CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 140


__ADS_3

PAGI ini Banny terbangun dengan perasaan linglung,entah kenapa perasaan semalam itu cukup menggangu pikirannya tersebut.Ia masih bertanya-tanya maksud dari Angkasa menelpon sekertarisnya itu.


Cemburu ???


Yaa !! situasi itu yang kini tengah di rasakannya.Perasaan itu berhasil membuat hati kecilnya gelisah nyaris saja semalaman ia tak bisa lelap dalam tidurnya memikirkan hal yang belum jelas ke absahan-nya.


Namun sepertinya pertanyaan itu terasa semakin membunuh perasaanya,dan tentu saja pertanyaan ini di rasa buntu seperti tak menemukan jawabannya yang pas terlebih ketika ia bertanya akan hal itu kepada Mona,dan gadis itu pun hanya diam membisu.


Ngomong-ngomong soal Mona apakah gadis itu sudah terbangun ? batin Banny bertanya saat dirinya terbangun di saat mentari sudah bersinar tinggi.


Perlahan ia menggeliatkan tubuhnya seraya meringis menahan pening di kepalanya yang kian berdenyut,merasakan tidurnya tak lepas.


Banny menarik napas panjang dengan menatap lurus jam weker yang berada tepat di atas nakas.Semoga saja pembantu beserta Ayahnya tidak mengetahui jika dirinya tidur terpisah dengan gadis itu.


Banny menyibakan selimutnya lalu segera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk terlebih dahulu membersihkan dirinya,setelah merasa lebih segaran ia pun kembali memakai pakaian santainya seperti biasa kaos oblong berwaran putih favoritnya yang menambah pesonanya, lalu tak lama ia pun keluar dari kamarnya hendak menemui sekertarsinya tersebut.


Hari ini adalah hari kedua usia pernikahannya dan kiranya masih ada dua puluh delapan hari lagi untuk bersama dalam satu atap bersama sekertarisnya tersebut,baru saja ia hendak menaiki anak buah tangga yang menuju lantai atas tempat dimana Mona tertidur lalu dengan bersamaan netranya menangkap sosok gadis itu yang sedang berkutat di dapur miliknya dengan di temani pembantunya bi Yayah yang sedang ngobrol dengan begitu akrabnya.


Pria tampan itu mengernyit lalu mengurungkan langkahnya dan perlahan mendekati ke arah ruangan dapur tersebut, memperhatikan dengan seksama aksi gadis itu yang tengah asyik menyiapakan sarapan pagi untuk dirinya bersama sang Ayah.


" Neng Mona ternyata pintar memasak juga yah ?" Puji bi Yayah dengan memperhatikan aksi gadis itu yang sedang asik membuatkan sarapan untuk Banny dan mertuanya.


" Bi Yayah,saya itu dari kecil memang sudah di ajarin untuk mandiri dan melakukan hal apa pun serba sendiri, jadi untuk hal seperti ini saya sudah terbiasa." Jelas Mona menoleh bi Yayah dengan tersenyum manis.


" Waduh !beruntung sekali yah den Banny mendapatkan neng Mona,sudah cantik ramah pandai masak lagi,bibi senang liatnya neng." Ucap bi Yayah menyanjung kembali gadis itu dengan tersenyum tulus.


" Akh bibi ini ya suka berlebihan jika memuji." Ucap Mona dengan tersipu.


" Tapi ini kenyataan neng,bibi memuji sesuai fakta di lapangan." Ucap bi Yayah so idealis.


" Haa...haa bibi nih lucu kalau berbicara." Sela Mona tersenyum lebar melihat kelucuaan sang pembatu suaminya tersebut.


" Neng Mona,jangan marah yah ?" Ucap si Bibi dengan ragu,lalu perlahan ia menoleh ke arah luar ruangan dapurnya,ia merasa takut ada orang yang menguping pembicaraanya.


" Loh marah kenapa bi ?perasaan bibi tidak membuat saya jengkel." Ucap Mona menatap heran.


" Bukan itu neng,tapi bibi mau bilang jika neng itu sama mantannya den Banny jauh berbeda,makanya saya sangat bersyukur jika si aden dapetin eneng,coba kalau den Banny nikah sama neng Kinaya,bibi mah yakin neng Kinaya mah cuman ngabisin uang si aden aja." Ujar perempuan itu dengan ekspresi berapi-api.


Mona menggeleng dengan tersenyum lembut ke arah perempuan yang usianya lebih muda dari neneknya itu.


" Bibi,yang berlalu biarlah berlalu,semua orang itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya,kita kan tidak pernah tau sifat seseorang sesungguhnya itu sepert apa." Jelas Mona tersenyum bijak.


