CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
episode 02 ~ Solid


__ADS_3

 


MONA terlihat tergesa-gesa keluar dari sebuah taxsi,beberapa kali ia menengok ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Lalu sesekali ia pun sibuk merapihkan beberapa map yang di bawa di pelukannya.


Dengan masih terlihat sibuk sendiri dia kembali membenarkan tali tas yang terselempang di pundak mungilnya.


Di tengah-tengah kerepotanya yang berpacu dengan waktu,tiba-tiba saja dari arah berlawanan Ia bertabrakan dengan seseorang yang berjalan tak kalah cepat darinya dan.....


BRRAAKKK...........


Beberapa map yang dibawanya terjatuh dan berhamburan hingga tercecer di jalanan.


Sontak Mona terkejut bukan main,ia pun menatap satu persatu map yang beserakan dijalan,masih dalam ke adaan shok perasaan shok Mona pun menatap ke seseorang yang sudah tidak sengaja telah menabraknya.


" Sory,sory !" ujar pria itu dengan segera meminta maaf kepadanya sembari ikut mengambil salah satu map yang beserakan di jalan.


" Duh makanya kalau jalan liat-lihat dong ! " Ujar Mona menggerutu.


" Sory ya mbak,soalnya tadi gue sedang buru-buru !." Ucap si pria itu menjelaskan dengan ramah lalu pria itu pun menyodorkan mapnya ke hadapan Mona.


" Makasih !!" cetusnya.


Pria itu tersenyum seraya memperhatikan penuh wajahnya Mona.


" Untung gue lagi buru-buru kalau gak,lo udah gue permasalahin.." Ucap Mona dengan memasang wajah galak.Tak berapa lama ia pun segera melangkah pergi meninggalkan pria itu yang melongo atas sikapnya Mona yang sedikit galak kepadanya.


Sosok pria itu hanya menarik napas seraya menggelengkan kepalanya dengan menatap aneh ke arah Mona yang berjalan dengan begitu cepat,lalu pria itu pun melanjutkan kembali perjalanannya.


......................


*Di kantor.


"Huuff...!!" Mona menghempaskan badannya di kursi kerjanya dengan kasar sehingga cukup menarik perhatian Tamara yang sedang serius menatap layar komputernya.


 Gadis berponi pendek itu melirik kecil kearah Mona yang tengah duduk kesal selepas keluar dari ruangan Manda,sahabatnya itu memasang wajah sedikit gusar.


" Ssst ! Lo kenapa beb ? kaya habis liat cicilan bulanan saja ?" Tanya Tamara sambil tetap pokus ke layar komputernya.


" KESEL GUE !!!" Jawab Mona dengan nada ketus.


Amelia mendongkak dan menoleh ke arah Tamara lalu Ia pun memberikan isyarat dengan penuh tanda tanya kepada Tamara yang kebetulan kubikelnya sejajar dengan dirinya.Tamara menggeleng seraya mengangkat tinggi bahunya.


Raut wajah Mona terlihat semakin bete beberapa kali Ia terlihat berpikir mengingat-ngingat sesuatu hal yang kini tengah mengganjal pikirannya.


Namun terasa buntu,pikirannya mentok ia tidak mengingat satu hal apapun,dan ia pun merasa tidak menemukan satu jawaban apapun dari apa yang menjadi pertanyaan di pikirannya.


" Kok bisa sih gue salah kasih map itu,Yaa TUHAN..!!" Gumannya seraya menengadahkan kepalanya ke atas langit ruangan tersebut dengan perasaan begitu cemas,tak lama ia pun kembali memejamkan matanya mengingat serentet kegiatan yang telah ia lakukan hari ini.


Tamara dan Amel saling melempar pandangan,setidaknya mereka terganggu dengan sikap sahabatnya tersebut,mereka menatap risih ketika melihat raut wajah Mona yang semakin hilang moodnya,namun mereka tidak berani mempertanyakan akan penyebabnya,dikarena kondisi masih jam kerja.


Tak berapa lama seorang perempun berpenampilan menarik menghampiri kubikelnya Mona dan ia pun berdiri tepat di samping Mona dengan menatap sinis.


