CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 71.


__ADS_3

TOK TOK....


PINTU depan rumah Mona ada yang mengetuk dan tak lama terdengar seseorang memberi salam dari luar dengan suara cukup lantang.


Sang nenek meninggikan lehernya lalu menoleh dan mengamati ke arah ruang tamu sekiranya ia penasaran dengan suara siapa yang berada di balik pintu rumahnya itu.


Sang Nenek perlahan-lahan membukan pintu rumahnya lalu dilihatnya Banny sedang berdiri menatapnya dengan kaku.


" Yaa ampunn nak Banny ternyata !,Silahkan masuk ayuk !!" Ucap sang nenek dengan ramah.


" Makasih nek !" Jawab Banny seraya masuk mengikuti langkah sang nenek yang masuk kedalam.


" Apa kabar nek ?" Tanya Banny dengan suara datar.


" Alhamdulillah nenek baik-baik saja.Kamu gimana kabarnya ?" Tanya sang nenek dengan semeringah.


" Bany baik-baik saja." Jawab Banny dengan sedikit canggung.


" Yaa sudah kamu duduk,mau minum apa ?Nenek buatkan !." Ujar sang nenek dengan penuh rasa bahagia.


" Gak usah repot-repot nek Banny kesini ingin bertemu Mona dan mau ngasih obatnya yang tertinggal di kantor." Ucap Banny seraya mengeluarkan bungkusan kecil yang berisikan obat di balik saku jasnya.


" Mona itu emang suka teledor obat dia aja sampe lupa,Bentar nenek panggilkan Mona ya !" Ucap sang nenek sambil bangkit dan melangkah menuju kamar Mona.


Banny terdiam ia membagikan pandangannya ke seluruh ruangan tamu rumah Mona,Memang tidak semegah rumahnya tapi entah kenapa setiap kali ia berada di ruangan ini ia selalu merasakan kenyamanan.


Lalu pandangannya membentur sebuah foto yang berukuran besar yang bergambarkan Mona seorang diri sedang tersenyum manis.


Entah kenapa bibir Banny tergerak untuk tersenyum seraya memandanginya dalam-dalam hingga tak sadar jika Mona sedang berdiri sedari tadi memperhatikannya.


Mona mengernyitkan kedua alisnya lalu ikut menatap fotonya sendiri dengan sedikit aneh.


" Pak !!" Panggil Mona mengejutkan Banny.


Banny cukup tersentak lalu dengan cepat ia menoleh Mona yang berdiri d belakangnya.


Banny dengan cepat ia menarik cepat ekspresi terpesonanya menjadi ekspresi kaku.


" Ini obat kamu." Ucap Banny seraya menyodorkan obat itu.


" Makasih." Jawab Mona pelan lalu ia pun duduk percis di hadapan Banny.


Sejenak hening tak ada suara yang keluar dari mulut mereka mereka hanya terdiam menahan perasaanya masing-masing.


" Ini minumannya nak Banny,silahkan di minum ya !Nenek sengaja buatkan es teh manis saja biar segeran." Ucap sang nenek seraya membawakan segelas es teh manis kehadapan Banny.

__ADS_1


Banny hanya mengangguk kaku dan melirik kecil Mona.


Sang nenek membagikan tatapannya ke arah Mona dan Banny yang sedari tadi hanya terdiam dan saling membisu.


" Ya sudah nenek tinggal dulu ya !" Ucap sang nenek memahami lalu ia pun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Mona dan Banny yang masih terdiam,seolah-opah sang nenek paham akan situasi yang sedang di hadapi Mona dengan Banny.


Sejenak mereka hanya saling terdiam berusaha menenangkan perasaanya masing-masing tak mudah bagi seorang Mona untuk membuka obrolan setelah apa yang telah menimpanya antara dirinya dengan sang bosnya itu.


Raut wajah Banny sekilas terlihat gelisah ia ingin mengatkan sesuatu namun ia terlihat ragu untuk mengatakannya.


" Saya minta maaf atas kejadian di kantor tadi." Ucap Banny menatap lurus Mona.


Akhirnya terlepas juga kata maaf dari mulut Banny walau terdengar kaku dan berat.


Mona terdiam ia hanya menganggukan kepalanya entah kenapa mulutnya mendadak terkunci.


" Lupakan saja." Ujar lagi Banny seraya mengalihkan pandangannya ke segelas es teh yang berada di atas meja.


Sementara itu Mona hanya terdiam seraya terus meremas jari jemarinya dengan tak pasti.


" Oya,gimana badan kamu udah enakan ?" Tanya Banny mengalihkan pembicaraannya.


Walau terdengar sangat datar namun Banny berusaha menyembunyikan perasaan geroginya yang datang menyergap perasaanya.


" Udah mendingan." Jawab Mona singkat.


TOK TOK....


Suara pintu membuyarkan keheningan antara mereka berdua. Mona menoleh ke arah pintu yang di ketuk oleh seseorang,begitupun Banny ikut menoleh ke arah yag sama.


