CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 133


__ADS_3

MONA bersama sang nenek Baru saja memasuki Restoran ala korea dan mereka berniat untuk mencari tempat duduk,merasakan lelah berputar-putar mengelilingi pusat perbelanjaan hanya untuk membeli keperluan di pernikahan nya nanti,meski hanya sandiwara tentunya Mona tak ingin membuat keluarga besar Banny kecewa dengan penampilan dari pihak keluarganya.


Baru saja ia mendapatkan tempat duduk yang di rasa cukup nyaman pandanganya tertuju tepat ke sebuah meja yang tak jauh darinya,dan ia pun melihat seorang pria yang menurutnya tak asing baginya.


Mona menjulurkan kepalanya mencoba menyimak dengan pasti akan sosok pria tersebut,dan dugaan dia benar saja jika pria itu adalah Angkasa pria yang berkerja sama dengan perusahaan bosnya tersebut.


Kulit Dahi gadis itu terlihat mengkerut sesaat melihat seorang perempuan yang tengah duduk berhadapan dengan pria itu sambil menikmati sebuah hidangan yang tersaji.


Sekilas tak ada yang aneh,namun rasa penasaran gadis itu kian tertarik saat Angkasa begitu dekat dengan perempuan yang usianya nyaris sebayaan dengan neneknya.


" Kamu lihat siapa Mon ?" Tanya sang nenek menoleh ke arah Mona yang masih menatap ke arah sisi lain.


" Mona lihat, itu sepertinya mitra bisnisnya pak Banny nek,tapi dengan siapa dia disana ?" Ucap Mona seraya masih menatap seksama ke arah pria yang duduk bersama dengan seorang perempuan.


" Mungkin itu mamanya ataupun neneknya Mon." Sang nenek menimpali seraya ikut memperhatikan ke arah pria itu yang tengah asik makan dengan seorang perempuan yang duduk membelakangi mereka.


" Sepertinya begitu nek,gak mungkin juga itu pacarnya,hihii...hiii.Kalah saingan dong anak perawan." Ucap Mona terkekeh.


" Oya nenek mau pesan apa ? " Tanya Mona setelah seorang pelayan datang menghampirinya.


Sesaat sang nenek pun memperhatikan daftar menu tersebut.


" Mona,ini menu apa?kok nenek perasaan baru lihat ada menu makanan mentah begini ?" Ucap sang nenek seraya menunjuk varian menu yang dagingnya terlihat masih mentah.


" Itu sushi,ada ikan salmonnya nek, di makannya memang bisa mentah-mentah gitu,tapi tenang itu ada varian saosnya yang bikin enak di makannya." Jelas Mona dengan seksama.


" Gak akh,nenek gak mau.Gimana rasanya coba,makan ikan mentah-mentah,memangnya ikannya gak bisa di goreng atau di gulai terlebih dahulu ?" Tanya sang nenek dengan polos.


Mona tersenyum melihat atas kepolosann sang neneknya yang bertanya mengenai menu makanan ciri khas negri sakura tersebut.


Meski namanya restoran korea namun disana menyediakan menu tak hanya berbau-bau korea melainkan makan jepang pun tersedia.


" Nenek bisa pesan menu yang lain saja,Mona rasa nenek gak bakalan bisa menelannya jika memesan menu itu." Ucap Mona dengan tersenyum lucu menatap kepolosan sang neneknya yang tampak terlihat menatap geli ke beberapa menu tanpa olahan tersebut.


" Memangnya tidak ada menu pecel lele disini ?" Tanya sang nenek dengan setengah berbisik lalu mencari deretan daftar menu yang tertera di tabel tersebut.


" Nek,ini restoran ala-ala korea gitu,jadi menunya ya berbau-bau korea and jepang. " Balas Mona dengan melirik kearah sang pelayan yang tengah menyimaknya.


Pelayan itu tersenyum-senyum menatap kepolosan sang nenek.


" Oalah,nenek rasa nenek gak bakalan bisa makan jika menunya ini semua. " Ucap sang nenek menatap kecewa.


