
JAM makan siang baru di mulai,Mona duduk di hadapan kedua sahabatnya dengan memasang raut wajah penuh beban.
Dengan sendok masih di mainkan di atas piringnya mendengarkan percakapan sekumpulan perempuan yang lagi antusias menceritakan kejadian di meeting tadi.
Betapa tidak seorang Direktur utama perusahan tempat mereka bekerja begitu sangat peduli ketika menaui sang sekertaris cantiknya mengalami kecelakaan.
Tentu saja hal ini menjadi perbincangan yang cukup menarik perhatian dikalangan para staf perusahaan tersebut.Dan sontak berita ini memenuhi seantereo ruangan kantin tersebut.
Dan ruang kantin pun seketika bising dengan bisik bisik yang setidaknya membuat perasaan gadis itu sedikit terganggu.
Sekumpulan para wanita yang asik membicarakan tentang kejadian di meeting tadi tidak menyadari jika di belakang mereka sang istri Direktur sedang duduk mendengar semua pembicaraanya.
" Gue yakin jika pak Banny dengan bu Arnetta itu ada sesuatunya !" Ucap Vivi salah satu staf perusahan itu menimpali dengan antusias.
" Kenapa lo seyakin itu ?jika pak Banny ada sesuatu hal dengan bu Arnetta." Salah satu rekannya menimpali.
" Oh my god Fenita..,elo ga bisa lihat jika mereka itu sering keluar kantor bersama.Alasannya sih masalah pekerjaan,but tidak menutup kemungkinan kan jika mereka saling memiliki perasaan satu sama lain." Jelas Vivi menyanggahnya.
" Ah elo terlalu so tahu deh Vi." Salah satu rekannya kembali menimpali.
" Gue itu tak sekedar so tau.Tapi gue selalu melihat akan sikap dari keduanya itu,Fen.Wi." Ucap lagi Vivi berusaha untuk meyakinkan rekan-rekan kerjanya.
Amel yang sedari tadi ikut menguping pembicaraan sekumpulan perempuan itu terlihat gusar,telapak tangannya mendadak gatal ingin membungkam mulut staf HRD tersebut.
Mona menghela lalu menatap kedua sahabathya dengan penuh arti.
Ingin rasanya gadis bertubuh sintal itu mendatangi meja sekumpulan perempuan itu yang begitu antusiasnya menyiarkan gosip yang tak sedap.Namun Mona dengan penuh isyarat menahan keinginannya.
" Fixs,,gue rasa mereka diam-diam saling memiliki perasaan." Kembali Vivi menyimpulkan.
" Aneh juga ya bos kita itu?dia selalu tergoda dengan seorang sekertaris.Buktinya saja dia pun menikahi sekertarisnya itu." Tungkas Fenita menambahi.
" Tapi sekertaris yang ini jauh lebih cantik daripada istrinya itu." Cibir Vivi sinis.
" Iya sih." Fenita menambahinya.
Wajah Amel terlihat semakin geram membuat amarahnya kian terasa mulai mendidih.
" Gue gemes banget sama si Vivi itu,pengen gue sumpal mulutnya dengang tangan gue ini." Gerutu Amel seraya mengacungkan kepalan tangannya ke udara.
" Jelas banget dia sentimen ama lo Mon,punya beban apa dia hingga begitu bersemangat sekali menggosipkan pak Banny dengan sekertaris itu?" Ucap Tamara ikut menimpali atas obrolan yang kini tengah di dengarnya itu.
Mona mengalihkan pandangannya menatap punggung sekumpulan para perempuan itu.
" Mungkin tuh perempuan sama halnya memendam perasaanya,sama halnya seperti manda dulu." Ucap Mona memesem.
Amel melengos merasakan perasaan sebalnya semakim menjalar ke otaknya.
" Gak usah halu !" Sindir Amel dengan penuh cemooh.
" Seandainya gue tau tadi pak Banny akan menemui tuh cewek pasti gua larang." Ucap Tamara tandas.
" Dan elo berani ? " Tanya Amel sinis.
Tidak seyakin itu dengan ucapan sahabatnya itu.
" Heehee.....kagak sih !" Ucap Tamara seraya tersenyum lebar memperlihatkan semua susunan giginya yang rapih.
Amel melengos dengan perasaan kian gondok.
" Gaya elo sengke !!" Guman Amel menggeleng.
