
MONA menatap sepi memandang langit tak berbintang,hanya ada gumpalan awan yang mulai berarak menjauh memudar menghiasi malam yang kelam.
Banyak yang sedang di pikirkan gadis itu tentang sebuah perasaan yang kini mengganggu pikirannya.
Entah kenapa pikirannya melayang jauh ke sosok seseorang pria yang baru saja ia kenal namun begitu mudahnya mengungkapkan isi hatinya.
Tidak,tepatnya Angkasa bukanlah pria yang baru di kenalinya,melainkan pria ini sosoknya selalu di bahas dan di perkenalkan oleh sang nenek namun itu tidak secara langsung.
Yaa sang nenek selalu mengatakan jika cucu dari temannya itu adalah pria yang pas untuk kriterianya.Kenapa waktu itu ia abai akan hal ini?
Kenapa ia malah memilih untuk mencari pendamping hidup melalui jalannya.Dan justru kini ia tejebak dalam sebuah perjodohan sandiwara.
Mona menghela napas dengan berat menatap kian jauh ke langit sana yang mulai terlihat pekat tak ada lagi awan putih bergumpalan lenyap sudah tertiup angin lalu,seolah mengerti bagaimana perasaannya untuk saat ini.
Gadis itu berdiri dengan pandangan kosong bersandar di jendela kamarnya,ia tidak tahu harus berbuat apa,kenapa seolah-olah semua fakta selalu membawanya ke perasaan dilema.
Pikirannya kian bercabang ke hal yang menjadi pusat pikirannya,dan pikiran itu tertuju pada sosok pria berkarismatik,rasanya hal itu justru mendominasi sebagian otak besarnya saat ini,baginya mudah saja untuk berpaling dari sosok seorang Banny tapi...,
Lalu bagaimana dengan balas budinya selama ini terhadap seorang Wiguna yang telah begitu banyak menolong dirinya dalam kondisi yang sulit dan sebagaimana nya dengan tangan terbuka serta hati yang tulus pria bijaksana itu menolongnya tanpa memandang siapa dirinya dan selama itu pula kebaikan hatinya menjadi modal hidupnya di kala ia benar-benar dalam terpuruk.
Yaa sang Ayah Banny lah yang berperan pentingnya dalam kehidupan di masa-masa yang sulit dahulu.
Sehingga untuk menolak permintaanya pun rasanya gadis itu merasa tak berdaya.
Jadi apa salahnya jika kali ini pria itu meminta nya untuk menjadi seorang menantunya ?
meski memang orang yang akan di jadikan suaminya itu entah mencintai nya atau tidak.
Dilema kian menjadi-jadi dalam benak gadis tersebut,di satu sisi ia mulai tertarik dengan kepribadian nya sosok seorang Angkasa yang begitu mudah mengambil simpatiknya dengan sikap gantelman dan perlakuannya yang sederhana serta merta membuat nya merasa nyaman,kriteria itu tak jauh dengan kriteria seorang Zeanu.Meski perasaan itu tak luput begitu saja namun ia yakin jika kenyamanan itu tak bisa tergantikan.
Mona menghela kembali merasakan kian panjang sesak di dadanya,entahlah rasanya ia perlu sesuatu untuk menenangkan perasaan yang kian rumit.
" Apa yang sedang kamu pikirkan sayang ?" Tanya suara lembut wanita paruh baya itu berhasil membuat gadis itu terhenyak lalu menoleh dengan perasaan gugup.
" Nenek mengagetkan saja !tidak nek tak ada yang Mona pikirkan." Ucapnya dengan tersenyum kecut.
" Nenek tahu,kamu sedang memikirkan sesuatu." Ucap Wiranti sang nenek gadis itu berusaha menelisik.
Mona lagi-lagi hanya bisa terdiam dan menatap dalam perempuan yang selalu menaui perasaanya.
" Kamu tidak bisa membohongi nenek !" Imbuhnya kembali.
Mona terdiam lalu kembali menatap langit yang semakin pekat.
" Jika waktu bisa di putar kembali,Mona ingin kembali ke masa kecil Mona,dan Mona ingin membuat Mama beserta Ayah bisa kembali bersatu,agar Mona tidak mengalami hidup sepahit itu dan harus menerima dan membalas baik budi orang lain." Ucapnya dengan lirih.
Wiranti,sang nenek menanap sendu begitu dalam perasaan yang sedang di rasakan oleh cucu ini terhadap permasalahan yang sedang terjadi.
" Mona memang mencintai pak Banny,tapi ternyata ada yang lebih mencintai Mona nek dan itu Angkasa,pria yang akan di jodohkan nenek terhadap Mona." Ucapnya dengan tertunduk.
