
BANNY melempar sembarang kunci mobilnya di atas meja,lalu menghempaskan tubuhnya di atas sopa yang tak jauh dari meja tersebut.
Mona segera masuk ke kamar afartemen itu,berniat ingin segera mandi dan beristirahat.
Sebelum gadis itu melangkah kan kakinya kedalam toilet pria tampan itu berseru pelan.
" Aku tidak suka jika kamu terlalu lama nongkrong di luaran sana !" Ucapnya dengan menatap dingin,Mona menoleh ke arah pria tampan itu dengan raut wajah terheran-heran atas komplenan yang di layangkan bosnya itu kepada diriya.
Tentu saja hal itu membuat Mona merasa tak terima,bukankan hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan aturan yang tercantum dalam sandiwara pernikahannya tersebut.
" Mereka sahabat saya pak,jauh sebelum saya kenal dengan bapak,kehidupan saya sudah terisi oleh kehadiran mereka,jadi saya mohon maaf jika masalah ini tidak usah di sangkut pautkan dengan urusan kita." Jawab Mona dengan nada bicara penuh penekanan.
Banny terdiam merasakan perkataan gadis itu menguliti perasaanya.
" Tapi untuk saat ini aku suami kamu,jadi aku berhak untuk mengatur kehidupann mu." Ucap kembali pria itu dengan tegas.
Sontak ucapan itu berhasil membuat Mona terasa jengkel mendengarnya.
" Saya bersedia menikah dengan anda tapi bukan berarti anda harus melarang ruang gerak saya." Ucap gadis itu menatap tajam.
Banny menatap dengan tatapan lain atas sikap gadis itu yang sedikit berbeda terhadapanya.
" Tapi untuk saat ini kamu harus ikut pelaturannku,karena kau tinggal bersama ku.!" Ucapnya dengan ketus.
Mona terdiam ia hanya bisa memejamkan matanya,mencoba menetralisir hawa panas yang menyelusup di dadanya.
Marah ???
Ingin rasanya ia marah atas sikap bosnya itu yang selalu mendiktaktor dirinya,ia hanya bisa menghela napas panjang dan berharap pernikahan ini akan segera berakhir.
Gadis itu memutar badanya lalu menatap jengkel ke arah pria yang sedari tadi menatapnya tajam dan ia pun dapat melihat aura ketidak sukaan pria itu terhadap dirinya.
" Apa yang menjadi kemauan ku,itu lah aturan yang tak bisa kamu langgar." Ucapnya lagi pria itu dengan lantang.
Mona semakin jengkel melihat sikap bosnya itu yang acap kali memperlihatkan sikap ajaib terhadap dirinya yang selalu membuatnya sakit hati.Dan itu sama sekali membuat nya semakin tertekan,dengan sekuat tenaga gadis itu menahan emosinya yang mulai menjalar ke otaknya.Kata-kata bosnya itu kembali membuatnya terasa terintimidasi.
" Baiklah !!" Ucapnya dengan suara bergetar lalu tanpa menunggu lama ia pun segera masuk ke kamar mandi tersebut dengan sedikit membanting daun pintu tersebut,menunjukan bahwa dirinya sedang marah.
Marah atas sikap bosnya yang selalu bersikap seolah-olah cemburu namun sulit mengakui perasaanya.
Pria tampan itu menghela lalu menatap dengan perasaan tak menentu ke arah pintu kamar mandi tersebut, entah kenapa perasaan itu ini terasa kian berbeda terhadap sekertarisnya itu.
Rasa ketidak sukaannya berubah cemburu,dan kecemburunya itu kini berubah menjadi posesif terhadap gadis itu,ada perasaan takut kehilangan yang kini menyelimuti perasaanya.
Beberapa menit kemudian Mona sudah keluar dari kamar mandi tersebut dengan seperti biasa ia mengenakan baju handuk dengan rambut yang masih terlihat basah.
Banny menghela lalu menyambar handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi tersebut,tak berbicara banyak ia pun segera memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya.
Mona mematung di atas cermin menatapi seluruh bayangan tubuhnya di cermin,baru saja ia dua hari ini menjadi nyonya dari seorang Banny namun perasaanya sudah tertekan sangat luar biasa.Rasanya ia tak mungkin mempertahankan perasaannya itu untuk terus bertahan di hatinya.
Apakah sikap bosnya yang kini di tunjukan pada dirinya adalah salah satu bukti jika bosnya memang mulai mencintainya...??
