
ACARA resepsi itu telah selesai di laksanakan bahkan hingga malam,Kini hanya ada Mona,Banny beserta sang Ayah dan beberapa asisten rumah tangga pribadinya masih terlihat sibuk wala wiri merapihkan tempat tersebut.Beberapa tugas kebersihan gedung sedang merapihkan tempat tersebut.
Wajah lelah terpancar dari raut wajah keduanya tak terkecuali sang Ayah,namun ia sangat bahagia melihat pernikahan putranya itu berjalan dengan baik sehingga rasa lelahnya terbayarkan oleh hadiah pernikahan ini.
Meski sang putra memintanya menikah dalam pesta yang sederhana,namun antusiasme dari para sahabat-sahabat nya serta rekan-rekan para perusahaan nya menjadikan pesta yang awalnya terkesan sederhana itu berubah semarak dengan kehadiran tamu yang sama sekali tidak tercantum di undangan tersebut justru hadir memberikan sebuah kejutan yang tak di sangka-sangka sebelumnya oleh Banny maupun sang Ayahnya sehingga pesta pernikahan ini terasa lebih meriah.
Yaa jika ini bukan pernikahan sandiwara,tentunya Banny akan mengadakan pesta tersebut lebih dari ini,ada kemungkinan pesta itu akan di adakan lebih mewah serta penuh dengan undangan para elit dalam kurun waktu berhari-hari,bisa saja tujuh hari tujuh malam bila perlu,siapa yang tak mengenal seorang Banny pengusaha muda di bidang Logistik dan kini pria tampan itu mulai melebarkan sayapnya di bidang property.
" Pah !,sepertinya Banny dan Mona akan langsung ke hotel,dan besok Banny dan Mona baru pindah ke afartemen." Ujar Banny menarik Mona hingga berada tepat di sampingnya,dan pria itu pun merangkul gadis itu yang kini telah resmi menjadi istrinya.
" Loh! Kalian tidak cape langsung ke hotel,kenapa kalian tidak bermalam di rumah dulu semalam ini saja Ban ?" Tanya pak Wiguna menatap heran ke arah putranya yang sudah terlihat menukar jasnya tersebut.
Bi yayah yang sedari mempersiapkan keperluan sang manjikannya ikut menoleh ke arah Banny dan Mona.
" Iya pah,rekan bisnis Banny ada yang menghadiahi sebuah tiket untuk bermalam di hotel,dan itu sudah di booking jauh-jauh hari,jadi sayang jika Banny harus melewatkannya,bukan begitu sayang." Ucap Banny seraya menoleh Mona yang masih mengenakan gaun pengantin itu menatap lelah padanya.
Mona mengangguk dengan pasrah mengiyakan ucapan bosnya tersebut,ops !suaminya tersebut.
Sesaat sang Ayah terdiam lalu akhirnya mengijinkannya untuk pergi.
" Baiklah kamu hati-hati di jalan ya !kasian Mona sepertinya ia sudah kelelahan." Ucap pak Wiguna menatap mantunya tersebut dengan seksama.
Mona tersenyum lembut dan hanya menoleh kaku ke arah Banny.
" Bentar pak,eh !" Mona terlihat gugup saat memanggil Banny dengan panggilan seperti biasa.
" Mona,Banny sudah sah menjadi suami kamu,kok kamu manggilnya masing canggung saja." Sela pak Wiguna menyela dengan tersenyum penuh arti.
" Maaf pah,kebiasaan di kantor." Balas Mona tersenyum tipis.
" Ponsel saya tertinggal,ka kamu mau menunggu sebentar ?" Ucap Mona dengan perasaan ragu menatap ke arah suaminya tersebut.
" Ok !" Ucap Banny singkat.
Detik itu juga Mona segera bergegas menuju ruangan make up yang tadi ia gunakan untuk berhias ,dan baru teringat sekiranya ponsel dan tasnya masih tertinggal di sana.
Setelah ia mendapati ponsel beserta tasnya masih tersimpan di sana ia pun bergegas hendak meninggalkan kembali ruangan tersebut namun langkahnya tertahan sesaat ia mendengar pecakapan dua orang di balik ruangan tersebut,dan dengan langkah melambat samar-samar ia mendengarkan percakapan dua orang asisten rumah tangganya Banny yang sedang mengemasi barang-barang.
" Ris !Kamu lihat gak tadi,den Banny itu kok kaya kurang bersemangat ya menikah dengan perempuan pilinya tuan bapak,kasian juga yah den Banny harus menikah dengan perempuan yang tidak di cintainya." Ucap perempuan itu yang usianya lebih tua dari lawan bicaranya.
