CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 168


__ADS_3

BANNY terbangun dengan kepala yang terasa begitu pusing,rasanya seperti habis naik roller coaster.Tidur tidak menyelesai kan akan permasalahan perasaannya terhadap Mona.


Dia masih terpengaruhi oleh sikap dan tindakannya Angkasa kemarin sore.Untung saja Mona tidak mengetahui hal itu sehingga ia terhindari dari introgasi panjang gadis itu.


Banny menggeleng lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa,terduduk dengan berusaha setenang mungkin, berharap rasa pening di kepalanya hilang.


Setelah kesedarannya pulih Banny mengutuk kesal akan perasaanya yang begitu mudah di kuasai rasa marah sekaligus cemburu terhadap Angkasa,tentu kejadian ini akan berimbas pada pekerjaanya.Bisa jadi Angkasa benar-benar memutuskan hubungan kontrak pekerjaannya dengan diriya.


Banny meraup wajahnya hingga berujung meremas rambutnya dengan kasar,menatap ruangan itu dengan kosong.


Ngomong ngomong jam berapa ini ?


Banny tersadar setelah netranya menatap ke arah jam yang tak jauh dari sudut pandangannya.


Banny tercekat setelah melihat jam berapa saat ini.


Dengan bergegas ia beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju kamar mandi,niatnya ingin langsung segera masuk,tapi mata elangnya langsung menyipit setelah penglihatannya tersebut terbentur ke sosok gadis yang tergeletak begitu saja di lantai.


Yaa TUHAN !! Desis begitu terkejut setelah melihat pasti akan keadaan gadia itu.


Kenapa dia tidur di sana??


Bantin Banny seraya cepat berlari menuju tempat dimana Mona tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


Banny memperhatikan gadis itu dengan seksama,apa mungkin gadis ini memiliki kebiasaan buruk seperti sleep walking,bisa berpindah tempat meski dalam ke adaan tertidur ?


Banny menilik kembali dengan seksama ke adaan gadis itu.


Mona si gadis sederhana itu yang kini tengah jadi pusat perhtiannya dan


Gadis itu tengah tergeletak begitu saja di lantai.


Apakah gadis ini melakukan sesuatu tanpa sadar ?pikir Banny lagi.


Banny menyentuh tangan gadis itu dengan sangat hati-hati,namun tidak ada respon.


Banny mengguncang sedikit lebih kencang pun tidak ada pergerakan.


Kemudian dengan rasa penasaran lalu pria tampan itu melewatkan satu jarinya kebawah hidung gadis itu,tidak ada aliran udara sama sekali.


Dia pingsan?Astagaa !!!


Banny terlihat panik di sentuhnya jidat gadis itu oleh telapak tangannya,terasa panas.Banny pun tercekat setelah tau jika Mona benar benar pingsan.


Tanpa berpikir panjang lagi pria bertubuh otot besar itu mengangkat tubuh gadis itu lalu setengah berlari memindahkannya ke atas kasur dan meletakannya dengan sangat hati hati,setelah itu Banny membenarkan kancing bajunya yang sedikit terbuka di bagian dadanya membuat perasaanya tak tenang.


Yaa TUHAN !! apa yang harus aku lakukan ???


Banny menatap kian panik,sementara Mona terlihat masih tak sadarkan diri.


Pria tampan itu terlihat kebingungan entah apa yang harus ia lakukan untuk menyadarkan gadis itu.


Banny memegang tangan gadis itu terasa dingin wajahnya kian pucat.


" Mona !!" Panggil lembut,lalu dengan kembali mengguncang tubuh mungil gadis itu Banny terlihat menatap cemas.


Namun gadis itu tetap tak bergerak,otak Banny berpikir keras untuk mencari cara untuk menolong Mona yang pingsan.


Banny bergegas berlari menuju lemari kecil yang bersisi kotak P3K.Lalu mencari obat yang bisa menyadarkan gadis itu,di ambilnya sebotol kecil minyak angin setidaknya bisa menyadarkan gadis itu.


Sedikit minyak angin itu di oleskannya di atas bibir gadis itu agar tercium bau aroma minyak angin tersebut.


Beberapa saat kemudian Banny menanti dengan perasaan bercampur aduk cemas sekaligus takut terbesit di benaknya.


" Mona !!" Panggil Banny mulai tak sabar melihat ke adaan gadis itu.


perlahan tangan gadis itu di usapnya dengan lembut.Entah kenapa perasaanya di liputi perasaan yang begitu cemas melihat ke adaan gadis itu.


