CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 53


__ADS_3

MONA membuka pintu kamarnya dengan perlahan-lahan lalu kemudian ia pun menyalakan lampu kamarnya itu tidak lama kemudian ia pun melempar tas kerjanya di atas meja riasnya dengan kasar.


Dengan terasa letih tidak lama kemudian ia pun membantingkan tubuhnya ke atas kasur empuknya dengan pasrah.


Ia menatap lagit-langit kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu pandangannya menerawang kiang jauh.


Sosok wajah Zeanu kembali terbayang dalam benaknya kenapa tidak rasa itu pasti ada dalam hatinya ketika ia dapat merasakan kenyaman jika berada di samping laki laki jangkis berkumis tipis itu,Namun bayangan wajah itu hilang saat sosok wajah Banny timbul dalam benaknya mengganti sosok bayangan wajah Zeanu.Dengan repleks ia pun merasakan risih sendiri bahkan tegang jika berada di samping laki-laki berwajah tampan namun tegas itu.


Mona menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu kemudian ia terlihat meremas remas kepalanya dengan frustasi,Kenapa perasaanya harus tertuju kepada dua laki-laki itu secara bersamaan.


" Mona !" Tiba-tiba sang nenek berdiri di balik pintu tanpa Mona sadari.


" Nenek !" Pekik Mona seraya terbangun dari posisi tidurnya dengan cepat.


" Kok telat pulangnya kenapa?" Sang nenek bertanya seraya menghampirinya.


" Mona tadi ada acara bareng sahabat sahabat Mona." Jawab mona seraya duduk menepi di tempat tidurnya.


" Gimana kabar Nak Banny ?Kayanya sudah lama dia gak ada main ke rumah ." Tanya si nenek menatap dalam Mona.


" Banny ??" Pekik Mona setengah tersenyum kaku.


" Sibuk kali nek.Kita kan sama sama kerja jadi jarang pergi bersama lagian kita satu kantor pastinya kita sering bertemu di kantor nek jadinya." Jelas Mona dengan bersikap malas.


" Kapan Nak Banny akan melamar kamu ? Tidak baik juga hubungan itu di lama lamain,Biar nenek bisa membatalkan perjodohan nenek sama cucu temen nenek itu." Ucap nenek dengan wajah berseri seri.


Mona menatap dalam ke wajah sang nenek tanpa ekspresi rasanya ia tidak mungkin harus mengatakan yang sebenarnya kepada neneknya dan hal itu tentunya akan membuat hati sang nenek terguncang lalu dia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan di lihatnya dari sang neneknya itu.


Mona menarik napas panjang lalu menggantungkan kakinya di tepi tempat tidurnya dengan wajah terlihat ragu.


" Kenapa harus buru buru nek? Kan Mona sama Banny sudah sama-sama dewasa lagian kita sudah tau kondisi masing-masing ini ko,Banny pasti akan serius sama Mona." Jelas Mona seraya menarik napas ingin rasanya dia mengatakan apa yang menjadi sebenarnya namun rasa-rasanya hal ini tidak mungkin saat ini ia harus mengatakan semuanya.


" Hmmm....," Si nenek menarik napas sekilas ia melihat ada kegelisahan yang sedang Mona alami.


" Kamu sakit ?"


" Tidak nek,Cuman cape saja mungkin efek kerja lembur sehariak ini kali nek." Ucap Mona berdiri seraya menggeliatkan badannya.


" Yaa sudah kamu istirahat saja ya." Ucap Nenek Mona seraya bangkit dan melangkah menuju keluar kamar Mona.


" Nenek ! Selamat tidur." Ucap Mona tersenyum simpul sang nenek menoleh setelah berada di ambang pintu lalu ia pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa jawaban.


Monapun segera menutup pintu kamarnya lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamarnya ia masih gamang dengan perasaanya sendiri entahlah..., situasi seperti ini yang tidak di sukai olehnya ketika mengalami perasaan jatuh cinta dan ia merasa sulit untuk menguasai sebuah rasa yang mulai mengisi kekosongannya.


................


Keesokannya.


MONA terlihat sudah rapih ia bersiap siap untuk berangkat kerja beberapa map sudah ia tengteng bersama tas kerjanya.