Awalnya Mona menulikan telinganya tetapi percakapan di sekitarnya tidak terbendung,bahkan staff HRD di perusahaan itu yang bernama Vivi paling bising di antara perkumpulan itu suaranya yang cempreng itu mendominasi .Malangnya,Mona duduk percis di belakangnya sehingga mau tak mau ia harus mendengar semua percakapannya.
" Pak Banny sih sepertinya masih malu malu mengakui perasaanya.Tapi gue yakin jika di antara mereka itu ada sesuatunya." Kembali Vivi berpendapat.
" Sepertinya tife perempuan bos kita itu levelan sekertaris yaa.Buktinya istrinya sekarang kan sekertarisnya juga." Salah satu temannya menimpali dengan cekikikan.
Amel menoleh gemas ke arah Mona.Ingin rasanya dia membubarkan perkumpulan perempuan laknat tersebut.
Namun Mona menggeleng dengan penuh isyarat untuk tetap survive dan masa bodoh dengan ucapan kumpulan para perempuan itu.
" Iya bener.Dan ini bukan hanya semata hoak saja,waktu itu gue pernah lihat mereka pulang bersama dalam satu mobil,karena waktu itu pas hujan,kebayangkan apa yang di lakuin mereka di dalam mobil sana?hihiii... pasti elo semua lagi pada traveling deh." Goda Fenita semakin menyebalkan.
" Bos mah bebas kali !! " Sambung vivi dengan cekikikan.
" Pria macam pak Banny memang tak pantas untuk di abaikan." Sambung Fenita dengan malu malu.
" Huhhhhh !!" Amel kian terlihat semakin gusar.
Tanpa ia sadari sendok yang dia pegangi sejak tadi bentuknya sedikit berubah,menjadi bengkok karena lama di tekan.
" Nih ! Gue punya bukti paling reall !!" Ucap Vivi seraya mengeluarkan gawainya dari dalam saku blezernya.
Lalu satu meja mencondongkan tubuh ke arah Vivi yang mengayunkan ponsel ke udara,memamerkan poto Banny bersama sekertarisnya itu ketika makan siang.
" Cantik sekali ya bu Arnetta itu ???" Pekik histeris perempuan yang tak jauh duduknya dari Vivi.
Mona dengan tak sengaja menoleh ke arah mereka dan sekilas tatapanya melihat ke layar ponsel miliknya Vivi yang menampilkan poto Banny sedang bersama Arnetta ketika sedang makan berdua.
Sesaat Mona merasa insecure dengan keadaan gadis cantik itu.Tubuhnya yang ramping serta wajah tirus menawan itu dan dia sadar tak setinggi ataupun tak secantik itu.Bahkan riasan yang di gunakan Arnetta benar-benar sempurna,bersih terawat di sentuh dokter spesialis kecantikan yang ratusan juta.
Arnetta memang cantik,sangat cantik.
Mona tertunduk dengan perasaan yang mulai di liputi rasa sesak.
Tamara yang ikut penasaran ikut menoleh dan menatap ke hal yang sama.Matanya membulat sempurna apa yang di lihatnya percis dengan apa yang di lihatnya beberapa hari yang lalu ketika dia melihat Banny memang melakukan makan siang bersama Arnetta hanya berdua saja.
" Gue tau itu !" Bisiknya seraya menoleh ke arah Mona yang terlihat memasang wajah mulai resah.
Amel menoleh dengan perasaan yang mulai tak bisa di tahan atas sikap sekumpulan perempuan itu.
" Tidak seperti apa yang mereka sedang bicarakan.Pak Banny hanya makan siang saja bersama sekertarisnya itu tidak lebih !" Ucap Tamara melakukan pembelaan.
" Serius lo ?" Tanya Amel menatap tajam.
Tamara hanya mengacungkan dua jarinya tanda berkata yang sesungguhnya.
" Mungkin benar kali Mel, jika Mas Banny masih menyimpan perasaanya itu untuk Arnetta." Desah Mona dengan mata berandai andai.
__ADS_1
Amel hanya tersenyum sinis mendengar pernyataan sahabatnya itu yang tak putus putus beranggapan jika Banny memang masih memiliki perasaan terhadap sekertarisnya itu.
" Arnetta memang cantik.Tapi pada akhirnya lo adalah pelabuhan terakhirnya." Imbuh Tamara dengan pasti.
Amel yang memasang wajah pasrah semeringah dan menatap Tamara dengan cemerlang.
" Nah.... !!kali ini gue setuju dengan ucapan dia !" Ungkapnya dengan berbinar-binar.