" Mona pesenin ramen atau tteokbokki ya,menu ini nenek pasti masih bisa makan." Ucap Mona seraya menunjuk salah satu menu favorit di restorean tersebut.


" Menu yang lain aja Mon,sepertinya makanan itu nenek gak bisa memakannya juga,itu pedas nenek lihat." Ucap sang nenek dengan segala kepolosannya merasa pasrah.


Mona menatap bingung setelah sang nenek merasa kesulitan untuk menentukan menu makannya.


" Mbak,nanti saya lihat-lihat menu yang lainnya dulu ya,sepertinya nenek saya masih bingung untuk pesan menunya. " Ucap Mona meminta pengertiannya kepada sang pelayan yang sedari tadi sabar menunggunya.


" Oh,ya sudah mbak,kalau begitu saya tinggal dulu ya,nanti jika selesai memilih menunya panggil saya lagi saja." Balas sang pelayan dengan berbaik hati.


" Baik mbak,makasih ya mbak." Ucap Mona tersenyum tak enak hati.


" Iya mbak,sama-sama kalau begitu saya permisi dulu." Ucap si pelayan itu meninggalkan meja pesanan Mona.


Sesaat kemudian......


" Nek,Mona pesan menu yang lain aja ya,banyak ko ini menunya yang ramah di perut nenek ." Jelas Mona dengan tersenyum.


" Yang penting masakananya mateng ya Mon jangan mentah-mentah kaya tadi,nenek geli makannya kalau masih mentah." Jelas sang nenek dengan wajah polos.


" Ok,tunggu sebentar." Ucap Mona seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju sebuah kasir ia meminta menu yang lain untuk sang nenek.


Setelah ia berbicara dengan seorang pelayan akhirnya ia memesan makanan yang sekiranya sang neneknya suka akan menu tersebut.


Di tengah-tengah keseriusannya tiba-tiba seorang pria memanggil dirinya.


" Mona !!" Panggil seseorang itu percis tepat di belakang nya.


Mona pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil dirinya.


" Kas. " Ucap Mona menyeringah ramah.


" Kamu lagi ngapain ? " Tanya pria itu bertanya sekedarnya.


" Yang pati aku disini bukan sedang orasi." Balas gadis itu tersenyum menggodanya.


" Ya ya ya,pertanyaan yang tak berbobot ya ? " Pria itu menyela.


" Hii hii,tak masalah." Ucap Mona kembali tersenyum.


" Hmm,kamu sendiri atau....., sama pak Banny ?" Tanya Angkasa tersenyum ragu.


" Hmmm,aku bersama nenek." Sela Mona dengan cepat.


" Oh aku pikir kamu bareng calon suami kamu." Ucap Angkasa menatap penuh arti.


Mona tersenyum kaku saat pria berkarismatik itu menduga jika dirinya pergi bersama Banny.


" Hmm tidak,aku pergi bersama nenek aku,kebetulan pak Banny sedang sibuk." Ucap Mona beralasan.


" Kamu habis beli keperluan buat persiapan pernikahan kamu nanti ya ?" Tanya Angkasa dengan perasaan tidak enak.


" Hmm iya sekedar buat pelengkap saja,so keperluan untuk pernikahan yang lainnya sudah di persiapakan semuanya oleh pak Banny." Ujar Mona menatap dengan perasaan tak enak hati terhadap Angkasa.


Entah kenapa,Mona merasa jika pria yang tengah ada di hadapannya ini merasa kecewa mengetahui pernikahan dirinya dengan bos nya tersebut,seperti ada perasaan yang sedang di rasakan oleh pria itu namun dengan sempurna pria itu menutupi segala perasaannya.


" Pak Banny itu sangat beruntung ya bisa mendapatkan kamu." Ucap Banny mencuri pandangan terhadap gadis yang tengah tersenyum manis kepadanya.


" Akh,aku rasa ekspetasi kamu terlalu berlebihan,apa yang kamu lihat belum tentu indah dengan realitanya." Ungkap gadis itu dengan mengekpresikan raut wajah dengan berbeda,dan intonasinya penuh dengan penekanan.


