
SETELAH acara meeting tersebut selesai gadis yang berada di samping pria tampan berwajah dingin tersebut dengan gesit merapihkan berkas-berkas penting yang sudah di gunakan pada acara meeting barusan.Sedangkan pria yang berada di sampingnya terlihat memasang raut wajah datar seraya memandangi layar ponselnya tersebut.
" Empat puluh lima menit lagi kita ada pertemuan pak." Ucap Gadis tersebut memecah kesunyian antara dirinya dengan sang atasan.
Pria yang di ajak bicara olehnya hanya mengangguk acuh.
" Dan pak Hendra sudah menyiapkan tempat acara pertemuan tersebut di lantai dua pak." Sela lagi gadis tersebut dengan suara kian pelan.
" Ok !" Jawabnya singkat pria itu dengan tetap acuh tanpa menoleh sedikit pun ke arah sekertarisnya itu.
Mona melirik heran ke arah pria yang berada di sampingnya tersebut,namun dengan cepat ia segera menepis perasaan anehnya tersebut,dan dia pun tak mau ambil pusing atas sikap diam bosnya tersebut. Karena bagi dirinya karakter seorang Banny itu memang sulit di tebak,selain itu sikap pria tersebut memang di rasa unik memiliki sikap terkadang,kadang menyebalkan dan kadang so misterius gitu.
Yaa....,Kadang lembut,kadang kasar,bahkan kadang susah di ajak bicara.
Pokonya tuh bos complicated deh,so !! sudah merasa tidak aneh lagi ataupun merasa sakit hati jika sikap keajaiban yang di miliki pria tampan tersebut sering muncul tiba-tiba.
Mona si gadis sederhana itu pun berniat akan keluar terlebih dahulu dari ruangan meeting tersebut dan tak lupa ia pun meraih ponselnya yang masih tergeletak di atas meja.
" Tunggu !" Sergah Banny dengan cepat setelah melihat sekertarisnya hendak pergi meninggalkannya.
Mona terdiam lalu menoleh ke arah pria yang menahan langkahnya.
" Iya pak ?" Ucapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
" Tadi kenapa kamu tidak mengantarkan kopi pesanan saya ? " Tanya Banny menajamkan tatapannya.
" Maksud bapak ?" Tanya Mona dengan mengernyitkan kedua alisnya dengan tak mengerti.
" Bukannya tadi saya sudah menyuruh lisa untuk mengantarkan kopi pesanannya bapak ?apa lisa tidak mengantarkannya ?" Tanya Mona menatap penuh keheranan sekaligus was-was jika Lisa lupa mengantarkan kopi bosnya tersebut.
" Saya tidak meminta lisa untuk membuatkan kopi,tapi saya menyuruh kamu untuk membuatnya." Ucap pria tersebut berbicara dengan penuh penekanan.
Tatapan gadis itu mengarah penuh ke arah wajah sang bosnya,rupa-rupanya ia baru paham dengan sikap diam bosnya tersebut yang sejak awal meeting tadi hingga selesai barusan.Bosnya tersebut tak mengajaknya bicara,dan ini lah rupanya penyebabnya karena dia mengabaikan perintahmya.
" Oh maafkan saya pak,saya tak sempat mengantar kan kopinya bapak tadi,soalnya tadi saya ada urusan sebentar,dari pada nanti sehabis meeting tidak terkejar,jadi saya pergi keluar sebentar dulu pak." Terang Mona tersenyum pasi.
" Oh !" Ucap pria tersebut singkat dengan wajah tanpa ekspresi.
" Lain kali jika saya menyuruh sesuatu pekerjaan tolong tuntaskan terlebih dahulu jangan memerintah orang lain untuk menggantikannya." Ucap Banny seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan terlebih dahulu.
Mona menarik napas panjang lalu membuangnya dengan perasaan sebal,ia pun hanya mampu melirikan kedua bola matanya ke atas dengan mulut berkomat-kamit tak karuan mengikuti gaya bicara bosnya tersebut.
Memiliki seorang bos dengan sikap yang lumayan ribet itu terkadang membuatnya harus lebih ekstra menghadapi segala sikap dan perbuatannya,dan ia pun hanya bisa mengelus dadanya dengan pasrah.
