
SETELAH makan siang selesai Banny dan Mona segera bergegas menuju pintu loby utama sebagaimana yang sudah di intruksikan kepada sang supir pribadinya untuk menunggu ditempat tersebut.
" Kamu duluan.Saya ke Toilet dulu.."Ucap Banny dengan memutar badannya menuju arah Toilet.
" Baik Pak." Jawab Mona manggut dan segera berjalan menuju pintu lobby utama.
Tak perlu lama ia pun menemukan mobil kantor yang terparkir di sana,dengan geraj cepat Ia pun segera Memasuki mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh pak Surya.
" Makasih pak surya.."Ucap Mona tersenyum ramah.
" Sama-sama Bu Mona." Balas pak surya dengan senyuman penuh hormat.
" Bapak Mana bu ?" Tanya pak surya dengan clingukan ke kanan ke kiri.
" Ke Toilet dulu pak." Jawab Mona sembari duduk manis di kursi seraya mengecek sesuatu di dalam tasnya.
" Bu Mona,gimana hari pertama menjadi Sekertarisnya Pak Banny ?" Tanya pak Surya menoleh Mona yang berada di dalam mobil.
Mona dengan siapapun ia memang ramah selain hal itu ia pun pandai bergaul dengan siapapun,pribadi yang welcome terhadap siapa saja yang ia jumpai termasuk dengan supir pribadinya sang bos yaitu pak Surya.Sebelom menjadi sekertaris Mona memang sudah akrab dengan Pak Surya itu.
PAK Surya adalah salah satu staf yang paling bisa di andalkan olehnya ketika dalam keadaan genting Mona selalu tak segan-segan meminta tolong kepadanya.
" Sangat Menegangkan pak.Duuhh..,kalau di ceritain butuh waktu seharian pak.." Ucap Mona dengan sikap humorisnya.
" Ah bu Mona bisa aja.." Sela pak Surya tergugu dengan sikap lucunya Mona.
" Tapi sepertinya begitu bu Mona,dan hanya bu Mona lah yang baru kali ini di ajak makan siang oleh bapak." Terang Pak Surya dengan sesekali mengamati situasi ia takut jika Banny tiba-tiba mendatanginya.
Mona menoleh pak Surya dengan terperangah atas apa yang di dengarnya itu.
" Ah Bapak yang benar saja,jangan bikin saya geer.." Balas Mona tersipu malu.
" Beneran bu,saya berkata jujur ! saya kan sering nganterin bapak keluar tiap kali ada pertemuan serta meeting yang acaranya di adakan di luar kantor, dan saya selalu menemani bapak sama bu Manda.Tapi kayanya Pak Banny belum pernah mengajak makan Bu Manda." Jelas Pak Surya panjang lebar.
" Mungkin karna Bapak gak tau saja kali.." Sela Mona berusaha untuk tidak baper atas ucapannya pak Surya.
" Beneran Bu Mon !saya berani sumpah.Kan saya sudah lama jadi supir di perusahaan ini dan baru kali ini bapak Bos mau makan siang bersama sekertarisnya.." Ucap kembali Pak Surya menjelaskan.
" Massa sih pak ?." Tanya Mona dengan cukup terenyuh atas ucapannya pak Surya.
" Pak Surya !" Panggil Banny berdiri lurus menatap sang supir.
" Maaf Pak.." Pekik Pak Surya dengan penuh Hormat lalu dengan cepat Ia membukakan pintu mobilnya untuk sang Bos itu.lalu Banny pun segera masuk dan duduk di sampingnya Mona.
Jantung Mona sejadi -jadi berdebar tidak karuan,setidaknya kata-kata pak Surya pun mampu membuatnya menjadi salah tingkah saat Banny duduk dekat dirinya.
" Jalan Pak ! kita ke Hotel CIPTA KIRANA.."Ucap Mona pelan.
" Baik Bu ." Jawab pak Surya mengangguk pelan.