" Lain kali tolong di periksa kembali semua hasil laporannya, Jangan asal main kasih laporan aja,Ini pekerjaan bukan permainan ular tangga." ujar perempuan itu bernama Manda menatap sinis.


Mona mendongkak lalu melihat Manda dengan perasaan tidak senang.


Yang bilang ini permainan ular tangga siapa ?? Batin Mona menggerutu.


Mona hanya terdiam sepertinya ia malas untuk menanggapi ucapan perempuan tersebut,Manda masih memasang wajah jutek.


 


" Dengar ya!Gue tunggu laporannya sampe jam 4 sore nanti,lo pastikan jika laporannya sesuai dengan apa yang bos minta." ujar Manda ketus,ia pun melangkah pergi dengan sikap sedikit angkuh.


Tamara dan Amelia yang sedari tadi sempat memperhatikan sikap Manda ikut menatap sebal ke arah sekertaris bosnya itu,Mona pun melengos tanpa merespon ucapannya Manda.


" Kenapa sii beb..?"Tanya Tamara sembari memburu Mona yang masih terlihat frustasi.


" Eeuuuhh KESEL GUEEEE !!" pekik Mona dengan geram lalu menggebrak meja tugasnya cukup keras.


Tamara terkejut dengan sikap sahabatnya tersebut.


Belum siap Mona menjelaskan kekesalannya,tiba-tiba...


TAP TAP TAP


Suara langkah khas sepatu sang Direktur tampan memecah keheningan,sang BOS besar datang berjalan dengan begitu tenang.


Melangkah melewati beberapa stafnya yang sudah standby di kubikelnya masing-masing,sang Direktur muda tampan itu terlihat berjalan dengan sikap penuh wibawa.


Wajahnya yang nampan namun tersirat raut wajah yang begitu dingin,tak ada senyuman yang tergurat di wajahnya,pandangannya begitu tajam.


Beragam sikap yang di tunjukan oleh para staff nya ketika Direktur muda itu lewat di hadapan mereka,ada yang hanya diam tak berani menyapa,ada juga yang hanya tersenyum-,senyum dengan canggung,bahkan ada pula yang diam-diam mencuri padangan kearah Sang pemilik tunggal perusaahan dengan terkagum-kagum melihat akam ketampanan pria tersebut yang begitu mempesona, tak terkecuali Mona beserta kedua sahabatnya mereka pun ikut memperhatikannya dengan seksama.


 


" Hmm pagi Pak !!" sapa Tamara seraya mengangguk penuh hormat,Ia memberanikan diri untuk menyapa bosnya tersebut hanya untuk sekedar berbasa-basi setelah Ia sadar jika dirinya berada di luar kubikelnya di saat jam kerja.


" Pagii !" Jawab bos tampan itu dengan singkat.


Raut wajah Tamara terlihat was-was ketika bos tampan itu menatap dingin dirinya.Lalu Tamara berdo'a di dalam hatinya supaya sang Bos tidak menyadari akan keberadaanya yang berada di luar kubikelnya.


Tapi sayang Bos tampan itu sejenak menghentikan langkahnya lalu menoleh Tamara yang masih memandanginya dengan raut wajah menegang.


" Kembali kemeja tugasmu !Dan tolong jangan banyak menggosip !" ujar Banny tegas.


" Ba baik Pak !!" Ucap Tamara mengangguk hormat.


Dikrektur tampan itu kembali berlalu,Tamara menarik napas lega seraya mengelus-ngelus dadanya.

__ADS_1


" Huuh,Aman aman." gumanya dengan berusaha rileks.


Amelia yang sedari tadi memperhatikan sikap sahabatnya itu terlihat menahan tawanya,apa lagi ia melihat raut wajah Tamara yang langsung berubah pucat pasi bak mayat hidup yang berjalan-jalan di siang bolong setelah kepergok tidak berada di meja kerjanya.


" Hii hii...,kaciaann deh." seru Amel terkekeh lalu ia pun kembali menatap layar komputernya.Tamara dengan cepat segera kembali ke kubikelnya dengan wajah masih terlihat tegang,sementara Mona masih di landa kegelisahan.


