CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 210


__ADS_3

ANGKASA tengah menyantap makanan di sebuah Restoran yang begitu sederhana,namun tempat itu menjadi sebuah tempat yang begitu favorit untuk dirinya ketika ia makan siang tiba.


Bukan karena tempatnya yang begitu sederhana namun ia lebih menyukai menu-menu makanan yang begitu pas di lidahnya,dan makan-makan di Restoran tersebut menjadi salah satu tempat favoritnya.


Untuk sekelas seorang pengusaha muda yang telah mapan mungkin tempat itu kurang begitu bergengsi,namun bukan itu yang ia persoalkan,justru ia tidak mempersoalkan nilai tempatnya tapi ini lebih ke soal cita rasa yang tidak bisa ia bandingkan dengan tempat yang bergengsi sekalipun,bahkan menurutnya sekelas Restoran sultan pun kalah jika menu-menu makananya tidak memiliki citra rasa yang berbeda.


Angkasa begitu menikmati setiap suapan demi suapan makanan yang masuk ke mulutnya dengan ekspresi yang begitu menyenangkan,menikmati setiap hidangan yang menjadi makan favoritnya adalah nikmat yang tak bisa tergantikan dengan hal apapun.


Sesekali matanya mengamati beberapa info penting tentang pekerjaanya melalui ponsel miliknya,namun tak berapa lama kulit dahi pria itu mengkerut tajam ketika tengah asik mengamati berbagai informasi penting mengenai pekerjaanya tiba-tiba daya ponselnya melemah hingga menyisakan beberapa persen lagi.


Angkasa menghela napas ia menatap ponselnya dengan perasaan kecewa,rupanya ia lupa mengisi daya ponselnya sebelum makan siang tadi,Angkasa melanjutkan kembali santap siangnya.


Setelah di rasa cukup kenyang Angkasa pun berniat untuk segera bergegas kembali ke kantor sepertinya ponselnya harus segera di isi daya.


Angkasa memanggil seorang pelayan ia berniat untuk membayar makanannya tersebut.


Tak lama sang pelayan datang kehadapan nya lalu menyodorkan secarik kertas kepada Angkasa.


Sejenak Angkasa menilik secarik kertas tersebut.


dan ia pun merogoh saku celananya berniat mengambil Dompetnya, namun entah kenapa tiba-tiba wajah tampannya berubah tegang setelah di sadari Dompetnya tidak ada di dalam saku celananya.


Ia berusaha tenang dan mencoba mencari ke area saku belakang celananya,namun tetap ia tidak menemukan benda yang di carinya tersebut,sang pelayan menatap heran melihat gerak geriknya.


Yaa TUHAn !!


Apess !!


Batin Angkasa memejam.


Harus membayar pake apa ini ? Angkasa menatap rumit.


Baiklah mungkin pembayaran bisa melalu transfer pikirnya dengan meraih ponselnya yang tergeletak di meja Angkasa berusaha tetap tenang.


Sang pelayan memperhatikan sikap Angkasa dengan menatap tak biasa.


Angkasa mencoba mengaktifkan layar notifikasi ponselnya namun sayang ketidak beruntungan sepertinya sedang tidak berpihak kepadanya.Ponselnya sudah tidak bisa menyala lagi.


Angkasa menggeleng seraya menatap canggung ke arah pelayan tersebut,sementara si pelayan hanya terpaku dengan pikiran nya melalang buana tentang dirinya.


Harus bayar pake apa ini ?


Angkasa membatin.


Sementara Ponselnya pun sudah tidak bisa menyala di karenakan kehabisan daya,Angkasa menatap bingung ke arah layar ponselnya.


Melihat aksi Angkasa si pelayan tersebut sempat curiga akan sikapnya.


" Haduh mas,sepertinya Dompet saya tertinggal di kantor." ujar Angkasa tersenyum hambar.


" Terus gimana dong pak." balas pelayan tersebut ikut bingung,dari gelagadnya si pelayan itu enggan untuk bersikap baik kepada Angkasa.


Angkasa terlihat bingung menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


" Hmm,gini aja mas." ujar Angkasa menemukan sebuah ide,si pelayan menatapnya dengan seksama,dirinya tak mau jika harus di potong gajinya hanya gara-gara custumernya enggan membayar makanannya.


" Bagimana kalau saya tinggalkan jam tangan saya ini disini,jam tangan ini saya buat untuk jaminan,percayalah harga jam tangan ini sepuluh kali lipat harga makanan ini,bila masnya ragu silahkan cek jam tangan saya." ujar Angkasa menjelaskan.


