CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 172


__ADS_3

GADIS bertubuh mungil itu menoleh ke arah jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya yang putih.


" Sepertinya gue harus balik kantor beb." Ucap Mona seraya menyeka mulutnya dengan tisu.


" Baru juga ketemu sih beb !" Tahan Tamara merengut.


" Tamn,sahabat kita ini sekarang bukanlah Mona yang dulu lagi ,yang bisa curcol sampe lumutan,lah sekarang dia itu kan sudah menjadi seorang Menejer perusahaan gitu loh.Al hasil jadwal syutingnya padat merayap." Amel menyela dengan leluconnya.


" Etss,tapi perlu kalian ketahui.Bahwa gue tidak akan pernah berubah seperti apapun,dan gue tetap akan menjadi Mona yang kalian kenal !" Ujar Mona menegaskan ucapannya dengan tersenyum lembut hingga menampilkan kedua lesung pipinya yang begitu manis.


" Semoga !!" Sahut keduanya kompak.


" By the way,kok bisa kebetulan ada Bapake sih disini,mana masih di situ lagi !" Ucap Tamara seraya menunjuk dengan bibirnya.


Mona dengan ragu menoleh ke arah yang di maksud oleh Tamara.


" Biarin aja sih,penting amat gue harus nyamperin ke dia,lagian dia kan bareng ama sekertarisnya." Cetus Mona sengit.


" Is is cembokir nih ??" Sela Amel mengoda sahabatnya tersebut.


Mona hanya memajukan bibir mungilnya 5cm lebih majuu.


" Eh,eh ngomongin masalah sekertarisnya bapake,gue merasa jika di antara mereka ada sesuatu hal deh." Potong Tamara dengan menatap penuh selidik ke arah Banny dan orang orang yang menemaninya.Sesaat Mona menatap kaku ke arah Tamara.


Amel segera menyikut tubuh jangkis Tamara hingga repleks gadis itu memekik.


" Aw !! Mel sikut lo runcing banget." Tamara meringis.


Amel mendelik lalu mengisyaratkan Tamara untuk segera diam dan meralat omongannya tersebut.


" Memangnya ada apa ?? " Tanya Mona dengan rasa kepenasarannya.


" Gak perlu di bahas,kadang penglihatan dan otaknya si Tamara selalu bertolak belakang, jadi kalo ngomong suka menduga duga gitu." Imbuh Amel mencoba memberi alasan.


" Kenapa gak perlu di bahas ???" Tanya Mona kembali penasaran.


Kedua sahabatnya saling berpandangan satu sama lain.Terlanjur ucapan itu keluar dari mulut salah satu sahabatnya hingga mau tak mau Mona pasti menuntut penjelasan dari mereka.


" Jadi lo pada udah gak mau cerita lagi ?? " Desak lagi Mona dengan nada penuh ancaman.


Tamara yang masih meringis lagi lagi menoleh ke arah Amel yang sedari tadi matanya sudah menggrecep grecep mengisyaratkan sesuatu.


" Cerita aja kali beb,gue tidak gak akan kenapa napa kok.Gue baik baik aja." Tutur Mona tersenyum enteng.


Amel menatap kesal ketika harus membahas masalah Arnetta yang akhir akhir ini memang gencar mendekati bos tampannya tersebut.


" Gue cerita aja lah..jika gue gak cerita sama aja gue menghianati sahabat gue sendiri." Seloroh Tamara dengan polos.


" Mantap.Gue setuju itu !! ada apa ?" Tanya Mona dengan tak sabar.


Amel mendengus membuang muka dengan perasaan gusar.


" Mon,kayanya sekertarisnya bapake itu emang ada hasrat deh sama bapake." Jelas Tamara menatap seksama.


" Barbar banget sih lo bilang hasrat." Sela Amel kesal.


Mona membisu lalu mencoba menoleh ke arah Arnetta yang baru saja duduk kembali di samping Banny.


Mona menghela napas lalu melipatkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.


" Setau gue dulu mereka emang sempat dekat,namun karena ada sesuatu hal jadi mereka menjauh kembali." Jelas Mona datar.


