CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 191


__ADS_3

MONA membuka gulungan handuk di kepalanya,lalu membiarkan rambutnya yang masih basah tergerai.


Wajahnya terlihat fress meski tanpa menggunakan make up.


Banny berjalan dengan setengah bertelanjang dada, melewati Mona yang tengah asik memoles wajahnya.


Mona melirik dengan ujung matanya,lalu membiarkan Banny berlalu begitu saja.


Tapi sejenak Mona berpikir,ia merasa jika Banny mulai bersikap seperti dulu lagi,dimana ia bersikap dingin bak batu es.


Kemesraan yang baru saja di binanya mulai terasa hambar dengan sikap dan perbuatannya yang terlalu bucin menuduh Banny masih menyimpan perasaanya terhadap Arnetta sekertaris di perusahaanya.


Entah kenapa ia merasa bingung atas sikap prilakunya tersebut.


Mona menatap lurus wajahnya di cermin,penyesalan itu diam-diam menelusup ke hatinya.


Banny berjalan kembali melewatinya,ia sudah mengenakan baju santainya serta celana pendek kesukaanya,ia membawa sebuah buku lalu membiarkan Mona yang sedikitpun tak di hiraukan olehnya.


Mona menelan kuat slavinanya,entah apa yang harus dia lakukan.


Jika ia harus berpikir ulang,tentu sikapnya percis anak kecil yang jauh dari kata dewasa,namun ia tidak menyangkal jika dirinya benar-benar cemburu jika ia memikirkan sikap Banny terhadap Sekertarisnya itu yang di rasa mulai berlebihan baginya.


Otak dan perasaannya kian berperang ia tak tau harus apa yang di perbuat,tentu saja ia tak ingin jika ia kembali harus saling diam bahkan Banny bersikap acuh kepadanya.


Namun sepertinya ia teringat akan ucapan Zeanu tadi siang,ego tak kan mampu meleburkan semua perasaan yang ada di hatinya,ia harus bisa memulai untuk memperbaiki susana ini.


Tak mungkin ia harus membiarkan perkara ini hingga berapa lamanya,jujur saja ia juga ingin seperti pasangan suami lainnya yang menjalani hubungan ini dengan harmonis.


Mona berpikir sejenak,mencari cara untuk mencairkan suasana beku ini.


Mona tersenyum kecil dan ia pun berinisiatif untuk menawarkan kopi kepada Banny,ia berharap dengan secangkir kopi akan merubah suana lebih akrab kembali.


" Mas !" Panggil Mona dengan ragu.


Banny yang tengah fokus membaca sebuah buku melirik ke arah Mona yang berdiri tak jauh darinya.


" Hmm,,"


Mona terlihat ragu,perasaanya tiba-tiba tak tenang.


" Jika kamu ngantuk,tidur saja dulu aku belum ngantuk." ujar Banny dengan respon biasa.


" Tidak mas,aku,aku mau buatkan kopi untuk mas,apa mas mau aku buatkan kopi ?" tanya Mona tersenyum hampa.


" Tidak !! " jawab Banny acuh.


Mona menggigit bibirnya dengan perasaan sesal,kenapa ia harus mendapati kembali sikap es baloknya seorang Banny.


" Apa mas lapar ??? " tanyanya kembali berusaha untuk bersabar,raut wajahnya terlihat semeringah.


" Tidak !! " jawab lagi Banny singkat.


Mona semakin tertegun.


" Mas ! "


Panggilnya dengan suara pelan.


Banny kembali melirik dengan perasaan dingin.


" Aku minta maaf ! " akhirnya ucapan itu terlontar juga .


Banny terdiam,ia kembali melanjutkan kegiyatan membacanya dan membiarkan Mona dengan perasaan sesalnya.


" Mas tidak mau memaafkan aku ?baiklah jika mas tidak mau berbicara,aku harap mas mau berpikir kembali akan perasaan mas terhadap sekertaris mas itu,apa yang mas rasakan,tentu aku pun merasakannya.Aku mampu membalikan ke adaan menjadi lebih buruk jika mas tidak terlalu dekat dengan sekertaris mas itu." cerocos Mona dengan gaya ceriwisnya.