Ah rasanya itu impossible,dia tahu banget jika karakter seorang Banny memang tidak akan pernah berubah mesti hujan badai dan angin ****** beliung menerjangnya.
Sabar !!!
Tidak akan lama lagi dirinya akan terbebas dari rasa ketidakyamanan ini meski memang hati kecilnya terasa berat harus melepaskan perasaan cintanya kepada sosok pria tampan itu,namun ia akan berusaha mencoba untuk terlepas dari rasa itu.Dengan cepat ia segera mengambil sebuah piayama toska di dalam almarinya lalu menukarnya sesaat bosnya masih berada di dalam kamar mandi.
Tak berapa lama.
Kreekk..... !!
Pintu kamar mandi itu terbuka,dan menampilkan tubuh atletis itu setengah telanjang,dada pria tampan itu terlihat sangat sixpack,Mona tercekat dengan tatapan yang sulit di alihkan, dan batinnya berseru lirih.Harus berapa lama lagi netrannya itu harus menyaksikan pemandangan langka ini. Sesaat kemudian ia pun dengan cepat segera menurunkan pandangannya agar tidak terlalu lama menatap tubuh itu dengan lancang.
Dan entah kenapa sejadi-jadi jantungnya berdebar tak karuan setiap kali pria itu memperlihatkan sisi tubuhnya yang selalu membuatnya berdecak kagum.
Sebagai perempuan normal,di rasa sangat wajar jika otak nakalnya masih bekerja dengan aktif,yaaa tidak menutup kemungkinan jika di lintasan otaknya gadis manis menyimoan gairah terhadap bentuk tubuh pria tampan tersebut.Gadis itu dengan cepat segera menenangkan perasaanya yang mulai terasa konyol menanggapi tubuh kekarnya bosnya tersebut.
" Kamu lapar ??" Tanya pria itu melangkah lebih dekat ke arahnya dengan membenarkan handuk yang melilit di pinggangnya.
Mona menggeleng dengan tertunduk menepis perasaanya yang sedari tadi mengisi renung hatinya.
" Tidak,saya masih kenyang !" Jawabnya singkat.
" Kapan kamu makan ?" Tanya Banny dengan mengacak-ngacak rambut basahnya.
" Tadi,sebelum bapak jemput saya." Ucapnya seraya perlahan menyisir rambutnya.
" Jadi kamu tidak ingin menemani makan malam ku ?" Tanya pria itu seraya berjalan menuju almari pakaiannya.
" Sepertinya malam ini saya tidak bisa menemani bapak makan malam,maaf !!" Ucapnya pelan.
Tangan pria itu terhenti saat gadis itu berkata jika dirinya tidak bisa menemani makan malamnya,lalu sejurus kemudian pria tampan itu membalikan badannya dan menghadap ke arah gadis itu yang tengah merapihkan rambut panjangnya.
__ADS_1
Pria tampan itu menghela dengan kasar,menatap gadis itu dengan seksama,Mona sepertinya sudah mulai berubah ke padanya,hingga ia sanggup menolak ke inginannya.
" Kamu hanya duduk menemani ku saja,bukan menyuruh kamu untuk ikut makan." Ucapnya dengan menatap dingin.
Mona mendongkak lalu menatap panjang pria itu,di rasa nada suara pria itu terdengar kasar di pendengarannya itu.
" Maaf pak,untuk kali ini saya menolak permintaan bapak." Jawabnya ketus,tak lama ia pun bangkit dan beranjak dari duduknya berjalan menuju tempat tidur.
Sontak hal itu membuat pria tampan itu naik pitam,dengan menatap tajam pria itu segera membuang wajahnya lalu pandangannya mendarat di tumpukan baju yang tersusun rapih di dalam almari.
" Jadi kamu sudah mulai mengabaikan permintaan saya?"
Tanyanya dengan datar.
Gadis itu terdiam tidak menjawab apa yang dipertanyakan bosnya tersebut.
" Kamu sudah kehilangan indra pendengaran mu ?" Tanya lagi pria itu seraya mengambil salah satu baju yang berada di antara tumpukan paling atas yang terlipat sangat rapih,dan ia pun segera mengenakan kaos kenyamannya tersebut dengan di padukan dengan celana cinos pendek.
" Maaf pak kali ini saya tidak bisa menemani bapak makan malam,saya ingin istirahat." Jawabnya dengan pelan,meski ia terlihat kesal namun ia mencoba bersikap baik terhadap bosnya tersebut.
Gadis itu mulai merebahkan tububnya di atas kasur empuknya.