Banny hanya terdiam menatap lurus jalanan tak ada obrolan yang menarik baginya selain hanya memilih diam menatap penuh seksama ke luar jendela kaca mobilnya itu,sedangkan Mona masih terbuai dengan apa yang telah di ucapan oleh pak Surya.
***************
*Di Hotel CIPTA KIRANA*
" Hallo Zean ! lo sudah lama ?" Tanya Banny sesampainya di meja yang telah di pesan oleh Zeanu.
Zeanu sengaja memilih tempat pertemuannya di luar ruangan,ia memesan tempat duduknya di atas luar gedung hotel itu agar Ia bisa menikmati tiupan angin yang semilir dengan pemandangan lengkap gedung-gedung tinggi menjulang.
__ADS_1
" Haai Bann !" Jawab Zeanu sambil berdiri menyambut kedatangan sahabatnya itu.
" Om gue sudah datang belom ?" Tanya Banny seraya menarik kursinya.
" kayanya belum deh soalnya gue juga baru datang." Jawab Zeanu sembari mengalihkan tatapan nya ke arah Mona yang berada tak jauh dari Banny.
" Haii Mon !" Sapa Zeanu melepaskan senyuman hangatnya.
" Hai pak Zean." Timpal Mona menyebut nama Zeanu lebih formal.
" Ban lo kok gak datang bareng Sekertaris lo itu ?" Bisik Banny menatap ke arah Mona.
" Dia Sekertaris gue sekarang." Jawab Banny pendek.
" Oyaa ???" Pekik Zeanu girang.
" Selamat ya Mon,lo diam-diam saja sih jadi sekertaris bapak ganteng ini." Ucap Zeanu seraya mengulurkan tangannya untuk mengajak Mona bersalaman.
Mona menatap kearah Zeanu dengan ragu lalu perlahan ia pun menerima uluran tangan Zeanu dengan tersenyum tipis.
" Makasih pak Zean.." Balas Mona tersenyum simpul.
" Sejak kapan dia jadi Sekertaris baru lo ?" Tanya Zeanu melirik Banny.
" Baru hari ini." Ucap Banny sambil melepaskan tatapannya ke arah sekertarisnya itu dengan santai.Mona pun seketika menunduk saat bosnya itu menatap dalam.
Pandangan Zeanu masih menatap lekat ke wajah sekertaris baru sahabatnya itu dengan tidak bergeser sedikit pun terus memandanginya dengan tersenyum penuh arti hingga Mona salah tingkah di buatnya.
Bany yang melihat sikap aneh sahabatnya itu terhadap sekertarisnya membuat ia merasa kurang nyaman,dan ia pun memilih membuang pandangannya ke arah yang lain.Jelas ini membuat dirinya benar-benar tergannggu dengan tatapan-tatapan yang di lepaskan Zeanu ke arah sekertaris barunya itu.
Pria dingin berwajah tampan itu segera memalingkan wajahnya, seolah-olah dirinya tidak ingin melihat sikap sahabatnya yang sedang memperlihatkan gelagad aneh kepada sekertarisnya tersebut.
Selang beberapa menit kemudian dua orang laki-laki menghampiri kursi yang mereka duduki dan mereka adalah pak Fendi Omnya dari Banny yang ingin merekrut Zeanu untuk menjadi Arsikteknya dalam pembangunan apartemen nya.
Setelah bersalaman dan berekenalan Zeanu pun menerangkan beberapa Desain yang akan di buatkan untuk pembagunan gedung apartemen sang om dari sahabagnya itu,dengan penjelasan yang sangat Detail dan terperinci Zeanu berusaha memberikan pemahaman yang sesimpel mungkin.
Mona pun yang sedari hanya terdiam ikut menyimaknya dengan seksama,tak berbeda jauh dengan Banny,ia pun ikut serta menyimak dalam penjelasan yang terangkan oleh Zeanu.
Akan tetapi mata elangnya Banny melirik kecil ke arah wajah Mona yang sedang menatap serius wajah sahabat nya itu,ia diam-diam ia mencuri pandangan ke arah Mona yang masih menatap penuh takjub ke arah Zeanu.
