnya Banny melaju meninggalkan dirinya yang mulai di landa perasaan kecewa.
Kenapa sesakit ini ia mendengar kabar baik itu,apakah dirinya mulai berharap lebih terhadap perempuan yang baru di kenalinya itu ?
Ahh rasanya sepuitis itu hidupnya jika dirinya mulai mencintai perempuan itu dalam sesingkat ini.
Yaa, hal itu memang tak bisa di pungkiri jika pertemuan dirinya dengan gadis itu di sebuah mini market beberapa silam telah meninggalkan kesan yang sangat dalam.
Kesederhanaan sosok seorang Mona mampu menarik perhatiannya.
__ADS_1
Semenjak pertemuan itu ia berharap banyak agar dia bisa di pertemukan kembali dengan gadis tersebut,dan benar saja sebuah takdir mempertemukan dirinya kembali dalam sebuah cerita lain.Namun baru saja ia mulai merangkai hati kabar pahit menghantam perasaanya dan setidaknya memupuskan semua harapan indah itu.
Jatuh cinta itu selalu sakit jika tak terbalaskan.