CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 187


__ADS_3

" DUA ratus dua puluh tujuh ribu pak !" Balas sang kasir dengan cepat.


" Angkasa !" Desis Mona terlihat kaget.


" Ini mas !!saya bayarin pesanannya mbak ini!" Ucap Angkasa seraya menyodorkan tiga lembar uang pecahan 100ribu rupiah ke hadapan kasir tersebut.


Mona menghela pelan,ia tak menyangka jika dia akan kembali di pertemukan dengan Angkasa di situasi yang seperti ini.


Siall !! kenapa harus terulang lagi sihh kejadian seperti ini ??


Mona membatin menatap Angkasa dengan berbagai perasaan.


Mona tersenyum pasi menahan rona malu di raut wajahnya.Kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali,dimana ia lupa membawa uang ketika sedang berbelanja di sebuah mini market,dan Angkasa adalah orang yang menolongnya,kali ini hal itu terulang kembali,Angkasa membayar semua uang pesanan makanan dirinya dan kedua sahabatnya.


" Angkasa,makasih banyak ya !" ucap Mona terbata,wajahnya terlihat memerah.


" Santai aja kali Mon." Balas Angkasa tersenyum simpul,lalu ia pun menerima uang kembaliamnya plus struk dari kasir tersebut.


" Terimakasih !" Ucap Angkasa kepada kasir tersebut.


" Hmmm,, apa kabar kamu Kas ?" Tanya Mona menatap dengan perasaan canggung.


" Bisa kamu lihat,Alhamdulillah aku baik-baik saja." Jawab Angkasa tersenyum lembut.


" Syukurlahh,Btw kamu lagi ngapain disini ?" Tanya Mona.


" Oh kebetulan aku habis makan-makan bareng teman,dan aku tak sengaja liat kamu sepertinya sedang bermasalah makanya aku samperin kamu,dan ternyata benar kamu lupa membawa uang kembali." Ucap kembali Angkasa tertawa kecil.


Mona terihat menahan malu dengan sikap cerobohnya tersebut.


" Aku emang payah Kas,selalu begini." Guman Mona dengan perasaan tak enak hati.


" Dan untungnya aku selalu kebetulan ada ya untuk menolongmu." Balas Angkasa dengan tersenyum begitu tulus.


Mona menatap dalam ekpresi wajah karismatik pria tersebut,yaa Angkasa selalu menjadi penyelamat bagi dirinya.


" Untuk yang kedua kalinya aku di tolongin lagi sama kamu kas ," Ucap mona dengan tak enak hati.


" Gak apa-apa kali Mon,itu sudah biasa. " Ucap Angkasa penuh candaan.


" Maaf yaa, lama-lama jadi terbiasa,kan jadi gak enak aku." balas Mona sedikit terkekeh demi menutupi rasa malunya.


" Tapi tenang saja,nanti pasti aku ganti uangnya." Ujar Mona seraya melangkah dan meninggalkan kasir tersebut.


" Santai saja kali Mon,kaya sama siapa saja ?" Balas Angkasa tersenyum manis.Mona menoleh lalu membalasnya dengan tersenyum pasi.


" Kamu sendirian ? " Tanya Angkasa seraya clingukan seolah-olah ia sedang mencari sesuatu.


" Tidak ! kebetulan aku bareng sahabat-sahabatku,dan mereka sudah menungguku di parkiran." Jelas Mona berjalan beriringan dengan Angkasa.


" Kirain aku kamu sendirian,jadi aku bisa antar kamu pulang." Ucap Angksa berkelakar.


" Tidak usah Kas !! maksudku tidak perlu, terimakasih banyak aku gak mau lagi ngerepotin kamu.Aku pulang bareng sahabatku kok." Sergah Mona dengan cepat.


" Oya Mon," ucapan Angkasa mengantung lalu menatap Mona yang berjalan di sampingnya.


" Apa ?" Sela Mona pelan.


