
BANNY PRATAMA WIGUNA berdiri tegak di hadapan gadis yang tengah fokus di hadapan layar laptopnya,Ia tidak menyadari jika bosnya tersebut sedari tadi sudah berdiri dengan menatapnya tajam.
Mona baru tersadar atas kehadiran bosnya tersebut sesaat ia hendak mengambil map di sampingnya.
Sesaat ia terhenyak,sejak kapan pria dingin itu berada di ruangannya ?
Mona menatap penuh tanya,namun gadis itu bisa menyimpulkan jika pria yang ada di hadapannya kini terlihat sedang marah kepadany,dan tak perlu bertanya lagi pasti pria ini akan mempertanyakan alasan dirinya kenapa tidak menemuinya di kantin siang tadi.
" Kenapa kamu tidak menemui ku ?" Tanyanya dengan menatap dingin.
Mona terdiam menghentikan aksi jari jermarinya di kyboar laptop tersebut.
" Maaf tadi saya lihat bapak sedang berbicara dengan Arnetta,jadi saya pikir saya tidak mau menganggu." Ucapnya dengan dingin.
" Menganggu ?,memangnya kamu tahu apa yang sedang saya bicarakan dengannya ?" Tanya Banny menatap kian tajam.
Gadis itu menggeleng lalu mengalihkan pandanganya ke laptop dengan acuh.
" Jika kamu tidak bisa menemani makan siang saya,setidaknya kamu dapat memberi tahu saya lewat pesan,jangan sampai saya menunggu lama." Ucapnya dengan berjalan menuju kursinya.
" Maaf !" Sela gadis itu pendek.
" Hanya itu yang bisa kamu ucapkan,membuang waktuku hanya untuk menunggu mu saja." Gumannya dengan nada jengkel.
Mona terdiam,ia mengakui dirinya bersalah.
Banny segera duduk di kursinya lalu pandanganya mulai fokus kehadapan beberapa berkas-berkas yang di serahnya Mona tadi siang,dan ia pun mulai mengecek satu persatu berkas-beraks tersebut.
Mona masih terdiam merasakan perasaanya kian bersalah,namun ya sudahlah ia juga tidak mau ambil pusing toh ia sengaja melakukan hal itu karena ia merasa perasaanya tak suka jika melihat gadis cantik itu berada dekat dengan pria tampan itu.
" Nanti kamu pulang pake taxsi,saya sudah ada janji dengan salah seorang mitra perusahan sore nanti." Ucapnya dengan acuh.
" Baik pak." Gadis itu menyahut dengan perasaan enggan.
Lalu pria itu kembali disibukan dengan pekerjaanya tanpa mempedulikan lagi gadis itu yang tengah merasakan hatinya penuh penekanan atas sikap dan ucapann bosnya tersebut,jika dalam ke adaan tak bersalah saja ia sering di buatnya serbasalah apa lagi saat ini,dimana kondisi saat ini benar-benar dalam keadaan besalah,karena keteledorannya tidak memberi tahu atas ketidak hadirannnya di waktu makan siang tadi.
**********
MONA menikmati kesendirian di senja yang mulai tenggelam meninggalkan siang dengan berbagai peristiwa.
Gadis muda itu menatap langit yang mulai terlihat gelap, menyendiri dalam lamunan panjang yang menerawang jauh ke langit nan jauh di sana.
Berbagai peristiwa telah terjadi begitu saja dalam kehidupannya yang tak ayal selalu melibatkan perasaan serta kesabaran untuk menghandapinya.
Mona masih terdiam memandangi satu persatu orang yang berlalu lalang di hadapannya,ada banyak pikiran di benaknya untuk saat ini,terlebih atas pemandangan yang di lihatnya tadi siang,pemandangan yang menampilkan dengan jelas jika gadis cantik itu begitu dekat dengan bos sekaligus suaminya tersebut.
Meski ia berusaha untuk mengenyampingkan perasaanya itu,namun justru hati kecilnya menolak ,jika dirinya memang berhak untuk cemburu.
Harus berapa kali lagi ia harus bersembunyi di balik perasaan yang sesungguhnya,tentu saja ia sudah merasa jenuh dengan perasaanya yang selalu ikut serta bersandiwara dalam menutupi perasaan cintanya sesungguhnya.
Namun jika ia masih terpaku dalam permasalahan ini, tentu saja ini akan menjadi masalah besar yang akan menanti di dalam kehidupannya.
Gadis itu mendesah merasakan perasaannya semakin tak karuan,berapa lama lagi ia harus menjalani ikatan sandiwara ini yang mau tak mau akan membawa hatinya semakin hancur kala perceraian menjelma dalam pernikahannya.
