
" MEL !! ,elo udah gila apa mempertaruhkan pekerjaan elo demi membela Mona ?" seru Tamara berusaha mengejar langkah Amel yang berjalan cepat menuju ruangan kerjanya.
" Gue sudah muak dengan sikap bos elo itu yang se akan-akan benar di matanya,dan dia sudah keterlauan banget Tam." ujar Amel dengan nada kesal.
" Tapi elo enggak seharusnya bersikap konyol seperti ini,elo sudah kehilangan pekerjaan elo Mel." cecar Tamara tak tenang.
" Sekarang atau pun nanti gue pasti akan meninggalkan pekerjaan ini,jadi apa salahnya gue mempercepat waktu kerja gue." balas Amel seraya merapihkan beberapa peralatan pribadinya di atas meja kerjanya.
Tamara menarik napas panjang.
" Tapi tidak secepat ini juga Mel,sekarang ini posisi pekerjaan lo lagi bagus-bagusnya Mel." Tamara tetap tidak setuju dengan keputusan sahabatnya tersebut.
" Gue gak bisa membiarkan Mona di perlakukan seperti itu,gue hanya ingin membuktikan jika Mona tidak serendah apa yang di katakan bos sombong itu." desis Amel terlihat kesal.
" Tapi pekerjaan elo Mel ?" tanya Tamara resah.
Amel menghela napas panjang lalu menatap dalam sahabatnya tersebut.
" Sebentar lagi gue akan keluar juga kan dari perusahaan ini,jadi apa salahnya gue mempercepat prosesnya." ujar Amel tersenyum,ia berusaha menenangkan Tamara.
Tamara menggeleng,ia tidak bisa melawan kehendak seorang Amel.
" Dan gue ?" tanya Tamara menggantung.
" Elo akan tetap bekerja disini,gua harap posisi gue elo yang gantikan." ujar Amel tersenyum datar ia berusaha untuk terlihat kuat meski perasaanya di liputi perasaan yang tak biasa,memang tak mudah bagi dirinya harus berhenti bekerja dengan sedikit konflik bersama atasanya,namun apalah daya rasa muak itu membuatnya bersikap arogan.
Tamara tertunduk merasakan perasaanya sedih sekaligus kecewa,ke adaan ini berubah menjadi kacau ia hatus kehilangan dua sekaligus sahabatnya.
Wajah gadis bertubuh ramping itu terlihat memerah menahan kesedihan yang berusaha ia sembunyikan namun nyatanya air mata itu lolos dari persembunyiannya.
" Tenang aja lo disini akan baik-baik saja." ujar Amel tersenyum,ia mencoba membuat Tamara tenang.
" Meski tanpa elo dan Mona." balas Tamara terlihat sedih,jujur saja ia tidak bisa berbuat banyak ketika masalah ini semakin rumit.
" Gue yakin elo akan mampu jalani perjalanan ini tanpa gue dan Mona,karna pada akhirnya kita akan memilih jalan kehidupan masing-masing." jelas Amel dengan perasaan berat,ia membenahi segala peralatan pribadinya.
Tamara terdiam,ia menatap seluruh ubin yang ada di dalam ruangan tersebut,semua telah berubah begitu cepat dan itu membuatnya terasa asing.
" Elo gak usah mewek lo harus bersikap kuat,jangan di biasain lemah." ujar Amel menoleh Tamara yang terlihat menangis.
" Semua berubah secara tiba-tiba." ungkap Tamara dengan nada sedih.
" Apapun yang terjadi, gue yakin jika suatu saat nanti kita pasti akan bersama-sama kembali,percayalah." ucap Amel tersenyum enteng.
" Seharusnya tadi elo tidak bersikap bodoh seperti itu." Tamara menyela dengan terisak.
" Apapun yang telah menjadi keputusan gue,gue tidak akan merubahnya." ujar Amel tersenyum getir.
Wajah Tamara terlihat menahan rasa sedih yang begitu dalam.Amel mendekat lalu ia merangkul pundak mungilnya Tamara yang perlahan mulai terguncang.
"### Persahabatan itu seperti bintang,meski jauh namun tetap akan terlihat." guman Amel menepuk-nepuk kecil pundak Tamara.
Tamara tersedu tak mampu menahan tangis yang menyesakan ruang dadanya.
Tamara tak mampu lagi berbicara kerongkongannya terasa penuh dengan sesak yang begitu mendalam.
Amel dan Tamara ikut merapihkan baju-bajunya Mona,sekiranya apa yang perlu Mona bawa kedua wanita sahabatnya Mona ikut mengemasnya.
" Mon,elo yakin akan kembali ke rumah nenek lo dan tinggal bersamanya lagi ?" tanya Amel dengan ikut merapihkan baju-bajunya Mona.