Angkasa terlihat ragu untuk berkata sesuatu.


" Ada apa ?" Lagi-lagi Mona bertanya setelah melihat keraguan di dalam sikapnya Angkasa.


" Hmmm...,gimana kabarnya Banny Mon ? " Tanya Angkasa menoleh Mona.


" Mas Banny ?? " Tanya Balik Mona sedikit kaget.


" Iya Banny,suami kamu ,!" Ucap Angkasa memperjelas.


" Hmm,Mas Banny baik-baik saja kas." jawab Mona mulai terlihat canggung.


" Syukurlah kalau dia baik-baik saja,hmm terus gimana hubungan kalian ??" Tanya Angkasa dengan nanda meragu.


Mona menarik napas panjang dan menatap dalam wajah teduh pria berkarismatik tersebut.


Kenapa pria ini bertanya perihal hubungannya dengan suaminya tersebut,jujur saja hubungannya dengan Banny sedang tidak baik-baik saja.


Mona terdiam menundukan pandangannya dengan sikap bingung.


Angkasa menoleh kembali wajah Mona,dan pada saat itu Mona memilih untuk menundukan pandangannya, namun tak lama Mona memberanikan diri untuk kembali menoleh wajah pria tersebut.


Angkasa menatapnya seraya mengulas senyuman lembut,sehingga membekas di netranya Mona.Rasanya begitu tenang jika berada di samping pria pemilik wajah karismatik tersebut.Mona menatapnya cukup lama,sehingga Angkasa sedikit terganggu atas tatapan nya tersebut.


" Mon,lo baik-baik saja kan ??" Tanya Angkasa kembali.


Mona segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain,ia berusaha menutupi perasaan yang sesungguhnya.


Mona berharap Angkasa tidak perlu tau akan situasi perasaannya saat ini.


" Aku sama mas Banny baik-baik saja." Balas Mona terlihat kaku.


" Mona." Panggil pria itu dengan nada suara tak biasanya.


Mona terhenti dari langkahnya lalu menatap kembali wajah pria tersebut.


" Jika ada sesuatu hal yang menganjal di pikiranmu katakanlah,siapa tau aku bisa membantumu ! " Ucap Angkasa begitu perhatian.


Mona menatap pria itu dengan intens,Angkasa belum berubah dia masih tetap perhatian kepadanya.


" Oh tidak kas,aku baik-baik saja,apa kamu tidak melihat jika senyumanku semanis ini ?" Ucap Mona seraya menyimpulkan sebuah senyuman manis ke arah Angkasa.


Angkasa tersenyum seraya menggeleng dengan memijit-mijit pelan tengkuk bagian belakangnya.


" Kenapa ??kamu tidak percaya itu ?" Tanya Mona dengan memaksakan tersenyum.


" Semua wanita memang pandai dalam menyembunyikan perasaannya,bahkan di balik senyuman manisnya,tapi tidak dengan lukanya,justru senyuman itu adalah senyuman luka yang dikemas rapi dengan kalimat aku baik-baik saja." Sanggah Angkasa tersenyum penuh arti.


Mona tertegun senyuman manisnya tersurut seketika,ia tidak menduga jika Angkasa dapat memahami perasaannya saat ini.Namun ia segera menepisnya,ia tak ingin terpancing dengan apa yang menjadi pemikiraan pria berwajah karismatik tersebut.

__ADS_1


" Kamu so tahu Kas," Mona menepis.


" Aku memang tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi dalam kehidupanmu,tapi aku bisa merasakan jika kamu sedang tidak baik-baik saja." Ucap Angkasa menyeringai dengan tersenyum ceria.


" Lelucon apa ini ??" Sergah Mona dengan tertawa ringan,ia berharap Angkasa sedang mengajaknya bercanda.


" Mona !" Panggil Angkasa kembali,kali ini nada panggilannya dengan intonasi yang berbeda.


Mona menoleh Angkasa lalu menghentikan tawanya.