Angkasa mengernyit lalu menatap dalam ke arah wajah gadis tersebut,sekilas senyumannya seketika menyurut.


Dan keyakinannya semakin menguat jika gadis ini memang terpaksa harus menikah dengan Direktur perusahaanya tersebut.


" Kok bisa ya ?lalu jika tak seindah itu kenapa ada sebuah pernikahan ?" Tanya Angkasa mencoba menyelami perasaan gadis tersebut.


Mona terdiam lalu menatap Angkasa dengan berbagai perasaan,entah kenapa pria ini begitu kritis terhadap dirinya.


" Ah sudahlah gak usah di bahas." Tungkasnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


" Oya ngomong-ngomong kamu disini tak sendiri kan ya ?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraan lalu melirik ke arah meja tempat pria itu duduk.


" Kok kamu tahu aku kesini tak sendiri ?" Tanya Angkasa menyeringah.


" Tadi aku sempet lihat kamu,cuman karena kita fokus ke isi perut jadi hanya melihat saja." Ujar Mona tersenyum.


" Sombong ya kamu, lihat aku tapi gak mau negor." Ucap pria itu seraya mengerlingkan matanya dengan menggoda.


" Bukan begitu Kas,aku pikir kamu kan lagi fokus makan,yaa aku takut ganggu kamu lah,disana juga kamu gak sendiri juga kan ?" Balas Mona tergelak lembut.


" Aku masih sendiri kok." Sela Angkasa tersenyum kelakar.


" Maksudnya ? " Gadis itu menyipitkan matanya.


" Ah sudah lupakan !!" Angkasa menyela dengan menepiskan tangannya.


Sepertinya Mona tidak peka akan hal itu.


" Oya Mon, gimana kalau aku kenalan sama nenek kamu,boleh ? " Tanya Angkasa seraya clingak clinguk mencari keberadaan neneknya Mona.

__ADS_1


" Kenalan sama nenek aku ? " Tanya Mona heran.


" Yaa,kalau boleh itu juga." Ucapnya dengan tersenyum tipis.


" Yaa boleh dong." Jawab Mona mengangguk.


" Sekalian kamu boleh juga tuh kenalan dengan oma ku." Ujar Angkasa seraya menunjuk ke arah neneknya yang baru saja selesai makan.


" Oh jadi itu oma kamu ?" Tanya Mona tersenyum.


" Iya,itu oma aku,memang kamu pikir itu siapa ?pacar aku ?" Ujar pria itu dengan ekpresi lucu.


Kontan saja hal itu membuat Mona tertawa lebar mendengar ucapan pria itu yang sedikit humoris.


Angkasa melihat sebuah tertawa yang tulus daru wajah gadis tersebut,semakin lebar tawanya semakin menampilkan dua lesung pipi yang manis.Angkasa melihat itu dan ia sangat mengagumi hal itu.


" Pacar kamu setua itu,bisa jadi kamu mengidamkan sosok seorang pacar yang bernar-benar bisa ngemong." Ujar Mona dengan masih tergelak.


" Haa haa..kamu yah bisa aja." Ucap Angkasa ikut tertawa.


" Kalau begitu aku panggil oma ku yah." Ucap Angkasa pelan.


" Hmm,boleh !" Ucap Mona tersenyum ringan.


" Ok aku tunggu ya di meja pesanan aku." Ucap Mona seraya menunjuk ke arah meja yang tak jauh dari kasir tersebut.


" Ok." Jawab Angkasa seraya melangkah untuk menghampiri neneknya.


" Ang,kamu dari mana ?" Tanya sang nenek seraya menyeka mulutnya dengan tisu.


" Aku habis dari toilet." Ucap Angkasa seraya duduk dengan sopan.


" Oma,kita duduknya pindah ke meja sana yah !" Ajak Angkasa seraya menunjuk ke arah meja lain.


" Loh,memangnya ada apa Ang ?" Tanya sang nenek dengan wajah heran.