Sontak kedua sahabat Mona saling melempar pandangan satu sama lain.


" Lo tau akan hal itu ? " Tanya Amel heran.


Mona mengangguk dengan tersenyum rapuh.


" Yaa mungkin bisa jadi sekarang mereka mau CLBK-an lagi." Ungkap Mona dengan perasaan pilu.


" Udah sih,ga usah bahas hal yang buat lo sedih.Kan gue bilang apapun yang akan terjadi nanti lo harus kuat." Sela Amel ikut menimpali.


" Itu artinya lo harus benar benar mantap melupakan perasaan lo itu." Ujar Tamara memastikan.


" Sudah,gimana nanti ajalah.Gue mumet banget dehh kalau bahas perasaan mulu." Ujar Amel mulai gusar.


Tamara merengut melihat sikap Amel.


" Tapi yang bikin gue masih penasaran,kenapa bapake cemburu ketika melihat pak Angaksa ada di rumah lo ,dan dia berpikir seolah olah lo akan di jodohkan kembali dengan pak Angkasa itu." Tanya Amel dengan penasaran.Lalu jari telunjuknya mengarah ke dagunya.


" Ya itu artinya bapake emang ada perasaan sama lo Mon." Balas Tamara enteng.


" Cakepp jawaban lo." Amel semeringah mendengar ucapan Tamara yang di rasa tak sadar akan ucapannya tersebut.


Bola mata gadis berponi pendek itu membulat,menyadari akan ucapannya tersebut.


" Eh,eh !! gue ralat.Itu gue gak sadar loh ." Ralat Tamara tak terima.


" Lo gak usah meralat ucapan lo" Bantah Amel mendilak.


" Intinya lo sama bapake itu udah saling cinta sebenarnya, cuman bapakenya aja so jual mahal,tengsin." Jelas Amel memberi pernyataan.


" Jadi gue harus gimana ? " Tahya Mona resah.


" Yang bikin ribet itu sebenarnya ego kaliann." Tambah Amel pasti.


Mona membisu,bibirnya di lipatnya hingga dalam.


" Emang gue egois ?? " Tanya lirih.


" Egoislah,kenapa ketika pak Banny menyatakan perasaan nya gak lo langsung terima ? " Sahut Amel dengan nada cukup ekstrim.


" Gue dilema,karena gue takut jika perasaan dia hanya untuk sandiwara kembali Mel.Gue selalu merasa jika pak Banny akan merencanakan sesuatu hal untuk perusahaannya dengan memanfatkan keadaan gue." Bantah Mona berusaha mengukuhkan perasaanya.


Amel menghela lalu menatap tajam ke arah sahabatbya tersebut.


" Sekarang gini aja,lupakan niat lo untuk mendapatkan kompesasi atau jabatan tinggi ketika lo bercerai dengan bapake nanti." Ucapnya dengan tenang.


" Loh loh,kok jadi berubah haluan gini ?" Tamara menyela dengan sedikit kaget.


" Stop,lo jangan nyela dulu.Lo diam dulu." Tolak Amel tegas.


Raut wajah gadis berponi pendek itu terlihat merengut dengan mengerucutkan bibirnya hingga moyong kedepan.

__ADS_1


" Sekarang gue tanya ?elo masih mencintai pak Banny ?? " Tanya Amel tegas.


Mona membisu menatap dengan berbagai perasaan.


" Gue hanya perlu jawaban ya atau tidak." Tegas lagi Amel.Jika gadis bertubuh bulat ini bertanya dengan wajah serius dan tegas tentunya jawabannya tidak main main lagi.


Mona kian menatap resah,bola matanya melirik ke arah Tamara yang hanya bisa terdiam dengan menahan napas.


" Apa jawaban lo ? " Desak Amel pelan.


Mona semakin terdiam entah apa yang harus dia ucapkan.Perasaan itu memang tidak bisa di bohongi.


" Ya !!" Akhirnya jawaban itu terlontar dari mulutnya.


" Sudah gue duga,ini hanya permasalahan ke egoisan kalian aja.Lo bisa jelasin permasalahan semua ini terhadap bapake." Ujarnya tandas.