Zeanu terkadang ia terlihat melempar senyuman manis ke arah Mona dengan pesona ketampanan yang dimilikinya.
Banny merengut menatap tidak suka kearah mereka berdua.Entah kenapa moodnya mendadak hilang ketika ia harus melihat ekspresi dari sekertarisnya itu yang di rasanya sangat berlebihan dalam menanggapi sikap Zeanu.
Mona mengakui jika Zeanu adalah sosok pria yang sangat mumpuni dengan keahlian nya dalam membuat karyanya sangat luar biasa,serta tutur bahasanya yang lugas serta sopan santun membuat hatinya Mona sedikit tersentuh, diam-diam Mona pun membandingkan sikapnya dengan Bosnya itu.
Entah kenapa Mona merasa kagum dengan sikap dan kepribdiannya seorang Zeanu yang diam-diam menyelinap di dalam hatinya.
Dengan sedikit agresif Mona membalas senyuman Manis Zeanu dengan tersenyuman tak kalah Manis.
Senyuman Mona menggantung ketika tatapannya bergeser kearah bosnya itu yang tidak sengaja sedang menatap dirinya sedari tadi.Mona pun dengan cepat mengulum senyumnya itu dan menunuduk,sekiranya ia baru menyadari akan sikapnya sedari tadi sedang perhatikan bosnya itu.
Mona menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan,ia pun mengambil ponselnya dan berpura-pura mengalihkan perhatiannya dari Bos nya itu.Ia sadar pria yang menjadi sang Direkturnya itu menatap tidak suka atas sikapnya yang sedikit berlebihan ke arah Zeanu.
Pertemuan pun selesai dengan ending kebahagiaan untuk seorang Zeanu yang mendapat kontrak langsung dari perusahaan Pak Fendi,dan ini hasil yang sangat memuaskan.
" Terimakasih banyak atas kepercayaan pak Fendi yang telah di berikan untuk saya.Mudah mudahan pelaksanaan serta pekerjaannya lancar dan tidak ada gannguan sedikitpun.." Ucap Zeanu menutup topik pembicaraanya.
" Sama sama Pak Zeanu Saya senang atas kerja samanya dan saya mengucapkan terimakasih banyak,karena pak Zeanu mau nerima proyek ini." Ujar Pak Fendi dengan raut wajah bahagia.
" Sama-sama Pak !" Sela Zeanu tersenyum simpul.
" Oke Ban,om balik dulu ya ! Kebetulan Om masih ada sedikit kerjaan untuk pengecek kembali lokasi pembangunanya.." Tambah om nya Banny berpamitan.
__ADS_1
" Siap om untuk Desainnya tenang saja biar Banny yang urus,Zeanu cs Banny ko.."Ucap Banny sambil membalas rangkulan sang Omnya.
" Ok.Kalau begitu om pamit duluan ya." Ucap Pak Fendi seraya mengambil beberapa Dokumen yang di berikan oleh Zeanu.
" Silahkan pak mari .." Balas Zeanu dengan penuh hormat.
Pak Fendi pun melangkah berjalan meninggalkan lokasi pertemuan tersebut.Banny mengela napaa lega seraya menatap Mona yang masih terdiam sedari tadi.
" Lo mau balik kantor..?"Tanya Zeanu menoleh Banny
" Ya..." Jawab Banny singkat.
" Om lo ternyata tinggi juga ya seleranya.." Tambah Zeanu merapihkan beberapa surat dukumen penting.
" Om gue itu memang tife orang yang loyal juga Zean.Dan pengelolaannya sangat bagus makanya gue tawarin lo buat jadi arsiteknya dia.." Ucap Banny seraya menyesap minumannya.
" Thanks ya Ban atas tendernya." Ucap Zeanu tersenyum bahagia.
" Alah santai aja boy,yang penting lo dapet proyek.." Ucap Banny sambil menepuk pundak Zeanu.