*************
Tok...Tok.....
Suara ketukan keras di pintu mengalihkan konsetrasinya pria tampan itu dari pandangan layar laptopnya.
" Masuk !" Ucapnya dari dalam ruangan dengan suara berat.
Seorang pria bersetelan jas hitam menyembul dari balik pintu tersebut dengan penuh hormat.
" Ada apa pak Hendra ?" Tanya Banny menatap lurus ke arah pria yang tengah berdiri di hadapannya.
" Tamunya sudah datang pak Banny,apa kita langsung suruh ke ruangan pertemuan,atau gimana pak ?" Tanya pak Hendara selaku Menjer perusahan tersebut memberi tahu atasannya atas kehadiran seorang tamu yang sudah tiba di kantor perusahaanya tersebut.
" Untuk sementara pak Hendra suruh saja mereka untuk menunggu saya di ruang tamu.Soalnya masih ada beberapa pekerjaan yang akan saya selesaikan terlebih dahulu." Ucap Banny dengan penuh wibawa.
" Baik pak!kalau begitu saya suruh sekertaris bapak untuk menemaninya gimana ?." Imbuh lagi pak Hendara menatap lurus sang Direktur.
Sesaat Banny menatap ragu sang Menejer tersebut setelah mengusulkan sekertarisnya untuk menemani sang tamu.
" Ada berapa orang tamunya ?" Tanya Banny mengakat tinggi kedua alisnya.
" Bertiga pak,yang satu pimpinan perusahannya dan yang dua orangnya lagi kemungkinan ajudannya." Terang pak Hendra pelan.
" Ok,nanti suruh mereka untuk menunggu saya,soalnya sekertaris saya lagi di suruh ke ruangan bu Silvi untuk mengambil laporan terbaru barang-barang yang masuk." Terang Banny tenang.
" Baik pak,kalau begitu saya pamit dulu sekalian mau mengantar tamu kita ke ruangan tunggu." Ucap pak Hendra berpamitan.
" Ok makasih pak hendra atas informasinya. !" Ucap Banny singkat.
Pak Hendra membungkuk lalu bergegas segera keluar dari ruangan sang Direkturnya tersebut.
Tak selang beberapa menit pintu ruangannya kembali di ketuk,pria tampan tersebut menoleh ke arah pintu dan kali ini sang sekertaris muncul di balik pintu itu dengan membawa sebuah dokumen penting.
" Ini pak hasil terkini laporan barang-barang yang masuk hari ini." Ucap Mona seraya menyodorkan map tersebut ke hadapan bosnya.
" Tolong kamu simpan di tempat arsip-arsip saya,nanti saya akan cek kembali.!" Titahnya dengan masih fokus ke layar laptopnya.
" Oya pak,barusan saya bertemu dengan pak Hendra dan beliau bilang tamunya sudah datang,apa sebaiknya saya langsung menemui mereka ?" Tanya Mona dengan menatap lurus pria tersebut yang masih fokus ke pekerjaannya.
Pria tersebut mendogkak lalu menatap tajam ke arah sekertarisnya tersebut.
" Tunggu sampai saya selesai mengerjakan pekerjaan ini." Balas pria tersebut menatap dingin.
" Baik pak" Ucap Mona dengan suara pelan.
Gadis tersebutpun segera menaruh map tersebut di tempat arsip.
Banny menoleh ke arah jam yang melingkar di tangan kekarnya,waktu sudah hampir jam sepuluh siang dan itu artinya pertemuan dengan kolega baruya tersebut akan segera di mulai.
Dengan meraih jas yang tersangkut di sandaran kursi pria tampan tersebut segera memasang jasnya di tubuh kekarnya lalu dengan gerak cepat ia pun mengoffkan terlebih dahulu laptopnya.
" Kita ke ruang pertemuan!" Ucap pria tersebut seraya bergegas berjalan menuju keluar ruangannya,gadis yang sedari menantinya hanya berjalan mengekor pria tersebut, mengikuti langkahnya tanpa berkomentar apapun.