" Aku masih kepikiran atas kejadian pada malam itu ,aku tidak tau percis apa yang terjadi di antara kamu dengan Banny,tapi Banny memintaku untuk tidak bertemu kamu lagi." Jelas Angkasa dengan nada kecewa.


" Maksud kamu ??" Tanya Mona menghentikan langkahnya lalu menatap dalam wajah pria tersebut.


" Aku tidak ada maksud apa-apa Mon,aku paham Banny menyuruh itu kepadaku hanya untuk kebaikan kita,dan mungkin saja Banny memang begitu mencintaimu Mon." Ungkap Angkasa tersenyum hambar.


Mona terdiam.


Mona tidak menduga jika Banny melakukan hal itu demi dirinya.


" Apa kalian sekarang baik-baik saja? " Tanya Angkasa menatap jauh ke wajah gadis itu.Perasaanya belum bisa move on dari cintanya gadis itu.


" Aku dan Mas Banny baik-baik saja kas,semua sudah terselesaikan." Balas Mona dengan tersenyum hampa.


" Aku berharap seperti itu,dan pada akhirnya kalian bisa bersatu kembali ?" Tanya Angkasa dengan suara berat.


Mona mengangguk dengan tersenyum penuh terpaksa,ada perasaan yang terluka atas jawabannya tersebut.Angkasa masih berharap jika perasaanya akan terbalaskan olehnya.


Angkasa tersenyum datar merasakan perasaanya yang kecewa ketika Mona mengiyakan pernyataanya, apalah daya cinta tak selamanya harus saling memiliki.


Angkasa tertunduk dengan perasaan pupus di hatinya.


" Woyy !!Mon !!"


Tiba-tiba terdengar suara cempreng memanggil namanya, dan teriakan itu berhasil menyadarkan keduanya jika posisi mereka telah sampai di pelataran parkiran.


Mona menoleh ke arah suara cempereng tersebut,dan di lihatnya Tamara melambaikan tangan kepadanya.


" Kas,maaf sepertinya aku harus buru-buru pulang,sahabatku sudah pada nungguin aku." Ucap Mona berpamitan.


" Oh yaa Mon!ok Mon.Kamu hati-hati ya !Kalau ada apa-apa kamu jangan sukan untuk hubungin aku,aku siap untuk kamu 24 jam." ucap Angkasa tersenyum manis.


Yaa TUHAN !!


Engkau pasti sedang tersenyum ketika menciptakan mahluk-MU ini.


Guman Mona memuji di batinnya setelah melihat ketampanan seorang Angkasa begitu sangat istimewa.


" Kenapa sih kamu baik banget Kas." balas Mona tersenyum penuh rasa haru.


" Aku belum bisa berbuat baik Mon,aku hanya peduli saja terhadap kamu." Ujar Angkasa dengan penuh rasa.


Rona wajah Mona berhasil memerah mendengar penuturan dari Angkasa yang sedikitnya memelehkan pertahanan imannya.


" Makasih banyak Kas,kamu sudah peduli sama aku,tapi aku tidak bisa membalas lebih dari atas rasa kepedulian kamu itu terhadapku,kecuali dengan rasa terimakasihku kepadamu." Ucap Mona dengan perasaan haru.


" Kau membalas dengan ucapan terimakasih saja, aku sudah merasa senang." Balas Angkasa begitu hangat dan bijak menjawabnya.


Tapi kenapa dia tidak bisa menyingkirkan perasaan itu terhadap Banny.sepertinya Banny adalah cinta butanya.


Mona terdiam menatap penuh sesal.


" Mon elo jadi pulang gak nih ?" Teriak Tamara kembali dari ujung mobilnya dengan nada kesal.


Mona terkesiap sesaat sahabatnya itu mengejutkan kembali dirinya yang masih asik ngobrol bersama Angkasa.