Tamara melirik dengan tatapan keki setelah melihat reaksi lebih sahabatnya itu.
" Dih..,tumben lo Mel setuju dengan ucapan gue?" Tamara mendilak dengan manja.
" Elo kan kadang-kadang orangnya hee hee hee.." Amel terkekeh lepas.
" Tiba tiba perut gue mules !" Jawab Mona berpura pura seraya memegangi perutnya.
Amel dan Tamara menoleh secara bersaman lalu menatapnya dengan heran.
" Lo mules kenapa ??" Tanya Amel yang duduk di sebelahnya menolehnya.
Sejak tadi ia terus memperhatikan reaksi dari wajah sahabatnya sedikit mulai berubah.
" Nih gue bawa minyak angin !" Kata Tamara menatap simpatik sembari menyodorkan minyak kayu putih.
" Terimakasih,hmm nanti juga membaik." Ucap Mona menerima minyak kayu putih tersebut.
" Apa lo mules kerena berita hoaks yang beredar saat ini ?" Tanya Amel tiba-tiba yang seakan akan bisa menerka dengan apa yang sedang di alaminya sahabatnya itu.
Mona melirik lalu mengerlingkan matanya dengan penuh isyarat dan ia pun hanya menggeleng tak pasti.
" Mungkin ini hanya masuk angin saja." Ucap Mona beralasan.
" Stres berlebihan bisa menyebabkan asam lambung naik juga loh !" Ucap Tamara tersenyum penuh arti yang seolah olah sedang meledeknya.
" So tahu lo ye !" Desis Mona mendilak ke arah Tamara.
" Gue tidak yakin jika pak Banny sedang dekat dengan sekertaris itu." Amel kembali berasumsi.
" Bisa saja kan,dan semua itu bisa saja terjadi dan fakta bahwa mereka sedang dekat sudah cukup menjadi bukti.Salah satunya dia peduli ketika Arnetta kecelakaan meninggalkan meeting hanya untuk dia." Jelas Mona dengan penuh ke yakinan.
Amel mendengus tidak setuju.Dan dia pun berkata mencoba menyanggah pernyataan sahabatnya itu.
" Sebelum pikiran buruk elo menguasai otak lo,elo sebaiknya tanya langsung ama pak Banny akan berita ini yang hanya abu-abu saja.Gosip yang hanya buat asam lo kambuh !" Tungkas Amel sedikit geram.
Malas memberi alasan Mona tertunduk ke meja.
Hati kecilnya membisik,ada baiknya langsung bertanya daripada menduga.Dan itu hanya membuat asam lambung terasa naik.
Benar kata Tamara stresnya bisa menganggu kesehatannya.Tetapi kepalanya menolak hingga mata dan telinganya sekan tuli dan di butakan logika.Jika Banny memang masih ada perasaan terhadap gadis cantik itu.
" Mona !" Panggil seseorang cukup keras dari belakang mereka.
Dan suara baritonnnya cukup mengejutkan kedua sahabatnya tidak terkecuali sekumpulan perempuan yang itu ikut mendengar panggilan tersebut,dan perhatian mereka pun teralihkan ke arah pria yang kini tengah berdiri di antara mereka.
Sontak sekumpulan perempuan itu matanya melotot dengan mulut saling menganga tak karuan setelah tau siapa pemilik suara itu.
Reaksi wajah sekumpulan perempuan itu tak terbayangkan bagaimana paniknya,seakan-akan runtuh seketika dunia mereka kali ini.Tak ada suara yang keluar dari mulut-mulut mereka setelah melihat tatapan dingin bosnya membagi tatapan kepada mereka.
Wajah yang tadi terlihat antusias itu kini terlihat panik sekaligus khawatir jika Mona akan mengadukan obrolannya itu kepada bosnya.
" Aku mencari kamu.Kenapa kamu tidak angkat telpon ku ? " Tanya Banny menatap kembali Mona.
" Maaf mas aku tidak tahu jika mas menelpon ku ?" Ucap Mona terlihat segan.
Kedua sahabatnya terlihat kikuk dan berusaha untuk terlihat lebih tenang.Begitupun dengan sekumpulan perempuan itu yang memasang wajah kian tegang.
Di raut wajah satu sama lain terlihat cemas yang begitu dalam.
" Bisakah kamu ikut dengan ku ? " Tanya Banny menatap tajam istrinya tersebut.
Mona membagikan tatapanya ke arah kedua sahabatnya dengan tatapan tak pasti.
Kedua sahabatnya hanya mencicit seperti tikus.