__ADS_1
Setibanya di depan pintu lift ,Banny menekan tombol arah panah ke bawah,lalu mereka pun menunggu beberapa saat lift tiba di lantai lima. Suara dentingan lift terdengar nyaring dengan di susul pintu lift tersebut terbuka lebar,tanpa menunggu lama Banny beserta sang sekertarisnya itu segera memasuki kapsul lift tersebut tak membutuhkan waktu yang lama kapsul lift tersebut meluncur menunju ke lantai dua.
Selama di dalam lift mereka hanya saling terdiam tak saling bicara,hanya saja pria dingin berwajah tampan tersebut memilih menatap sekertarisnya itu melalui pantulan lift tersebut.
Pandangan gadis tersebut menyapu ke seluruh tubuh sang atasan yang berdiri tak jauh di hadapannya,dan tatapannya tertuju ke arah kerah jasnya yang terlipat belum rapih sehingga sedikit kurang enak di lihatnya.
Gadis tersebut menatap ragu,rasanya ia ingin memberi tahu jika kerah jasnya tersebut belum terpasang rapih,namun entah kenapa perasaannya tertahan untuk mengatakan hal itu.
Sesaat gadis itu masih terdiam mencoba mencari cara yang lain agar bisa memberi tahu penampilan bosnya tersebut kurang maksimal.
Mona si gadis manis itu menarik napas lalu akhirnya ia pun memberanikan diri untuk memberi tahu bosnya jika jasnya tersebut belum rapih.
" Pak maaf !hmm." Ucapannya menggantung.
Banny menoleh ke arah Mona dengan menatap heran.
" Ada apa ?" Tanya Banny dengan menyipitkan matanya.
" Maaf,sepertinya kerah jasnya bapak belum rapih." Ujar Mona pelan.
Akhirnya terlontar juga perkataan yang di tahannya sedari tadi itu.
Pria itu dengan cepat membentulkan kerah jas tersebut dengan sikap cuek,namun sekiranya ia tidak tahu percis akan letak ketidak rapihan kerah jasnya tersebut sehingga jas kerahnya itu masih terlihat kurang rapih.
Dan itu berhasil mengundang perasaan gemas sekertarisnya atas sikap bosnya tersebut yang masih belum pas membenarkan kerah jasnya tersebut.
Dengan repleks gadis itu pun ikut membetulkan kerah jasnya tersebut dengan sikap tak sabar,ia merasa jika kerah jas bosnya itu dirasa masih belum rapih sempurna.
Dengan sedikit terkejut pria tampan itu menoleh ke arah tangan gadis tersebut yang dengan lincahnya membenarkan kerah jasnya tersebut agar terlihat rapih sempurna,dan perhatian kecil ini berhasil membuat pria itu terkagum-kagum.
Tangan mungil gadis itu masih mengantung di bagian pundaknya tersebut, dengan berjinjit gadis itu pun berusaha membetulkan kerah jas itu.
Dengan cepat dan sengaja pria itu malah memutar badannya dan menghadap tepat ke arah gadis tersebut dan....
Taapp.....
Pandangan mereka pun saling bertemu dan mengunci satu sama lain tanpa bisa mereka hindari lagi.
Hal yang paling Mona hindari dengan bosnya itu adalah sikap saling bertatapan,namun hal itu justru terjadi,tatapannya dengan iris mata bosnya itu saling bertemu.
Mau tak mau membuat jantungnya kembali berdekup kencang memacu kecepatan adrenalinnya.
Satu hentakan napas lembut terlepas dari wajah pria tampan tersebut menyapu hangat wajah si gadis yang ada di hadapannya itu,sehingga membuat bibir mungil gadis tersebut terlihat bergetar menahan sesuatu.
Adengan itu kembali terjadi,tatapan mata sang elang pria tersebut semakin membuat gadis tersebut sulit untuk menolaknya dan kedua wajah mereka saling mendekat seperti ada daya tarikan magnet di dua kutub yang berbeda.
Namun.....
Tingg !!
Dentingan suara lift mengejutkan mereka yang tengah saling menahan sesuatu di dalam hatinya masing-masing
Layaknya pasangan kekasih yang sedang memadu kasih mereka yang menyaksikan hal itu paham betul dengan perasaan pasangan yang baru tunangan tersebut,Adengan itu tak ubahnya seperti halnya seorang romeo and juliet yang sedang beradegan romantis.
Salah satu staff memberanikan diri berdecap kagum ke arah mereka dengan berseloroh polos.