" Kas maaf,sepertinya mereka udah bosan menungguku,nanti aku ganti yah uang kamu itu,tenang saja aku masih menyimpan nomot rekening kamu kok,hmm nanti aku transfer ya." Ucap Mona tersenyum hangat.


" Aku juga masih menyimpan perasaanku juga kok." Seloroh Angkasa dengan tersenyum penuh candaan.


Mona mendilak manjaa sesaat Angkasa menggombalinnya.


Mona melangkah meninggalkan Angkasa yang Menatap panjang langkahnya,Mona berlari kecil menuju ke arah kedua sahabatnya yang sudah menunggu lama di mobil.


" Sory gue kelamaan !" Ucap Mona dengan sedikit ngos-ngosan,kedua sahabatnya terlihat memasang wajah bete.


" Lo bayar makanan aja udah kaya ibu-ibu arisan yang pake ngobrol panjang lebar kali tinggi,gak kelar-kelar ampe azan subuh." Guman Tamara seraya menyimak jelas wajah pria yang baru saja ngobrol dengan Mona.


" Mon lo ngobrol sama siapa barusan? " Tanya Amel melongo dari dalam mobil.


" Sepertinya itu si langit biru ya Mon ?" Tebak Tamara seraya memperhatikan ke arah Angkasa yang berjalan ke arah mobil yang terpakir tak jauh dari mobil mereka.


" Angkasa Tam," Sela Mona pelan.


" Kok bisa sih kalian ketemu lagi ?? " Tanya Amel penasaran.


" Ceritanya panjang deh,dan itu bikin gue malu." Jawab Mona dengan ekspresi engga banget.


Amel dan Tamara saling bertatapan satu sama lain.


" Ada apa sih Mon ?" Tanya Amel penasaran.


" Bikin penasaran aja lu Mon." Sela lagi Tamara.


" Udah yuk,tar aja gue ceritain !!" Ajak Mona seraya memasuki mobil dan duduk di belakang kedua sahabatnya tersebut.


*******


Akhir-akhir ini sikap Mona sedikit berbeda terhadap Banny,sikap hangatnya berubah dingin sehingga membuat Banny semakin terganggu akan sikapnya tersebut.


Baru saja Banny membina hubungan yang harmonis dengan Mona,namun kini hubungan itu sedikit merenggang atas permasalahan yang tengah terjadi di antara dirinya dengan sekertarisnya itu.


Meski dirinya sudah menjelaskan apa yang tengah terjadi antara dirinya dengan Arnetta,namun tanggapan Mona biasa saja.Bahkan Mona terkesan acuh dan tak mau tahu.


Meski Mona tidak lagi membahas perasaanya terhadap sekertarisnya itu,namun sikap gadis itu masih menyisakan tanda tanya bagi Banny.


Mona lebih sering menghabiskan sisa waktunya dengan membaca novel kesukaanya atau sekedar chatan bersama kedua sahabatnya,dan membiarkan Banny dengan kesibukannya sendiri.

__ADS_1


Kali ini Banny berusaha bersikap sabar atas sikap diamnya Mona,tentunya jika dia mengungkit urusannya akan kian panjang.Mona sekarang bukanlah Mona yang dulu lagi,yang sering berkomentar dan berkata polos kepadanya, kini dia lebih sering berbicara seperlunya terhadap dirinya.


Banny terdiam ketika mengingat kembali sikap Mona sebelum kejadian itu terjadi,Mona selalu hangat menyambutnya bahkan ponselnya selalu bunyi,entah bunyi telpon atau deretan chat dari Mona yang hanya sekedar mengingatkan dirinya untuk tidak lupa makan atau beristirahat.


Banny mengernyitkan dahi,ini benar-benar bukan Mona, yang selama ini dia kenal,gadis itu terlalu banyak berubah sehingga berkurang segala bentuk perhatiannya kepada dirinya.


Seketika lamunan Banny buyar ketika melihat Zeanu tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


Banny terlihat terkejut sekaligus kesal atas kehadiran sahabatnya itu yang hadir secara tiba-tiba.


