CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 118


__ADS_3

MONA menarik napas panjang sekali lagi,lalu menghembuskan-nya dengan perlahan.Gadis itu membagikan pandangan-nya keseluruh ruanganya tersebut dan perlahan berjalan menuju meja kerjanya.


Hal yang di lakukan gadis itu ia segera mengecek ulang file yang akan di tandatangi bosnya tersebut.


Waktu sudah menunjukan jam sepuluh kurang lima menit,itu artinya pertemuan dengan Direktur PT Angkasa akan segera di mulai.


Mona dengan bergerak cepat segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Direktur perusaahan tersebut.


Tepat ketika ia hendak menghubungi,sebuah ketukan di pintu terdengar nyaring,Mona meninggikan lehernya hingga mendongkak.


" Permisi bu Mona! gimana pak Banny sudah datang ?" Tanya seorang pria berwajah ramah menyembul dari balik pintu.


" Iya pak Hendra,pak Banny sudah tiba di ruangannya,ada apa yak pak ?" Tanya Mona menatap resah.


" Direktur PT Angkasa sudah menunggu di loby." Jelas pria berjas biru nevi tersebut dengan ramah.


" Pimpinan Direkturnya sudah datang ya pak ? ya sudah kalau begitu saya akan segera menghubungi pak Banny." Ucap Mona seraya beranjak dari tempat duduknya.


" Baiklah kalau begitu saya kembali ke loby untuk menemani kembali pak Direktur,tapi jangan lama-lama ya bu Mon,soalnya pak Direktur Angkasa sudah menunggu dari lima menit yang lalu." Jelas pak Hendra dengan tersenyum resah.


" Benarkah pak ?" Pekik Mona tercekat.


Pria yang hampir lima puluh tahun usianya itu mengangguk.


" Gawat jika pak Angkasa sampai komplen atas ketidak nyamanan dalam menunggu,bisa-bisa nasib gue bisa sama dengan Tora lagi." Gumannya pelan sehingga pak Hendra sempat mendengar gumananya tersebut.


" Bu Mona ??" Panggil pak Hendra dengan pelan.


" Iya pak ?" Sela Mona dengan mengerep kaget.


" Ibu Mona baik-baik saja ?" Tanya lagi pak Hendra menatap heran.


Mona hanya mengangguk seraya tersenyum simpul.


" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya bu Mona." Ujar pak Hendra seraya melangkah ke luar ruanganya tersebut.


Mona hanya kembali mengangguk seraya menghela napas lega,hari ini hatinya di buat rusuh dengan kondisi yang membuat dirinya semakin frustasi.


Tanpa berpikir panjang Mona pun segera berjalan melangkah menuju ruangan bosnya tersebut.Dengan terpogoh-pogoh ia berdiri di depan pintu yang bertuliskan Direktur Utama.


Dengan menekan dadanya pelan seolah-olah ia sedang menghadapi situasi yang menegangkan dan kondisi itu lebih menegangkan dari sekedar ketegangan menghadapi seorang Depkolektor. Gadis itu berusaha menyingkirkan perasaan resahnya yang sedang bergemelut di dalam hatinya.


Sesaat bola mata gadis itu berputar ke atas lalu terlihat memikirkan sesuatu.


Apakah gadis cantik yang di lihatnya beberapa menit yang lalu masih ada bersama sang bosnya ?


Mona terdiam dengan menggantungkan kepalan tangannya di udara,tepat di depan pintu tersebut,kegamangan hatinya berhasil menyergap perasaanya.


" Duh gue kok jadi deg-degan gini sih ?perasaan gua kok tiba-tiba merasa parno ?dan gue rasa jika di dalam sana pak Banny lagi berpeluk mesra lagi dengan gadis tersebut." Ucap Mona menggeleng frustasi.Pikirannya di hantui perasaan cemas berubah menjadi perasaan cemburu.


Pikiran negatifnya seakan-akan memaksa dirinya untuk terus berhalusinasi.


" Tapi.......,yaa sudahlah tak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan ke galauan gue." Guman gadis itu kian membatin.


Tok,tok,tok.......


Akhirnya dengan mengumpulkan kekuatan penuh tangan gadis itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan sang Direktur tersebut.


Sejenak hening.....


Hening.........