" Tidak ada apa-apa,barusan Angkasa ketemu teman,dan kebetulan dia bersama neneknya jadi apa salahnya kita gabung di sana." Ucap Angkasa dengan semeringah.


" Siapa sih,kok kamu semangat gitu ?" Tanya sang nenek dengan semakin menatap heran atas perubahan sikap cucunya tersebut.


" Nanti oma lihat saja,siapa tahu dia cocok jadi calon istrinya cucu oma ini." Jelas Angkasa tersenyum antusias.


" Maksud kamu apa sih Ang? " Tanya sang nenek semakin bingung melihat sikap anehnya sang cucu tersebut.


Angkasa menggeleng dengan mengulas senyuman yang penuh arti.


" Oh nenek tahu pasti teman kamu itu seorang perempuan yaa? apa kamu sengaja mau memperkenalkan nya sama oma." Tanya sang nenek menyeringah bahagia.


" Haa hhaa... oma ini ya semangat banget kalau ngomongin masalah perempuan." Ucap Angkasa tersenyum jenaka melihat ke antusiasan sang neneknya terhadap dirinya.


" Ya secara oma sudah rindu pengen lihat kamu menikah." Ucap sang nenek dengan nada serius.


Angkasa menggeleng melihat sikap oma nya tersebut.


" Ya sudah mana orangnya ? " Tanya sang nenek menatap dalam wajah sang cucu.


" Tuh !" Tunjuk Angkasa ke salah satu meja yang terdapat dua perempuan tengah duduk menantinya.


Tak lama kemudian Angkasa beserta sang nenek pun melangkah menuju tempat Mona berada.


" Mon !" panggil Angkasa setibanya.


" Iya kas,"Mona mendongkak dan menatap ke arah Angkasa beserta perempuan yang berada di sampingnya yang tersenyum hangat kepadanya.


Tepat bersamaan neneknya Mona menoleh ke arah pria yang baru tiba di hadapannya itu,namun baru saja bola matanya bergeser ke sisi pria itu tiba-tiba sang nenek merasa terkejut di buatnya,setelah melihat perempuan yang usianya tak jauh darinya itu ikut menatap hal yang sama kepada dirinya.


" Jeng Saras !!!" Seru neneknya Mona dengan terkejut.


" Loh,loh jeng Wiranti kok ada di sini ?piye kabare" Pekik nenek nya Angkasa dengan sangat terkejut.


" Aku sekarang memang tinggal di Jakarta bersama Mona jeng Saras." Balas Wiranti dengan tersenyum bahagia.


Mona dan Angkasa saling berpandangan melihat ke akraban neneknya masing-masing.


" Nenek,Oma saling kenal ?" Tanya Mona dan Angkasa secara bersamaan.


" Yaa kenal dong Mon,ini jeng Saras teman nenek dari sekolah dasar dulu,oalah kita bertemu disini ini seperti mimpi." Jelas sang nenek membagikan tatapan dengan penuh haru.


" Ayo duduk silahkan ! oya kalian mau pesan apa ?" Tanya nenek Mona menatap gantian Angkasa beserta omanya.


" Tidak jeng,saya sudah makan barusan bersama Angkasa." Balas Saras menolak.


" Jadi oma temannya nenek Mona ?" Tanya Angkasa lagi masih belum percaya.


" Iya Angkasa,ini teman oma loh,terakhir ketemu di Surabaya lima bulan yang lalu membahas perjodohan kalian." Jelas nenek Angkasa dengan tersenyum lembut.


" Perjodohan ???" Tanya Mona dan Angkasa kembali dengan kompak.


" Ini Mona kan jeng Wira ?" Tanya Saras menoleh Mona.


" Iya,iki loh Mona cucu perempuan saya satu-satunya. " Wiranti menambahi.


Angkasa menatap lekat ke arah Mona yang masih belum percaya jika Mona adalah gadis yang di maksud oleh neneknya untuk di jodohkan dengan dirinya.


" Angkasa,oma itu berniat ingin menjodohkan kamu dengan cucu teman oma ini,yaa sama Mona ini loh." Jelas sang Oma dengan lembut.