Banny menoleh ke arah gadis itu dengan perasaan kecewa karena ia merasa di abaikan oleh sekertarisnya tersebut.
" Mona !!" Panggilnya dengan suara meninggi.
" Maaf pak,saya ngantuk." Balasnya pelan namun mampu menghentikan keinginan pria itu untuk berbicara kembali.
Dengan bersamaan mulutnya masih menganga menahan untuk tidak bicara dan ia pun hanya menatap kaku ke arah gadis itu yang bersikap dingin kepadanya,dan hal itu berhasil membuat pikirannya semakin tak tenang.
Adakah kejadian yang aneh menimpa gadis itu sehingga bersikap sedikit acuh terhadap dirinya,tak biasanya sekertarisnya itu menolak permintaanya tersebut.
Dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal pria tampan itu menatap kesal ke arah sekertarisnya itu yang mulai terlelap dalam lenanya dan tidak memperdulikannya lagi.
God job Mona,setelah ini kau akan membuat ku semakin tak karuan dengan ulah sikapmu yang acuh ini.
Pria itu meradang merasakan batinnya terus berperang.
Pria tampan itu menghebuskan napas dengan kasar lalu memejamkan matanya menelan bulat kekesalannya saat melihat gadis itu mulai tertidur dan benar-benar mengabaikan kehadirannya,dengan perasaan kecewa
perlahan ia pun berjalan menuju sofa dan merebahkan tububnya di atas sofa tersebut,rasanya lelah dan penat di jiwanya belum lagi merasakan beban berat pikirannya terkait pernikahannya yang di rasa semakin rumit untuk saat ini,usia pernikahannya belum lah genap seminggu namun di rasanya seperti sewindu tak ada kebahagiaan yang terpancar yang tersisa dari raut wajahnya itu,kini hanya perasaan was-was dan rasa takut kehilangan yang kian mulai terasa kuat mengikat perasaanya.
Heyy !
What heaven ???
Akhh rasanya makin terasa memanas isi kepalanya itu tak kala perasaanya mulai di hantui perasaan cemburu.
Dan itu rasa ia butuh tempat untuk mencurahkan segala bentuk kegelisahannya,sekaligus butuh seseorang yang bersedia mau mendengarkan segala bentuk keluh kesahnya, jujur saja hal ini membuatnya merasa tak nyaman hingga berujung tak tenang,namun kepada siapa kah ia mengeluhkan hal itu ?
Sedangkan dirinya merasa jauh dengan sahabat dekatnya Zeanu, semenjak kehadiran gadis sederhana itu kehidupannya bersama Zeanu dan itu seperti ada sebuah anyelir dalam kehidupannya bersama sahabatnya tersebut,entah lah.....
Kenapa dirinya belum bisa menerima perasaanya Zeanu selama ini terhadap gadis itu,padahal Zeanu secara jujur mengatakan jika dirinya hanya sebatas kakak sambung dari Mona,tapi Banny merasa jika Zeanu sahabatnya itu masih menginginkan Mona untuk menjadi kekasihnya.
Baginya perasaan sahabatnya itu masih ada untuk gadis itu dan rasa itu tak akan bisa berubah begitu saja,karena dia yakin jika Zeanu bukanlah sodara kandungnya Mona,hanya sebatas sodara sambung saja.
Banny menghela menatapi punggung gadis itu yang tidur membelakanginya,tak lama kemudian ia merasakan perih kian mendera di pusat lambungnya,lapar ??
Yaa saat ini ia benar-benar lapar,namun gadis itu menolaknya untuk menemani nya makan malam.
************
Mona terbangun pukul lima pagi,hawa dingin Ac begitu menusuk hingga ke tulang punggungnya dan itu membuatnya enggan untuk terbagun,perlahan ia pun menarik selimut keseluruh tubuhnya hingga membuatnya semakin enggan melangkahkan kakinya mengambil wudhu untuk mendirikan sholat subuh.Setelah berperang dengan diri sendiri,akhirnya dengan langkah berat gadis itu pun menyibakan selimutnya lalu duduk di tepi ranjangnya menatap kesekeliling ruangan kamar afartemen tersebut,lalu dengan penuh perjuangan ia pun melangkah kan kakinya menuju kamar mandi.
Melewati sopa dimana tempat bosnya tertidur,selintas gadis itu melirik ke arah pria itu yang sedang terlelap dengan memeluk guling.Dengkuran halus terdengar di pendengarannya.
