CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 178


__ADS_3

BANNY memperhatikan tangan terampil Mona yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya di atas meja.


Mata Banny beralih ke wajah Mona,wajah yang terlihat natural itu terlihat begitu bersih. Dari saat pertama mereka berjuma tak ada perubahan yang signifikan dari wajah gadis itu,tetap terlihat manis meski tidak mengunakan make up yang berlebihan.


Sekilas memang tidak ada yang istimewa,namun jika bibir gadis itu sedang tersenyum maka aura wajahnya terpancar begitu sempurna dan menampilkan kedua lesung pipi yang begitu manis bak gula jawa ,itulah sebabnya Banny candu menatap lama wajah gadis itu.


Rambut hitam lurus dan leher jenjang yang terlihat mulus,membuatnya larut dalam sebuah kesan yang telah di ciptakannya semalam bersama gadis itu.Bukti bahwa dia benar-benar ingin memiliki apa yang ada di diri gadis itu.


Setelah selesai menata sarapan di atas meja,tangan Mona bergerak menggelung asal ke atas rambutnya,dan semakin memperlihatkan leher jenjangnya hingga membuat mata pria tampan itu terpana tak berkedip.


" Mas !mas mau di buatkan kopi,teh ?atau mungkin yang lainnya ?" Suara Mona menyadarkan lamunan Banny dari rasa terpananya.


Pria tampan itu menggerecap.


" Kopi susu saja." Ucap Banny seraya mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.


" Mas,sepertinya mas sedang memikirkan sesuatu ?" Tanya Mona setelah melihat ekspresi wajah pria itu terlihat berbeda.


Banny tersenyum lembut lalu menggeleng pelan.


" Aku hanya heran saja." Ucap Banny pelan.


" Heran kenapa mas ?" Mona mengerutkan keningnya mendengar pernyataan pria tampan itu.Lalu dia pun mengambil duduk tepat di samping Banny.


Sebelum Banny menjawab dia tersenyum simpul ke arah Mona seolah-olah memberikan senyuman yang penuh arti,Mona masih menunggu jawaban pria itu dengan berbagai pertanyaan.


" Heran saja,kenapa tidak dari awal aku memiliki kamu." Goda Banny dengan tersipu.Mona menjeda kunyaahannya dan.....


" Uhukk....uhuukk !!"


Godaan Banny tersebut mampu membuat Mona tersedak nasi goreng yang sedang di makannya hingga matanya berair.


" Maaf sayang....!" Dengan repleks Banny yang duduk di dekatnya itu meraih segelas air putih lalu mendekatkan bibir gelas berisi air putih itu ke mulut Mona dengan panik.


" Maafkan aku Mona,membuat sarapan kamu terganggu." Ucap Banny penuh sesal.


Mona menatap Banny dengan seksama,terpancar jelas dari sorot matanya jika pria itu benar-benar mengkhawatirkan keadaanya.Namun sepertinya rasa gatal di tenggorokannya itu semakin mengerikan sehingga Mona kembali terbatuk-batuk lagi.


Karena tersedaknya cukup membuat ia terasa mual.Mona pun segera berdiri dan berlari menuju tempat cuci piring,perasaanya berubah menjadi ingin muntah.


Banny mengikutinya kedapur,dengan spontanitas ia pun mulai mengelus ngelus punggung Mona dengan lembut.


Mona merasakan sentuhan tangan Banny seperti tembus panas,merasakan sentuhan lembut itu seperti sentuhan tadi malam.Meski melewati pakaiannya namun merasakan sentuhan itu sampai kekulitnya.


" Maaf kan aku Mona,aku tidak bermaksud membuat kamu jadi mual atas kegombalannku ini." Ucap Banny dengan suara lirih menatap dengan penuh rasa sesal.


Mona menoleh ke arah pria itu lalu tersenyum lembut,seakan dia berkata tidak apa.


" Aku bawakan minum untukmu ya." Ucap Banny penuh perhatiann.


" Tidak mas." Jawabnya pelan.


Namun baru saja dia selesai berkata,ia kembali batuk.Mona merasa ada sesuatu yang seperti mengulik di tenggorokannya.Benar-benar tidak bisa di ajak kompromi sejadi jadi ia pun terbatuk-batuk.


Wajah Mona sudah merah padam,air matanya membasahi pipinya dada,dan perutnya terasa sakit.


Banny segera mengambil air hangat lalu memberinya minum.Sorot matanya kian terlihat panik.


" Kamu baik-baik saja ?" Tanya nya resah.


