CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 158


__ADS_3

" AKU tidak ada waktu lagi untuk menunggu,bisakah kamu mempercepat dandanan mu Mona ?" Ucap suara berat dari balik pintu kamar meneriaki gadis yang masih berada di dalam kamarnya hingga Banny detik ini.


Mona yang masih mematung mematuti dirinya di hadapan cermin menatap dengan seksama akan penampilannya tersebut.


Hari ini adalah hari persemian anak cabang perusahaan suaminya,tentunya suami yang statusnya suami palsunya.


Mona menoleh ke arah pintu tersebut.


" Iya mas,tunggu sebentar lagi." Balas Mona gugup saat suara berat itu cukup membuatnya tersentak.


Tak lama ia mengambil sebuah kotak merah berukuran kecil berisikan sepasang giwang cantik bermata indah.Dengan gerak cepat ia pun segera memasangkan salah satu giwang di telinganya ,tepat di saat bersamaan Banny menyembul dari balik pintu kamar tersebut dan menerobos tanpa permisi.


Pintu terbuka lebar penampilkan ke adaan gadis itu,di lihatnya Mona sedang memasang giwang di lubang tindik telingan nya.Mata pria itu membulat sempurna menampilkan sorot mata yang terlihat penuh pesona atas penampilan gadis tersebut.


Sejak kapan gadis ini mulai terlihat pintar memoles wajahnya dengan sedemikian cantiknya,^dan sekaligus berpenampilan semenarik ini ?


Banny memperhatikan gadis itu secara detail.Tak ada satupun bagian tubuh dari gadis itu yang luput dari pandangan matanya.


Tatapan pria tampan itu tertuju penuh ke arah gadis itu dengan terpana.


Mona menoleh sesaat, namun ia kembali memasangkan giwang cantiknya tersebut.Namun sepertinya kali ini Mona mengalami kesulitan untuk memasangkan salah satu giwangnya hingga ia terlihat berulang kali kesusahan memasang giwang tersebut,dan benar saja giwang tersebut sepertinya tidak bisa tersemat dengan baik di tindikan telinganya.


Banny perlahan berjalan ke arah gadis itu lalu tanpa di mintai pertolongan,ia membantu memasangkan giwang tersebut di telinga gadis itu.Mona terkejut di saat tangan kekar pria tampan itu meraih tangannya,meski ia ingin menolaknya namu persaannya entah kenapa merespon akan aksi pria tanpan itu,Mona membiarkan pria itu membantu dirinya untuk memasangkan giwangnya tersebut.


Gadis itu terlihat menahan pelan laju napasnya ketika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dua kali lipat dari biasany, dan rasa-rasanya ia ingin menghilang begitu saja di saat tangan pria itu bersentuhan dengan kulit bagian atas kuduknya.


Panas dingin mulai mengganggu di peredaran darahnya.


Dengan tak sengaja netranya Banny menatap kulit pundak gadis itu,menampilkan bulu remang halus yang begitu indah tumbuh di kulit putihnya Mona dan itu berhasil membuat otak nakalnya Banny traveling keliling eropa.


Andai saja dia memiliki nyali sebesar itu mungkin gadis ini akan seutuhnya dia miliki di dalam ikatan yang sah.


Pria tampan itu mendesah mengeluarkan napas hangat sehingga menyapu lembut pundak gadis itu.


Mona menarik napas sesaat hembusan napas pria tampan itu mampu membuatnya sedikit meresah.


" Sudah mas ?" Tanya Mona menyadarkan alam bawah sadarnya Banny.sontak hal itu membuat Banny terhenyak kala pertanyaan gadis itu membuyarkan pikiran mesumnya.


" Su sudah." Ucap Banny dengan segera melepaskan tanganya lalu mundur beberapa langkah.


" Terimakasih." Ucap Mona seraya merapihkan sanggul rambutnya serta giwangnya tersebut.