" Mona kamu ngomong apa ?" tanya Banny menatap heran atas sikap brutalnya Mona.


Mona menghela melihat reaksi Banny yang meresponnya dengan biasa saja.


" Mas tidak mendengarkan aku berbicara? " Mona mulai terpancing.


" Lalu aku harus menjelaskan apa lagi ?,seakan-akan kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan,percuma aku beradu argumen sama kamu,jika kamu sendiri tidak mempercayainya,buang-buang waktu saja." ujar Banny dengan menatap panjang sang istri.


" Salah jika aku mempermasalahkan hal ini ?" tanya Mona dengan raut wajah merengut.

__ADS_1


Banny menggeleng,baginya Mona terlalu bersikap kekanak-kanakan.


" Tapi aku sudah jelaskan Mona,harus berapa kali lagi aku katakan jika aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Arnetta." balas Banny dengan berbagai penekanan di setiap kalimatnya,ia mulai jengkel dengan sikap cemburunya Mona yang di rasa berlebihan.


" Aku bisa saja percaya dengan apa yang mas katakan,tapi sebagian karyaaan mas di sana mengatakan jika mas sering keluar bersama dengan Arnetta,rumor kedekatan mas dengan sekertaris mas itu tak hanya sekedar isapan jempol belaka mas." ujar Mona mengelak.


Banny terdiam menatap dengan berbagai perasaan.


" Yang lebih tau kehidupan aku tuh aku,bukan anak buahku,mereka hanya sekedar melihat tanpa mengetahui kebenarannya seperti apa,dan jika aku sering keluar bersama Arnetta,itu hanya keperluan pekerjaan saja,tidak lebih." ucap Banny kembali menegaskan.


" Yakin mas tidak lebih ?? " tanya kembali Mona masih tetap dengan sikap ragunya.


Banny menarik napas panjang,sepertinya ia mulai kehabisan cara untuk menjelaskan itu semua.


" Kenapa kamu tidak sepercaya itu terhadapku Mona ? ujar Banny mulai geram.


" Karena perasaan bisa berubah kapan saja mas,kita tidak pernah tau kesempatan itu ada meski perasaan itu tak ada." ujar Mona masih tetap dengan egonnya,entah kenapa ia bersi keras mempertahankan perasaan curiganya yang tak beralasan.


" Lalu bagaimana dengan Sultan ???,kamu merasa kecewa jika aku melarang kamu bekerja sama dengannya,sehingga kamu mengadakan pertemuan tanpa sepengetahuanku ??" balas Banny mulai terlihat sengit.


Mona tercekat mendengar tuduhan Banny,jika dirinya mengadakan pertemuan tanpa sepengetahuannya,ini adalah tuduhan yang tidak benar.


" Mas,kenapa mas harus membahas pak Sultan,dia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini,aku bertemu dengan dia pun aku di temani Aras." balas Mona heran.


" Jelas ini ada,aku katakan jika aku tidak setuju jika perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan Sultan,tapi kamu seolah-olah mengabaikan larangan aku dengan alasan yang tak masuk di akal menurutmu,lalu kamu bersi keras menuntut perasaanmu untuk menuduhku ada perasaan terhadap Arnetta,jelas ini relevan." jelas Banny dengan mulai terlihat mengatur rasa kesalnya.


" Jelas ini tidak relevan,aku mempertanyakan masalah perasaan kamu terhadap Arnetta,kenapa kamu sangkut pautkan dengan pak Sultan,mas pikir aku ada perasaan terhadap pak Sultan,aku baru kenal pak Sultan saja sekarang mas," tutur Mona terlihat mengatur laju napasnya.


Banny menarik napas berusaha menenangkan perasaanya.


" Kecurigaanku kian bertambah,mas begitu keras menentang kerja sama ini,jelas ini menjadi pertanyaan yang kian rumit di perasaanku mas,terlalu banyak permasalahan yang mas sembunyikan dariku." ungkap lagi Mona dengan nada tak biasa.


