
KONDISI kesehatan Banny mulai berangsur membaik dan ia pun di perbolehkan untuk pulang.
Dengan perasaan sedih Banny kembali ke Apartemenya tanpa ada pihak keluarga yang menjemput ataupun menyambutnya.
Hanya Zeanu lah salah satu orang yang masih peduli terhadap dirinya,Zeanu mengantar Banny pulang hingga ke Apartemennya,padahal hati kecilnya Banny berharap jika kabar tentang dirinya di rawat rumah sakit bisa sampai ke telinga Mona,ia pun berharap Mona akan kembali pulang untuk menyambut kepulangannya,namun apa yang terjadi? Itu semua banyalah harapannya saja,begitu sampai di Apartemennya,tempat tersebut masih tetap kosong dan sepi tak ada tanda-tanda seseorang di dalamnya.
Sang Ayah yang menaui dirinya di rawat di rumah sakit sedikitpun tak berniat datang menjenguknya,hanya melalui sambungan telpon sang Ayah bertanya akan kondisi kesehatannya.
Bukan tanpa alasan jika Ayahnya bersikap seperti itu kepada dirinya,seolah-olah sang Ayah masih memperlihatkan rasa kesal dan kecewanya terhadap dirinya.
Banny sadar secara tidak langsung ia telah memupus semua harapan sang Ayahnya yang berkeinginan memiliki seorang cucu,Banny menatap sendu seluruh ruangan tersebut.
Banny menghela napas kasar semua telah hilang,sirna dari kehidupannya.
Entah apa yang harus ia lakukan saat ini selain hanya termenung,tanpa banyak ia lakukan.
" Ban,yakin elo di tinggal sendirian gak apa-apa ?" tanya Zeanu seraya menyimpan tas kecil berisi pakaiannya Banny di atas sopa.
Banny menggeleng dengan lemah.
" Gue merasa sudah baikan." jawabnya lirih.
Banny duduk dengan lemas di atas sopa lalu menyandarkan punggungnya dengan rilkes.
" Tuan aden !" sapa seorang wanita secara tiba-tiba dan itu berhasil membuat Banny dan Zeanu terkejut.
Zeanu menatap kaget ke arah perempuan yang usianya tak berbeda jauh dengan usia ibunya.
Banny tercekat lalu menoleh kaget ke arah perempuan separuh baya tersebut.
" Kok bibi ada disini ?" tanyanya heran sekaligus kaget.
" Maaf Tuan aden,tuan bapak yang menyuruh bibi untuk datang kesini dan menyuruh tinggal sementara waktu,merawat tuan aden hingga tuan aden benar-benar pulih." ucap perempuan separuh baya itu dengan penuh hormat.
Raut wajahnya terlihat penuh kekhawatiran atas kondisinya tersebut.Tentu saja Asisten rumah tangga itu yang paling dekat dengannya,ia mengabdi di rumahnya dari dia masih kecil,menghabiskan separuh hidupnya bersama keluarganya.
" Bersama siapa bibi kesini ? Lalu masuk ke Afartemen ini ?" tanya Banny bingung.
" Bibi tadi di anter pak Herman,dan tuan bapak yang memberi kunci Apartemen tuan aden." jelas Asisten rumah tangga itu dengan terpogoh-pogoh dia takut jika anak majikannya itu akan murka kepadanya karena kehadirannnya yang begitu saja.
Banny menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Zeanu yang masih berdiri di sampingnya.
Meski sang Ayah terlihat acuh kepada dirinya tapi bukan berarti ia akan membiarkan dirinya berada dalam kesulitan.
" Papah tidak kesini bi ? " tanya Banny sendu.Hilang sikap dinginnya justru kali ini ia terlihat begitu manja bahkan terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya.
" Tuan bapak lagi tidak enak badan,mangkanya beliau menyuruh bibi untuk kesini,eh den Zeanu mau bibi buatkan kopi ?" tanya Asisten rumah tangga Banny mengalihkan pandangannya ke arah Zeanu,tentu saja Asisten rumah tangga itu sangat mengenali betul sahabat majikannya yang satu ini.
" Tidak usah bi Yayah,bentar lagi saya akan pulang,kebetulan saya hanya mengantar pulang saja,tolong bi buatkan makanan yang enak buat tuan bibi ini,nanti dia salah makan lagi." ucap Zeanu yang lumayan akrab dengan asisten rumah tangganya Banny terkekeh.