**************


waktu pulang


 


JAM sudah menunjukan pukul tiga sore Mona masih terlihat berkutat dengan tumpukan berkas-berkas laporan yang ada di hadapannya. 


" Mon elo gak pulang ?" Tanya Amelia sembari menghampiri meja kerjanya Mona.


" Gue lembur.." jawab Mona singkat.


" Tumben lo Rajin ?Mau naik jabatan ya ?" celoteh Amelia menggoda Mona yang masih menekuk wajahnya.


"Eh by the way si Manda tadi kenapa tuh ? kok negor lo kaya gitu ?" Tanya Amelia menatap lurus Mona.


" Gue salah ngasih laporan." jawab Mona singkat. 


Tamara ikut menghampiri meja Mona dengan penasaran. 


" Maksud lo ?" tanya Amel dan Tamara secara bersamaan.


" Entahlah.... !!ketuker apa ketinggalan gue gak paham, tiba-tiba saja laporan yang gue kasih ke Manda semua berubah isinya.." Jelas Mona dengan masih tetap fokus kelayar komputernya.


 


" Loh loh kok bisa ?? Emang lo gak cek lagi tuh laporan hingga yakin lo gak salah kasih isi laporan lo itu sama Manda ?" Tanya Amelia memastikan.


" Lo coba ingat-ingat lagi deh,bisa jadi jatuh atau mungkin ketinggalan dirumah gitu. ?" Tamara ikut menimpali.


" Itu dia gue gak ingat lagi beb.." Sela Mona terlihat stres.


" Terus apa yang lo kasih ke Manda ?" Tanya Tamara penasaran seraya tak lupa membenarkan poni pendeknya.


" Tiba-tiba laporan gue berubah menjadi gambar-gambar desain dan beberapa laporan Matrial pembangunan gedung gitu,bikin gue kaget.Komentar Manda pedas banget,bikin gue tambah kesel,tuh cewek jutek banget seakan-akan kesalahan gue ini patal banget." Jelas Mona dengan ekspresi yang sulit di bayangkan.


" Desain....?Sejak kapan lo kreatif bikin Desain ?lo mau jadi pemborong" Tanya Amelia cukup penasaran.


" Pemborong...,Arsitektur kali Mel.." sela Tamara meralat ucapan nya Amelia.


Mona menggeleng.


" Itu dia gue juga bingung..," Balas Mona pasrah.


" Kok bisa ya ?" Tanya kembali Tamara melirik Amelia yang masih sama-sama ikut kebingungan.


Ketiganya hening,mereka larut dalam pikiranya masing-masing.


 


Sontak Amel serta Tamara menatap bersamaan ke arah Mona yang seolah-olah sudah mengingat sesuatu hal.


"Sebelum gue masuk kantor tadi pagi,gue ada tabrakan sama cowok !naahh mungkin map gue ketuker kali Mel ,Tam sama map tuh cowok ." Jelas Mona semeringah,ia membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya.


Tamara serta Amalia saling bertatapan lagi satu sama lain dengan pikiran yang belum sepenuhnya menjangkau apa yang di ucapkan sahabatnya tersebut.


" Tabrakan??" ulang Tamara dan Amelia melirik kompak.


Di pemikiran mereka ketika mendengar tabrakan yang terlintas hanya sebuah kendaraan.


" Lo tabrakan apa Mon ?mobil,motor ?" Tanya Tamara polos.


" Bukan itu !" Bantah Mona dengan sedikit kesal.


" Lalu ??" tanya Amelia pelan.


" Ya ya...., gue ingat sekarang !Kayanya itu cowok salah ambil dan kasih map ke gue dehh, " Jelas Mona dengan nada yang begitu yakin.


Lagi-lagi kedua sahabatnya terlihat bingung belum memahami isi dari perkataannya Mona,mereka hanya melongo menatap bingung.


"Benar !! kayanya dia salah kasih map gue mel, tam,Tapi gue cari kemana tuh cowok ?? " kembali Mona terlihat sibuk dengan pertanyaan dan jawaban yang di ciptakannya sendiri,Sementara Tamara dan Amelia masih tetap menatap dengan tidak paham atas sikap sahabatnya yang sibuk dengan tanya jawab sendiri hingga akhirnya menyimpulkan sediri.