" Aku tidak merhatiin teh,memangnya den Banny tidak bahagia dengan perkawinan ini ?" Ucap salah satu perempuan yang usianya sebaya dengan dirinya menimpali.
Mona terdiam menyenderkan tubuhnya di dingding ruangan tersebut seraya mendengar pembicaran mereka yang berhasil membuatnya semakin insecure.
" Padahal teteh lihat yah mbak Mona cantik juga loh,kalau di banding dengan mbak Kinaya sih memang jauh ,secara mbak Kinaya mah model atuh." Sela salah satu perempuan itu dengan menyandarkan tubuhnya ke dingding merasakan lelah yang menderanya.
" Tapi kalau aku denger dari bi Yayah jika mbak Mona itu lebih baik dari pada mbak Kinaya,kalau kita lihat sih seperti itu teh,teteh tahu kan mbak Kinaya yang udah menghianati den Banny,kalau yang cantik mah sok loba gaya atuh teh." Ucap perempuan muda tersebut dengan ekspresi logat bahasa daerahnya.
" Hus !! kamu mah jangan kenceng-kenceng atuh tar ada orang lewat dengar,bisa berabe." Sela salah satu asisten rumah tangga senior terlihat menegur lawan bicaranya seraya mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan tersebut,ia takut jika ada orang di balik ruangan tersebut mendengar percakapannya.
" Tapi itu teh kan fakta teh,jika mbak Kinaya sudah menyia-nyiakan den Banny hingga den Banny susah Move on." Ucap perempuan muda itu dengan memelankan suaranya.
" Akh kamu mah ngaco,ini buktinya den Banny mau nikah sama mbak Mona,itu artinya teh dia sudah move on dari mbak Kinaya." Sergah perempuan yang lebih tua menyanggah ucapan lawan bicaranya dengan penuh keyakinan.
" Lah ini kan di jodohkan atuh teh,kan kita mah belum tahu perasaan den Banny sebenarnya seperti apa ?" Ucap perempuan muda itu setengah berbisik.
Mona mengintip dari balik belakang itu,dua perempuan itu tak di kenalinya sama sekali,namun entah kenapa dua perempuan itu mengenali dirinya.
Perempuan yang usianya lebih tua tampak berpikir sejenak.
" Iya juga yah,kasian atuh mbak Mona kalau si aden cuman pelarian saja nikah sama dia." Ucap perempuan itu dengan nada pilu.
Mona terdiam mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka,dan hal itu berhasil membuat perasaanya semakin terintimidasi,kenapa bisa mereka berkepikiran seperti itu?jika Banny memang belum bisa move one dari sang mantannya dan itu artinya pria tampan itu memang belum bisa mencintainya.
" Pliss Mona,elo bangun dari mimpi indah lo ! sampai kapan pun Banny tidak akan pernah mencintai elo,paham !!"
Mona mengehela merasakan hatinya semakin fesimis.
" Coba atuh yah den Banny teh mau nikah sama saya,Risa teh bahagia pisan teh." Ucap Risa nama perempuan muda itu seraya tertawa polos.
Perempuan yang jadi lawan bicaranya terlihat menoel kepala Risa dengan kesal.
__ADS_1
" Mimipi kamu." Ucap nya dengan menarik tangan Risa untuk segera pergi dari tempat itu.
" Udah Risa,kita masih banyak pekerjaan lain." Ucap perempuan itu kembali menyeret Risa dengan sedikit kasar.
Mona memandangi langkah dua orang pembantu itu menuju sebuah ruangan,lalu dengan perasaan semakin sesak menghela merasakan perasannya kian mendalam,belum sehari ia menjadi seorang istri Banny pratama Wiguna hal yang tidak mengenakan sudah tersuguhkan di indra rungunya dan hal itu berhasil membuatnya kian terasa jauh dengan asanya untuk mendapat cintanya seorang Banny.
Bohong saja jika selama bersandiwara benih-benih cinta ini timbul dengan sendirinya.
Mona meremas jarinya dengan perasaan pilu menatap dirinya hanya sebagai pelampiasan ke egoisan seorang Banny.
" Kok kamu malah bengong disini ?Aku sudah menunggu kamu hampir setengah jam,kamu malah bengong disini,kenapa ?" Tanya Banny mengejutkan Mona yang tengah melamun.
" Maaf pak,barusan saya lupa naruh ponsel nya dimana, jadi saya cari-cari dulu." Ucap Mona dengan mengalihkan pandanganya ke hal yang lain.