" Apa !! jadi ???" Ucapan Angkasa maupun Mona serempak mengantungkan satu sama lain.


" Iyaa Ang,oma kan udah bilang sama kamu jika Oma mau menjodohkan kamu dengan cucu teman Oma,tapi kamu menolaknya hingga beberapa kali,Oma bicara kan hal ini tapi kamu selalu menghindarinya,bahkan kamu selalu memberi alasan agar Oma membatalkan perjodohan kamu ini." Ujar sang nenek menatap lekat ke arah cucu tersebut.


Angkasa tersenyum hambar lalu menoleh Mona dengan berbagai perasaan.


" Tapi ternyata kalian sudah saling kenal ya ?" Neneknya Mona ikut menyela.


" Iya nek,kami sudah saling kenal,kebetulan perusaan saya sedang menjalin kerja sama dengan perusahan nya tempat Mona bekerja." Jelas Angkasa tersenyum ramah.


" Bagus sekali jika kalian sudah saling mengenal,itu artinya kita tidak perlu repot-repot lagi untuk mengenalkan satu sama lain,bukan begitu jeng wira ?" Tanya Saras menoleh sang sahabatnya dengan penuh arti.


Wiranti hanya bisa mengangguk dengan tersenyum kaku.


" Oma,Apakah perjodohan ini masih berlaku ?" Tanya Angkasa menyela dengan cepat,lalu menoleh ke arah Mona.


Gadis itu terhenyak lalu menoleh cepat pria yang sedari tadi menatapnya tanpa henti.


Saat itu pula Mona merasakan perasaan nya kian membuncah di dalam dadanya.Jika dia tahu pria yang akan di jodohkannya setampan ini tentunya ia tidak akan mendapati cerita cintanya seperti ini.


Kenapa dia (Angkasa ) harus datang di saat waktu yang tidak tepat.


Mona menoleh sang nenek dan mereka pun saling melempar pandangan resah,melepaskan tatapannya dengan perasaan kian di lema.


" Gimana jeng Wira,masih bisa perjodohan ini berlanjut ?" Tanya Saras sang Oma Angkasa bertanya penuh harapan.


Lagi-lagi Mona beserta sang nenek hanya saling pandang tampa bisa menjawab pertanyaan tersebut. tatapannya satu sama lain kian terlihat rumit.


" Oma,Angkasa lupa jika Mona akan segera menikah." Ucap pria itu menyela dengan intonasi yang cuku jelas.


Mona terdiam lalu melipatkan bibirnya hingga dalam.


Saras terhenyak lalu menatap Wiranti dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


" Oalah !! Yang benar saja jeng Wira ?jadi Mona sudah ada calonnya sekarang?" Tanya nya dengan nada terkejut.

__ADS_1


" Hmm,jeng Saras sebelumnya aku minta maaf,sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjodohan ini." Ucap Wiranti dengan nada kecewa.


" Kenapa ??" Tanya Saras menatapi sahabatnya itu dengan perasaan risau.


" Mona akan menikah dengan seseorang." Jelas Wiranti dengan perasaan kian tak menentu.


" Cukup kecewa aku mendengarnya jeng,tapi jika cucu kamu punya pilihan lain saya tidak bisa memaksakan hal itu,mungkin takdir TUHAN berkehendak lain." Ujar Saras dengan menoleh gadis itu.


" Selamat ya Mona." Ucap perempuan itu dengan penuh penekanan.


" Makasih Oma." Balas Mona dengan perasaan canggung,ia tak lagi bisa berbicara apapun dan ia pun memilih untuk menundukan kepalanya dengan perasaan yang kian tak berarah.Ada perasaan bingung sekaligus sesal yang berkecambuk di benaknya.


" Jeng Saras,aku ingin bicara sesuatu sama kamu." Ucap sang nenek menatap Saras dengan ragu.


" Ada apa jeng ? " Tanya Saras menatap hal yang sama.


" Mona,nak angkasa maaf nenek bicara dulu ya sebentar sama oma kamu,boleh ?" Ucap Wiranti dengan nada lembut.