" Apakah nak Angkasa ada mengatakan perasaanya kepada mu Mona ?" Tanya sang nenek dengan begitu lembut.
Mona mengangguk pelan dengan raut wajah kian tertekan.
" Kamu jangan bersedih Mona,jika memang Angkasa adalah takdirmu maka TUHAN akan menuntunmu ke perasaan itu,nenek tahu kenyataan ini tak mudah untuk kamu lalui,setelah tiga puluh hari menikah kamu akan berpisah kembali dengan nak Banny,maka nenek sarankan jika memang Angkasa mau menunggu mu selama itu maka kamu tak perlu sedih akan perpisahan ini,semua sudah ada jalannya sayang." Ucap sang nenek menatap lembut.
Mona terdiam mencoba mempertimbangkan apa yang di sarankan oleh neneknya tersebut.
" Meskipun Mona harus menyandang sebuah nama yang tak pernah Mona inginkan." Tanya Mona menatap dengan perasaan getir.
" Untuk saat ini lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan,percayalah jika perasaan seseorang itu tidak ada yang tahu akan seperti apa." Ujar sang nenek menatap lembut mencoba menyakinkan perasaan cucunya yang kian dilema.
" Mona sayang,ikutin kata hatimu,dan berdoalah agar kamu di dekatkan dengan apa yang kamu inginkan.Ya sayang." Ucap sang nenek dengan penuh kasih sayang.
" Baiklah nek,Mona sudah bingung apa yang harus Mona lakukan,mulai sekarang Mona akan melakukan apa yang nenek katakan.Mona tahu semua ini kesalahan Mona yang tak mau mendengar perkataan nenek." Ucap Gadis itu kian dalam tatapannya.
" Tidak,jangan menyalahkan dirimu sendiri,nenek yakin di balik masalah ini pasti akan ada hikmahnya.ALLAH itu tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya." Lagi-lagi sang nenek memberinya motifasi untuk tetap optimis.
Mona mengangguk merasakan begitu besarnya kasih sayang wanita separuh baya ini terhadap dirinya.
" Nek,makasih banyak,nenek dari dulu hingga sekarang selalu sayang sama Mona." Ucap gadis itu dengan menatap nanar.
" Itu kewajiban nenek untuk menyayangi kamu sebagai cucuk nenek." Balas Wiranti sang nenek yang paling bijaksana itu menrangkul hangat pundak cucu terkasihnya.
" Beruntung sekali Mona mempunyai nenek seperti nenek ini,walau kenyataannya sikap mama sangat berbeda jauh dengan nenek." Ujar Mona menatap sendu.
" Nenek akan tetap menjadi nenek sekaligus mama kamu,tapi bukan berarti kamu harus melupakan mama kamu,karena setidaknya tak ada kamu jika mama mu tak ada." Terang sang nenek menatap bijak.
Mona tersenyum tipis,alangkah berhati emas perempuan terkasihnya ini yang selalu memberinya ke baikan yang tak terhingga dan sosok perempuan ini benar-benar berhati malaikat yang tak pernah membuat cucunya bersedih.
Dan gadis itu semakin yakin jika alasan sang nenek menjodohkan dirinya karena terlalu sayang kepada dirinya hingga mencarikan sosok pria yang paling pantas untuk dirinya,namun sayang kadang saja kebaikan itu selalu di anggap buruk oleh dirinya,dengan berpikir negatif terlebih dahulu.
" Nek,maaf kan Mona ya,waktu itu Mona menolak akan perjodohan ini,nyatanya nenek akan menjodohkan Mona kepada laki-laki yang benar-benar kriteria Mona." Ucap nya dengan sorot mata yang penuh sesal.
" Kamu tidak usah meminta maaf,nenek negrtiin perasaan kamu,nenek sadar jika di jodohkan itu akan membuat mu tak nyaman,tapi ya sudahlah semua ini adalah takdir." Jelas sang nenek menatap dengan seksama kepada sang cucunya.
Mona hanya bisa tersenyum getir merasakan penyesalan itu kian merongrong perasaanya.
__ADS_1
" Iya nek,dan Mona juga yakin jika Mona menuruti ke inginannya pak Wiguna itu adalah sebagian kecil takdir Mona untuk membalas ke baikan beliau,walaupun Mona harus mengorbankan perasaan Mona untuknya,dan Mona berharap jika Takdir ini akan mengubah perasaan nya pak Banny terhadap Mona." Jelas Mona dengan tertunduk.
" Kamu sangat berharap Banny akan mencintai kamu dengan tulus ?" Tanya sang nenek menatap lurus.