Dulu ketika mereka masih kuliah bi Yayah lah yang selalu membuatkan makanan ketika mereka berdua sedang bersama.
Asisten rumah tangga tersebut hanya tersenyum dengan begitu lembut.
" Tentu saja atuh,bibi akan buatkan makanan kesukaannya tuan aden." balas bi Yayay mantap.
" Sip !!" ujar Zeanu mengancungkan ibu jarinya,Banny melirik tanpa ekpresi.
" Kalau begitu bibi pamit kebelakang dulu ya den,ada yang mau bibi kerjakan dulu,bibi sudah siapin sop hangat untuk tuan aden,siapa tahu tuan aden lapar dan sekalian mau minum obat juga." ucap Asisten rumah tangga itu dengan begitu cekatan.
" Oh iya bi,makasih banyak." balas Banny singkat.
" Den Zeanu bibi permisi dulu ya." pamit Asisten tersebut seraya menggeloyor ke dapur.
" Bi Yayah tidak pernah berubah,selalu perhatian sama elo." ujar Zeanu pelan.
" Bagi gue dia seperti nyokap gue." balas Banny dengan sedikit lelah.
" Sebaiknya elo makan dulu Ban,dan minum obat lo." ujar Zeanu penuh perhatian.
__ADS_1
Banny mengangguk kecil,Ia berharap yang menyiapkan segala keperluannya bukanlah Bi Yayah Asisten rumah tangga Ayahnya melainkan Mona,yaa Mona istrinya,dan itu akan menjadi salah satu obat yang begitu mujarab bagi kesembuhan dirinya,obat penyemangat dalam hidupnya.
" Ok,gue harus balik Ban !" ujar Zeanu pamitan.
Lagi-lagi Banny hanya mengangguk tanpa berbicara apa-apa.
Perasaanya kian terasa hampa.
" Ingat,jaga kesehatan elo ! Jangan asal makan aja,bertahan hidup ituh tidak lah mudah,galau perlu tenanga he hehe." ujar Zeanu terkekeh,ia memberikan sebuah lelucon yang membuat Banny menatap sebal.
Banny pun hanya trsenyum terpaksa merespon perkataan sang sahabatnya tersebut.
Zeanu berjalan keluar meninggalkan Banny seorang diri.
Banny menatap hampa atas kepergiannya Zeanu,perasaanya benar-benar telah di kendalikan oleh perasaan sesalnya,entah kenapa ia begitu lemah hingga mampu di kuasai perasaan yang penuh dengan sugesti yang buruk, jika dirinya tak mampu hidup tanpa seorang Mona.
Banny memejamkan matanya,sakit di kepalanya perlahan mereda,rasa sakit di dalam perutnya mulai hilang,tapi sakit dihatinya tak bisa mereda,kini tinggallah sisa-sisa energinya yang terasa lemah.
Banny menoleh ke arah sebuah meja berukuran kecil yang terdapat sebuah foto yang berukuran kecil,lalu foto tersebut di pandanginya dengan begitu lekat,dimana di dalam foto tersebut ada dirinya dan juga Mona,meski terlihat canggung namun kebersamaan di foto itu terlihat begitu berkesan.
Banny meraih foto tersebut lalu mengusap lembut wajah perempuan yang duduk di sampingnya.
Kenapa ia segila itu memikirkan Mona lebih dari apapun,ia pernah mencintai tapi tak sedalam ini,bahkan ia pernah kecewa hingga patah hati,tapi tidak sehancur ini.
Sosok Mona masih berputar buntu di relung hatinya,menaungi tempat yang begitu tinggi setelah Tuhan dan orang tuanya,perempuan itu benar-benar telah menjadi jantung belahan jiwanya.
Ia terjebak dengan sebuah pesta pora kesalahanya sendiri,membiarkan pergi perempuan yang sesungguhnya begitu berarti dalam hidupnya.
Waktu kian terus berputar namun jiwanya terkurung dalam perasaan yang begitu rumit hingga perlahan menutup logika sehat di kepalanya.
Sosok perempuan itu seperti hantu yang terus bergentanyangan di alam sadarnya,betapapun tidak ini adalah balasan rasa yang pernah ia abaikan dengan segala kesombongan yang ia miliki.