" Benarkah ?lalu kamu temukan di mana ponsel nya ?"
Tanya Banny menatap istrinya dengan tajam,seolah-olah ia mengetahui apa yang sedang di rasakan gadis itu sebenarnya.
" Di dalam kotak make up pak,hmm mungkin tadi saya tidak sengaja memasukannya, mungkin saya lupa tapi kurang tahu juga sih." Ucap Mona dengan perasaan ragu dan ia pun tak berani untuk menatap wajah pria itu.
Banny hanya mengekspresikan wajahnya dengan datar lalu mengangguk pelan berusaha memahami secepat mungkin.
" Saya capek,dan butuh istirahat." Ucap Banny seraya melangkah tanpa memperdulikan Mona,gadis itu mentap pundak pria itu yang mulai berjalan menjauh,tak lama ia pun berjalan mengekor di belakangnya.
*******
Mona merebahkan tubuhnya di sofa begitu tiba di kamar hotel dan kakinya benar-benar terasa sakit karena harus menggunakan heels seharian,bahkan sejak ia duduk bersanding dengan Banny, hingga acara resepsi berlangsung rasanya kakinya tak tahan menahan rasa pegal dan linu akibat berdiri di heels tersebut.Ia pun sesaat menunggu Banny selesai mandi ia memilih merebahkan tubuhnya di sopa seraya meluruskan kakinya.
Perlahan ia memijat kepalanya dan menekan secara intens rasanya sakit kepalanya ini tak mau hilang dari kepalanya sejak prosesi ijab kabul hingga prosesi itu selesai.Rambutnya masih tersanggul rapih sedangkan mahkotanya sudah di lepas seusai acara resepsi tadi.
Pintu kamar mandi itu terbuka memperlihatkan tubuh setengah telanjang Banny dengan rambut basahnya.
Mona yang sedang merasakan denyutan di kepala seketika tersentak menatap ke arah pria itu,dan entah kenapa rasa sakit kepalanya itu seketika lenyap dari kepalanya sesaat tatapannya tertuju ke tubuh kekar Banny yang terlihat sangat sixpack.
" Yaa TUHAN !!! hilang rasa sakit kepala ini jika melihat pemandangan seperti ini,berhentilah Mona !! Stop otak gue,mengertilah ini bukan ranah elo.Ingat tuh cowok hanya suami settingan elo,jangan sentuh dia !!"
Rutuk hati gadis itu seraya terpesona dengan ketampanan sosok seorang Banny.Namun dengan cepat Mona segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan berbagai perasaan yang tak menentu,dan pemandangan itu berhasil membuat otak nakalnya bekerja dengan baik.
" Apa yang sedang kamu lakukan di situ ?tidurlah di ranjang !" Banny berujar tajam tak terbantahkan setelah melihat Mona masih terdiam di sofa,dan ucapannya itu mampu membuat Mona hanya bisa mengikutinya dengan perasaan grogi.
Mona menaruh ponselnya lalu berjalan ke arah sebuah kaca yang terpasang di balik pintu almari tersebut.Mona membelakangi Banny yang sedang memasang piyama tersebut,ia berusaha menetralkan perasaannya yang kian tak terelakan, tak ingin rasanya ia harus melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat dari pria itu,lalu ia pun dengan cepat membalikan badannya untuk membelakangi pria itu dengan perasaan semakin risih.Banny tersenyum sinis melihat sikap gadis itu yang merasa takut melihat sesuatu darinya.
" Kamu tidak menukar bajumu ?" Tanya Banny seusai mengenakan piayama tersebut menatap punggung gadis itu yang sedang membelakanginya.
Mona menoleh lalu hanya tersenyum kaku perasaannya semakin kikuk yang tak terbantahkan lagi.
Dan beberapa saat kemudian gadis itu pun berniat ingin membuka resleting bajunya tersebut,namun sayang resleting gaun tersebut berukuran kecil sehingga gadis itu kesulitan untuk menjangkaunya,dan alhasil ia pun tak bisa melakukan itu sendiri dalam membukanya.
Banny yang tengah siap-siap untuk tidur menatap heran ke arah sikap sekertarisnya itu yang tengah kewalahan membuka resleting bajunya di bagian punggungnya tersebut.
Pria itu menyibakan kembali selimutnya lalu beranjak dari sofa itu dan mendekat ke arah gadis tersebut.
" Kenapa kamu tidak minta tolong saya untuk membantu menarik resleting itu,apa kamu tidak punya ke inginan untuk meminta tolong ?" Tanya pria itu menatap datar.
" Saya rasa saya bisa sendiri tapi,tangan saya tidak sampai." Ucap gadis itu tersenyum pasi.
