CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 185


__ADS_3

BANNY melepas jasnya lalu di lemparnya tepat ke atas sopa,entah kenapa perasaanya diliputi rasa lelah yang tak berkesudahan.


Emosinya belum terasa normal setelah teringat kembali kejadian tadi siang,Sultan dengan tanpa beban menjambangi kantornya.


Perlahan dia pun menghempaskan tubunya di sopa tersebut tak ubahnya seperti jasnya yang sudah terhempas begitu saja di sampingnya.


Rasanya energinya begitu terbuang sia-sia setelah menahan emosinya yang nyaris meledak-ledak atas perbuatan Sultan terhadap dirinya.


Tatapannya menerawang jauh kelangit ruangan tersebut dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di benaknya.


Entah kenapa sebaris kalimat yang di ucapkan Sultan tentang Mona masih terngiang-ngiang di telinganya,dan itu berhasil membuatnya kembali merasa marah.


Bola matanya bergeser ke arah jam yang terpajang kokoh di dingding ruangan tersebut,waktu sudah menunjukan jam lima sore,namun sepertinya ia tidak mendapati Mona sudah berada di rumahnya,Banny lagi-lagi menegaskan penglihatannya melalui jam yang melingkar di tangan kirinya dan waktu tak berubah menunjukan waktu yang sama,hari mulai petang.


Banny menarik napas panjang dan perasaanya kian terasa campur aduk.


Kenapa Mona belum pulang ??


Pertanyaan itu kini mendominasi pikirannya dan berbagai tuduhan tak enak terus menari-nari dalam otak besarnya.


Sungguh kegelisahan ini telah menyiksa batinnya,selang beberapa menit sebuah pesan singkat masuk melalui gawainya Banny menatap layar notifikasi tersebut tanpa ekspresi.


Setelah ia mengecek isi pesan tersebut ia terlihat kembali menarik napas panjang,perasaanya kian sesak sesaat Arnetta yang mengirim pesan tersebut.


Kenapa Arnetta membutuhkannya ??


pikirnya dengan termenung kecil.


Lalu kenapa dia harus sepeduli itu terhadap sekertarisnya itu?


lagi-lagi pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya.


Namun nyatanya dia tak mengerti akan perasaanya sendiri yang masih peduli terhadap sekertarisnya tersebut.


Isi pesan tersebut memberi tahu jika Arnetta sudah di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit dan ia meminta Banny untuk menjemputnya.


Sejenak Banny berpikir ulang untuk mengabulkan permintaan dari sekertarisnya tersebut.Ada sebuah kalimat yang tak bisa membuatnya menolak permintaan gadis cantik itu,jika sang Ayah gadis tersebut memintanya untuk menjemputnya.


Banny meremas kepalanya dengan resah,apa yang harus di lakukannya,tentu saja perkara ini tak mudah ia tolak dengan alasan begitu saja.


Wajah tampannya terlihat begitu gelisah,setelah mempertimbangkan akan keputusannya,Banny pun dengan rasa malas bangkit dari tempat duduknya lalu menyambar kembali jasnya,ia berniat untuk segera menjemput Arnetta dari rumah sakit.


Dengan bersamaan Mona menyembul dari balik pintu dengan wajah terlihat begitu lelah,Banny memperhatikan dengan seksama ke dalam wajah istrinya tersebut.


Mona menatap Banny tanpa ekspresi,namun dengan abai ia pun segera berjalan menuju ke kamarnya,berjalan melewati pria tampan itu dan mengabaikan kehadiran pria tersebut dengan begitu saja.


Satu alis pria tampan itu terangkat tinggi,menatap dengan ekspresi sakartik ke arah Mona.ia merasa kehadirannya tak di anggap,dan tentu saja ia merasa tersinggung dengan sikap istrinya tersebut.


Sapa hangat yang biasanya di ucapkan Mona lenyap begitu saja dan suasana pun menjadi terasa kaku.