" Sepertinya elo terganggu atas kehadiran gue ?" Ucap Zeanu seraya duduk di hadapan Banny.Banny melengos dengan perasaan sebal.


" Usahakan jika masuk ruangan ketuk pintu terlebih dahulu,agar gue tidak terkejut seperti melihat hantu di siang bolong." Balas Banny dengan nada sedikit kesal.


" Hantu bisa masuk secara tiba-tiba jika sang tuan rumah sedang begong." Ucap Zeanu meledek sahabatnya dengan enteng.


" Ahh shitt !! elo udah membuyarkan konsetrasi gue." Pekik Banny yang merasa masih kesal.


" Ada masalah ?" Tanya Zeanu menatap penuh selidik.


Banny menghela lalu meletakan ponselnya dengan tak semangat.


" Elo baik-baik saja kawan ?" Tanya Zeanu.


Banny terlihat menatap frustasi sesaat Zeanu menanyakan keadaanya.


Banny menarik dapas begitu dalam,hembusannya terdengar begitu berat.Zeanu menyoroti sahabatnya itu dengan seksama.


" Sepertinya Mona masih marah sama gue ?" Ucapnya pelan.


" Setelah apa yang lo lakukan terhadap Arnetta ?" Tanya Zeanu menyela.


Banny tak lantas menjawab dia hanya mengangguk pasrah.


" Gue rasa semua perempuan akan bersikap sama seperti Mona,jika tau lakinya lebih peduli terhadap sekertarisnya itu." Ucap Zeanu tersenyum enteng.


" Tapi lo tau kan ?gue melakukannya bukan karena sebuah perasaan,karena sebuah empati." Balas Banny membela diri.


" Tapi jika elo terlalu berempati maka ini akan menjadi masalah yang rumit,dan akan menjadi simalakama dalam kehidupan elo,yahh secara lo dan Arnetta pernah ada perasaan yang sama." Ungkap Zeanu mengulas sedikit masa lalu sahabatanya tersebut.


Banny tertegun.


" Entahlah,Mona sepertinya masih menjaga jarak sama gue." Ucap Banny tertekan.


Zeanu menyeringah heran,kali ini Banny terlihat gelisah atas sikap istrinya tersebut,jujur saja Zeanu tidak pernah melihat Banny secemas itu memikirkan seseuatu.


" Jadi sekarang lo berpikir jika Mona mulai menjauhi lo ?" Tanya Zeanu seraya mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.


Banny menatap dalam sahabatanya itu,perkataanya sanggup menyadarkan dia jika dirinya memang begitu mengkhawatirkan akan sikap mantan sekertarisnya tersebut.


" Gue rasa seperti itu,entah kenapa gue merasa jika Mona mulai bersikap apatis sama gue Zean." Banny terlihat resah.


" Elo memangnya tidak menyakinkan jika lo benar-benar hanya sebatas pertemanan saja terhadap Arnetta?" tanya Zeanu penuh selidik.


Banny menarik napas panjang.menatap sahabatnya itu tanpa ekspresi.


" Arnetta masih berharap lebih terhadap gue." ungkap Banny dengan perasaan berat.


" Dan elo membiarkan dia berharap terus ?? mau sampai kapan lo bersikap baik sama dia seolah-olah elo memberi harapan kembali." Zeanu terlihat gusar atas sikap sahabatnya tersebut.


" Aku sudah bersikap tegas kepadanya,tapi entah kenapa perasaanku iba jika melihatnya." Sanggah Banny dengan cepat.


" Elo tidak bisa membiarkan perasaan iba lo itu semakin membelenggu diri elo sendiri.sikap empati elo akan melukai Arnetta maupun Mona,lo sendiri baru saja memulai dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan Mona,jangan sampai masalah Arnetta merubah perasaanya Mona." Jelas Zeanu dengan penuh penekanan.Ia berharap Banny bisa bersikap tegas dan memposisikan dirinya hanya sebatas Bos bukan seseorang yang sedang mencuri hati sekertarisnya tersebut.