Mona terdiam semakin tertunduk dalam,tak bisa di pungkiri jika hatinya memang sudah terpaut jauh akan sosok pria angkuh itu,meski sering bersikap menyakitkan dirinya namun entah kenapa ia merasa susah untuk melepaskan rasa itu.
" Mona," Panggil sang nenek dengan lembut.
Mona mendongkak lalu menatap dengan ragu merasakan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi.
" Mona,jika kamu mencintai Banny,lalu Angkasa ?jangan kamu buat dia hanya sebagai pelariann saja."
" Entah lah nek,itu yang Mona pikirkan saat ini.Mona bisa saja menikah dengan Pak Banny lalu bercerai setelah itu Angkasa akan bersedia menunggu hingga waktunya,tapi Mona rasa perasaan Mona hanya......," Ucapan gadis itu terhenti meraskaan kian bersalah atas perasaanya tersebut.
" Hanya mencintai nak Banny ?" Sang nenek menyela dan menatap dalam wajah sang cucu,yang kian dalam mencintai seorag Banny.
" Cintailah orang yang benar-benar mencintaimu,bukan yang benar-benar di cintai kamu." Ucap sang nenek.
Jleb......
Ada perasaan yang terdalam di balik ucapan sang nenek itu dan entah kenapa pernyataan terasa menohok perasaanya jika benar adanya selama ini ia begitu dalam menaruh perasaan terhadap orang yang tak pernah mencintainya.Mona terdiam hanya tersenyum getir menatap dalam sang nenek.
*************
" Mon,gimana persiapan pernikahan elo ?" Tanya Amel memecahkan kesunyian.
Mona melirik kecil dengan perasaan enggan saat sahabatnya bertanya mengenai pernikahannya tersebut.
" Jangan tanya gue,pak Banny yang urus semua." Balas Mona dengan tak berselera.
" Loh memangnya elo gak di ikut sertakan dalam persiapan itu ?" Tanya Amel seraya menikmati santapan siangnya.
" Gue hanya di suruh milih gaunnya doang,dan untuk yang lain pak Banny urus semua." Jelas Mona dengan acuh.
" Lagian ini cuman pernikahan settingan doang kok,kenapa pula si Mona harus ikut repot-repot segala.Ini bukan moment yang indah buat dia." Sela Tamara menimpali dengan mengaduk perlahan kuah basonya dengan begitu berselera.
" Elo gak suka ya jika Mona menikah dengan pak Banny ?" Tanya Amel menatap serius Tamara.
" Gue ?" Ucap Tamara seraya menunjuk dirinya.
" Emang gue naya siapa lagi Tamara annatasya.?" Balas Amel dengan terlihat menahan jengkel.
" Yaa kalau gue,Mona menikah dengan siapa pun fine-fine aja,cuman jika hanya settingan kaya gini,jujur gue ngerasa keberatan Mel." Jelas Tamara menatap lurus Amel yang mulai memasang wajahnya jutek.
" Tapi gue yakin jika pak Banny itu udah mulai suka Tam ama Mona,dan gue juga yakin jika perceraian itu tidak akan terjadi." Ujar Amel dengan menatap penuh ke arah kedua sahabatnya.
" Lo tahu dari mana?lo gak usah so-soan ngeluarin insting elo itu deh,udah jelas pak Banny itu udah mulai main hati dengan anak baru itu, siapa tuh Mon namanya tuh cewek? " Tanya Tamara menoleh Mona.
" Arnetta ? " Jawab Mona singkat.
" Nahh itu !perempuan cantik itu jelas lah akan menarik perhatian nya tuh bos." Ujar Tamara tak mau kalah dengan penuh ke yakinan.
" Heh elo tahu dari mana juga? jika bos gue tertarik dengan cewek so cantik itu ?" Tanya Amel mulai gusar.
" Emang lo gak kihat apa? jika mereka sering berangkat and pulang bersama,kalau tidak ada apa-apa gak mungkin mereka barengan gitu." Jelas Tamara.
" Ahh elo so tahu,kan gue bilang mereka cuman ke betulan aja Tam." Amel menyela.
" kebetulan kok bisa se arah begitu yah,gue curiga tuh boskul kalau berangkat kerja muter-muter gitu kali yaa cari penumpang juga kaya angkot." Ucap Tamara seraya menggeleng-geleng.
" Udah deh,kalian berdua stop ribut." Ucap Mona seraya menutup kedua telinganya.
Kedua sahabat Mona saling menghela dan menatap Mona secara bersamaan,namun sesaat kemudian mereka saling melengos.