Dan hening........!!! tak ada jawaban dari dalam ruangan tersebut.


Dahi gadis itu mengkerut lalu menatap kian penuh curiga ke arah pintu tersebut pikirannya semakin kacau dengan prasangka yang tak wajar terhadap bosnya beserta gadis tersebut.


" Jangan-jangan mereka berdua di dalam lagi.....???" Ucapannya menggantung jari telunjuknya terlihat mengarah ke dagu bulatnya.


Sejadi-jadi perutnya terasa mulas membayangkan hal yang tak ingin ia bayangkan.


Panik dan resah berbaur menjadi satu sehingga mengakibtakan kontraksi hebat di dalam perutnya.


Mona menggeleng lalu mencoba kembali mengetuk pintu ruangan sang Direktur tersebut.


Tepat bersamaan tanganya yang hendak mengetuk pintu itu,tiba-tiba ada suara memanggil dirinya.


" Mona !!" Panggil suara bernada bariton mengejutkan dirinya yang tengah memasang wajah yang sulit di deskripsikan.


Mona menoleh ke arah suara itu dengan seketika raut wajah nya terlihat sangat bodoh.


" I iya pak." Sahut Mona dengan tersenyum pasi.bola matanya kian membulat saat ia melihat gadis muda nan cantik itu tersenyum ramah kepada dirinya.


" Ada apa ?" Tanya pria itu menatap dingin.


" Anu pak,hmmm,pak Direktur Angkasa sudah menunggu di loby pak." Ucap Mona dengan perasaan gugup.


" Apakah pak Angkasa sudah menunggu lama ?" Tanya Banny menatap tajam.


" Ti tidak pak,baru saja lima menit yang lalu." Ucap Mona berusaha menetralkan perasaan-nya yang sedang kacau.


Seorang gadis berdiri di samping Banny dengan tersenyum hangat kepada Mona,wajahnya yang berseri-seri terlihat begitu sangat cantik.


Mona menggeserkan pandangannya ke arah gadis tersebut dengan perasaan tak menentu.


" Ok,kita turun sekarang." Ucap Banny singkat.

__ADS_1


" Baik pak." Jawab Mona pelan seraya membungkuk penuh hormat.


" Mas !!" Panggil gadis muda itu memanggil Banny.


" Mass ?,Gue yakin jika cewek ini fixs pacara baru pak Banny."


Guman Mona dalam hatinya sibuk berbicara.


" Mas Banny ini siapa ?" Tanya gadis itu menarik tangan Banny hingga pria itu mengentikan langkahnya.


Mona menatap lurus ke arah tangan gadis itu yang mecekal pergelangan tangan bosnya.Mona menelan kuat air lieurnya dan......


Wusss.....


Seperti ada percikan bara api membakar hatinya,gadis itu benar-benar tidak suka akan sikap gadis asing yang tak di kenalinya itu bersikap manja kepada bosnya tersebut.


" Oya,Ta,ini kenalkan Mona sekertarisnya Mas." Ucap Banny seraya menoleh ke arah Mona.


" Oh sekertarisnya mas Banny !" Ucap gadis itu membulatkan bibir mungilnya tersebut.


Mona tersenyum terpaksa ke arah gadis tersebut.


" Mona perkenalkan ini Arnetta." Ucap pria itu akhirnya memperkenalkan gadis cantik yang sedari tadi bersama dengan dirinya.


" Hallo mbak Mona,aku Arnetta." Ucap sigadis itu dengan lincah.Lalu gadis itu pun mengulurkan tangannya kehadapan Mona.


" Saya Mo Mona." Balas Mona terbata,dengan ragu lalu ia pun menerima uluran tangan gadis tersebut.


Gadis cantik itu tersenyum hangat membuat Mona merasa tergugu atas sambutan hangat gadis tersebut.


" Ok kita lanjut meetting saja ya." Ucap Banny menoleh ke arah gadis itu.Arnetta mengangguk pelan dan mengikuti langkah pria itu.


Mona terdiam seperti ada sesuatu yang hilang dari perasaannya ketika kehadiran sosok Arnetta dalam kehidupannya ini,ia hanya mampu menduga jika Arnetta adalah kekasih baru bosnya tersebut.