Si pelayan tersebut memandangi jam yang berada di atas meja tersebut,dilihat sekilas memang terlihat mewah akan jam tersebut,namun pelayan tersebut belum bisa mempercayai sepenuhnya ucapan Angkasa.Pelayan tersebut menatap ragu.


" Saya akan ambil dompet saya dulu kekantor,setelah itu saya ambil lagi jam tangannya saya,gimana mas bisa ?" tanya Angkasa berharap penuh pelayan tersebut mengiyakan permintaanya.


Si pelayan semakin bingung,di pandangi kembali jam tangan tersebut dengan berbagai prasangka.


Melihat sikap si pelayan itu Angkasa paham,jika dirinya tengah di curigai.


" Tenang saja mas,saya tidak sejahat yang mas pikirkan,bila perlu saya tinggalkan kartu nama saya serta KTP saya untuk bukti jaminan." ucap Angkasa penuh keyakinan.


Si pelayan tersebut semakin bimbang,ia tidak ingin hal buruk terjadi kepadanya,ia berpikir banyak modus kejahatan orang lain perbuat kepada dirinya.


" Aduh,gimana ya Pak ?" pelayan restoran itu terlihat semakin kebingungan,ada ketakutan yang begitu jelas di raut wajahnya.


" Tenang saja,saya bukan penipu kok,lagian restoran ini adalah tempat favorit saya makan siang mana mungkin saya akan menipu masnya,jadi masnya gak perlu takut saya akan menipu masnya." imbuh Angkasa meyakinkan kembali pelayan tersebut.


" Bukan begitu pak,soalnya saya takut jika bapaknya gak kembali saya lah yang harus ganti semuan makanan yang bapak makan,nanti di potong gaji saya pak." ucap pelayan tersebut dengan nada sedih.


" Tenang saja,saya tidak setega itu bila perlu saya akan bayar masnya sebulan gaji mas, jika mas mau mengijinkan saya untuk balik kekantor ambil dompet saya dulu gimana? " tanya Angkasa tersenyum ramah.


Pelayan tersebut mencoba mempertimbangkan penawarannya Angkasa.


" Berapa semunya mas makanan bapak ini ?" tiba-tiba suara perempuan menyela di tengah-tengah argumen mereka.


Secara bersamaan Angkasa serta pelayan tersebut menoleh,Angkasa terkejut melihat si pemilik suara tersebut,perempuan itu mendekat.


" Boleh saya lihat struknya mas !" ucap perempuan itu dengan ramah.

__ADS_1


Pelayan restoran itu menyodorkan secarik kertas ke hadapan perempuan tersebut,Angkasa masih terlihat tak percaya dengan penglihatannya tersebut.


" Ini mas !" ujar perempuan itu menyodorkan dua lembar uang ke hadapan pelayan tersebut,dengan sigap pelayan tersebut segera menerimanya.


" Kembalinya ambil aja mas." ucap Mona tersenyum lembut.


" Makasih banyak mbak." balas pelayan itu terlihat girang.


Angkasa menggeleng dengan masih tersenyum tak percaya menatap ke arah perempuan itu dengan perasaan tak biasa.


" Akhirnya aku bisa membalas kamu." ujar perempuan itu tersenyum.


" Aku tidak menyangka jika kamu akan menolong aku." balas Angkasa tersenyum tak enak.


" Hanya kebetulan saja dan ini tidak seberapa dengan atas apa yang kamu sering lakukan terhadap aku ketika aku teledor dalam masalah pembayaran." ujar Mona.


Angkasa kembali tersenyum dengan menggeleng-geleng,sebuah kebetulan yang sangat ia rindukan.


" Apa kabar Mona ?" tanya Angkasa menatap dalam perempuan tersebut yang tiada lain Mona.


" Bisa kamu lihat ?" balas Mona tersenyum datar.


" Kamu lagi ngapain disini ? " tanya Angkasa semeringah.


" Kebetulan tadi aku habis ketemuan dengan teman lama aku,dia berniat menawarkan pekerjaan untukku." jawab Mona pelan.


Kening Angkasa mengkerut menatap penasaran.


" Menawarkan pekerjaan ?" tanya heran.


" Ya !" jawab Mona singkat.


" Tunggu ! Tunggu,kamu lagi cari pekerjaan? " tanya ulang Angkasa kembali.


Mona menangguk dengan tersenyum tipis.


" Memangnya kamu sudah tidak bekerja lagi di perusahaan suami kamu itu ? " tanya Angkasa penuh selidik.


Mona menghela napas begitu dalam mendapati pertanyaan yang cukup membuatnya enggan untuk berkata jujur.