" Oya Mona !Tolong kamu pending dulu pengecekan barang di lapangan sepertinya kita tidak keburu menuju kesana.." Titah Banny menoleh sang sekertarisnya.
" Baik pak.." Ucap Mona dengan segera meraih ponselnya dan mengecek daptar nomor telepon yang akan segera dihubunginya.
" Mohon maaf pak.."Pamit Mona meminta izin untuk menelpon salah satu pihak yang akan di hubunginya tersebut,lalu ia pun bangkit dan memilih pindah tempat agak sedikit menjauh dari hadapan Banny dan Zeanu.
" Dia manis sekali Ban.."Puji Zeanu dengan menatap terus Mona yang sedang mulai berbicara di telepon.
Sontak apa yang di ucapkan Zeanu membuat Banny kurang berkenan dengan pujian sahabatnya itu terhadap sekertarisnya itu.
Di tolehnya Mona yang sedang berbicara di telpon dengan staff bagian lapangan yang rencananya hari ini ia akan meninjaunya.
" Biasa saja.." Balas Banny dengan membuang muka.
" Heii Man !!doi kalau di poless sedikit saja,cantik juga boy tuh cewek masih polos dan sikap dia benar-benar apa adanya.Gue sih suka dengan sikap dia."Ucap Zeanu yang tak lepas menatap Mona dengan tatapan nakalnya.
Banny melirik sahabatnya itu dengan tatapan kurang suka atas sikap serta tatapan nya yang di rasanya sangat berlebihan memuji sekertarisnya itu.
" Lo naksir...?" Tanya Banny singkat.
" Sebagai pria normal gue suka liatnya ? gak ada yang larangkan ?" Cetus Zeanu sembari tersenyum menggoda ke arah Banny.
" Dan lo...???" Tanya balik Zeanu cukup membuat Banny terhenyak.
Sontak pertanyaan nya Zeanu terasa panas di telinganya.
" Dia bukan levelan gue." Balas nya dengan angkuh.
" Ha...hahaa.... Lo masih saja kaya dulu,Kaku dan so jual mahal.Banny,Banny !! "Ucap Zeanu sembari tekekeh melihat sikap sahabat lamanya itu yang tidak pernah berubah dengan sikap gengsinya itu.
" Gue lama-lama agak kurang yakin dengan kriteria perempuan yang lo cari." Ujar Zeanu dengan tertawa meledeknya.
Banny terdiam Ia tidak menjawab hanya menatap dalam Zeanu.
" Lo belom bisa berubah.." Ucap zeanu menambahkan lagi ucapannya.
Angkuh dan acuh itu sudah menjadi cirikhas dari seorang Banny,Zeanu hapal betul akan karakter dari seorang sabahabatnya itu yang sedari dulu memang tak pernah berubah, ketika mereka masih jaman kuliah.Banny memang tidak bisa segampang Zeanu untuk bisa menilai seorang cewek serta bisa lebih dekat dengan beberapa perempuan manapun.
Banny masih sulit untuk membuka perasaannya untuk seorang perempuan yang menurutnya jauh dari kriterianya.Terlebih-lebih Banny belum bisa melupakan sosok perempuan yang pernah ia cintai,sosok perempuan yang begitu sempurna dalam hidupnya,meskipun dalam kenyataannya perempuan itu telah menghianati dirinya.
Dan alhansil Banny selalu gagal move on dari masa lalunya dan selalu gagal dalam membina suatu hubungan akibat dari rasa traumanya itu yang selalu hadir mengganggu pikirannya itu.
__ADS_1
Hingga saat ini Banny selalu selektif dalam menginginkan seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.Bahkan dia sangat perfpectionis dalam melihat penampilan seorang perempuan.Sehinga detik inipun Ia belum bisa menemukan apa yang Ia idamkan selama ini, rupanya ia masih terbelenggu dengan cinta lamanya itu.Dan sepertinya hal itu hanya akan terasa mustahil jika ada sosok perempuan yang sempurna di matanya itu.
# bersambung #