" Yaa Ampun,sepertinya dunia ini hanya milik berdua saja, yang lain mah ngontrakk saja." Seloroh staf wanita itu polos seraya menatap kagum ke arah atasannya dan sekertarisnya tersebut.
Pemandangan yang langka memang bagi mereka yang sudah sekian lama bekerja di perusahaan tersebut bisa melihat sang atasannya beradegan mesra dengan seorang wanita.
Jangkan beradegan mesra,berjalan beriringan dengan seorang perempuan pun mereka nyaris tak pernah melihatnya selama pria tampan tersebut menjabat menjadi seorang Direktur di perusaahan tempat mereka bekerja.
Dan merekalah saksi hidup kesendirian dari seorang Banny Pratama Wiguna.dan mereka pun belum pernah melihat pria tampan tersebut beradegan mesra seperti apa yang di lihatnya sekarang ini.
Mereka menatap dengan berbagai perasaan ke arah bosnya tersebut dan selanjutnya mereka pun saling berbisik heboh dengan ekpresi sulit di artikan.
Banny berdehem cukup keras lalu ia pun segera keluar dari lift tersebut dengan penuh wibawa tanpa merespon sikap para staffnya yang masih larut dalam kehebohannya masing-masing.Sementara gadis tersebut raut wajah berubah memerah saat beberapa staff menatapnya dengan berbagai tatapan.
Mona dengan cepat mengikuti langkah bosnya yang keluar dari lift dengan kepala tertunduk,rasanya ia tak mampu mengangkat tinggi kepalanya dan memperlihatkan rona wajahnya yang terasa memerah menahan malu.
Seorang gadis seusianya melirik penuh arti ke arah dirinya Mona memberanikan menoleh ke arah wanita tersebut.
Karena ia paham akan lirikan wanita tersebut penuh rasa iri.Mona pun hanya bisa mengedikkan bahunya sembari melanjutkan langkahanya dengan berusaha untuk lebih tenang.
Gadis tersebut setengah berlari mengejar langkah cepat bosnya tersebut, membiarkan para staff yang melihatnya beropini lain tengang dirinya.
Lalu pria tampan berjas hitam dengan garis wajah tegas, dingin dan datar itu berjalan dengan penuh wibawa,anak dari pemilik PT Tirta logistik tersebut berjalan menuju ruangan yang berada tepat di ujung lorong.
Tak berapa lama pria itu berdiri di hadapan pintu kaca yang tinggi dan cukup besar yang bertuliskan ruangan pertemuan.
Banny menarik handle di hadapannya sehingga pintu tersebut bergerak terbuka secara otoatis.Ia kembali melanjutkan langkahnya dan tersenyum ke arah beberapa orang yanh sedang duduk menantinya.
Pak Hendra selaku Menejer perusahaan tersebut sedari tadi sudah menemani koleganya,lalu ia pun berdiri dari duduknya guna menyambut kedatangan Direktur utama di perusahaan tersebut dengan penuh rasa hormat.
" Pak Banny silahkan pak !kita semua sudah menunggu bapak sedari tadi." Ucap pak Hendra menatap penuh rasa hormat.
" Iya maaf pak Hendra, saya sedikit terlambat." Balas Banny tersenyum tipis.
Seorang pria dengan perawakan tak jauh berbeda dengan dirinya terbagun dari duduknya dan berdiri tegak menatap dirinya.
" Selamat siang pak Banny !" Sapa seorang pria berbadan tegap itu menyapanya dengan raut wajah semeringah.
Bola mata Banny bergeser ke arah pria tersebut lalu bibirnya tergerak untuk tersenyum.
" Oh siang pak." Banny menganggukkan kepalanya.
" Ini dengan pak Wira.....??" Ujarnya dengan pelan bertanya ke arah pria muda yang usianya tak jauh darinya.
__ADS_1
" Saya Angkasa pak, putra dari pak Wirahantosa.Pemilik PT Angkasa tiga raksa yang akan berinvestasi di perusahaannya bapak ini." Jelas pria tersebut memperkenalkan dirinya dengan tersenyum hangat.Lalu pria tersebut pun menyodorkan tanganya untuk mengajak bersalaman.