Banny mendehem cukup keras.


" Mona,kenapa kamu baru pulang jam segini ?" Tanyanya dengan mengejar langkah sang istri yang memasuki kamarnya.


Mona menyimpan tasnya di meja rias,tapi tak lantas segera menjawab pertanyaan suaminya tersebut dia memilih untuk duduk di kursi meja riasnya dengan sikap lelahnya.


Banny menatap panjang ke arah gadis itu dengan berbagai tuntutan di benaknya.


Merasa dirinya di acuhkan Banny berseru kepada gadis tersebut.


" Mona !!" Panggil lagi Banny dengan nada yang cukup berbeda.


Mona menoleh namun sejurus kemudian dia mengurai sanggul rambutnya.Banny masih terdiam menunggu jawaban dari istrinya.


" Maaf mas aku telat pulang,soalnya aku habis mengadakan pertemuan dengan pak Sultan." Jawab Mona singkat.


Banny mengernyit mendengar penuturan istrinya tersebut.


" Untuk apa ?" Tanyanya dengan penuh telisik,tatapannya mulai dipenuhi dengan perasaan curiga.


Mona menoleh ke arah Banny yang berdiri tegak di ambang pintu kamarnya dengan tatapan kesal.


" Kok untuk apa ?? yaa untuk membicarakan soal pembatalan kontrak kerja perusahaan kita lah mas." Ujar Mona dengan nada datar.


" Via telpon or Wa bisakan,kenapa harus ada pertemuan segala ?so itu penting banget?" Balas Banny dengan sorot mata kurang suka,ia tersenyum namun terlihat sinis.


Sebelum menjawab Mona menarik napas panjang hingga begitu dalam,ia berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap keras hatinya seorang Banny.


Mona memutar posisi duduknya dan menghadap ke arah pria tampan tersebut.


" Mas,gak seharusnya untuk hal sepenting ini di bicarakan via telpon or Wa,tentu saja itu tidak etis mas,lalu kita akan di anggap tidak profesional oleh pihak mereka,tentunya image nama perusahaan kita akan terlihat kurang baik. " Jelas Mona berusaha berbicara baik,walaupun nadanya benar-benar terdengar jengkel atas sikap suaminya tersebut.


Banny mendengus menatap penuh cemooh ke arah istrinya tersebut.


Mona yang melihat sikap Banny yang sedikit tidak suka atas penjelasannya merasa heran,seolah-olah Banny sedang mencurigai dirinya atas sesuatu hal.


" heeuh,aku berharap kamu tidak sedang mencari perhatian atas permasalahan ini." Ucap Banny dengan suara nyaris tak terdengar,namun Mona mampu mendengarnya dengan jelas.


Sontak saja hah itu membuat Mona terhenyak,ia tak mengerti atas maksud dari ucapan suaminya tersebut.


" Maksud mas apa sih ??" Ucap Mona dengan perasaan kian kesal.


Banny tersenyum tipis lalu mengangkat tinggi kedua pundaknya seolah-olah ia malas untuk menjelaskan dari apa yang telah di ucapkannya tersebut.


Melihat sikap Banny yang semakin tak karuan Mona benar-benar kesal di buatnya,seolah-olah sikap Banny telah mengintimidasi dirinya secara tidak langsung.


" Aku tidak paham dengan apa yang mas katakan." Ucap Mona dengan nada bicara penuh penekanan.


" Aku yakin kamu bukan perempuan lugu yang tak mengerti atas apa yang aku ucapkan." Selanya lagi dengan tersenyum penuh sindiran.


Telinga Mona mulai memanas,perasaannya benar-benar di liputi rasa tidak nyaman atas ucapan suaminya tersebut.


" Mass....," Sela Mona menggantung,namun nadanya terkesan menahan amarahnya.


Tentu saja ucapan Banny kali ini terasa menuding dirinya untuk mencari perhatiannya pria lain.