" Untuk sementara gue akan tinggal bersamanya." balas Mona dengan melipat rapih beberapa potong baju serta celananya di koper mininya.
" Emang nenek elo sudah tau akan hal ini ?" Tamara menyela.
Mona menggeleng.
" Semoga gue bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,dan nenek gue bisa memahaminya." balas Mona tersenyum tipis.
" Mon maafin gue ya,gue gak bisa bantu akan permasalahan yang tengah lo hadapi sekarang ini." ujar Amel tersenyum kecewa.
" Gue juga minta maaf Mon,jujur saja gue juga kecewa sama diri gue sendiri yang gak bisa berbuat banyak buat bantu ke adaan elo." Tamara menimpali dengan raut wajah mulai memerah,Tamara adalah salah satu sahabat Mona yang paling tidak bisa menjaga perasaanya,sosok yang mudah tersentuh dan ibaan.
" Gak apa,ini adalah permasalahan hidup gue,dan gue harus bisa menyelesaikannya sendiri,meski ini adalah hal yang paling terberat dalam kehidupan geu, tapi gue yakin gue bisa melewatinya." balas Mona dengan tersenyum simpul,ia berusaha untuk tetap tegar.
" Gue hanya bisa bantu dengan do'a semoga lo kuat,dan iklas mengahadapi kenyataan ini." Amel menimpali dengan tersenyum getir.
__ADS_1
" Makasih banyak kalian udah ada buat gue." Mona terenyuh.
" Gue pasti merindukan saat saat kebersamaan kita ini,terlebih nanti gue akan terbiasa sendiri tanpa elo berdua." Tamara terlihat menyeka air matanya yang tak terasa mengalir deras.
" Tapi setidaknya Amel masih ada bersama elo Tam untuk saat ini,lagian gue juga gak akan pindah jauh kaya si Amel." ujar Mona selesai merapihkan barang bawaanya dan siap untuk pergi.
" Gue tau,elo masih bisa bertemu gue,meski elo nantinya akan sibuk dengan pekerjaan baru elo,tapi untuk saat ini gue akan kehilangan lo berdua di tempat kerja gue." Tamara membalas dengan nada letih.
" Tapi Amelkan masih ada bersama lo untuk beberapa bulan kedepan bekerja bareng elo." ujar Mona menoleh Amel yang sedari tadi memilih diam.
" Gue udah gak kerja lagi di perusahaan nya pak bos Mon." Amel kembali bersuara.
Sontak Mona terlihat terkejut mendengar pernyataannya Amel.
" Maksud elo,elo udah risen ? Kok bisa secepat ini?" tanya Mona terheran-heran.
Amel dan Tamara saling melirik dengan penuh isyarat.sepertinya keduanya enggan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.Melihat kedua sahabatnya hanya saling pandang dengan perasaan masing-masing Mona merasa ada sesuatu yang tengah mereka tutupi darinya.
" Ada apa ?" tanya Mona pelan ia menatap tegang ke arah kedua sahabatnya.
Keduanya masih bungkam dengan perasaan yang saling tertaha.
" Apa kalian enggak mau cerita lagi sama gue?itu artinya kalian udah mulai menjaga jarak sama gue." cecar Mona penuh selidik.
" Tidak seperti itu Mon,yaa gue pengen risen lebih cepat aja." kilah Amel memberi alasan.
" Tapikan elo masih ada beberapa bulan lagi elo kerja di perusahannya mas Banny,sayang dari pada elo nganggur gak karuan,apa elo emang udah buru-buru pengen maried ya ?" goda Mona tersenyum hampa.
Amel menggeleng dengan tersenyum tawar,Tamara terdiam raut wajah kesedihannya tak bisa lagi ia sembunyikan sekalipun ia ikut mengulas senyuman.
Sejenak hening mereka hanya saling berpandangan.
" Ada apa ??" tanya kembali Mona dengan harap-harap cemas.
Lagi-lagi Amel dan Tamara hanya saling berpandangan dengan perasaan berat.
" Mel,Tam ?? " panggil kembali Mona dengan nada penuh kekhawatiran.
" Amel di pecat pak Bos." Akhirnya Tamara buka suara dengan nada bicara yang begitu sedih.
" Mel,kok bisa ?" tanya Mona dengan lirih.
" Sudahlah,lebih baik gue keluar dari perusahaan itu secepatnya," kilah Amel tersenyum hampa,ia berusaha untuk tetap baik-baik saja.
Mona menghela napas menatap Amel dengan penuh perasaan sedih.
" Kenapa mas Banny mengeluarkan elo dari pekerjaan lo ?" tanya Mona penuh selidik.Ia berharap Amel tidak melakukan hal yang patal hingga membuat suaminya itu bersikap tegas kepadanya.
