
JIKA hati tak mampu menerima kenyataan yang ada maka jalan terakhir adalah memilih pergi, menghindar dari keresahan yang membuatnya tak nyaman,meski Banny telah berusaha untuk menyingkirkan perasaannya terhadap Mona,namun ia tetap merasa jika hidupnya terbebani dengan bayang-bayang perempuan tersebut,bahkan hadirnya selalu menganggu pikirannya.
Keputusan besar telah di ambil olehnya,ia memutuskan pergi dari kota penuh cerita ini,lalu berencana mengasingkan diri dari sebuah keresahan hati.
Wajah yang selalu terlihat tegas itu kini berubah muram,tak ada lagi tatapan hangat serta tatapan elang yang terlihat begitu nyalang,justru kini cahaya mata itu meredup seiring hatinya yang menyiratkan sebuah kekecewaan yang begitu dalam.
Sepanjang menjalani rutinistas kehidupannya,nyaris ketegasaan serta wibawanya seorang Banny tenggelam dalam kekalutan hatinya,tak ada senyuman tulus yang membingkai di wajah tampannya itu selain raut wajah penuh sesal terlukis jelas di wajahnya.
Hari ini adalah hari terakhir ia menjadi seorang pimpinan perusahaan besarnya sang Ayah,dan ini pun menjadi hari sekaligus Banny untuk berpamitan kepada seluruh staf karyawan perusahaan besarnya yang telah di pimpinnya sekian lama.Keputusan nya mengundurkan diri dari perusahaan ini tentunya telah ia pikirkan secara baik-baik.Menyerahkan kembali sepenuhnya hak pimpinan perusahaanya kepada orang yang telah menjadi kepercayaan sang Ayah sebelum ia hadir di perusahaan tersebut,tentunya keputusan ini tidak di ambil begitu saja olehnya tanpa ada persetujuan dari sang Ayah selaku pemilik mutlak perusahan besar tersebut.
Banny memutuskan untuk kembali ke Australia setelah cukup lama mengelola perusahaan besar milik sang Ayah dengan penuh tanggung jawab,sehingga nama perusahaan nya mulai di perhitungkan oleh banyak perusahaan besar di kota besar ini.
Pengabdiannya sebagai penerus perusahaan milik sang Ayah harus terhenti,Banny memilih pergi menerima kekalahan ini,kekalahan atas kecewa yang begitu besar terhadap sosok seorang perempuan,jauh sebelum ini justru dia pernah kecewa bahkan terluka atas sebuah penghianatan,cintanya kepada seorang Kinaya mampu membuatnya menjadi seorang pria dingin yang hilang rasa kendali,namun kini kekecewaan itu justru terlahir dari dalam dirinya yang membiarkan ruang hatinya terhasut oleh ulahnya seorang perempuan yang sejak lama menginginkannya,Arnetta.
Mungkin kesalahan inilah yang menyebabkan dirinya larut dalam penyesalan,dia tidak menayadari jika sosok perempuan Mona lah yang tertamba di dalam hatinya selama ini,rasa cinta yang begitu besar membuatnya cemburu buta,hingga gelap mata memutuskan sebuah ikatan pernikahan yang begitu sakral,mengucapkan kata talak secara brutal.Ini adalah keputusan terbesar yang di ambilnya dalam hidupnya,dia memutuskan kembali ke luar negri hanya karena kecewa sekaligus patah hati oleh seorang Mona.Padahal sebelumnya penghianatan seorang Kinaya begitu sadis terhadap dirinya,namun ia mampu melewatinya dengan perasaan hancur,tapi tidak kali ini,justru ia terpedaya hingga larut dalam sebuah penyesalan.
Banny di landa putus asa dan nyaris menenggelamkan semua akal sehatnya,tak ingin berlarut-larut dalam kekecewaanya ia pun memilih pergi untuk mengobati luka hatinya, kembali ke luar negri,dimana negri tersebut tempat ia mengawali karir sebagai seorang pengusaha muda, sebelum akhirnya sang Ayah memintanya untuk pulang dan meneruskan perusahaan keluarganya.
