CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 167


__ADS_3

BANNY meletakan cangkir yang bersisi caffucino panas.Matanya masih intens ke layar laptopnya dengan tatapan kosong.Tak lama ia menatap jam yang melingkar di tangan kananya,waktu sudah menunjukan pukul 22.00 WIB.


Banny menghela napas panjang lalu menyugar lembut rambutnya,pikirannya masih terasa rumit dengan perasaan yang sedang di rasanya saat ini.


Banny menoleh ke arah Mona yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya dengan pulas.


Banny sejenak menatap dalam wajah gadis itu,di pandanginya begitu candu.


Tak terpikirkan oleh dirinya jika dia akan begitu saja jatuh cinta terhadap sosok gadis sederhana ini.Jauh sebelum hadirnya sosok gadis ini dirinya memang berkeinginan untuk menutup perasaanya untuk perempuan mana pun,akan tetapi TUHAN mempunyai rencana lain sehingga dirinya di jodohkan oleh sang Ayah terhadap gadis pilihannya.


Banny semakin lekat menatap wajah polos gadis itu,entah kenapa di benaknya muncul perasaan tak ingin kehilanga akan sosok gadis ini.Banny tertegun menatap kaku setelah ingatannya kembali di ingatkan akan sosok Angkasa pria yang kini tengah gencar mendekati istri sandiwaranya tersebut.


Ada perkataan Angkasa yang membekas di hatinya sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.


Banny mengingat kembali bagaimana dirinya begitu arogan menyikapi sikap Angkasa yang secara gantelman menyatakan dirinya siap menjadi suami Mona yang akan menggantikan posisi dirinya.


*flasback*


Sebelum Banny memutuskan untuk keluar dari toilet, dia menyempatkan diri berdiri di depan cermin washtapel lalu mematuti pelampilannya yang begitu terlihat menawan.


Tak lama Angkasa keluar dari kamar kecil itu dan perlahan mendekat ke arah posisi Banny berdiri dan ia pun berdiri penuh wibawa di samping Banny seraya tak lupa membenarkan dasinya.


Angkasa menatap dengan berbagai perasaan ke arah cermin washtapel tersebut.


Menyadari adanya Angkasa di sampingnya Banny mendehem lalu menatap pria itu dengan seksama.


" Maaf pak Angkasa,saya masih terganjal dengan apa sebenarnya tujuan anda menjalin kerja sama dengan perusahan saya ini ?" Tanya Banny dengan menatap tajam,ia berkata dengan intonasi yang cukup berat.


Banny yang dari awal sudah tidak merasa nyaman dengan sikap fatner perusahaanya itu kini dirinya memberanikan diri untuk bertanya secara pribadi tanpa harus ragu dengan ke hadiran Mona.


Angkasa tersenyum sinis lalu mendengus pelan.Pertanyaan Banny di rasa membuatnya dirinya semakin terpancing untuk mengatakan hal apa yang sebenarnya dia maksud.


Mungkin jika ini adalah urusan pekerjaan bisa saja dirinya akan mempertimbangkan nya kembali, namun ini adalah sebuah perasaan dan sepertinya ia pantang untuk tidak memperjuangkannya.


" Kenapa anda begitu penasaran dengan alasan saya yang ingin bekerja sama dengan perusahaan anda.Terlebih perusahaan yang sekarang ini sedang di kelola oleh istri anda." Angkasa mengernyit dengan mencibir halus.


Wajah Banny berubah drastis setelah pria itu justru malah balik tanya kepadanya.


Banny terdiam menatap dengan dingin.


" Kenapa justru anda malah balik tanya akan hal itu ?" Ucap Banny mulai gusar.


" Perasaan itu tidak akan pernah bisa di bohongin sekalipun kita pandai mengingkarinya,yaa jika hati ini sudah tertuju terhadap seseorang maka,aku secara pribadi akan terus memperjuangkannya." Ucap angkasa dengan nada bicara penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Sesaat Angkasa menoleh ke arah Banny yang masih terdiam menatap bayangannya melalui pantulan di cermin dengan tatapan mulai tak biasa.