Amel terlihat enggan untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.Tamara melakukan hal yang sama.
Sebelum menjelaskan Amel terlihat mengambil napas dalam-dalam.Sejujurnya ia tak ingin masalah ini kembali di perbicarakan.
" Dia memecat gue karena gue tidak mau memberi informasi tentang elo." ujar Amel singkat.
Mona mengernyit menatap dengan penuh rasa penasaran.
" Mas Banny mencari gue ? " tanya Mona sedikit menyeringah,namun sesaat kemudian air mukanya kembali menyurut,ia sudah berjanji untuk tidak berharap apapun terhadap pria tersebut.
" Sepertinya seperti itu,tapi gue enggan untuk memberi tahu keberadaan lo disini,jadi tuh bos marah sama gue,dan dia ngancam gue,jika dia akan memecat gue jika gue terbukti menyembunyikan keberadaan elo,dan gue langsung terima ancamannya dia." balas Mona tandas,sedikitpun tidak ada perasaan menyesal yang tergurat dari raut wajahnya.
Mona menggeleng dengan perasaan haru,Amel telah mempertaruhkan pekerjaannya demi dirinya,harus berbuat apa lagi dirinya untuk membalas kebaikannya Amel.
" Mel,gue minta maaf gara gara masalah gue elo kena imbasnya,dan pekerjaan elo jadi taruhannya." ucap Mona dengan berkaca-kaca sesak rasanya ia melihat pengorbanan sahabatnya untuk dirinya.
" Seharusnya ini tidak terjadi." sela Tamara pelan,ia paling keberatan jika Amel harus berhenti dari pekerjaanya.Namun di sisi lain dirinya pun peduli akan keadaan sahabatnya.
" Sudahlah Tam,gue tidak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi,justru gue akan menyesal jika gue memberi tahu keberadaan elo terhadap tuh bos,urusan makin panjang dan elo akan terbuai dengan rayuan kutukannya dia." guman Amel sedikit bersungut.
" Itu artinya elo mendukung jika Mona berpisah dengan pak Bos ?" Tamara menatap nanar.
" Jika itu yang terbaik,why not ?? gue rasa tak ada lagi toleransi atas kesempatan untuk pria itu kembali dengan atas sikap dan perkataanya yang terlalu menyudutkan lo Mona,padahal bisa saja kan dia bersikap bijaksana mau mendengarkan semua penjelasan dari lo Mon,atau pun gue,nyatanya tidak dia tetap dengan pendapatnya jika Mona berselingkuh.Sudahlah gue ingin lo mempertahankan harga diri elo,meksi gue tau elo cinta gila terhadap tuh bos ,tapi gue rasa elo harus tau,jika lo masih punya harga diri elo tidak perlu mengemis cinta kepadanya." jelas Amel sedikit berapi-api.
Tamara menghela napas berat,begitu besar rasa peduli Amel tehadap sosok Mona.
" Jika boleh gue kasih saran,sebaiknya elo menata hati elo kembali untuk masa depan elo,cukup ini hanya untuk masa lalu lo,lo berhak bahagia apapun itu caranya." ujar Amel mantap.
__ADS_1
" Tidak memberi kesempatan lagi untuk boskul? " tanya Tamara mencoba mencari peluang.
" Kesempatan apa ??? Kesempatan untuk hati lo tambah terluka ?kesempatan untuk di sakiti kembali hingga harga diri lo tak bernilai dimatanya.Ayolah cinta itu tak sebuta itu,gue tau perasaan elo begitu besar kepadanya tapi bukan berarti perasaam cinta lo itu membebani perasaan elo,betapapun tidak laki-laki itu sudah sering membuat elo menangis." ujar Amel gusar.
Entah kenapa perasaanya kali ini begitu sebal terhadap sosok seorang Banny,dulu ia pernah mebela pria itu untuk tetap bersama sahabatnya,namun kali ini rasa muak itu telah meracuni isi hati dan perasaannya.
Mona menoleh ke arah Tamara yang secara kebetulan menoleh dirinya,perasaan yang sama tengah di rasakannya.
Apa yang di katakan Amel benar kesempatan itu tak berati lagi baginya,Mona memandangi komper berisi baju-bajunya dengan perasaan yang kian di mantapkan oleh opini salah satu sahabatnya tersebut.
" Apapun keputusan elo gue tetap mendukung sepenuhnya." ujar Tamara lirih.Ia tidak ingin memaksakan kehendak sahabatnya,karena perasaan tak ada yang bisa merasakan selain dirinya sendiri.
Mona menghela napas panjang begitu besar rasa peduli kedua sahabatnya terhadap dirinya,dunia ini tak sepi ketika ia jatuh selalu ada kawan yang menemaninya bahkan menuntunnya untuk tetap bangkit dan melangkah meneruskan kembali perjalanan hidup.