Keputusan yang cukup membuat kecewa sang Ayah,namun Banny tetap pada pendiriannya jika ia ingin pergi jauh dari cerita cintanya yang begitu kelam.
Ada gurat kesedihan yang begitu dalam dari raut wajah para staff-staff perusahaanya tidak terkecuali pak Hendra selaku Menejer perusahaan itu,justru kini ia memiliki beban yang begitu berat di embannya,memimpin perusahaan sekaligus menjadi Direktur utama menggantikan Banny,sang putra tunggal dari pemilik perusahaan besar tersebut,tak ada alasan untuk dirinya menolak amanah tersebut.
Tak ada yang mampu berbicara sedikitpun selama pertemuan terakhir tersebut,bahkan para staff penting yang berpengaruh di perusahaan tersebut memilih untuk diam,mereka pastinya akan kehilangan sosok peminpin yang tegas bahkan di siplin keras dalam sebuah peraturan.
Meski Banny di segani bahkan di takuti oleh seluruh para staf perusahaan,akan tetapi mereka justru bangga memiliki pimpinan perusahaan yang begitu profesional dalam memperkerjakan mereka hingga mereka bekerja secara penuh tanggung jawab.
Selain memiliki wajah tampan sosok Banny memang memiliki karismatik tersendiri bagi seorang peminpin perusahaan,sehinga perusahaan tersebut menjadi salah satu perusahaan Bonavit di antara saingan perusahaan-perusahaan lainnya.
Rasa tidak rela untuk melepas kepergian sang peminpin perusahaan menajadi polemik baru di hati para staf perusahaan tersebut,Tak terkecuali Tamara yang sedari tadi memperhatikan dengan begitu seksama ikut merasakan kesedihan bahkan sikap tak rela atas pengunduran diri sang bos tampannya tersebut,rasa kecewa turut di rasakannya terlebih ia mengetahui alasan utama kenapa sang bos memilih hengkang dari perusahaan besarnya tersebut,semata-mata hanya karena cintanya kepada sang sahabatnya.
Tanpa banyak penolakan dari seluruh sttaf penting perusahaan Banny dengan jiwa besar meminta maaf jika selama ia memimpin perusahaan ini selalu bersikap tegas bahkan lebih tepatnya sadis tanpa pandang bulu dalam bertindak maupun bersikap,itu semua semata-mata hanya ingin membuat seluruh orang yang berkecimpung di perusahaanya memiliki sikap tanggung jawab serta profesional.
Setelah dirinya selesai mengumumkan pengunduran dirinya dari perusahaan sang Ayah,Banny memilih untuk berada di ruangannya dengan menenangkan berbagai perasaan gelisah di ruang hatinya,
Berbagai kenangan bermunculan di benaknya,melalui setiap ruang yang terlihat di matanya,betapa tidak,awal pertemuannya dengan Mona si gadis staff yang tidak terlalu penting atas kinerjanya di perusahaannya itu justru hadir menjadi orang begitu spesial di kehidupannya.
Awal mulanya ia memilih Mona sebagai sekertarisnya karena Mona sosok gadis yang begitu polos,jujur dan terlihat pekerja keras,dan kini pandangan Banny kepada sosok wanita itu semakin bertambah,The clumsy girl alias si gadis ceroboh,mengingat perempuan itu selalu bersikap sembrono di depannya,masih jelas semua sikap lucu bahkan kekonyolan yang sering Mona perlihatkan kepadanya.
Banny tersenyum,tidak menyadari semua kenangan itu membuatnya mengulas sebuah senyuman yang begitu tulus,antara benci dan rindu kini semakin menjelma di relung hatinya.
Tapi kenapa secepat itu Mona berpaling darinya,membiarkan laki-laki itu menempati kesempatan untuk mendekatinya lalu memilih mengiyakan perceraian dengannya.