Setelah meminum air hangat batuk Mona mulai berkurang.Banny menuntunya kembali ke meja makan.


" Maaf kan aku,aku tidak bermaksud membuat kamu keselek begini." Ucap Banny tatapannya penuh sesal.


" Tidak apa-apa mas,tadi aku hanya keselek saja.Dan entah kebetulan entah apa,tiba-tiba saja seperti ada yang nyangkut di tenggorokan ku,makanya aku jadi batuk." Jawab Mona tersenyum lembut.


" Setadinya aku hanya ingin kamu tahu akan penyesalanku ini Mona." Ucap Banny.


Mereka saling pandang.Tapi tentu saja arti pandangan mereka berbeda.


Mona dengan pandangan anehnya sementara Banny dengan tatapan menggodanya.


Tentu saja hal ini mengundang ketidak percayaan yang luar biasa bagi Mona terhadap seorang Banny yang bisa bersikap semanis ini.


Mona membulatkan matanya,sekan-akan dia tidak ingin terpengaruh dengan kata-kata ajaibnya Banny yang baru saja di ciptakannya tersebut.


" Penyesalan apa mas ?" Tanya Mona kian penasaran.


Tiba-tiba saja jantungnya berdebar-debar menunggu kata-kata yang akan kembali di ucapkan pria tampan itu.


" Sudahlah,aku tidak ingin kamu batuk lagi mendengar omongan konyol ku ini." Ucap Banny melanjutkan kembali sarapannya.


" Mas !" Pekik Mona kesal.


Raut wajahnya berubah kesal namun sedikit manja.


Banny hanya mengangkat kedua bahunya dengan tersenyum penuh menggoda.

__ADS_1


Perubahan yang luar biasa.Pria tampan itu tak lagi menampilkan raut wajah dinginnya,kini dia tersenyum hangat ke pada wanita itu sehangat sinar mentari menyambut pagi.


Mona hanya menggeleng pelan,baginya melihat perubahan akan sikapnya Banny benar-benar sebuah anugrah yang tak terduga.


" Aku akan siap-siap 15 menit lagi." Ucap Mona seraya membereskan bekas sarapan mereka, sambil sesekali batuknya masih terdengar.


" Kamu masih batuk ?" Tanya Banny cemas.


" Hanya sedikit gatel saja tenggorokannku." Ucap Mona.


" Biar aku yang kerjakan." Ucap Banny seraya berniat ingin mengambil tumpukan piring di tangan Mona.Tapi Mona menolaknya.


" Tidak usah mas,mas siap- siap saja.Nanti mas terlambat ke kantor." Jawab Mona sambil melangkah ke dapur membawa piring- piring bekas sarapan.


Mona mencuci piring dengan membelakangi Banny.


Banny memperhatikan tubuh gadis itu.


Matanya menyapu bagian leher Mona yang jenjang.Dan itu sungguh terasa menggodanya.Ingin sekali rasanya Banny mengecup leher Mona.


Perlahan Banny mendekati Mona,kedua tangannya merangkul Mona dari belakang.


" Mass !" Pekik Mona terkejut melihat aksi suaminya tersebut.


" Kenapa ??sepertinya kamu terkejut sekali ? " Tanya Banny dengan suara pelan.


" Aku lagi mencuci piring mas,nanti pakaian mas basah." Sergah Mona canggung.


" Sepertinya aku tidak bisa melepaskan mu lagi." Bisik Banny menempelkan bibirnya ke telinga gadis itu.


Sontak itu membuat Mona terasa merinding,dan desiran halus itu mampu mendebarkan jantungnya.


" Mas,aku sedang bekerja." Tolak Mona manja.


Banny tidak memperdulikannya kini dia semakin meluk erat bahu gadis itu,dan justru kini Banny membenamkan wajahnya di tengkuk Mona,yang sedari tadi mengundang hasratnya untuk memberikan stempel ke pemilikannya di sana.


Hal itu sanggup membuat tubuh gadis itu bergetar.


" Mas !" Rintih Mona dengan ******* lembutnya.


Entah kenapa bulu romanya serasa berdiri semua dengan ulah suaminya tersebut.


" Mas hentikan !" Pinta Mona dengan menarik tubuhnya dari pelukannnya Banny.


Banny menghela napas panjang lalu menatap gadis yang kini posisi tubuhnya menghadap dirinya.


" Aku harus segera ke kantor,karena ada sedikit pekerjaan cukup rumit yang belum aku selesaikan." Ucap Mona seraya melepas kain celemek yang menempel di tubuhnya.


" Makan siang nanti aku ke kantor mu ya mas,kita makan siang bersama." Ucap Mona lembut.