" Tapi dia tidak pernah mau mendengar penjelasan gue Mel,dia selalu thingking sama gue,seolah olah gue sedang merencanakan sesuatu dengan pak Angkasa." Mona memberi penjelasan.


" Itulah egoisnya bapake." celoteh Tamara dengan perasaan gusar.


" Dan gue gak terima ketika pak Banny bilang akan menceraikan lo kembali.Itu artinya dia emang gak sungguh sungguh sama lo Mon,salah paham kaya gini aja langsung main ancam ancam saja.Dikira kita takut apa ??" Gerutu Tamara ikut emosi.


" Gue rasa butuh pendektan khusus untuk menjelaskan permasalahan ini. " Amel menimpali.


Mona menarik napas dalam lalu membagi pandangannya ke arah kedua sahabatnya tersebut.


" Kenapa lo seyakin itu Mel,jika pak bos itu benar benar menyayangi si Mona ??" Tanya Tamara menangtang.


" Tam, seharusnya lo paham dong,kenapa bapake semarah itu kepada Mona ketika dia liat pak Angkasa ada bersama Mona, artinya jika sebenarnya bapake itu sama sahabat kita ini memang saling mencintai,namun terkadang gensi atau keegoisan nya yang selalu mendominasi perasaan mereka." Jelas Amel yakin.


Tamara mengalihkan pandangannya dan menatap penuh tuntutan.


" Kenapa lo liat gue seperti itu ?" Tanya Mona risih setelah melihat pandangan Tamara begitu aneh.


" Gue rasa seperti itu,tapi gue tetap lebih memilih perasaan pak tuan langit sana." Seloroh Tamara dengan polos.


" Ahh terserah lo !!" Guman Amel dengan jengkel.


Mona tertawa lebar melihat sikap kedua sahabatnya tersebut.


" Mon lo mau balik ke kantor sekarang ?gue antar lo ya ? " Tawar Amel menoleh Mona.


" Lo antar gue ??? antar pake apaan ?? " Tanya Mona menatap heran.


" Becaa !! Ya mobil lah." Balas Amel singkat.


" Lo bawa mobil ? " Tanya lagi Mona semakin terheran heran.


" Lo belum tau sih Mon.Jika si Amel kemaren habis beli lotre ehh dapet mobil,beruntung sekali dia." Kelakar Tamara dengan terkekeh.


" P e a emang ni bocahh !gak sekalian aja gue beli diterjen dapet mobil cantik." Guman Amel menatap jengkel atas lelucon sahabatnya tersebut.


" Rugi dah tuh perusahaan Diterjen beli 1000 perak hadiannya mobil cantik." Tamara semakin terkekeh.


Mona ikut tersenyum geli melihat aksi kocak kedua sahabatnya itu.


" Gak kelar kelar gue kalau udah ngobrol sama lo berdua tuh." Ucap Mona seraya membereskan tas dan gawainya.


Belum saja dia beranjak dari tempat duduknya seorang pria tampan menghampiri ke arah mejanya lalu berdiri tepat di samping Mona.


Mona menghentikan tawanya lalu menoleh ke arah suata tersebut.


Di lihatnya Banny sudah berdiri tegak tepat di sampingnya.


Mona mendongkak dan terlihat menatap kaget atas kehadiran pria tampan itu yang secara tiba tiba.


Begitupun kedua sahabatnya ikut terhenyak melihat kedatangan bosnya kemeja pesanannya.


" Kamu akan balik ke kantor sekarang ?" Tanya pria itu pelan.


Mona menatap bingungan atas perubahan sikap pria tampan tersebut.


" Ya,beberapa menit lagi." Jawab Mona dengan ragu.


" Aku akan antar kamu,balik ke kantor." Ucapnya dingin.


Mona semakin merasa heran atas sikap pria tampan itu yang menawarkan dirinya untuk mengantarnya kembali ke kantor.Tak terkecuali kedua sahabatnya ikut melongo atas sikap pria tampan itu.


Bukankah mereka sedang bersi tegang ???


Tamara dan Amel saling melempar pandangan.


Banny menatap dengan tatapan mapan menunggu gadis itu menjawab atas tawarannya.