Banny perlahan menggeser pandangannya lalu menatap dirinya ke arah pantulan bayangannya di cermin dengan perasaan muak.


Pria tampan itu menarik napas lalu tersenyum tipis.


" Saya rasa itu tujuan anda selama ini hanya sebuah modus saja !" Tegasnya pelan namun sampai ke telinga sang pria berwajah karismatik tersebut sangat jelas.


Angkasa menggeleng dengan tersenyum puas.


" Hanya menyelam sambil minum air." Ungkap Angaksa tersenyum mengejek.


Banny melengos dengan perasaan kian kaku.


" Ada sebuah keinginan terbesarku yang ku maksudkan dari kerja sama ini dan itu tak hanya sekedar jalinan bisnis semata.Jadi saya katakan dengan jelas jika saya benar-benar telah mencintai Mona,istri sandiwaranya anda.Pak Banny." Ungkap Angkasa tandas.


Dekkk


Palu godam berukuran raksasa terasa menghantam kuat perasaan dirinya dan itu seketika membungkam perkataanbnya.


Entah kenapa amarahnya memuncak sesaat pria berkarismatik itu dengan lantang menyatakan perasaannya terhadap Mona.Tanpa berpikir panjang lagi Banny pun......

__ADS_1


Buggg!!!!


Repleks Banny mengayunkan kepalan tangannya dan mendarat di wajah tampan Angkasa.Sebuah pukulan keras tepat tak dapat di hindari sehingga menyebabkan Angkasa tercekat kaget.


Cukup rasanya pria tampan itu yang sedari tadi menahan amarahnya dalam menghadapi sikap pria ini lepas juga amarahnya sehingga bogem mentah di dapatinya oleh seorang Angkasa.


Banny yang sedari tadi telah berusaha menahan amarahnya hanya demi menjaga atitudenya sekaligus menghormati Angkasa sebagai seseorang yang sedang menjalin kerja sama dengan dirinya,


justru sepertinya kali ini amarah itu tak bisa lagi terkontrol.Terlebih di saat mengetahui Angkasa menyatakan tujuan nya di balik semua jalinan kerja sama dengan dirinya semata hanya untuk mendapatkan Mona.


Angkasa terlihat shok dengan sedikit terdorong dia terhuyung menahan panas di pipinya.


" Jangan memaksa aku untuk berbuat lebih kasar !!,aku bisa saja menarik keluar semua asetmu dari perusahannku ini!!aku tidak butuh kolega seperti anda.Silahkan tarik kembali investasi anda dari perusahan saya ini !!" Terang Banny dengan amarah yang tak terkontrol hingga napasnya terlihat menderu.


Tulang rahang pria tampan itu mengeras menahan amarahnya yang kian menjadi-jadi.


Angkasa meringis menahan rasa panas yang terasa membakar wajahnya.


" Saya tidak akan pernah takut untuk kehilangan mitra bisnisku,termasuk perusahan besar anda.Dan perlu anda ingat !jika saya akan tetap memperjuangkan perasaan ini,karena saya tau anda tidak pernah mencintai istri anda itu!" Jelas Angkasa dengan terus meringis.


Banny membulatkan matanya dengan sempurna, menatap tajam seolah-olah akan menelan bulat pria itu,dan entah kenapa amarahnya kian menjadi kian panas sesaat ucapan pria itu mampu menambah kian kobar api cemburunya.


Banny mengangkat tinggi wajahnya lalu menatap kian marah ke arah Angkasa yang terus memegangi pipinya.Dia sadar ia tak bisa semena mena untuk berbuat kasar terhadap pria berkarsimatik itu yang sekaligus orang yang sedang bekerja sama dengan dirinya.Banny mengepalkan tangannya tanda bahwa dia marah atas segala bentuk sikap pria itu.