" Baiklah !" Ucap Banny seraya melepaskan pelukannya.


" Pagi ini aku akan mengurus pencabutan gugatan perceraian kita." Ucap Banny.


Mona tersenyum lembut,tangannya beraksi membenarkan dasi yang menggantung di leher pria tampan tersebut.


" Jangan lupa !kita makan siang bersama ya!." Ucap Banny mengingatkan lagi dengan menangkup wajah gadis itu lalu menariknya ke hadapannya.Hidung mereka pun saling bertemu satu sama lain.Mona hanya tersenyum lembut merasakan kebahagiaan yang begitu nyata.


_________


" Pak,pak ! maaf sebaiknya bapak tunggu di luar saja !saya akan panggilkan pak Banny untuk menemui anda." Seorang gadis cantik mencoba menghadang langkah seorang pria yang mengenakan stelan jas hitam berjalan cepat menuju ruangan Dikektur.


Namun si pria bertubuh tegap itu tidak mengindahkan apa yang di sampaikan gadis cantik tersebut, justru semakin mempercepat langkahnya.


setibanya di hadapan pintu yang bertuliskan Direktur Utama lantas si pria itupun mendorong kuat pintu tersebut,hingga melupakan untuk mengetuknya terlebih dahulu.


Pintu ruangan itu terbuka lebar menampilkan seorang pria tengah sibuk dihadapan layar laptopnya.


Pria itu menoleh dengan perasaan terkejut,Matanya sedikit membulat tajam setelah melihat kehadiran pria yang menerobos masuk ke ruangannya tampa permisi.


" Maaf Mas !pak Angkasa memaksa untuk masuk !" Arnetta menyembul dari balik tubuh pria itu dengan ketakutan.


Mata Banny menatap secara seksama ke arah pria yang berdiri tegak tepat di hadapannya tersebut.


Arnetta menatap ragu bosnya tersebut.Banny menganggukan kepalanya lalu memberikan sebuah isyarat kepada sekertarisnya itu untuk segera meninggalkan ruangannya.


Gadis cantik itupun mengerti lalu segera pamit keluar.


Pria berwajah karismatik itu menatap panjang ke Banny yang terduduk dengan penuh ke angkuhan.


" Sepertinya anda lupa bagaiamana cara bertamu yang baik ?" Ucap Banny tersenyum sinis.


Pria itu mendengus tak kalah sinis.


" maaf saya tidak ada waktu untuk berbasa-basi.Aku perlu bicara dengan anda tuan Banny !" Ungkap Angkasa dengan ekspresi yang tak biasa.


Wajah pria tanmpan itu menatap penuh sarkastik.

__ADS_1


" Mengenai apa ?" Tanya Banny menatap tajam.


" Mengenai pembatalan kontrak ini." Jawab Angkasa masih berdiri menatap dengan berbagai perasaan.


Banny mengernyit lalu menatap sinis pria tersebut.


" Bukannya kita sudah sepakat untuk membatalkan kontrak ini tanpa ada syarat apapun." Ucap Banny dengan wajah heran.


" Apa aku bisa duduk di kursi anda ini ?" Tanya pria itu yang sedari tadi masih berdiri tegak di hadapan meja Banny.


Banny mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Angkasa untuk duduk dengan tanpa bicara.


" Apa yang akan anda bicarakan kepada saya ?" Tanya Banny dengan raut wajah tidak suka.


Jelas saja kehadiran Angkasa sangat menganggu kenyamanannya.


" Aku akan mengajukan denda atas saham ku yang telah anda batalkan begitu saja." Jelas Angkasa dengan tenang.


Banny tersenyum angkuh sebelum berbicara.


" PakAngkasa,pembatalan kontrak ini adalah hasil dari kesepakatan kita bersama,kenapa anda harus meminta denda,ada hal apa yang bisa merubah keputusan anda itu." Ungkap Banny seraya menyoroti fatnernya itu dengan tajam.


" Karena dari pembatalan kontrak ini saya mengalami kerugiann !" Imbuh Angkasa dengan ekspresi yang sulit di artikan.


" Itu sudah menjadi konsekwensi anda dalam menyetujui keputusan ini.Dan tentu saja ini adalah keputusan yang anda sepakati dalam ke adaan sadar sepenuhnya." Balas Banny dengan mencibir.


" Tapi maaf.Saya berubah pikiran akan hal itu." Ungkapnya dingin.


" Saya tau akan perubahan pikiran anda,karena anda tidak profesional dalam menyikapi pekerjaan ini." Ucap Banny tersenyum mengejek.