Gadis itu menatapnya dengan seksama dan mengamati setiap inci garis wajah pria tampan tersebut,jika dalam kedaan terlelap saja raut wajah pria itu terlihat begitu menawan apa lagi dalam terjaga,gadis itu mengulas senyuman manis,andai saja pernikahan ini bukanlah pernikahan sandiwara mungkin akan menjadi sebuah ritual yang selalu di lakukan di setiap pagi nya membangunkan pria ini dengan kecupan manis di kedua pipinya,gadis itu tersipu membiarkan halusinasinya bekerja secara epektif,namun seketika bibir mungil gadis itu kembali berkerut saat perasaan pria itu hanyalah fake bagi dirinya dan kehaluannya itu tak akan mungkin terjadi.
Mona memalingkan wajahnya dengan ekpresi sebal jika ingat akan sikap ajaib bosnya tersebut yang sering membuat ia terintimidasi.
Yaa meski ia sesebal itu terhadap pria itu namun entah kenapa perasaanya kian bertambah seiring waktu terus berjalan bersamanya.
Mona menggeleng menepis semua rasa itu dan ia pun melanjutkan kembali langkahnya ke kamar mandi,gosok gigi lalu mengambil air wudhu,meski dirinya tak sesholehah itu namun ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan sholat.Setelah sholat gadis itu duduk terpekur seorang diri bermunajat akan segala keinginannya,dan menyelipkan sebaris do'a untuk kebaikan hidupnya dan itu membuat hatinya terasa gerimis karena setiap untaian do'a yang ia panjatkan hampir seluruhnya tentang perasaanya yang terdalam terhadap pria tanpan itu,setiap kalimat permintaan do'a itu terasa begitu syahdu dan bermakna baginya.
Entah kenapa ia begitu tulus menyelipkan sebuah harapan besar jika pernikahannya ini akan berubah menjadi sebuah pernikahann yang akan berakhir bahagia dalam hidupnya.
Kedua telapak tangannya itu mendekap di dadanya dengan begitu syahdu ia mengaamiinkan setiap harapan yang terpanjat melalui untaian do'anya,perlahan ia pun mengusap wajahnya dengan lembut.
" Kamu sudah bangun ?" Tanya suara berat dari ujung sujudnya,dan suara pria itu menahan tangannya untuk membuka mukenanya,Mona menoleh ke arah pria itu yang sudah duduk dan bersandar di kepala sofa seraya menatap lurus dirinya.
" Iya !!" Mona menjawab singkat.
" Belum selesai sholatnya ?" Banny bertanya dengan bingung,setelah melihat Mona hanya terdiam dan melamun.
__ADS_1
" Sudah." Jawabnya kembali pendek.
Banny menghela lalu mengusap wajahnya dan beranjak dari posisi duduknya dan mulai menghampiri gadis itu.
Mona menggigit bibir bawahnya,seketika ia menjadi bingung harus berbuat apa setelah melihat bosnya itu kian mendekat ke arah dirinya,ia selalu panik jika pria tampan itu mendekatinya.Pikiran buruk selalu menari-nari di otak kanannya.
" Pagi ini aku ingin kau buatkan sarapan untuk ku. " Tegasnya saat sudah ada di hadapan gadis itu,Mona mengangkat kepalanya lalu menatap lurus bosnya itu yang berdiri tepat di ujung sejadahnya.
Mona menatap lurus pria itu,Banny pratama wiguna,pria tampam itu tengah tersenyum kecil ke arahnya untuk yang pertama kalinya.
Entah bermimpi apa ia semalam?pagi ini ia mendapati senyuman manis terukir dari bibir pria tampan berwajah dingin.
Ada apa ini ?
Bantin Mona seraya masih memperjelas penglihatannya dan mencubit kecil kulit tangannya,dan itu terasa sakit olehnya.
Tapi kenapa pria tampan ini tiba-tiba tersenyum manis kepadanya dan itu sanggup membuat hatinya terasa dag dig dug.
Mona menatap bingung ke arah wajah pria tampan itu yang masing menyunggingkan senyuman manisnya.
Di satu sisi lain ia bahagia jika Banny mulai memperlakukan dirinya dengan baik,walaupun baru saja tersenyum manis,hal itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.Tapi di satu sisi lain ada kecurigaan di kepalaku,yaa ia curiga jika pria tampan ini sedang merencanakan sesuatu untuknya,atau menginginkan sesuatu yang menjadi haknya.
Gadis itu terlihat bergidik membayangkan sesuatu hal yang membuatnya terasa geli sendiri.