Dengan menatap ragu Mona masih terlihat kebingungan.


" Mas !" Pekiknya dengan berusaha menetralkan perasaanya.


Ada apa dengan pria ini ?tiba tiba saja memintanya untuk mengantar dia kembali ke kantornya.


Kedua sahabat Mona menatap dengan berbagai prasangka,berusaha menduga duga dengan opininya masing masing.


" Maaf mas,sepertinya aku idak bisa,soalnya aku ada urusan dulu sama mereka." Tolak gadis itu dengan tenang lalu menoleh ke arah kedua sahabatnya.


Amel melongo sesaat mendengar penolakan dari sahabatnya itu yang menyeret dirinya bersama Tamara untuk menjadi alasan Mona .


" Yess !!" Pekik Tamara dengan repleks.Bahagia melihat keberanian Mona


Dengan cepat Amel segera menarik tangan gadis berponi itu yang masih mengepalkan tangannya.


" Gak usah banyak tingkah !!" Bisik Amel geram setelah melihat raut wajah bosnya itu berubah lain kepadanya.


Banny menatap tajam ke arah Mona yang beranjak dari duduknya dan berdiri tepat menghadap di hadapan pria tampan itu,menatapnya dengan penuh ekspresi.


" Maaf ya mas." Ucapnya dengan tersenyum lembut seolah-olah dia sedang menutupi perasaan yang sesungguhnya.


Banny hanya bergeming dengan air muka yang menakutkan.


" Ok !! " Ucap pria itu membeku.Sorot matanya terlihat menyimpan kekecewaan.


Mona menoleh kedua sahabatnya lalu menganggukan kepalanya sebagai isyarat untuk segera pergi dari tempat itu.Amel dan Tamara terlihat bingung menatapnya dengan berbagai perasaan,ekspresi mereka sulit sekali di artikan.


Amel menghela napas pasrah saat melihat Mona menolak tegas permintaan pria tampan itu.

__ADS_1


Banny terlihat kecewa sekaligus menahan malu sesaat gadis itu menolak permintaanya tepat di hadapan kedua bawahannya tersebut.


" Tunggu !!" Sergah Banny dengan cepat.


Suasana berubah tegang ketika pria itu mengeluarkan suara beratnya dengan sedikit serak.


" Sebaiknya kalian segera kembali ke kantor,jam makan siang kalian sudah selesai." Titah Banny membagikan pandangan nya ke arah dua gadis tersebut dengan penuh amarah.


" Ba baik pak !!" Balas kaduanya dengan perasaan tak menentu.


Tak lama Banny melangkah meninggalkan meja Mona tanpa berbicara lagi lalu berjalan menuju ke arah tempat duduknya yang semula.Dimana di sana masih terdapat Zeanu dan Arnetta duduk menantinya.


" Arnetta kita kembali ke kantor sekarang." Ucapnya dengan ketus setibanya di hadapan Arneta dan Zeanu.


Zeanu yang sedari tadi memperhatikan aksi sahabatnya itu merasa heran dan penasaran akan apa yang telah terjadi di antara Mona dan sahabatnya itu.


Begitupun Arnetta dia tidak mengerti akan perubahan sikap bosnya tersebut setelah menghampiri istrinya tadi.


" Baik mas !" Balas Arnetta pelan.


" Zean,gua balik dulu." Pamit Banny tersenyum kaku.


" Ban,Ban,tunggu !" Sergah Zeanu terlihat penasaran.


Banny menoleh dengan menatap enggan namun ia tetap melanjutkan kembali langkahnya yang terjeda.


" Lo tidak jadi antar Mona balik ke kantornya ?" Tanyanya dengan mengejar langkah Banny.


Banny menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya ke arah samping.


" Sepertinya gue tidak akan memaksa sesuatu hal yang tidak gue sukai." Ucapnya pelan namun intonasinya cukup dalam.


Banny melangkah kembali lalu berjalan meninggalkan Zeanu yang tertegun dengan pernyataan sahabatnya itu.


Kulit dahi pria berwajah tenang itu berkerut menampilkan ujung kedua alisnya nyaris bertemu.