Mona sangat paham arah dan tujuan dari ucapan suaminya tersebut akan kemana,meski tanpa harus di perjelas secara gamlang.

__ADS_1


" Mas,ini adalah masalah pekerjaan bukan masalah perasaan,jadi tolong jangan menuduhku sembarangan dan aku tidak tertarik untuk mencari perhatian lelaki manapun." Ucap Mona geram.


" Baguslah kalau kamu menyadarinya,karena aku mengenalmu atas sikap kefropesionalanmu bukan kecaperann mu." Ujar Banny dengan enteng.


Mona menggeleng merasakan hawa panas mulai merasuk ke dalam dadanya.


Pria berwajah tampan itu selalu membuat panas telinganya.


Mona menatap panjang pria tampan tersebut ia berusaha untuk tidak terlalu serius menanggapi ucapannya tersebut.


" Baiklah !! Kamu makan malam duluan saja ! aku ada urusan dulu sebentar." Ucap Banny seraya menyambar sebuah kunci di atas nakas.


" Urusan pekerjaan ??" Tanya Mona dengan cepat.


" Tidak,Arnetta memintaku untuk menjemputnya di rumah sakit." Balas Banny berkata dengan sejujurnya.


Mona cukup terkejut mendengar ucapannya Banny,dalam rangka apa suaminya menjemput sekertarisnya tersebut ??


Memangnya tidak ada pihak keluarganya yang bisa menjemput kepulangan gadis itu? Batin Mona menatap penuh arah.


Mona berhasil di buatnya tak mengerti perasaan kesal dan curiga berbaur menjadi satu.


Kenapa Banny masih tetap peduli akan ke adaannya sekertarisnya tersebut ?


Apa yang menjadi perbincangan orang-orang di luaran sana benar adanya jika Banny memang sedang dekat dengan sekertarisnya tersebut ????


Aah rasanya kepala ini berdenyutt keras jika harus menerka-nerka akan keadaan suaminya tersebut,Mona semakin membatin.


" Sebenarnya yang sedang mencari perhatian itu aku atau kamu mas ?" Tanya Mona dengan cepat.


Langkah Banny terhenti setelah mendengar pertanyaan dari istrinya tersebut.


" Maksud kamu ??" Banny memutar kembali badannya dan menghadap lurus ke arah Mona,ia menatap penuh selidik.


" Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa yang baru saja aku katakan,karena aku sudah tau akan jawaban apa yang kan mas beri,mas hanya sekedar peduli terhadap sekertaris mas itu,pasti itu kan jawaban yang akan mas beri ??" Jelas Mona seraya meletakan giwang-giwangnya di kotak perhiasannya.


Banny menghela,Pernyataan Mona memang begitu terasa menamparnya secara tak langsung,Mona membalikan semua tuduhannya atas apa yang di pikirkan Banny tentang seorang Sultan kepada istrinya.


" Kamu menuduhku ??" Tanya Banny dengan wajah memerah.


" Menurut Mas ??" Mona balik bertanya dengan wajah penuh rasa kekesalan yang begitu dalam.


" Aku hanya berusaha fropesional saja." Jawab Banny menegang.


Wajah gadis itu terlihat tersenyum penuh cemooh,sejurus kemudian ia pun mengangguk-ngangguk dengan pasti.


" Dan itu pula yang aku lakukan terhadap pak Sultan." Balas Mona seraya melangkah melewati Banny yang masih mematung.Ia berjalan menuju kamar kecil untuk segera membersihkan badannya yang mulai terasa tidak nyaman.


Sontak saja sikap Mona membuat Banny tidak berkutik,sejak kapan gadis yang di nikahinya atas sandiwara ini begitu cerdas membalikan segala ucapannya.


lagi-lagi Banny hanya bisa menarik napas panjang,ia sadar jika sikapnya terhadap sekertarisnya itu terlalu berlebihan sehingga mengundang perasaan cemburu Mona.