" Iya juga sih neng,neng ini yah bener-bener istri idaman yah,perkataanya selalu baik." Ucap bi Yayah memuji kembali gadis itu.


Mona tersenyum ringan dengan perasaan penuh ke bimbangan,bagaimana pun tidak jika ia tidak menapik akan perjodohan ini,sesungguhnya kebahagian tersendiri bisa menikah dengan seorang Banny walau hanya tiga puluh hari menjadi istrinya,tapi bukan berarti dia harus mengemis atas perasaan nya sendiri.


Banny yang sedari memperhatikan kegiayatan gadis itu mematap nanar,entah kenapa perasaan semakin di lema antara keputusan dirinya menceraikan gadis tersebut,dan apa yang di ucapkan bi Yayah serta Mona itu terekam jelas di indra rungunya tersebut,jika dirinya memang beruntung bisa menikah dengan sosok gadis seperti Mona,apa lagi yang harus di cari olehnya dari sosok gadis itu,tak ada sedikit pun kekurangan yang fatal di dalam dirinya dan hal itu jelas sangat berbeda dengan mantan kekasihnya Kinaya maupun Arnetta,perempuan yang pernah ia sukai sebelum akhirnya ia menyukai gadis sederhana ini.


" Apa yang sedang kamu lakukan disini Mona ?" Tanya Banny menghampiri gadis tersebut perlahan.


Mona menoleh ke arah suara pria tersebut dengan sedikit terhenyak begitupun dengan sang pembatunya merasakan hal yang sama,wajahnya memias perempuan itu resah akan pembicaraanya di dengar sang majikan.


" Aden !!" Panggil bi Yayah tersentak.


" Aku,aku sedang membantu bi Yayah menyiapkan sarapan untuk kamu dan papah." Ucap Mona dengan tersenyum kaku.


" kamu buat sarapan apa hari ini ?memangnya kamu bisa masak ?" Tanya Banny semakin mendekat.


" Jangan suka meremehkan aku ya !" Ucap Mona dengan mendilak lalu tersenyum ringan.


Bi Yayah menatap dengan tersenyum-senyum melihat pasangan pengantin baru itu yang masih terlihat sangat kaku.


" Kamu mau di bikinin apa ?" Tanya Mona menoleh.


" Aku ingin kamu buatkan nasi goreng spesial buat aku." Ucap Banny seraya menepi di samping Mona dengan tatapan yang sulit ia artikan.


Mona terdiam sesaat pria itu mendekat ke arahnya,ia hanya berpikir jika pria tampan itu sedang berakting karena di situ ada pembantunya tersebut.


" Beneran kamu mau aku buatin nasi goreng ?" Tanya Mona dengan perasaan ragu menoleh pria itu yang jaraknya semakin dekat.

__ADS_1


Banny mengangguk lalu tersenyum lembut dan senyumannya itu entah kenapa terlihat sangat manis,antara heran sekaligus takjub bercampur aduk menjadi satu di benak gadis tersebut,ada angin apa pria dingin berwajah tampan itu bersikap baik ke padanya,apakah ia bersikap seperti itu karena ada bi Yayah di dekat mereka,sehingga pria tampan itu berakting dengan sangat totalitas Mona menatap kian ragu.


" Ayo buatkan!,aku penasaran ingin lihat kamu masak dan mencicipi masakan dari tangan kamu." Ucap pria itu menatap dengan seksama,Mona yang masih terlihat linglung atas perubahan sikap bosnya tersebut terlihat gugup,sehingga ia bingung harus melakukan apa terlebih dahulu.


Mona menghela pelan lalu tersenyum penuh curiga ke arah bosnya tersebut,jangan bilang pria tampan ini sedang membuatnya geer atas perubahan sikapnya itu.


Banny tersenyum sangat manis saat gadis itu menatap penuh tanya ke arahnya,seakan-akan ia mengetahui akan perasaanya tersebut.


" Kenapa kok kamu malah jadi bingung gitu?aku serius mau di bikinin nasi goreng buatan kamu itu." Ucap lagi Banny seraya menelusupkan tangannya di pinggang gadis itu.


Mona terhenyak setelah melihat aksi bosnya itu yang selalu bersikap di luar akal sehatnya.


Bi yayah tersenyum risih menatap kemesraan yang di tampilkan pasangan pengantin baru tersebut.


" Aduh den ini yah,bikin bibi iri aja dehh !" Ucap bi Yayah malu sendiri seraya mencari-cari sesuatu yang sendirinya tak tahu apa yang di maksud.


" Iri kenapa bi ? " Tanya Banny mengernyit.