Mona tercekat kaget saat mendengar pria tersebut menyebut sebuah nama yang tak asing lagi di pendengaran nya itu,lalu ia pun bergeser dari tempat dimana ia berdiri dan menyimak pasti ke arah wajah pria tersebut.
Dan benar saja ia mengenali wajah pria tersebut.
" Angkasa." Guman gadis tersebut dengan pelan dan tatapanya masih tertuju ke arah pria yang berada di hadapan bosnya tersebut.
" Ohh,selamat datang pak Angkasa di perusahaan saya,silahkan duduk kembali pak Angkasa." Balas Banny menerima uluran tangan pria tersebut untuk bersalaman.
" Terimakasih." Balas pria tersebut dengan penuh hormat,lalu mata pria tersebut menggeser pelan ke arah wanita yang berada di belakang sang Direktur tersebut.
Sesaat raut wajah pria itu menyeringah kaget ke arah gadis tersebut dan ekspresi wajahnya menatap penuh pertanyaan.
Banny yang paham akan tatapan pria tersebut segera berkata kembali untuk memperkenalkan sekertarisnya tersebut.
" Ini Mona,sekertaris saya." Ucap dengan langsung memperkenalkan sekertarisnya tanpa harus di minta.
Pria tersebut tersenyum seraya menganggukan kepalanya ke arah Mona,lalu di balas hal yang sama oleh gadis tersebut dengan ramah.
Banny melirik ke arah sikap pria tersebut yang tersenyum hangat ke arah sekertarisnya tersebut,entah kenapa ia merasa mempunyai feelling jika pria yang akan berkerja sama dengannya itu sedikit menunjukan sikap yang berbeda terhadap sekertarisnya itu.
" Silahkan duduk pak Angkasa." Ucap Banny,kembali memepersilahkan Angkasa untuk duduk dengan penuh penekanan setelah melihat pria tersebut masih menatap Mona dengan tatapan yang berhasil mengusik perhatiaanya.Banny sekilas melihat raut wajah sekertarisnya itu tersipu saat pria itu memberinya senyuman yang manis,dengan bersamaan pria tampan berwajah dingin tersebut melengos tanpa ekspresi.
Lalu pria tersebut beserta tamu yang lainnya duduk kembali di hadapan meja besar tersebut dan Banny pun berjalan menuju kursi Utamanya.
Mona yang sedari berjalan di belakang sang bos masih menatap tak percaya ke arah Angkasa yang tiba-tiba saja hadir di kantornya tersebut,perlahan ia pun ikut duduk tak jauh dari bosnya tersebut.
Apakah ini sebuah kebetulan saja ?
ataukah takdir?
bisa di pertemukan kembali dengan seorang pria yang sudah menolong dirinya di minimarket semalam tadi. gadis itu pun menggeleng pelan dengan berbagai perasaan berkecambuk di benaknya.
" Sebelumnya saya minta maaf atas ketidak nyamananya yang sudah menunggu lama saya.Soalnya tadi saya ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan terlebih dahulu." Ucap Banny dengan penuh wibawa.
" Tidak masalah pak Banny,santai saja lagian saya juga tidak terburu-buru pak." Balas Angkasa tersenyum hangat.
" Terimakasih atas pengertiannya pak Angkasa." Balas Banny dengan tersenyum.
" Sama-sama pak Banny." Jawabnya singkat.
" Oya Pak Angkasa maaf,bukankah sebelumnya pak Wira yang menghubungi saya via email jika perusahaan beliau akan berinvestasi di perusahaan saya,apakah itu benar ?." Tanya Banny setelah duduk dengan sikap sempurna di kursinya.
" Iya pak Banny,itu benar.Setadinya Ayah saya yang akan menghadiri pertemuan ini,tapi sehubungan kondisi beliau sedikit terganggu jadi saya perwakilannya." Jelas Angkasa dengan tersenyum ramah.
" Oh begitu,ya semoga saja beliau lekas sembuh." Ucap Banny dengan wajah tenang.
" Terimakasih banyak pak Banny atas do'anya." Balasnya dengan mengangguk pelan.
" Ayah saya memiliki tiga perusaan inti di ibu kota ini,dan kebetulan cabang perusahan nya saya yang pegang,jadi saya ikut andil dalam kesepakatan untuk berinvestasi di perusahaan pak Banny." Imbuh pria berwajah karismatik tinggi itu menambahkan.