" Permisi !!" Sapa seseorang dengan cukup keras.


Dengan perasaan ragu ia pun segera menghampiri ke arah pintu itu dan dengan rasa penasaran Mona pun membuka pintu secara perlahan-lahan.


" Iyaa !" Sahut Mona setelah pintu terbuka.


" Zean !!" Pekik Mona cukup keras menatap Zeanu yang sedang berdiri,pekikan Mona cukup terdengar oleh Banny.


Banny mengangkat kepalanya lalu menyimak secara pasti ke arah luar.


" Ada Banny ya ?" Tanya Zeanu memelankan suaranya ia menoleh ke arah mobil Banny yang terparkir di halaman rumah Mona dan ia pun kembali melongo ke dalam ruangan.


" Ya.Ia membawakan obatku yang tertinggal." Ucap Mona dengan pelan.


" Gue bawakan ini buat lo," Ucap Zeanu seraya menyodorkan sekeranjang buah-buahan segar untuk Mona.

__ADS_1


" Makasih ya Zean.Lo mau masuk dulu ?" Ucap Mona menatap ragu Zeanu.


" Gak usah,yang penting gue udah mastiin kalau lo baik-baik saja." Ucap Zeanu dengan nada kecewa.Matanya masih melirik ke arah dalam rumah Mona.


" Kenapa lo gak masuk dulu Ban ?" Tiba-tiba Banny menyela lalu berdiri di samping Mona.


" Gak usah Ban,gue cuman mampir doank,dan gue cuman pastiin saja keadaan Mona baik-baik saja." Balas Zeanu dengan menatap tidak suka ke arah Banny yang sudah berhasil membuatnya cemburu.


Banny tidak menjawab ia hanya tersenyum kecut seraya membuang pandangannya.


" Zean,makasih ya udah repot-repot datang kesini." Ucap Mona menatap tak enak hati.


" Sama-sama Mon,gue sangat peduli akan kesehatan lo." Ucap Zeanu seraya mengalihkan pandangannya ke wajah Banny yang menatapnya lurus.


Banny mendengus entah kenapa batinnya merasa tidak suka atas perlakuan sahabatnya itu.


Mona sekilas melihat raut wajah Banny berubah kecut saat mendengar penuturan Zeanu.


" Ok.Gue pamit dulu Mon cepet sembuh ya.Dan salam buat nenek lo ya !" Ujar Zeanu seraya tersenyum lembut ke arah Mona.


Banny membuang wajahnya ketika Zeanu tersenyum lembut kepada Mona,ia merasakan senyuman Zeanu terhadap Mona mengandung penuh arti yang membuat ia merasa semakin tidak suka.


" Ban,gue cabut dulu." Pamit Zeanu tersenyum kaku.


Senyumannya seolah-olah tak iklas harus melihat Banny semakin dekat dengan Mona.


Mona hanya mengangguk seraya tersenyum lembut lalu di antarnya Zeanu dengan tatapanya hingga menuju luar.


Tak lama Zeanu segera menaiki kendaraan motornya lalu ia pun segera menjalankannya dengan tidak menoleh lagi ke arah Mona yang masih memandanginya dengan perasaan tak menentu.


" Eheemmm !!" Banny mendehem lalu ia pun melangkah keluar tanpa berbicara lagi.


Mona terperangah lalu di liatnya Banny sudah berada di depan pintu mobilnya dengan tidak berpamitan kepadanya,Mona hanya melongo heran melihat sikap Banny yang pergi dengan begitu saja.


Rupanya Banny merasakan panas api cemburu yang membakar dadanya ketika mengetahui akan sikap Zeanu yang begitu perhatian terhadap Mona dan ia pun berpikir keras,tidak menutup kemungkinan juga bila Zeanu benar-benar mencintai Mona.


Mona terlihat kebingungan sendiri harus berbicara apa, hanya saja angannya terlihat gamang ingin menahan langkah sang bosnya itu namun sayang,sang bos sudah masuk kedalam mobilnya dan melaju meninggalkan Mona yang tengah kebingungan atas sikapnya.


" Kok jadi serba salah gini sii ?" Tanyanya dengan kesal.


Ia sendiripun bingung harus berbuat apa atas kejadian hari ini yang telah menimpanya dan hal ini cukup menyita waktu dan pekerjaanya.


Mona menarik napas panjang dan menghela merasakan kerumitan yang kian menghadang permasalahan hidupnya cinta yang hadir dalam waktu bersaman antara Banny dan Zeanu membuat ia merasa semakin di lema.


Dulu ia tak pernah merasakan bahagianya jatuh cinta namun kali ini ia merasakan jatuh cinta sekaligus di duahati lelaki,dan hal itu baru saja di mulai Mona harus bisa menentukan pilihannya yang tepat agar di tak salah memilih.

__ADS_1


__ADS_2