Banny dengan tak sadar mengoleskan kembali minyak angin tersebut di atas bibir gadis itu ketakutannya menghilangkan segalanya.


Perlahan Mona bergerak dengan meringis menahan rasa sakit di kepalanya.


Banny terlihat mengela napas lega melihat gadis itu siuman.


" Mas !" Panggil gadis itu terhenyak setelah melihat keberadaan pria itu di sampingnya.


Mona terperanjat namun tak bisa bergerak cepat badannya terasa lemas semua.


" Tadi kamu pingsan di depan dapur jadi aku pindahkan kamu kesini." Sergah Banny dengan cepat berusaha memberikan penjelasan agar Mona tidak salah paham dengan apa yang di lihatnya.


Mona terdiam berusaha mengingat kembali kejadian yang menimpanya.


Yaa ia baru ingat jika tadi pagi ia merasakan pusing hebat di kepalanya hingga terjatuh di lantai setelah itu dia pun tidak mengingat apa apa lagi.


Mona meringis setelah merasakan hawa panas di bawah hidungnya.Bibir mungilnya bergerak inocen.


" Maaf tadi aku oleskan minyak angin." Ucapnya dengan menahan senyumannya.


Mona melirik kesal ke arah pria itu.Ingin rasanya dia marah namun ia sadar jika pria itu setidaknya sudah menolong dirinya.


Mona mendesah merasakan kulit di bawah hidungnya terasa panas.


" Aku bawa ke dokter ya ? " Timpal Banny menatap dalam gadis itu.


" Tidak mas,aku baik-baiks saja," Balasnya dengan pelan.


" Sepertinya aku harus segera ke kantor mas." Ucap lagi Mona seraya mengubah posisi duduknya.


" Tapi kamu sedang kurang fit Mona,dan sebaiknya kamu istirahat dulu saja.Aku bawa kamu ke Dokter !"Pinta Banny dengan menatap cemas ke arah Mona.


Mona membalas tatapan pria tampan itu dan ia pun dapat melihat jelas akan sorot mata pria itu yang begitu khawatir akan keadaan dirinya.


" Tapi aku baik-baik aja mas,hanya sedikit pusing saja." Mona kembali menyanggah dengan berusaha untuk menyandarkan tubuhnya.


Banny menggeleng melihat sikap keras kepalanya gadis itu.


" Mona,kamu lagi tidak fit,jadi sebaiknya kamu istirahat. " Lagi-lagi Banny melarangnya dengan terlihat begitu sabar.


" Mas,pekerjaan aku banyak di kantor.Nanti aku akan minum vitamin setelah itu aku akan baik-baik saja." Ucap Mona nyerocos.Banny menghela cukup sabar menghadapi keras kepalanya gadis ini.


" Kamu bisa diam !! dan jangan keras kepala,badan kamu panas Mona kamu lagi tidak enak badan sebaiknya kamu ke Dokter !" Dengan setengah membentak Banny menatap tajam gadis itu.


Mona bungkam setelah mendengar nada bicara pria itu lumayan cukup tinggi,tapi kutukannya masih berlanjut di hatinya.


Hah tidak kebalik siapa yang keras kepala !!!

__ADS_1


Rutuknya dengan menatap keki ke arah pria itu.


" Aku akan antar kamu ke Dokter." Ujar Banny beranjak lalu menyambar jaket yang tergantung di tempat biasa.


Mona terdiam dengan meringis kecil menahan rasa pening di kepalanya,dan entah kenapa kepalanya terasa kian berdenyut kuat.


" Kenapa kamu masih diam ?ayo !!" Ajak Banny menatap dingin gadis itu.


" Tadi mas menyuruh ku diam." Jawab Mona dengan polos.


Astaga !!!


Banny menggeleng seraya menghela napas begitu panjang dengan perasaan jengkel ia pun menatap dengan perasaan yang sulit di artikan.


" Susahh berbicara dengan perempuan polos seperti kamu." ucapnya dengan gusar.


" Aku tidak polos mas hanya saja aku mendengarkan akan perintahnya mas.Mas menyuruhku untuk diam,yaa saya akan dia.... " Mona berseloroh acuh,namun belum saja dia menyelesaikan ucapannya bibir gadis itu di bungkam secepat kilat oleh bibir Banny yang sudah tidak bisa menahan dirinya kesal bercampur gemas melihat sikap gadis itu yang justru menangtang dirinya untuk melakukan hal di luar kendalinya.


Gila!gila ! gila....


Kenapa dia sangat bernapsu melihat bibir tipis gadis itu mengoceh tak karuan memancing perasaan gilanya untuk membungkan bibir gadis itu dengan bibirnya.