Banny meletakan bukunya dengan kasar di atas meja lalu ia berdiri menatap tajam ke arah Mona.Sepertinya ia tak bisa lagi menutupi apa yang seharusnya ia tutupi selama ini,mungkin ini saatnya jika Mona harus tau siapa Sultan sebenarnya dalam hidupnya.


Sorot mata yang tak biasa terpancar kuat dari sorotnya,antara marah dan kesal bercampur menjadi satu.


" Kamu mempertanyakan kenapa aku tidak suka jika kamu bekerja sama dengan Sultan,kamu mau tau alasannya hah ??" tanya Banny lantang,suaranya meninggi.


Mona terlihat menatap dengan perasaan takut ketika Banny mulai terlihat meluapkan amarahnya,entah kenapa kali ini Banny terlihat begitu sangat emosi dan itu membuat hatinya menjadi deg degan tak karuan.


Banny menjeda dengan sekuat tenanga dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan sesuatu,namun logikanya masih berpikir sehat jika dirinya belum siap mengatakan hal yang sesungguhny


" Karena aku takut kehilanganmu Mona." ujarnya terdengar parau,nada suaranya merendah namun begitu dalam akan maknanya.


Dek....


Mona tercengang dan menatap shok ke arah Banny,tak pernah ia duga jika Banny akan mengatakan hal itu kepadanya.


" Maksud mas ? " tanyanya dengan perasaan yang tak menentu,ada perasaan yang bergemuruh di dadanya hingga begitu hebat.


Banny terlihat membuang napasnya,dengan perasaan bercampur aduk ia terlihat mencoba menetralkan perasaanya.


" Lupakan !! Aku ngantuk." ujar Banny mengalihkan pembicaraan.


Mona menelan slavinanya dengan kuat,pertengkaran yang berujung dengan sebuah lelucon yang membuatnya terasa menganjal di hatinya.


" Aku tidak akan tidur sebelum mas menjelaskan semuanya." ucap Mona membulatkan bola matanya.


tersebut.


" Sudahlah,aku cape mau istirahat." pinta Banny seraya melangkah berjalan melewati Mona yang masih berdiri menunggu penjelasan darinya.


" Mas !!" panggil Mona dengan perasaan kesal.


Banny tatap berjalan membiarkan Mona berada di dalam situasi yang tak tenang.


Mona berusaha mengejarnya.


" Mas,mas,mas tidak bisa membiarkan pembahasan ini begitu saja,semuanya harus jelas dan tidak menyidakan rasa penasaran di hatiku mas,aku ingin tahu kenapa mas takut kehilangan aku hanya karena permasalahan kerja sama ini ??? Ini menyisakan pertanyaan panjang di benakku mas." ucap Mona seraya berusaha menahan langkahnya Banny.


" Besok lagi kita bahas." jawab Banny singkat.


Dia berubah pikiran untuk menjelaskan tentang sultan,masalalu baginya terlalu rumit untuk di jelaskan.


" Tidak Mas !!" sergah Mona seraya merentangkan tanganya di antara pintu kamarnya,ia menahan pria itu untuk tidak masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Banny menatap dalam wajah gadis tersebut,entah kenapa ia merasa kesal bercampur gemas atas sikapnya Mona yang begitu bersi keras mendengar semua penjelasan darinya tanpa terkecuali.


Mona mengangkat tinggi dagunya,sorot matanya terlihat tajam menatap ke arah wajah Banny,kali ini ia sedikit brutal menuntut sebuah penjelasan.


Banny menatap dalam wajah gadis tersebut yang diam-diam membuat perasaanya tertangtang untuk melakukan hal yang tak biasa.


Sejenak hening


Mereka hanya saling bertatapan namun tak berapa lama,tanpa Mona duga Banny memasang kedua tangananya lalu merangkul pinggangnya dengan kemudian ia membopong tubuh mugil gadis tersebut.


Mona tersentak melihat aksi suaminya tersebut,Mona meronta namun Banny merangkulnya dengan kuat,hingga Mona kesulitan untuk melepaskannya,Banny berjalan menuju tempat tidurnya lalu di letakannya tubuhnya Mona yang masih meronta ronta di atas kasur tersebut dan tanpa babibu Bannypun menindihnya dengan mencekal kuat kedua tangannya Mona.