Entah kenapa seketika alam menjadi gelap,awan terlihat pekat menyelimuti langit malam seperti tahu akan kondisi hati gadis itu saat ini,dan langit pun berubah kelabu seolah-olah sedang membendung air hujan yang tak berapa lama lagi akan di pastikan turun membasahi seluruh permukaan bumi ini.
Namun gadis itu terlihat tak bergeming dari tempat duduknya menyendiri di tengah-tengah keramaian suasana taman kota,dan sepertinya gadis itu pun masih larut dalam duka hatinya sehingga mengabaikan perubahan cuaca malam tersebut.
Mungkin baginya orang lain tak akan pernah mengalami hal seperti apa yang sedang ia alami saat ini ?
Seharusnya saat ini ia menjalani hari-hari bahagia sebagai seorang pengantin baru,bagaimana layaknya pasangan-pasangan pengantin baru lainya,bukan seperti ini merasakan duka yang bertubi-tubi dalam kehidupannya.Pikir gadis itu bermonolog.
Masih dengan perasaan cemasnya, mata gadis itu begitu intens memandangi awan yang mulai berarak menjauh dari permukaan langit sana.
Pasrah !!
Yaa.....,saat ini ia hanya bisa pasrah merasakan hatinya teriris sembilu atas cinta sepihaknya itu.Ah rasanya semelo itukah suasana hatinya saat ini.
Hidupnya sepuitis itukah ???
Batin gadis dengan tersenyum pahit menatap lagit sana.
" Mona !!" Suara bariton dengan nada lembut memanggilnya.
Pandangan gadis itu masih tertahan dengan mencoba mengoreksi akan indra pendengarannya tersebut atas suara yang memanggil dirinya.
" Mona,apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" Tanya kembali seseorang itu memecahkan kesunyian.
Mata gadis itu bergeser mencari si pemilik suara yang bertanya kepadanya.
Seorang pria dengan perawakan tinggi menjulang menatapnya dengan berbagai perasaan ke arah dirinya.
Perlahan gadis itu menurunkan sedikit wajahnya yang tengah menengadah ke langit sana,dengan di ikutisertakan oleh bola matanya yang bergeser dengan tatapan sendu.
Entah sejak kapan pertanyaan dari pria itu terasa menjadi perhatian yang berarti bagi dirinya dan itu berhasil membuatnya terharu.
" Angkasa,kamu kok disini ?" Tanyanya dengan terlihat kaget.
" Sepertinya aku tak perlu menjawab pertanyaan kamu,apa alasan aku berada disini,karena tentunya aku sedang menemani kamu." Ucap pria itu dengan berkata lelucon.
Gadis itu tersenyum hampa,ia merasa jika pria berkarismatik itu sedang mencoba menggoda dan menghibur dirinya.
" Ucapan kamu seperti anak alay,lebay !rasanya tidak mungkin juga jika kamu kesini dengan sengaja,tentunya pertemuan ini terjadi atas ketidak sengajaan saja." Ujar gadis itu dengan tersenyum hangat namun tatapannya terlihat dingin.
" Bisa jadi pertemuan ini merupakan sebuah panggilan hati." Ucap kembali pria itu tetap berkata lelucon terhadap dirinya.
" Ah,Akas sepertinya kamu hari ini melupakan sesuatu." Mona menyela dengan menoleh sekilas wajah pria itu.
__ADS_1
" Melupakan sesuatu ??" Pria itu mengernyit dan menatap heran ke arah wajah gadis itu.
" Apa ?" Tanya pria itu menatap dengan seksama.
" Bahwa kamu lupa minum obat hari ini,sehingga ucapan kamu sedikit melantur." Jawab Mona dengan tersenyum rapuh,raut wajahnya terlihat ceria atas ucapan leluconnya itu.
" Gimana aku bisa mimum obat,jika obatnya tak ada bersama ku." Ucap pria itu semakin lebay menanggapi candaanya gadis itu.
Mona menggeleng,melihat sikap jayusnya seorang Angkasa berhasil membuat dirinya sedikit merasa terhibur dari perasaan gundahnya akan permasalahan yang sedang di hadapinya tersebut.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku,sedang apa kamu disini? seorang diri dalam ke adaan termenung lagi,membuat perasaan ku sedikit khwatir." Ujar Angkasa dengan kembali tersenyum meledek ke arah gadis itu.
" Berhenti membuat lelucon." Ucap Mona mendilak manja,seolah-olah ia menemukan tempat kenyamanan di hati pria itu di kala ia sedang merasa galau.
" Ini tak hanya sekedar lelucon Mona." Ucap Angkasa menatap serius.