Banny kembali menggeleng dengan perasaan lelah,terlalu lama perasaanya terikat dengan perasaan sesalnya,rasanya penyesalan ini tak mau hilang dari hatinya,melekat hingga merasa muak sendiri.
Banny menghentikan lamunannya ketika pintu ruangannya di ketuk seseorang dengan keras,Banny menatap pintu tersebut.
" Masuk !!" sahutnya tak bersemangat.
Tak lama pintu tersebut terbuka pelan, seseorang menyembul di balik pintu tersebut dengan terpogoh-pogoh.
Seorang gadis bertubuh ramping serta perponi pendek berdiri tepat di ambang pintu ruangannya dengan raut wajah penuh rasa was-was.
__ADS_1
" Permisi pak !" sapa gadis itu penuh hormat.
Banny mengangguk pelan lalu kemudian menatap lurus gadis tersebut.
Dengan sangat hati-hati gadis itu berjalan memasuki ruangan.
" Ini pak semua laporan yang bapak minta." ucap gadis itu dengan terpogoh-pogoh menyodorkan beberapa map besar berisi laporan terakhir tentang perusahaannya kepada pria yang menjadi bosnya tersebut.
" Terimaksih !" jawab Banny singkat.
" Sama-sama pak." ucap gadis itu pelan seraya mengangguk penuh hormat.
" Kalau begitu saya pamit permisi pak." ucap gadis itu tak lama.
Banny lagi-lagi hanya mengangguk seraya mulai mengamati isi map tersebut.
Gadis itu berjalan mundur ia berniat untuk secepatnya meninggalkan ruangan dingin tersebut.
" Tunggu !!" sergah Banny cepat.
Sontak gadis itu menahan langkahnya dengan wajah sedikit memucat,hatinya tiba-tiba berdegup kencang ketika pria dingin berparas tampan itu menghentikan langkahnya.
Dengan sangat hati-hati gadis itu memutar kembali badanya lalu menatap lurus ke arah sang bos tersebut.
" I iya pak,a ada apa pak ?" tanyanya dengan terbata.
" Saya ingin bertanya sesuatu sama kamu." ucap Banny menatap tajam wajah gadis tersebut.
" A ada apa pak ?" tanyanya dengan suara semakin berdecit.
"Apa Kamu sudah mengetahui tentang sahabat kamu itu? Tolong Jujur sama saya !" pintanya dengan wajah dingin.
gadis itu terlihat mengigit bibirnya dengan perasaan takut.
Entah apa yang harus dia lakukan ketika di tanya mengenai Mona,sahabatnya tersebut.Sudah di pastikan jika bosnya ini masih mencari tahu tentang keberadaan Mona hingga saat ini.
" Maksud bapak Mona ??" tanya gadis itu dengan polos.
" Ya siapa lagi kalau bukan Mona ,teman kamu yang menghilang begitu saja ?" balas Banny ketus.
gadis itu tertunduk ia tak mampu mendengar ucapan sinis pria tampan tersebut.
Baru saja dia meminta maaf ,sekarang udah berbicara sinis lagi.
Gerutu Tamara membatin.
" Maaf pak,saya sudah lama tidak berhubungan dengan Mona,kita hampir tidak ada komunikasi." balas Gadis itu berbohong.
" Apakah kamu sedang berkata benar ? " introgasi Banny tegas.
Lagi-lagi Tamara menelan kuat ludahnya,ia berusaha untuk tetap tenang walau gelagadnya mulai tercium bos dingin tersebut.
__ADS_1
" Su sungguh pak !! " balas Tamara terlihat kentar-kentir.
Banny menatap penuh selidik,ia mencoba menganalisa gerak tubuh gadis tersebut,akan tetapi ia tak ingin membuat tak nyaman gadis itu ia pun membatalkan keinginannya untuk mencari lebih jauh akan infofmasi tentang Mona.Rasanya ia sudah lelah harus bertanya-tanya akan ke adaannya Mona.