" Silahkan nek !" Ucap Angkasa mengangguk pelan.


Tak lama kedua perempuan itu pun memilih ngobrol di meja yang lain dan sedikit menjauh dari tempat duduk cucu-cucunya tersebut.


" Ada apa mereka ?serius banget perasaan ?" Tanya Angkasa menatap heran ke arah dua nenek-nenek itu yang meminta izin bercerita dengan tempat terpisah.


" Mungkin mereka melepas rindu,maklum sudah lama tidak bertemu." Balas Mona dengan melirik kecil ke arah Angkasa.


" Nenek-nenek jaman now,gak mau kalah sama anak muda." Ucap Angkasa tersenyum lebar.


Mona tersenyum dan ikut menoleh ke arah neneknya yang sudah asik bercerita.


Angkasa diam-diam menatap lekat ke wajah gadis tersebut lalu menelusuri setiap pahatan wajah gadis itu,memang tak ada yang spesial namun entah kenapa ada sesuatu hal yang menarik dalam diri gadis itu,dah hal itu membuatnya merasa tertarik dan ingin memilikinya.


Seorang pelayan datang menghampiri dengan membawakan pesanan.


Tak lama si pelayan itu pun memindahkan satu persatu pesanan tersebut ke atas meja.


" Makasih !" Ucap Mona menarik sebuah piring berisikan menu kesukaannya.


" Mona." Panggil Angkasa menyela.


" Iya." Ucap Mona menoleh Angkasa.


" Aku masih belum percaya jika kita akan di jodohkan ? " Ucap pria itu dengan perasaan yang sulit di ungkapkan.


" Yaa aku juga tidak mengira jika pria yang akan di jodohkan nenek dengan aku itu akan sekeren ini." Ucap Mona tersenyum tipis,Mona menyela dengan sedikit berkelakar supaya suasana nya tidak terlalu canggung.


Angkasa menyeringah lalu tersenyum jenaka.


" Dan aku juga tidak pernah menyangka jika gadis yang di jodohkan oma ini semanis kamu." Ucap Angkasa melontarkan kembali pujiannya.


" Kas ,lebay juga kamu yah ?" Ucap Mona dengan tersipu,entah kenapa ucapan pria itu melambungkan perasaanya hingga jauh ke angkasa sana.


" Jika aku tau,aku akan di jodohkan dengan kamu maka aku akan langsung mengatakan tidak." Ucap Angkasa melirik genit Mona.


Mona menyipitkan matanya yang belo lalu menatap tak mengerti dengan ucapan nya Angkasa.


" Maksud kamu ? " Tanya dengan tersenyum keki.


" Iya,kalau aku tahu kamu yang akan di jodohkan oma,maka aku akan bilang tidak,tidak akan menolak lagi." Ucap pria itu tersenyum lebar menampilkan sudut bibir yang terlihat sangat unik,entah kenapa jika pria itu tersenyum Mona selalu merasa terpesona dengan keunikan senyumannya itu,dan hal itu sangat sulit untuk melukiskan tampilan senyumannya.


" Telat !!" Jawab Mona singkat,sejurus kemudian ia mendilak dengan manja.


" Kata siapa aku telat ??" Tanya Angkasa menatap tajam.


" Telat kamu bilang tidak akan menolak,sementara aku lusa akan menikah ." Ucap Mona dengan sikap manja.


" Aku bisa saja menunggu mu hingga tiba waktunya nanti. " Jawab Angkasa dengan pasti.


" Maksud kamu ?" Tanya Mona menatap dengan berbagai perasaan.


" Jujur saja Mon,aku suka sama kamu." Ucap Angkasa berbicara dengan to the point.


Mona menarik napas lalu menatap dalam ke arah pria tersebut.


Entah kenapa pria ini begitu berbeda dengan seorang Banny yang terkesan acuh dan menjaga image nya untuk sebuah perasaan.


" Kenapa kamu berbicara seperti itu ?" Tanya Mona menatap kaku.