Bukannya itu membuat jengkel dirinya ?tapi Banny justru membuat gemas dan itu menimbulkan gelanyar aneh dalam dirinya,seakan akan gadis itu menangtang dirinya untuk bermain sesuatu hal yang sangat menarik.


Banny tertawa di dalam hatinya.


" Hmmmmpppp !!"


Gadis itu melakukan perlawanan secara terus menerus hingga tenaganya kian terasa habis.Sampai pukulan pukulannya melemah dan tubuh gadis itu terkulai dalam pelukan berbadan bidang pria itu.


Banny dengan sengaja membuat gadis itu meronta ronta dengan ulahnya memaksa gadis itu merasakan ciuman bibirnya yang begitu kuat membungkan gadis itu.


Otak gadis itu sudah korslet,penolakannya itu seakan bertolak belakang dengan debaran jantungnya yang begitu dasyat menikmati adegan itu.


BUKKK !!


Akhirnya satu pukulan mendarat di dada bidang itu dan mendorong kuat tubuh tegap itu.


Seketika pria itu melepaskan dekapannya lalu menatap dengan napas yang memburu.


" Mas keterlaluan !!" Pekik Mona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Banny terdiam dengan menatap rasa bangga membuat gadis itu menatapnya kecewa,kenapa perasaanya begitu puas dengan apa yang telah di lakukannya tersebut.


Apakah ini khilaf atau ???


Banny perlahan mengatur deru napasnya dan menata apa yang menjadi perasaan gilanya tersebut.


Benarkah dirinya udah berubah se arogan ini ???


Ah entahlah perasaan ini membuatnya benar-benar tidak waras.


Mona tertunduk menatap dirinya dengan perasaan sedih.Ia merasakan jika kali ini ia seperti telah di perkosa oleh pria tampan itu dengan perasaan yang menggebu gebu pria itu memaksa dirinya menikmati ciuman yang begitu sangat membekas.


Banny menurukan wajahnya lalu menatap gadis itu dengan puas.


" Aku tidak akan minta maaf,karena aku mengingkan atas hak ku menjadi suamimu !" Ucap Banny dengan lantang.


Mona memalingkan wajahnya dengan perasaan yang kecewaa dan benar saja dugaannya kali ini benar,jika Banny telah seutuhnya menginginkan dirinya.


" Aku akan segera ke Dokter.Kepalaku terasa mau pecah !" Ucap Mona seraya hendak beranjak dari tempat tidurnya namun sayang tangan pria itu menyambarnya dengan cepat menahannya untuk tetap di situ.


" Aku tidak suka kamu mengalihkan pembicaraanku ini !!" Desis pria itu mencekal erat tangan gadis itu.


Mona meringis setelah merasakan cekalan pria itu terasa kuat.


Mona terdiam menatap dengan perasaan takut atas sikap pria itu yang terlihat sangat menyeramkan baginya.


Oh TUHAN !! hamba perlu bantuan-MU lenyapkan aku dari hadapannya.


Rutuk Mona membatin,ia pun memejamkan matanya dengan rapat perasaanya benar-benar tertekan.


Bibir mungil itu dilipatnya dalam-dalam sehingga membuat Banny semakin candu menatap wajah gadis itu.


" Kenapa kamu tidak merespon ucapannku ???" Tanya Banny menatap kian dalam.


Perlahan Mona mengangkat wajahnya lalu bola mata membulat sempurna.


" Aku tak perlu menjelaskan lagi atas apa yang aku lakukan,kamu bersedia tidak menjadi istri sungguhan ku ini,dan aku pun akan mencabut perjanjian kita ini." Jelas Banny dengan nada bicara yang tak biasa.


Mona menghela napas panjang,akhirnya pria tampan itu mengatakan sesuatu hal yang membuatnya seketika terpana.


Ucapannya yang begitu jelas serta lugas membuat dirinya seketika di landa kebimbangan.


Tunggu apa lagi Mon,pria angkuh ini sudah menyatakan isi hatinya,bukankah ini adalah sebuah kebahagian yang kamu nantikan ?


Hati kecilnya berbisik dengan riuh menyemangati perasaannya yang resah.


Mona terdiam,namun entah kenapa ia merasa jika dirinya belum sepenuhnya mempercayai akan ucapan pria tampan tersebut.


Banny menatap gadis itu dengan harap-harap cemas.Ia merasa jika sikap yang di tunjukan gadis itu terlihat masih gamang terhadap dirinya.


" Apa kamu mencintai orang lain ?" Dengan gusar Banny berkata.