" Boleh saya bantu ?" Pria itu menawarkan diri.
" Hah ??" gadis itu memekik dengan perasaan shok saat bosnya tersebut menawarkan diri untuk membuka resleting tersebut.
" Tapi !!!" Ucapannya menggantung,ingin menolak namun ia sendiri tak bisa meraih resleting berikut,namun ia merasa risih jika pria itu harus membukan resleting tersebut,dan pastiya bosnya tersebut setidaknya akan melihat kulit punggungnya tersebut.
" Tapi apa ?memangnya kamu bisa buka sendiri dengan resleting ukuran sekecil itu?jangan suka buat diri kamu ribet,tak ada salahnya kan kamu minta tolong saya?" Ujar pria itu seraya mendekati Mona yang raut wajahnya terlihat tegang.
Mona menghela lalu menatapi dirinya yang masih mengenakan gaun pengantin tersebut,rasanya tidak lucu juga jika ia harus tertidur dengan masih memakai busana tersebut.Sesaat ia berpikir berusaha mempertimbangkan tawaran bosnya tersebut.
" Baiklah !" Ucap Mona seraya menurunkan tangannya lalu ia pun memutar badannya dengan tegak ia membelakangi bosnya tersebut,menyodorkan punggungnya agar pria itu membantu membuka kan resleting bajunya.
" Tenang saja,saya tidak akan ngapa-ngapain kamu !" Ucap pria itu dingin.
Mona terdiam lalu akhirnya mengangguk pelan.
__ADS_1
Perlahan pria itu mendekat lalu memandangi punggung mungil gadis tesebut,dan detik itu juga tangan pria itu tergerak menarik ujung resleting tersebut.
Perlahan dua sisi baju itu terbuka dan pria tampan itu dapat melihat dengan jelas kulit mulus punggung gadis itu dengan tak terelakan lagi.
Bola mata pria itu semakin membelalak saat melihat bulu remang yang berbaris rapih membentuk sebuah aliran lembut hingga tak tahu lagi batas nya dimana,namun pikiranya bisa menerka jika barisan itu hingga ujung sana,namun ia tak mampu untuk membayangkan hal itu dan pria itu pun hanya menghela seraya memejamkan dua matanya,dan dengan cepat ia pun menghentikan gerakan tangannya itu untuk tidak membuka hingga bawah sana.
Perasaanya menjadi tak terkendali saat mata itu melihat jelas kemulusan punggung gadis tersebut.
Mona dengan cepat segera membalikan badannya setelah di rasanya bajunya tersebut mulai terasa longgar,ia pun merasa yakin jika bosnya tersebut sudah melihat jelas kulit punggungnya tersebut.
Mona menatap dalam memperhatikan sikap pria itu yang tengah terkesima menatapnya.
" makasih pak !" Ucap gadis itu seraya segera berjalan cepat menyeret gaunnya masuk kedalam kamar mandi.
Selanjutnya Banny hanya melongo menatap sikap gadis itu yang berjalan cepat menuju kamar mandi,lalu ia pun menggeleng dengan perasaan aneh.
Ia kembali menuju sofanya dan terduduk dengan perasaan yang tak bisa begitu saja ia singkirkan,dengan atas apa yang di lihatnya barusan.
Banny si pria tampan itu memejam kan matanya berusaha untuk tidak mengingat kembali pemandangan itu dengan berusaha menetralkan perasaanya yang kini mulai terasan kian menganggu pikirannya,tak bisa ia pungkiri jika dirinya memang tak bisa munafik,wajar saja jika dirinya sebagai laki-laki normal tidak menampik jika hasrat itu timbul kala melihat sisi tubuh gadis itu yang begitu putih serta mulus.
Yaa ia sadar,seharusnya ini adalah malam pertama bagi dirinya menjalani sebagai pasangan suami istri,namun entah kenapa kemantapan hatinya itu masih di rasa kurang sempurna terhadap sekertarisnya itu yang kini telah menjadi istri sah sandiwaranya tersebut.
Entahlah mau sampai kapan ia harus memendam perasaan itu terhadap gadis yang sudah jelas sekarang menjadi istrinya tersebut.
Apa mungkin hatinya masih menginginkan cinta yang lain ?
Sementara ia mulai nyaman dengan sosok gadis ini.
" Pak Banny !!" Panggil suara Mona membuyarkan lamunannya.Pria iru menoleh lalu menatap ke arah pintu kamar mandi.
" Kenapa ?" Tanya pria itu sedikit kesal atas panggilan gadis itu setidaknya suara cempreng gadis itu mengejutkannya.