" Akh kamu bisa saja." Imbuh gadis itu tertunduk berusaha menyembunyikan perasaan yang sesunggunya.
Menatap mata pria itu seolah dirinya sedang menatap sosok seorang Zeanu yang selalu membuat dirinya nyaman bila ada di dekatnya.
Angaksa masih menatap dengan lekat menanti jawaban yang pasti dari gadis itu.
" Aku,aku hanya sedang melepas lelah saja Kas." Ucap Mona dengan lirih.
Pandangannya teralihkan kembali ke langit sana,menahan perasaanya yang mulai terasa gerimis.
" Lelah atas kepura-puraan ? " Angkasa menimpali dengan menatap lekat wajah gadis itu yang mulai meredup.
Sesaat Mona menurunkan kembali pandangnya lalu menatap wajah pria itu dengan seksama.
" Maksud kamu ? " Tanya-nya dengan mengernyit keras.
" Aku sudah tahu akan permasalahan kamu Mona." Ucap pria berwajah karismatik itu mengambil duduk yang tak jauh dari gadis itu.
" Plis deh jangan bercanda terus !!." Ucap gadis itu seraya mengerucutkan bibir mungilnya dengan ekspresi wajah tak suka.
" Aku tidak lagi bercanda,aku memang mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam kehidupan kamu,terutama pernikahan kamu Mona." Ucap Angkasa dengan tersenyum penuh arti.
Kedua alis gadis itu terangkat tinggi dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya atas sikap pria itu.
" Akas,stop deh kamu jangan mengajak ku bercanda,karna saat ini aku sedang tak ingin bercanda." Ungkapnya dengan memalingkan wajahnya menengadah kembali ke langit sana dan berusaha mengabaikan kekonyolan pria tersebut.
" Aku ini tidak sedang mengajak kamu bercanda Mona.Aku tahu jika pernikahan kamu dengan pak Banny hanyalah settingan belaka." Ungkapnya dengan terlihat menatap serius gadis itu.
Sontak Mona pun terkejut bukan main di saat pria itu memberikan pernyataan yang mengejutkan,terlebih-lebih pria itu mengetahui permasalahan yang sedang di hadapinya saat ini,dan Mona pun dapat melihat jelas keseriusan yang tersirat dari wajahnya pria berkarismatik tersebut.
" Kamu tahu dari mana jika pernikahan ku ini hanya settingan ?" Tanya gadis itu dengan ternganga-nganga.
" Kamu tidak perlu tahu darimana aku mengetahui hal semua ini,karena bagiku mengetahui ke adaan orang yang kita cintai merupakan lah yang sangat berarti." Terang Angkasa menatap lembut gadis itu,sorot matanya terlihat begitu berat.
Mona terdiam merasakan hatinya meleleh atas sikap perhatiannya pria tersebut dalam memperjuangkan perasaanya terhadap dirinya.
Betapa tidak,perhatian itu tak pernah ia dapatkan dari sosok seorang Banny.Pria yang menjadi alasannya dia menangis saat ini,pria yang yang menjadi bos dalam perusahaanya sekaligus suami dalam sandiwaranya tersebut.
Sejenak hening.
Saling terdiam masing-masing saling menahan perasaanny yang terpendam.
" Aku ingin membahagiakan kamu Mona." Ucap pria itu lirih namun begitu terdengar penuh sarat makna.
Nyesss......
Ada yang basah di dalam hati sanubari gadis tersebut,entah harus berbicara apa lagi dirinya di saat kondisi seperti ini,ketika hatinya di lema atas perasaanya tersebut,ada sosok seorang pria yang hadir memberinya sebuah kekuatan.
Pria itu mencintai dirinya dalam duka yang sedang kini di laluinya,betapa layaknya ia untuk bahagia meski tak harus dengan pria yang bernama Banny.
Perlahan namun pasti wajah gadis itu terlihat basah saat perkataan pria tersebut mampu menyentuh lembut hatinya.
" Kenapa kamu ingin membahagiakan aku ? " Tanya gadis itu dengan suara tertahan seperti tertahan sesuatu yang menyumbat di tenggorokannya itu.
" Karena aku mencintaimu." Ungkap pria itu jelas.
Mona terpengarah menoleh cepat wajah pria itu yang sedari tak lepas menatapnya dengan berbagai perasaan.
Benarkah apa yang di ucapkan pria ini ?
Batin gadis itu menatap dengan penuh berbagai pertanyaan.
Bibirnya bergetar merasakan ketidak percayaan yang menyergapnya.Di saat hatinya terluka pria ini hadir dengan tulus menyatakan perasaannya.