Tak berpikir lama lagi Banny pun akhirnya memilih pergi tanpa bicara lagi dengan Angkasa yang masih terus meringiss kesakitan.


Baginya terlibat sebuah pertengkaran dengan Angkasa akan hanya memperburuk citranya sebagai pengusaha muda yang tengah naik daun saat ini.


Banny tersadar dari lamunanya lalu ia pun perlahan meraup wajahnya merasakan sebuah sesal yang tiada batas atas sikap arogansinya tersebut.


Dihempasnya kuat-kuat napasnya lalu menguar rambunya dengan kasar.


Banny menoleh kembali ke arah gadis itu yang tengah terlelap dalam buaian mimpinya,perlahan diapun bangkit lalu berjalan mendekati tempat tidur gadis itu.


Tanpa di sadari tangannya bergerak membenarkan selimut yang belum menyelimuti tubuh gadis itu secara sempurna.Sedikit dengan mencondongkan tubuhnya Banny menangkap jelas raut wajah gadis itu yang terlihat begitu lelap dengan buayan mimpi yang kini sedang menjamahnya.


Banny melihat itu dan diam-diam ia merasakan perasaan itu kian tumbuh menjadi begitu besar di dalam hatinya untuk gadis itu.


Gadis itu bergerak pelan lalu membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya,Banny menatap dengan lekat.Rasanya jiwanya ingin sekali mendekap erat tubuh mungil gadis itu memberikan kehangatan serta kenyamanan yang tak pernah di berikan olehnya.


Perlahan ia pun memberanikan diri mendekati wajah gadis itu menepekuri setiap inci pahatan wajah gadis itu yang semakin candu menatapnya.


Di tengah aksinya tengah mendekatkan wajahnya ke arah wajah gadis itu tiba-tiba Mona menggeliat lalu secara perlahan membuka matanya dan.....


Dengan waktu bersamaan Banny terhenyak kaget setengah mati jika Mona terjaga dari tidurnya dengan begitu saja.


Tak terelakan lagi keterkejutannya membuat Banny sesaat tertahan menatap tegang ke arah wajah gadis itu.


Mona yang sedang menggerecepkan matanya terlihat berusaha meyakinkan penglihatannya.Dan......


Dengan repleks Mona pun terkejut bukan main setelah menyadari wajah pria tampan itu sedang berada dekat di hadapan wajahnya.


Mona berteriak dengan histeris sesaat melihat aksi Banny yang berhasil membuatnya berpikiran burukk.


" KYAAAA !!!" Teriaknya histeris sehingga dengan repleks Mona pun mendorong kuat tubuh Banny yang masih tertahan.


Nyaris saja Banny terjungkal ke belakang akibat dorongan kuat Mona.


Dengan cepat Mona segera keluar dari selimutnya itu lalu bangun dari tempat tidurnya.


Banny yang sama sama ikut terkejut ia pun segera mengambil sikap dengan membenarkan posisi tubuhnya dengan sigap ia berusaha menetralkan perasaanya untuk mengusir perasaannya yang tiba-tiba ikut gugup.


" Apa yang akan mas lakukan ?" Tanya Mona menatap panik.


" Aku tidak seburuk apa yang kamu pikirkan,ingat itu.!" Sergah Banny dengan cepat.

__ADS_1


" Tapi,tapi ???" Ucap Mona meragu.


Banny terlihat kebingungan melihat sikap tak percayanya Mona.


Mona menggeleng dengan perasaan kian resah.


" Tapi kenapa mas ada di dekat tempat tidurku ?" Tanya Mona menatap penuh jawaban.


" Mas hanya ingin memandang wajah kamu saja,tak lebih." Ujar Banny berusaha terus meyakinkan gadis itu.