" Iri atuh,jadi ingat masa muda bibi dulu,kalau awal nikah suka malu-malu." Ucap bi yayah seraya menyodorkan beberapa bumbu yang di minta oleh Mona.


" Bibi pernah muda juga ya ? " Tanya Banny dengan sedikit berkelakar.


" Pernah atuh den,memangnya bibi teh langsung lahir tua begini." Ucap si bibi tersentum tipis.


Banny tersenyum lebar seraya mengangguk-ngangguk dan menoleh ke arah Mona yang terlihat canggung atas aksi nyelenehnya tersebut.


" Ayo dong sayang,aku sudah lapar,buatkan aku nasi goreng !" Ucap kembali Banny seraya tersenyum lembut.


" Bapak jangan bercanda,turunkan tangan bapak,saya tidak enak di lihat bibi." Ucap Mona setengah berbisik lalu berpura-pura menunduk membetulkan tali celemeknya.


" Kamu sudah jadi istriku,jadi setidaknya aku berhak menyetuh kamu." Balasnya dengan ikut berbisik.


Gleekkkkk.....


Gadis itu menelan air liurnya kuat-kuat lalu menoleh ke arah wajah pria tampan itu dan mata belo nya membulat sempurna saat pria itu membalas bisikan nya dengan pernyataan yang cukup mendesirkan aliran darahnya.


Mata gadis itu melirik dengan perasaan kesal lalu ia pun mengabaikan tangan pria itu,sesaat ia mencoba menahan perasaanya yang mulai membuatnya nervouse.


" Awww !!"


Serunya seraya melepaskan cepat pisau tersebut dan memegang jari tangannya yang terluka.


Banny tersentak saat melihat jari telunjuk Mona mengeluarkan darah meski tak sedalam itu lukanya entah kenapa perasaan nya di rundung rasa cemas,luka itu memang tidak teralu dalam tapi cukup membuat gadis itu merintih kesakitan.


Dengan repleks pria tampan itu meraih tangan gadis tersebut dan menyesapnya mencoba menghentikan aliran darahnya yang terus keluar.


Mona terhenyak sesaat pria tampan bergerak cepat memberikan pertolongan kecil kepada jari telunjuknya yang berdarah dengan mengemut jarinya tersebut,lalu di tatapanya dengan lekat wajah pria tampan itu yang mencemaskan akan keadaannya,tak terbayangkan olehnya jika kejadian ini akan berlangsung begitu saja.


Bi Yayah yang ikut terkejut atas insiden kecil tersebut, sesaat terlihat malu sendiri nemanatap kemesraan yang di tampilkan majikannya tersebut kepada sang istri,melihat Banny yang begitu sigap ketika jari istrinya terluka.


Banny melepaskan emutan nya tersebut lalu tak lama ia mencuci mulutnya di wastapel cuci piring,lalu kembali menatap jari Mona yang masih di peganginya.


" Masih perih ?" Tanyanya dengan raut wajah panik.


Mona terdiam menatap kaku ke arah pria tersebut dengan berbagai perasaanya yang kian terasa kacau.


Apakah ini termasuk dari sekenario bosnya dalam bersandiwara,tapi...??


Kejadian ini kan betul-betul murni kecelakaan dan tidak mungkin insiden kecil ini bisa di buat-buat.


Mona menatap dalam pria itu,begitupun Banny ia melakukan hal yang sama dan menatap dalam ke arah gadis itu yang pagi ini Mona memang terlihat sangat frees.Meski rambutnya di sanggul tinggi dan sedikit berantakan namun entah kenapa ia merasa gadis ini terlihat sangat mempesona dan berhasil membuatnya merasa gemas melihatnya.


Andai saja dari awal ia tak melakuakan sandiwara ini mungkin ia sudah tersenyum bahagia memeluk erat bahagua gadis yang sangat di cintainya,namun entah gengsi atau apa yang menahannya untuk mengakhiri perasaanya tersebut.


" Maaf Aden,neng Mona,sepertinya bapak tuan udah manggil,mungkin mau sarapan pagi bersama." Ucap bi Yayah menghentikan aksi tatap-tapan majikannya tersebut.


" Bi,bibi antar saja sarapan buat papah,bilang sama papah,Mona sama saya mau bikin nasi goreng dulu,bibi temanin papah sarapannya yah." Ujar pria itu menoleh pembantunya.


Mona mengernyit lalu menatap dengan perasaan aneh terhadap bosnya tersebut.

__ADS_1


" Papah nanti marah,kita gak sarapan bersama!" Sela Mona dengan menarik tangannya dari cekalan pria tampan itu.


" Papah pasti ngertii sayang." Balasnya kian membuat Mona semakin linglung.