Banny terdiam,apa yang di ucapkan Zeanu benar,selama ini dia terlalu mementingkan perasaan pihak keluarga Arnetta yang jelas-jelas sikap itu telah melukai hati Mona.


" Apa yang mesti gue lakukan ??" Tanya Banny dengan bingung.


Zeanu terkekeh melihat kebingungan yang sedang di alami oleh sahabatnya tersebut.


Untuk yang pertama kalinya Zeanu melihat sahabatnya kehilangan arah.


" Gue percaya jika elo adalah tife laki-laki yang tegas,tidak mudah merubah haluan,lo tegaskan terhadap Arnetta jika harapan itu sudah musnah,berhenti elo peduli terhadapnya.Itu solusii gue." Jelas Zeanu tandas.


Banny menyandarkan punggungnya lalu menatap panjang ke arah sabahatnya tersebut.


" Udah lah Ban,sekarang lo fokus dengan hubungan lo sama Mona,gue yakin jika elo tak peduli lagi terhadap Arnetta kecuali masalah pekerjaan elo,gue yakin Mona akan bersikap baik lagi sama lo." Tandas Zeanu memberi saran kepada sahabatnya tersebut.


Banny menghela,ia memang mengakui jika akhir-akhir ini ia begitu peduli terhadap Arnetta sehingga ia melupakan ada hati yang harus dia jaga.


" Gue harap elo bisa mendengarkan saran gue." Ucap Zeanu tersenyum dengan penuh semangat.


" Thank's sarah lo !" Balas Banny singkat.


" Ingat !! Mona sekarang bukan lagi seseorang yang gue kejar,tapi dia sudah menjadi adik gue yang harus gue jaga dan gue bela." Ungkap Zeanu menatap serius sahabatnya itu.


Banny tersenyum kaku dengan menaikan pelan pundaknya.


" Jadi elo mengancam gue ?" tanya pelan.


" Apapun yang menjadi kebahagian Mona akan gue perjuangkan,jadi gue harap elo tidak menyakitinya lagi." Ucap Zeanu dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


" Perjuangan seorang kakak atau....?" ucap Banny tak lantas.


" Elo cemburu kan jika gue masih ada perasaan terhadap Mona,dan itu sama halnya Mona juga cemburu jika elo masih ada harapan terhadap sekertaris elo itu." Ucap Zeanu memotong cepat ucapan Banny seraya berkelakar.


" Shittt !! lo memang sialan !!, membalikan semua perkataan gue." Balas Banny terlihat keki.


" Lo harus ingat,jika Mona bisa saja meninggalkan elo dengan mudah,karena gue yakin laki-laki di luaran sana banyak mendambakan sosok perempuan seperti dia." Ucap Zeanu dengan pasti.


Banny menggeleng,di rasanya sahabatnya itu sedang menakut-nakuti dirinya bahkan lebih dari itu layaknya anak kecil yang sedang di ancam untuk tidak main jauh oleh orang tuanya.


" Elo terlalu lebay,menakut-nakutin gue untuk tidak mengabaikan Mona." Sergah Banny mulai kesal.


" Nyatanya elo resah Mona bersikap abai terhadap lo." Balas lagi Zeanu tersenyum penuh cemooh.


Lagi-lagi Banny terdiam,kali ini sahabatnya sudah pandai berbicara.

__ADS_1


Banny sadar jika sahabatnya itu telah berbesar hati menerima kenyaataan bahwa dirinya tidak bisa lagi mengejar cintanya Mona,hubungan sodara tiri itu telah mengubahnya takdirnya untuk berhenti mencintai gadis yang kini telah di milikinya tersebut.


Percayalah Zeanu memang sosok laki-laki hang humble serta bijak dalam bersikap.Banny mengakui akan kelebihan sahabatnya tersebut.


__ADS_2