Mona mencoba menutup tubuhnya yang sedikit seksi itu dengan selimut tebalnya.Kuoit dahinya terlihat berkerut mencoba mencerna omongannya pria tampan itu.


Entah kenapa perasaannya tiba-tiba terasa terancam dengan aksi pria tampan itu,percaya atau tidak ia merasa jika pria itu mulai menginginkan sesuatu dariya.


Kedua mata Banny melebar dengan sempurna sesaat melihat paha mulusnya Mona terbuka begitu saja.Menunjukan tubuhnya yang sangat ideal nyaris sempurna dengan dada yang membusung naik turun atas deru napasnya yang tersenggal senggal yang di sebabkan oleh perasaan keterkejutannya.


Naluri Banny sebagai lelaki normal keluar setelah melihat stelan baju yang di kenakan Mona ketika tidur cukup menggugah naluri ke laki-lakiannya.


Dengan cepat Banny segera memalingkan wajahnya dari pandangannya itu ke arah lain.Supaya jangan melihat tubuh Mona yang sudah menggoda imannya tersebut.


Walaupun ia sudah menikahi gadis itu secara sah,namun pria itu belum berani untuk menyentuh gadis itu secara gamblang.Alasannya dia belum begitu berani menyentuh gadis itu alasan hasratnya.


Walaupun di sisi lain ***** dan gairahnya kerap berontak menginginkan hal yang ia bayangkan namun ia selalu bisa menahannya atas segala gensinya yang sekokoh gunung salju.


" Mas !!" Panggil lagi Mona yang menatapnya dengan penuh tuntutan.


" Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu benar-benar menerima perasaanku !" Ungkap Banny dengan suara seraknya yang di selimuti rasa gairah.


Mona menatap dalam pria itu yang terus menghindari tatapannya agar tidak menatapnya secara berlebihan.


Mona menarik semakin lebar selimutnya agar tubuhnya tertutup dengan sempurna.


" Lalu ???" Tanya Mona dengan ragu dan was-was.


" Lalu apa ??" Tanya Banny heran.


" Lalu kenapa mas masih disini, mas tidak tidur di sofa sana ?" Ungkap Mona pelan.


Banny menarik napas sesaat ia sadar jika dirinya masih berada di dekat kasurnya Mona.


Banny menarik napas panjang lalu mengusap frustasi wajahnya,hanya itu reaksi yang muncul dari gadis itu sesaat ia mengatakan kembali isi hatinya.


" Pyuhhh !!" Banny menghela napas pasrah.


" Ok !,kamu tidur kembali.Maaf aku sudah menggangu tidur kamu." Ucapnya seraya tersenyum lembut.


Mona terdiam lalu mengangguk pelan.Tak habis pikir rasanya jika pria tampan itu hanya memandang wajahnya dalam sedekat itu ??


Yang benar saja jika pria itu gak ada kerjaan malam-malam gini mandanging wajahnya ???


Untuk apa ??


Batin gadis itu kian tak bertepi bingung dengan sikap anehnya pria tampan itu.


Mona menatap pundak pria tampan itu yang berjalan menjauh dan melangkah menuju sofa tempat biasa dia tidur,entah kenapa perasaanya semakin resahh melihat sikap pria itu yang semakin lain kepada dirinya.


antara percaya dan tidak hal itu membuatnya semakin merasakan dilema.


Tak lama Banny menoleh ke arah Mona yang masih menatap panjang ke arah dirinya.


Banny merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.Kenapa dia semakin tertarik kepada gadis itu dan perasaannya kian tertuju kuat terhadap sosok gadis itu.


Ah entahlah teriakannya tadi begitu merdu dan terngiang-ngiang di telinganya,padahal sebelumnya suara cempreng gadis itu sempat membuatnya snagat terganggu,namun kini menjelma bak nyanyian rindu yang menggugah perasaanya.


Ahhh rasanya seidiot itu ia merasakan jatuh cinta terhadap gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2