" Maaf pak,saya minta tolong,bapak bisa ambilkan baju handuk buat saya ?" Tanya gadis itu seraya menjulurkan kepalanya di sela pintu kamar mandi dengan ekspresi wajah polos.
Banny menggeleng menatap kesal ke arah gadis tersebut lalu dengan bersikap malas ia pun mengambilkan baju handuk di dalam almari.
Banny menghampiri Mona yang kini tengah menjulurkan tangannya di sela pintu kamar madi tersebut.Sesaat dirinya menatapi tangan gadis itu yang setengah telanjang.
Tak terasa ia menelan kuat air liurnya dan menatap tangan mulus itu dengan berbagai perasaan.
" Handuknya ada pak ?" Tanya Mona dari balik pintu.
Banny segera menyimpan baju handuk tersebut di tangan gadis itu.
" Makasih pak." Ucap Mona dari dalam,lalu menarik tangannya.Pria itu menggeleng dengan menepis pikiran nakalnya.
Banny kembali ke sofanya dan merebahkan kembali tubuhnya merasakan lelah yang mulai mendera seluruh persendiaanya.
Baru saja punggunya menyandar sempurna untuk mengantarkan matanya yang mulai terasa ngantuk tiba-tiba saja Mona keluar dari kamar mandi itu dengan memakai baju handuk tersebut, dan tak hanya itu saja gadis itu pun mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil,mengusap-ngusap rambutnya dengan lembut.Dan rasa ngantuk pun sirna sudah ketika melihat ke arah gadis tersebut sehingga netranya terasa kembali segar menyaksikan gadis itu yang terlihat menggodanya.
Entahlah pikiran nya mulai terasa kacau saat melihat gadis itu mengenakan baju handuk seperti itu dengan ke adaan rambutnya basah tergerai.
Mona membenarkan kain baju handuk itu agar menutup rapat bagian dadanya dengan baik lalu dengan sikap kikuk ia berjalan melintasi sofa tersebut,dimana pria itu tengah menatapnya nyaris tak berkedip.
Ahh seandainya saja pria tampan itu pernah menyatakan hal yang menjadi perasaan nya mungkin pernikahan ini tak akan se kaku dan secanggung ini,tapi sayang kata ajaib itu tak pernah terlontar dari mulut pria tampan itu,sehingga detik ini pun kata ajaib yang selalu di nanti gadis itu berlumlah terucap.
AKU MENCINTAI MU !!
seperti itulah kata ajaib yang selalu di nanti gadis itu walau entah sampai kapan itu akan terucap.
Mona duduk di meja rias lalu memandangi wajahnya lewat pantulan cermin tersebut dengan perlahan mengeringkan rambutnya tersebut dengan handuk kecil.
Sesaat gadis itu menggeser bola matanya tepat ke arah bosnya yang tengah memperahtikan dirinya lewat pantulan cermin secara diam-diam.
Sontak pria itu dengan cepat mengalihkan pandangannya berpura-pura menatap hal yang lain.
Mata gadis itu mengernyit menatap heran melihat sikap bosnya tersebut yang acuh tak acuh terhadap dirinya,namun diam-diam memperhatikannya.Mona tersenyum sepertinya bosnya itu memang tak akan bisa berubah akan tetap seperti itu,yang selalu bermain dengan egonya dan itu penjaga image terbaik,sehingga menyembunyikan perasaanya dengan sempurna.
Tak lama Banny menarik sebuah selimut ke tubuhnya dan mulai merebah kembali tubuhnya,perlahan dirinya mencoba memejamkan matanya kembali melepaskan bayang-bayang tubuh gadis itu yang mulai mengisi sempurna nalurinya.
Mona masih terdiam menatap dirinya di cermin merasakan lelah mulai menggelayutinya,di lihatnya bosnya itu mulai tertidur membelakanginya.
__ADS_1
Mona menarik napas merasakan hal yang tak pernah ia bayangkan jika dirinya dapat bersama dalam satu ruangan dengan pria tampan itu,akan tetapi meski raga mereka satu ruangan namun hati dan perasaan nya terpisah jauh sehingga pernikahan ini di rasa hanya numpang tidur bersama saja tanpa seperti layaknya pasangan pengantin baru yang malam pertamanya di liputi rasa bahagia serta penuh gairah.
Ini berbeda.Dan sangat berbeda !! ini bukan seperti khalayak pada umumnya jika usai pernikahan selalu ada bulan madu,justru ini adalah awal bulan empedu yang kian terasa hampa di hati seorang Mona.