" Mona tidak sarapan dulu ?" Tanya sang nenek menyembul dari arah ruangan dapur.

__ADS_1


" Nanti Mona sarapan di kantor,lagi buru-buru nek." Sahut Mona seraya menyambar sepotong roti di meja makan lalu menghambur keluar dengan cuek sang nenek hanya menggeleng seraya kembali ke ruangan dapurnya.


Sesampainya di kantor Mona mencari cari kedua sahabatnya namun rupanya kedua sahabatnya belum terlihat ada di ruangannya lalu ia pun memutuskan untuk keruanganya dulu seraya menyiapkan beberapa keperluan pekerjaannya.


Gawai Mona tiba tiba bergetar di dalam saku blezernya lalu ia pun segera merogohnya di lihatnya Sang direktur memanggil dirinya dengan cepat Mona segera menjawab panggilan itu.


" Iya hallo selamat pagi pak.!" Sapa Mona dengan lembut.


" Mona tolong siapkan meeting hari ini." Ucap Banny dari ujung telepon.


" Baik pak ." Jawab singkat.


" Kamu dimana ?"


" Saya baru nyampe pak beberapa menit yang lalu."


" Ok ,Dan tolong buat kan kopi panas untuk saya."


" Baik pak ." Jawab Mona singkat.


" Tolong kamu hubungi Zeanu untuk ikut meeting bersama soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus di bicarakan bersama dia."


" Baik pak ."


" Kenapa kamu dari tadi jawabnya baik pak,Baik pak terus ?Ada masalah ?" Tanya Banny dengan nada ketus.Mona mengernyitkan alisnya ketika mendengar pertanyaan dari Bosnya yang terdengar aneh baginya.


" Tidak apa apa pak. " Balas Mona dengan pelan lalu ia pun kembali menatap gawainya dengan masih aneh sendiri.


" Ada lagi pak ?" Tanya lagi dengan ragu


TUUUT.....


Panggilan di akhiri Mona menghela napas ia merasa sebal jika harus menghadapi sikap dingin sang Bosnya itu lalu ia pun segera menghubungi beberapa staf penting yang akan ikut hadir di acara meetingnya.


Selang beberapa menit kemudian Banny sudah tiba di kantor lalu ia pun segera memanggil Mona untuk ke ruangan.Dengan terpogoh-pogoh Mona pun masuk ke ruangannya dan di lihatnya Banny sedang duduk seraya menyiapkan beberapa dokumen penting untuk meeting.


" Permisi pak !, Meetingnya akan di mulai jam 09:45 menit pak soalnya pak Zeanu belum hadir."


" Kenapa dia ?" Tanya Banny tanpa menoleh


" Dia sedikit terlambat ada urusan penting dulu di kantornya."


" Ok!" Jawab Banny singkat.


" Kopi saya mana ?" Tanya Banny menoleh Mona yang masih berdiri di hadapannya.


" Tadi saya sudah bilang sama bu Novi untuk....," Ucapan Mona menggantung saat tatapan Banny mulai menajam ke arahnya.


" Saya minta kamu yang buatkan kenapa bu Novi ?" Ucap Banny dengan nada tinggi.Mona menelan air liurnya dengan kuat kuat matanya menggerecep kaget saat Banny menggertaknya.


" Maaf pak.!" Ucap Mona pelan lalu ia pun segera mebalikan badananya untuk melangkah namun Banny sudah menahannya.

__ADS_1


" Mau kemana ?" Tanyanya dengan ketus.


Mona terdiam lalu menoleh ke arah Banny.


" Saya buatkan kopi pak." Ucap Mona dengan ragu dia benar benar merasa tegang jika Banny sudah mulai bicara bernada tinggi kepadanya.


" Tidak usah! " Sergah Banny ketus.


Mona menarik napas panjang ia pun dengan sabar mengelus dadanya meskipun ia merasa sebal dengan sikap atasannya itu.mata buletnya melirik atas bawah lalu membuang jauh ke arah dingding kaca ruangan.


" Kita ke ruang meeting sekarang saja." Ucap Banny dengan masih fokus ke dokumen-dokumen penting yang ada di hadapannya.