" Nanya sendiri,jawab sendiri,nyimpulin sendiri,cewek aneh !!" gerutu Amelia mengeleng.


" Tapi by the way,perasaan gue sepertinya sering liat deh wajah tuh cowok,kaya gak asing gitu.Tapi dimana yaa??.." Sela lagi Mona dengan memasang wajah linglung lalu ia pun mengetuk-ngetuk jari telunjuk tepat ke arah hidungnya dia mencoba mengingat ngingat kembali wajah si pria yang tidak sengaja menyenggolnya tadi pagi.


Kedua sahabatnya membiarkan Mona yang sibuk dengan berbagai pertanyaan-pertanyaannya serta opini yang di citakannya,mereka cukup tahu saja jika sahabatnya itu mengalami kepanikan maka ia akan bertingkah seperti itu.


Kaya orang bloon tapi jenius.


" Omg Gue liat dimana ya ??" Serunya kembali dengan nada histetis.


" Kumat deh kalau sedang panik." Bisik Amelia yang memperhatikan sikap anehnya Mona dengan pasrah.


 


" Betewe cowoknya cakep gak Mon ?" Tamara menyela dengan antusias.


Pertanyaan itu sontak membuat Mona menoleh cepat ke arah mereka berdua dengan ekspresi wajah menyurut.


Kedua sahabatnya masih menatapnya dengan tak sabar menunggu jawaban darinya tentang pria tersebut.


" Kalian kok malah nanya cakep apa enggak sih ?map gue beb,map gue!!" balas Mona dengan wajah tertekuk.


Kedua sahabatnya langsung lunglai.

__ADS_1


Setiap Mona bertemu dengan seorang pria yang pertama mereka pertanyakan adalah masalah pisik si pria tersebut.


" Tuh kan !! " Sela Amelia melengos lemas.


" Uuuhh Monalita oh Monalita..." celoteh Tamara terlihat menepuk jidatnya dengan telapak tangnya.


Mona selalu tidak tertarik dengan pertanyaan yang berbau seorang pria.


" Gue itu gak merhatiiin wajahnya tuh cowok,soalnya gue buru-buru Mel takut telat,hanya saja wajah tuh cowok tuh gak asing gitu." jelas Mona dengan sesekali kembali fokus ke layar komputernya tersebut.


" Payah.bener-bener payah deh sahabat kita ini beb.." seloroh Amelia dengan tak berselera.


Mona melirik ke arah Amelia,dia cukup jelas mendengar selorohan sahabatnya itu.


" Udahlah gue duluan aja yaa,Gue jadi gak balik-balik kalau ngobrol terus sama lo" ujar Tamara sembari melangkah pergi.


" Kalian gak nemenin gue dulu..." ucap Mona dengan wajah mengiba.


" Capek !! Sepertinya gue pengen buru-buru istirahat,tapi sepertinya si Bian udah jemput gue." ujar Tamara tersenyum menggoda Mona.


" Lo Mel ?" Tanya Mona melirik Amelia,ia terlihat merengut mencoba memohon untuk di temani lemburannya.


" Hmm,sorry sepertinya gue sore ini sudah ada janji.." Ucap Amelia dengan menengteng tasnya dan hendak melangkah pergi,namun sejenak ia menghentikan langkahnya.


" Lain kali jika ketemu cowok itu di ajak kenalan dulu, jangan main pergi pergi aja,ingat tuhh ya !." guman Amel mencolek pundak Mona. 


Mona terdiam hanya menanggapi dingin ucapan sahabatnya itu.


" Hati-hati ya Mon,lo sendirian." Bisik Tamara sembari tertawa kecil,Mona mendelik kesal dan kembali Pokus kelayar komputernya.


" yaa TUHAN... lembur adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.."


Guman Mona dengan Nada kesal.


lalu ia pun kembali menatap ke layar komputernya sedangkan jari jemarinya mulai mengotak ngatik papan keybord komputer dengan perasaan sebal.