Mona tercekat lalu menatap dalam wajah pria itu.


Sedalam itukah perasaan pria itu hingga mampu menyelami perasaannya jika benar adanya bahwa dia mulai ragu dengan perasaannya terhadap pria itu.


Angkasa ????


Ya sosok pria berkarismatik itu mampu sedikitnya mendominasi pikirannya,betapa pun tidak jika pria memiliki pesona yang kuat itu mampu perlahan membuat sedikitnya perasaan terarahkan.


Banny masih menatap panjang gadis itu menuntut segala jawaban yang akan di berikan oleh gadis itu.


" Ini tidak ada perjanjian dalam sandiwara ini !" Mona memberanikan menatap lama wajah pria itu.


" Ini memang tidak ada dalam perjanjian sandiwara pernikahan ini,tapi apakah bersalah jika aku berubah mencintaimu ?" Jawab pria itu dengan enteng.


Mona memejamkan matanya sesaat pernyataan pria itu mampu menggetarkan perasaanya.


Yaa pasti kata kata itu terpatri begitu dalam di hatinya.


Mona merenung entah kenapa hatinya ditarik ulur oleh perasaannya sendir, kini sosok dua pria itu hadir bersamaan di dalam hatinya.


" Aku masih perlu waktu untuk menyakinkan perasaan ku ini ?? " Ucap Mona beralasakan.

__ADS_1


" Sampai kapan ?? " Banny menatap dengan gusar.


" Aku hanya butuh waktu untuk menyakinkan perasaanku saja mas." Imbuh lagi Mona dengan nada meresah .


Banny melengos sebal,entah kenapa perasaanya dapat memastikan jika perasaan gadis itu mulai tergoyahkan.


" Jangan buat aku menunggu,karena aku takan mengulang untuk meminta."


Mona tertegun menatap keseluruh kepelan 'tangannya baginya tak ada lagi bagi dirinya untuk menghindar dari perasaanya yang sesungguhnya.Namun keraguan itu tetap masih ada menghantui perasaanya jika pria tampan ini sedang bersandiwara dan mengingkan sesuatu hal yang misteri darinya.


Pandangan mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya Mona mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.


" Aku butuh kepastiannya kamu hingga malam ini." Ucap Banny beranjak lalu melangkah menuju kamar mandi dan tak menghiraukan lagi gadis itu yang masih tertegun dengan perasaanya sendiri.


Sesaat kemudian kepala Mona mulai terasa berdenyut keras setelah perasaannya kini di hampiri oleh perasaan dilema.


Benarkah pria ini telah benar-benar mencintainya ? atau ??


Ahh sudahlah semakin berpikir keras semakin terasa sakit di bagian kepalanya.


Mona merebahkan tubuhnya di sandaran tepi tempat tidurnya dan memijit pelan kepalanya dengan tangan.


Sepertinya dia butuh obat untuk meredakan sakit di kepalanya tersebut.Akhir-akhir ini ia memang terasa sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sadar akan kesehatannya sendiri.


Mona mengingat jika usia pernikahannya sudah melewati batas waktu yang di tentukan.


Namun justru ia merasakan jika pria tampan itu semakin memperlihatkan keseriusannya.


Mona menghela dengan terus menerus memijit lembut kepalanya.


Ada beberapa pekerjaan yang harus segera di selesaikan dalam mingu-minggu ini,Mona kembali menghela napas panjang pagi ini dia harus segera memberi tahu kepada Asistennya atas ketidak hadirannya di kantor.


Mona memaksakan diri untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil gawainya yang berada di atas nakas.Jari jemarinya dengan piawai mencari kontak nama Asistennya tersebut.


Selang beberapa menit ia pun terhubung dengan Asistennya tersebut.


" Pagi Akas !" Sapanya dengan suara tertahan.


" Hallo bu Mona,selamat pagi,ada yang bisa saya bantu?" Suara renyah itu menyapanya dengan hangat di ujung telpon sana.


Mona berusaha berdiri untuk mencoba menegaskan keadaan dirinya.


" Akas hari ini saya tidak ke kantor,jadi nanti kamu tolong handle smua laporan pekerjaanku dan jangan lupa ada beberapa file yang harus kamu periksa mengenai beberapa dukumen penting yang akan di serahkan ke beberapa perusahaan penting." Jelas Mona dengan sesekali meringis.


" Siap bu Mona,akan saya lakasanakan.B Mona,tenang saja." Balas Akas dengan tersenyum khasnya.


" Terimakasih banyak Akas." Balas Mona dengan suara melemah.