" Jujur saja aku orangnya tidak suka yang bertele-lele,jika aku tidak suka,maka aku katakan tidak suka,dan sebaliknya jika aku suka aku katakan suka,karena aku tidak suka abu-abu.Hidup harus ada kepastian." Jelas pria itu tersenyum simpul.


Mona terdiam menanggapi pernyataan pria tersebut,apa yang di katakan pria itu di rasa ada benarnya jika kepastian itu sangat penting dalam menentukan sebuah sikap.


Perasaan gadis itu kian gamang jika sebelumnya ia di bingungkan dengan sikap calon suaminya itu kini ia di buat lebih bingung dengan sikap genleman seorang Angkasa yang langsung menyatakan perasaannya kepada dirinya.


" Mon aku mau nanya seseuatu sama kamu,boleh ?" Tanya Angkasa menoleh.


Mona masih terdiam dengan mengaduk makananya yang mulai terlihat dingin.


" Masalah apa ?" Tanya Mona menatap ragu.


" Kamu yakin akan menikah dengan pak Banny ?" Tanya Angkasa dengan tatapan menanti jawaban yang pasti.


Mona kembali menghela merasakan sesak mulai menghimpit perasaanya.


Kenapa pria ini bertanya akan hal itu,seolah-olah meragukan pernikahannya tersebut.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" Tanya Mona mengernyit dengan sikap herannya.


" Entah kenapa perasaanku merasa tidak yakin jika pernikahan ini atas landasan saling mencintai. " Ungkapnya dengan intonasi yang penuh penekanan.


" Kas,kamu sok tahu ya ! Ya,aku maupun pak Banny memang saling mencintai lah,gak mungkin kita menikah tanpa ada perasaan apapun." Terang Mona dengan perasaan tak nyaman.


" Tapi melepaskan hal yang menyakitkan itu sama halnya dengan kita menggengam sekuntung bunga mawar cantik namun penuh duri,semakin di gengam maka akan semakin terluka." Ucap Angkasa tersenyum ironi.


Mona terhenyak saat pria itu mengatakan ucapan yang menjadi sebuah caption di laman istragramnya tersebut.


Bola mata gadis itu membulat dengan sempurna lalu menatap pria itu semakin tajam.


" Bukan kan seperti itu ?" Tanya Angkasa melirik Mona dengan perasaan lembut.


" Sepertinya kata-kata itu aku hapal !" Mona menyela dengan perasaan curiga.


" Kebetulan saja." Sela Angkasa memotong.


Mona menegaskan wajah pria itu yang telihat sedang mengejeknya secara tidak langsung.


" Kenapa kamu menatapku seperti itu ?kamu mencurigai seseuatu dari ku?" Tanya Angkasa dengan tersenyum lembut.


Mona terdiam berusaha untuk menetralkan perasaanya,entah kenapa hati kecilnya berkata lain tengtang pria yang ada di hadapannya itu.


" Aku tidak mencurigai kamu,karena aku yakin kamu orang baik-baik." Balas Mona tersenyum keki.


Kenapa pria ini begitu berbeda saat memperlakukan dirinya dan secara terang-terangan pria ini begitu peduli kepadanya.


" Kok makannya gak di makan,malah di anggurin begitu tar dingin loh,makanan aja di cuekin bisa dingin apa lagi perasaan !" Ucap pria itu tersenyum menggoda.


" Kas,kamu yah." Balas Mona dengan tersenyum penuh arti.


Pria itu tersenyum menatap dalam wajah gadis itu yang tengah gamang,apa mungkin jika gadis itu curiga jika dirinya pernah stalking salah satu akun media sosialnya.


Akhh,, bairlah ia tak peduli akan perasaannya,ia semakin yakin jika ia masih ada harapan untuk mendapatkan hati gadis tersebut.

__ADS_1


" Aku masih menunggu jawaban mu itu." Ucap Angkasa lagi-lagi menatap gadis itu dengan penuh arti.


Mona terdiam sulit untuk mengartikan perasaanya yang kini melanda hatinya.


__ADS_2