Ada perasaan gamang mendera hatinya,namun apa lah daya,dia tidak bisa menolak akan hal itu,sosok Arnetta bagi dirinya hanya ketidak nyamanan atas orang tuanya yang memiliki hubungan begitu dekat dengan sang Ayah.


Nyaris dia tidak bisa menolak akan perasaanya tersebut jika dia mengingat akan hubungan baik antara orang tuanya Arnetta dengan orang tua dirinya tentunya penolakan dia akan berujung sebuah kesalah pahaman.


********


Mona melenggang keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju meja makan,ia terlihat sedang menyiapkan sarapan paginya.Pagi ini ia hanya membuat sarapan roti panggang kesukaanya,lalu tak lama ia pun menikmatinya tanpa menunggu kehadiran Banny di dekatnya.


Aroma wangi secangkir kopi nescafee begitu semerbak memenuhi se isi ruang makan tersebut sehingga menggugah selera bagi yang menciumnya.


Diam diam Banny memperhatikan istrinya tersebut dari ruangan lain,namun dia tidak berani untuk segera menegur sang istri tersebut ia membiarkan Mona sarapan sendirian.


Sudah beberapa hari ini sikap Mona memang sedikit berubah,terlebih setelah kejadian sekertarisnya itu masuk rumah sakit,di tambah permasalahan pekerjaan anatara dirinya dengan Sultan.


Rumah ini seketika hening dan suasana pun menjadi kaku,bahkan sikap mereka seperti orang asing yang tak saling mengenal.


Semenjak bagun tidur pagi tadi hingga sekarang tak ada sapaan manis yang keluar dari mulut gadis itu untuk dirinya.


Banny melangkah mendekatinya seraya memasang sendiri dasinya tersebut,lalu ia pun mendekat ke arah Mona.


Ada dua potong roti panggang teronggok di piring,dan secangkir kopi panas kesuakaan tersaji.Meski Mona terlihat cuek namun dirinya tidak lupa untuk membuatkan minuman kesukaannya tersebut.


Banny melirik ke arah Mona yang masih asik dengan sarapan paginya tanpa menghiraukan ke hadirannya yang sedari tadi memperhatikannya.


Banny berdehem,lalu ia pun menarik kursinya secara perlahan.


Di edarkannya tatapannya keseluruh atas meja,yang tersaji haya beberapa roti panggang saja.


" Kamu tidak membuatkan sarapan nasi goreng untukku?" Tanya Banny sekaligus membuka obrolan dengan berbasa-basi.


Mona yang sedang menyeruput secangkir nescafe panas tersebut tehenti lalu menjauhkan cangkir tersebut dari mulutnya.


" Maaf,aku tidak sempat untuk membuatkan nasi gorengnya !" Jawab Mona seraya kembali menyantap rotinya.


Banny menatap datar,perkataan Mona begitu dingin,sedikitpun gadis itu tidak menatap ke arahnya.


" Mona !" Panggil Banny cukup terganggu atas sikap dingin istrinya tersebut.


Mona menghentikan kembali kunyaahannya namun tetap tidak menoleh ke arah pria tersebut.


" Kamu kenapa ?" Tanya Banny pelan.


" Aku baik-baik saja." Balas Mona kembali melajutkan sarapannya.


" Bukan itu ! sikap kamu kenapa ?? pagi ini aneh sekali." Balas Banny dengan sabar,walau hati kecilnya tak sabar ingin tahu alasan Mona kenapa acuh terhadap dirinya.


" Kurasa tidak ada yang aneh," ucap Mona dengan menyuapkan suapan terakhirnya.


Banny menghela napas panjang,dia tidak bisa di bohongi begitu saja atas sikap dingin istrinya tersebut.


" Oya ,aku minta maaf,semalam aku terlambat pulang." ucap Banny menoleh gadis itu dengan canggung.


Mona hanya mengangguk tak peduli.