Mona menghela napas panjang,lalu menghebuskannya secara perlahan.
" Hal yang sulit aku lakukan adalah membalas cinta seseorang yang sama sekali tak pernah terbesitkan dalam pikirannku." Ucapnya lirih dengan menatap rapuh ke arah pria itu.
" Kenapa ? apa aku salah mencintai kamu di saat kondisi seperti ini ?aku mencintai kamu bukan karena iba ." Jelas Angkasa dengan penuh penekanan.
Mona terdiam bibirnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.Tak tahu ia harus berkata apa.
" Apakah kamu memang mencintai pria yang sudah menganggapmu istri namun sesungguhnya cintanya tak pernah kamu miliki." Terangnya dengan suara sedikit bergetar.
Mona terdiam merasakan getiran hatinya menyayat perasaanya.
Dia tidak berharap jika Angkasa akan mencintainya sedalam itu,namun entah kenapa pria ini menghadirkan kenyaman dengan menjanjikan sebuah kebahagiaan untuknya.
Ahh entahlahh.....
Sosok Banny yang telah membuat luka,namun sosok Angkasa yang mengobatinya benar-benar antara nyaman dan cinta menjadi sebuah dilema babak baru dalam kehidupannya.
__ADS_1
Ketika perasaanya terlahir atas sebuah kenyamanan pupus terhadap di sosok seorang Zeanu,kini perasaan itu terlahir kembali d hati sosok seorang Angkasa yang tentu saja sosok ini melebihi sosoknya seorang Zeanu dari segi apapun.
Yaa setiap kali ia memantapkan hatinya untuk seorang Banny,godaan selalu datang menghadang,kali ini pun datang dari sosok Angkasa yang siap akan membahagiakan dirinya atas duka cinta dari sandiwaranya tersebut.
" Apakah aku berkesmpatan untuk membahagiakan kamu,setelah sandiwara ini usai." Ucapnya lagi dengan penuh harapan.
Gadis itu menarik napas panjang meraskaan hatinya kian dilema.
Dengan sangat hati-hati gadis itu menatap wajah pria itu dengan matanya terlihat mulai basah.
Seandainya waktu itu dia mengindahkan permintaan sang nenek atas perjodohan dia dengan sosok pria inu,mungkin ceritanya tak akan serumit ini.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya merasakan sesak makin menghimpit seluruh rongga dadanya,ia tak memungkiri jika kehadiran sosok pria ini bukan di waktu yang tepat,justru kehadirannya datang di waktu yang sangat tepat di saat hatinya kecewa atas cintanya yang sepihak justru ia mendapat cinta yang lebih dia rasakan terjadap seorang Banny.
" Aku yakinkan jika aku akan menanti setelah permasalahan kamu dengan pak Banny,masih ada waktu untuk menyakinkan perasaan kamu terhadap ku." Ucap pria itu dengan menatap lembut memberikan sinaran yang begitu terang di dalam kegelisahan hatinya.
Mona terdiam seraya berusaha mempertimbangkan kalimat-kalimat yang telah seindah mungkin pria itu rangkai untuk menyakinkan hatinya.
Tiba-tiba lelehan bening itu menganak sungai di pipinya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Mencintai adalah hal yang menyakitkan daripada di cintai.
Mona tertunduk tak kuasa ia memperlihatkan gambaran suasana hatinya saat ini.
Ada sedikit perbedaan yang sangat kontras ketika ia sedang mengeluarkan air matanya.
Sosok Banny mampu mengeluarkan air matanya karena sikap dinginnya,namun sosok Angkasa mampu mengeluarkan air matanya karena setiap ucapannya yang mampu membuat ia sangat berarti.
***********
Mona tiba di afartemen tepat saat jam menunjukan pukul sembilan malam,itu artinya ia telat dua jam lebih dari jadwal pulang yang di tentukan oleh Banny.Keterlambatannya di sebabkan oleh tak lain melepas segala kegelisahannya bersama sosok pria bernama Angkasa.Jadilah ia baru tiba di afartemen bosnya tersebut,ia berdoa jika suami tersebut sudah tertidur pulas sehingga tidak mengetahui kepulangannya.
" Darimana saja kamu ??" Suara bariton itu menyapanya saat gadis itu memasuki pintu afartemen tersebut.
Mona terdiam,cukup membuat hatinya terkejut atas perkiraanya yang meleset.
" Saya habis berkumpul dengan sahabatku." Ucap gadis itu berbohong.
" Sampai malam begini ?" Tanya pria menatap dingin.
Mona menatapnya heran,gadis itu yakin dahinya saat ini sedang berkerut dengan indah.Tumben sekali pria dingib ini menayainya seperti ini,peduli apa dia saat ini.