********


Setelah berada di ruangan pertemuan tersebut Angkasa selaku investor di perusahaan Banny menyapa dan memeluk hangat pria berjas hitam yang ada di hadapanya tersebut yang tak lain Banny si pemilik perusahaan PT Tirta logistic sekaligus patner perusahaan berinvestasinya.


Dan pria itu menyambut hangat kedatangan Angkasa yang sudah menunggu dirinya sedari tadi.


" Apa kabar pak Angkasa ?" Tanya Banny dengan tersenyum kaku.


" Alhamdulillah saya baik-baik saja." Balas Angkasa tersenyum dengan penuh karismatik.


" Saya mohon maaf atas ketidak nyamananya pak Angkasa,yang sudah menunggu lama." Ucap Banny seraya mempersilahkan Angkasa duduk kembali.


" No problem pak Banny,santai saja." Ucap Angkasa seraya menoleh ke arah Mona yang sedari tadi hanya terdiam seraya memegangi beberapa berkas-berkas kontrak yang akan di tandangi oleh kedua pihak perusahaan tersebut.


" Baiklah kalau begitu silahkan pak Angkasa membaca kembali surat perjanjiannya." Terang Banny seraya memberi kode kepada Mona untuk menyerahkan surat kontrak tersebut kepada Angkasa.


Dengan cepat Mona menyodorkan berkas-berkas tersebut kehadapan pria yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


" Terimaksih Mona." Ucap Angkasa tersenyum lembut ke arah gadis itu,dan Mona pun hanya membalas dengan anggukan.Sekilas Banny manangkap sorot mata yang berbeda dari sorot mata Pria tersebut.


Tidak lama kemudian pria berbadan tegap itu mendatangani surat tersebut dan menyerahkan kembali kepada Banny,lalu Banny pun ikut mendatangani surat perjanjian tersebut.


Banny pun menyalami pria tersebut sebagai tanda kesepakatan jika perusahan Angkasa betinvestasi di perusahaannya tersebut.


Dengan tersenyum penuh bangga pria dingin berwajah tampan itu merangkul hangat sang investor muda tersebut.


" Terimakasih banyak pak Angkasa atas kepercayaan nya perusahaan bapak untuk berinvestasi di perusahaan kami.Semoga dengan terjalinnya kerja sama kita ini di masa depan,kita bisa menjalin kerjasama yang jauh lebih menjanjikan lagi." Ucap Banny menyambut hangat rangkulan lawan bicaranya yang merupakan sosok pria berkarismatik.


" Sama sama pak Banny,harapan yang sama saya ucapkan kepada pak Banny,semoga jalinan kerja sama ini akan terus berjalan lancar." Ucap Angkasa dengan tersenyum hangat.


Mereka pun saling tersenyum lebar menatap masa depan yang gemilang dan mereka berharap jika jalinan kerja sama ini tak sekedar sebuah hubungan kerja sama saja,namun terjalin sebuah jalinan persahabatan yang begitu erat.


" Oya pak Banny nanti malam saya mengundang bapak beserta sekertaris bapak untuk hadir di acara makan malam saya,saya mengundang ebagai bentuk kebahagiaan saya atas terjalinnya hubungan kerja ini." Jelas Angkasa seraya mengalihkan tatapannya ke arah Mona.


Gadis itu tersenyum menundukan pandangannya.


" Terimakasih banyak pak Angkasa sudah berbaik hati mengundang kami di acara makan malamnya anda,dan ini adalah sebuah kehormatan bagi saya bisa hadir di undangan makan malamnya pak Angkasa,dan itu sangat sayang kan kalau harus di lewatkan." Ucap Banny dengan tersenyum semeringah.


Angkasa hanya mengangguk penuh makna,ia merasa bahagia atas sambutan baik dari pemilik perusahaan tersebut.


" Oya Mona,gimana ke adaan teman kamu ?sudah baikan kah ?" Angkasa menoleh ke arah Mona yang sedari tadi menyimak obrolan dua pengusaha muda tersebut.


Sontak Mona terhenyak ketika Angkasa akan melontarkan sebuah pertanyaan yang sama sekali di luar perkiraannya.


Banny ikut menoleh ke arahnya dengan raut wajah sedikit menelisik,sesaat Mona hanya terdiam lalu menatap ke arah Banny dengan perasaan kaku.