Banny tersenyum enteng lalu berbalik berjalan menuju pintu keluar.


Mona menghela,sikap pria itu akhir-akhir ini memang mulai meresahkan kembali perasaan nya.


**********


Tepuk tangan yang begitu meriah bergema memenuhi pelataran sebuah gedung yang baru saja di resmikan oleh seorang pemilik perusahan tesebut.Acara yang berada di autdoor itu terlihat sangat meriah meski hanya perayaan gunting pita,namun acara peresmian itu terlihat sangat berkesan.


Setelah pemilik gedung memberi sambutan sekaligus meresmikan anak cabang perusahaanya tersebut,pria bersetelan jas hitam itu terlihat mengukirkan senyumannya yang begitu menawan seraya merangkul hangat pria separuh baya yang sedari tadi berdiri tak jauh di sampingnya.Pria yang selalu berdiri di belakangnya dengan mensuport penuh dalam kehidupannya,dan cara peresmian anak cabang perusahaan itu pun berjalan dengan lancar.


Pria tampan itu terus mengukir senyumannya berjalan menyalami setiap para tamu yang berdiri di barisan depan.


" Selamat pak Banny,semoga anak cabang perusahaan yang baru ini akan semakin sukses kedepannya,mengikuti jejak perusahaan sebelumnya." Ucap pria separuh baya itu mengulurkan tangannya.


" Terimakasih pak Wisnu." Balas Banny mengangguk penuh hormat.


Banny menoleh ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya,dan pria itu pun menatapnya dengan cermelang senyumannya terlihat tulus namun ekpresi wajahnya terlihat dingin.


" Selamat dan sukses pak Banny atas peresmian kantor barunya ini,semoga berjalan lancar dan sukses selalu." Ujar pria itu tersenyum.


" Terimakasih pak Angkasa atas ucapannya,tentunya saya menantikan kerja sama selanjutnya atas anak cabang perusahaan saya yang baru ini." Tutur Banny dengan menatap penuh wibawa ke arah Angkasa.Pria tampan itu mengulas senyuman dengan penuh rasa bangga.


" Tentu saja,semoga kerja sama ini akan tetap terjalin hingga waktu yang tidak bisa di tentukan hee hehee." Ucap Angkasa menyalami pria tampan itu dengan hangat dan tertawa renyah.


Banny tersenyum seraya menerima jabat tangan pria berwajah karismatik tersebut dengan sedikit kaku.


" Tentu pak ! " Balas Banny dengan di ahkiri tepukan kecil di pundak lebar pria berwajah karismatik tersebut,Angkasa merespon,pria itu pun hanya mengacungkan ibu jarinya hingga atas dengan tersenyum kecil.


Tak lama Banny berjalan kembali menghampiri beberapa tamu kehormatan lainnya.


Banny pria muda berparas tampan yang tiada lain pendiri sekaligus anak tunggal dari pemilik anak cabang perusahaan PT tirta logistic dengan jabatan sebagai Direktur Utama terlihat begitu berwibawa,raut wajahnya terlihat begitu lega setelah acara peresmian tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun.


Sedikit ulasan saja,anak cabang perusahaan yang baru saja ia resmikan tersebut masih bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan sebelumnya yaitu Expedisi dalam maupun luar negri.


Namanya yang kini semakin menjadi perbincangan hangat di kalangan perusahaan di bidang yang sama,karena keberhasilannya menjadikan perusahaanya tersebut begitu kompeten dalam pelayanan jasa pengiriman logistik maupun non logistic di tambah bisnisnya kini mulai merambat di dunia properti menjadikan dirinya salah satu pengusaha muda terkaya di nusantara ini.


Pantas saja jika di usianya yang terbilang muda ini kinerjanya patut di perhitungkan dalam dunia perbisninsannya.

__ADS_1


" Bann !"


Banny menoleh ketika namanya di panggil seseorang.