" Opini kalian bikin tambah gue bingung." Ucap Mona dengan terlihat stress.
" Mon insting gue kuat jika boskul itu sayang sama elo." Ucap Amel tandas intonasinya penuh penekanan.
" Kemaren bilangnya gak bisa memprediksikan hal itu,sekarang so-soan so tahu boskul sayang Mona,herman syah gue ama elo." Sela Tamara menatap frustasi ke arah salah satu sahabatnya.
" Tam insting gue kali ini kuat." Sergah Amel tetap pada pendiriannya.
" Makan tuh insting !" Cetus Tamara melirik jutek.
" Angkasa menyatakan perasaan nya sama gue." Ucap Mona menyela di tengah-tengah perdebatan kedua sahabatnya dan menatap penuh kedua sahabatnya itu.
Sontak hal itu membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main dan menoleh secara bersaman ke arah Mona.
" What ??? Pekik Amel dengan,matanya yang belo membulat sempurna.
Begitu pun Tamara menatap hal yang sama.
" Bengek gue kalau begini." Tamara menyela dengan wajah terlihat frustasi.
" Serius Mon ,tuh cowok ada nembak elo,kok bisa ?kapan itu Mon ?" Tanya Amel memberondong sahabatnya itu dengan berbagai pertanyaan.
" Lo nanya kaya hansip yang sedang ngeintrogasi maling aja sih Mel." Ucap Tamara menatap keki.
__ADS_1
Amel sesaat mendilak ke arah Tamara dengan perasaan sebal.
" Gue heran aja Mel,soalnya gue ngerasa seolah-olah Angkasa tahu jika pernikahan gue ini hanyalah fiktif belaka,Mel." Ucap Mona menatap dengan bimbang.
" Maksud elo ?? " Tanya Amel seraya menyudahi makannya.
" Jadi si langit biru itu tahu jika pernikahan elo itu cuman settingan doang,maka dari itu ia nembak elo ?" Terang Tamara dengan antusias menimpali dan sementara Amel menatap gemas ke arah gadis bertubuh jangkis tersebut yang mulai terlihat ribet di matanya.
" Sepertinya begitu,tapi jika ia mengetahui akan hal ini,lalu dia tau dari mana akan hal ini,gue aja kenal belum lama dama dia." Mona membagikan pandanganya dengan sorot mata penuh pertanyaan.
Amel mengangkat tinggi bahunya dengan ekpsresi wajah datar.
" Yess !! itu artinya si langit biru itu berkesempatan mengambil alih perasaan elo." Kembali Tamara menimpali.
" Angkasa Tamara." Sela Mona melirikan bola matanya ke atas hingga berputar.
" Heem,bintang kecil kali di langit yang biru." Amel mendecih dengan melirik sinis ke arah Tamara.
Tamara melengos dengan raut wajah mulai merengut atas candaan sahabatnya itu.
" Gue heran aja dengan sikapnya Angkasa itu,bisa-bisa nya dia nyatain perasaannya terus ia akan menanti jawaban dari gue hingga waktunya tiba.Maksudnya apa coba ? ,kalian bisa bayangin kan tiba-tiba tuh cowok nembak gue secara langsung gitu." Ucap Mona menatap bingung kedua sahabatnya.
Kedua sahabat Mona saling berpandangan satu sama lain.
" Waktunya tiba hingga azan magrib ?" Ucap Amel dengan penuh cemooh.
" Gue rasa dia menunggu janda lo.Kira-kira begitu. ?" Ucap Tamara menegaskan.
Amel melirik tajam ia merasa keberatan jika Angkasa melakukan hal itu kepada Mona.
" Gue rasa tuh cowok terlalu berharap banyak sama elo,udah jelas lo akan nikah kenapa dia nembak elo?" Tanya Amel menatap gusar.
" Itu yang di namakan cinta Mel,to the point.Sekarang jika pernikahan ini hanya settingan gak ada salahnya jika Mona menerima cinta lain,itu artinya Mona masih bisa berkesempatan bahagia walau bukan dengan boskul." Ucap Tamara kembali menegaskan dengan bersemangat.
Amel terdiam menatap dengan berbagai perasaan ke arah sahabatnya itu yang terkadang bisa membuat nya tertawa lucu terkadang membuatnya jengkel setengah mati.Namun kali ini apa yang di katakan gadis bertubuh jangkis itu benar,jika Mona sahabatnya itu berhak untuk bahagia,meksi bukan dengan pria tampan itu.
" Elo benar Tam,dan sekarang terserah elo aja Mon." Ucap Amel melembut.Menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi itu dengan pasrah.