" Baiklah,kali ini saya percaya sama kamu." ucap Banny tersenyum ironis.Seakan-akan pria itu tengah menguji kejujuran gadis tersebut.
gadis itu terlihat menarik napas lega,akhirnya ia terbebas dari introgasi yang membuatnya sedikit tegang.
" Sampaikan kepada sahabat kamu itu jika kamu suatu saat nanti bertemu dengannya,bahwa saya benar-benar tulus mencintainya.Dan sampaikan juga kepada nya jika saya berharap besar dia mau kembali kepada saya dan memaafkan semua kesalahan saya.Memberi kesempatan kepada orang yang benar-benar ingin menebus kesalahan bukanlah sebuah perkara dosa besar." ungkap Banny dengan berkata begitu dalam.
Gadis itu yang tiada lain Tamara tercenung mendengar semua pesan yang harus ia sampaikan kepada sahabatnya tersebut.
Tamara berusaha memberanikan diri untuk menatap lepas wajah yang selalu di seganinya selama ini.
Tamara mengumpulkan nyalinya untuk bisa bertanya sesuatu yang lebih pribadi terhadap bosnya tersebut.
" Apakah bapak begitu mencintai Mona,sahabat saya ? " tanya Tamara dengan penuh penekanan, satu pertanyaan yang berhasil ia katakan kepada sosok pria dingin tersebut.
" Katakan saja kepadanya, jika saya benar-benar mencintainya." ucap Banny mengulang perkataanya dengan intonasi yang begitu berbeda.
Tamara tertunduk,ia tak mampu menatap wajah pria tersebut dengan berlama-lama,sorot matanya begitu pilu,memendam perasaan yang begitu dalam terhadap sahabatnya.
" Akan saya sampaikan pak,jika saya bertemu suatu saat nanti." balas Tamara berjanji.
" Dan satu hal lagi," ucap Banny tak lantas,ada tekanan yang begitu kuat di ruang dadanya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang membuatnya sedih.
Tamara menatap iba,ia melihat jelas jika pria itu kini tengah memendam perasaan yang begitu besar ia rasakan.
Banny menarik napas panjang,seolah-olah ia butuh energi yang besar untuk menyatakannya.
" Tolong kamu jaga Mona,mungkin Mona akan menemukan kebahagiaan selain daripada saya." ucap Banny parau,ia terlihat tertunduk.
Banny sudah tidak peduli akan harga dirinya,yang ia inginkan hanya satu,bahwa Mona mengetahui perasaanya meski hanya melalui sahabatnya.
Tamara kian tercenung,perasaanya berubah simpatik terhadap bosnya tersebut,mendengar kata-katanya membuat hatinya terasa memeleh bak terbakar api,sosok pria yang selalu terlihat berwibawa justru kini terlihat seperti seorang anak bocah yang kehilangan mainan favoritnya.
" Mungkin saya tidak bisa bertemu dia lagi,tapi saya yakin jika kamu pasti akan bertemu dengannya,jadi tolong sampaikan semua apa yang pernah saya katakan kepadamu,anggap saja kamu mewakili perasaan saya." ujar Banny dengan tersenyum getir.
Tamara menap kembali,entah kenapa kali ini ia melihat sosok pria itu berbeda,ke tangguhannya yang sering pria itu tampakan justru kini hilang dari sosoknya,kini hanya ada perasaan lelah yang tersirat dari raut wajahnya.
" Akan saya sampaikan pak." balas Tamara tertunduk.
" Terimakasih banyak." ucap Banny lirih.
Tamara mengangguk lalu menatap iba sosok pria tersebut.
Sejenak hening,Banny kembali memperhatikan isi laporan pemberian gadis tersebut.
" Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucap Tamara berpamitan.Banny hanya mengangguk pelan dengan raut wajah membeku.
Tanpa berlama lama Tamara pun segera berjalan keluar ruangan tersebut,meninggalkan pria itu dengan perasaan yang begitu iba.Sehancur itukah hati dan perasaanya setelah di tinggal pergi oleh Mona sahabatnya.
__ADS_1