Banny berdecit,bukan seperti biasanya Mona bersikap masa bodoh seperti ini,biasanya Mona lantas memberondongnya dengan sebuah pertanyaan jika tak ada yang berkenan di hatinya,namun kali ini istrinya tersebut hanya membalas dengan anggukan saja,itupun seperti tak peduli akan perminta maafan dirinya.

__ADS_1


Diamnya Mona saat ini membuat perasaan seorang Banny di landa kegelisahan dan itu berhasil membuatnya merasa serbasalah.


" Ayah Arnetta memintaku untuk menjemputnya,dan setelah itu aku di ajak makan malam bersama mereka." Ucap kembali Banny menjelaskan apa yang telah terjadi tadi malam,ia berusaha menarik perhatiaannya Mona dengan berkata jujur pada Mona.


Mona menoleh ke arahnya lalu menatapnya dengan tak biasa.


" Aku tau itu !" Jawab Mona pelan,nada bicaranya terdengar begitu datar,tak ada ekspresi yang lebih dari raut wajahnya.


Banny tak melihat sikap aslinya Mona yang selalu merespon baik atas urusanya.


" Mona ,aku melakukan semua itu hanya karena perasaan tidak enakku saja terhadap orang tuanya Arnetta." lagi-lagi Banny menjelaskannya meski Mona tidak mengharapkan sama sekali penjelasan tersebut.


" Aku paham mas,lagi pula mas juga tidak akan pernah bisa menolak kan akan setiap permintaan orang tuanya Arnetta." Balas Mona dengan cepat,hampir di setiap kalimatnya ada penekanan yang begitu dalam.


Banny menatap gadis itu dengan perasaan canggung.


" Hanya untuk kali ini saja." Balas Banny pelan.


Ia mengakui jika dirinya memang berada di posisi yang salah namun ia sendiri tidak bisa menghindarinya setiap sikap dari pihak keluarganya Arnetta,seakan-akan dia terbelenggu dengan hubungan baik antara orang tuanya tersebut.


Mona menghela,di rasa dia tidak tertarik untuk membahas permasalahan itu.


" Kurasa, tidak untuk kali ini saja mas melakukan semua itu." Mona membalas dengan senyuman tipis namun terlihat begitu sinis.


Banny menatap tak percaya,sama sekali ia begitu heran atas perubahan sikap istrinya tersebut yang begitu terkesan sinis kepadanya.


" Mona !!" Sergah Banny cepat.


" Maaf mas sepertinya aku berangkat duluan,karena kebetulan hari ini Amel dan Tamara mengajakku untuk berangkat bersama." ucap Mona seraya beranjak dari tempat duduknya dan ia pun membawa piring kotor ketempat cucian,membiarkan Banny sarapan pagi tanpa dirinya.


Banny terperangah,benar-benar terperangah atas sikap dinginnya Mona kali ini.


Sikap Mona telah berhasil menumbuhkan rasa ketidak nyamanan bagi dirinya,sebelumnya Mona tidak pernah bersikap sedingin ini.


Apakah ini benar-benar atas kesalahan dirinya,yang telah membuat Mona cemburu ??


Banny menatap panjang roti panggang yang ada di hadapannya tersebut,seketika saja roti panggang tersebut terlihat seperti bilahan kayu keras yang akan menghantam dirinya.


" Mona ! Kamu tidak menemaniku untuk sarapan ??" Tanya Banny dengan menatap panjang punggung gadis itu.


Mona menoleh ke arah pria itu tanpa ekspresi.


" Maaf mas,sepertinya aku sedang terburu-buru." Jawab Mona dengan enteng lalu ia pun hendak kembali melangkah.


Merasa geram atas sikapnya Mona,Banny segera bangkit dan mengejar Mona yang hendak melangkah menuju pintu.


" Mona !!" Panggil Banny seraya menarik tangan istrinya tersebut.


Mona terkejut lalu ia pun menoleh ke arah Banny dengan mata membulat sempurna.