Clik.....
Tak terasa buliran bening jatuh menitik di atas foto tersebut,perlahan tapi pasti kesalahannya membuat dirinya semakin jauh dari kehangatan,bayang rindu itu semakin menitik kelam,menjauh di balik seluit yang hitam,bakan suram seperti malam tanpa rembulan.
Ahhh....
Kenapa ia menjadi senaif ini,membiarkan dirinya larut dalam balutan rindu serta penyesalan yang tak bertepi,bukankah amarah ini telah membuatnya terkesan berkuasa.
Banny menggeleng,entah kenapa rasa marah itu kembali muncul ketika mengingat sosok Arnetta,gadis cantik itu telah membuat hidupnya terasa berantakan,jika hanya sebuah alasan Cinta mampu membuat gadis itu nekad berbuat keji terhadap dirinya,lalu adakah dirinya untuk berusaha lebih keras menemukan Mona?.
Dia bukanlah sosok pengecut yang mampu bersembunyi di balik kekuasaanya.
Tapi.....
Kemanakah dia harus pergi mencari perempuan tersebut ??
Banny semakin larut dalam kegelisahannya,sedetik saja ia berhenti berpikir tentang sosok Mona,namun kenyataanya ia tak mampu,bayangan perempuan itu terus menerus menari-nari di pelupuk matanya.
-----------------
" Makasih banyak ya Yol,lo udah ngasih gue pekerjaan." ujar Mona seraya menyesap habis minumannya.
" Sama-sama Mon,kebetulan perusahaan Om gue emang lagi butuh orang untuk di kantornya,makanya ketika gue liat status lo di instragram gue langsung DM lo,siapa tau lo masih butuh kerjaan,yaa meski gak sebonavit itu posisi kerjaan elo,setidaknya pekerjaan ini akan bermanfaat buat lo." balas Yola tersenyum.
" Bagi gue gak masalah apapun bentuk pekerjaanya,yang penting gue ada pekerjaan untuk saat ini, sebenarnya sih gue gak nganggur-nganggur banget masih ada beberapa pekerjaan yang harus gue selesaikan,tapi setidaknya begitu pekerjaan yang tengah gue kerjakan kelar, gue bisa langsung mendapatkan pekerjaan yang pasti." ujar Mona.
" Gue yakin elo pasti keterima,persyaratan untuk bagian staf itu di elo lengkap semua." ujar Yola dengan pasti.
" Yaa setidaknya gue ada pengalaman kerja di perusahaan lain Yol." ujar Mona menatap cemerlang.
" Eh by the way Amlia gimana kabarnya ? " tanya Yola mengalihkan topik pembicaraanya.
" Dia dari SMA sampe tamat kuliah tuh anak gak bisa jauh dari gue,selalu ada di buntut gue." ujar Mona menggeleng-geleng.
" Soulmate banget berarti ya lo berdua,dulu juga bukannya gitu,lo berdua udah kaya gula dan semut,dimana ada elo si Amel selalu ada." balas Yola terkekeh.
" Hihi... Tau tuh anak,kalau gue gak ada kayak anak kehilangan emaknya." Mona tertawa kecil.
__ADS_1
" Trus dia udah merried ? " tanya Yola dengan enteng.
Mona terdiam lalu menggeleng,Yola mengernyit.
" Serius dia belum married ?" tanya Yola tak percaya.
" Rencananya sih dia akan menikah sekitar dua bulanan lagi." balas Mona pelan.
" Oya ?? calon penganten dong dia ya,ehh tapi dia beneran suka ama laki ? Opsss !" celoteh Yola menutup mulutnya secara repleks.Mona melirik dengan ekspresi kecut.
" Secara kan dulu dia di isukan lesbayy gitu,soalnya lo bareng dia tuh jika kemana-mana selalu berdua bikin pikiran orang berpikiran buruk tentang lo berdua he he he." ujar Yola terkekeh,ia mengenang masa-masa kuliah dulu.
Mona tertawa lebar,pandangan orang lain tentang dirinya dan amelia memang sadis.Di tambah dirinya pun pada saat itu masih anti terhadap namanya laki-laki.Bahkan lebih parahnya lagi dia selalu di bilang tak normal,tapi it's ok,dia sedikit pun tidak pernah merasa sakit hati dalam menanggapi omongan tersebut,toh pada kenyaataanya justru dia sakit hati karena telah dalam mencintai sosok seorang laki-laki.