" Semoga keputusan yang gue ambil ini menjadi yang terbaik dalam kehidupan gue kedepannya." ucap Mona lirih.
Amel mengangguk pasti,memberi rasa empati yang begitu dalam.Tamara mengelus lembut punggungnya Mona betapa pun tidak Mona adalah salah satu sahabatnya yang begitu pengertian kepadanya,mereka bersahabat begitu kompak saling mendukung bahkan selalu ada dalam ke adaan apapun.
Ada yang basah di antara kedua bibir matanya Mona,perasaan haru itu makin membuatnya terendam lara,beruntung ia memiliki sahabat seperti Amel dan Tamara mereka begitu tulus memahami dirinya.
Mona menunduk menghela napas berat,meski ia akan kembali ke rumah neneknya namun perasaannya seperti akan berpisah jauh dengan kedua sahabatnya tersebut,tak sekali ini saja Mona tinggal bersama Amel,jauh sebelum ada permasalahan ini Mona memulai hidup di perantauan bersama Amel,setidaknya Amel adalah sosok sahabat yang paling tahu akan kehidupan masa lalunya hingga saat ini.
Kedua sahabat wanita sekaligus pernah menjadi rekan satu pekerjaanya itu begitu sangat berperan penting dalam kehidupannya.Suka duka mereka lalui bersama.
Amel menggengam erat tangannya Mona,mencoba memberikan kekuatan untuk Mona agar tetap semangat.
" Mel,Tam sepertinya gue harus pamit." ujar Mona menarik bibirnya dengan tipis.
" Gue anter ya !" sela Amel cepat.
" Gak usah Mel,lo terlalu banyak menolong gue." ucap Mona menolak tawarannya Amel.
" Gue tidak merasa keberatan selama gue bisa membantu elo Mon." balas Amel terlihat sedih,wajah yang tegas itu kini terlihat melo.
" Tidak usah Mel,gue naik taksi online saja." sergah Mona.
" Tapi Mon," sergah Amel tak lantas.
" Gak apa -apa Mel,gue bisa pulang sendiri." ujar Mona berusaha meyakinkan sahabatnya ia tidak ingin merepotkannya untuk kesekian kalinya.
" Yakin elo baik-biak saja ?" tanya Amel sedikit ragu.
Mona mengangguk pasti.Ia mencoba meyakinkan sahabatnya jika dirinya baik-baik saja.
Mona bangkit dari duduknya lalu menarik handle kopernya menyelempangkan tali tas di pundaknya.
" Ayolah kalian antar gue kedepan." ajak Mona membagikan pandanganya ke arah kedua sahabatnya yang terlihat lesu dan saling terdiam.
" Mon,kita antar elo sampe rumah nenek lo ya." ujar Amel kembali menawarkan ke inginannya untuk mengantar Mona.
" Sudahlah gue baik-baik aja Mel,lagian gue udah pesen taksi online kok,jadi gak mungkin gue cansel." kilah Mona beralasan.
Tamara dan Amel saling berpandangan.
" Kalian antar gue sampe depan aja ya, dan pastikan jika supir taksi online nya ganteng. Hehe." Mona sedikit terkekeh di tengah perasaan sedihnya.
" Ah elo Mon gak ada kapoknya,udah tau yang ganteng itu nyakitin masih aja lo cari cowok dari gantengnya." gerutu Amel dengan sedikit kesal.
Mona terbahak mendengar salah satu sahabatnya menggurutu kesal kepadanya.
" Hanya untuk obat penyemangat aja lah Mel,lo serius banget sih,cepat menua nanti." balas Mona tertawa renyah,raut wajahnya terlihat ceria kembali.
Mona muali berjalan seraya menyeret kopernya,Amel menggeleng seraya ikut melangkah mengikuti Mona yang berjalan keluar.
" Taksi lo udah ada ,?" tanya Amel sesampainya di halaman kontrakan rumahnya.
" Sepertinya masih di perjalanan." ujar Mona seraya mengamati layar ponselnya yang jadul.
Amel berdiri tak jauh dari Tamara memperhatikan langkah Mona yang mulai berjalan ke tepi jalan seraya celingukan mencari taksi yang telah di pesan beberapa menit yang lalu melalui pesanan online.
" Mona !! " panggil seseorang menghentikan langkah Mona yang masih mencari-cari keberadaan taksi online pesanannya.
Amel dan Tamara yang mengantar Mona hingga depan kontrakannya secara bersamaan menoleh ke arah suara laki-laki yang memanggil sahabatnya tersebut.
Mona maupun kedua sahabatnya menatap seksama ke arah seseorang yang baru saja tiba di tempat tersebut.
__ADS_1