" Kenapa pak Angkasa mempertanyakan masalah Kinaya di saat yang tidak tepat seperti ini."


Gadis bermata belo itu terlihat membatin.


" Hmm,,saya kurang tahu pak,soalnya saya belum ada menayakan kembali ke adaanya." Jawab Mona dengan ekspesi wajah gerogi.


" Maaf pak Banny,saya ngebahas di luar topik pembicaraan kita,soalnya kemarin saya bersama sekertaris anda sempat bertemu di sebuah insiden kecil." Ujar pria itu menatap lekat Mona.


" Its ok pak Angkasa saya tidak keberatan." Balas Banny mengangguk ramah.


Entah kenapa perasaan Banny mulai merasa tak nyaman atas sikap Angkasa terhadap sekertarisnya itu.


" Tapi kalau boleh tahu insiden apa yang telah terjadi ? " Tanya Banny dengan mengangkat tinggi alisnya tersebut.


" Yaah kemaren ada insiden kecil yang menimpa teman sekertarisnya pak Banny.temannya pingsang dan tidak sadarkan diri di saat saya sedang jogging,dan itu kebetulan kejadiannya ketika saya lagi berada di tempat yang sama dengan temannya sekertaris bapak." Jelas Angkasa menatap dalam ke arah Mona.

__ADS_1


" Iya kan Mon. ?" Tanya Angkasa dengan melayangkan senyuman hangat kepada gadis yang duduk tak jauh dari Banny.


Mona hanya bisa mengangguk dengan perasaan yang tak nyaman,karena perempuan yang di bahas Angkasa adalah mantan kekasih bosnya tersebut.


" Apa dia masih di rumah sakit ?" Tanya lagi Angkasa semakin jauh pertanyaan-nya.


" Kurang tahu pak,soalnya saya belum ada menghubungi nya lagi." Jawan Mona dengan ragu.


" Siapa nama teman kamu yang pingsan itu Mon ?" Tanya Angkasa semakin menjadi-jadi bertanya tentang Kinaya kepada dirinya.


Mata belo Mona membulat sempurna ia tak menyangka jika seorang Angkasa begitu kristis dan peduli terhadap insiden kecil kemarin,Mona melirik dengan perasaan tak enak ke arah Angkasa,pikirnya merutuk seperti tidak ada topik pembicaraan yang lain sehingga harus mengungkit masalah Kinaya.


" Siapa Mon, teman kamu Amel kan ?" Sela Banny pelan,rupanya pria dingin berwajah tampan tersebut ikut penasaran dan ingin tahu secara pasti teman yang di maksud oleh Angkasa.


" Hmm,..." Mona terdiam dengan raut wajah kian menegang.


" Kinaya pak." Ucap Mona pelan.


Sontak Banny tercekat lalu menatap lurus ke arah sekertarisnya tersebut dengan sorot mata penuh ke heranan.


" Yah Kinaya,saya lupa lagi hee heee...," Sela Angkasa dengan ekpresi wajah polos tanpa beban.


Banny menoleh ke arah Mona dengan raut wajah berubah dingin.


" Ada apa dengan Kinaya ?" Tanya Banny cemas.


" Pak Banny Kenal juga dengan Kinaya ?" Tanya Angkasa dengan menatap tak percaya.


" Yaa.Saya mengenalinya." Balas Banny singkat.


" Kasian perempuan itu pak Ban,kemarin Dokter bilang jika dia mengalami Depresi,sehingga ia mengosumsi obat penenang secara berlebihan,dan itu mengakibatkan tidak baik pada kondisi kesehatannya." Jelas pria itu menceritakan ke adaan Kinaya.


Banny menghela air mukanya berubah risau,entah kenapa ia merasa peduli akan ke adaan Kinaya yang saat ini.


Tentunya Kinaya melakukan hal itu semua karena keputusannya dirinya yang meminta perempuan itu untuk tidak menemuinya lagi.


" Baik lah pak Banny,sepertinya saya masih ada urusan lain, jadi terimakasih bayak atas semuanya." Ucap Angkasa membuyarkan lamunan Banny.


Banny terkesiap lalu mengubah posisi menjadi duduk tegak.