" Zean !" Banny berbalik,menyambut seorang pria yang usianya tak jauh berbeda dengan dirinya yang tiada lain Zeanu sahabat sekaligus orang yang telah di percaya untuk mendesain pembangunan perusahaannya tersebut.


Dan hasilnya sangat memuasakan atas rancangan sahabatnya itu yang begitu mahir dalam mendesain gedung perkantorannya.


Nama Zeanu mulai berpengaruh dalam dunia arsitektur gedung-gedung perkantoran.


" Good luck !!" Ucap pria itu setibanya di hadapan Banny dengan menjabat erat tangan sang sahabat itu.


" Thank's my bro !!" Ucap Banny tersenyum enteng.


Mereka bersalaman dengan penuh solid.


" Luar biasa hasil karya tangan dingin lo ini, memuaskan." Decap kagum Banny menatap haru sang sahabatnya.


Zeanu tersenyum menampilkan raut wajahnya penuh dengan ekspresi syukur.


" Syukurlah jika pekerjaan gue ini bisa elo terima dengan senang hati." Ungkap Zeanu menatap dalam sabahatnya.


Meski memang akhir-akhir ini jalinan persahabatan mereka sedikit terganggu atas kehadiran sosok gadis di hati mereka,meski tidak seintens dahulu,namun Zeanu maupun Banny tetap menjaga hubungan persahabatan mereka dengan baik.Walau persaingan itu tetap hadir secara tak langsung mewarnai perjalanan kehidupan mereka.


" Tentu saja,pekerjaan sekelas ini tidak mudah gue percayakan terhadap orang lain." Imbuh Banny dengan memasukan kedua tangannya di kedua saku celananya.


" Ah,itu hanya sebagian kecil testimoni gue saja, dan spesial buat lo !" Ujar Zeanu dengan tersenyum tipis.


" Zean,Zean.Lo masih aja kaku.Hari gini tak ada yang namanya testimoni,semua ada nilainya." Banny terkekeh melihat sikap Zeanu.


Zeanu mengangkat kedua bahunya dengan acuh,rasanya ia terlalu sensitif jika harus membahas masalah nilai upah yang harus ia terima saat ini atas hasil karyanya tersebut.


" Anggap saja ini adalah progres awal untuk karir gue,dan elo bisa mempromosikan ini ke perusahaan lain." Balas Zeanu dengan enteng.


Banny tersenyum enteng.


" Hidup tidak semudah itu kawan,kita harus saling menguntungkan apapun itu materinya." Jelas Banny berusaha menolak ke inginan sahabatnya.


" Dalam berbisnis kita tidak mengenal kata harga pertemanan,semua butuh modal dan pengorbanan." Ujar Banny tersenyum.Dirinya tak ingin mempergunakan kesempatan ini untuk kepentingan pribadinya,ia akan tetap membayar sahabatnya itu sebagaimana mestinya ia harus bayar.


Zeanu terdiam menyoroti sahabatnya itu dengan seksama.


" Baiklah,atur saja.Lo yang berhak membayar gue,berapa pun nilainya akan gue terima." Ungkap Zeanu tersenyum datar.


" Shiit!! itu sama saja Zean,lo benar-benar tak pernah berubah,selalu bersikap tak enakan." Ucap Banny menggeleng seraya terkekeh.


" By the way,gimana kabar pernikahan elo ?" Tanya Zeanu mengalihkan pembicaraanya.


Kedua mata pria tampan itu menyipit hingga menampilkan kulit dahinya berkerut.


" Ada angin apa lo bertanya hal itu ? " Tanya Banny mulai menatap gusar.


" Yaa,secara bulan ini akan berakhir menyisakan satu pekan lagi yang mendatang,dan itu artinya lo akan bersiap-siap mencari alasan untuk menggugat cerai Mona." Ujar Zeanu menatap dalam pria tampan itu.