Ada apa dengan mereka ??


Zeanu menoleh ke arah Mona yang berjalan beriringan bersama kedua sahabatnya hendak menuju luar cafe tersebut.


Keinginannya untuk mengejar gadis itu di urungkan sesaat dia ingat kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi dirinya untuk mengetahui alasan dari sahabatnya itu memberi pernyataan yang cukup membuatnya bertanya tanya.


Kenapa Mona menolak ajakan Banny ?


Zeanu terlihat memijat lembut dahinya merasakan keganjalan di hatinya.


_______


 


Amel masih fokus mengendarai mobilnya melajukan kendarannya dengan perasaan yang masih terasa menganjal atas alasan Mona yang menolak permintaan bosnya tersebut.


Hening nyaris tak ada obrolan sedikitpun di antara mereka.Seolah olah mereka paham dengan gambaran akan situasi yang sedang di hadapinya sahabatnya itu.Tamara menoleh ke arah Mona yang memilih duduk percis di belakang sang kemudi.


Raut wajahnya terlihat memendam suatu perasaan yang dalam.


" Mon !" Panggil Tamara pelan.


" Lo baik baik aja ? " Tanya dengan suara manja.


" Yes.Gue baik baik saja." Mona berusaha menutupi perasaanya.


" Gue tidak yakin ! " Bantah Amel dengan cepat.


" Kenapa ???" Tanya Tamara dengan cepat menoleh Amel yang berada percis duduk di sampingnya.


" Gue rasa,lo sekarang pagi sibuk menutupi perasaan lo yang sesungguhnya." Ucap Amel dengan nada bicara penuh penekanan.


" Ada apa sih ?? " Tanya Tamara polos.


Amel menggeleng seraya pandangannya tetap fokus ke laju kendaraanya tersebut.


Mona membisu menatap ke arah sisi luar jendela kaca mobil dengan perasaan kian tak jelas.


" Gue yakin jika sikap lo tadi pas menolak permintan pak bos,perasaan lo mulai di hantui perasaan menyesal." Kembali Amel berukata.


" Oaalahh... plis deh Mel,lo gak usah punya fell yang ngeribetin perasaan Mona deh,apa yang di lakukan Mona,gue udah setuju banget.Menolak permintaan tuh bos.Jadi lo harus punya sikap untuk bisa di hargai tuh pria angkuh." Ucap Tamara semangat.


Amel melengos dengan perasaan tidak suka rasanya sahabatnya itu benar benar tidak paham akan arti sebuah perasaan.


" Ok,gue berharap tadi lo terima tawaran bapake untuk antar lo ke kantor.Dan lo bisa berbicara tentang masalah lo di mobil nanti." Ungkap Amel dengan perasaan kecewa.


" Menjelaskan kesalah pahaman ini,ehh lo malah so so jual mahal lagi." Guman Amel cukup merasa kecewa atas sikap sahabatanya tersebut.


Mona tercekat lalu menatap sesal kepada sahabatnya tersebut.


Kenapa pikiran nya tidak sekonek itu ??


Mona berguman pelan dengan perasaan yang kian tak menentu.


Benar juga apa yang di katakan sahabatnya itu !!!


Aghh TOLOL !!


Rutuknya dengan sebal.


" Lo gak peka !!" Ucap Amel kembali ikut merasakan kekecewaan.


Mona membisu menatap ke arah luar dengan perasaan kian di penuhi rasa sesal.


" Puter balik !!kita coba kejar mobilnya pak bos." Usul Tamara dengan cepat.


" Telat !!" Ucap Amel menimpali.


" Tapi kan mereka baru pulang juga mel." Tamara berusaha melakukan pembelaan.


" Tapi perasaan pak Banny sudah terlanjur kecewa." Sergah Amel dengan yakin.


Tamara menggigit ujung bibirnya lalu menoleh dengan Mona dengan perasaan yang sulit di artikan.


" Argghhh " Desis Mona dengan perasan kian meracau.


Kenapa serumit ini ??

__ADS_1


Mona menatap tak bergeming mengutuk atas segala perasaanya tersebut.


__ADS_2