" Baiklah !" Ucap Mona seraya merapihkan tasnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
" Mel,Tam gue duluan ya !" Pamit Mona menatap kedua sahabatnya.
Kedua sahabat Mona hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Banny melangkah dengan menarik tangan Mona hingga menggenggamnya kuat.Berjalan melewati sekumpulan perempuan itu yang masih tercengang-cengang atas kehadirannya yang secara tiba-tiba.
Nasib baik sedang berpihak ke pada mereka sehingga Banny hanya mengabaikan kehadiran mereka dan tidak mendengar satupun percakapan mereka.
Sesaat Amel melongo ke arah sekumpulan perempuan itu lalu mendengus dengan angkuh.
Vivi dan para sahabatnya masih di landa ketakutan yang cukup menegangkan.
Betapa tidak?jika saja tahu bosnya itu sedang di gosipkan tentu ini akan menjadi bumerang bagi dirinya.Bisa saja mereka akan kehilangan pekerjaannya atas gosip murahan yang disebarkannya itu.
Amel mengangkat dagunya lalu menatap penuh kemenangan ke arah sekumpulan perempuan itu dan ia pun mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka.
Sontak saja hal itu membuat wajah sekumpulan perempuan itu memerah.
" Gosip kalian itu terlalu receh !!,buktinya bos kalian ituh nyariin bininya." Ucap Amel lantang.
Wajah Vivi terlihat menatap sebal atas sikap Amel yang sedari tadi sudah mendengar semua obrolannya dengan sempurna.
_________
Makan siang baru saja di mulai,namun Mona sepertinya tidak menikmati apa yang menjadi santapannnya kali ini.Semenjak dia berada di Restoran itu,dia terlihat diam saja dengan berbagai pikirannya yang merorong kepalanya.
Mona berharap jika Banny akan jujur kepada dirinya tentang kecelakaan sekertarisnya itu.
Namun Banny justru bersikap seolah-olah dia sedang tidak terjadi apa pun.
Entah kenapa dia merasa ingin makan siang ini segera berakhir.Mungkin tidur sebentar bisa membuat otaknya kembali berfungsi.Pikirannya melayang entah kemana.
Mendapati istrinya seperti tak bergairah Banny menatapnya dengan penuh telisik.
__ADS_1
" Mona !! " Panggil Banny pelan.Namun tak ada jawaban.
" Mona ! apa yang kamu pikirkan ?" Tanya Banny memandang Mona penuh tanya.
Mona tersentak saat suara maskulin suaminya itu menyadarkan dia dari lamunannya.
" Mona,dari tadi aku memanggilmu.Kamu baik-baik saja ?" Tanya lagi Banny sedikit kesal.
Walau intonasinya sedikit kesal,Mona masih dapat mendengar sekilas nada khawatir dari suaranya itu.
Berdehem sebelum bersuara,Mona berusaha menetralkan perasaanya dari prasangka buruk yang kian merorong seisi kepalanya.
" Sejak tadi siang perutku sedikit mulas,mungkin aku masuk angin." Jawabnya dan melanjutkan kembali ucapannya.
" Maaf mas,sepertinya aku kurang berselera untuk makan siang ini." Ucapnya pelan.
" Kamu sedang sakit " Lagi-lagi Banny menatap dengan cemas.
" Perutku terasa mulas." Ucapnya pelan.
" Aku antar kamu ke dokter !" Sela Banny cepat.
" Tidak mas !jangan.Maksudku tidak usah." Ucap Mona mulai gugup.
" Gimana akan hilang sakit kamu jika kamu tidak mau pergi ke Dokter ?" Banny menatap dalam istrinya tersebut.
" Aku bisa mengatasinya." Ucap Mona tersenyum palsu.
" Kamu yakin ? " Tanya pria itu menatap dingin.
" Yakin mas." Jawab Mona tersenyum pasi.
Padahal dalam hati kecilnya ia tak sabar ingin segera menayakan hal yang menjadi pangkal dari permasalahan mulesnya itu.
Namun sepertinya dia kesulitan untuk memulai pertanyaan nya itu dari mana.
Banny memang sangat perhatian untuk masalah kesehatan dirinya meski memang Banny terkenal seorang peminpin yang tegas dan di siplin,tapi untuk memperlakukan seorang wanita yang dia cintainya Banny begitu sangat lembut.Kesehatannya selalu menjadi prioritasnya.
Banny memang telah berubah saat ini hingga kini ia memperlakukan dirinya begitu lembutnya.