" Semua orang punya opini masing-masing,dan opini mereka begitu sadis-sadis ya,mengira gue sama Amel pasangan lesby,kita itu bestie bukan lesby." sela Mona menimpali dengan tertawa kecil.
" Ya itulah,mereka menyimpulkan dengan atas apa yang mereka lihat bukan atas apa yang kita rasakan." Yola menambahi.
" Terus ngomong-ngomong elo gimana ?? " tanya Yola menatap penuh arti.
Mona menjeda kunyaahanya lalu sedikit mengeryit.
" Apanya yang gimana ? " tanya Mona berpura-pura polos.
" Alahh elo suka berkura- kura gituu deh...,si Amelia mau maried dan elo ?? Udah apa belum ?" tanya Yola dengan tersenyum-senyum.
Mata Mona membulat lebar,lalu ia pun tertawa hambar,ia berusaha menutupi perasaanya yang kini tengah di rasakannha.
" Elo udah nikah kan ? " tanya lagi Yola memperjelas pertanyaanya.
Dorrrr
Benar saja sebuah pertanyaan yang begitu mengacaukan perasaanya,betapun tidak nasib pernikahannya kini tengah berada di ujung tanduk,ia tengah menanti perkara sidang untuk perceraiannya.Namun hingga saat ini ia belum mendapatkan kejelasan tentang berkas-berkas perceraiannya dari pihak Banny selaku penggugat.
Mona tidak mungkin harus menceritakan semua masalah pribadinya kepada Yola.Ini adalah privasinya.
" Mon !! Kok elo malah bengong ? Elo baik-baik saja kan ?" tanya Yola mengguncang kecil pundak Mona,Mona tersentak dari lamuannya.
" Eh iya,,gue lupa Yol,nenek gue ada nitip obat,sepertinya gue harus buru- buru balik nih." ujar Mona dengan penuh drama.
" Gue lupa jika nenek gue ada nitip beli obat kolestrolnya,aduh untung gue ingat." ujar Mona seraya mulai merapihkan dirinya.
Yaa Tuhan !! Maafkan cucu mu nek.
Jerit Mona membatin.
" Yaah elo gimana sih.. Baru juga gue mau nanya masalah elo.Elo udah mau kabur aja." ucap Yola terlihat kecew.
" Lupa gue kalau gue udah janji mau beliin obat buat nenek gue,hmm kapan-kapan aja ya kita ngobrol bareng lagi." ucap Mona seraya mengambil tisu lalu mengelap mulutnya tersebut.
" Baiklah." balas Yola sedikit kecewa.
" Oya Masalah pekerjaan gue pastikan jika elo yang di terima." ucap Yola memberikan sebuah harapan.
" Mudah-mudahan ya,, ada rezekinya buat gue." ujar Mona seraya merangkul hangat temannya tersebut.
Yola pun membalas rangkulan sahabat lamanya tersebut.
" Ok gue balik ya,eh makasih loh atas traktiran makan siangnya." ujar Mona tersenyum.
" Ah lebay lo." balas Yola tersenyum.
Mona berjalan meninggalkan Yola yang masih menatapnya panjang,Mona berusaha untuk segera pergi dari hadapan Yola,menghindar atas segala pertanyaan yang belum mampu ia jawab untuk saat ini.biarlah Yola merasa penasaran dengan status dirinya toh suatu saat nanti ia pasti akan mengetahui hal itu semua tampa ia jelaskan.
Menghindar bukan berarti dia merasa malu bahkan insecure,namun ia hanya tak ingin semua orang tau akan kondisi pernikahannya,baginya ini adalah aib yang tak ingin ia ceritakan kepada kesiapapun terkecuali kepada kedua sahabatnya,Amelia dan Tamara.
Mona menarik napas panjang,akhirnya ia bisa terlepas dari pertanyaan yang membuat asam lambungnya kambuh secara akut.
Untunglah ide itu muncul ke permukaan otaknya sehingga ia leluasa lepas dari pertanyaan yang menjeratnya,meski harus menjual nama neneknya.Ia hanya ingin memulai hidup baru tanpa ada pembahasan tentang sosok laki-laki si es balok tersebut.
__ADS_1