" Aku yakin kamu sedang ada masalah? ada apa ?" Tanya Banny menatap tajam.


Mona diam.


" Kamu bisa ngomong kan,jangan kaya gini !" Ucap Banny sedikit jengkel.


" Aku tidak apa-apa, mas !" jawabnya dengan memalingkan wajahnya.Cengkraman tangan Banny semakin keras sehingga membuat Mona sedikit meringis.


" Kamu jangan so misterius begitu,aku mengenalmu bukan hari ini saja." Ucap Banny menatap tajam.


Mona mendelik,kontan saja ia merasa tersinggung dengan ucapan suaminya tersebut.


" Mas jangan so tahu,bilang aku so misterius !!" ucap Mona mendilak.


" Lantas apa yang membuat kamu besikap seperti ini kepadaku ?" Tanya Banny penasaran.


Mona membalas tatapan pria itu,sejak kapan pria tampan berwajah dingin ini bersikap se kepo ini atas sikapnya ?


Mona berpikir,melihat sikap aneh suaminya tersebut.


" Oh aku tau,jangan-jangan kamu tidak suka jika aku berbuat baik kepada sekertarisku itu ??" Ucap Banny menatap dalam wajah gadis itu seraya tersenyum penuh cemooh.


Mona kembal diam,rasanya dia ingin memaki dan merutuki pria yang ada di hadapannya tersebut.


Pertanyaan yang membuatnya semakin jengkel terhadap pria tampan tersebut yang tak peka akan sikapnya tersebut.


Sejak kapan suaminya ini bisa bersikap sejayuss ini,?? bukannya merasa bersalah justru malah meledek dirinya.


Mona tersenyum sinis.


" Itu hak kamu mas !" jawabnya pelan namun sorot matanya terlihat marah.


" Jika itu hak aku,kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu tidak suka atas sikapku ini." Ucap kembali Banny menggoda istrinya tersebut.


Heiiiii logika saja !! mana ada seorang bos sebegitu besar perhatiannya terhadap sekertarisnya hingga melalaikan istrinya ???


Mona meronta dalam hatinya tatapannya begitu tajam ke arah wajah pria tampan tersebut yang terlihat memasang wajah inosen,seketika wajah wibawanya memudar.


Ingin rasanya dia mencakar wajah pria itu dengan sesuka hatinya,laki-laki ini benar-benar gak tau diri.


Rutuk Mona membatin.


" Itu memang haknya mas berbuat baik kepada siapapun,termasuk kepada sekertaris kesayangan mas,tapi kebaikan ini sepertinya terlalu berlebihan mas,yahh semacam ada udang di balik batu." ucap Mona seraya menepis kuat tangan pria itu.


Banny terkekeh mendengar perkataanya Mona.ucapan Mona serasa menggelitik hatinya.


Banny menggeleng lalu sesaat kemudian dia tersenyum geli.


" Mona,Mona,aku dan Arnetta hanya sebatas sekertaris dan atasan tak lebih." Jawab Banny mencoba menjelaskan dari apa yang menjadi tuduhan Mona secara tidak langsung terhadap dirinya.


" Semua bisa berubah kapan saja mas." Balas


Mona dengan segera berjalan kembali.


" Heuhh... aku tau kamu merasa cemburu kan ?" Seru Banny dengan nada suara penuh ledekan.


Mona mengernyit dengan perasaan sebal,namun akhirnya ia berjalan kembali tak menghiraukan ucapan suaminya tersebut,ia pun meninggalkan Banny sendirian.

__ADS_1


Banny melongo,saat Mona tidak merespon ucapannya tersebut dan ia pun hanya mampu menarik napas panjang,dari ekspresi wajah gadis itu tersirat jelas jika memang cemburu atas perlakuannya terhadap sekertarisnya tersebut.Banny menggeleng merasakan kepalanya terasa mau pecah,permasalahannya semakin semerawut membuat hubungannya dengan Mona semakin tak harmonis.


__ADS_2