" Bantu gue Mel buat solusi permasalahan ini ?" Ucap Mona dengan wajah dilema.
" Lalu perasaan elo gimana ?" Tanya Amel menatap resah.
Mona membisu jika harus di tanya tentang sebuah perasaan nya,dan hal itu selalu menyebabkan hati dan pikirannya seketika buntu.
" Gue tahu perasaan lo ke siapa ?" Amel menambahkan dengan menebak pasti akan perasaan sahabatnya itu.
" Kasih kesempatan Mona buat mikir Mel." Tamara kembali menyela dengan menatap cemas sahabatnya itu.
" Lo pikir ini lagi ujian akhir nasional di kasih kesempatan buat mikir." Ucap Amel melengos dan .....
Tap......
Pandangannya terbentur ke sebuah kursi yang terlihat ada bosnya bersama perempuan yang tak asing lagi baginya.Matanya yang bulat menyipit mencoba menyelidiki dengan jelas keberadaan bosnya tersebut.
Dan benar saja jika itu adalah bosnya yang bersama Arnetta perempuan yang di curigai oleh Tamara yang tengah dekat dengan bosnya tersebut.
Entah kenapa perasaanya berbalik kembali terhadap pria tampan itu,jika awalnya ia sangat mendukung pernikahan nya itu tapi sepertinya kali ini keputusan nya berubah,dan ia mengakui jika selama ini sudah salah persepsi jika bosnya tersebut ada persaan terhadap sahabatnya itu,kenyataan nya tidak sama sekali.Dan hal itu membuatnya menyesal telah menyakinkan perasaan sahabatnya tentang pria tampan itu.
Mona menghembuskan napasnya dengan kasar.
" Ok,gimana kalau gue saranin elo ikutin permainan bos kita ini,lalu setelah pernikahan itu usai lo bisa berbahagia dengan cowok si langit biru itu." Ucap Amel menoleh Mona yang masih menatap kosong dengan raut wajah semakin di lema.
Kali ini Mona dan Tamara yang di buat shok atas pernyataan sahabatnya itu yang secara tiba-tiba berputar balik hingga 180 derajat.
" Lo kenapa sih Mel,sawan kali ya,baru beberapa menit elo mempertahankan perasaan tuh bos kebanggan lo,sekarang kok malah menyuruh si Mona berpaling dari boskul,elo baik-baik aja kan?" Tanya Tamara terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat perubahan sikap sahabatnya itu.
" Gue rasa sebal juga harus melihat perempuan so cantik itu dekat-dekat terus dengan boskul,udah gitu tuh bos lama-lama nyebelin juga yah,bikin perasaan cemburu gue mewakili perasaan elo Mona." Ucap Amel seraya menunjuk ke salah satu meja yang terdapat bosnya bersama Arnetta tengah duduk berdua menikmati makan siang berdua.
Dengan bersamaan Mona dan Tamara menoleh ke arah pandangan yang di tuju oleh Amel.
Dan sontak Tamara terhenyak dengan ekspresi lebaynya seolah-olah ia mendapati seorang kekasih dengan selingkuhannya.
Dan itu berhasil membuat Mona terlihat speechles dengan menatap kaku ke arah bosnya tersebut yang tengah asik berbincang-bincang akrab dengan Arnetta,dan entah kenapa perasaan nya semakin yakin jika di antara mereka ada hubungan yang spesial.
" Tuh kan mata elo baru terbuka." Ucap Tamara menatap puas.kali ini ia merasa menang.
" Kali ini Insting gue benar,jika mereka ada something spesial." Ucap Tamara menambahi kembali.
Amel melirik keki ke arah gadis jangkis itu dengan salah satu alisnya naik tinggi.
" No coment." Ucapnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah Mona yang masih terdiam.
Pandangan gadis itu tak bisa di alihkan menatap panjang kearah ke beradaan bosnya itu dengan perasaan cemburunya yang sulit di sembunyikan lagi,ya dirinya cemburu terhadap perempuan itu yang begitu mudahnya mendapat tempat spesial di hati pria tampan itu,meski ia hanya bersandiwara, tapi kenyataanya memang berat rasanya jika ia harus melihat bosnya tersebut dekat dengan perempuan lain.
" Gue yakin badai ini akan segera berlalu,makanya TUHAN menghadirkan seorang Angaksa buat elo." Ucap Tamara dengan sok puitis.
" So puitis banget hidup elo Tam." Ucap Amel dengan membuang muka.Tamara hanya tersenyum dengan penuh kemenangan jika insting seorang Amel tak berlaku lagi untuk saat ini.
__ADS_1