Pikir gadis itu seraya berjalan kembali menuju sebuah lemari es yang tak jauh dari pria itu berdiri.
" Ya !" Jawab Mona pelan.Lalu membuka pintu lemari itu dan mengambil sebotol air mineral,rasanya tiba-tiba saja ia merasa sangat dahaga atas tatapan tajam pria itu terhadap dirinya.
Pria itu melipatkan tangan di dadanya masih menatap tajam gadis itu.
Setelah botol air meniral di tangannya Mona kembali menutup pintu lemari pendingin tersebut,lalu berbalik badan bersiap meninggalkan pria tampan itu,saat detik berikutnya ucapan pria itu menahan langkahnya.
" Aku belum selesai bicara."
Mona menoleh kembali lalu menatapnya dengan heran,apa lagi yang akan di ucapkan pria itu.
" Benar kamu pergi dengan kedua sahabat kamu itu ?" Tanya nya lagi,seoalah-olah bosnya tersebut tidak percaya atas ucapannya.
" Sejak kapan saya berani berbohong kepada anda?
" Mona,sudah berapa kali panggil aku dengan sebutan yang sewajarnya,aku tidak suka kamu memanggil aku dengan sebutan seperti itu.
Mona terdiam,benar adanya jika pria ini mulai berubah sikap terhadapnya.
" Saya capek,mau istirahat." Balas gadis itu dengan acuh.
Entah sejak kapan gadis itu bisa bersikap dingin terhadapnya,dan di rasa itu sangat menyakitkan bagi seorang dirinya di perlakukan seperti itu.
" Mona !!" Panggilnya dengan nada sedikit meninggi.
Gadis itu terhenti lalu menoleh lagi dengan perasaan enggan.
" Ada yang harus kita bicarakan !!" Ucapnya dengan menatap tajam.
" Bisakah besok bicaranya pak,maaf maksud saya Mas,soalnya saya sudah ingin beristirahat." Tolak gadis itu seraya menaruh tasnya lalu duduk di sofa menenggak sebotol air mineral tersebut.
Banny terdiam dengan raut wajah terlihat penuh rasa penasaran atas sikap sekertarisnya itu yang bersikap dingin padanya.
" Baiklah !!" Balasnya singkat lalu prai itu pun beranjak dari tempat berdirinya menuju ke ruangan kamarnya tanpa memperdulikan gadis itu yang tengah menyandarkan sebagian tububnya di sandaran sofa tersebut.
Mona menghela merasakan perasaannya kian rumit,sanggupkah ia melepas perasaan itu setelah ia yakin jika Angkasa akan mengapainya dengan rasa bahagia.
Tak lama Mona pun beranjak meraih handuk baju yang tergantung di samping pintu kamar mandi,lalu ia pun memutuskan untuk mandi merasakan lengket seluruh tubuhnya karena keringet dan polusi udara ibu kota.
Selang beberapa menit tubuhnya sudah terasa lebih fress dengan seperti biasa ia memakaikan handuk kecil yang di lilitkan di kepalanya,supaya rambutnya itu lebih cepat kering.
Sebelum menuju tempat tidurnya netranya sempat menatap pria tampan itu sedang tertidur memeluk erat sebuah guling di dekapan.
Perlahan gadis itu menatap lekat wajah pria tampan itu,entah kenapa perasaanya kembali luluh sesaat netranya begitu tulus menatapi inci demi inci garis wajah pria tampan itu.
Sebagian perempuan di luaran sana berlomba-lomba ingin mendapatkan sosok pria yang ada di pandanganya ini,tak terkecuali si gadis cantik,Arnetta.
Dia sangat yakin jika gadis cantik itu begitu sangat menginginkan dirinya di cintai oleh sosok pria ini.Tak berbeda dengan nya,justru seharusnya ia bersyukur mendapatkan pria itu dengan begitu mudahnya walau dengan cara yang memang berbeda.Tapi itulah resiko dari sebuah perjodohkan ia harus memendam dalam perasaanya untuk di cintai seutuhnya.
Mona tersenyum pahit menatap getir dirinya,pernikahan macam apa ini? menjadikan dirinya begitu sangat rapuh.
Tapi ia mencoba tegar,karena perasaan ini tak akan lama lagi akan segera berakhir.
Di tolehnya almanak yang terpajang di nakas tempat tidurnya,dan di sana pun tertanda sebuah bulatan yang menandai di setiap angkanya untuk menuju sebuah akhir sandiwaranya tersebut.
__ADS_1
Gadis itu menghela merasakan perasaanya kian terasa begitu tak terarahkan lagi.