Wajah tampan Banny berubah dingin,senyuman yang mengembang kini menguap entah kemana seiring pertanyaan itu terlontar dari mulut sahabatnya.Tentu saja hal ini sangat menggangu pikirannya.


" Kenapa lo peduli dengan urusan ini ?" Tanya Banny dengan menatap tegas wajah sahabatnya sekaligus fatner kerjanya itu.


" Peduli,jika kebahagiaan Mona adalah harapan gue. " Ucap Zeanu menatap serius.


Seketika suasana pun berubah kaku.


" Lo masih menyimpan perasaan lo itu " Tanya Banny menatap selidik sahabatnya itu.


Zeanu menghela lalu tersenyum dengan penuh ironi.


" Perasaan gue tetap sama,tapi ke adaan tak bisa merubahnya.Apa perlu gue tegaskan lagi jika di antara gue dengan Mona tidak akan pernah bersama ?" Ujar pria pemilik wajah tenang itu menatap dengan sorot mata yang berbeda.


" Ah,lo terlalu di bawa perasaan." Banny menepis dengan tersenyum kecut.


" Cuman mengingatkan saja bro,bahwasannya ada selain gue yang menyayangi Mona,karena ada pria lain yang sedang menanti sandiwara lo berakhir." Imbuh Zeanu dengan terlihat santai.


" maksud lo ?" Sergah Banny dengan cepat.


" Tidak kah elo menyadari jika di ujung sana ada seseorang yang sedang mengharapkan Mona." Ujar Zeanu seraya mengisyaratkan Banny melalui tatapannya mengarah ke arah salah satu pria yang sedang bercengkrama dengan Mona.


Banny mengedarkan pandangannya,mengikuti arah tatapan sahabatnya itu.


Taapp.....

__ADS_1


Tatapan Banny mengarah ke satu tempat,dimana ia melihat Mona sedang berbicara dengan Angkasa.


Wajah pria tampan itu seketika membeku ketika netranya melihat jelas Mona sedang berbicara begitu akrab dengan pria yang begitu di kenalnya.


Pria tampan itu menatap dingin kembali ke arah Zeanu air mukanya berubah sedikit menakutkan.Rasa cemburu itu sangat ketara di eksperis wajahnya.


Banny mengalihkan pandangannya dan memilih untuk menatap ke hal yang lain lalu ia pun tersenyum dengan sinis,dan ia pun berusaha untuk menyembunyikan rasa ketidak sukaanya terhadap pria itu,tapi sepertinya ia kesulitan untuk menyembunyikan perasaanya tersebut dan Zeanu telah terlebih dahulu melihatnya dan merasakan jjka dirinya mulai merasa tersaingi oleh perasaannya pria itu.


" Gue belum bisa menceraikan Mona,hingga waktu yang tidak bisa di tentukan." Tungkas Banny datar.


Zeanu tercengang menatap tajam ke arah wajah sahabatnya itu.


Pria berwajah tenang itu mengangkat alisnya dan masih menunggu sahabatnya bicara.


Seperti mendengar sesuatu hal yang mengejutkan bagi dirinya atas pernyataan sahabatnya itu yang mengurungkan niatnya untuk menceraikan Mona.


Apakah sahabatnya itu berupah pikiran ?


ataukah Banny sudah benar benar mencintai gadis itu ?


Pertanyaan itu bermunculan di benaknya hingga berhasil membuat hatinya merasa kacau.


" Kenapa ?" Protesnya dengan tatapan penuh selidik.


Banny mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


" Bokap gue mempercayakan anak cabang perusahaan ini terhadap Mona,dan jelas saja itu akan merusak semua reputasi gue di perusahaan ini jika gue menceraikan Mona dalam waktu yang dekat." Jelas Banny dengan penuh penekanan.


Zeanu menggeleng,penjelasan itu membuatnya tak habis pikir jika sahabatnya itu mempertahankan pernikahannya itu hanya untuk pormalitas pekerjannya.