Angkasa mendengus lalu menatap fatnernya itu dengan tatapan sinis.


" Saya hanya tidak mau merasa di rugikan dengan suatu perusahan mana pun,termasuk perusahan anda Tuan Banny." Ucap Angkasa dengan penuh intonasi.


" Heu..,aku rasa anda sedang patah hati.Sehingga persoalan ini kian terasa rumit.


" Aku tidak peduli.Aku minta denda atas pembatakan kontrak ini Lima Miliyar !!"


Brak ......


Banny menggebrak meja yang ada di hadapannya cukup keras.


" Anda mau merampok saya ?? Investasi yang ada berikan tidak sebesar itu !" Banny terlihat geram.


" Heu !! anggap saja itu adalah denda kerugian yang anda ciptakan untuk sebuah pengorbanan atas perasaanku terhadap Mona." Ungkap Angkasa lantang.


" Anda pikir saya akan begitu saja memberikan denda sebesar itu ?anda pikir saya akan diam,hah ??"


Banny terlihat geram kedua rahangnya terlihat menegang.


" Pak Banny yang terhormat.Anda pikir membatalkan kontrak itu bisa semudah itu? seperti halnya anda membalikan telapak tangan,tentu saja tidak !semua harus ada prosedurnya.Dan tentunya saya tidak ingin mengalami kerugian atas sikap ketidak kompetenannya anda atas pekerjaan ini." Hardik Angkasa semakin lantang.


Tulang rahang Banny mengeras,menahan amarahnya yang mulai meletup letup.


" Aku akan proses permasalahan ini ke jalur hukum !" Ucap Banny.


" Dengan senang hati,dan aku sangat berharap untuk tidak lagi menjalin kerja sama dengan perusahaan anda dalam bentuk apapun." Tandas Angkasa menohok perasaanya Banny.


Banny terdiam menatap pria itu dengan sorot mata marah.


" heu'h !!betapa lemahnya perusahaan ini di bawah kepeminpinan seorang pencundang macam anda,saya sangat khwatir jika kalangan para elit lainnya akan mengetahui seperti apa sisi buruk seorang Banny.Dan saya pun sangat yakin jika para elit sana akan merasa sangsi untuk berinvestasi di perusahaan anda ini." Ejeknya lantang.


Banny mendecih lalu tersenyum penuh ke angkuhan sebelum akhirnya dia memberi kesan buruk terhadap Angkas.


" Anda tidak perlu menghkawatirkan hal itu.Justru andalah yang harus merasa khawatir dengan diri anda yang tidak bisa bersikap profesional,hingga mencampuri urusan pribadi anda dengan sebuah pekerjaan.Bukankah hal itu sangat naif ??Akui saja jika anda merasa patah hati atas ketidak mampuannya anda mendapatkan istri saya.Mona !!" Ucap Banny dengan menatap sarkastik,penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Tangan Pria berwajah karismatik itu mengepal menahan perasaanya yang terhujam oleh pernyataannya lawan bicaranya tersebut.


Angkasa merasakan dilema antara ego dan perasaanya.


Betapa tidak,apa yang di lakukan sepenuhnya itu Banny mampu mengetahuinya, ia lakukan semua itu hanya semata karena rasa sakit hatinya.


Yaa.....ia melakukan itu hanya sebatas rasa kecewa yang begitu dalam.Dan pastinya ini adalah proses rasa dendam atas perasaannya tersebut.


Angkasa membisu menatap tajam Banny.


" Saya tegaskan lagi,bahwa saya akan proses masalah ini ke jalur hukum !" Ucap Banny.


" Apakah anda sudah paham ?" Tanyanya dengan sinis.Angkasa hanya tertegun merasakan tak ada lagi perlawanan darinya.


" Jadi silahkan anda tinggalkan ruangan saya inj jika anda sudah selesai berbicara !" Usir Banny seraya mengangkat tangannya dan mempersilahkan Angkasa untuk segera keluar.


Raut wajah pria itu merah padam,merasakan kebencian yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Begitu angkuhnya Banny dia matanya sehingga melahirkan perasaan tidak suka terhadapnya.


Sorot mata Banny membekukan perasaanya.Tatapanya dingin penuh rasa ketidak sukaan.

__ADS_1


Setelah Banny mengatakan hal itu Angkasa beranjak dari tempat duduknya,dan tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya,Angkasa langsung pergi begitu saja mengakui akan kekalahannya.


Setelah Banny menghilang di balik pintu.Banny baru bisa bernapas lega,membuang perasaan marahnya.


__ADS_2