*************


*weekend*


MONA masih sibuk memandangi layar laptopnya dengan secangkir coffe hangat menemaninya,terkadang ekspresi wajahnya terihat berubah-rubah,kadang ia mengernyitkan kedua alisnya hingga tinggi namun terkadang raut wajahnya berubah lucu.


Rupa -rupanya Ia masih bercokol menuntaskan pekerjaan yang belum terselesaikan.


" Lo libur masih aja kerja Mon." Tiba-tiba kedua sahabatanya sudah berada di dekatnya.


" Eh kalian.Dari mana ? " Tanya Mona mendongkak kaget menatap kedua sahabatnya yang baru tiba di ruangan kerja Mona. 


" Tadinya gue sama Tamara mau ngajak lo nonton,tapi kayanya lo lagi sibuk deh."Ucap Amel seraya duduk di samping Mona yang masih asik dengan laptopnya.


" Kan itu bisa di atur beb." Sela Mona sembari menyeruput coffe hangatnya.


" Ahh di atur gimananya ? lo aja masih fokus gituu." Sela Tamara sembari menyomot snak yang ada di samping Mona.


" Yaa kalau kalian minta,gue pastii mau lahh.." balas Mona sembari mengoffkan laptopnya.


" Ada Film bioskop bagus loh !Yok nonton!" ajak Tamara dengan semeringah.


" Tapi kalian cuman berdua doang kan ?" Tanya balik Mona menatap penuh selidik.


" Lah emang kenapa ?" Tanya Amelia heran.


" Lo berdua kan suka kebiasaan ngajak gue nonton tau- taunya bokin lo berdua pada nongol, terus gue jadinya kaya obat nyamuk kebakar sendirian." Ucap Mona dengan melirik kesal kedua sahabatnya.


" Haha..haha...,itu sih derita lo !!" Sahut Amelia terkekeh melihat ekspresi wajah Mona yang terlihat frustasi.


" Puas bikin sahabat lo gabut sendiri."Sela Mona mendelik.


" Mon,jika elo gak mau gabut makanya cari cowok dong kan kita bisa jalan bareng jadinya.Tripeldate." Ucap Tamara dengan mengedip manja ke arah Amelia.


Mona melengos sebal.


" Tuh kan ujung-ujungnya kalian selalu nyuruh gue cari cowok,penting gitu gue punya cowok ?." Sela Mona dengan nada sewot.


" Tapi setidaknya kita bisa happy bareng." tambah Tamara.


Bbir tipis Mona terlipat dan raut wajahnya seketika bermuram.


Amelia serta Tamara saling melempar tatapan aneh ketika melihat raut wajah Mona yang berubah dratis ketika mendengar ucapanya tersebut.


" Bisa gak sih kalian itu gak bahas masalah cowok terus." Tanya Mona dengan nada tak biasa.


" Ikhh tumben-tumbennya ni anak berubah sensi?Biasanya lo itu cuek bebek aja kalau denger pembahasan seperti ini." ujar Amelia melirik penuh isyarat ke arah Tamara.


Mona mengela napas berat.


" Hmm...,kalian tidak pernah tau perasaan gue sebenarnya seperti apa." balas Mona dengan raut wajah sedih.


" Tumben banget wajah lo sedih begitu ?" Tanya Amel menggodanya.


" Serius bebs gue sedih kali ini dengan candaan lo berdua." Balas Mona menegaskan.Raut wajahnya terlihat memendam sebuah perasaan.


Amel dan Tamara saling berpandangan dengan perasaan tak enak.


" Ahh elo Mon,gak usah bercanda deh,kalau elo serius kaya gitu,elo gak lucu.Sumpah !!" ujar Amelia acuh.


Mona terdiam dengan ekpsresi yang berhasil membuat kedua sahabatnya terheran-heran.


" Kenapa sih ?kok lo jadi beneran baper begini ?" Tanya Amelia seraya merangkul pundak Mona.


Sejenak hening.Mona terlihat menahan sesuatu yang menyesakan rongga dadanya hingga perlahan kedua matanya terlihat mulai basah.

__ADS_1


............Bersambung.


__ADS_2