" Oh ya,sama-sama pak Angkasa." Jawab Banny tersenyum dengan di paksakan.


Mona menatap dengan perasaan keruh saat dirinya melihat raut wajah bosnya berubah cemas mengetahui ke adaan kondisi Kinaya saat ini.


Rasanya perasaan terhadap Arnetta saja sudah merasa migran di tambah sekarang bosnya mulai peduli kembali dengan ke adaan mantan kekasihnya itu memang tak habis persoalan rumit di hidupnya itu.


Setelah Angkasa berpamitan Mona pun segera merapihkan berkas-berkas penting tersebut dan di masukannya kedalam tas koper kecil.


Ia berniat untuk segera meninggalkan ruangan tersebut dan hal yang paling penting tujuannya adalah untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan Bosnya kepada dirinya seputar Kinaya.


" Monna !!" Panggil suara itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapihkan tutupan tas koper tersebut.


Benar saja kan ,tebakan nya tidak meleset sedikitpun.


Mona memperlambat gerakan tangannya.


" Kenapa Kinaya ?" Tanya pria itu menatap lurus ke arah dirinya.


Mona terdiam lalu menegakan tubuhnya.


" Maaf pak saya kurang tahu percis seperti apa ke jadiannya,karena setelah saya mengetahui Kinaya pingsan pak Angkasa lah yang terlebih dahulu mengetahui ke adaanya Kinaya." Jelas Mona dengan raut wajah terlihat enggan untuk membahas masalah itu.


Banny hanya terdiam dengan perasaan yang sulit untuk di kendalikan.


Padahal ia sudah jelas akan memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan ke adaan Kinaya apa pun itu keadaanya,tetapi begitu ia mengetahui Kinaya dalam kondisi yang memperhatinkan serta merta membuat perasaanya dilema dan resah.


Dirinya memang sudah tidak mencintainya lagi tapi jika kondisinya seperti itu diam-diam perasaanya merasa simpatik terhadap perempuan tersebut.


Ahh kenapa harus mendengar kabar tak baik tentang perempuan itu.


Banny mendesah mengeluarkan hentakan napasnya dengan lembut.


" Maaf pak Banny ,apakah anda mencemaskan ke adaan Kinaya ?" Mona menyela dengan pertanyaan yang sedikit menohok perasaannya.


" Itu bukan urusan kamu." Jawabnya singkat,dan nada bicaranya terkesan sangat tajam.


Mona terdiam lalu membuang pandanganyan ketempat yang lain,di rasa jawaban bosnya itu terasa menguliti kulit wajahnya.


Tak menunggu lama Mona merapihkan kembali tas koper tersebut.


" Maaf pak,saya permisi dulu." Ucap Mona singkat.


Ia pun melangkah menuju pintu ruangan tersebut.


" Tunggu Mona." Sergah Banny menahan langkah sekertarisnya itu.


Gadis itu terdiam tanpa menoleh ke arah bosnya tersebut.Cukup rasanya ia di perlakukan tidak nyaman oleh bosnya itu,perlahan ia mengangkat dagunya seraya menghela menahan perasaan yang terasa sesak di dadanya.


" Jangan lupa atur pertemuan saya dengan Zeanu." Ucapnya dangan suara datar.


" Baik pak." Jawab Mona singkat,lalu ia pun segera melangkah kembali dan meninggalkan bosnya tersebut dengan tak mau peduli lagi.


Dan sikap diamnya itu adalah bentuk bukti dari kemarahannya terhadap pria tampan berwajah dingin tersebut.


Banny mengangkat kedua tangannya untuk menopang kepalanya,lalu meremas pelan rambutnya dengan perasaan berat,lalu mengangkat kepalanya dan menatap langkah gadis tersebut dengan perasaan sesal.

__ADS_1


Menyesal selalu bersikap ketus terhadap gadis manis tersebut,padahal sudah jelas jika ia sangat mencintai gadis tersebut dan ia pun mengetahui apsti jika gadis tersebut sedang marah kepada dirinya atas ucapanya yang teralalu tajam kepada dirinya.


Pria tampan itu menghela lalu mencoba menyingkirkan kembali perasaanya dari sebuah pikiran yang bertentangan dengan hatinya tentang sosok perempuan seorang mantan.


__ADS_2