Banny manggut-manggut,ia paham dengan apa yang di jelaskan oleh Angkasa.
Setelah cukup berbasa-basi pria berstelan jas abu-abu tersebut pun memulai pembicaraanya atas tujuan kedatangan dirinya ke perusahaan PT Tirta logistic tiada lain untuk mengadakan investasi,dan tentu saja dengan tangan terbuka Banny sebagai pemilik perusahaan tersebut menerima penawaran tersebut.Selaku Direktur utama di perusahaan tersebut Banny menyambut hangat itikad baik sang koleganya tersebut.
Satu jam sudah berlalu pertemuan itu pun berlangsung dengan lancar dan membuahkan hasil yang memuaskan, bagi seorang Banny bisa mendapatkan seorang investor yang akan berinvestasi di perusahaannya tersebut merupakan kebanggaan tersendiri,atas kepercayaanya perusahan sekelas PT Tiga raksa akan berinvestasi di perusahaannya tersebut.Benar-benar kesempatan yang tak akan datang dua kali terhadapnya.
Pria stelan jas abu-abu tua itu melangkah keluar dari ruangan pertemuan tersebut dengan di ikuti dua orang ajudan yang mendampingi di sampingnya.
" Pak Angkasa !" Panggil Mona dengan suara cukup keras.
Pria tinggi tegap itu menoleh dan menyambutnya dengan tersenyum."
" Hei,ya kenapa ?" Tanya Angkasa menatap Mona yang berjalan menghampirinya.
" Mohon pak ganggu sebentar." Ucap Mona dengan terlihat semeringah.
" Kebetulan sekali kita bertemu disini dan saya hanya mau menyampaikan bahwa tadi saya sudah transfer ke nomor rekeningnya bapak.Dan saya tadi juga sudah mengirim pesan singkat ke nomor Wa-nya bapak." Jelas Mona dengan menatap ragu namun ia mencoba memberanikan diri di tengah-tengah perasaannya yang terlihat grogi.
"Oya ?,maaf saya belum sempet mengecek Wa nya." Balas pria tersebut dengan wajah berseri-seri.
" Hmmm...,nanti di cek saja ya pak,dan saya ucapkan terimakasih banyak atas pertolongannya kemarin malam." Ucap Mona dengan membungkuk penuh hormat dan masih terlihat grogi.
" Yaa sama-sama.Oya tadi nama kamu siapa?" Tanya pria tersebut menyipitkan matanya ke arah Mona.
" Saya Mona pak !" Jawab Mona mengangguk penuh hormat.
" Panggil saja aku Angkasa." Sela Angkasa tersenyum hangat.
" Tapi pak,....." Sergah Mona dengan menatap ragu.
" Biar lebih akrab saja." Tungkas Angkasa tersenyum simpul.
" Tapi bapak ini kan Mitra bisnisnya pak Banny,jadi tidak mungkin saya lancang memanggil bapak dengan sebutan nama saja." Terang Mona dengan tersenyum canggung dan senyumannya itu memperlihatkan kedua lesung pipinya yang manis.
Pria tersebut menatap lurus ke arah gadis yang ada di hadapannya itu dengan berbagai perasaan.
Meski tak cantik akan faras wajahnya namun wanita tersebut mampu membuatnya merasa simpatik,dan entah kenapa di mata pria berbadan tegap itu faras wanita tersebut enak untuk di pandang sehingga tidak membosankan.
Tepat di saat bersamaan Banny melangkah keluar dari ruangan pertemuan tersebut,tiba-tiba ia tercekat menahan langkah kakinya saat melihat sekertarisnya tersebut sedang berbicara akrab dengan pria yang baru saja menjalin kerja sama sengan dirinya tersebut,ia pun perlahan menatapnya dari kejauhan memperhatikannya dengan berbagai perasaan yang mulai berkecambuk di benaknya.
Kenapa Mona begitu akrab dengan pria tersebut?
Ada apa dengan mereka?
apakah mereka saling mengenal ?
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalanya.
Dan tatapannya semakin menajam saat melihat Mona tersenyum penuh ekspresi ke arah pria tersebut.