Gadis itu masih tak percaya jika pria tampan berwajah dingin itu bersikap lembut padanya.
Dirasa pria ini kepentok benda keras sehingga ada beberapa urat syarafnya terganggu.Batin gadis itu menggeleng.
" Saya akan pergi ke kantor hari ini,jadi aku minta kamu siapkan segala keperluan kerjaku." Ucapnya seraya berjongkok di hadapan gadis itu,tepatnya di ujung sejadahnya.
Mona menghela,sudah di pastikan alasan pria itu tersenyum lembut kepadanya karena sesuatu hal.
Yaa menginginkan seseuatu hal darinya dan itu benar sjaa jika pria tampan itu meminta dirinya untuk menyiapkan segala keperluannya.
Menyebalkann !!!
Rutuknya dengan melirik judes pria tanpam itu.
Mona pun mengangguk pelan tanpa merespon lebih banyak ucapan pria tampan itu.
" Oya,untuk sementara kamu hari ini masih di perbolehkan kerja,selama saya belum memberikan keputusan yang pasti atas pekerjaan mu ini." Ucap pria itu dengan tenang.
Mona menatap ke arah pria itu dengan seksama.
" Tapi dengan satu catatan,kamu bekerja satu ruangan dengan saya." Ucapnya dengan menyeringah penuh arti.
" A-aku !!" Entah kenapa bibir gadis itu terasa kaku untuk berkata-kata dan bola matanya membulat.
" Jujur saja aku tidak ingin mutasi kamu." Ucapnya pelan dengan tatapan yang sulit di artikan,Mona mencoba mengartikan ucapan bosnya tersebut,namun.....
Ah mungkin saja pria tampan itu sedang di selimuti perasaan iba terhadapnya sehingga berkata manis seperti itu kepada dirinya.
Mona menggeleng merasakan jika pria tampan itu sedang bermanis-manis kepadanya hanya untuk membuatnya sedikit tenang.
" Saya akan segera menyiapkan sarapannya." Ucap Mona mengalihkan pembicaraannya dan mengabaikan ucapan bosnya tersebut.
Mona berniat membuka mukenanya,namun entah kenapa tangan pria itu menyambar tangannya dan menahan ke inginanya untuk membuka mukenanya tersebut.
Sontak membuat Mona terhenyak atas sikap bosnya tersebut.
" Saya sedang berbicara dengan kamu,jadi tolong jangan abaikan ucapanku !!" Suara pria itu terdengar berat dan penuh penekanan.
Bola mata gadis itu membulat sempurna sesaat pria tampan itu mulai marah kepada dirinya.
" Saya mendengar pak,dan sepertinya saya tidak perlu berkomentar apapun dalam hal ini,karena disini posisi saya hanya menjadi seorang penurut saja,tak lebih." Balasnya dengan menepis tangan pria tampan itu.
Namun sayang cekalan tangan pria itu terlalu kuat sehingga Mona gagal untuk melepaskan cekalannya tersebut.
" Tapi saya paling tidak suka jika saya dalam ke adaan berbicara kamu mengalihkan topik pembicaraan seolah-olah kamu tidak tertarik dengan apa yang aku sampaikan." Ucap pria itu dengan manatap dingin.
Mona tertunduk tak kuasa melihat sorot mata itu kian tajam menatapnya.
Harus berapa kali lagi ia terjebak dalam situasi seperti ini,ia bingung bahkan linglung jika harus berhadapan dengan sikap juteknya pria tampan tersebut.
" Ini masih terlalu pagi untuk berdebat dengan mu." Ucapnya pria itu mendengus dan perlahan ia pun melepaskan cekalan tersebut.
Lalu pria itu berdiri dan meraup wajahnya merasakan kekesalan yang mulai menganjal di awal paginya tersebut.
Entahlah ia merasa seketarisnya itu mulai menyebalkan bagi dirinya.
" Tiga puluh menit sarapan harus siap." Ucapnya dengan ketus lalu berjalan menuju kamar mandi.
Mona menghela napas panjang,ia merasakan perasaanya semakin tak karuan,apakah ia salah bersikap dingin seperti pria itu,tapi...
__ADS_1
kenapa bosnya keberatan jika ia bersikap seperti apa yang di lakukan bosnya terhadap dirinya.
Ia hanya ingin menjaga perasaannya agar tidak terlalu dalam mencintainya,namun itu keliru,prian tampan itu menduga salah terhadap dirinya.