Tidak pernah berubah !! Rutuk Zeanu menatap sebal ke arah sahabatnya itu.Zeanu menggeleng dengan kecewa.


" Gue pikir elo sudah berubah,ternyata tidak." Zeanu melengos.


" Apa yang harus gue rubah ? " Tanyanya dengan acuh.


" Ah sudahlah !" Balas Zeanu melengos merasakan perasaanya kian keruh atas sikap menyebalkan sahabatnya itu.


Berdebat dengan seorang Banny hanya akan membuat ubannya tumbuh tambah kian banyak.


" Jadi gue rasa,TUHAN masih memberi kesempatan untuk gue merubah pernikahan ini dengan pernikahan yang sebenarnya." Jelas Banny dengan tepat.


Sontak Zeanu tercengan atas pernyataan sahabatnya itu,wajah pria tenang itu hanya melongo menatap tak percaya ke arah sahabatnya itu.


" Jadi ??" Ucapan Zeanu menggantung


" Jadi gue tidak akan melepaskan Mona dengan begitu saja." Desis banny seraya tersenyum penuh kemenangan ke arah sahabat sekaligus fatner kerja tersebut.


Sontak Zeanu hanya bisa terpaku menatapnya tak bergeming setelah apa yang ucapan Banny mampu menghentikan saraf kesadarannya hingga terasa kaku.


Dan pada akhirnya ia merasakan kekecewaan yang begitu dalam atas sikap dan pernyataan sahabatnya itu.


Zeanu tersulut pada akhirnya,menghempaskan kepalan tangannya ke udara dengan ekspresif.


Zeanu menatap pungguh pria itu yang melangkah menjauh darinya dan berjalan mendekati ke arah Mona yang sedang bercakap-cakap dengan Angkasa.


Zeanu memperhatikan dengan seksama atas apa yang akan di lakukan sahabatnya itu.


Banny mendekat ke arah Mona yang masih berbicara dengan Angkasa,pria yang menjadi farner bisnis di perusahaanya itu.


Angkasa ikut serta menoleh atas kedatangan Banny ke hadapannya.


" Ayo sayang,masih banyak tamu yang lain menunggu kita." Ucap Banny melerai obrolan mereka.


Mona terhenyak menatap dengan perasaan terkejut sesaat pria tampan itu tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya dan menyapa dirinya dengan sebutan sayang.


" Mas !" Pekik Mona menoleh Banny dengan kaku.


" Maaf pak Angkasa,saya permisi." Ucap Banny seraya menarik tangan gadis itu lalu dengan repleks menggandengnya.


Mona terdiam menatapi tangan pria itu yang sedang menggandengnya,dan tak lama pria itu menurunkan tangannya dan menyisispkan jari-jemarinya di jemari tangan gadis itu.


Wajah gadis itu terlihat semakin shok atas aksinya pria tampan itu.


Angkasa memperhatikan betul akan aksi pria itu yang memperlakukan Mona seolah-olah sedang ingin membuatnya cemburu.


" Saya permisi dulu pak Angkasa." Pamit Mona dengan pelan.


Angkasa hanya mengangguk dengan tersenyum pasi ke arah Mona yang mulai berjalan di samping pria tampan itu.Mona menunduk merasakan pipinya mulai memanas,jantungnya sudah tidak bisa berkompromi lagi.Meskipun sosok Banny sering membuatnya jengkel dan menyebalkan namun faktanya jika pria yang tengah menggenggam tannganya itu adalah pria yang mampu menarik seluruh perhatiannya,dan sikap ajaibnya itu mampu membuat hatinya luluh.

__ADS_1


Angkasa hanya bisa pasrah memandangi langkah Banny dan Mona yang menjauh darinya lalu berbaur dengan tamu yang lainnya.Sesaat Mona menoleh ke arahnya dengan tersenyum yang sulit di artikan.


__ADS_2