" Baik pak !" Ucap Mona menghadap kembali ke arah sang Bosnya dengan manggut kecil lalu ia pun berniat membalikan lagi badannya hendak keluar dari ruangan Banny.


" Mau kemana ?" Lagi lagi Banny menahan langkahnya seraya menoleh ke arah Mona.


Mona menahan langkahnya lalu ia hanya menolehkan kepalanya ke arah Banny.


" Saya mau ke ruangan meeting kan pak ?" Tanya Mona seraya menajamkan tatapannya.


" Apa kamu tidak lihat saya belum selesai mengecek beberapa dokumen penting ?" Ucap Banny menatap kaku ke arah Mona Mona pun memutar bola matanya dengan perasaan jengkel.Lagi-lagi dia di bikin kesal dengan ulah sikap atasannya.


" Yaaa TUHAN....!!!"


Pekik Mona dalam hatinya dengan perasaan benar-benar jengkel lalu ia pun dengan terpaksa memilih untuk duduk di sopa yang tak jauh dari meja Tugas Bosnya.


Hening.......,Banny masih sibuk dengan beberapa Dokumen pentingnya sementara Mona sesekali mencuri tatapannya ke arah sang Bosnya dengan perasaan jengkelnya.


Namun diam-diam Mona mengagumi wajah gantengnya sang Bosnya meski demikian Mona memang mengakui ketampanan sang bosnya yang tiada duanya di banding Zeanu yang meskipun tampan namun masih tergolong standar saja.


Alis tebal serta bayang-bayang jambang yang berjejak setelah di cukur abis membuat Banny semakin terlihat sangat maco,garis wajahnya terlihat sangat tegas menggambatkan wajah-wajah berkarakteristik yang sangat kuat.


Selang beberapa menit tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar Mona terperangah saat ketukan pintu itu menyadatkan dia dari lamunanya saat memandang dalam wajah sang Bosnya ,Lalu Mona dan Banny pun menoleh ke arah Suara itu.


" Masuk !" Ucap Banny singkat.


Zeanu menyembul dari balik pintu dengan menatap lurus ke arah Banny.


" Sudah di mulai meetingnya Ban ?" Tanya Zeanu melangkah masuk.


" Kita masih nunggu lo." Jawab Banny seraya merapihkan kembali Dokumen-dokumen pentingnya.


Mona menatap kaku ke arah Zeanu yang tak sengaja menatapnya juga.


" Sorry gue telat tadi ada urusan dulu sebentar." Ucap Zeanu dengan mengalihkan tatapannya ke arah Banny tanpa ekspresi Mona hanya mendunduk seraya memainkan ujung baju blezeernya.


" Ok kita sekarang keruangan meeting saja." Ucap Banny seraya menatap ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya.


Entah kenapa perasaan Mona menjadi tidak karuan saat melihat sikap Zeanu terhadapnya yang terasa agak dingin dan kaku. Dan hal ini tidak biasanya Zeanu bersikap seperti itu kepada dirinya dan tatapan matanya itu tidak seperti biasanya memang ada yang berubah sejak hari ini yang di rasa oleh Mona.


Lalu Banny dan Zeanu serta Mona segera menuju ke ruangan meeting yang berada di lantai 6 dan selama menuju tempat ruangan meeting mereka bertiga hanya saling terdiam,Begitupun Zeanu ia merasa tak ada lagi selera untuk mengajak Banny dan Mona untuk berbicara pikirannya pergi entah kemana.

__ADS_1


Sesampainya keluar dari lift Banny berjalan terlebih dahulu sedangkan Zeanu dan Mona berjalan beriringan di belakang Banny mereka berdua saling terdiam tak bicara sepertinya Zeanu mulai menjaga jarak untuk dirinya.


Mona terus berjalan dengan gamang ia merasakan sikap Zeanu benar-benar telah berubah tidak sehangat dulu lagi Mona masih berajalan namun ia dengan ragu menoleh Zeanu yang berjalan di sampingnya entah kenapa raut wajah Zeanu mengusik perasaan kecilnya betapa tidak Zeanu menyimpan harapaj besar untuknya namun Zeanu tau bahwa dirinya bersaing dengan sahabatnya sendiri plus atasan di perusahannya.


__ADS_2