" Hmm,aku...,aku hanya ingin mencari pengalaman baru saja,yaa ingin mencari suasana baru juga." ujar Mona berkilah.


Angkasa tidak lantas percaya begitu saja,entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan sikap perempuan tersebut,sering kali ia mendapati sikap energik bahkan ceriwisnya Mona di setiap pertemuan,namun kali ini perempuan itu nampak terlihat kalem dan yang mengulas senyuman yang begitu hampa.


" Mona,kamu baik-baik saja ?" tanya Angkasa menyoroti perempuan tersebut.


" Tidak,tidak.Aku tidak yakin jika kamu baik-baik saja." sanggah Angkasa tidak percaya.


" Kenapa bisa begitu ? " tanya Mona sedikit heran.


" Secara istri pengusaha ternama di ibu kota ini mana mungkin di perbolehkan untuk bekerja di tempat lain,bekerja sama dengan perusaanku saja suamimu membatalkannya,apa lagi ini kamu harus kerja di perusahaan lain apa tanggapan suami nanti." ujar Angkasa tersenyum menggoda.


Sejenak Mona terdiam melipat tipis bibirnya.


" Seperti ini udah siang sebaiknya aku pulang dulu ya Kas." ujar Mona mengalihkan pembicaraanya dan ia memilih untuk segera berpamitan.


" Kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu hal kepadaku ?? " tanya Angkasa memancing.


" Kurasa tidak." jawab Mona singkat.


" Sungguh ?? " tanya kembali Angkasa semakin membuat Mona merasa risih dengan rasa ingin tahunya Pria tampan tersebut.


" Angkasa,kenapa kamu begitu yakin jika aku sedang tidak baik-baik saja,apa aku terlihat berbeda?" tanya kembali Mona dengan datar.


" I think so !! " balas Angkasa pasti.


Mona menggeleng dengan tersenyum hampa.


" Kamu terlalu sok tahu akan ke adaanku." ujar Mona dengan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain,


" Sudahlah,sepertinya aku harus segera pulang." ujar Mona seraya hendak melangkah.


" Mona tunggu !" sergah Angkasa dengan cepat,Mona menoleh tanpa ekspersi.


" Sebagai tanda terimakasihku,bagaimana aku antar kamu pulang." ucap Angkasa tersenyum lembut.


Mona mengernyitkan kedua alisnya menatap penuh tanya.


" Tidak usah Kas,kamu sudah terlalu sering menolongku,jadi wajar jika kali ini aku membalas apa yang kamu lakukan kepadaku,tenang aja ini bukan balas budi tapi aku membalas semua kebaikan kamu terhadapku,kurasa aku tak mampu jika aku harus membalas budi segala ke baikanmu." tutur Mona tersenyum.


" Ahh kamu lebay sekali Mon,kebetulan saja aku pun mau balik ke kantor,jadi apa salahnya jika aku antar kamu pulang." ujar Angkasa berusaha membujuk.


" Tidak terimakasih,lain kali saja aku masih ada urusan yang lain." tolak Mona tersenyum.


" Jadi kali ini kamu menolak kebaikannku ?" tanya Angkasa bernadakan kecewa.

__ADS_1


" Maaf !" ucap Mona dengan memelas,ia tersenyum sedikit manja.


Angkasa menarik napas panjang,ia tidak mungkin memaksa Mona untuk pulang bersamanya,ahh sosok perempuan ini selalu membuatnya penasaran.


" Aku permisi dulu ya." pamit Mona seraya melangkah pergi meninggalkan Angkasa yang mematung menatap langkahnya.


Angkasa terdiam mengantar kepergian Mona dengan pandangannya hingga perempuan itu menuju luar Area restoran tersebut membiarkan dirinya dengan perasaan yang kembali mengkhawatirkan ke adaanya.


Kehadiran Mona yang secara tiba-tiba berhasil membuat Isi kepalanya di penuhi berbagai pertanyaan yang mampu membuatnya tak tenang.


 


Semenjak pertemuan nya dengan Mona entah kenapa ada perasaan yang begitu membekas di hati pria berwajah tampan tersebut,ia merasa jika raut wajah perempuan itu tak seceria pertama kali ia bertemu,tatapannya yang cemerlang sedikit memudar bahkan ada guratan kesedihan yang tengah di tutupi oleh senyuman palsunya.


Meski tak sejauh itu ia mengenal sosok Mona,tapi ia paham senyuman khasnya selalu membuat ia candu memandangnya,namun senyuman itu sedikit menyurut dari garis bibirnya,entahlah sepertinya sesuatu hal telah terjadi kepadanya.


Angkasa mengehela napas panjang menatap layar laptopnya tanpa selera.