" Baik den." Ucap bi Yayah dengan mangangguk penuh hormat.


Tak lama bi Yayah berjalan meninggalkan Banny dengan Mona dengan membawakan sarapan pagi yang sudah di buatkan oleh Mona.


Mona menggeser posisi berdirinya untuk menjauh dari pria tampan itu,Banny melihat sikap gadis itu hanya tersenyum tipis.


" Kenapa bapak bersikap seperti itu di depan bi Yayah ?" Tanya Mona seraya meraih sebuah penggorengan.


" Memangnya kenapa ?,Yaa meskipun kita hanya bersandiwara tapi pernikahan kita sah di mata hukum.


" Lalu bapak bisa seenaknya memperlakukan sesuatu hal yang bapak suka.


" Kamu keberatan ?


" Jelas lah pak,pernikahan ini hanya sandiwara,dan itu artinya bapak tidak berhak melakukan hal di luar kehendak saya.


" Kita sudah sah menjadi pasangan suami istri,jadi itu artinya aku berhak memperlakukan kamu sebagaimana layaknya pasangan suami istri.


" Apa ??maksud bapak, jadi bapak berhak gitu memperlakukan saya seperti layaknya saya itu istri bapak.Maaf pak itu saya tidak bisa.


Banny terdiam lalu menatap dalam gadis itu.


" Saya di sini hanya sebagai istri sandiwara,tak lebih,jadi tolong bapak harus bisa jaga sikap." Ucap Mona dengan penuh penekanan.


Banny menatap remeh ke arah gadis tersebut yang menolaknya secara tak langsung.


" Jika aku tidak ingin mengakhiri sandiwara ini bagaimana ?" Tanya Banny menatap tegas gadis itu,Mona terhenyak lalu menatap dengan tajam ke arah wajah pria tersebut.


Kepalanya terasa kian berdenyut tak karuan setelah mendengar pertanyaan pria itu yang berhasil membuatnya shok.


" Kalian tidak menemani papah sarapan pagi ?" Tanya sang Ayah tiba-tiba menyela,Banny dan Mona terhenyak kaget atas kehadiran papahnya tersebut yang entah sejak kapan pria itu sudah memasuki dapur dan menyelanya dengan melayangkan sebuah pertanyaan di antara perdebatan putra dan menantunya tersebut.


" Papah ???" Ucap Banny dengan tercengang,pikirannya menjadi kacau sektika.


Apakah sang Ayah mendengar percakapannya tersebut?


Raut pria tampan itu berubah genting.


Perasaan yang sama sedang di rasakan oleh gadis yang berdiri tak jauh,namun selintas tak ada ekpsresi terkejut ataupun tertekan dari raut wajah tenang tersebut.


" Banny,eu mau di bikinin nasi goreng sama Mona." Ucap Banny dengan wajah kian resah.


" Kamu bisa memasak ?" Tanya sang Ayah menatap lembut menantunya tersebut.


" Bi bisa pah,papah mau saya buatkan juga ? " Balas Mona terlihat gugup.


" Tidak Mona,terimakasih." Ucap sang Ayah tersenyum lembut.


Mona menghela lalu menoleh Banny dengan raut wajah tanpa ekspresi.


" Papah sudah sarapan ?" Banny mengalihkan pertanyaan lain.


" Belum,papah pikir kalian akan sarapan bersama."


" Banny ingin di buatkan nasi goreng sama Mona,iya kan sayang,soalnya dia pintar masak pah." Ucap Banny seraya menoleh ke arah Mona yang masih tertegun.


" Oya ?,bagus itu biar kamu tidak makan di luar jadi lebih ekonomis." Ucap sang Ayah dengan wajah datar.


Banny dan Mona saling berpandangan satu sama lain,entah mengapa mereka merasakan jika pria itu mendengar penuh semua obrolannya.


" Ok !Kalian lanjutkan kembali masaknya,papah sarapan duluan yah !" Ujar pria separuh abad itu menatap keduanya dengan ekspresi tak biasa.


Banny mengangguk dengan rersenyum hambar,meraskaan perasaan nya di liputi perasaan curiga,ia was-was jika sang Ayah mendengarkan obrolannya tadi,dan itu artinya sang Ayah akan kecewa,namun jika di lihat dari ekpresinya biasa-biasa saja,tak ada tanda jika sang Ayah shok atau pun tekejut.


Tapi.....

__ADS_1


Yaa sudahlah semoga saja sang Ayah tidak mendengar,dan kalau pun mendengar nanti ia akan jelaskan semuanya,mungkin ini lah saatnya ia harus berterus terang akan sandiwara ini.


__ADS_2