Mona terhenyak dengan perasaan tak menentu,tubuh Banny menindihnya dengan kuat hingga ia merasakan sesak luar biasa.


" Aku mau kamu tidak banyak bertanya lagi dengan hal yang aku benci,aku tidak suka jika ada orang masih meragukan segala kejujuranku." ujar Banny seraya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mona.


Mona terlihat tersenggal-sengal menahan napasnya yang kian sesak.Tubuhnya tehimpit kuat oleh tubuh kekarnya Banny.


" Aku akan terus bertanya hingga mas benar-benar mengatakan yang sebenarnya jika mas tidak ada permasalahan apapun dengan pak Sultan atau pun Arnetta." ujar Mona menatapnya dengan penuh tangtangan.


Napas gadis itu terlihat naik turun,perasaannya kini bercampur aduk antara takut sekaligus cemas mendominasi pikirannya,ia yakin jika Banny tidak akan bersikap kasar padanya.


" Lepasin mas,aku engap !!" rintih Mona seraya mencoba melepaskan cekalannya Banny.


" Aku akan melepaskannya jika kamu berjanji untuk tidak bertanya kembali." tanya Banny tersenyum,ia mulai bermain-main dengan sikapnya.


Mona menghela,pria ini begitu licik sehingga menggunakan kesempatan ini begitu sempurna.


" Jika tidak ??? " Tantang Mona.


" Aku akan menindih mu sampe pagi !" ujar Banny tersenyum penuh gairah.


Mona menarik napas,sungguh pria yang aneh,batin Mona dengan menatap kesal.


" Rupanya kamu lebih senang seperti ini,daripada harus berjanji untuk tidak bertanya kembali." ujar Banny seraya lebih mendekatkan lagi wajahnya.


Mona mulai kewalahan dengan tingkah konyol suaminya tersebut.


" Cukup mas,hentikan !!" ronta Mona yang kini semakin sesak napas di buatnya.


" Sungguh ??,kamu mau berjanji ?" tanya Banny menatap penuh ancaman.


Mona mendilak dengan sebal,rupanya sosok Banny mampu berubah menyelbalkan.


Kemudian Moan tersenyum penuh ide.


" Baiklah aku janji !" ucap Mona mengulas senyuman penuh arti.


Banny menatap raut wajah istrinya tersebut.


" Aku tidak bisa bernapas jika mas menindihku seperti ini." ucap Mona pelan.


Banny tersenyum lalu ia pun sedikit melonggarkan tubuhnya ia menatap begitu dalam wajah istrinya.


" Aku tidak ingin membahas atau pun mempermasalahkan hal itu lagi,aku hanya ingin membahas masa depan kita." ujar Banny dengan lirih.


Mona terdiam dengan perasaan yang gak biasa,sorot mata pria itu begitu berkesan di hatinya,ada perasaan yang biasa ia hadirkan di dalam pandangannya tersebut.


Mona mendorong lembut tubuh suaminya tersebut,lalu ia berusaha untuk mengubah posisi tubuhnya.


Banny menegakan tubuhnya lalu duduk di atas kasur tersebut.


" Tapi perasaanku belum puas jika mas....." ucapan Mona mengantung,Banny terkesiap mendengar ucapan istrinya tersebut dengan cepat ia pun akan kembali menerkam tubuh istrinya tersebut.


" Kau sudah berjanji... Jangan buat aku menindih kamu lagi," ancam Banny seraya mendorong tubuh gadis itu untuk tertidur kembali.


Mona tertawa kecil,entah kenapa Mona merasa lucu melihat sikap suaminya tersebut,Banny berniat akan melakukan hal yang sama seperti tadi.


Mona mengelaknya dengan bergeser dari tempat duduknya dan ia berusaha untuk menghindar dari gapaian tangannya Banny.


" Jangan buat aku marah lagi." ujar Banny seraya berusaha memeluk Mona.


Mona tertawa lepas,suasana tiba-tiba berubah hangat,ketegangan itu berubah menjadi candaan yang begitu romantis.


Banny kembali mendekap erat tubuh istrinya tersebut,dan ia pun merangkulnya dengan erat,seolah-olah tak akan melepaskannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2