Seluruh pikirannya tersita kepada sosok Mona yang sedikit berbeda dari biasanya.Mungkinkan Mona sedang memiliki persoalan rumit ? Tapi ......


Pria tampan itu berhasil di buatnya tak tenang.Terlebih sekarang Mona sedang mencari pekerjaan baru itu artinya Mona memang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Angkasa menggeleng dengan cepat ia segera mengalihkan pikirannya dari pekerjaanya tersebut,ia segera berselancar di dunia maya untuk mencari info terkini dari dunia perusahan-perusahaan besar ternama di ibu kota,berbagai ragam informasi terangkum jelas di situs-situs info terkini media sosial.Dan tidak butuh waktu yang lama,beberapa berita muncul di layar laptopnya bahkan berita tentang berbagai kejahatan bisa di akses dengan mudahnya,kini matanya tertuju pada satu tulisan tentang perselingkuhan istri seorang pengusaha muda ternama di ibu kota yang tengah mendominasi berita terkini,dengan rasa penasaran yang tinggi Angkasa mencoba mengklik situs tersebut.


Kedua matanya terbelalak hebat setelah melihat isi berita tersebut,beberapa gambar yang menurutnya di luar dugaanya terpangpang jelas di lini berita tersebut.


" Mona !!"


desisnya dengan nada shok.Nyaris mulutnya terbuka lebar mendapati apa yang di pikirkannya selama ini.


Adakah kebenaran yang bisa ia pahami di balik berita itu ?


Angkasa menggeleng sepertinya ia tidak percaya jika sosok seorang Mona bisa melakukan serendah itu.


Angkasa melipat bibirnya dia mencoba kembali mencari tahu tentang kebenaran berita tersebut.


Beberapa artikel tertulis jelas jika pengusaha muda kaya raya itu tengah mengajukan perceraiannya dengan istrinya buntut panjang dari perselingkuhan nya tersebut.


Angkasa di buat semakin syok,ia tak percaya jika sosok Banny akan menceraikan Mona dengan alasan seperti itu.


Angkasa tertegun memandangi isi berita tersebut,simpang siur yang membuatnya semakin penasaran hingga berujung pada kekhawatiran yang begitu besar kepada sosok seorang Mona.


Mungkin itulah alasannya kenapa Mona mencari pekerjaan baru ? Batin Pria tampan itu menyimpulkan segala opininya.


Tapi...


Angkasa berhenti berpikir ia berusaha untuk mematahkan asumsinya.


Tapi benarkah akan semua yang di beritakan itu ? Mana mungkin Mona melakukan hal itu ??


Angkasa lagi-lagi menggeleng,entah kenapa ia begitu sibuk bermonolog tentang perselingkuhan perempuan itu ??


Aahhh kenapa aku sepeduli itu kepadanya ??


Lagi-lagi Angkasa membatin dengan menatap sipit layar laptopnya tersebut.Rasanya ia ingin segera bertemu dengan Mona dan meminta penjelasan akan semua ini.


Tapi....


Apa hubungannya urusan ini dengan dirinya,abaikan semua rasa penasaran itu dari hatinya,ia sadar jika ia tidak mungkin ikut campur dalam urusan rumah tangga Mona,tapi...


Angkasa kembali berhenti berpikir mencoba untuk berpikir secara Rasional kenapa ia sepeduli itu terhadap Mona ?


kembali loginya mempertanyakan hal itu.


Apa karena perasaanya masih utuh terhadap perempuan itu ?


Ahh terlalu dalam perasaan yang dia simpan di hatinya


Hingga saat ini perasaan itu belum bisa berubah hingga waktu yang tidak bisa di tentukan.


Angkasa menyandarkan tubuhnya di bahu kursi tempat duduknya. pikirannya terus bermain dengan segala opininya.


Entahlah hati kecilnya berkata lain,jika Mona tidak mungkin bersikap serendah itu.


Angkasa mengamati foto pria yang tengah memeluk Mona,sepertinya wajah pria itu tidak asing baginya.


[ Tunggu,sepertinya aku kenal dengan pria itu ]


Angkasa membatin dengan penasaran yang cukup tinggi dia meng Zoom foto tersebut.


[ Bukankan dia Sultan pengusaha terkaya di kota ini?]


kembali Angkasa membatin.


Yaa dia mengenali sosok pria itu,pria yang cabang perusahannya berada dimana mana,mengalahkan Departement store.

__ADS_1


Angkasa terlihat termenung menatap kosong layar laptopnya,foto-foto mesra Mona dengan laki-laki lain itu membuat perasaanya semakin tak menentu berbagai opini semakin bermunculan di kepalanya.


__ADS_2