Bibir Mona tersenyum membentuk lengkungan bulan sabit.
Dalam benaknya tak sabar jika dirinya ingin mempertanyakan perihal perasaan pria itu terhadap sekertaris cantiknya tersebut.
" Sepertinya ada yang hal yang sedang kamu sembunyikan dari aku?bicarallah !" Ucap Banny menghentikan kegiayatan makannya dan memandang penuh wajah istrinya tersebut.
" Tidak ada apa-apa.Aku hanya kurang enak badan saja mas." Ucap Mona mengalihkan tatapannya dari tatapan pria itu.
" Aku sangat mengenali perempuan ceroboh yang ada di depanku ini.Dia selalu gelisah dan hilang konek jika ada sesuatu yang sedang di pikirkannya ." Jelas Banny menatap kian meresahkan.
Tepat !!!
Tepat sekali mas.Apa yang saat ini aku lakukan terjawab sudah aku sedang memikirkan perasaan kamu terhadap sekertaris cantik itu.
Sorak batin Mona menatap jauh ke luar sana.
" Ayolah bicara ?adakah yang mengganggu pikiranmu ? " Tanya lagi Banny menuntut sebuah jawaban.
Mona menghela panjang lalu mengantarkan segelas air kemulutnya dan meminum sedikit air tersebut.Guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
" Mas !" Panggilnya pelan.
Banny menatap gadis itu dengan seksama,raut wajahnya yang digin itu terlihat semakin cool.
" Mas,tadi aku ke kantor kamu,dan kamu lagi pergi....." Ucap Mona tak lantas Banny segera menyelanya tanpa menunggu Mona menyeleseaikan kalimat ucapannya.
" Aku tadi pergi kerumah sakit,Arnetta kecelakaan.Maaf aku tidak memberi tahu kamu." Ucap Banny meraih segelas air dan meminumnya.
" Dan mas menghentikan meeting itu untuk....," Lagi-lagi ucapan gadis itu terjeda.
" Oh ! aku tau.Jadi ini alasan kenapa perut kamu terasa mules saat ini " Tanya Banny menggoda istrinya dengan tersenyum penuh sensual.
Mona menyeringah saat godaan Banny mampu menyelami isi hatinya.Tak dapat di pungkiri jikq kenyataannya memang seperti itu.
" Aku peduli terhadap Arnetta karena dia sekertarisku." Ucap Banny santai.
" Bukan karena seseorang yang pernah ada dalam hidup mu mas ? " Tanya Mona ragu.Namun entah kenapa pertanyaan itu terlepas begitu saja dari mulutnya.
Banny menegakan tububnya lalu menatap tajam ke arah gadis itu dengan sorot mata yang mulai berubah.
" Berheti mencurigai ku dengan alasan yang bisa menuduhku secara tidak langsung." Balas Banny sedikit geram.
" Aku tau mas,sebelum perasaan ini ada.Tentunya mas pernah memiliki perasaan itu terlebih dahulu dan...." Mona tak lantas.
" Dan aku sudah melupakannya." Ucap Banny dengan intonasi yang cukup berbeda.
" Semudah itu ?? " Tanya Mona gamang.
" Mona,plis kamu tidak perlu ikut campur dalam perasaanku itu." Ucap Banny pelan namun terdengar sadis di pendengarannya Mona.Dan di setiap kalimatnya penuh dengan penekanan yang begitu dalam.
Mona melongo mendengar pernyataan pria yang menjadi suaminya saat ini.
Whatt ????
Aku terlalu ikut campur ???
Lalu jika dia sesuka hati peduli dengan wanita itu apalah artinya perasaan aku ini untuk tidak ikut campur dalam hal ini ???
Mona menggeleng,entah kenapa ucapan pria itu serasa menenggelamkan perasaanya.
" Itu adalah bagian dari perasaan masalaluku.Aku harap kamu tidak mengungkitnya dan mempertanyakan kembali." Jelas Banny dengan nada suara yang berbeda.
Mona membisu menatap tak berdaya.
" Dan ingat !! sekarang aku hanya ingin menjalani hidup ini hanya bersama kamu.Paham!!" Kembali Banny menyakinkan Mona dengan intonasi yang jauh lebih kuat.
Mona terdiam meraskaan perasaan mulai tak menentu.
Semoga saja apa yang keluar dari mulut pria itu benar adanya,dia hanya tak ingin kehilangan cintanya seorang Banny.
__ADS_1