" Bu Mona sakit ??? " Terdengar dari sebrang telepon pria esentrik itu bertanya dengan nada khawatir.


" Hanya sedikit terganggu kesehatan saja." Ujar Mona seraya memijat ringan kepalanya lagi.


Belum juga pria di sebrang telpon sana itu membalas perkataan Mona tiba-tiba dengan bersaman suara bariton seorang pria terdengar lembut meyela di belakang Mona.


" Sayang....,ini obatnya kamu minum dulu ya ! "


Mona membalikan badannya lalu menatap pria tampan itu dengan terkesima,setelah apa yang di katakan kepada dirinya begitu tak terduga.


" Hallo bu Mona !" Panggil Akas kembali dari ujung telpon sana memanggil Mona yang masih terkaget-kaget.


" Kamu telpon siapa ?" Tanya Banny dengan rambut yang basah dia terlihat menatap mona dengan seksama.


Banny membawakan beberapa obat dan air mineral di tangannya.


" Aku,hanya....," Ucap Mona tak lantas Banny segera menyela.


" Asisten kamu ?" Tanya Banny dengan cepat.Mona mengangguk dengan tersenyum kaku.


" Tolong selesaikan semua pekerjaan yang telah istri saya perintahkan kepadamu sodara Akas." Ucap Banny dengan sedikit mengeraskan suaranya,seolah-olah ucapannya tersebut di tunjukan langsung kepada seseorang yang berada di ujung telpon tersebut.



" Baiklah Akas.Nanti saya telpon kembali." Mona segera mengakhiri sambungan telponnya lalu menggeser layar notifikasi ponselnya tersebut.


" Tak perlu kamu telpon lagi dia,sebagai asisten pribadi kamu tentunya dia paham atas pekerjaannya itu." Sela Banny dengan menatap sinis.


Mona terdiam dengan melipatkan bibirnya.


" Aku bawakan obat untukmu !" Ucap Banny dengan menyodorkan obat tersebut.


Mona menatap pria itu dengan berbagai perasaan.


Kenapa pria ini begitu perhatiann kepadanya bisa bisanya usai mandi pria itu membawakan obat untuk dirinya.Mona tersenyum tipis dan segera meminum obat yang di kasih pria tampan itu.


" Setelah ini kita kedokter,cek kesehatan kamu." Ucap pria tampan berwajah dingin itu berjalan menuju lemari pakaiannya,Mona tak menjawab dia hanya menganngguk pelan.


Mona mengabaikan sakit kepalanya dan segera bergegas menuju kamar mandi,hari sudah semakin siang dia merasa ada tak beres dengan kepalanya hingga rasa sakit itu belum hilang juga di kepalanya.


Tak membutuhkan waktu yang lama Mona terlihat sudah rapih dengan mengenakan atasan kemeja putih sedikit kebesaran.


Mona menatap ke arah Banny yang sedari tadi sudah duduk santai menunggunya.


deg....


kenapa dia begitu tampan sekali jika berpakaian santai seperti itu ??


Mona menatap lurus pria yang sedang asyik memasang jam di tangannya.Mona berdehem keras untuk menetralkan perasaan,Mona berjalan mendekat ke arah pria itu.


Banny menoleh ke arah Mona berdiri.


" Mas,setelah ke Dokter nanti aku ingin mampir sebentar ke rumah nenek." Ucap Mona sedikit meringis merasakan hentakan yang terjadi di kepalanya lagi.Obat yang di berikan Banny tadi sepertinya belum bekerja dengan baik.


" Kamu tidak ingin beristirahat ?" Tanya pria itu menatap dingin.


" Ada hal yang ingin aku bicarakan." Sela Mona beralaskan.


" Antara kamu dengan nenek kamu ? " Pria itu memicingkan matanya.


" Ya,dengan siapa lagi ?" Mona menatap dengan enggan.


" Terserah kamu,tapi aku sarankan kamu sebaiknya hari ini beristirahat saja,aku menghawatirkan kesehatanmu." Ucap Banny dengan bangkit dari duduknya.


Mona melongo tak percaya mendengar pernyataan pria tampan itu yang begitu sangat menghawatirkan ke adan dirinya.


Namun ego gadis itu setinggi gunung dia tak mau begitu saja menanggapi kepeduliann dari seorang Banny.Dirinya tak merasa butuh istirahat saat ini justru ia ingin segera bercerita banyak kepada neneknya akan perasaan hatinya itu terhadap pria tampan yang sekarang ini sedang menanti sebuah jawaban darinya.

__ADS_1


__ADS_2